[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re : Turn On] (Chapter 15)

IMG_20170305_172231

 

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 15

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

 

~Happy Reading~

 

 

*Author POV*

 

Setelah pelukan yang menghasilkan kecanggungan, Chanyeol dan Hyojin memutuskan untuk menenangkan diri sambil duduk didepan minimarket. Termenung dan berusaha meluruskan pikiran, setidaknya mengalihkan bayangan atas kelakuan -yang mereka anggap- bodoh dan memalukan tadi.

“Ugh… dinginnya.” Keluh Hyojin sambil mengusap kedua lengannya yang terbuka, menghentak-hentakan telapak kakinya agar udara dingin malam ini tak terlalu terasa pada lapisan kulitnya -meskipun Chanyeol yakin bahwa yang sedang gadis itu lakukan sekarang tidak akan berpengaruh.

Maka dari itu, Chanyeol berinisiatif melepaskan jaketnya untuk disampirkan pada tubuh Hyojin, atau setidaknya mempersilahkan gadis tersebut mengenakannya agar orang-orang berhenti menatapnya, seolah dirinya adalah pria kejam yang membiarkan gadis bergaun putih tanpa alas kaki disampingnya kedinginan. Tapi sebelum Chanyeol dapat melaksanakan niat baiknya, Hyojin sudah berdiri seraya mengulurkan tangannya.

Chanyeol bingung, beberapa detik terdiam sambil melihat wajah Hyojin, tangannya yang terulur, lalu wajahnya lagi. Sampai akhirnya dia menyambut uluran tangan itu, ikut berdiri sambil menyalaminya, dan giliran Hyojin yang menunjukkan ekspresi bingungnya.

“Sedang apa kau?” heran gadis itu.

Chanyeol menjawab, “Bersalaman.” Dengan polosnya, masih tak melepaskan tautan tangan mereka.

“Apa aku memintanya?” Hyojin mulai kesal.

“Lalu apa maksudnya ini?” Chanyeol mengangkat tangan Hyojin.

Hyojin menghembuskan napas, menganggap Chanyeol begitu bebal sampai tidak mengerti bahasa tubuhnya.

“Kau punya uang?”

Chanyeol mengeluarkan dompetnya juga merogoh setiap saku dipakaiannya apakah ada uang yang terselip, lalu Hyojin menerimanya sambil tersenyum puas, menghitung lembar demi lembar dengan antusias. Kini, orang-orang mulai menatap gadis itu penuh curiga.

“Mau kau apakan?, kau tidak… sedang merampokku kan?”

Gadis itu berdecak sebelum mengatakan “Tidak!” bernada kesal, “Aku hanya akan meminjamnya kok!” jelasnya lebih lanjut, mengembalikan dompet Chanyeol setelah mengambil satu lembar lima puluh ribu won dan tiga lembar seribuan.

“Memangnya kau tidak punya uang sama sekali?” tanya Chanyeol tanpa bermaksud meledek, namun diartikan sebagai sindiran oleh Hyojin.

“Tidak, ponsel, dompet beserta uangnya, bahkan bajuku tertinggal dirumah-”

Hyojin tak melanjutkan kata-katanya, entah mengapa dia berpikir bukan saat yang tepat membicarakan Lee Dae Ryeong bersama Chanyeol yang mengatakan padanya betapa pria itu beserta keluarganya membenci sang kakek, apalagi Hyojin tidak ingin Chanyeol tahu soal perjodohannya dengan Myungsoo. Walau sebenarnya ia bertanya-tanya mengapa Chanyeol tak terlihat penasaran tentang alasan Hyojin memakai gaun pesta mewah namun tidak bersepatu kaca.

Mungkin karena aku bukan Cinderella, guraunya dalam hati.

“…dirumah?” Chanyeol mengulangi, sedikit bisa menebak namun tetap berharap Hyojin mau memberitahukannya. Karena seperti apa yang telah dia katakan sebelumnya, bahwa gadis itu tak perlu menutupi apapun dari Chanyeol, tidak perlu bertindak sok kuat sendirian sebab Chanyeol akan membantunya menghadapi masalah… sebagai seorang sahabat.

“Yah… dirumah. Aku meninggalkannya dirumah, yah, begitu…”

Tapi Hyojin mengelak, dia masih merasa bisa menanggung segalanya sendirian. Toh, dari awal ini memang masalahnya dan ia tak mau membuat orang lain terseret lagi. Tidak, sudah cukup.

“Haaah…” Chanyeol mendengus kecewa, dan Hyojin masih memalingkan muka, berpura-pura fokus menghitung uang yang jumlah fisiknya tak banyak tersebut. “Jadi, mau kau apakan uang itu?” tanya Chanyeol.

“Eung… membeli sepatu?, ah tidak, sandal saja lebih murah, lalu… biaya bis karena naik taksi menghabiskan lebih banyak uang.” Jawabnya setelah berpikir panjang.

“Kalau kau berniat seirit itu, kenapa pinjam begitu banyak?”

“Benar juga, jangan khawatir, nanti aku kembalikan sisanya kok, ditambah bonus pula!”

Chanyeol melirik toko pakaian yang berada diseberang jalan, kemudian kembali pada gaun Hyojin yang cantik namun terlalu terbuka, apalagi si gadis konyol semacam Hyojin yang memakainya, mengingatkan Chanyeol pada masa lalu ketika dia dan gadis itu dijodohkan.

“Kau tak berniat ganti baju?”

Hyojin mendelik, hal yang paling tidak Chanyeol sukai dari Hyojin, lantas menyilangkan tangan didepan dada. “Ganti dengan apa?, aku kan tadi bilang kalau bajuku tertinggal dirumah, kau ingin aku telanjang apa?!”

“Yak!” pria itu membekap mulut Hyojin dengan cepat, takut orang-orang disekitarnya kembali salah paham lalu mulai menghajarnya karena dikira si mesum gila. “Bukan itu maksudku!, kau kan bisa membeli baju baru dengan uang yang tersisa?!”

Hyojin mengangguk-anggukan kepalanya paham, lantas menggerakan kepalanya cepat begitu mulai kesulitan bernapas karena bekapan tangan Chanyeol. Ia berdecak, “Kurasa akan lebih hemat kalau kau meminjamkan bajumu.” Ucapnya sambil tersenyum ringan, menaik-turunkan alisnya seperti paman genit yang menggoda gadis muda.

“Ti~dak!” tegas Chanyeol, “Aku sudah meminjamkan begitu banyak uang padamu, dan kau ingin aku melepas apa yang kupakai untuk dirimu?” dia menggeleng tiga kali, “Tidak, tidak.”

“Wah! Pria ini!. Hei, tidak bisa ya bersikap baik pada wanita?”

“Siapa? Dimana? Kau?”

“Eoh! Memangnya selama ini kau anggap aku apa? Pria?!”

“Hyojin.”

Salah satu alis gadis itu terangkat, “Hah?” ia tak mengerti maksud pria tinggi didepannya tersebut.

“Aku memganggapmu sebagai Lee Hyojin.”

Hening beberapa saat, keduanya saling menatap lalu berbalik dengan canggung. Pipi Hyojin memerah tanpa sebab, padahal ia tak merasa apa yang Chanyeol katakan barusan adalah ucapan manis atau rayuan konyol, namun entah kenapa jantungnya berdegub dua kali lebih cepat apabila mengingat bagaimana ekspresi pria itu barusan. Chanyeol sendiri bingung kenapa ia bisa merasa malu atas kata-katanya sendiri.

“Ja-jadi apa rencanamu sekarang?” tanya Chanyeol tanpa memandang lawan bicaranya.

Hyojin pun melakukan hal serupa, “Eung… beli makanan?”

***

“Mau sampai kapan kita menunggu?, aku benar-benar lapar.” Keluh Jong In, memegangi perutnya yang keroncongan. “Bukannya aku tidak memikirkan Hyojin kita, tapi aku tidak yakin dia masih ada dirumah itu.” Lanjutnya, menggunakan kepalanya untuk menunjuk istana mewah tuan Lee.

Sehun memikirkan hal yang sama, walau masih khawatir karena Hyojin masih tak menjawab panggilannya serta membalas pesan singkat yang terus-terusan dia kirimkan.

“Sepertinya memang begitu. Hyojin lebih pandai dari kita dalam urusan melarikan diri.”

“Setuju!” timpal Jong In.

“Jadi sebaiknya kita kembali dan memastikannya lagi besok.” Sehun mengencangkan sabuk pengamannya, juga menyalakan mesin lantas pergi dari area rumah kakek Hyojin.

“Kenapa? Biasanya kau tak akan menyerah begitu saja.” Heran Jong In yang mulai menggeledah mobil Sehun untuk mendapatkan makanan ringan atau apapun yang bisa dia makan.

“Sebenarnya aku punya sedikit urusan.”

Jong In menebak-nebak urusan apa yang sahabatnya maksud, tapi tak satupun bisa dia pikirkan ketika lapar menyerang. Karena itu, dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut, fokus memakan snack peninggalan Hyojin minggu lalu ketika mereka terburu-buru mengikuti kelas dadakan dari dosen Im padahal baru saja kembali dari minimarket untuk belanja bulanan.

“Semoga Hyojin baik-baik saja.”

“Yah, semoga.” Sahut Sehun dengan wajah datarnya.

***

Keramaian yang biasanya tak gadis itu sukai malah menjadi hiburan baru bagi Hyojin. Ia menarik Chanyeol kedalam kerumunan orang-orang yang menikmati serunya pasar malam yang pertama kali didatanginya, mengingat betapa benci gadis itu apabila bergumul dengan orang asing, terlebih dalam jumlah yang banyak.

Stand pertama yang didatanginya bersama Chanyeol adalah penjual sepatu murah. Chanyeol awalnya menolak, menyarankan Hyojin pergi ke toko sepatu dan membeli barang berkualitas.

“Yak!” seru Hyojin seraya menahan langkah Chanyeol, “Tak peduli dimana tempat jualannya, mahal atau tidaknya, kalau kau pintar memilih maka tak jadi masalah!”

Aigooo anda benar sekali nona!. Meskipun dijual murah, sepatu kami tak kalah kualitasnya dengan yanh dijual di toko besar!” sang penjual memuji Hyojin, “Kalau begitu, jika membeli dua pasang akan saya beri potongan setengah harga!”

Senyum Hyojin melebar, berterima kasih pada si penjual dan mulai memilih sepatu yang ia inginkan. Mau tak mau Chanyeol ikut berjongkok, mengawasi Hyojin, takutnya gadis itu tertipu oleh sang penjual sepatu.

“Kau bilang baru pertama kali kemari.”

Hyojin mengangguk, “Lalu?”

“Kenapa kau bisa begitu HEBAT dalam berbelanja.” Sarkas Chanyeol kemudian.

Sambil mengangkat sepasang sepatu Hyojin menjawab, “Seorang gadis tinggal sendiri selama beberapa tahun tanpa orangtuanya, menurutmu, bagaimana aku bertahan hidup bila melakukan hal ini saja tak bisa?” meski tersenyum, Chanyeol tahu itu senyum yang dipaksakan, dan dia semakin tak mengerti mengapa Hyojin masih belum mau menceritakan segalanya pada Chanyeol.

“Apa ini?” tanya pria itu saat Hyojin meletakkan sepasang sepatu berwarna biru tua dipangkuan Chanyeol.

“Sepatu.”

“Aku juga tahu!”

“Lalu kenapa bertanya?!” kesal Hyojin sambil berdiri. Membuat Chanyeol sadar kalau gadis itu memakai sepatu yang serupa dengan yang dia berikan pada Chanyeol.

“Jangan-jangan…”

“Hadiah!” seru Hyojin. “Maaf, selama di Thailand aku tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun padamu atau mengirimkan hadiah. Sebagai gantinya, mari kita bersenang-senang disini! Urryeaaah~!”

“Kenapa?”

“Apanya yang kenapa? Salah ya memberi teman sebuah kado?”

Chanyeol menunduk, menatap sepasang sepatu yang sebelumnya ia anggap remeh itu. Tak lama pria itu mendongak, membalas senyuman Hyojin yang dipandang aneh oleh orang-orang karena gaun yang dipakai tidak pada tempatnya. Gadis yang pastinya punya masalah lebih besar darinya sedang berbaik hati pada Chanyeol.

Menggunakan uang Chanyeol sendiri tentu saja.

“Lucu, hadiah yang dibeli dengan uangku.” Senyum itu luntur, berubah menjadi poker face yang dibuat-buat.

“Yak! Aku hanya meminjam!. Toh nanti aku kembalikan!”

“Ya, ya, ya, terserah.” Chanyeol berjalan mendahului Hyojin. Gadis itu mengekor dibelakang sambil menyamakan langkah pria yang jauh lebih tinggi darinya tersebut.

“Wah, apa-apaan sikapmu itu?. Aku merasa diperlakukan seperti pengemis.”

“Oh ya?”

“Pria ini benar-benar!”

Chanyeol berhenti mendadak, membuat Hyojin yang tak sigap menabrak punggung lebar Chanyeol. Hyojin mengusap hidungnya yang sakit sementara Chanyeol berbalik, menatap Hyojin dengan mata berbinar.

“Apa?!” tanya Hyojin tak sabaran.

“Disana ada kedai yang menjual sup rumput laut, jadi…” pria itu menarik napas, “Traktir! Traktir! Traktir!”

“Kau bukannya punya uang ya?”

Chanyeol buru-buru menggelengkan kepalanya sambil memasang muka imut. “Pokoknya traktir!” dan langsung berlari menuju kedai yang dia maksud.

Hyojin berdecak seraya bersedekap,  “Dasar pria kekanakan!” ejeknya. Menatap tubuh Chanyeol yang menjauh darinya kemudian berbalik setelah membaca menu didepan pintu kedai.

“Hyojin-ah! DAGING SAPI DISKON SETENGAH HARGA!”

Gadis itu mendelik, “APA?!. TUNGGU AKU!” teriak Hyojin seraya menyusul Chanyeol dengan kecepatan kilat.

***

“Yak leader! Jalannya jangan cepat-cepat!” gerutu seorang gadis berkacamata dibelakang Mira yang mulai kelelahan menyamakan kecepatan wanita yang lebih tua dua tahun darinya tersebut.

Sementara itu Mira bergegas meninggalkan Lee Young, si gadis berkacamata, agar terpisah sejenak darinya karena Mira harus menyerahkan informasi lanjutan yang diminta Sehun secara diam-diam tanpa diketahui orang terdekat mereka terutama Lee Young yang amat sensitif dan merupakan penggemar sejati pria tampan tersebut.

Walau janjian bertemu di pasar malam Dongdaemun di akhir pekan agak berbahaya untuk Mira dan Sehun sendiri.

“Eoh? Dimana gadis itu?” ujar Lee Young yang kehilangan jejak Mira. Ia merogoh ponsel disaku jaketnya, berniat menelpon gadis itu untuk bertanya dimana keberadaannya. Tapi karena kurang awas, Lee Young harus rela ditabrak seorang pria sampai ponselnya terjatuh.

“Aish!” keluhnya. Lalu terdiam begitu menatap wajah pria yang menabraknya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Myungsoo dengan wajah khawatir. Yang mampu meluluhkan hati wanita manapun.

“Jiyeon eonni?”

Tapi sepertinya Myungsoo salah sangka, mengira gadis manis didepannya luluh akan paras indahnya. Ternyata yang membuatnya terdiam adalah Jiyeon yang sedang berjalan-jalan bersamanya.

“Young Nae-ah.” Dan rupanya Jiyeon pun mengenali gadis itu. Mereka saling berpelukan dan bertanya kabar masing-masing.

“Maaf untuk masalah ponselnya.” Myungsoo menginterupsi obrolan dua sahabat yang dulunya tetangga itu.

“Ya, tak masalah.” Jawab Lee Young dingin, “Selama kau membayar ganti rugi apabila ada kerusakan.” Timpalnya masih jengkel.

“Oh, tentu saja.” Myungsoo menyerahkan kartu namanya. Tapi Lee Young tak menerima bahkan melirik pun tidak.

“Jiyeon eonni mengenal pria ini kan?. Aku minta nomor eonni saja, bisa kan?”

Myungsoo tertohok tapi tak menunjukkan rasa malunya. Ia tak menyangka akan tak diacuhkan seperti ini oleh gadis manis yang baru ia ketahui sebagai kenalan Jiyeon.

“Menyebalkan.” Bisiknya pada Jiyeon.

Jiyeon balas berbisik, “Tapi menyenangkan untuk ditipu.” Ia tersenyum samar.

“Ah iya! Aku harus mencari Mira!” serunya. Baru ingat setelah menyimpan nomor Jiyeon. Gadis itu pun berpamitan pada Jiyeon serta mengingatkan pada Myungsoo untuk tidak mengelak saat ponsel Lee Young benar-benar butuh biaya perbaikan.

“Haah, apa dia pikir dengan bersikap begitu aku akan tertarik padanya?” ujar Myungsoo setengah menahan tawanya.

Jiyeon mengibaskan rambut, “Tidak,  dia begitu karena sikap waspadanya. Yang aku tahu, dia sangat menyukai seorang pria yang dikenalnya dari klub tari. Dia tak mau kau mengacaukan bias list-nya mungkin.” Lalu beranjak pergi.

Myungsoo menahannya untuk menunjukkan pada Jiyeon keberadaan dua orang yang mungkin bisa menghibur mereka yang tengah bosan itu.

***

Sehun mengetik ‘eomuk‘ untuk membalas pesan dari Jong In yang bertanya tentang apa yang ingin dia makan. Baru lima detik dia mengirim pesan tersebut, Mira mengejutkannya dengan menepuk bahu Sehun keras.

“Yak!”

“Hehehe maaf, maaf.” Mira terkekeh seraya menyerahkan amplop coklat berisi informasi lanjutan tentang Park Yoora.

“Kali ini apa?” tanya Sehun.

“Tak banyak, hanya tentang mantan pacarnya, kehidupan SMA-nya. Oh iya, sepertinya wanita itu mulai sadar aku mencari tahu tentangnya. Akhir-akhir ini sulit dapat info terbaru dan seperti ada yang mengikutiku.”

Tiba-tiba Sehun merasa bersalah atas permintaannya pada Mira. “Kau bisa mengatasinya?”

Mira mengangguk, “Tak masalah. Aku bisa bereskan mereka tanpa berkeringat.” Ujarnya sedikit menyombong.

By the way, aku melihat teman sejatimu sedang berkencan di kedai sebelah sana.” Celetuk Mira sambil bermain ponsel.

“Siapa?, Oh, Jong In? Bukannya dia sedang membeli eomuk ya?”

“Bukan manusia gelap itu!” seru Mira tanpa diketahui target yang diejeknya. “Bukan Jong In sialan itu, tapi Hyojin eonni. Jadi pria tinggi itu pacarnya? Hebat, seleranya bagua juga.”

Sehun berlari mencari kedai yang dimaksud Mira, bergegas menemukan Hyojin bahkan lupa mengabari Jong In kalau Hyojin berhasil kabur dari tuan Lee atau sekedar pamit pada Mira yang kini bergeming ditempat pertemuan mereka penuh rasa terkejut.

“Ada apa dengan Sehun?”

Mira menahan umpatannya pada Jong In yang tiba-tiba muncul sambil membawa eomuk.

Mira mengambil satu sambil berkata,  “Aku bilang Hyojin eonni dikedai sana dia langsung -YAK!”

Dan terjadi lagi. Jong In berlari menyusul Sehun bahkan membuat kuah kaldu tumpah di baju Mira.

“Ada apa dengan mereka?!” kesalnya tanpa mengetahui betapa khawatirnya dua sekawan itu pada sahabatnya, Hyojin.

~To Be Continue~

Mohon maaf apabila banyak typo bertebaran dan maaf kali ini lebih pendek dari chapter lainnya. Author ngebut ngetiknya di HP karena sibuk diluar kota menemui nenek didesa T.T malah ga sempet bikin lanjutan FF Way Out (Road Of Death)nya

Btw minggu depan lanjutannya kencan chanjin ditunggu ya~

 

RCL juseyooo~~~

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re : Turn On] (Chapter 15)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s