[EXOFFI FREELANCE] Little Star – (Chapter 1)

HEY!.jpg

Tittle: LITTLE STAR

Author: PinkyLinn

Length: Chaptered

Genre : Romance

Rating: PG-13

Main Cast:

Park Chanyeol & Jung Eun Ra

Additional Cast:

Do Kyungsoo, Kim Jongin, Han Soo Ri, Lee Dong Jae, Shin Ha Mi, personil EXO lain

Summary:

Bagaimana jadinya jika seorang gadis mengalami banyak hambatan untuk mewujudkan cita-citanya? Bertemu dengan member boyband yang menyebalkan, orangtua yang tidak setuju, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan beberapa masalah lain yang terjadi di dalam hidupnya.

Ikuti terus kisah seorang gadis bernama Eun Ra yang berusaha untuk mewujudkan cita-citanya walaupun banyak rintangan yang ada di depannya!

Disclaimer:

Cerita ini murni dari pemikiran aku dan (sedikit) pengalaman pribadi. Cerita ini juga pernah aku post di akun wattpad aku, silahkan mampir. Ini linknya: http://my.w.tt/UiNb/KbQ0BYucZC

 

“Hai, pendek!” Seseorang baru saja menaruh lengannya di atas bahuku. Karena merasa terganggu dengan lengan dan juga panggilannya, aku menoleh ke belakang dengan terpaksa.

“Yah! Apa-apaan sih kau! Jangan taruh lenganmu di bahuku!” Masih pagi, tapi orang ini sudah membuatku berbicara dengan nada tinggi. Aku langsung menggeser bahuku ke belakang supaya lengannya terjatuh.

Tubuhnya terhentak ke bawah saat aku menggeser bahuku. “Eun Ra-ya! Aku bisa jatuh karena perbuatanmu itu. Dasar kurcaci!” katanya dengan tawa yang terdengar sangat keras di telingaku.

“Soo Ri-ya, aku bukan kurcaci!” Setelah berkata seperti itu, aku baru sadar bahwa aku sedang menaikkan kepalaku tinggi-tinggi hanya untuk melihat wajah sahabatku yang jauh lebih tinggi dibandingkan diriku.

Soo Ri memegang kepalaku yang hanya setinggi dadanya. “Ya ya, terserah kurcaci saja. Yuk kita masuk kelas, sebentar lagi bel.” Kali ini dia memaksaku untuk berjalan dengan tangannya masih memegang kepalaku. Beginilah aku setiap pagi jika bertemu dengan Soo Ri di depan gerbang sekolah.

Hai, perkenalkan namaku Eun Ra. Jung Eun Ra. Aku adalah siswi kelas 3 SMA di salah satu sekolah yang ada di Jeongseon, yang merupakan kota kecil di Korea Selatan. Aku adalah siswi biasa yang setiap hari disibukkan dengan kegiatan sekolah, dan karena aku sudah kelas 3 kegiatanku malah bertambah banyak. Mulai dari belajar biasa di sekolah yang sudah menghabiskan waktu sampai sore, belum lagi disibukkan dengan pikiran mau apa aku nanti setelah lulus sekolah.

Sebenarnya aku sudah mempunyai cita-cita sejak dulu, tetapi ada beberapa hambatan yang menghalangiku untuk mencapai cita-citaku tersebut.

“Ahh!!” Siapa sih yang memukul belakang kepalaku? Aku kan sedang enak-enaknya melamun. Awas saja sampai aku tahu siapa yang memukul kepalaku barusan. Aku langsung menoleh ke belakang dan mencari siapa yang baru saja memukulku. Untung saja sekarang aku sudah duduk di kursi, jadi aku bisa langsung mengetahui siapa yang memukulku. Kalau aku sedang berdiri, pasti susah untuk menemukan pelakunya.

“Lee Dong Jae! Kenapa kau memukul kepalaku? Sakit tahu!” Aku memegang belakang kepalaku yang terasa berdenyut. Dan aku dapat melihat laki-laki yang ada di hadapanku hanya tertawa melihatku.

“Kenapa kau tertawa hah? Kau pikir ini lucu?” Kenapa sih dengan orang-orang ini, mereka selalu saja tertawa jika melihatku sedang marah atau berbicara dengan nada tinggi. Memang aku ini badut?

“Karena kau memang lucu Eun Ra-ya.” Apa-apaan Dong Jae ini? Kenapa pipiku jadi merah seperti ini. Aku cepat-cepat membalikkan tubuh supaya Dong Jae tidak dapat melihat perubahan warna pada kedua pipiku. Aku yakin pasti pipiku sekarang sudah semerah tomat. Aku memegang kedua pipiku yang panas.

Kring…. Kring….

Akhirnya bel masuk berbunyi juga, dan untungnya Dong Jae tidak melihat pipiku yang merah tadi. Karena dia sudah cepat-cepat duduk di bangkunya yang berada dua meja di belakangku. Aku berada di barisan keempat paling pojok kiri. Aku sangat suka dengan tempat dudukku yang sekarang, karena dekat dengan jendela dan aku dapat melihat pemandangan yang ada di luar jendela.

Ah, aku harus fokus sekarang karena pelajaran pertama adalah pelajaran kimia yang sampai sekarang sangat tidak aku mengerti. Bagaimana bisa mengerti kalau kita harus belajar tentang senyawa-senyawa yang banyak sekali itu? Kwangsoo-saem masuk ke kelasku dengan membawa beberapa buku tebal yang aku yakin tidak akan pernah aku baca seumur hidupku. Dia adalah guru yang sangat membosankan, saat mengajar dia hanya berbicara dengan papan. Aku sangat tidak mengerti pelajaran kimia, ditambah lagi dengan guru yang mengajar adalah Kwangsoo-saem. Habis sudah aku di mata pelajaran ini.

“Eun Ra,” mendengar namaku di panggil, aku langsung menegakkan badan. Ternyata Kwangsoo-saem memanggilku. “Kamu tolong ambilkan beberapa buku yang ada di meja saya ya. Itu buku-buku tugas anak-anak kelas ini. Saya lupa membawanya tadi.” Yaampun kenapa Kwangsoo-saem sangat menyusahkan sih? Dan kenapa harus aku yang disuruh?

“Baik, saem.” Walaupun dengan hati berat dan terpaksa, tapi aku berdiri juga dan melangkahkan kakiku ke ruangan Kwangsoo-saem. Ruang guru sangat sepi karena guru-guru pasti sedang mengajar. Aku berjalan ke arah meja Kwangsoo-saem dan terlihat buku-buku yang menggunung di mejanya. Bagaimana caranya aku membawa buku sebanyak ini?

Akhirnya aku mengambil buku yang menggunung itu dan buku-buku itu sudah menutupi wajahku. Aku kesulitan untuk melihat jalan ke depan. Untungnya kelasku tidak terlalu jauh dengan ruang guru, sehingga aku tidak terlalu susah untuk membawa buku-buku yang menutupi wajahku itu. Saat aku masuk ke dalam kelasku, suasana menjadi ribut. Aku dapat mendengar suara tawa dari teman-teman sekelasku. Mereka pasti menertawakan diriku saat ini.

“Anak-anak, semuanya diam!! Kalian sedang menertawakan apa?” Kwangsoo-saem terdengar marah karena tiba-tiba suasana kelas menjadi ribut saat aku datang. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kwangsoo-saem. Aku terus berjalan ke mejanya dan menaruh buku-buku itu.

Tawa dari teman-temanku semakin besar, aku bingung dengan apa yang ditertawakan oleh mereka. Padahal aku sudah menaruh buku-buku yang menutupi wajahku itu ke meja, tapi kenapa mereka masih saja tertawa. Tawa mereka malah lebih keras sekarang. Kwangsoo-saem menghampiriku untuk mengucapkan terimakasih padaku dan menyuruhku untuk duduk kembali.

“Soo Ri-ya, kenapa kalian tertawa sih?” Aku berbisik pada Soo Ri yang duduk di bangku sebelahku.

Dia mendekatkan wajahnya padaku untuk menjawabku sambil berbisik juga. “Kau tidak tahu kenapa? Itu gara-gara kau Eun Ra.”

“Iya aku tahu kalian menertawakanku karena buku-buku yang aku bawa menutupi wajahku kan?” kataku sambil memasang muka cemberut.

“Nah itu kau tahu.”

“Setelah aku menaruh buku-buku itu kalian masih tertawa kan? Apa yang lucu sih?”

Aku dapat melihat Soo Ri hendak tertawa lagi saat aku menyelesaikan kalimatku. “Tadi saat kau berada di dekat meja Kwangsoo-saem, kau tidak sadar kalau kalian terlihat seperti jerapah dan semut?” Oke, Soo Ri sangat lebay dengan perumpaannya itu.

“Hah, jerapah dan semut? Kau sangat berlebihan.” Setelah mendapat jawaban kenapa mereka tertawa aku mengalihkan pandanganku lagi ke depan. Kwangsoo-saem memang sangat tinggi sekali. Aku pernah mendengar kalau tingginya adalah 190 cm. Sementara aku, sepertinya terakhir aku mengukur tinggi 150 cm. Ya, aku memang sangat pendek. Bisa dibilang aku adalah siswa terpendek di sekolah ini. Tapi lalu kenapa? Ada yang salah dengan tinggi badanku?

Aku merasakan lenganku di senggol-senggol oleh Soo Ri. “Sstt Eun Ra-ya, nanti kau sibuk tidak?”

Aku berpikir sebentar sebelum menjawab. “Tidak sibuk, memang kenapa?”

“Bagus kalau begitu, nanti temani aku ya. Aku mau datang ke fanmeeting boyband yang sangat aku suka!” katanya dengan nada antusias. Ini memang sudah kebiasaan kami, saat pelajaran Kwangsoo-saem kami tidak pernah mendengar penjelasannya. Percuma saja, aku tidak akan mengerti. Aku yakin Soo Ri juga tidak akan mengerti, karena aku tahu kemampuanku dan Soo Ri tidak beda jauh dalam hal pelajaran kimia.

Boyband yang kau suka?” Aku mengetuk-ngetuk telunjukku ke dagu untuk berpikir. Sesaat aku lupa boyband yang disukai oleh Soo Ri. “Oh, EXO? Mereka akan datang kesini?” Akhirnya aku ingat juga.

“Yap! Kau harus temani aku ya! Aku mau bertemu oppa-ku” Beginilah Soo Ri, dia akan selalu terlihat sangat antusias saat membicarakan oppa-nya itu.

“Hmm… Bagaimana ya?” Aku pura-pura berpikir sebelum mengiyakan ajakannya.

Please please, nanti aku traktir makan di kantin deh.” Kedua tangannya digosok-gosokkan di depan wajahnya dengan wajah memelas.

“Iya iya, aku akan menemanimu.” Soo Ri hampir saja berteriak. Untung dia masih dapat menahan teriakan yang hampir saja keluar dari mulutnya.

“Kenapa Dong Jae tidak ikut?” Aku bertanya pada Soo Ri saat melihat Dong Jae melambai pada kami.

“Dong Jae mana mau menemani kita bertemu dengan oppa-oppa yang gantengnya melebihi dirinya,” jawab Soo Ri sambil tertawa.

Aku tidak banyak bertanya lagi dan berjalan keluar gerbang sekolah dengan Soo Ri. Kadang aku merasa terintimidasi saat berada di sebelahnya, karena dia tinggi dan tinggiku hanya sebatas bahunya. Badannya juga menurutku sangat ideal, tidak terlalu kurus tetapi juga tidak terlalu gemuk. Wajahnya juga cantik, matanya besar dan kulitnya juga putih mengkilap. Bagaimana aku tidak terintimidasi berada di dekatnya? Walaupun Soo Ri sering meledek tinggi badanku, tapi dia adalah orang yang selalu ada saat aku ada masalah. Jadi aku tetap merasa tenang berada di dekatnya.

“Eun Ra-ya, lihat. Aku membuat sesuatu untuk ku berikan pada oppa nanti.” Soo Ri mengeluarkan sebuah kotak yang agak panjang dari tasnya. Kotak itu berwarna putih dan terdapat pita merah di atasnya.

“Wah, kau membuat apa?” tanyaku penasaran saat melihat kotak yang baru saja dikeluarkan oleh Soo Ri.

Sebagai jawaban, Soo Ri membuka kotak tersebut dan aku dapat melihat sebuah syal berwarna merah. Satu lagi fakta tentang Soo Ri selain badannya yang ideal dan wajahnya yang cantik adalah dia sangat menyukai fashion. Dia bisa membuat berbagai macam aksesoris sendiri, seperti anting, bando atau apapun itu. Bahkan dia pernah membuat baju ulangtahunnya sendiri. Sahabatku sangat hebat bukan?

Daebak, Soo Ri-ya! Bagaimana kau bisa membuat syal sebagus ini?” Aku terkagum-kagum sambil mengambil syal itu dan meraba-rabanya. Syalnya sangat halus dan warna merahnya sangat cocok sekali. Tapi Soo Ri langsung mengambil syal itu dari tanganku.

“Yah jangan pegang syal ini. Ini syal khusus untuk oppaku, masa kau duluan yang memegang syal ini,” katanya sambil menaruh syal itu kembali ke kotaknya. Aku cemberut mendengar perkataan Soo Ri. Sepertinya dia lebih sayang pada oppanya dibandingkan denganku.

Tempat fanmeeting nya adalah salah satu hotel terbesar dan terbagus yang ada di Jeongseon. Dari sekolah sampai ke hotel itu membutuhkan waktu sekitar 10 menit, dan kami memilih menggunakan bus untuk sampai ke hotel itu.

Kurang lebih 10 menit kemudian, kami sampai di hotel tersebut. Dari luar saja aku sudah dapat melihat antrian dari wanita-wanita penggemar boyband tersebut. Aku tidak terlalu mengenal boyband itu, karena aku lebih menyukai girlband dan penyanyi solo. Tapi demi Soo Ri, aku rela naik bus kesini dan harus antri seperti ini padahal aku tidak punya kepentingan disini.

Tiba-tiba perutku terasa sangat sakit, pasti ini gara-gara makan tteokbokki traktiran Soo Ri tadi di kantin. Sekarang perut aku terasa sangat sakit dan aku harus mencari toilet secepatnya. Setelah mengatakan situasi gawat ini pada Soo Ri, aku berlari untuk mencari toilet. Tapi susah sekali berlari diantara orang-orang yang sangat banyak ini. Aku berjalan cepat agak jauh dari tempat Soo Ri dan sudah tidak terlalu banyak orang lagi di tempat ini. Seperti ada pencerahan, aku melihat sebuah pintu ruangan terbuka dan tanpa pikir panjang aku masuk ke dalam ruangan tersebut.

Aku celingak-celinguk untuk mencari toilet yang ada di ruangan ini. Aku dapat melihat beberapa orang berada di ruangan ini, tapi mereka telihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan tidak menyadari kehadiranku di ruangan ini. Di ruangan tersebut, terdapat beberapa ruangan lagi. Di pintu setiap ruangan itu terdapat tulisan yang aku kira adalah nama orang. Tapi aku tidak tahu nama siapakah itu.

Di salah satu ruangan dengan pintu terbuka aku masuk ke dalamnya dan ternyata terdapat toilet di dalam ruangan itu. Aku langsung berlari ke arah toilet sambil memegang perutku yang terasa melilit.

BRUK!!

Aku terjatuh setelah tertabrak tiang. Tunggu, ternyata bukan tiang. Yang aku tabrak barusan adalah orang, laki-laki lebih tepatnya. Aku masih mengaduh di lantai sambil memegangi perutku. Poseku sangat tidak bagus sekali sekarang.

“Yah! Kenapa ada orang masuk ke dalam ruangan ini?” kata laki-laki yang barusan aku tabrak. Fyi, aku masih dalam posisi seperti tadi. Terduduk di lantai dengan memegangi perutku yang masih melilit. “Seunghwan hyung, kenapa bisa ada yang masuk kesini?” Laki-laki ini berisik sekali.

Aku berdiri dengan susah payah, laki-laki macam apa dia tidak membantu wanita yang terjatuh. Walaupun itu salahku, tapi kan tetap saja dia seharusnya membantuku untuk berdiri. Seketika itu juga aku melupakan rasa sakit di perutku yang digantikan dengan rasa kesalku pada laki-laki ini. Laki-laki ini sangat tinggi sekali, pantas tadi aku seperti menabrak tiang. Mungkin tingginya hampir sama dengan Kwangsoo-saem. Kenapa laki-laki ini rapi sekali?

“Chanyeol,” aku menoleh karena ada seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan. “Maaf, tadi ada kesalahan komunikasi.” Siapa lagi orang ini? Orang ini baru saja memanggil laki-laki di hadapanku dengan nama Chanyeol, sepertinya aku pernah mendengar nama itu.

Sepertinya aku tahu siapa laki-laki yang ada di hadapanku. Ini gawat….

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s