[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 2)

IMG_20170311_205208

 

After The Wedding (Chapter 2)

Author : WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. Oh Jae Ra. Sean Jung. Kim Jong In.

Genre: Hurt. Marriage Life. Romance. Life Family.

Summary: “Mr. Oh, marganya Oh?”-Sean

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

https://whiteblove.wordpress.com/

 

 

Waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Pria ini masih terus menginjak pedal gas mobil hitamnya, menelusuri jalanan kota Seoul yang sudah mulai gelap dan sepi. Ia masih ingin berusaha mencari  seseorang yang harus ia jumpai agar nasib putri semata wayangnya nanti tak menyedihkan –hanya karna sang Ibu pergi meninggalkannya.

Sehun benar-benar menyesali perbuatannya beberapa jam lalu. Dimana saat Jae Mi berhasil melahirkan anak kembar mereka, Sehun malah tunggang langgang pergi menuju rooftop gedung Rumah Sakit hanya karna ia teringat akan Hye Ra, tentang impian mereka yang sangat ingin mempunyai bayi, namun kini impian mereka malah terwujud bagi Sehun dan Jae Mi.

Jae Mi, aku mohon.. Maafkan aku!, ucap Sehun dalam hati.

Air mata Sehun mulai menetes kala mengingat bahwa dua jam lalu ia mendengar putri satu-satunya menangis kencang karna tak adanya kehadiran sang Ibu kandung disampinya. Sehun beranggapan bahwa putri pertamanya yang belum ia beri nama itu tengah memperi isyarat bahwa ia sangat menginginkan Ibunya untuk kembali menemaninya.

Tak lama Sehun menelaah sosok perempuan yang tengah berjalan pelan menghampiri sebuah taksi yang tak jauh dari mobilnya. Sehun langsung bergegas keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri seseorang yang berhasil menyita perhatiannya itu. Sehun yakin, dia adalah orang yang ia cari.

“Jae Mi!!” ucap Sehun seraya menahan tangan sang perempuan untuk segera menghentikan langkahnya.

Perempuan ini terdiam menatap mata Sehun. Tepat. Usaha Sehun tak sia-sia. Ia berhasil menemukan Jae Mi.

“Kau mau kemana?” tanya Sehun dengan susah payah saat hatinya benar-benar berkecamuk antara perasaan menyesal dan ingin marah pada dirinya sendiri. Terlebih kini matanya melihat Jae Mi dengan keadaan yang seperti ini, -mata yang sembab dengan wajah yang pucat.

Jae Mi terdiam. Ia tengah membalas tatapan Sehun dengan mata sayunya.

“Jae Mi!” ucap Sehun kembali. Pria ini bahkan terlihat kehabisan kata-kata meminta Jae Mi untuk tak pergi jauh darinya.

Tangan lemah Jae Mi kini tengah berusaha melepaskan tangan Sehun dari pergelangan tangannya. Semua rasa juga begitu berkecamuk didalam hati Jae Mi. Ia benar-benar ingin segera pergi dari hadapan pria yang berhasil menghentikan langkahnya ini.

“Tolong! Jangan pergi, Jae Mi! Aku mohon!” ucap Sehun yang masih berusaha menguatkan pengangannya pada pergelangan tangan Jae Mi.

Jae Mi terdiam. Ia kembali memberanikan diri untuk menatap mata Sehun, mata yang sebenarnya sangat ia benci, karna terlalu banyak kejujuran yang menyakitkan untuk Jae Mi lihat lebih dalam.

 “Perjanjian kita telah usai, Sehun. Dan kini aku tengah berusaha menempatinya, bukankah aku harus meninggalkanmu? Bahkan batas waktu perjanjian kita telah kuambil lebih dari dua bulan.”

Air mata Jae Mi hampir menetes saat ia berusaha memperjelas alasannya untuk pergi. Ia merasa ini adalah fase terberat dalam hidupnya.

“Jae Mi, aku mohon lupakan tentang perjanjian kita. Aku membutuhkanmu, anakmu juga membutuhkanmu.” ucap Sehun yang tak kalah menahan air matanya untuk tak jatuh dihadapan Jae Mi.

Jae Mi terdiam sesaat. Ia sebenarnya tengah mencoba acuh pada pintu hatinya yang terbuka lebar saat Sehun mengatakan bahwa ‘anakmu juga membutuhkanmu’.

“Bagaimana nasib putri kita, Jae Mi?” tanya Sehun memecah lamunan Jae Mi.

Kini air mata Jae Mi benar-benar jatuh dipelupuk matanya. Namun pandangannya tak ia alihkan barang sedetikpun untuk tetap menatap mata Sehun, mencoba untuk tetap meyakinkan Ayah dari kedua anak kembarnya.

“Kau bisa menjaganya bersama Hye Ra… Dan aku akan berusaha menjaga Putramu, Sehun!”

Sehun terdiam. Ia tak tau apa yang harus ia ucapkan, Ia tak tau apa yang harus ia perbuat meskipun jauh dalam lubuk hatinya ia menginginkan Jae Mi untuk tak pergi.

“Tolong jaga bayiku dengan baik.” ucap Jae Mi melepaskan pegangan Sehun dan beralih melanjutkan langkahnya menuju taksi.

“Jae Mi aku mohon, bagaimanapun putrimu membutuhkanmu!” ucap Sehun yang berusaha menahan kembali Jae Mi untuk tak pergi. Namun kali ini tangannya terlalu lambat untuk menggapai tangan Jae Mi,  karna kini perempuan itu telah berada dibalik pintu taksi dengan jendela hitamnya.

“Jae Mi aku mohon! Jangan pergi!!” teriak Sehun seraya mengetuk jendela kaca saat taksi yang ditumpangi Jae Mi mulai melaju.

“Jae Mi!!!”

 “Jae Mi!! Jae Mi aku mohon!! Jae Mi, tolong beri dia nama Sean.. aku mohon Jae Mi.” teriak Sehun yang semakin lama semakin tak bisa mensejajarkan langkahnya dengan laju taksi yang kini semakin menjauh dari pandangannya.

Sehun terdiam. Nafasnya terus terhembus dengan begitu kasar. Ia kehilangan Jae Mi. Pria ini kehilangan Jae Mi, ibu dari putri satu-satunya.

“JAE MIII!!”

Mata pria ini langsung terbuka saat teriakan suaranya terdengar kembali oleh dirinya sendiri. Sehun langsung berusaha mengambil nafas dengan cepat saat mimpi kembali membawanya pada kejadian 15 tahun lalu. Seperti biasa, peluh keringatnya begitu terlihat jelas membanjiri kedua pelipisnya.

Sialan!!, umpat Sehun dalam hati.

Kini ia langsung mengambil posisi terduduk ditempat tidur. Mengingat kembali mimpi buruk yang telah ia ciptakan sendiri. Ia membenci dirinya.

“Tolong jaga bayiku dengan baik.”

“Jae Mi aku mohon! Jangan pergi!!”

Ucapan Jae Mi terngiang begitu kuat. Kini Sehun merasakan bahwa kepalanya benar-benar penuh dengan beban. Bahkan udara disekitarnya terasa menolak untuk ia hirup.

“Jae Mi!” ucap Sehun hampir tak bersuara.

Nafas pria ini masih tak beraturan. Terlebih kini dadanya terasa sesak –saat mengingat Jae Mi. Rasanya sikap bodoh yang telah ia perbuat benar-benar berhasil membuat dirinya hampir gila.

“Sehun!!” ucap seseorang yang tanpa Sehun sadari kini telah duduk disampingnya.

“Hye Ra!” ucap Sehun pelan yang langsung menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Hye Ra.

“Kau bermimpi lagi?” tanya Hye Ra.

Sehun terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Hye Ra karna masih berusaha untuk menstabilkan nafasnya yang terasa begitu pendek.

Hye Ra juga kini ikut terdiam, membiarkan Sehun untuk sejenak merasakan ketenang berada didalam dekapannya.

Selalu seperti ini, Hye Ra terlalu kasihan pada Sehun yang benar-benar merindukan Jae Mi.

Sehun akan mimpi dan bangun dengan keadaan seperti orang yang habis dikejar anjing liar didalam hutan tak berujung. Pria ini hanya akan diam didalam pelukannya untuk beberapa saat dengan wajah pucat dan keringat dingin disekitar wajahnya.

 “Semuanya akan baik-baik saja, Sehun!” ucap Hye Ra.

Hari ini hampir semua orangtua murid tengah berkumpul pada hari kelulusan anak-anak mereka dijenjang sekolah menengah pertama. Termasuk Jae Mi yang hadir untuk menyaksikan kelulusan putra satu-satunya, Sean.

Dari jauh wanita ini hanya berdiri memandangi Sean yang tengah asik mengobrol dengan beberapa temannya sebelum naik keatas panggung untuk menerima surat kelulusannya.

Sesaat Jae Mi tersadar bahwa kini anak laki-lakinya sudah tumbuh dewasa. Bahkan awal bulan depan Sean akan segera bersekolah di tinggkat menengah atas. Rasanya Jae Mi belum siap melihat Sean terus tumbuh, dia masih ingin Sean kecilnya untuk menemani beberapa tahun kedepan.

“Excusme Miss. Jung!”

Seseorang berhasil membuat Jae Mi kaget dan pikirannya buyar seketika saat ada seseorang yang memanggil namanya seraya memegang kedua pundaknya dari belakang.

“Kyaa!!”ucap Jae Mi kesal.

“Kenapa kau kaget begitu?” tanya sang pria disertai tawa kecil saat melihat ekspresi wajah Jae Mi yang menurutnya lucu.

“Aku sedang memperhatikan Sean! Kau malah tiba-tiba datang.” keluh Jae Mi seraya memukul tangan sang pria dengan cukup kencang.

“Kau terlalu serius. Dimana bocah tengik itu?” ucap Jong In yang kini mengarahkan pandangannya pada gerombolan anak yang tengah berkumpul disamping panggung.

“He is my son, Jong!!” ucap Jae Mi dengan cukup serius.

“Ok!I know.” Jong In dengan sedikit memberi gesture ejekan untuk Jae Mi.

Jong In mengangkat tangan kanannya saat melihat keberadaan Sean diantara banyaknya kerumunan orang, menandakan bahwa kini ia telah datang dihari kelulusannya. Pria kecil itu lantas mengangkat tangannya juga untuk membalas Jong In. Terlihat Sean memamerkan senyumnya untuk Jong In serta Ibunya.

“Harusnya yang berada disini adalah Sehun, bukan aku.” ucap Jong In yang masih melemparkan pandangannya pada Sean.

“Aku tak menyuruhmu untuk datang.” balas Jae Mi.

“Tapi sayangnya Sean lah yang menyuruhku untuk datang.”

Jae Mi diam. Ia kalah atas ucapan Jong In. Memang sedari dulu pria ini sangatlah menyebalkan.

“Kau jadi pindah ke Seoul?” tanya Jong In.

Jae Mi masih diam. Ia masih enggan menjawab pertanyaan Jong In.

“Setidaknya hanya sampai Sean lulus sekolah menengah atas. Setelahnya aku tak akan cerewet jika kau ingin mengajak anakmu  untuk kembali tinggal disini.”

“Ku dengar kau telah berjanji pada Sean. Aku senang.” lanjut Jong In menyeringai.

“Aku membencimu.” ujar Jae Mi menatap mata Jong In tajam.

“Aku menghargai itu, Nona Jung!” ucap Jong In tersenyum lebar.

Jong In memang sesekali datang ke London hanya untuk bertemu dengan Jae Mi dan Sean. Terlebih lagi sejak kecil Sean selalu ditemani bermain olehnya, itulah yang membuat Jong In dan Sean begitu akrab. Bahkan tanpa sepengetahuan siapapun, Sean telah lebih dulu menganggap Jong In sebagai Ayahnya, namun bukan sebagai Ayah kandungnya, karna pria kecil itu tau bahwa Ayah kandungnya tengah berada di Korea.

Setelah acara kelulusan Sean selesai, Jong In mengajak Jae  Mi dan Sean untuk makan disebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari sekolah Sean. Mereka hanya ingin saling berbincang seraya mengisi perut yang sepertinya sudah hampir kelaparan.

“Sean. Kau jadi pindah ke Korea?” tanya Jong In menatap Sean yang berada dihadapannya.

“Sure. Mom promised for that.” jawab Sean seraya melirik sang Ibu yang masih asik menyantap kentang goreng disamping kirinya.

Jong In tersenyum menang saat mengetahui Jae Mi peka atas sindirannya, karna kini Jae Mi terlihat berhenti mengunyah kentang dan beralih menatap dirinya dengan tajam.

“Let’s make a deal.” ucap Jae Mi yang langsung mengarahkan pandangannya pada Sean.

“What?”

“Don’t speak english when we come to Korea.”

“Mom, my..-“

“I really don’t care! Ain’t you who..-”

“Okey, deal Mom! My turn.. I lost.” ucap Sean memotong ucapan Jae Mi seraya mengangkat kedua tangannya karna takut jika Ibunya segera berubah pikiran tentang kepindahan mereka ke kota Seoul.

Jong In tertawa kecil melihat pertengkaran antara anak dan ibu yang hampir terjadi.

“Dia sangat bersemangat, Jae Mi!” ucap Jong In melirik Jae Mi seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Satu minggu sebelum awal semester sekolah dimulai, Sean dan Jae Mi telah sampai di kota Seoul. Mereka baru saja menginjakan kaki diarea pintu kedatangan bandara Incheon.

“Bahasa Korea!” ucap Jae Mi natap Sean yang tengah berjalan disamping kananya.

“Yes, Mom.” jawab Sean dengan pasrah.

Jae Mi menghentikan langkahnya sesaat dan kembali menatap Sean.

“Nde..Om-omma? That’s so weird. I’m still gonna call you ’Mom’” keluh Sean.

“Baiklah, aku setuju untuk yang satu itu.”ucap Jae Mi yang langsung melangkah meninggalkan Sean dibelakangnya dengan begitu cepatnya.

“Hahh!!” keluh Sean saat melihat Jae Mi berjalan didepannya.

Suasana bandara terasa semakin sibuk dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang dihadapan Ibu dan anak yang tengah menunggu jemputan mereka yang belum juga datang. Sudah hampir 20 menit mereka berdiri menunggu.

“Kenapa Paman Choi lama sekali?” keluh Jae Mi melirik jam tangan berwarna putih miliknya.

Sean hanya terdiam melirik Ibu nya yang terlihat kelelahan akibat jam penerbangan mereka yang cukup lama.

 “Bisa kau jaga kopernya? Mom akan ke toilet sebentar.” ucap Jae Mi pada Sean yang masih setia berdiri disampinya ini

“Ok!” jawab Sean.

“Itu cukup melindungimu, Sean!” ucap Jae Mi yang segera beranjak pergi.

Sean sedikit mengerutkan keningnya, “Even just ‘Ok’?” ucap Sean yang memandang langkah Jae Mi.

Sean menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Aturan yang Jae Mi buat untuk berbicara bahasa korea sedikit membebani kepalanya, karna bahasa Korea yang ia kuasai belum terlalu bagus untuk dipraktekan. Terlebih lagi bahasa Korea Sean masih fasif, dimana ia mengerti apa yang ia dengar namun ia tak bisa membalas ucapan dengan bahasa Korea kembali.

 Sean merogoh saku celananya, berusaha mengeluarkan ponsel untuk memeriksa beberapa pesan yang ia terima dari temannya di London. Namun tiba-tiba..

Brukk!!!

Seseorang berhasil menabraknya dan membuat ponsel milik Sean jatuh ke lantai.

“Aaku benar-benar minta maaf!!” ucap Pria yang berhasil menabraknya.

Sean masih diam saat sang pria tengah berusaha mengambil ponsel miliknya yang terjatuh.

“Ok, no problem!” ucap Sean saat sang pria mengembalikan ponsel miliknya yang ternyata masih baik-baik saja.

Selama dua detik pria asing ini mengamati wajah Sean yang tengah menunduk membersihkan layar ponselnya, ia hanya merasa ada sesuatu yang aneh saat sang pria menelaah wajah pemuda dihadapannya ini.

“Mari tuan Oh, pesawatnya akan segera berangkat.” ucap seseorang dari belakang sang pria.

Sean menegakkan kepalanya, pria asing ini membungkukan tubuhnya dan berlalu pergi dari hadapan Sean.

“Mr. Oh, marganya Oh?” ucap Sean tersenyum mendengar nama pria yang berhasil menabraknya tadi.

Ini adalah hari ke empat Sehun berada di kota London. Lagi-lagi kedatangannya kemari adalah untuk mencari keberadaan istri kedua dan anak laki-lakinya yang sudah 15 tahun ini sangat susah ia jumpai.

Sebenarnya sudah dari dulu Sehun menyuruh beberapa orang suruhannya untuk melacak keberadaan istri dan anak laki-lakinya. Namun orang yang ia cari itu terlalu lihai untuk berpindah tempat sehingga membuat Sehun semakin kesusahan mencari keberadaan mereka.

Pria ini benar-benar merasa bersalah sesaat setelah bercerita pada Jae Ra tentang Ibu kandung dan saudara kembarnya. Dirasa kali ini Sehun benar-benar harus segera menemukan keberadaan mereka berdua dan membujuk mereka untuk segera kembali ke Seoul.

“Kami tidak berhasil menemukan mereka, Tuan.” ucap seorang pria yang kini baru saja berdiri dihadapan Sehun.

Sehun terdiam. Otaknya kembali ia paksa berpikir untuk memecahkan ribuan cara agar ia bisa menemukan Jae Mi dan Sean dengan cepat.

Sehun segera bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati jendela besar dihadapannya seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana hitamnya.

Ingatannya akan kejadian 15 tahun lalu kembali terbesit dalam kepalanya, atau mungkin lebih tepatnya saat masa-masa dimana Jae Mi tengah mengandung diusia kehamilannya yang telah menginjak 6 bulan.

Kala itu Sehun bertengakar hebat dengan Hye Ra atas pengakuan wanita pertamanya yang berkata bahwa ia telah tidur dengan mantan kekasihnya dulu. Sehun murka, ia pergi meninggalkan apartemen, berusaha untuk menenangkan pikirannya atas kekecewaannya yang sangat amat dalam terhadap Hye Ra.

Beberapa jam kemudian pria ini menerima pesan bahwa Hye Ra tengah berada dirumah sakit. Wanita itu menelan obat penggugur kandungan untuk membunuh bayi dalam perutnya. Seolah waktu berlalu dengan cepat, satu jam kemudian seorang dokter memberitahukannya bahwa jantung bayi dalam rahim Hye Ra sudah tak berdetak lagi.

Sehun dibuat kecewa untuk kedua kalinya dihari yang sama. Ia benar-benar membenci dirinya. Terlebih lagi saat selembar kertas tentang pengajuan perceraian dari Hye Ra terpangpang jelas dihadapannya, berhasil membuat dunia Sehun terasa sangat hancur. Ia tak lagi memiliki apapun untuk ia akui.

Tiga bulan yang ia lalui setelah surat pengajuan cerai dari Hye Ra ia terima, sampai detik itu juga Sehun belum menandatangani kertas putih tersebut. Ia tak mau benar-benar kehilangan Hye Ra meskipun ia merasa bahwa Hye Ra bukanlah lagi miliknya.

Sampai akhirnya Sehun tersadarkan oleh ucapan Ibunya, “Jika memang Omma harus kehilangan Hye Ra, Omma tak mau kehilangan Jae Mi.”

Jae Mi. Sehun lupa bahwa ia masih mempunyai Jae Mi, ia baru sadar bahwa sudah hampir tiga bulan ia meninggalkan wanita keduannya itu.

Dua minggu disisa masa kehamilan Jae Mi yang ia lalui untuk menjaga wanita itu dan calon anak mereka benar-benar telah membuat Sehun membuka mata dan hatinya untuk Jae Mi. Sehun merasakan bahwa dirinya sudah mulai bisa merasakan sayang akan Jae Mi yang setia disampingnya. Dan tanpa sadar, hal itu telah berhasil membuat hati Sehun luluh.

Saat hari kelahiran bayi kembar mereka, rasa Sehun semakin kuat menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada Jae Mi yang telah susah payah berjuang antara hidup dan mati saat melahirkan bayi mereka. Namun sesaat Sehun kembali teringat akan Hye Ra, Ia sadar, meskipun ia telah jatuh cinta pada Jae Mi, Hye Ra tetaplah ada diposisi pertama wanita yang ia cintai.

Tepat hari ini semester pertama diakhir musim panas segera dimulai. Sekolah elite dengan gedung kelas yang bertingkat tinggi serta berbagai fasilitas mewah didalamnya ini tengah begitu banyak menerima kehadiran para murid baru yang berstatus sebagai kelas 11.

Salah satunya adalah Jae Ra. Gadis ini begitu terlihat bersemangat dihari pertama sekolahnya, karna ini ia telah resmi menjadi siswa sekolah menengah atas.

“Semangat Honey.” ucap Sehun saat melihat Jae Ra tengah berusaha melepaskan sabuk pengamannya.

“Ndee, Appa! Semangat!!” ucap Jae Ra memperlihatkan kedua kepalan tangannya pada Sehun.

“Semoga harimu menyenangkan!” ucap Sehun yang lalu mencium kening Jae Ra.

“Terimakasih, Appa. Sampai jumpa!” ucap Jae Ra beranjak keluar dari dalam mobil dan bergegas pergi kehalaman sekolah barunya.

Sehun tersenyum melihat langkah Jae Ra yang terasa seringan angin saat memasuki sekolah barunya. Memang sedari malam gadis itu terus berceloteh bahwa ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan teman-teman barunya disekolah ini. Ia bangga akan sifat periang putri satu-satunya itu.

Namun saat akan kembali bergegas pergi, ternyata sebuah sedan hitam berhenti tepat dihadapan mobil Sehun. ia rasa keberadaan mobil dihadapannya ini akan sedikit membuat mobilnya kesusahan untuk segera pergi. Sehun memilih menunggu sesaat agar mobil dihadapannya pergi, karna ia terlalu malas menegur orang untuk pagi ini.

Tak lama terlihat seorang pemuda yang keluar dari dalam mobil dihadapannya ini.

Sehun terdiam melihat wajah yang tak asing baginya.

“Bukankah itu pemuda yang minggu lalu tak sengaja aku tabrak?”ucap Sehun yang terus mengarahkan pandangannya pada sang pemuda yang tengah berjalan masuk kedalam area sekolah.

 Tinn!!

Lamunan Sehun pecah. Ia langsung melirik kaca spion mobilnya saat melihat seorang pengemudi yang sepertinya kesal karna jalannya ia halangi. Kini Sehun kembali menginjak peal gas, karna mobil hitam tadi yang parkir didepan mobilnya sudah pergi entah kemana.

Suasana koridor sekolah ini masih terlihat sepi. Wajar saja, kebanyakan murid lebih memilih diam dibangku kelasnya masing-masing karna ini adalah hari pertama mereka saling bertemu. Semua masih terasa canggung karna belum saling kenal satu sama lain.

“B.. B.. B, Why I can’t find it?” ucap pemuda yang masih kesulitan menemukan kelasnya sejak lima menit lalu.

Ia sebenarnya sedikit kesal dengan kemampuan bahasa Koreanya sendiri. Petunjuk arah ke beberapa kelas tertulis tengan tulisan hangul, tulisan yang masih belum ia mengerti dengan baik. Jadi wajar saja sedari tadi ia kesusahan untuk menemukan kelasnya.

I hate myself!, keluhnya dalam batin.

Suasana memang sepi, hanya ada beberapa murid yang berlalu-lalang dengan cepat melewatinya. Ia menjadi sedikit canggung untuk bertanya tentang dimana kelasnya.

Sesaat kemudian terlihat dua orang gadis yang sepertinya tengah berjalan menuju kearahnya, namun lebih tepatnya akan berjalan melewatinya. Sean langsung mengambil ancang-ancang menghampiri mereka agar kali ini ia berhasil keluar dari kebingungannya ini.

 “Sorry, do you.. ahh!!” ucap Sean sedikit frustasi saat mengingat ucapan ibunya tadi pagi, “Bahasa korea, Sean”

“Kau tau.. dimana.. kelas B?” ucap Sean melanjutkan pertanyaannya dengan sedikit canggung.

“Kelas B? Hanya perlu lurus lalu belok kanan, kau pasti akan menemukannya!” ucap seorang gadis yang berada disamping kanannya.

“Ahh, Terimakasih” ucap Sean tersenyum seraya membungkuk lalu pergi bergegas mencari keberadaan kelasnya.

“Dia kaku sekali.” seorang gadis ber-name badges ‘Young Sun’.

“Ku rasa dia murid pindahan, Sean.. namanya Sean.” ucap gadis disamping Young Sun yang kini tengah memandang kearahnya.

“Jae Ra!! Kau ini ternyata Stalker pria tampan yaa!!” ucap Young Sun menggoda teman disampingnya ini.

“Kyaa, aku melihat name badges-nya saat tadi dia bertanya padamu.” ucap Jae Ra berusaha menyangkal.

“Ah, jangan-jangan kau suka padanya.” Young Sun yang kini benar-benar mengalihkan pandangannya pada Jae Ra.

“Kau bicara apa?!”

“Bailah jika tak mau, kurasa aku akan mulai menyukainya. Dia lumayan juga.”

Jae Ra hanya tersenyum seraya mengelengkan kepala pelan menyadari kebiasaan sahabatnya ini kembali menjadi.

-To Be Continue-

Note: Sebenernya aku agak gemes sama Sean dan Jae Mi, huhu 😀

Untuk part selanjutnya, mungkin memang akan ada beberapa scane flashback yang aku buat untuk menjawab rasa penasaran kalian tentang satu-dua kejadian di The Wedding kemarin yang belum sempet aku ungkap. So, take care for read this story, please. 🙂

Jangan lupa tinggalkan komentar yaa.. 🙂

Iklan

13 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] After The Wedding (Chapter 2)

  1. Iiihhh rasanya pengen nyolok sehun biar sadar kalo itu anaknya dia -______- dan btw semoga jaera engga suka sama sean 🙏🙏🙏🙏 ditungfu chapter berikutnya ya kaaaa 😘😘😘😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s