[EXOOFIF FREELANCE] Be With You (Chapter 2)

20170425_131439.jpg

Be With You (Chapter 2)

Author: Sháo Xī

Length: Chaptered

Genre: Age manipulation, love, school life, drama

Rating: PG-15

Main Cast: Oh Sehun [EXO], Seo Nari [OC], Zhang Yixing [EXO]

Additional Cast: Byun Baekhyun [EXO], Im Yoona [SNSD]

Summary:

Rasanya sungguh menyakitkan saat ia tak ada bersamaku. Apa aku terlalu berlebihan kalau aku mengatakan aku membutuhkannya dan berharap ia tak pergi? Apakah terlihat aneh kalau kukatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menjalani hidup?

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis. Genre bisa berubah seiring berjalannya waktu. Penambahan tokoh bisa berubah di setiap chapter. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar demi membangun karya yang lebih baik di kemudian hari.

☺☺ Happy Reading! ☺☺

.

.

.

Ini pertama kali aku melihatnya. Gadis itu seperti sinar matahari.

.

.

.

“Nah, sudah sampai.”

Nari menatap gedung berjulang di depannya—yang sudah sering ia lihat. Manik coklatnya ia alihkan dan menatap seorang pemuda di kursi pengemudi. Oh Sehun balas menatap Nari dengan satu alis terangkat, membuat wajahnya lebih mempesona dari biasa.

“Ada apa? Kenapa menatapku?” tanya Sehun sambil mengerutkan keningnya melihat Nari dengan tatapan ini-semua-salahmu.

Nari menghela nafas. “Oh Sehun, kau tahu siapa dirimu?”

Sehun tersenyum, memamerkan giginya yang tersusun rapi. Jarinya menyusuri rambut, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Nari. “Orang tertampan yang pernah kau temui.”

“Kau itu artis,” kata Nari, seolah-olah ia memberitahu Sehun kalau daun warnanya hijau. “Karena kau artis dan dengan wajah yang ehm… lumayan, kau pasti punya banyak fans. Apalagi murid di sekolahku. Jadi, biarkan pacarmu yang cantik ini berangkat sekolah sendiri tanpa perlu berangkat pagi buta demi tidak membuat keributan. Kau mengerti?”

“Jadi intinya… kau tak suka aku mengantarmu?” tanya Sehun.

“Bukan begitu, hanya saja… kau tahu kan, murid perempuan di sekolahku ini sedikit…” Nari mengedikkan bahunya. “Anarkis.”

“Kalau anarkis memangnya kenapa? Apa kau perlu kukawal hingga ke kelas?”

Nari menatap Sehun kosong. Dasar laki-laki ini. Apa ia tidak tahu, kalau Nari sungguh kewalahan saat semua murid perempuan mengerubunginya dan bertanya ini itu tentang Sehun? Apalagi saat valentine atau saat ulang tahun Sehun. Nari merasa dirinya akan langsung berperan sebagai budak yang membawa coklat dan hadiah untuk Sehun.

“Sudahlah, lupakan saja kata-kataku tadi. Aku memang suka bicara aneh.”

“Tapi aku tetap suka,” kata Sehun sambil tersenyum dan mengelus kepala Nari.

Nari merasa pipinya panas. Ia berdeham, menghilangkan gugupnya. “Aku pergi dulu…”

“Kau tak mau memelukku?” tanya Sehun sambil merentangkan tangannya.

Nari menggelengkan kepalanya sedikit sambil tersenyum. Ia menyambut Sehun dan membiarkan laki-laki itu menenggelamkan dirinya dalam pelukan.

Sehun mengelus rambut Nari sambil sesekali menepuk pelan punggungnya. “Kalau kau sedang kesulitan, kau bisa memberitahuku. Kalau tidak, apa gunanya aku di sampingmu?”

“Tumpangan gratis.”

Sehun melepas pelukannya, menatap Nari dengan mata tajamnya. “Kau bilang apa? Tumpangan?”

Nari tertawa. Ia menepuk-nepuk pipi Sehun. “Bercanda. Kau tenang saja, kalau aku ada masalah apa-apa, kau pasti akan kumintai tolong. Untuk masalah itu, hanya Oh Sehun yang bisa melakukannya untukku, kan?”

“Pasti!” kata Sehun dengan wajah sombongnya.

“Idih… sombong sekali. Ya sudah, aku pergi dulu. Kalau ngobrol denganmu, aku akan telat masuk kelas.”

“Inikan baru jam setengah tujuh, mana mungkin kau telat.”

“Aku harus piket. Sudah ya, bye!” kata Nari sambil membuka pintu mobil dan melambaikan tangannya.

Sehun balas melambai. “Nanti aku jemput, ya!”

Nari mengangguk lalu menutup pintunya. Mobil Sehun langsung melaju dan hilang dari pandangan Nari. Oh Sehun itu… ah sudahlah. Nari capek mengagumi laki-laki itu. Mending sekarang ia segera ke kelas dan menyelesaikan tugasnya.

.

.

“Kau diantar Sehun hari ini?”

Nari mendongak dari buku matematikanya dan menatap sahabatnya, Im Yoona. Gadis itu baru datang ternyata. “Iyalah. Mana mau dia membiarkanku pergi sendiri.”

Yoona duduk di depan Nari sambil menopangkan dagunya. Ia menatap Nari iri. “Duh… enaknya kalau punya pacar…”

Nari tertawa. “Kau ini cantik, loh. Kenapa tidak mencoba pacaran dengan salah satu dari murid di sini?”

Yoona menaikkan alisnya. “Misalnya?”

“Byun Baekhyun,”

Itu bukan Nari yang bicara. Sontak, Nari dan Yoona menoleh ke arah sumber suara. Di sana, Baekhyun sudah tersenyum lebar. Diletakkan tasnya di bangku seberang Nari. Ia menarik bangkunya sendiri lalu ikut bergabung dengan Nari dan Yoona.

“Hai, tukang gosip. Sedang cerita apa? Mau menjodohkan Yoona, ya? Enggak usah jauh-jauh, di sini ada orangnya. Tampan, punya suara bagus, kharismatik, apalagi yang kurang?”

Nari dan Yoona menatap Baekhyun kosong. Yang ditatap hanya terus memamerkan senyum manisnya.

“Apa kau punya pena, Nari? Punyaku habis.” kata Yoona, mengabaikan Baekhyun. Nari hanya menyodorkan penanya lalu kembali fokus pada bukunya.

“Yak! Kenapa kalian mengabaikanku?!” tanya Baekhyun dengan nada suaranya yang tinggi.

“Siapa suruh kau sok kecakepan?” tanya Yoona tak kalah tingginya.

“Memang aku cakep, kok!”

Yang Baekhyun katakan memang benar. Wajahnya termasuk menarik, hingga tak heran setiap pulang sekolah pasti ada surat cinta yang menunggu di lokernya. Ia juga termasuk salah satu vokalis sekolah yang sudah bertanding dengan banyak band sekolah dan tak jarang membawa pulang piala. Pribadinya yang ekstrovert, membuat ia mudah bergaul dengan siapapun. Tapi entah kenapa sampai sekarang Baekhyun masih betah sendiri.

“Kalau kau memang cakep, kenapa belum punya pacar?” tanya Nari tanpa melepas pandangannya.

“Karena…” Baekhyun menopangkan dagunya lalu menatap Yoona sambil tersenyum. “Aku masih nunggu Yoona. Kapan kau mau jadian denganku?”

“Yak! Kau gila? Kau mau aku pukul?” tanya Yoona lalu mengetuk dahi Baekhyun dengan pena.

“Aduh, sakit! Kenapa kau memukulku? Aku hanya bercanda. Kalau kau galak begini, tak akan ada yang mau pacaran denganmu!”

“Katanya kau yang mau denganku,”

Mata Baekhyun membulat. “Benarkah? Apa kita resmi jadian sekarang? Apa nanti kita bisa pulang berdua? Apa aku perlu mengganti namamu di ponselku dengan kata ‘Sayang’?”

Yoona menghela nafas pasrah. “Ingin benar aku membunuh anak ini.”

Nari tertawa dan Yoona langsung memutar tubuhnya ke depan, menyumpal telinganya dengan earphone. Baekhyun sendiri menatap Yoona cemberut sambil berkomat-kamit tak jelas. Nari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan kedua sahabatnya ini. Kalau bertemu berantem, tapi kalau salah satu enggak ada pasti akan bertanya terus. Bahkan setiap lima menit sekali akan bertanya keberadaan satu sama lain. Mungkin ada baiknya kalau mereka bersama. Berantem sedikit-sedikit kan, malah tambah manis.

.

.

Pulang sekolah. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Nari membenarkan letak tas ranselnya tanpa menghentikan langkahnya. Ia menendang batu yang ada di hadapannya sampai batu itu terlontar beberapa meter. Ditendangnya lagi batu itu sampai batu itu kembali terlontar. Ya, pertanyaannya, mana Oh Sehun?

Nari menggembungkan pipinya, mengingat betapa lamanya ia menunggu Sehun. Hampir dua jam ia menunggu, tapi nyatanya laki-laki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Saat ia hampir berteriak karena kesalnya, ponselnya bergetar dan ternyata ada pesan dari Sehun. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia tak bisa menjemput Nari karena ada acara mendadak yang harus dihadirinya bersama grupnya. Oh, astaga, sesibuk itukah laki-laki itu? Bahkan setelah dua jam lamanya, Nari hanya mendapat pesan. Baiklah, ia memang maklum kalau Sehun memang sibuk, tapi kan, tetap saja…

“Kenapa sih, dia seperti itu?!” teriak Nari lalu menendang batu tadi sekuat tenaga. Batu itu melayang sesaat sebelum membentur tiang listrik lalu berbalik dan menumbuk kepala Nari. “Aww!!! Ah, yang benar saja! Bahkan batu ini juga marah padaku?!”

“Kau baik-baik saja?”

Nari menoleh ke kanan dan mendapati seorang pemuda yang tengah menatapnya khawatir. Sebentar, rasanya ada sesuatu yang janggal. Nari menatap pemuda itu atas bawah, memperhatikannya yang tengah memakai semacam apron warna biru.

“Aah!!! Orang yang kemarin!”

“Maaf?” Pemuda itu mengerutkan keningnya.

Oh ya, Nari lupa. Pemuda ini kan, tidak tahu dia. “Aah, tidak apa-apa. Kemarin… aku melihatmu… Tuan,”

Laki-laki itu tersenyum kecil. Nari sendiri hanya bisa menggaruk keningnya yang tak gatal. Hah, ‘Tuan’ katanya? Laki-laki ini bahkan sama sekali tak bisa disebut Tuan. Kalau dilihat dari wajahnya, paling hanya berumur sekitar dua puluh tahun-an.

“Oh ya, kau tidak apa-apa? Tadi kau berteriak kesakitan.”

Nari mengibaskan tangannya. “Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya… sedikit stress. Ya, begitulah.”

Apa sih, yang ia katakan?

Nari memandang lurus ke belakang pemuda tadi. Ternyata ia sudah sampai di kedai Nyonya Han. Melihat buah yang begitu segar, apalagi yang ada di balik showcase itu, membuat perut Nari sedikit bergejolak.

“Apa kau anak Nyonya Han?” tanya Nari langsung.

Pemuda itu menggeleng. Sedikit heran kenapa gadis ini menanyakannya. “Tidak, aku hanya bekerja di sini. Pekerjaan sambilan.”

“Oh… kukira kau anak Nyonya Han. Sedikit mengherankan memang, karena aku tahu Nyonya Han tak punya anak laki-laki. Jadi, apa kau tinggal di sini? Atau kau hanya bekerja di sini saja?”

“Aku hanya bekerja di sini. Mansion-ku tak jauh dari sini.”

Nari mengangguk paham. Sebenarnya ini sedikit aneh, melihat ia bertanya ini itu pada orang yang belum ia kenal. Namanya saja bahkan Nari belum tahu.

Nari tertawa, sedikit mencairkan suasana. “Ah, maaf, aku terlalu banyak bicara. Uhm… ngomong-ngomong, siapa namamu? Rumahku dekat sini, jadi kita mungkin akan sering bertemu. Agak sedikit aneh, padahal kita sudah saling bicara tapi tak tahu nama satu sama lain,” Nari mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Aku Seo Nari, kelas dua SMA.”

Pemuda tadi menatap tangan Nari sebentar sebelum menyambutnya. “Zhang Yixing, mahasiswa semester lima.”

Mata Nari membulat. “Zhang Yixing? Kau orang Cina? Tapi bahasa Koreamu bagus. Oh ya, aku harus memanggilmu apa? Zhang? Atau Yixing?”

“Yixing saja. Dan… bahasa Koreaku masih belum bisa dibilang bagus walau aku sudah ada di sini selama enam tahun.”

Nari melepaskan tangannya. “Jadi kau sudah di sini sejak SMA? Wah… hebat sekali.”

Yixing tersenyum, sebenarnya bingung darimana hebatnya ia. “Biasa saja, kok.”

“Jadi aku bisa menambahkan embel-embel di depan namamu? Misalnya… oppa atau… gege?”

Yixing tertawa. Ia menggelengkan kepalanya. “Panggil Yixing saja. Kalau kau memanggilku dengan gelar kakak, aku merasa sedikit tua.”

Nari tertawa. “Kau sama seperti Sehun. Dia juga tak mau kupanggil oppa walau usia kami bedanya lima tahun. Katanya dia akan merasa tua. Dasar anak itu. Memang dia tua mau diapain lagi?”

“Siapa Sehun?” tanya Yixing.

“Aah… pacarku.”

“Wah, jadi sudah tidak single lagi, nih?” canda Yixing.

Nari tertawa, sedikit melupakan bahwa tadi ia masih merasa kesal. Nari melirik jam tangan merah mudanya lalu sedikit kaget melihatnya. “Ya ampun, ini sudah sore sekali. Aku harus pulang dan siap-siap bimbel. Aku pulang ya, Yixing. Kapan-kapan kita bisa cerita-cerita lagi. Mungkin aku akan semangat ke kedai ini karena adamu,” Nari tertawa lagi. “Duluan!”

Nari melambaikan tangannya lalu berlari kencang menuju rumahnya. Ibunya pasti akan mengomel mengapa ia pulang terlambat.

Sementara Yixing, dia menatap kepergian Nari sampai gadis itu menghilang di belokan. Senyum kecil terulas di bibirnya. Hebat sekali, gadis itu hebat sekali.

“Yixing! Bisa ke sini sebentar?”

Yixing menoleh saat mendengar teriakan Nyonya Han. Sepertinya wanita itu butuh bantuan.

“Iya, Bibi! Aku akan ke sana!”

Yixing kembali menatap belokan tadi, lalu berbalik masuk ke dalam. Siapa nama gadis itu? Seo Nari? Namanya bagus. Mengingatkan Yixing pada matahari terbit. Bukan, bukan namanya. Tapi gadis itu sendiri.

.

.

To be continue

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s