[EXOFFI FREELANCE] Fake (Chapter 1)

Tittle

Fake

Author

Lessi Lalice

Length

Chapter

Genre

Romance

Rating

PG-13

Main Cast

Park Chanyeol (EXO)

Byun Rahyun (OC/You)

Additional Cast

Byun Baekhyun (EXO)

Cast sewaktu-waktu bisa bertambah

Summary

Kau terlibat dalam sebuah kebohongan yang Chanyeol rencanakan. Sejujurnya kau tidak cukup mengerti, hal apa yang mendorong Chanyeol untuk membohongi semua orang. Pada akhirnya kau mengetahuinya.

Disclaimer

Fan fiction ini murni pemikiran author tanpa plagiat dengan fan fiction manapun.

Author Note

Terima kasih untuk para pembaca yang telah menyempatkan waktunya untuk mampir di FF ini.

Happy Reading!

No,Park. You’re crazy.”

Kau mencibirnya, dan Park Chanyeol justru semakin membujukmu untuk menyetujui tawarannya.

“Ayolah, Ra! Hanya 4 bulan. Apa kau lupa bahwa aku pernah membantumu putus dari lelaki gila waktu itu?”

“Rencanamu kali ini sungguh gila. Aku tidak ingin terlibat dengan kebohonganmu.”

Kau ingin beranjak pergi. Namun Chanyeol menangkap pergelangan tanganmu cepat. Dan kau berakhir duduk di kursi putar yang ada disepanjang meja bar itu lagi.

“Rahyun-ah! Jebal!”

Chanyeol memohon padamu dengan dua tangan yang saling menelangkup di depan dada. Lelaki itu bahkan dengan percuma memamerkan aegyo yang bahkan hanya ia tampakkan sekali di hadapanmu.

Nafasmu terhela panjang.

“Pacar tipuan? It’s not drama..

“..bersikaplah realistis.”

Kau menasehatinya namun dia tidak kunjung berhenti. Yang ada ia semakin membujuk bahkan bisa dikatakan memaksa.

Memang, Chanyeol pernah membantumu untuk putus dari mantan pacarmu yang gila.

Waktu itu bahkan Chanyeol dengan senang hatu berpura-pura menjadi pacarmu. Chanyeol pergi menghampiri mantan pacarmu dengan gayanya yang laki.

Oke, kalian bukanlah teman dekat. Tapi kau sudah terbiasa dengan Chanyeol. Hampir setiap hari ia datang kerumahmu bahkan tak jarang kalian duduk di meja makan yang sama, dan penyebabnya karena Chanyeol adalah karibnya Baekhyun, kakakmu.

Tapi meskipun begitu, kau tidak pernah memanggilnya dengan embel-embel oppa. Yang ada kau menyebutkan marganya, tidak dengan nama panggilannya. Bagimu itu yang paling nyaman.

Sejam yang lalu Chanyeol datang ke rumahmu. Tidak untuk menemui Baekhyun, untuk menemuimu. Ia menyeretmu ke bar untuk mendiskusikan masalah ini.

Kau sempat berfikir Chanyeol adalah pria gila. Ya, karena rencanannya untuk menjadikanmu pacar tipuan juga karena caranya ia membujukmu yang bahkan terdengar seperti paksaan.

“Kau hanya perlu ada bersamaku dalam waktu tertentu. Terutama dihadapan keluargaku.” Chanyeol menjelaskannya padamu.

Matamu terpejam beberapa saat. Kau genggam gelas kaca berisi jus yang Chanyeol pesankan untukmu saat pertama kali datang. Tak berselang lama, matamu terbuka lebar-lebar.

“Baiklah, aku akan mendiskusikannya dengan oppa.”

Itu keputusanmu. Kau menggantungkan putusan yang sebenarnya pada persetujuan Baekhyun. Pada saat itu pula, Chanyeol meneriakkan penolakkan padamu.

“Tidak, itu sama saja kau menyuruhku berhadapan dengan nenek sihir. Kau lupa bagaimana mengerikannya Baekhyun saat bibir kecilnya mengomel tanpa henti?” Tepat saat itu juga Chanyeol mendelik ngeri.

Tanganmu meraih gelas jus dan meneguknya sembari merenung. Selama beberapa saat kalian hanya diam. Kau sibuk menentukan pilihanmu. Dan Chanyeol sibuk membayangkan kemarahan Baekhyun.

Pada akhirnya nafasmu terhembus lagi, dengan sangat berat.

“Keuntungan apa yang bisa ku dapatkan? Tidak adil jik hanya kau yang untung. Kesepakatan harus saling menguntungkan.”

Mata Chanyeol berbinar-binar. Lelaki bertelinga lebar itu bahkan mengguncangan bahumu sebagai tanda ketidakpercayaannya.

“Kau menyetujuinya?”

Kau melirik bahumu yang tengah dicengkramnya secara singkat. Jika kau beranggapan Chanyeol adalah seorang bayi, sepertinya kau tidak salah.

Melihat caranya mengekspresikan emosi, kau bisa langsung menganggap bahwa dia memang seorang bayi. Hanya saja kau perlu menambahkan kata ‘besar’ di belakangnya. Ya, bayi besar.

Dengan sedikit kesal kau menyuruhnya untuk melepaskan cengkraman. Tidak butuh waktu lama ia segera melepaskannya.

“Tentu saja kau juga akan mendapatkan keuntungan. Aku tahu kau suka sekali dengan uang. Jadi, aku akan mengirimkan sejumlah uang pada rekeningmu tiap bulannya.”

Kau tersenyum lebar lalu menyodorkan lengan untuk menjabat. “Berjabat tangan untuk menandai kesepakatan.”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s