[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif – (Chapter 4)

 

d280e926-4252-44eb-bacc-1dd00b9ca6f9Obsesif Kompulsif

By : Chanrini

Genre : Roman, Life, psychology. Mystery

Length : Chaptered / Series Fic

Rating : General (Naik seiring bertambahnya konflik)

Main cast: Park Chanyeol, Han Angela (OC)

Summary:

 

Chanyeol berhasil keluar dari masa lalu dengan menyunggikan senyum ceria penuh kepalsuan.

 

Tapi semua kenangan itu kembali menghantam Chanyeol, menyeretnya dalam luka lama yang kembali basah dan tidak akan pernah sembuh.

 

Iblis itu kembali datang dalam jiwa yang berbeda, berkamuflase pada sosok malaikat tak bersayap yang terpantul pada iris madu Chanyeol.

 

Hidup kembali pada raga seorang gadis berlabel ~ Han Angela.

 

 

Declaimer :

 

Karya ini asli dari imajinasi saya, sebagai dedikasi kepada Chanyeol idola saya.

 

Kesamaan latar dan tokoh mungkin saja terjadi, karna imajinasi manusia bisa saja sama, tapi semua alur cerita asli dari imajinasi saya pribadi.

 

Saya juga update cerita ini di akun wattpad saya, kalian bisa mampir heheheh http://my.w.tt/UiNb/2JxCukpYqC

 

  

 

Obsesif Kompulsif – I Am Falling in Love With You

Chapter 4 – Park’s Dark Side

 

 

Aku akan membalikmu lebih, menghancurkanmu dan menelanmu

Aku akan mencurimu dan menikmatimu

Aku akan mengacaukanmu

– Exo ~ Monster-

 

~~

Hyoseop serius dengan ucapannya tempo hari. Bahkan sekeras apa pun Angela menolak, lelaki itu selalu punya 1000 macam alasan yang akan menyeretnya pada kalimat setuju tanpa harus berpikir dua kali. Tapi Hyoseop tetap lah Hyoseop yang selalu teledor dengan janji-janjinya. Dia selalu lupa menyebutkan tempat pasti dimana Angela harus menempatkan tubuhnya untuk menunggu. Dan Angela selalu menjadi wanita pelupa bila sudah berhadapan dengan lelaki sipit itu.

Jadi demi keamanan dirinya dari terpaan hujan salju di luar, Angela lebih memilih menunggu lelaki bermarga Park itu -yang baru Angela tahu setelah meminjam kartu perpustakaannya tempo hari, di lobi asrama putri yang sepi tak berpenghuni.

Seluruh penghuni gedung empat lantai ini lebih memilih menghabiskan malam pergantian tahun dengan keluarga masing-masing. Hanya beberapa anak rantau dari luar negara saja yang masih menghuni kamar flat mereka sambil sesekali menghubungi keluarga yang jaraknya ribuan mill dari seoul. Termasuk Angela yang baru selesai berdebat dengan ibunya di saluran telpon antarnegara. Ibunya tidak terima anaknya tidak ada yang mau pulang ke rumah. Kakaknya masih marah, sedangkan Angela hanya mahasiswa baru yang tidak bisa ambil cuti libur dengan bebas. Lagi pula dia akan dapat cuti libur akhir semester genap dan bisa dipakai untuk pulang ke Indonesia. —Kalau tidak ada tugas tambahan menyebalkan dari dosen.

Ktalk~~

Atensi Angela terputus dari kontradiksi derasnya hujan salju dan pikiran yang beragumen liar, kepada pemberitahuan pesan Kakaotalk pria yang kehadirannya dia tunggu selama setengah jam ini. Aorta Angela secara otomatis memompa dengan giat hasil refleks medulla spinalis nya merespon pesan mengerikan pria berlabel Park sebagai marga keluarga. Bahkan sebelum melemparkan tubuh pada deras hujan salju di luar gedung, tengkuk Angela sudah merinding kedinginan.

Mungkin bukan jenis kedinginan hasil kinerja tubuh menghalau udara -4 derajat. Tapi lebih kepada refleks tubuh Angela akan tanda bahaya yang terpatri di alam bawah sadar ringkihnya. Sekeras apa pun Angela menghalau segala bentuk pikiran negatif, semakin besar pula alam bawah sadar Angela menerima berbagai praduga yang tidak masuk akal tentang siapa pun manusia bermarga Park. Bahkan yang lebih konyol, dia jadi takut dengan dosen yang memiliki marga Park di depan namanya. Takut bila kebelutan punya kaitan keluarga dengan si “Park” gila wanita itu.

Dunia jadi sempit jika kau jadi korban teror orang sinting.

Dan hebatnya!, orang sinting itu adalah idolamu sendiri.

“Angela..”

Angela terlonjak kaget mendapati manusia bermarga ‘Park’ lainnya tiba-tiba muncul dari balik pintu lobi yang Angela pelototi dari tadi. Jantungnya seakan ingin putus saat iris gelap Angela langsung memantulkan tubuh tinggi pria yang punya ikatan darah dengan lelaki yang dia jelek-jelekkan di dalam ruang imajinasi liar Angela.

Keluarga ini seperti punya kecenderungan datang tiba-tiba.

Atau punya telepati kalau – kalau ada yang membicarakan keburukan mereka.

“Kau tidak apa? Aku melupakan lagi memberitahu tempat bertemu, Mian Ela.” Ujar Hyoseop yang langsung mendudukkan tubuhn disamping Angela. Sambil menyunggikan senyum eyesmile andalannya.

“Aku juga lupa bertanya.” Timpalnya mengakui. “Mau berangkat sekarang?”

“Hujan salju masih deras, tunggu reda sedikit tidak masalah kan?” Sarannya lembut.

Syukurlah bila Hyoseop ingat kalau teman beda negaranya ini tidak kuat udara dingin.

“Tidak masalah.” Jawab Angela singkat.

Setelah jawaban datar yang Angela lontarkan, mereka terdiam membisu. Angela pura-pura menyibukkan diri dengan memandang hujan salju, yang bukan mereda tapi makin mengganas. Hyoseop memilih memainkan handphone daripada mengajaknya berbicara dan mengakhiri kebisuan diantara mereka. Sangking sunyinya keadaan mereka, gedang telinga Angela hanya diramaikan suara riuh salju bertabrakan dengan pintu kaca lobi tembus pandang dan berita badai salju dari televisi kamar bibi Choi di ujung lorong.

Tahun baru paling menyedihkan sepanjang 20 tahun hidup Angela.

“Angela…” Suara Hyoseop berhasil menyadarkannya dari rengekan hati yang nelangsa, bersyukur akhirnya makhluk ini bersuara juga.

“Chanyeol tidak ada di rumah.” Terangnya to the point setelah sekian menit membisu.

Mendengar ucapannya daripada merasa sedih, Angela malah merasa senang bahkan bukan main. Ketegangan di ujung-ujung sarafnya dari seminggu belakangan bisa mengendur perlahan. Angela sudah tersenyum tulus hasil refleksi kelegaannya, karna tahu pasti dia tidak perlu bertemu lelaki tukang teror itu.

Tapi sekali lagi takdir baik sedang malas menghampiri Angela. Karna perkataan Hyoseop selanjutnya malah membuat Angela lebih tegang dari seutas senar yang ditarik paksa.

“Dia memintaku membawa kau ke kondominiumnya.” Ucap Hyoseop dengan senyum culas.

Dia menegang karna menyadari hanya berdua dengan lelaki ini di sebuah kondominium sepi. Angela bisa saja menolak ajakan Hyoseop. Lagi pula norma dikepalanya berteriak keras menentang setiap kesalahan yang coba Angela langgar. Tapi penjelasan Hyoseop selanjutnya mampu membuat otak rasional Angela menenangkan diri. Dia tidak sendirian disana. Tidak berduan saja dengan Hyoseop yang sekarang jadi lelaki golongan playboy menurut Angela. —Yang satu itu dia juga tahu dari temannya yang bernama Sora si wanita hits di kampus. Tidak sulit dapat informasi dari wanita cerewet itu.

Yang terpenting sekarang Angela tidak berduan saja dengan lelaki tampan bermarga Park ini. Hyoseop menjanjikan, Angela akan bertemu tiga orang lagi bermarga sama yang sekarang menunggu di kondominium ‘Park Obsesi’ yang berada di wilayah Junghwa-dong.

Hanya itu info yang Hyoseop jelaskan dan setelahnya dia menyeret Angela ke dalam audi A8 hitam yang terpakir di halaman asrama, terlihat mencolok diantara tumpukan salju putih.

 

 

Screenshot_2017-05-08-01-00-55_1

Telapak kaki Angela sampai membeku karena dipaksakan menerjang hujan salju tanpa persiapan mental, ditambah diseret paksa oleh lelaki bernama Park Hyoseop. Lelaki satu ini mendadak amnesia kalau Angela tidak kuat udara dingin. Padahal baru beberapa menit lalu Angela puji. Hyoseop tanpa merasa iba dengan keadaan temannya, dia langsung melajukan mobil membelah lautan salju dengan kecepatan yang lumayan kencang.

Keluarga Park benaran sinting.

Baru jalan beberapa meter saja, Angela sudah banyak mengumpat kasar.

Kepala Angela membentur pintu mobil karena lelaki satu ini mengemudi dengan ugal-ugalan. Yang membuat dia kesal, Hyoseop tidak bereaksi apapun, padahal mendengar benturan kepala Angela dengan kaca mobil mewahnya yang sangat keras. Wajah Hyoseop berubah datar semenjak memasuki mobil dan mengemudi bergabung dengan pengendara lain di jalan seoul yang sangat sepi.

Lihat!.

Keluarga Park memang memiliki kelakuan yang aneh semua. Jadi jangan salahkan kalau Angela selalu berpikiran buruk dengan keluarga bermarga Park. Dia bahkan berfikir keluarga ini keturunan Pshyhopat semua. Sudahlah Angela, dia harus memutar otak untuk menenangkan pikirannya yang mulai berfantasi negatif lagi.

Sepanjang perjalanan yang sudah memakan hampir satu jam, Angela hanya terdiam sambil memandangi bahu jalan yang tertutup salju dan kumpulan kelebat lampu jalan yang berliuk-liuk tertinggal kecepatan audi hitam Park Hyoseop.

Hyoseop sungguhan bertransformasi jadi lelaki bisu dan tidak meliriknya sama sekali. Biasanya dalam suasana canggung begini, lelaki itu duluan yang memulai percakapan. Dia mengerti kalau Angela bukanlah wanita yang pintar memulai pembicaraan ataupun bergurau layaknya teman akrab. Alhasil selama perjalanan ini hanya sunyi yang jadi teman mereka berdua.

Angela masih sibuk menerka apa yang akan ia hadapi di kondominium si ‘Park obsesi’ dan bagaimana harus bersikap. Sedangkan kehadiran teman kelas bermarga Park disampingnya ini sama sekali tidak membantu. Hyoseop malah menjadi penanda ketakutan terhadap sepupu sintingnya itu. Memastikan Angela sadar kalau semua peristiwa yang ia lewati adalah nyata dan bukan hasil imajinasi cereblum super kreatif Angela.

Membuat Angela berpikir pada fantasi terliar bahwa seorang Park Chanyeol punya gangguan jiwa. Akibat obsesi gila pada wanita bernama Sonyeon yang Angela sendiri tidak tahu bentuknya. Dirinya menjadi sasaran obsesi lelaki bermarga Park dan menerimanya tanpa keberatan. Kalau boleh memilih, Angela sebenarnya juga tidak mau terlibat masalah seperti ini. Kepalanya pening harus membaca segala pesan menakutkan dan diam saja dengan teror mengerikan lelaki telinga lebar itu. Kalau bisa menukar tempat dengan wanita itu dia mau mencari dimana Sonyeon berada.

“Nah.. Angela, sudah sampai. Tunggu di lobi aku akan parkir mobil dulu. Tidak masalah kan?” Hyoseop, sekali lagi mampu menariknya dari imajinasi negatif tentang sepupunya itu. Bahkan senyum Park palsu itu sudah kembali.

“Iya tidak masalah.”

Setelah mengatakan persetujuan dengan setengah hati. Angela turun dari mobil mewah Park Hyoseop yang berhenti tepat di pintu lobi apartemen Galleria Foret . Yang baru Angela sadari tampak sangat mewah. Mengikuti saran Hyoseop, Angela masuk kedalam lobi apartemen. Melewati penjaga pintu otomatis yang tersenyum lebar kepada Angela.

Setelah masuk kedalam pintu kaca tembus pandang sebagai ciri khas lobi Galleria Foret. Angela seketika disuguhkan dengan pemandangan lobi mewah, perpaduan bebagai desain modern hunian vertikal 45 lantai ini.

Setelah beberapa menit terkagum dengan arsitektur lobi apartemen Galeria Foret yang futuristik, Angela akhirnya melangkahkan kaki ke tengah lobi apartemen yang dikelilingi kaca disetiap sudut bagunan. Menjadikan Angela kurcaci karna luasnya bangunan lobi.

 

sdsufs7l3c4wb5m5

Angela berubah linglung setelah berhasil berdiri ditengah lobi luas yang sepi, hanya ada beberapa orang yang kemungkinan besar penghuni apartemen dan para pegawai yang terlihat terlalu ramah. Tipikal pegawai pada hunian kaum Borjuis. Angela terisolasi dengan lingkungan seperti ini. Ia merasa menjadi orang asing diantara luasnya tempat raksasa yang sekarang mengintimidasi dengan kemewahannya.

“Ayo Angela…”

Tubuh Angela yang terpatri kaku di tengah lobi mewah Galleria Foret akhirnya melepaskan diri. Hyoseop sekali lagi menariknya dan berlalu meninggalkan lobi tanpa merasa terintimidasi. Dia menarik Angela menuju lift apartemen yang berada tidak jauh dari tempat Angela menunggu.

Mereka menunggu pintu lift terbuka bersama beberapa penghuni apartemen yang juga menatap Angela aneh. Bahkan, wanita dengan fashion bermerek di setiap jengkal tubuh rampingnya, mengernyitkan kening saat berdiri di samping Angela. Tidak menutupi sama sekali pandangan meremehkan pada mode yang Angela pakai. Menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki Angela. Bibir dengan polesan lipstick merah darah itu tersenyum miris setelah memandang penampilan Angela. Perilaku meremehkan seperti ini yang selalu Angela tidak suka. Angela akui penampilannya saat ini sangat jauh dari kesan mewah. Hanya mantel abu-abu merek Number 61 dipadukan dengan skinny jeans hitam panjang dan sweater abu-abu tua dengan merek sejenis. Sangat jauh dari kesan mahal yang dipamerkan wanita congkak di samping kanannya ini. Meremehkan seseorang hanya karna penampilan luar bukanlah hal yang terpuji.

“Angela jangan melamun. Ayo liftnya sudah terbuka” suara Hyoseop berhasil memalingkan tatapan Angela dari pintu lift yang kini telah terbuka lebar kearah punggung tegap berbalut mantel hitam di depannya.

Kaki-kaki Angela bergerak gagap mengikuti Hyoseop yang sudah melangkahkan kaki memasuki lift mewah Galleria Foret . Tertinggal beberapa langkah dari tiga manusia yang telah menghuni petak persegi bergerak itu. Meski tertinggal, Angela pada akhirnya dapat melesakkan tubuh tepat sebelum pintu itu tertutup otomatis. Menempatkan diri di kiri tubuh Hyoseop yang berdiri di pojok lift.

Tubuhnya menegang seketika saat merasakan jemari Hyoseop mengenggam tangannya ketika ia berada di samping tubuh pria itu. Perbuatan pria ini tidak luput dari pandangan seluruh penghuni lift yang berisikan seorang operator dan dua orang penghuni apartemen —wanita berbusana mahal itu salah satunya. Bahkan wanita itu menatapnya kesal sekarang. Sedangkan Hyoseop malah tersenyum ramah pada operator lift berseragam merah maroon, menghiraukan setiap kelakuan wanita cantik di samping Angela.

Kelakuan wanita itu teralihkan oleh pertanyaan tujuan kondominium tiap penghuni lift. Dan tepat saat wanita itu ingin berbicara sesuatu, operator lift sudah lebih dahulu menanyai kondominium wanita itu. Alhasil dijawab dengan nada membentak yang membuat telinga kiri Angela berdengung. Hyoseop mengucapkan lantai kondominium sepupunya. Tepat satu lantai di atas kondominium wanita sombong ber-makeup tebal di kiri tubuh Angela. Pantas saja wanita itu menatap Angela tidak suka, kemungkinan besar wanita ini mengenal Hyoseop ataupun sepupu lelaki itu yang nyataannya tetangga Park di apartemen ini.

“Sudah lama kau tidak kesini Hyo.”

Wanita itu tiba-tiba bersuara sambil menatap Hyoseop dengan senyum centil adalan, menghiraukan Angela yang berada di antara mereka berdua, wanita itu sengaja tidak mengganggap keberadaan dirinya saat ini.

“Aku sibuk.” Jawab Hyoseop dingin, bahkan pria itu tidak sudi menatap wajah lawan bicaranya. Pandangannya datar menatap pintu lift yang memantulkan tubuh mereka. Angela bisa melihat jelas wajah kesal wanita itu dari pantulan pintu.

“Sibuk dengan pacar baru kau yang kampungan ini.” Ujar wanita itu sinis, dia menatap Angela jijik masih dengan tampang kesalnya.

Untung saat ini Angela dalam suasana hati yang sabar. Kalau tidak, mungkin dia akan dengan senang hati menjambak mulut berbisa wanita itu.

“Kau tidak punya kewajiban mencampuri masalah pribadi orang lain.” Jawab Hyoseop sinis, yang mampu membuat mata wanita itu terbelalak.

Rasakan, sekarang dia yang tampak menyedihkan.

Setelah Hyoseop mengatakan jawaban yang menyakiti hati wanita sombong itu. Keadaan lift mereka menjadi hening. Wanita itu membisu sambil sesekali melirik Hyoseop yang masih setia menatap pintu lift.

Operator lift dan seorang pria lainnya lebih memilih diam tidak mau ikut campur pada permasalahan penghuni lain. Dan Angela hanya bisa diam membeku sambil memikirkan kemungkinan yang akan dia hadapi di balik pintu lift.

Lift bergerak vertikal dengan kecepatan yang membuat kepalanya sedikit pening. Mereka bergerak hanya beberapa detik untuk mencapai setiap lantainya. Bahkan hanya butuh waktu lima menit untuk mencapai lantai 10 apartemen. Dan pada saar layar lift menunjukkan angka 24, pintu secara otomatis terbuka. Wanita sombong itu dengan menghentakkan kaki keluar dari lift dan hilang di belokan lorong apartemen. Setelahnya, giliran dia dan Hyoseop yang keluar dari petak bergerak itu. Hyoseop menuntunnya dengan menggenggam tangan Angela.

Berjalan santai beberapa meter dari lift dan berhenti tepat di pintu kondominum di pojok kanan. Hanya ada 2 pintu kondominium di lantai ini.–Yang Angela yakini hanya ada 2 kondominium tiap lantainya. Mengingat apartemen ini adalah apartemen termahal di kota Seoul atau mungkin di korea. Jadi melihat sedikitnya penghuni tiap lantai bukanlah hal yang tidak mungkin. Bahkan Angela pernah membaca di internet, kalau makin tinggi lantai kondominium di apartemen Galleria Foret maka makin tinggi pula harga yang harus kau keluarkan. Angela sekarang sangat yakin Keluarga Park memang berlimpah kemewahan. Jadi jangan heran bila mereka banyak yang congkak.

“Kenapa kau suka sekali melamun?” Hyoseop mengelus rambutnya untuk menyadarkan Angela yang melamun menatap pintu kayu kondominium tempat sepupu Hyoseop saat ini.

Angela hanya bisa tersenyum kecut sebagai balasan sikap Hyoseop kepadanya. Lelaki itu sampai saat ini masih suka melakukan hal diluar batas sesama teman pada umumnya. Mungkin lain waktu Angela akan membicarakan keberatannya terhadap sikap Hyoseop ini. Tapi nanti, setelah dia berhasil melalui keluarga besar Park yang sangat menakutkan dalam bayangannya. Angela paranoid dengan keadaan yang masih ditebak-tebak seperti sekarang. Dia tidak tahu apakah menyetujui bertemu keluarga pria tukang teror itu adalah keputusan yang baik atau tidak.

Hyoseop menekan sandi kondominium dengan lancar, ternyata sepupu park ini mempercayakan kondominiumnya kepada orang lain. Dia pikir lelaki aneh macam Park Chanyeol akan tertutup dengan hal pribadi. Mengingat kelakuan lelaki itu yang bisa berbeda tiap saatnya. Siapa tahu kan kalau dia punya suatu rahasia tersembunyi di balik kondominium mewahnya ini. Seperangkat bahan kimia berbahaya misalkan. Yang akan dia gunakan untuk membunuh para wanita mirip Sonyeonnya itu.–Dan Angela salah satu daftar wanita itu.

Membayangkannya saja membuat Angela merinding ketakutan. Sekarang dia dengan senang hati mengumpankan tubuh kurusnya ke kandang singa kelaparan itu. Sungguh ironis, disaat mangsa lari secepat kilat menghindari si pemburu. Angela malah berlari riang menuju kandang pemburu itu.–Antara bodoh dan pemberani kadang beda tipis.

Mereka masuk ke lorong setelah menjejakkan diri kedalam kondominium. Hyoseop meminta mantel yang dikenakan Angela. Lalu menggantungnya pada lemari geser di samping pintu utama. Mereka mengganti alas kaki dengan sandal rumah yang mirip sandal hotel. Lalu masuk lebih dalam menyusuri lorong yang temaram.

 

 i14-1

 

Kondominium itu sangat mewah. Itu lah kata yang terlintas pertama kali saat memasuki ruang tamu kondominium milik Park Chanyeol. Tidak terlalu luas. Tetapi minimalis.

Satu set sofa hitam memenuhi tengah ruangan. Tv plasma tipis dan audio menempel pada rak buku yang menjadi dinding salah satu bagian ruang tamu. Tepat didepan tv plasma terdapat meja makan enam kursi yang tampak sederhana tetapi mewah. Begitupun dengan pantry dapur yang terlihat elegan, —walaupun hanya terlihat sedikit dari tempat Angela berdiri sekarang. Angela mungkin harus bekerja puluhan tahun untuk membeli kondominium sebesar ini. Atau bahkan tidak akan pernah mampu membeli setengahnya seumur hidupnya.

“Angela, kau duduk saja dulu. Aku akan memanggil bibi dan paman di dalam.” Angela mengalihkan tatapan menilainya dari setiap inchi ruangan kepada lelaki tampan di hadapannya.

Dia bahkan melupakan kehadiran Hyoseop karena terlalu terpesona pada kemewahan kondominium sepupu lelaki itu. Apakah Hyoseop menyadari kelakuan norak Angela?. Kalau iya, dia jadi malu. Tiba- tiba Perkataan wanita congkak di lift tadi kembali terdengar di kepalanya seperti kaset rusak.

Hyoseop pada akhirnya menuntun Angela duduk di sofa ruang tamu. Karena Angela hanya terdiam menatap Hyoseop tanpa ada tanda-tanda menuruti perintah pria itu. Memaksa sedikit untuk mendudukan diri pada sofa hitam yang sangat nyaman menangkap tubuhnya. Lalu pria itu menghilang dibalik ruang makan dibelakang tubuh Angela. Entah pergi kemana. Dia meninggalkan Angela di ruangan asing ini sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dari tempat duduknya yang menghadap jendela luas, Angela bisa melihat pemandangan kota Seoul yang sekarang bagaikan kerlip cahaya yang luas. Malam terasa begitu gemerlap dari atas sini. Pergantian tahun tidak menyurutkan kuasa tuhan untuk menurunkan bulir putih memenuhi Seoul. Seperti menandakan penutup tahun yang kelabu bagi setiap insan di penjuru Seoul. Bagi sebagian orang, mungkin cuaca saat ini tidak berpengaruh sama sekali bagi suasana hati mereka. Tapi, bagi sebagian lainnya suasana ini begitu memiluka bagi keadaan mereka. Terlalu dingin untuk menutupi berbagai kecamuk dalam raga. Terlalu menyesakkan untuk menenangkan luka hati yang meradang.

Angela selalu benci dingin. Mereka selalu membuat jiwa dalam raganya seolah merana dalam kesepian setiap waktu. Mematikan fungsi tubuhnya dalam menopang kehidupan. Angela mengidap Hashimoto’s Disease, penyakit autoimun yang bersarang di tubuhnya lebih dari lima tahun. Sistem kekebalan tubuhnya menyerang jaringan tubuh sendiri dan merusak kelenjar tiroid Angela. Penyakit ini pula yang menyebabkan dia intoleran udara dingin. Tidak ada yang tahu penyakit ini, kecuali ibu Angela.

Dia sengaja merahasiakan dari semua orang. Angela tidak mau kelemahan tubuhnya menjadi penghalang semua impian Angela. Ayahnya akan mengurung Angela bila tahu penyakit ini. Jadi dengan keras kepala dia melarang ibunya memberitahu siapapun. Angela masih bisa hidup walau dengan bantuan obat levothyroxine yang harus dia konsumsi seumur hidup. Setidaknya Angela tidak merepotkan hidup ibunya. Entah dari mana penyakit ini berasal. Bahkan dokter yang menangani Angela bingung dibuatnya. Diagnosis menyatakan Angela mengidap penyakit ini karena faktor genetika. Tetapi tidak ada satu pun keluarga besarnya membawa resiko penyakit ini.

“Angela.” Lamunan Angela buyar saat gendang telinganya menangkap suara berat Hyoseop. Dia terkesiap mendapati Hyoseop telah berada di hadapannya.

Seketika tubuhnya berdiri mendapati Hyoseop tidak sendiri. Pria itu diapit lelaki paruh baya dengan wajah garang dan wanita seumuran dengan senyum ramah dibuat-buat.

“Ini paman dan bibi ku. Ibu dan Ayah Park Chanyeol.” Jelas Hyoseop singkat.

Annyeonghasimnika ” Angela membungkukan tubuh sembilan puluh derajat sebagai bentuk rasa hormat kepada orang tua Park Chanyeol.

Tangannya bahkan bergetar saat tubuh Angela kembali tegak menghadap mereka. Dia harus menyembunyikan telapak tangan di belakang tubuh untuk menetralisir rasa gugup. Meremas-remas kedua tangan yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Ekspresi kedua orang tua Chanyeol membuat jantung Angela berdetak tidak karuan. Mereka hanya tersenyum kecil sebagai jawaban salam Angela. Lalu ibu Park pergi menuju lorong tempat Hyoseop datang tanpa berkata apapun kepada Angela. Ayah Park berbasa basi ringan menanyakan nama dan asal Angela. Lalu menyingkirkan diri dengan cara menonton berita di-TV plasma ruang makan yang sedang menampilkan wanita cantik bermarga Park.

Ayah Chanyeol terlihat menghindari Angela, walaupun masih dengan baik hati menemani mereka diruang tamu. Angela bingung kenapa mereka terlihat tidak suka dengan kehadiran Angela. Seingatnya, ibu Chanyeol terkenal ramah dengan siapapun. Begitu juga dengan ayah Chanyeol. Tetapi kenyataannya sekarang malah sebaliknya. Mereka bersikap dingin terhadap Angela. —Atau hanya kepada Angela?.

“Jangan diambil pusing.” Angela memandang Hyoseop yang bersuara setelah sekian lama mereka terdiam sambil memandangi jendela besar yang menampilkan kota Seoul di malam hari.

“Bibi dan Paman sedang sedih karena pergantian tahun ini tidak ada anak mereka di rumah.” Hyoseop memincingkan mata entah melihat apa.

“Yoora noona harus siaran berita malam ini, sedangkan Chanyeol harus manggung ke China.” Lanjut Hyoseop tanpa melepaskan tatapan tajam dari keindahan malam kota Seoul dibawah sana.

Angela hanya bisa menghela napas kasar sebagai bentuk tanggapan. Mungkin itu juga yang dirasakan kedua orang tuanya dibagian bumi lain saat ini. Terlebih ibunya yang tidak punya stok manusia lagi untuk bisa dimarahi. Mengingat sikap ayah Angela yang seperti Es berjalan. Mana mungkin ibunya berani memarahi Ayahnya.

“Jangan diambil hati ya.” Pinta Hyoseop, sambil menatap Angela.

“Tidak apa. Aku juga mengerti perasaan mereka.” Jawab Angela jujur.

“Aku mengajak kau kesini untuk menghibur mereka berdua. Tapi sepertinya malah membuat suasana tidak enak antara kita semua.” Terangnya menjelaskan, Hyoseop menatap Angela dengan rasa bersalah.

“Tidak apa, jangan terlalu di pikirkan”

“Bagaimana kalau kita ke kamar Chanyeol saja. Disini kurang seru”

“Apa?” Angela mengerutkan kening mendengar ucapan Hyoseop.–Yang benar saja! Mereka tamu disini.

Angela lebih tepatnya. Dan pemilik kondominium ini sedang bekerja banting tulang di negeri orang, tanpa tahu ada tamu tidak sopan yang berniat masuk kamar tidurnya. Hyoseop sudah gila mengajaknya seperti itu.

“Ke kamar Park Chanyeol. Kau tidak salah dengar.” Hyoseop tersenyum senang saat mengatakannya.

“Itu tidak sopan. Aku tidak mau.” Tolak Angela dengan nada mendesis. Dia masih punya sopan santun walau Chanyeol itu idolanya. Dia bukan jenis fans gila macam sasaeng kalau Hyoseop berpikir begitu.

“Chanyeol yang menyuruh. Ayo, tidak ada penolakkan!.” Terang Hyoseop keras kepala.

“Ti..” Perkataan Angela terpotong begitu saja karena Hyoseop menariknya paksa.

Melewati ayah Chanyeol dengan tidak sopan. Angela hanya bisa meminta maaf sambil lalu karena Hyoseop tetap menariknya walaupun Angela memaksa melepaskan tangan. Mereka memasuki lorong di samping ruang makan. Dan dihadapkan pada tangga kayu yang terlihat minimalis tetapi mewah.

Bahkan sampai menaiki tangga, Hyoseop tetap menyeretnya paksa walaupun mereka harus memijakkan kaki satu persatu pada tangga kayu kondominium milik Chanyeol. Mereka lebih mirip penguntit dari pada tamu dan sepupu pemilik kondominium. Setelah beberapa puluh anak tangga yang Angela pijak dengan langkah terseok. Akhirnya mereka sampai di ujung tangga kayu kondominium.

Di lantai dua kondominium terdapat empat pintu kayu tinggi yang saling berhadapan. Entah apa yang berada dibaliknya. Hyoseop menariknya lagi memasuki pintu kayu yang berada paling pojok dilantai dua. Angela hanya bisa pasrah sekarang. Dari tadi dia sudah mencoba melepaskan cekalan Hyoseop tetapi hasilnya nihil. Ruangan yang mereka masuki sangat gelap, hanya beberapa siluet cahaya masuk dari lorong diluar pintu. Hanya lantai kayu bagian depan pintu yang dapat retina Angela tangkap. Selebihnya gelap yang menguasai. Hyoseop melepaskan gengaman tangannya. Dan masuk kedalam ruangan. Setelahnya, ruangan gelap itu menjadi terang.

 

 

i19.png

Beberapa saat terang lampu membuat retina matanya menggelap. Belum siap menerima terpaan cahaya menyilaukan tiba-tiba. Mengerjabkan mata beberapa kali. Penglihatan Angela pada akhirnya jelas menangkap suasana ruangan yang mereka masuki. Ruangan ini betul kamar tidur. Apakah kamar tidur Park Chanyeol?, Angela tidak tahu pasti.

Kamar tidur ini sangat terkesan maskulin. Didominasi warna putih dan hitam. Dengan lantai kayu mengkilap dan karpet bulu yang mengalasi tempat tidur king size yang menguasai tengah ruangan. –Terlalu besar untuk dihuni seorang diri.

“Ini kamar Chanyeol.” Terang Hyoseop santai. Seakan tahu keraguan Angela.

Hyoseop dengan santai duduk di kasur kamar sepupunya itu. Mengabaikan fakta bahwa dia masuk tanpa izin terlebih dahulu. Angela hanya berdiri canggung di tengah ruangan. Merasa tidak nyaman, menyadari dia sudah masuk kamar seorang pria dewasa selain kakak kandungnya. Pengalaman pertama kali selama hidupnya. Jantungnya kembali berdegub kencang. Pemikiran negatif kembali menguasai isi kepalanya. Dia sendiri disini. Dengan pria dewasa yang walaupun teman Angela tetapi tetap saja tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

“Kau akan berdiri disitu terus?. Duduklah dikursi di belakang kau, kalau takut duduk di kasur ini” ucap Hyoseop menyeringai.

Perkataan pria itu hanya menambah prasangka negatif dalam kepala Angela. Tapi Angela harus mengembaikan pemikiran positifnya. Terlalu memikirkan hal negatif tidak baik bagi jiwa Angela. Mengikuti saran Hyoseop, Angela menarik kursi kayu dan menempatkannya tidak jauh dari tempat Hyoseop duduk. Tidak sopan bila dia menempatkan diri terlalu jauh.

“Kau pernah pacaran?” Tanya Hyoseop enteng sambil menyalahkan Televisi layar datar di hadapan kasur.

“Tidak.” Jawabnya jujur.

“Pantas.” Hyoseop mengatakannya dengan senyum mengejek.

“Pantas kenapa?” Angela bertanya dengan nada kesal, memangnya salah kalau tidak pernah pacaran.

“Tanganmu dingin saat di lift tadi.” Tuduhnya dengan senyum yang makin mengembang.

“Itu karena aku tidak nyaman dengan teman wanitamu itu.” Elak Angela, tidak sepenuhnya berbohong. Harga dirinya terlalu tinggi bila mengakui.

“Dia bukan temanku.” Jawabnya kesal. Hyoseop mengalihkan pandangannya pada saluran televisi.

“Lalu apa kalau bukan teman? Kalian tampak akrab.” Tuduh Angela tidak mau mengalah. Kalau teman akui saja teman.

“Hanya teman one night stand, Tidak lebih. Jadi bukan teman akrab” Perkataan itu meluncur lancar dari bibir Hyoseop tanpa beban. Bahkan pandangan mata itu datar sambil menyaksikan channel china yang sedang menampilkan Boyband EXO secara live.

Kalau Angela masih waras dan tidak mengalami kegagalan fungsi ingatan. Perkataan lelaki itu mempunyai konotatif yang mengerikan bagi kehidupan baik-baik seperti Angela. Angela menegang ditempat duduknya. Degub jantungnya makin karuan. Pendingin ruangan tiba-tiba menjadi lebih sensitif di kulitnya. Tangannya jadi lebih dingin sekarang. Dia hanya bisa meremas tangan untuk mengurangi rasa takut.

“Itu dulu Angela. Aku tidak lagi seperti itu.” Hyoseop menatapnya tulus. Tidak tahu tatapan itu tulus sungguhan atau tidak.

“Aku tidak punya hak mencampuri urusan kau.” Jawabnya rasional. Mengingat perkataan pria itu di lift tadi.

“Kau berbeda.” Terangnya dengan nada misterius. Tatapan mata Hyoseop menghujatnya dengan tajam. Membuat bulu kuduk Angela meremang.

“Kau temanku, teman dalam arti sebenarnya.” Sekarang wajahnya kembali ramah. Hyoseop memalingkan wajahnya kembali pada Channel televisi.

Angela mengikuti Hyoseop menonton siaran televisi yang menayangkan acara spesial pergantian tahun. Tersenyum geli saat layar televisi menampilkan wajah close up lelaki tampan pemilik kamar ini. Keadaan sekarang tampak sangat lucu bagi Angela. Mereka masuk kamar pria yang sedang tampil di belahan bumi lain. Dan mereka menonton acara yang lelaki itu hadiri tanpa merasa bersalah.

EXO tampil hanya dua lagu. Setelah itu seluruh pengisi acara berkumpul dan menghitung mundur pergantian tahun. Tampak anggota EXO yang berbaur dengan pengisi acara lainnya. Chanyeol terlihat tersenyum ramah pada setiap orang. Sangat berbeda saat bersamanya. Dia menjadi orang lain dihadapan Angela. —atau itu sikap asli Chanyeol?.

Tepat pukul 00.00 acara yang mereka tonton menayangkan pesta kembang api yang memenuhi layar televisi. Seluruh pengisi acara mengucapkan selamat tahun baru kepada penonton. Suho mendapat bagian mengucapkan beberapa kata dengan bahasa korea. Mengucapkan tahun baru kepada penggemar dan harapan kepada grubnya di tahun yang baru. Setelah itu acara selesai, Hyoseop mengganti dengan siaran Breaking News yang menampilkan Park Yoora sebagai pembawa berita.

Malam tahun baru paling membosankan bagi Angela.

“Ela…” Hyoseop menyodorkan Hanphonenya didepan wajah Angela.

“Kena..”

“Chanyeol, kau tidak mengangkat telponnya dari tadi.”

Angela menerima handphone Hyoseop dengan ragu. Dia bahkan tidak menyadari hanphonenya bergetar. Angela sebenarnya masih takut berbicara langsung dengan Chanyeol.

“Halo” hanya hening yang terdengar. Lawan bicara Angela tidak merespon sama sekali.

Selamat tahun baru Angel.” Suara Chanyeol terdengar dalam. Lebih dalam dari terakhir mereka bertemu.

Iya, sama-sama” Tidak tahu pasti yang Angela rasakan sekarang. Senang atau takut.

“Kau di kamarku sekarang?”

“Hah, i..ya..” Angela menyeryitkan kening menjawab pertanyaan Chanyeol. Melirik Hyoseop yang mengabaikan Angela. —Apa Hyoseop yang memberitahu?. Tapi Hyoseop tidak memegang handphone dari tadi.

“Angela, tidurlah di kamarku!” Perintah Chanyeol.

“Tidak bisa, aku harus pulang ke asrama.” Tolak Angela cepat. Lelaki itu memerintah tidak pernah berpikir dengan benar.

“Aku sudah minta izin bibi asrama. Tidur yang nyenyak sayang. Usir Hyoseop setelah aku mematikan telpon. Jangan lupa kunci pintu.”

“Tidak mau. Aku mau pulang ke asrama.”

“Aku tidak terima penolakan!.” Angela terlonjak saat Chanyeol membentaknya. Matanya mengerjab cepat karena kaget mendengar suara Chanyeol yang melingking tinggi.

“Ela, berikan telponnya kepadaku.” Hyoseop yang entah sejak kapan berada di hadapan Angela, menatapnya khawatir.

Dia memberikan telpon Hyoseop dengan tangan bergetar. Masih shock dengan bentakan Chanyeol tadi.

“Halo, ini aku Hyoseop.”

“Iya aku akan keluar dari kamarmu.” Hyoseop berbicara sambil menatap Angela.

“Kau tidak perlu membentaknya.”

“Hmm..iya iya. Dia akan menginap. Baik Park Chanyeol! Aku akan keluar dari kamarmu. Sudah aku tutup telponnya.”

Hyoseop mengakhiri panggilan secara sepihak.

Masih menatap Angela, kali ini lelaki itu tersenyum menenangkan. Sambil mengantongi Handphonenya Hyoseop mensejajarkan tinggi tubuh dengan Angela yang masih duduk.

“Kau tidur disini ya. Chanyeol tidak akan bisa dibantah.” Bujuknya dengan senyum eyesmile andalan Hyoseop.

“Baik. Tapi ini tidak sopan.” Jawab setuju, walaupun Angela masih mencoba menolak.

“Tidak apa. Chanyeol sendiri yang menyuruh. Aku akan tidur di kamar tamu. Kunci pintunya saat aku keluar. Mengerti?.” Hyoseop menekan setiap kata, memastikan Angela mendengar dengan baik dan tidak membantah.

Merasa Angela tidak akan menolak perkataannya lagi. Hyoseop melangkahkan kaki menuju pintu kamar. Membuka pintu untuk keluar dari kamar sepupunya. Angela mengekori Hyoseop dari belakang. Melaksanakan perintah Chanyeol dan sepupunya itu untuk mengunci pintu.

“Ah Angela..” Langkah Hyoseop terhenti saat selangkah lagi dia keluar dari pintu kamar. Hyoseop membalikkan tubuh dan langsung bertatapan dengan Angela.

“Dengar perkataanku dengan baik. Seberapa pun kau iba dan jiwa dalam dirimu tidak bisa menolak semua keinginan Chanyeol.” Perkataannya berhenti sebentar, Hyoseop menatap mata Angela dalam. Menandakan ucapannya sangat serius.

“Tolak dengan keras bila Chanyeol menginginkan seluruh dirimu. Seluruh hidup berhargamu. Ingat perkataanku Angela. Kau bukan wanita itu. Kau bukan Sonyeon.”

Setelah mengucapkan nama wanita itu. Hyoseop menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Angela dengan berbagai pertanyaan membingungkan di kepalanya.

Bisakah Angela menolak?.

~~

Medulla Spinalis : atau spinal cord merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam kanalis vertebralis dan menjulur dari foramen magnum ke bagian atas region lumbalis.

Borjuis: sebagai kelas sosial yang memiliki alat-alat produksi dalam masyarakat kapitalis. Marxisme memandang bahwa kelompok ini muncul dari kelas-kelas orang kaya di perkotaan pada masa pra- (sebelum) dan awal masyarakat kapitalis.

Galleria foret : salah satu apartemen termahal di korea.

 

 

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif – (Chapter 4)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s