[TAO BIRTHDAY PROJECT] Barmicide

Barmicide – Park Lizzy

TAO, Baekhyun & OC || Romance, AU || PG-15

Bagiku, pernikahan adalah sebuah pertaruhan. Bagaimana kau bisa mempertaruhkan seumur hidupmu berkomitmen dengan satu orang tanpa ada jaminan apapun?

“Kau tampak semakin cantik kalau sedang panik,” katanya.

“Hentikan Zitao,” jawabku kesal.

“Pipimu semakin merah, seperti mengenakan blush on tebal,” ledeknya.

Aku mencubit lengan yang selalu menjadi tempatku  bersandar karena aku terlalu pendek untuk mencapai bahunya.

Alunan musik mengiringi langkahku dan Zitao menuju ke altar gereja. Aku melihat wajah-wajah yang familiar bagi kami berdua.

Pertama aku langsung mengenali Tan Laoshi, guru SD kami. Memoriku  menampilkan kilasan ketika Tan Laoshi menugaskanku dan Zitao untuk bermain drama menjadi sepasang pengantin. Meskipun drama telah selesai, Zitao masih menganggap dirinya adalah suamiku. Zitao mengajakku berjalan bersama setiap pergi dan pulang sekolah karena menurutnya itulah yang dilakukan suami istri, mereka selalu pergi bersama.

Zitao mengenggam tanganku lebih erat, begitu kami melewati barisan Yixing, mantan pacarku di SMP. Aku masih merasakan naluri protektif Zitao setiap kali ia melihat Yixing di dekatku. Yixing adalah pacar sekaligus patah hati pertamaku. Ketika kami putus, aku langsung menangis  sampai membasahi lengan seragam Zitao.

Aku menengok ke barisan yang berada di sebelah kiriku. Ada Xuanyi, mantan pacar Zitao di SMA.

Ketika SMA, Zitao berevolusi menjadi idola sekolah. Sedangkan demi bisa mendapatkan beasiswa, aku belajar keras dan aktif berorganisasi. Salah satunya adalah menjadi ketua panitia pesta dansa kelulusan sekolah. Sebagai ketua, aku terlalu fokus memikirkan kelancaran acara, sehingga aku tidak memiliki pasangan dansa.

Zitao tampak sangat tampan pada hari pesta dansa. Ia mengenakan jas berwarna abu-abu dengan kemeja putih yang dibuka satu kancingnya. Berbanding terbalik dengan aku yang lusuh penuh noda cat dari backdrop panggung.

Aku baru hendak mengambil minum saat acara berakhir, ketika seseorang menepuk bahuku.

“Bolehkah aku berdansa denganmu?” Zitao mengulurkan tangannya.

“Zitao, aku bukan pasanganmu,” jawabku datar.

“Ayolah, Hanli. Aku sudah berdansa dengan Xuanyi semalaman. Sekarang izinkan aku berdansa dengamu di lagu terakhir ini. Kau sudah bekerja begitu keras, kau harus menikmati masa SMA,” Zitao memaksa .

Aku tidak ingat lagu apa yang diputar pada saat kami berdansa. Namun aku ingat betul perasaan tenang ketika aku bersandar di dada Zitao, seperti aku bisa berbagi semua beban hidupku bersamanya.

Lampu di lantai dansa semakin redup dan tiba-tiba musik berhenti. Belum sempat aku mencerna apa yang sedang terjadi, Zitao menautkan bibirnya ke bibirku dan aku menyambut tanpa ragu. Orang bilang ciuman pertama memang selalu canggung, tapi tidak akan terlupakan. Kurasa itu benar dan aku beruntung membaginya dengan orang yang tepat.

Aku dan Zitao berpisah ketika kami memasuki masa kuliah. Aku mendapat beasiswa kedokteran di Singapura, sedangkan Zitao secara menerima tawaran beasiswa seni di New York.
Tak jauh dari barisan Xuanyi, Yoora  sedang mencoba mengabadikan momen dengan kamera ponselnya. Yoora adalah teman sekamarku ketika kuliah, sekaligus perancang gaun yang aku kenakan hari ini. Aku pernah berpacaran dengan kakak Yoora, seniorku di jurusan spesialis jantung, selama dua tahun dan kami putus karena kakak Yoora ikut wajib militer di Seoul.

Tamu istimewa lainnya adalah Woojin, teman sekamar Zitao di New York. Aku dan Woojin berkenalan tahun lalu, ketika Yoora mengundangku menghadiri peragaan busana pertamanya di New York. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Zitao, maka aku mengajak  mereka untuk ikut.

Acara  Yoora berlangsung dengan sukses, tepuk tangan mengiringi kemunculan Yoora dari balik panggung.  Yoora membungkuk sebentar dan ia membuat pengumuman, “Terima kasih. Malam ini bukan hanya tentangku saja, kakakku juga ingin membuat pengumuman,” ujarnya seraya memberi tanda kepada Baekhyun untuk keluar dari antara barisan penonton.
Baekhyun naik ke atas panggung dengan membawa bunga. Aku mengira bunga itu untuk Yoora sampai Baekhyun mengambil microphone dari tangan Yoora…

“Hanli..” ia memanggilku dengan mantap.

Jantungku bergejolak, aku berusaha mengendalikan diri .

“Dua tahun kita berpisah dan aku tidak pernah bisa melupakanmu. Aku bisa menyelamatkan nyawa banyak orang, tapi hanya kau yang bisa menyelamatkanku. Hanli, maukah kau menikah denganku?” tanyanya sambil berlutut dengan sebuah kotak cincin.

Aku sangat berharap inilah saatnya Zitao bertindak sebagai suamiku lagi dengan menghentikan lamaran gila ini. Namun kenyataan berkata lain..

“Terima, terima..” teriak Zitao.

Aku menatap Zitao dengan tajam, ia berusaha menghindari kontak mata denganku.
Hadirin yang lain pun ikut meneriakkan hal yang sama.

“Baiklah,” jawabku sambil memberikan jari manisku untuk dipasangkan cincin oleh Baekhyun.

Malam itu aku tidak bisa menahan rasa kesalku kepada Zitao. Woojin sedang pergi, jadi hanya ada aku dan Zitao di apartemen.

“Zitao, bisakah kita bicara?” tanyaku serius.

“Bukankah kita sedang berbicara sekarang?” balas Zitao iseng.

“Mengapa kau memanas-manasiku untuk menerima Baekhyun?”
Zitao memutar bola matanya, berpikir keras.

“Kau adalah suami pertamaku, kau ada saat patah hati pertamaku, kau memberikanku dansa dan ciuman pertamaku. Lalu mengapa kau tidak mau menjadi yang terakhir dalam hidupku? Apakah kau punya perasaan yang sama sepertiku atau hanya aku yang membuat semua khayalan ini di dalam kepalaku?” ujarku sambil menangis di lenganZitao.

“Tugasku adalah menjagamu dan selalu membuatmu bahagia. Aku hanya akan melepasmu ketika aku merasa sudah menemukan orang yang bisa menggantikan tugasku. Ketika Baekhyun datang, kurasa Tuhan sudah mengabulkan permohonanku,”

“Kau tidak pernah memikirkan perasaanku?”

Zitao membelai rambutku dan menggenggam tanganku, “Percayalah Hanli, aku hanya ingin membuatmu bahagia.”

Ketika Zitao menggenggam tanganku, aku memperhatikan ada cincin yang melingkar di jari manisnya.
“Zitao.. Cincin itu dari siapa?”

Belum selesai pertanyaanku, Woojin muncul di belakang kami. Secara refleks aku menengok ke belakang dan melihat cincin yang sama tergantung pada kalung yang dikenakan Woojin.
“Hanli..”

“Zitao, kau tidak perlu menjelaskan apapun kepadaku,” bisikku.

***

Seminggu sebelum pernikahanku, aku dan Mama mengunjungi makam Papa.

“Seandainya Papa bisa mendampingiku berjalan menuju altar,” gumamku sambil membersihkan nisan Papa.

“Mengapa kau tidak meminta Zitao saja?” tanya Mama tiba-tiba.

“Zitao?” aku kebingungan.

“Kau tahu mengapa Papa mengizinkan Zitao untuk menemanimu berjalan ke sekolah tiap hari?”
Aku menggeleng cepat.

“Beliau percaya Zitao bisa menjagamu dengan baik,”

Aku mengembalikan memoriku yang melayang dan melihat Mama sedang menyeka air mata dengan saputangan. Aku tahu itu adalah air mata kebahagiaan.

Aku dan Zitao sudah sampai di depan altar.

Zitao melangkah mundur,

“Terima kasih,” kataku sambil mengecup pipinya.

Baekhyun sudah menungguku di depan altar untuk pemberkatan pernikahan kami. Ia mengulurkan tangannya dan aku menyambut dengan mantap. Semantap keyakinanku mengarungi hidup dalam suka dan duka bersamanya.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s