GAME OVER – Lv. 2 [Red Tie] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — Level 1 — [PLAYING] Level 2

Flip over the world where only the weak cry

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 2 — Red Tie

In Jiho’s Eyes…

Terlalu cepat. Ia benar-benar cepat. Aku bahkan belum selesai dengan satu attack1 saat kutemukan ia sudah meluncurkan serangan lainnya. Beberapa kali ia melemparkan sword2—yang tidak pernah ada di dalam martial box3 milikku—dan mengizinkanku untuk menggunakan sword itu guna menyerang WhiteTown.

Percaya tidak percaya, kedua belas anggota WhiteTown—terkecuali White Tiger—turut dalam duel ini, dan sudah tiga puluh menit lebih berlalu sejak aku berusaha melawan mereka semua.

Kubiarkan White Lion berhadapan dengan Baek-Hyun sementara kusibukkan diriku melawan gadis-gadis pembuat masalah di WhiteTown—kalian bisa menyebut mereka sebagai White FAST; begitu mereka mengikrarkan diri, karena mereka adalah anggota WhiteTown yang masing-masing ber-ID Flaw, Angel, Sound dan Trude—sementara kuketahui Baek-Hyun berulang kali melemparkan sword maupun amulet4 lainnya padaku.

Ia sangat mengesankan. Aku bahkan sama sekali tidak bisa memecah konsentrasiku pada duelnya bersama dua master di WhiteTown—Lion dan Eagle—sementara ia bisa memperhatikan duelku.

Aku terdesak saat White Demon tiba-tiba saja berbelok padaku. Ia tadinya sibuk menyerang Baek-Hyun dari belakang dan sekarang ia mendesakku karena health bar5 kekasihnya—White Flaw—sudah berada di garis danger.

“Baek-Hyun!” aku sontak berteriak saat kurasakan diriku terhempas cukup jauh dari arena utama. Meski tidak menimbulkan rasa sakit apapun di tubuh ini, tapi harga diri entah mengapa mendesakku untuk merasa marah.

“Lima detik, HongJoo!” Baek-Hyun berseru, belum sempat aku merespon apapun, sebuah plasma berwarna hijau sudah melingkupi tubuhku.

Awalnya, kupikir plasma itu adalah serangan dari WhiteTown tapi ternyata tidak. Plasma itu adalah perlindungan dari Baek-Hyun.

Siapa dia sebenarnya? Bagaimana ia bisa begitu hebat?

“Pinjamkan aku Red Tie milikmu!” lagi-lagi Baek-Hyun berseru, alisku terangkat karena terkejut. Ia tahu amulet apa yang aku miliki. Dan demi Tuhan, aku bahkan tidak pernah menggunakan Red Tie karena tidak tahu bagaimana cara mengoperasikannya dalam sebuah PK6 dan ia memintanya?

Tidak menunggu waktu lama, aku membuka trade box7 milikku dan mengirimkan Red Tie pada Baek-Hyun melalui exchange. Sekon kemudian, plasma hijau yang melingkupiku lenyap—dan dengan sangat cepat, Baek-Hyun sudah ada di hadapanku.

“Saat aku mengaktifkan Red Tie, kita akan menjadi satu. Kendalinya ada padaku jadi kau akan bergerak sesuai dengan keinginanku. Ugh, lihat health bar siapa yang sekarang membutuhkan live-charge8.” sempat Baek-Hyun terkekeh di akhir penjelasannya.

Meski aku tidak pernah menggunakan Red Tie, tapi aku memahami penjelasannya. Sekarang aku juga tahu jika Red Tie adalah sebuah amulet yang bisa kugunakan untuk mengendalikan pergerakan milik orang lain. Mengapa aku begitu tolol dan tidak pernah menggunakan amulet menguntungkan itu dalam PK? Ugh.

“Jangan bercanda, Baek-Hyun-ssi. Demon tiba-tiba saja menyerangku.” aku menggerutu, sementara kuraih uluran tangannya—lagi-lagi ia menggunakan time paused saat kami harus membuang waktu untuk bicara—dan berdiri menyejajarinya.

Baek-Hyun kini memamerkan sebuah senyum—yang lagi-lagi membuatku terpana lantaran tidak percaya jika avatar dari WorldWare memindai wajahnya dengan benar—sebelum ia memamerkan Red Tie di depan wajahku.

“Serahkan saja semua seranganmu padaku, bahkan health bar separah milikmu bisa kugunakan untuk melawan lima dari mereka yang tadi kau hadapi.” ucapnya membanggakan diri.

Oh, tentu ia tengah membanggakan diri. Karena secara tidak langsung ia mengatakan padaku bahwa ia akan melawan seluruh WhiteTown, dan ia hanya menggunakan tubuhku untuk melancarkan serangannya.

“Coba tebak, berapa detik yang kita butuhkan untuk mengakhiri permainan ini dan berapa level yang akan mereka ulang?” lagi-lagi—tidak memberiku kesempatan untuk menjawab—Baek-Hyun memejamkan matanya, dan ya, tentu aku tahu apa yang terjadi kemudian.

Pertempuran kami berlanjut. Dengan aku yang tidak lagi harus bergerak atau berpikir untuk mengeluarkan serangan apa, dan tidak juga harus berpikir kemana harus menyudutkan musuh. Baek-Hyun mengatur semuanya. Sehingga dengan mudah aku bisa menyerang Demon selagi aku menyudutkan Flaw, berbalik dan menyerang Angel sementara Trude dilumpuhkan oleh Baek-Hyun.

Aku bahkan dibuatnya menyerang Eagle—Eagle, tolong. Eagle adalah seorang player yang bahkan tidak bisa kusentuh saat di PK—dan membuatnya kehilangan separuh health barnya akibat serangan ministry sword milikku.

White Lion hancur di tangan Baek-Hyun. Ia benar-benar dibunuh oleh Baek-Hyun. Meski sudah tersudut dan ambruk, Baek-Hyun masih mengirim serangan bertubi-tubi pada White Lion. Membuatnya benar-benar jatuh ke dalam kata mati yang sesungguhnya dalam PK.

Ucapan Baek-Hyun juga benar, tidak sampai tiga puluh detik, pertempuran ini berakhir. Bagaimana ia bisa menyembunyikan kemampuan bertarung sehebat ini dan mengulur waktu hingga setengah jam?

Masih terheran-heran dengan memperhatikan bagaimana sekarang Baek-Hyun berdiri bangga di hadapan Lion, aku memilih untuk mengintip ke dalam global mode9 untuk tahu apa yang orang-orang bicarakan tentang pertempuran ini.

“Wah, ini gila! Invisible Black memang benar-benar pemain legendaris seperti yang sudah diceritakan orang-orang!”

“Siapa partnernya? Apa ada dua orang pemain sepertinya? Mereka bertarung dengan cara yang sangat luar biasa.”

“Lihat, WhiteTown benar-benar hancur. Sekarang mereka akan menyusul kegagalan White Tiger.”

“Mereka sudah terlalu sombong. Aku puas melihat bagaimana mereka dipermalukan selama setengah jam!”

“Ha Ha! Kupikir Invisible Black sudah mempermainkan mereka. Sengaja mengulur waktu agar semua orang berkesempatan untuk online dan menonton proses memalukan ini!”

Hey, kupikir ini adalah turbulence mode10 yang orang-orang bicarakan! Benar bukan? Wah, tidak kusangka Invisible Black adalah player pertama yang menantang Country11 untuk berada dalam sebuah turbulence.”

Turbulence mode? Mode tantangan seorang player untuk melawan sebuah Country itu? Apa yang sekarang terjadi? Apa aku telah salah paham?

“Aku puas melihat WhiteTown dihancurkan. Aku bahkan merekamnya secara live!”

Hey, kirimkan aku video rekamanmu!”

“Aku juga, aku juga!”

Upload saja video turbulence mereka ke server, semua orang pasti menyukainya!”

Benar, mungkin aku telah salah paham. Mungkin Baek-Hyun tidak berada di dalam posisi salah sehingga membuatnya terjebak di antara WhiteTown dan akhirnya mendapatkan serangan bertubi-tubi.

Melihat bagaimana ia telah membiarkan battlenya terekspos selama setengah jam, pasti semua player tahu tentang kekalahan WhiteTown sekarang. Dan jika saja player WhiteTown mengaktifkan mode global, mereka pasti tahu berapa banyak player yang menertawakan mereka.

Apa ini memang tujuan Baek-Hyun?

“Terima kasih, HongJoo-ssi.” aku tersadar saat Baek-Hyun mengajakku bicara. Kami masih berdiri di tengah Town tapi semua orang sudah meninggalkan kami—karena tidak satupun dari mereka bisa berinteraksi dengan kami dan WhiteTown juga sudah logout, sepertinya.

“Apa kau sengaja melakukannya?” alih-alih menjawab ucapan terima kasihnya, aku justru bertanya penuh curiga. Ya, terlampau aneh bagiku melihatnya bisa melenyapkan dua belas player itu dalam hitungan detik tapi ia membiarkan dirinya menjadi tontonan selama setengah jam lebih.

Turbulence Mode. Kau tidak pernah mendengarnya?” Baek-Hyun berucap.

“Setidaknya aku tahu dari percakapan global.” sahutku membuat Baek-Hyun tersenyum kecil, tampaknya ingin menertawai ketidak tahuanku selama ini.

Baek-Hyun kemudian melangkah ke arah tumpukan bebatuan yang ada di dekat kami. Dengan santai ia duduk di sana, memainkan Red Tie milikku—yang belum ia kembalikan—dan dipandanginya aku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan.

“Sebagian besar player merasa kesal dan benci pada WhiteTown, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi kuputuskan untuk menantang WhiteTown di sebuah turbulence mode.” tuturnya, menjelaskan padaku tentang apa yang sedari tadi terjadi.

Aku baru saja melibatkan diri di dalam sebuah battle dimana aku tidak seharusnya ikut campur. Bagaimana bisa turbulence mode bahkan terlihat seperti battle normal?

“Dan kau sengaja mengulur waktu?” tanyaku menuntut, menyadari bahwa ia baru saja melakukan sebuah battle keji dimana aku terlibat di dalamnya juga. Jika sudah seperti ini, lantas apa bedanya Baek-Hyun dengan WhiteTown?

“Mengapa kau melakukannya?” aku bahkan tidak sadar pertanyaan itu terucap, aku sungguh tidak mengerti. Kepuasan apa yang ia dapatkan dari menghancurkan Country lain? Ia bahkan tidak menjadi player dari salah satu Country tapi berhasil merusak nama Country di depan semua player.

“Apa aku melakukan sesuatu yang salah?” pertanyaannya membuatku tergelak. Apa ia tidak sadar tentang ‘kesalahan’ apa yang sudah ia buat?

Ia menghancurkan WhiteTown, membuat mereka menjadi sampah di mata player global dan sekarang ia bertanya apa yang salah?

“Kau sudah membunuh mereka!” tanpa sadar aku berseru.

Ia menatapku dengan alis terangkat. “Bukan hanya aku, tapi kau juga terlibat.” ucapnya ringan, menamparku dan menyadarkanku jika aku sendiri yang menyeret diri ke dalam battle konyol yang ia rencanakan.

Marah, ya. Aku sekarang merasa begitu marah pada diriku sendiri. Mengapa aku memikirkan keinginan untuk mengintip profil dari seseorang sementara aku telah menjadi bagian dari rencana mengerikan miliknya.

Ia telah memutar balik dunia dan membuat mereka yang lemah—yang dulunya selalu menangis—kini tertawa. WhiteTown sudah ada di dasar strata sosial WorldWare, sementara player lain mengolok-olok mereka, tidak lagi menganggap mereka sebagai sebuah Country yang membanggakan dan lantas membuat puluhan player saling beradu untuk mendapatkan tempat di antara mereka.

WhiteTown tidak lebih dari sekedar sampah sekarang.

“Kupikir kau seorang yang tidak salah apa-apa dan menjadi sasaran mereka. Tapi ternyata aku salah besar. Kau sama kejamnya dengan mereka, Baekhyun-ssi.” aku berucap, menyudahi konversasi antara aku dan si kejam yang baru saja kukenal karena kebodohanku sendiri.

Lekas aku berbalik, kucoba menjernihkan pikiranku dari semua penyesalan karena kesenangan sekilas yang tadi kudapatkan saat—

Akh!”

Aku terperanjat saat tubuhku tiba-tiba saja tertarik ke satu sisi. Kudapati, diriku lagi-lagi berdiri di hadapan Baek-Hyun, dengan ia yang tengah mencengkram erat Red Tie milikku, kini ia memandang dengan tatapan dingin.

“Aku belum melepaskanmu dari invisible mode12, HongJoo-ssi. Kau masih menjadi milikku.” aku terkesiap mendengar ucapannya. Miliknya?

“Kalau begitu kau bisa melepaskanku. Aku hanya bersedia membantumu dalam battle tadi—sebelum aku tahu bahwa kau adalah seorang yang kejam juga.” tuturku, mengetahui jika ia bisa menarikku dalam hitungan detik karena Red Tie yang masih ada di tangannya.

“Kupikir kita berteman, HongJoo-ssi.” ucapannya tanpa sadar membuatku terbahak. Teman? Dengan cara seperti ini? Jangan bercanda.

“Memangnya seorang sepertimu tahu arti berteman?”

Alisnya terangkat, lagi, sementara tatapannya tidak bisa kuartikan. Jika saja survival mode bisa dengan lebih baik menggambarkan ekspresi seseorang, kupikir aku bisa memahami apa yang ingin ia utarakan melalui tatapannya.

SLASH!

Tidak lantas menjawab, ia justru melemparkan Red Tie ke arahku. Berangsur-angsur, setelah kudapatkan Red Tieku kembali, kulihat bagaimana pakaianku kembali berganti menjadi paduan biru-oranye yang selalu kugunakan.

Aku tidak lagi berada dalam invisible mode.

“Enterprise adalah yang selanjutnya.”

Aku menatap Baek-Hyun saat ia kembali berucap. Enterprise? Jadi sekarang ia mengincar Countryku untuk dihancurkannya?

“Enterprise tak pernah bersikap kejam pada player manapun.” aku berkeras, menolak argumennya—yang belum ia utarakan—yang mungkin menuduh Enterprise sebagai sebuah Country yang serupa dengan WhiteTown.

Tawa mengejek sekarang Baek-Hyun pamerkan. Sementara ia bangkit dari tempatnya sedari tadi duduk dan bicara. Kini, kedua netranya menatapku, masih dengan senyum sarkatis yang terpasang di wajahnya, ia menatapku dengan pandangan menantang.

“Menurutmu apa alasan aku memilih Enterprise sebaga lawan kedua di turbulence? Sudah jelas, kekejaman Enterprise ada di bawah WhiteTown. Omong-omong, senang bekerja sama denganmu, dan sampai jumpa, HongJoo-ssi.” sekon selanjutnya, ia menghilang. Bahkan saat aku belum memikirkan jawaban apapun untuk melawan perkataannya, ia sudah lenyap.

Sekon itu aku sadar, jika White Tiger bukannya membuat masalah dengannya. White Tiger mungkin hanya saling bertukar satu dua kata dengannya hingga ia memutuskan untuk menantang WhiteTown.

Sekarang, Enterprise mungkin berada dalam bahaya karena keterlibatanku dengannya. Bukankah ia tadi mempertanyakan alasannya memilih Enterprise? Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sendiri yang memilih terlibat dengan battlenya, dan aku sendiri yang sudah membuat Countryku terjebak dalam ancaman memalukan.

Womanizer. House of Zeus. Mengapa ia tidak memilih Country-country itu untuk ditantang? Karena playerplayer dari Country itu masih ada di bawah WhiteTown. Para player Unbeaten juga ada di garis atas pemain, dan ia tidak melakukan apapun pada mereka. Kenapa WhiteTown? Dan… kenapa aku?

Ugh, apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Jiho-ya, ada apa denganmu?”

Aku tersadar dari lamunanku, sejak malam tadi aku enggan masuk ke dalam permainan karena kupikir Baek-Hyun akan tiba-tiba muncul dan mengacaukan segalanya.

Aku takut.

Hey! Song Jiho!”

Ugh, Kim Taehyung berhenti berteriak di telingaku!” aku berseru cukup keras, segera kusarangkan sebuah pukulan kesal di lengan Taehyung sementara ia hanya terkekeh.

“Salah sendiri, kau terus melamun dan melihat server WorldWare. Ada masalah dengan Country?” tanyanya membuatku menghela nafas panjang.

Memang, ada masalah dengan Enterprise. Karena siapa? Karena aku, tentu saja. Berhubung Taehyung juga ada di dalam WorldWare—tidak sebagai bagian dari Country manapun karena menurutnya berada di dalam Country sangat membosankan—ia tentu tahu apa yang terjadi, bukan?

“Wah, aku tidak menyangka WhiteTown akan hancur seperti itu.” Taehyung memulai pembicaraan. Ah, begini susahnya jika kau memainkan permainan yang sama dengan temanmu di kehidupan nyata.

Pembicaraan yang kau hindari justru akan menjadi topik pembicaraan yang hangat bagi temanmu. Seperti sekarang contohnya. Saat aku begitu enggan untuk membicarakan soal battle antara Baek-Hyun dan WhiteTown, Taehyung justru kelewat antusias.

“Tidak ada yang begitu hebat dalam battle mereka.” sahutku malas.

“Ei, memangnya kau tahu? Kau saja logout di tengah-tengah battle mereka.” Taehyung menyenggol lenganku. Mengingat bahwa aku terlibat dalam invisible mode, ternyata aku dianggap sebagai seorang player yang logout ketika aku masuk dalam mode tersebut.

“Tapi aku tahu dari Hana.” aku berkeras, Taehyung tidak tahu Hana—seorang anggota Countryku dengan ID Hanana—dan tidak mungkin juga ia mencari tahu tentang Hana, bukan?

“Terserah kau saja. Tapi aku senang melihat WhiteTown dipermalukan seperti itu. Mereka terlalu sombong, dan sudah selayaknya mereka sesekali dipermalukan. Tidakkah kau pikir begitu?” tanya Taehyung.

“Kupikir Invisible Black itu sangat egois, dan lebih kejam daripada WhiteTown. Untuk apa ia pamer kehebatan jika tujuannya hanya untuk mempermalukan orang lain?” aku menggerutu, sementara jemariku sekarang sibuk mencorat-coret lembaran kosong yang ada di meja komputer.

Taehyung tertawa pelan. “Menurutmu begitu, ya? Kupikir, Invisible Black hanya menuruti keinginan player yang meminta bantuannya.”

“Bantuan?” alisku terangkat saat mendengar ucapan Taehyung.

“Hmm.” Taehyung mengangguk-angguk antusias, “Kau pasti tidak tahu kan? Sudah kubilang, kau harus sering-sering melihat pengumuman di server utama. Beberapa pekan lalu, ada sebuah pengumuman di server utama, pengirimnya adalah Invisible Black, dan di pengumuman itu ia berkata ‘katakan padaku Country mana yang telah berbuat keji pada kalian’ dan tentu saja, aku yakin ada ribuan keluhan tentang WhiteTown sampai-sampai ia ada di urutan pertama.”

Aku terdiam sejenak.

“Apa kau tidak berpikir ia hanya memamerkan kehebatannya saja?” ucapku pada Taehyung, tidak mengerti mengapa ia memandang tindakan Baek-Hyun sebagai sesuatu yang baik sementara aku menilainya buruk.

Taehyung tersenyum simpul. “Kau tahu sendiri bagaimana WhiteTown, bukan? Aku juga salah satu player yang mengirimkan pesan berisi keluhan tentang WhiteTown pada Invisible Black. Kupikir, dia berusaha menegakkan keadilan dalam WorldWare.” ia berbangga diri.

Akhirnya, aku berdecih pelan. Tak salah lagi, Taehyung adalah salah satu pendukung hancurnya WhiteTown, bisa kuketahui itu dengan mudah.

“Bagiku dia hanya player sombong yang memamerkan kekuatan dan kekayaan.”

Taehyung kini tergelak. “Hey! Jangan bercanda, apa kau kesal karena Enterprise ada di urutan keduanya?” kali ini aku menatap Taehyung tidak mengerti.

“Urutan kedua? Bagaimana kau tahu?” tanyaku.

Layaknya orang bodoh, aku sekarang merasa seolah aku tidak tahu apa-apa, sementara Taehyung adalah seorang berpengetahuan luas yang tengah menghadapi si tolol.

“Oh, Tuhan! Song Jiho, sudah kubilang kau harusnya sering melihat server utama. Ia sudah mengumumkan list dari Country yang akan ditantangnya dalam turbulence, itulah mengapa kau tidak boleh sering-sering mematikan global mode. Kau bahkan sangat ketinggalan informasi.” Taehyung berdecak pelan.

Alih-alih menjelaskanku tentang apa yang terjadi, Taehyung justru meninggalkanku sendirian, dengan gelak tawa yang tersisa—ia pasti berpikir jika aku adalah seorang bodoh, terlampau bodoh.

Tanpa pikir panjang, jemariku segera bergerak untuk mengetikan ID dan password milikku. Aku masuk dalam mode normal WorldWare, segera membuka server utama untuk tahu tentang seberapa banyak informasi yang sudah kulewatkan dan membuatku menjadi orang bodoh yang terluntang-lantung tidak tahu apa-apa.

“Ah… Pantas saja ia merasa aneh saat aku memilih untuk membantunya.” aku menggumam, teringat pada ucapannya tentang mengapa aku menawarkan bantuan ketika semua orang memilih untuk menonton.

Sudah jelas, semua orang tahu jika battle yang melibatkannya adalah sebuah battle yang direncanakan. Dan aku—dengan ketidak tahuan—justru melibatkan diri dalam battle yang bisa ia menangkan sendiri tanpa bantuan.

Kuperhatikan banner besar yang ada di server utama, pengumuman yang masuk dalam kategori paling sering dibaca. Delapan Country ada di dalam list itu. WhiteTown. Enterprise. Clown. House of Zeus. Raider. Womanizer. Unbeaten. Third Moon.

Aku tahu beberapa Country yang ada, dan sisanya tidak begitu kupedulikan. Apa ia mengurutkannya berdasarkan keluhan yang ia dapatkan? Tapi apa alasannya?

“…Kupikir, dia berusaha menegakkan keadilan dalam WorldWare…”

Ucapan Taehyung sekarang terngiang dalam pendengaranku. Keadilan? Apa iya dia memang berusaha menegakkan keadilan? Karena suara dari playerplayer yang sudah merasa keadilan mereka direnggut oleh Country tersebut?

Enterprise. Aku jarang online dalam Country Chat sehingga aku tidak begitu tahu apa yang terjadi. Tapi kuketahui beberapa player dari Country kami bisa menaikkan satu atau dua level mereka di survival mode13 dengan mudah.

Apa mereka bisa menaikkan level itu karena kecurangan yang mereka lakukan pada player lainnya? Sehingga saat Baek-Hyun meminta playerplayer untuk mengutarakan aduan tentang Country, Enterprise ada diurutan kedua?

Aku baru saja akan memperhatikan pengumuman-pengumuman lainnya ketika kudapati sederet tulisan berukuran besar sudah terpampang di baris paling atas pengumuman server.

‘ENTERPRISE COUNTRY DIUNDANG DALAM SEBUAH TURBULENCE PUKUL DELAPAN MALAM DI HALL TOWN UTAMA’

Baek-Hyun?

Lekas aku mencari-cari nama Baek-Hyun dalam riwayat obrolan pribadi milikku. Kudapati ia tengah online, dan tidak menunggu waktu lama, aku membuka pesan pribadi dengannya, dan mengetik sederet kalimat untuk Baek-Hyun.

‘Apa kau punya waktu? Aku ingin bicara.’

Hey, Baekhyun-ssi. Maaf soal menuduhmu kemarin. Aku sungguh tidak tahu jika kau sudah membuat pengumuman besar di server utama.’

Pesan Anda menunggu moderasi.”

Oh. Tentu saja. Moderasi lagi. Ia pasti telah mengakhiri obrolan kami kemarin, sehingga sekarang pesan dariku akan berbaris bersama dengan belasan—atau mungkin puluhan?—pesan lainnya di dalam mailbox14 Baek-Hyun.

‘Kita bisa bicara jam delapan nanti, HongJoo-ssi.’

Dia membalasnya. Baek-Hyun membalas pesanku. Segera, jemariku bergerak untuk mengetik sepanjang dan secepat mungkin untuk mengungkapkan apa yang aku tahu dan tidak tahu tentangnya. Mana ada menunggu jam delapan? Jam delapan adalah jam battle kami.

‘Kupikir aku sudah salah paham. Aku tak tahu jika kau sudah membuat pengumuman tentang battle itu di server utama. Maaf. Well, kau tahu aku sejenak merasa marah karena Enterprise disamakan dengan WhiteTown.’

Aku menunggu, kurang lebih sekitar dua menit—yang kuhabiskan dengan tarikan dan hembusan nafas panjang dalam keheningan—sampai sebuah balasan kudapatkan.

‘Temukan aku dalam mode survival sebelum jam delapan atau kau akan jadi satu-satunya player Enterprise yang kehilangan lebih dari enam level di turbulence malam nanti.’

Apa-apaan ini? Ia memintaku untuk mencarinya? Apa dia sudah gila? Atau aku yang sudah gila karena kembali melibatkan diri padanya? Lagipula, memangnya ia pikir aku akan mau merepotkan diri dengan masuk ke dalam mode survival dan meninggalkan kehidupanku selama beberapa jam untuk menemukannya dan bicara?

Hah. Jangan bercanda. Memangnya ia pikir siapa dia? Dan seberapa penting dia untuk kutemukan dan kuajak bicara? Dan juga—tunggu.

Dia baru saja mengancamku!

— 계속 —

Footnotes:

Attack: istilah untuk menyebutkan serangan dalam battle/turbulence.

Sword: senjata—berupa pedang/samurai, ada beberapa jenis sword dalam WorldWare yang memiliki kemampuan khusus berbeda.

Martial box: sebuah kotak penyimpanan equipment.

Amulet: salah satu bagian dari equipment, amulet bisa disebut sebagai ‘pegangan’ yaitu senjata tidak terlihat namun bisa digunakan oleh pemiliknya.

Health bar: status kesehatan/kehidupan/daya hidup seorang pemain game di dalam permainan.

PK: Player Kill adalah sebuah tindakan ‘membunuh’ player lain di dalam sebuah permainan online.

Trade box: suatu tempat untuk melakukan exchange amulet/equipment lainnya dengan player lain, bisa juga digunakan untuk meminjamkan equipment tersebut.

Exchange: sebuah kegiatan pertukaran equipment dalam permainan.

Live charge: potion yang berfungsi untuk mengembalikan health bar milik seorang player.

Global mode: sebuah mode global (universal) dimana interaksi global ini digambarkan dalam sebuah percakapan yang bisa dilihat secara audiovisual.

Turbulence: istilah untuk menyebut suatu battle besar dimana semua player bebas melibatkan diri dalam battle dan turbulence bisa berlangsung berdasarkan rules yang dibuat oleh pemilik turbulence tersebut.

Country: Sebutan bagi sebuah aliansi/kelompok yang diikuti oleh seorang pemain di dalam game. Kadang juga disebut sebagai fraksi, home, dsb.

Invisible mode: mode invisible dimana player dengan mode ini dapat mengetahui semua hal tentang player lainnya sementara player lain tidak bisa mengakses/berkomunikasi dengan player dengan invisible mode ini tanpa sepengetahuan/izin player tersebut.

Mailbox: kotak pesan.

IRISH’s Fingernotes:

Lagi-lagi diriku bergelimang kegalauan di sini… karena tanpa sadar udah ngetik sampe 3000 kata dan yah… semoga aja yang baca bisa paham u,u berhubung yang ngetik itu salah satu manusia beraura astral jadi ceritanya otomatis bakal sama astralnya…

DAN YAAMPON, BIAR KUCERITAIN DULU GIMANDOS PERASAANKU KETIKA HARUS NGEBAYANGIN BAEKHYUN JADI BEGITU BANGSAT MESKI CUMA DALEM GAME ONLINE. HE’S STILL SO DAMN HOT! SIYALAN KAMU CABE! IMAN AKU TUH GABISA DIGIIN.

Dan juga, berhubung empat level pertama sudah kujadwal dan belum bisa kucantumin satu-persatu cast yang di sini nampang sebagai nama game nya… jadi aku mikir buat ngebikin nanti-nanti aja si Jiho kenalnya sama mereka. Cukup kenal sama Baekhyun aja, WKWKWKWK. Lagian, yang jadi fokusku di sini cuma si Cabe :v

Oot, diriku keinget ketika Game Over ini pertama kali selesai dengan Kai sebagai main cast. Kenapa setelah di find-replace jadi Baekhyun, efeknya tetep aja sekampret ini ya… apa karena member eksoh emang cucok buat jadi vangsat kayak gini? Entahlah… kayaknya nanti kubuat si Jiho lambat aja ya demen sama Cabe-nya :v biar semakin bulet kebangsatan Baekhyun di sini /kemudian pengen benturin kepala ke tembok saking gemesnya sama Baekhyun di sini/.

Alhamdulillah, Cabe masih bisa jadi prioritas dalem otak dan bisa dapet peran sekurang ajar ini dalem epep buatanku WKWKWK.

Oiya, baru inget kalo bulan Mei banyak member EXO yang ultah jadi secara otomatis Game Over belum bisa rutin Jum’at-Minggu ya… Mianek… Tapi gapapa, sampe level empat ini kupost dalem empat hari berturut-turut. Mayan kan? :v jarang-jarang loh diriku demen tebar fanfiksi yang sama wkwk.

Nah, sekian dariku, karena kebiasaan mengoceh panjang lebar di fingernotes ini bukan kebiasaan baik dan enggak boleh dipelihara jadi diriku harus undur diri :’p

Sekian, see you tomorrow. Salam kecup, Irish!

ANYWAY, INI POST KE-300-KU DI EXOFFI! BANZAI!!!

Iklan

19 pemikiran pada “GAME OVER – Lv. 2 [Red Tie] — IRISH

  1. Ping balik: GAME OVER – Lv. 10 [Betrayed Betrayal] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: GAME OVER – Lv. 9 [After Effect] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: GAME OVER – Lv. 8 [Girl In The Mousetrap] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: GAME OVER – Lv. 7 [Black Label] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: GAME OVER – Lv. 6 [Inside, Tacenda] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: GAME OVER – Lv. 5 [Cosmic, Nebula, and Star] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: GAME OVER – Lv. 4 [Wild Rose] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  8. Huwaaahhh~
    Entah kenapa baca bagian ‘jiho jarang buka global mode’ berasa ngaca :’) jarang buka grupchat kelas atopun angkatan, malah di silent jadinya ketinggalan banyak info wkwk
    vvaduu jiho dlm ‘danger mode’ nih wkwk niatnya baik ya mau nolongin, tergoda nengok langit jadi gatau ada batu sandungan /apaseehyoon/
    Huhuhu T~T yoon seneng balik ke lapak ini~ kak irish masih inget akuuh~ nomu bogosipo~ semoga kak irish saurnya lancar, gak dalam survival mode XD

  9. Asli si cabe emang hit dan vangsat. Urutan kedua menurutku setelah sehun. Wkwkw hamdalah sih bukan si kai yg jadi main cast.
    Ya gpp lambet2in aja si jiho suka sama doi. Biar nambah gemesssssh wkwkwk
    Baru level 2 aja ak udah gondok sama si cabe. Bisa bayangin gimana tampang dia pas ngomong. Dingin dingin jutek.
    okay ak nyambung level 3 ya risssh

    Mangaaat buat ceritanyaaaa
    Seruuuuuu

  10. Ping balik: GAME OVER – Lv. 3 [Time Paused] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  11. Sebenernya aku masih gak ngerti. Di prolog gak tau di foreword kan dijelasin si baekhyun bikin game, kan masih demo tuh. Lah ini si worldware game yang dimaksud bukan sih? Atau game lain?

    Si taehyung maling game worldware, berarti belum dirilis gamenya, kan? Kok ini playernya ada banyak? Ha, diriku pusing………

    Jihoo ku yang malang, makanya jangan terlalu baik. Itu si baek ketce buaday amat sih!!! >_<
    'Katakan padaku country mana yang telah berbuat keji pada kalian' uh oh… cool abis 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍

    See you^^

  12. Assalamu’alaikum….boncabe level 40 kebangsulanmu sudah membuat diri ini…………isi sendiri wakakaak
    btw nanti pas puasa bakalan tetep post/hiatus nih kak? bikos diri ini tidak sanggup menghadapi kebangsulan epep ini:O mianek sarangkek tq

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s