[EXOFFI FREELANCE] Nappeum Namja? (Bad Boy?)

PicsArt_05-05-04.32.12.jpg

Nappeum Namja? (Bad Boy?)

Author: Sháo Xī

Length: One Shot

Genre: Romance, School life

Rating: PG-15

Main Cast: Kim Jong In/ Kai [EXO], Han Chae Yeon [OC]

Summary:

Dia bilang, seseorang yang membantumu pasti ada maksud tersembunyi padamu. Jadi apa artinya itu? Dia membantuku karena ada maksudnya? Heol, dasar laki-laki jahat.

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide adalah milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis. Tidak ada kaitannya dengan tokoh di kehidupan nyata. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis dengan meninggalkan jejak di kolom komentar. Kritik kalian akan membuat penulis lebih merasa bersemangat ☺

.

.

.

Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling menyebalkan di dunia ini, aku akan menjawab: punya anggota kelas seperti cowok itu.

.

Jika ada yang bertanya padaku, apa yang paling menyebalkan di dunia ini, aku akan menjawab: punya ketua kelas secantik dia.

.

.

.

“Han Chae Yeon!”

Seorang perempuan yang tengah mengambil buku-bukunya di loker menoleh. Ia tersenyum simpul saat temannya yang memanggilnya tadi berlari kecil menujunya.

“Kau baru datang, Chae Yeon-a?” tanya temannya itu yang memakai bet name di almamater bertuliskan Kim Sae Na.

Chae Yeon mengangguk. “Iya. Ada sedikit masalah di rumah, makanya aku baru bisa datang sekarang. Padahal aku ingin berangkat lebih pagi.”

Sae Na menepuk pundak Chae Yeon. “Hei, kau hanya datang terlambat sepuluh menit dari biasa. Pelajaran juga baru akan dimulai lima belas menit lagi. Memangnya kau ada masalah apa?”

Chae Yeon membanting pintu lokernya lalu menatap Sae Na dengan senyum menenangkan. “Masalahnya juga sudah selesai, kok. Kau tak perlu khawatir.”

Sae Na hanya mengedikkan bahunya. Temannya sekaligus ketua kelasnya ini memang tak mau menceritakan kehidupan pribadinya. Padahal Sae Na hanya ingin membantu. “Ya sudah, terserah kau saja. Yuk, ke kelas! Kita lihat apa jadinya kelas 2-4 setelah ditinggal olehmu selama sepuluh menit.”

Chae Yeon hanya tertawa sementara Sae Na sudah menariknya ke kelas. Sesampainya di kelas, Chae Yeon langsung disambut oleh suasana kelas yang gaduh. Ini memang wajar karena jam pelajaran belum dimulai, jadi Chae Yeon membiarkannya. Tapi kalau sudah dimulai, jangan harap Chae Yeon akan diam.

“Han Chae Yeon! Kau baru datang?” sapa beberapa murid perempuan dari kelasnya.

Chae Yeon tersenyum, sedikit merasa aneh sebenarnya. Apakah kalau ia terlambat sedikit saja akan terlihat perbedaan yang begitu besar? “Ah, iya, maafkan aku.”

Murid-murid itu tertawa. “Kau ini. Ketua kelas juga manusia. Jadi kalau kau terlambat, sama sekali bukan masalah.”

“Tuh kan, apa kubilang,” sahut Sae Na yang hanya ditanggapi oleh senyuman Chae Yeon.

“Chae Yeon-a,” panggil seorang murid perempuan. “Ada sesuatu yang aneh di sana,”

Chae Yeon langsung mengalihkan dirinya pada murid itu. “Apa ada masalah?”

Anak itu hanya menunjuk ke belakang tanpa mengatakan apapun. Mata Chae Yeon mengikuti arah tunjuk anak itu dan langsung dihadapkan pada lima orang cowok yang sedang asyik tertawa dan bersiul-siul. Chae Yeon bangkit dan menuju mereka. Tapi sepertinya cowok-cowok itu tidak menyadari kedatangannya karena mereka masih sibuk tertawa. Chae Yeon merasa bingung, apa yang membuat cowok-cowok berisik ini tak menyadari kehadirannya. Mata Chae Yeon langsung menangkap majalah yang tengah dipegang oleh cowok paling tengah, ketua mereka. Matanya terbelalak ketika melihat sampul majalah itu. Dengan segera, ditariknya majalah itu, membuat para cowok-cowok itu berhenti tertawa dan menatap ke depan. Chae Yeon bisa merasakan bahwa mereka menahan nafas saat bertemu pandang dengannya.

Cowok di tengah—ketuanya—langsung angkat bicara. “Yak, Han Chae Yeon! Kembalikan itu!”

Chae Yeon menatap berani cowok di depannya ini yang berpakaian seperti berandalan. “Peraturan nomor empat, dilarang bawa majalah ke kelas,” Chae Yeon menunjukkan majalah dengan sampul wanita berpakaian mini. “Apa yang kau bawa ini?”

Cowok itu mendecakkan lidahnya. “Kembalikan,” Tangan cowok itu sudah terulur untuk merebut majalah itu tapi Chae Yeon lebih cepat.

“Kim Jong In,” kata Chae Yeon dengan penuh penekanan. “Kau ingin ini menjadi majalah kedua puluh satumu yang sudah kusita?”

Kim Jong In dengan nama akrabnya yaitu Kai hanya mendecakkan lidahnya lalu bangkit dan mensejajarkan wajahnya dengan Chae Yeon. “Tolong kembalikan itu.”

Chae Yeon menggeleng. “Akan aku berikan pada Park Seonsaengnim,”

Chae Yeon langsung melenggang keluar dengan majalah di tangannya. Ia sudah memberi peringatan dua puluh kali pada cowok itu tapi tak pernah didengarkan. Jadi lihat saja bagaimana nasib cowok itu ketika majalah ini ada di tangan guru olahraganya yang sungguh killer.

Kai mengumpat lalu berlari mengejar Chae Yeon yang sudah keluar. Saat cewek itu sudah hampir mencapai ruang guru yang letaknya hanya beberapa ruang dari kelas mereka, Kai langsung menariknya, membuat punggung Chae Yeon membentur dinding dengan kuat.

“Yak! Apa yang kau lakukan!?” teriaknya, lalu kemudian langsung memelankan suara karena mereka sudah ada di depan ruang guru. “Kau mau apa?”

Kai menghela nafas. “Baiklah, kau sita saja majalahnya tapi jangan berikan pada guru itu.”

Chae Yeon menyilangkan tangannya di depan dada. “Tidak mau.”

Kai mengerang. “Kenapa?!”

“Apakah aku perlu mengingatkanmu Yang Mulia Kim Jong In? Ini sudah peringatan kedua puluh satumu dan aku tak mau ada toleransi lagi. Aku tak mau mulutku berbusa hanya karena memperingatimu yang bebal ini, oke? Jadi terserah pada Park Seonsaengnim akan memberikanmu hukuman apa.”

“Kau…”

“Apa?” tanya Chae Yeon. “Mau melakukan apa kau?”

Kai mendesah kesal. “Kalau kau tak mau mengembalikannya, akan kucium kau di depan semua guru-guru sekarang juga!”

Mata Chae Yeon terbelalak. Apa cowok ini sudah kehilangan akalnya?

Mungkin menurut Chae Yeon, tapi tidak menurut Kai. Ia sudah menarik Chae Yeon dan tangan satunya terulur untuk membuka pintu ruang guru. Sebelum terjadi apa-apa, Chae Yeon langsung menarik dirinya dan melayangkan pukulan ke kepala Kai dengan majalah.

“Apa kau sudah gila?!” teriak Chae Yeon tertahan karena ia tak mau guru-guru mendengar suaranya.

Kai mengelus kepalanya yang dipukul lalu mengerang. “Makanya kembalikan!”

Chae Yeon menatap cowok di depannya ini dengan amarah yang memenuhi kepalanya. Diserahkannya majalah itu. “Bakar majalah ini di atas sana!”

“Apa?”

“Aku bilang, bakar majalahnya. Aku akan mengikutimu. Kalau kau tidak melakukannya, akan kulaporkan hal ini sekarang juga.”

Kai menatap Chae Yeon tak percaya lalu mengerang dengan keras. Demi apapun, gadis ini benar-benar mengerikan.

.

.

Kai memarkirkan mobil sport mewahnya di depan sebuah klub mahal. Seorang pelayan datang menghampirinya dan Kai langsung melemparkan kunci mobilnya. Ia langsung masuk sementara pelayan lain membungkuk saat Kai melewatinya. Ia langsung naik ke atas dan menuju ruangan paling pojok. Sebuah ruangan VIP, ruangan yang hanya bisa disewa oleh orang yang berduit.

Kai langsung membuka pintunya dan melenggang masuk. Dihempaskan dirinya ke sofa empuk yang sudah diduduki oleh beberapa orang. Ia langsung menyambar gelas secara acak dan langsung meminum habis isinya.

“Kenapa kau datang ke sini?”

Kai melirik sedikit ke arah laki-laki yang tengah didampingi oleh dua orang wanita berpakaian mini. “Kenapa memangnya kalau aku ke sini?”

Cowok itu terkekeh. “Kau pasti ada masalah. Apa? Wanita?”

“Bukan urusan Hyung,”

“Ya sudah, terserah kau saja.”

Kai menghela nafas lalu menuangkan cairan pekat ke gelas dan menenggaknya hingga habis. Terus begitu sampai gelas kelima. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terketuk dan melambai membuka. Seorang wanita dengan nampan berisi botol-botol bercairan pekat masuk. Ia menunduk sebentar saat tiba di depan orang-orang lalu mulai meletakkan botol-botol itu.

“Pesanan Anda, Tuan. Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?”

Cowok yang dipanggil Hyung itu langsung menoleh. “Oh, kau. Bisa tolong ambilkan sebotol lagi? Adikku ada di sini.”

“Aku masih mau sadar, ya!” elak Kai.

“Kalau begitu, aku permisi dulu, Tuan.”

“Eh, tunggu dulu!” cegah cowok itu. “Kai, kau bilang kau stres, kan? Bagaimana kalau sedikit bersenang-senang? Cewek ini lumayan untukmu, loh.”

Kai yang sedang minum melirik cowok itu dengan malas. Tatapannya langsung menaik dan ia memandang sang pelayan tadi. Mata Kai terbelalak dan minuman yang ada di mulutnya langsung tersembur. Ia bahkan sempat tersedak karena tanpa sengaja ia bernafas tadi. Pelayan itu hanya diam menatapnya lalu tersenyum pada cowok tadi.

“Maafkan aku, Tuan. Tapi aku tak punya kelebihan apapun untuk bersama seseorang di sini.”

Kai tak bisa berkata-kata. Matanya terbelalak dengan tatapan masih terpancang ke pelayan tadi. Demi apapun, mana mungkin Kai bisa mempercayai penglihatannya? Pelayan tadi adalah orang yang ia kenal sebagai Han Chae Yeon. Pelayan ini adalah ketua kelasnya!

“Wah, wah, gadis ini. Ya sudah, pergi sana!”

Chae Yeon menunduk hormat lalu melangkah keluar dan menghilang di balik pintu. Setelah Chae Yeon menghilang, Kai langsung bangkit dan mengejarnya, membuat beberapa orang di sana mengerut heran. Saat Kai berhasil keluar, matanya mencari sosok Chae Yeon, tapi tak ada. Kai mengerang dan mulai menyusuri sepanjang koridor. Ia bahkan membuka pintu dengan asal dan mengagetkan orang-orang di dalamnya.

Kai kembali membuka sebuah pintu. Baru setengah terbuka, terdengar suara wanita di dalam sana. Suaranya lebih terdengar seperti minta tolong.

“Aku mohon, Tuan,”

Kai mengenal suara itu dengan baik. Diterobosnya pintu itu dan langsung berlari ke dalam. Sesampainya di sana, Kai merasa badannya menegang dan tak bisa digerakkan. Seorang lelaki sedang mencoba untuk… Chae Yeon…

Tanpa sadar, Kai langsung menerjang orang itu dan melayangkan pukulan ke pipinya. Orang itu jatuh terjerembab dan menatap Kai kaget karena serangan dadakan. Tak terima karena pukulannya, orang itu langsung bangkit dan mencoba menghajar Kai. Namun, alkohol yang terlalu banyak ditenggaknya, membuat pukulannya hanya mengenai angin. Melihat itu, Kai langsung kembali menghajar hingga ia tak sadarkan diri.

Nafas Kai terengah-engah. Ia langsung mengalihkan tatapannya ke arah Chae Yeon yang menatap kejadian tadi dengan matanya yang membesar. Chae Yeon sepertinya menyadari tatapan Kai karena sekarang ia balas menatap laki-laki itu. Sedetik kemudian, Chae Yeon langsung mengalihkannya dengan membenarkan bajunya yang sedikit terbuka. Ia langsung beranjak dan melewati Kai begitu saja. Tapi Kai dengan cepat menahan tangan gadis itu sebelum ia bisa kabur.

“Mau ke mana kau?” tanya Kai.

“Aku mau ke mana, itu bukan urusanmu,” sahut Chae Yeon datar. “Lepaskan aku,”

“Jadi kau bekerja di sini?” Kai tertawa mengejek. “Orang yang menyita majalahku tadi bekerja di sini?”

“Terserah apa katamu. Tapi ini bukanlah urusanmu, jadi biarkan aku pergi.”

Chae Yeon melepaskan tangannya dengan paksa, tapi kembali ditarik Kai. “Yak, Han Chae Yeon! Aku baru saja menyelamatkan nyawamu dan kau mau pergi begitu saja?!”

“Lalu kau mau apa?!” teriak Chae Yeon yang membuat Kai langsung terdiam. Ia bahkan bisa melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Chae Yeon. “Kau mau melaporkan ini pada semua orang? Kau bahkan mau melapor pada guru? Silakan, silakan saja. Kau pun juga tak peduli pada semuanya, kan?!”

Kai terdiam melihat Chae Yeon yang merasa frustasi. Ditelitinya baju Chae Yeon dari atas sampai bawah. Ia sedikit merasa bersyukur bahwa baju yang digunakan Chae Yeon tidak seperti cewek-cewek di sekeliling hyung-nya tadi. Chae Yeon hanya memakai kemeja putih dengan rok hitam setinggi rok sekolahnya.

“Apa kau selalu melakukan itu?” tanya Kai yang membuat Chae Yeon menoleh. “Kau melayani para laki-laki ini dengan tubuhmu?”

“Aku memang bekerja di sini, tapi pikiranku tak serendah itu.”

“Lalu kenapa kau bekerja di sini?! Kenapa kau mengambil pilihan bodoh seperti ini?!” teriak Kai marah.

“Aku tak mengerti kenapa kau marah,” kata Chae Yeon pelan. “Kita tak sedekat itu dan artinya aku tak bisa memberitahukannya padamu.”

Kai mengerang. “Kenapa kau begitu padaku, hah?”

Chae Yeon menatap Kai tak percaya. “Apa katamu? Kenapa aku begitu padamu? Hei, kita bahkan tak pernah bicara sepanjang ini,” Chae Yeon menghela nafas. “Sudahlah, aku tak ingin bicara padamu lagi. Terserah padamu mau melakukan apa padaku. Tapi terima kasih untuk yang tadi.”

Chae Yeon langsung berbalik pergi, sementara Kai hanya menatap gadis itu tak habis pikir. Kai melangkahkan kakinya untuk mengejar Chae Yeon lalu kembali menarik gadis itu.

“Kau mau apa lagi?” tanya Chae Yeon kesal.

Kai melepaskan jasnya lalu memasangkannya ke badan Chae Yeon. “Tanganmu terluka terkena pecahan kaca. Ikut aku, akan aku obati.”

Chae Yeon menatap tangannya yang sedikit tergores. Tanpa sengaja, saat tadi Kai dan orang itu bertengkar, tangan Chae Yeon sempat terkena pecahan botol yang Kai lempar ke orang itu. Ia bahkan tak tahu kalau darahnya sudah merembes keluar.

“Ini bisa kuobati sendiri,” kata Chae Yeon. “Lagipula ngapain kau memberikan jasmu padaku? Aku tak butuh ini.”

“Kau ingin aku menikmati setiap senti tubuhmu?” tanya Kai dingin. “Kau juga tadi ingin berterima kasih padaku, kan? Kalau mau berterima kasih, ikut aku.”

Chae Yeon menatap Kai tak habis pikir. Laki-laki itu langsung menyeret Chae Yeon ke manapun yang ia suka. Chae Yeon sendiri tak bisa berbuat apa-apa karena genggaman laki-laki ini begitu kuat sampai tangannya terasa sakit. Memberontak, sama saja dengan mendapat cengkraman yang lebih kuat. Memangnya laki-laki ini mau berbuat apa padanya?

.

.

Chae Yeon menatap tangannya yang tengah dibebat oleh Kai. Cowok itu baru saja membeli semuanya di apotik. Mata Chae Yeon menaik, memandang Kai yang tengah fokus pada tangannya.

“Kenapa kau—“

“Diam saja,” kata Kai dingin. “Aku sedang tak tahu ingin bicara apa padamu.”

Chae Yeon diam. Sebenarnya tak tahu apa mau laki-laki ini. Laki-laki ini marah padanya? Tapi kenapa?

Kai membereskan alat-alatnya setelah tangan Chae Yeon berhasil diobatinya. Ia menatap lurus ke depan dengan tangan mencengkram kemudi. Ia masih tak bisa mempercayai penglihatannya tadi dan tak tahu harus bertindak apa terhadap gadis di depannya ini. Dan yang membuat Kai paling kesal adalah Chae Yeon yang masih bersikap biasa saja. Demi apapun, apakah gadis ini sama sekali tak takut? Apa ia sudah biasa melakukannya?

“Kau,” mulai Kai. “Kenapa bekerja di sana?”

Chae Yeon diam sebelum menjawab. “Sudah kubilang, kita tak sedekat itu sehingga aku tak bisa mengatakannya padamu. Lagipula aku bingung, kenapa aku harus mengatakannya padamu.”

Kai melirik Chae Yeon kesal. “Hei, kau juga selalu menanyakan alasan ketika aku membawa semua barang-barang itu ke sekolah. Memang apa urusanmu?”

“Karena aku ketua kelas, aku punya hak untuk itu.”

“Karena aku orang yang menyelamatkanmu, aku punya hak untuk itu.”

Chae Yeon menghela nafas. “Ya, kau memang menyelamatkanku. Terima kasih untuk itu. Tapi tolong hargai privasiku.”

“Baiklah, aku tak akan bertanya lagi,” kata Kai kesal. “Kau juga, kenapa tenang-tenang begitu? Kau tidak takut sama sekali? Atau kau sudah biasa melakukannya?”

“Kata siapa aku tidak takut?” tanya Chae Yeon yang membuat Kai terdiam. “Aku takut, Kai. Aku takut kalau laki-laki itu berhasil dan aku tak mampu menahannya. Aku memang bekerja di sana, tapi aku tak serendah itu ingin melakukannya dan terima saja apabila ada yang melakukannya padaku. Aku… tak ingin… merendahkan keluargaku.”

“Jangan bekerja di sana lagi,”

Chae Yeon menoleh. “Kenapa?”

“Kenapa?” tanya Kai tak percaya. “Kau masih bertanya kenapa setelah semua ini terjadi? Berhenti bekerja dari sana dan akan kubantu kau mencari pekerjaan lain.”

Chae Yeon mendengus. “Kenapa kau baik padaku?”

“Karena aku temanmu,”

Chae Yeon diam. Ia menatap Kai yang tengah memalingkan wajah darinya. Laki-laki itu masih tampak kesal karena Chae Yeon tak mau menjawab pertanyaannya. Tapi biarlah. Toh, sekarang cowok itu hanya diam saja.

Kai menoleh lalu mendapati Chae Yeon yang tengah menatap dirinya. Beberapa detik mereka berpandangan sebelum Kai menyeletuk. “Kenapa memandangku? Kau terpesona padaku?”

Raut wajah Chae Yeon langsung berubah dan ia mendecakkan lidahnya. “Terpesona apanya?”

“Kau memandangku dengan intens barusan. Apa itu namanya bukan terpesona?”

“Lain kali aku tak mau memandangmu lagi.”

Kai terkekeh sebentar. “Dasar ketua kelas pemalu.”

.

.

Pelajaran matematika telah selesai. Kim Seonsaengnim juga telah keluar. Para murid langsung gaduh sementara menunggu guru pelajaran selanjutnya datang. Chae Yeon meraih buku biologinya dan mulai membaca sementara telinganya sudah tersumpal lagu klasik. Tiba-tiba, sebuah buku menghalangi pandangannya. Chae Yeon mengerutkan keningnya sebentar sebelum mengangkat wajahnya. Di depannya, Kai tengah berdiri dengan tangan terulur memegang buku.

“Apa ini?” tanya Chae Yeon bingung.

“Ambil saja,” kata Kai. Chae Yeon menerima bukunya dan Kai langsung kembali ke perkumpulannya dan mulai gaduh.

Chae Yeon hanya bisa bingung lalu membuka bukunya. Saat ia membuka buku itu, sebuah kertas melayang jatuh. Dipungutnya kertas itu dan ternyata berisi sebuah alamat. Chae Yeon menoleh ke arah Kai, tapi cowok itu masih saja sibuk bercanda dengan teman-temannya. Dibacanya sekali lagi alamat dari kertas itu. Apa ia harus datang ke sini?

Saat pulang sekolah, Chae Yeon langsung menuju alamat yang ada di tangannya. Dirinya sekarang tengah berdiri di depan sebuah toko baju paling bergengsi di kotanya. Chae Yeon kembali menatap alamat itu dan tak ada yang salah dengannya. Ia menarik nafas sejenak lalu mendorong pintu dan masuk. Seorang pramuniaga mendekatinya dengan senyum manis.

“Anda Han Chae Yeon?”

Chae Yeon menatap pramuniaga itu bingung. Darimana ia tahu namanya?

“Kami sudah menunggu Anda dari tadi.”

Menunggunya? Kenapa?

“Aah… sebentar,” kata Chae Yeon. “Anda tahu nama saya? Dan Anda sudah menunggu saya?”

Pramuniaga itu mengangguk. “Anda sudah diberitahu untuk datang ke sini, kan?” Melihat Chae Yeon yang melirik sebuah kertas, pramuniaga itu kembali tersenyum. “Berarti Anda tidak salah datang ke sini.”

.

.

Chae Yeon tak habis pikir dengan apa  yang sudah terjadi padanya belakangan ini. Ia tak tahu apa ini sebuah keberuntungan atau bukan. Bertemu dengan Kai saat malam itu… apakah sebuah berkah? Ia jadi ingat kata-kata Kai saat itu yang mengatakan bahwa akan membantunya mencari pekerjaan. Tak ia sangka, ternyata laki-laki itu benar-benar menepati perkataannya. Tak tanggung-tanggung, tempat Chae Yeon bekerja adalah sebuah toko baju paling bergengsi, paling terkenal, dan paling mahal di Korea. Ia bahkan tak tega kalau harus menyentuh baju-baju di sana. Dan Chae Yeon juga baru tahu dari pramuniaga yang kemarin, bahwa toko itu adalah milik keluarganya Kai. Dan ini membuat Chae Yeon sungguh terkejut. Maksudnya, Kai, loh! Anak itu selalu ke sekolah dengan baju ala kadarnya. Belum lagi penampilannya seperti preman. Awalnya Chae Yeon sudah agak curiga saat Kai mengobatinya di mobil pada malam itu. Mobil sport yang ia miliki sungguh mewah. Belum lagi saat pertama kali mereka bertemu di ruang VIP saat itu. Walau begitu, Chae Yeon masih tak yakin dengan semuanya.

“Kurasa aku harus benar-benar harus berterima kasih padanya,” kata Chae Yeon pelan. Aah, ia bisa berterima kasih pada cowok itu kalau ketemu di kelas. Sekarang ia harus pergi ke ruang OSIS untuk mengambil bahan rapat besok.

Saat hendak menuju ruang OSIS, Chae Yeon bisa melihat Park Seonsaengnim yang sedang ada di depan ruang OSIS sedang melongokkan kepalanya untuk menatap keadaan di dalam. Aneh, untuk apa guru killer-nya itu di sana? Tak berapa lama kemudian, Park Seonsaengnim langsung pergi dengan raut wajah penasaran.

Chae Yeon langsung membuka pintu ruang OSIS dan berjalan menuju meja rapat. Ia adalah sekretaris OSIS, jadi ia harus mengetik agenda rapat besok. Saat sedang mengambil berkas yang ia butuhkan, Chae Yeon merasa ada sesuatu yang bergerak di pojok sana. Ia tak bisa melihatnya dari sini karena tertutup meja. Jadi Chae Yeon berjalan perlahan dan—

“Kai?”

Chae Yeon bisa melihat cowok itu yang tengah memejamkan matanya dengan mulut berkomat-kamit. Tak pasti kenapa cowok itu ada di sana. Ia seperti tengah… bersembunyi?

Mendengar suara memanggil namanya, Kai membuka matanya dan terbelalak melihat orang di depannya. Raut wajahnya langsung berubah saat di depannya ternyata Han Chae Yeon.

“Chae Yeon?”

“Kenapa kau di sini?” tanya Chae Yeon bingung.

Kai menghela nafas lega. “Aah… untung ternyata kau. Aku pikir Park Seonsaengnim yang datang.”

Alis Chae Yeon menaik. “Kau sedang sembunyi darinya?”

Kai meringis lalu mengangguk kecil. “Aku bawa barang terlarang lagi dan langsung ketahuan olehnya. Makanya aku kabur.”

Kali ini kedua alis Chae Yeon terangkat. Kabur? Bawa barang terlarang?

“Oh, begitu,” kata Chae Yeon kalem. “Silakan lanjutkan persembunyianmu.”

“Kau mau ke mana?” tanya Kai saat melihat Chae Yeon yang sudah hampir mencapai pintu keluar.

Chae tersenyum miring. “Memanggil Park Seonsaengnim untukmu.”

Mata Kai terbelalak. Astaga cewek ini… apa ia mau mati di tangannya?!

Melihat Kai yang sudah bersiap ingin menerjangnya, Chae Yeon langsung lari dan membuka pintu dalam satu sentakan. Ia menoleh ke kiri dan mendapati Park Seonsaengnim tengah merazia anak-anak. Tangan Chae Yeon sudah terangkat dan melambai ke gurunya itu.

“Park Seon—aah!”

Tepat saat Park Seonsaengnim menoleh, Kai sudah menarik Chae Yeon masuk sehingga gurunya itu tak langsung bisa melihat Chae Yeon. Tapi indra gurunya itu tak bisa dibohongi. Ia langsung berjalan kembali menuju ruang OSIS.

“Dasar cewek gila! Apa kau bodoh, hah?!” teriak Kai tertahan.

“Hei, kau memang bersikap baik kemarin. Tapi kau sudah bawa barang—“

“Dia datang!”

Kai langsung menarik Chae Yeon dan mereka berdua bersembunyi di tempat Kai tadi. Kai langsung membekap mulut Chae Yeon untuk berjaga-jaga kalau gadis itu berteriak. Kai sedikit mengintip dari balik meja dan ia bisa melihat gurunya yang sudah masuk dan menatap ruangan itu dengan saksama. Tak menemukan sesuatu yang aneh, Park Seonsaengnim langsung berbalik dan keluar.

Kai menghela nafas. “Aah… selamat, selamat.”

“Dasar anak badung,” kata Chae Yeon. “Kau ini memang tidak kapok ya, kena hukum?”

Kai melirik Chae Yeon kesal. “Kau buat jantungku mau berhenti tahu!”

Chae Yeon memutar bola matanya. “Drama,” Chae Yeon langsung bangkit daripada ia harus mendengar pembelaan Kai yang tidak berguna untuknya.

“Kau mau ke mana?” tanya Kai sambil menahan tangan Chae Yeon.

“Hei,” kata Chae Yeon kesal. “Apa aku harus terus mengatakan padamu aku mau ke mana?”

Kai kembali menarik tangan Chae Yeon sehingga gadis itu kembali terduduk di sampingnya. Berkas yang Chae Yeon genggam bahkan melorot dari pegangannya dan jatuh bertebaran di dekat kakinya.

“Yak! Kau ini kenapa sih, Kim Jong In?!”

“Kau sudah buat aku mau pingsan karena hal tadi,” Kai menyipitkan matanya. “Sekarang giliranku.”

Chae Yeon mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Toh, kita cuma berdua di sini, kan?”

Mata Chae Yeon terbelalak saat Kai mengatakan hal tadi. Diraihnya wajah Chae Yeon dan Kai sendiri mendekatkan wajahnya. Chae Yeon terdiam kaku saat wajah Kai semakin dekat dengannya. Saat jarak mereka tinggal beberapa senti lagi, Chae Yeon hanya bisa memejamkan matanya.

“Kenapa kau tak menolaknya?”

Mata Chae Yeon membuka perlahan. Hal yang pertama kali ia lihat adalah sepasang mata hitam nan tajam milik Kai. “Eoh?”

“Kenapa kau tak memukulku saat tahu bahwa aku akan melakukannya?” tanya Kai pelan. “Apa kau akan menerima saja andaikan tadi bibir kita bersentuhan?”

Chae Yeon terdiam dengan mata terpaku pada Kai. Setelah ia mengerti situasinya, Chae Yeon menjauhkan wajahnya dan mulai mengumpulkan berkasnya yang terjatuh. Ia bangkit dan mulai melangkahkan kakinya tanpa berkata apapun.

“Hei, Han Chae Yeon,”

Langkah Chae Yeon terhenti. Ia menoleh sedikit dan menatap Kai yang tengah tersenyum miring padanya dengan tangan di saku celana.

“Jangan mudah percaya pada seseorang yang sudah menolongmu,” ujar Kai yang membuat kening Chae Yeon sedikit berkerut. “Siapa tahu mereka punya maksud tertentu padamu.”

Chae Yeon mendengus. “Jadi kau punya maksud tertentu padaku?”

Kai mengedikkan bahunya. “Lihat saja nanti,” katanya dan langsung berlalu mendahului Chae Yeon.

Chae Yeon menatap pintu yang membanting tertutup dengan tatapan kesal. Dibantingnya berkas yang ia bawa ke meja. “Dasar laki-laki itu,”

.

.

Chae Yeon menatap jam di tangan kirinya lalu tersenyum kecil. Pekerjaannya di sini sudah selesai dan saatnya ia pulang. Sudah seminggu ini Chae Yeon bekerja di toko milik keluarga Kai. Dan sampai sekarang, ia belum mengucapkan terima kasih. Bukan apa-apa, tapi Chae Yeon dan Kai sudah jarang bertemu. Mereka memang sekelas, tapi tak pernah berinteraksi seperti sebelumnya. Saat istirahat, Kai akan menghilang dari kelas dan saat akan pulang, entah kenapa cowok itu terlihat buru-buru. Chae Yeon jadi tak bisa mengatakannya.

Belum lagi gara-gara masalah seminggu yang lalu di ruang OSIS. Chae Yeon masih saja kesal. Bukan, bukan pada Kai, tapi pada dirinya. Yang Kai katakan memang benar. Dan Chae Yeon… aah! Kenapa saat itu ia memejamkan mata? Apa ia menerima saja andaikan Kai melakukannya? Apakah ia terlalu terbawa suasana? Argh, yang pasti, Chae Yeon harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.

Tiba-tiba, ponsel Chae Yeon bergetar. Ibunya menelepon.

“Halo, Ibu? Apa terjadi sesuatu?”

Tidak, Nak. Kau tak usah panik begitu. Ibu baik-baik saja di sini.

“Kalau begitu kenapa? Apa Ibu butuh sesuatu? Aku bisa belikan setelah pulang kerja.”

Tidak, Ibu tak butuh apapun. Cepatlah pulang, kawanmu menunggu di sini.

“Kawan? Kawanku?”

Iya, cepatlah pulang, ya! Dia sudah menunggu terlalu lama.

Sambungan terputus. Chae Yeon menatap ponselnya dengan bingung. Kawan? Ia tak pernah memberitahu rumahnya pada siapapun, bahkan pada Sae Na. Siapa yang sudah—tunggu dulu. Apa…

“Kai?”

.

.

“Kau sudah datang?”

Kai mengalihkan pandangannya ke arah pintu dan menatap gadis dengan setelan biru dongker di hadapannya. Ia tampak tersengal-sengal dan beberapa helai dari sanggulnya menggantung di dekat telinga. Cukup meyakinkan Kai bahwa gadis itu berlari tadi.

“Temanmu ini baik sekali, dia datang untuk mengunjungi Ibu. Kau sudah makan?” tanya ibu Chae Yeon.

“Ibu, sebaiknya kau istirahat. Kau tak boleh terlalu lelah.”

Ibunya mendecak. “Ibu hanya keluar sebentar.”

Chae Yeon meletakkan tasnya lalu segera meraih ibunya. “Ayo, aku antar ke kamar.”

Setelah mengantar ibunya, Chae Yeon kembali ke tempat Kai dan menatap cowok yang tengah menyesap tehnya. Hilang sudah kata-kata terima kasih yang Chae Yeon pikirkan tadi. “Bisa ikut aku?”

Kai menatap Chae Yeon yang berjalan melewatinya ke balkon. Ia beranjak dan mengikuti gadis itu ke sana. Ditatapnya Chae Yeon dari belakang, sedikit mengagumi gadis itu sebenarnya.

Chae Yeon berputar dan langsung menusuk Kai dengan tatapannya. “Sebenarnya apa maumu?”

“Kenapa?”

“Kau merasa kasihan padaku, kan?”

Kai bingung. “Aku tak mengerti apa maksudmu.”

Chae Yeon mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. “Sampai kapan kau mau ikut campur tentang masalahku, Kim Jong In?”

Kai menatap Chae Yeon yang matanya kini berkaca-kaca. Ia tak mengerti kenapa gadis itu seperti ini. “Han Chae Yeon, aku tak paham—“

“Kau paham!” teriak Chae Yeon. “Kau mau mempermalukan aku, kan? Kau mau balas dendam terhadap apa yang sudah aku lakukan padamu, kan? Silakan lakukan aku bilang, tapi jangan ikut campur dalam kehidupanku!”

Kai terdiam. Ia mulai paham kenapa gadis di depannya ini mulai menangis. “Kau malu karena aku tahu kondisi ibumu?” tanya Kai pelan. “Itukah alasannya kenapa ibumu tadi bilang bahwa baru kali ini ada temanmu yang datang?”

“Kubilang jangan ikut campur,”

“Ibumu sakit, Han Chae Yeon!” teriak Kai kesal. “Dan kau malu akan hal itu?! Kau tahu seberapa parah kondisinya, kan? Kau tahu kalau dia harus dapat ginjal baru, kan? Dia enggak bisa lagi ditolong dengan cuci darah!”

Ara! Aku tahu! Karena itu aku berusaha untuknya. Dan kau orang asing, Kai. Tolong jangan masuk ke kehidupanku!”

“Orang asing?” tanya Kai tak percaya. “Aku temanmu!”

“Sejak kapan kita berteman?!”

“Apa teman hanya bisa terjadi jika kau mengatakan ‘kita berteman’? Aku tahu kau, aku mengenalmu, dan aku peduli padamu. Apa itu tak cukup untuk aku menjadi temanmu?”

Air mata Chae Yeon mengalir deras. Bahunya bahkan bergerak naik turun tak beraturan. Ia tak mau seperti ini. Ia tak mau laki-laki ini melakukannya untunya. Ia tak mau merasakan apapun pada laki-laki ini. Semakin jauh Kai berusaha membantunya, Chae Yeon takut kalau semakin jauh juga perasaannya untuk laki-laki ini.

“Aku tak mau kau membantuku. Kau sudah terlalu banyak membantu,” Chae Yeon menatap Kai dengan tatapan memohon. “Tolong, pergilah dari kehidupanku. Aku mohon, Kai.”

Kai menarik bahu Chae Yeon, menatap gadis itu dari dekat dengan pandangan tajamnya. “Kau ketua kelasku yang sudah dua puluh satu kali memperingatiku. Jadi kau sudah tahu seperti apa sifatku. Aku keras kepala, kau tahu itu? Dan untuk kali ini aku akan keras kepala juga terhadapmu.”

“Kai, aku mohon,”

“Sampai kapan kau akan bekerja untuk mengumpulkan uang? Bagaimana kalau ibumu tak sempat diobati? Kau masih mau melihatnya, kan?”

Chae Yeon menunduk dengan tangis di wajahnya. Kepalanya mengangguk pelan.

“Kalau begitu, biarkan aku membantumu lagi.”

.

.

Suara hak sepatu Chae Yeon terhenti saat ia berada di lantai atas rumah sakit universitas. Ia menatap ke sana kemari mencari seseorang. Ia baru saja pulang kerja dan bahkan belum sempat berganti baju. Tiba-tiba, pandangan Chae Yeon terhenti pada seorang laki-laki yang memunggunginya. Ia melangkah mendekat dan langsung berdiri di sampingnya.

“Kenapa memanggilku?”

Kai menoleh ke kiri dan mendapati Chae Yeon di sampingnya. Senyumnya mengembang. “Kau sudah datang rupanya. Kenapa lama? Aku merasa lumutan di sini.”

“Aah, kau ini. Menunggu begitu saja tidak bisa,” cibir Chae Yeon.

“Aku bisa kok, menunggu. Buktinya sampai sekarang masih bertahan.”

Chae Yeon menatap Kai dengan pandangan tak mengerti. Tapi cowok itu sudah mengalihkan dirinya kepada langit senja.

“Bagaimana? Sudah lihat ibumu?”

Chae Yeon mengangguk lalu tersenyum simpul. “Sudah. Dia kelihatan bahagia dan baik-baik saja.”

Kai ikut tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.”

Chae Yeon mengangguk. Ia sedikit menghela nafas sebelum kembali memandang Kai. “Terima kasih banyak, Kai.”

“Hah?”

“Terima kasih karena sudah begitu baik padaku. Padahal kau tahu sendiri bagaimana sikapku padamu.”

“Aah… tidak usah dipikirkan. Aku aja enggak pernah mikir,” kata Kai. “Yang penting saat ini, semuanya baik-baik saja.”

“Tapi aku serius. Aku benar-benar harus berterima kasih padamu,” kata Chae Yeon. Ia mengangkat sudut bibirnya sedikit. “Kau menolongku saat itu, mencarikanku pekerjaan yang lebih bagus, menyadarkanku, dan sekarang membantu ibuku. Apapun yang kau berikan, aku rasa aku tak bisa mengembalikannya padamu. Jadi aku sungguh-sungguh ingin berterima kasih padamu.”

Kai mengangguk-angguk. “Ya, ya, akan kuterima permintaanmu. Kau ini, aku sungguh tak tahan mendengar ucapan terima kasihmu itu.”

Chae Yeon tersenyum lebih lebar. Ia lalu merenggangkan tangannya dan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Akhirnya bisa bilang juga padamu. Dan maaf karena aku terlalu banyak buruk sangka padamu. Banyak banget pokoknya kesalahanku padamu.”

Kai hanya diam sambil menatap Chae Yeon yang menatap langit oranye dengan manik coklatnya. Rambut panjangnya yang tergerai mengalun seirama dengan angin, membuat Kai menarik lengkungan bibirnya.

“Han Chae Yeon,” panggil Kai. “Kalau ada yang tanya padamu, apa yang paling menyebalkan di dunia ini, kau akan jawab apa?”

“Eh? Hal yang paling menyebalkan?” tanya Chae Yeon sambil memiringkan kepalanya tanda berpikir. “Punya anggota kelas sepertimu.”

“Apa?” tanya Kai tak percaya.

Chae Yeon tertawa kecil. “Benar, kok. Paling menyebalkan karena aku punya anggota kelas sepertimu.”

Kai mendelik. “Dasar, padahal tadi baru berterima kasih.”

“Kau sendiri, apa yang paling menyebalkan untukmu?”

“Aku…” Kai kembali menatap Chae Yeon lalu tersenyum hangat. “Punya ketua kelas secantik dirimu.”

Chae Yeon terdiam. Maniknya menatap manik Kai yang berkilat lembut di sana. Ia tertawa gugup. “Apa itu. Kau bercanda, kan?”

Kai menggeleng. “Tidak. Aku sungguhan bilang kalau kau cantik. Kau bahkan gadis paling cantik di kelas.”

Chae Yeon memalingkan wajahnya. Ia mulai merasa ada sentakan aneh di dadanya.

“Hei, Han Chae Yeon,” panggil Kai. “Kau ingat kata-kataku di ruang OSIS waktu itu? Kalau seseorang menolongmu, mereka terkadang punya maksud tertentu padamu?”

Chae Yeon menoleh cepat lalu menatap Kai tak percaya. “Jadi kau memang punya maksud menolongku?”

Kai tersenyum. “Bingo!”

Chae Yeon mendengus tak percaya. Astaga, jadi semuanya itu karena dia punya permintaan? Kata-kata pujian tadi juga begitu?

“Baiklah, kau mau apa?”

.

.

Chae Yeon membanting loker di hadapannya setelah meletakkan buku pelajarannya di sana. Saat ia menoleh, seorang cowok tengah menatapnya dengan kepala bersender di loker. Ia membentuk kurva sempurna di bibirnya, membuat Chae Yeon juga ingin tersenyum.

“Ada apa?” tanya Chae Yeon sedikit ketus.

“Aish… gadisku ini,” kata Kai sambil mengacak-acak rambut Chae Yeon.

Chae Yeon memukul tangan Kai supaya laki-laki itu berhenti. “Hei, orang melihatmu tahu!”

“Kenapa memangnya? Apa aku tak boleh memegang rambut pacarku sendiri?”

Chae Yeon hanya menggelengkan kepalanya lalu berlalu. Kai sendiri sudah mensejajarkan langkahnya dengan Chae Yeon. Ditatapnya Chae Yeon yang masih terus memandang ke depan. Dirinya tersenyum saat melihat gadis itu selalu fokus pada sesuatu.

“Kau ini memang selalu fokus pada segala sesuatu. Kapan kau hanya fokus padaku?” tanya Kai.

“Hah?” tanya Chae Yeon.

“Kapan kau akan menanyakan keadaanku? Atau setidaknya memperhatikanku?”

Chae Yeon mendengus. “Bukankah harusnya kau yang melakukan itu padaku?”

“Memangnya cewek tidak boleh melakukan itu?”

Chae Yeon tertawa kecil lalu menggeleng tak habis pikir. Kai sendiri malah tersenyum. Kalau Chae Yeon sudah seperti itu, ia pasti akan mempertimbangkannya. Saat Kai kembali menatap ke depan, ia bisa melihat Park Seonsaengnim sedang memisahkan murid perempuan dan laki-laki yang ketahuan sedang bersama. Kadang Kai tak habis pikir dengan guru yang sudah kepala lima itu. Apa ia tak pernah muda? Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di pikiran Kai. Ia menahan Chae Yeon supaya gadis itu tak terus berjalan.

“Kau mau melakukan sesuatu yang gila?” tanya Kai.

“Hah?”

“Melanggar peraturan sesekali itu tak berbahaya, kan?”

Chae Yeon menatap Kai bingung sementara laki-laki itu melambai ke depan.

“Park Seonsaengnim!” panggil Kai.

Merasa namanya dipanggil, Park Seonsaengnim menoleh dan matanya langsung menyipit saat melihat Kai. Tahu bahwa gurunya sudah melihatnya, Kai menarik Chae Yeon yang masih bingung lalu mencium gadis itu di depan gurunya. Chae Yeon yang kaget hanya bisa diam saat bibir Kai menyentuh bibirnya. Beberapa orang di sana juga terpaku melihat apa yang mereka lakukan.Saat suara gurunya menggelegar, Kai melepaskan Chae Yeon lalu tersenyum lebar menatap gadis yang terbelalak itu.

“Han Chae Yeon, kau adalah ciuman pertamaku.”

Alis Chae Yeon terangkat saat mendengar itu. Ia bisa merasakan tangan Kai yang menggenggamnya.

“Sepertinya namamu akan ada bersamaku di buku BK,” Kai tertawa kecil. “Kau mau lari?”

Chae Yeon menatap ke depan dan melihat Park Seonsaengnim yang tengah terburu-buru menuju mereka dengan tongkat panjangnya. Ia kembali memandang Kai lalu balas menggenggam tangan laki-laki itu. “Ayo, kalau begitu.”

Kai tersenyum lebar lalu menarik Chae Yeon pergi sementara gurunya masih terus berteriak dan mengejar mereka di belakang. Chae Yeon mengeratkan genggamannya agar tangan Kai tak lepas darinya. Kai sendiri menggenggam tangan Chae Yeon erat dan tak pernah berpikir untuk melepasnya. Ia akan lari berdua bersama gadis ini dengan tangan yang saling mengait. Kai akan bawa Chae Yeon kemanapun asalkan guru tua itu tak bisa mengejar mereka lagi. Sementara Chae Yeon, ia akan ikut Kai kemanapun laki-laki itu membawanya. Dan asalkan guru killer itu tak bisa mengejar mereka lagi.

.

.

.

End

P.S: Yay, akhirnya siap juga non chapter keempat ini! Sorry lagi nih, buat ceritanya yang kepanjangan. Moga ga lelah membacanya, ya, wkwk. Jangan lupa komen dan berikan kritikmu supaya ke depannya bisa lebih bagus lagi ☺ ❤

 

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Nappeum Namja? (Bad Boy?)

  1. kereennn!!! thor ak suka bgt sama ff ny author. krn jln cerita ny ini tipe ak banget. tema sekolah terus mengusung sifat keras kepala, itu aku banget ak paling gk suka sama hal yg berbau peraturn dan satu2 ny pikiran ku adlh melanggar ny.kkkk dan tadi ak gak sengaja nemu ff ini terus baca sampe abis. ff ny keren krn bawaan bahasa ny elegan, mudah di pahami dan cerita ny juga gk berbelit2. sequel dong author…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s