[TAO BIRTHDAY PROJECT] The Enternal – Limmy-ya

24

 

 

Tao, Eva (OC) || G || Sad, Surrealism || Ficlet (± 450 words)

Story plot and poster are mine. Happy reading and enjoy ^^

.

.

Pada dasarnya ia tak akan kembali.

.

.

Api di tengah itu berwujud abadi. Setia berkibar pada gelapnya malam gulita yang sedang berkabung dalam hati. Sudut terluar lingkar batu sebagai penyelubungnya, berdirilah manusia bersama rengkuhan penuh rasa dingin. Inginnya betah menetap di hadapannya, seraya bersitatap dengan mimik muka kosong akan ekspresi.

Sudut iris miliknya membentuk kubangan kecil. Tak dirasanya terus berdiam di depannya mampu menimbulkan sesak yang berkecimpung sedari tadi. Ia sadar tiada guna berdiam lama tanpa berbuat pasti.

Karena pada dasarnya ia tak akan kembali.

Kau masih ingat kala kita bersimpuh di hadapan api unggun, Eva? Tao akhirnya menelurkan sepatah klausa. Menghiraukan kesunyian yang hadir bersama alunan melodi khas serangga malam. Telapak tangannya terulur, berusaha meraih kehangatan walau hanya sia-sia belaka.

Kita selalu berlomba-lomba merebut tempat di tengah agar mendapat rasa hangat paling banyak.

Kau yang selalu memenangkan tempat dibanding diriku. ia tersenyum getir. Tenggorokkan pun terasa mengganjal sebab tercekat oleh kecapan pahit. Baritone-nya tersendat barang sesaat, sebelum berganti dengan suara lemah yang tak muncul hingga tiba pada malam ini.

“Sekarang giliranku yang menempati sisi tengah terlebih dahulu, ternyata. Aku tak lagi kalah telak dan terpaksa menahan udara dingin seorang diri.

Namun mengapa aku masih merasa kedinginan? Udara dingin seakan tak kunjung bermurah hati untuk musnah dari sekitarku. sulutan berasal dari potongan kayu bakar itu kian membara, tampak mengabulkan isi hati terdalam akan seorang lemah yang sendiri. Sendiri tanpa kawan menemani nan pereda nyeri di ulu hati. Sang api tengah tersenyum amat manis. Bersikap memberi empati melalui radiasi kehangatan, tanpa pengharapan akan hasil nihil.

Nyatanya, ia tersedu-sedu bersama kepiluan yang mendera.

Mungkin karena kau tidak ada di sini, Eva Aku merasa seperti tengah kehilangan kekasih hidup satu-satunya yang amat kusayang.

Ia salah menduga. Ia salah berpikir matang-matang apalagi menyadari kehadiran sosok nama yang sedari tadi diucapkannya.

Ia tak sendirian. Eva sungguh berada di hadapannya. Bukan dalam wujud biasa kala tertangkap pada lensa pandang miliknya. Wujudnya hanya mampu dipatri oleh kesungguhan manusia yang membutuhkan kehangatan. Dan yang hanya menetap pada tembikar singgasana kala manusia memanggilnya melalui percikan minyak gas bersama gesekan kayu tua.

Huang Zitao, aku ada di sini. Kau hanya perlu membangunkanku selayaknya membuat api hangat di ruang keluarga. ucapannya terulur oleh angin yang kian membirukan dirinya. Ikut menyusup diam-diam di sela surai kehitaman milik orang di depan. Berusaha meredam isakan pahit darinya.

Sulutan gradasi merah nan biru masih kokoh menegapkan diri. Dengan gejolak kian membesar seiring presensinya yang hilang ditelan detik demi detik. Eva berganti sendiri. Ditinggal olehnya, Tao, yang bersiap mengantungkan diri pada takdir. Kala memilih opsi untuk menyusul kepergian melalui pemikiran sempit. Lantas tak lekang setelah semenit lampau, simfoni melaui danau di tepi perkemahan terperangkap tengah gaduh oleh sosok yang menenggelamkan diri.

Di dalamnya, Tao bergulat dengan persetujuan takdir yang akan menimpa. Akankah berhasil menyusul Eva ataupun mengapung hingga ke hutan belantara.

Finish.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s