[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Run Without Legs – Presiousca

26

Baekhyun & Ahreum || Romance, Angst || G
.

.

Baekhyun POV
.
Pandangan pertama nyatanya sangat menakjubkan.
Kami berdiri di aula universitas yang luas, di antara kerumunan mahasiswa baru. Terpisah oleh puluhan kepala, terhalang oleh puluhan senyuman. Tapi dialah yang paling bersinar. Aku tak lepas menatapnya sampai dia tahu.
Aku tertangkap basah memandangi wajahnya, itu memalukan. Tapi yang lebih gawat lagi adalah, dia balas tersenyum. Sangat tipis tapi tak akan pernah terlupa.
Sangat indah sampai kakiku tertarik untuk melangkah. Mendekat kepada gadis manis itu lalu berhenti dua meter di depannya. Aku gemetaran sampai ke dalam-dalam, untunglah dia tidak tahu.
“Kau memakai gelang warna biru.” Ucapku, lalu dia mengangguk. Semakin mengembangkan senyumannya.
Semakin menjatuhkan aku ke dalam jurang pesona.
“Kau juga memakainya.” Tanganku terangkat sebentar untuk melihat bahwa dia tidak salah ucap.
Gelang kami sama berwarna biru…
“Mau satu tim denganku?” Ajaknya begitu enteng, melambungkan anganku menabrak atap.
Siapa yang bisa menolak? Aku bahkan akan tetap mengajaknya menjadi tim ku meskipun warna pita kami berbeda. Sejurus aku mengangguk cepat, mengembanglah senyumannya menjadi tawa.
Aku berani bertaruh bahwa senja di seluruh dunia-pun, tidak akan bisa lebih hangat dari senyumannya.
“Namaku Byun Baekhyun. Senang bisa satu tim denganmu.” Ujarku lalu mengangkat tangan, mengundang salam.
Dia membalasnya. Menggenggam tanganku yang pastilah amat dingin pula berkeringat.
“Han Ahreum. Mari bekerja keras untuk tim.”
.
.
Berpikir selamanya menjadi teman adalah sesuatu yang sangat menyebalkan.
Kami menjadi rekan di saat lelah. Menjadi musuh disaat salah seorang salah, dan akan tertawa saat kesedihan melanda. Ahreum selalu berkata bahwa aku dilahirkan untuk membawa kebaikan. Dia bilang, aku selalu membuatnya tertawa dan dia menyukai semua leluconku.
Dia juga pernah bilang bahwa, aku adalah teman terbaiknya…
“Jangan mengambil fotoku terus.” Dia protes setelah jepretan ke sepuluh.
Tidak masalah kalau dia benar marah, lagi pula Ahreum tidak pernah bisa marah padaku. Hanya kepadaku saja tingkat toleransinya itu dipatok tinggi.
“Lumayan untuk pengusir tikus.” Aku bercanda tentu saja. Ahreum juga pasti tahu, jadilah dia tertawa dan bukannya marah.
Lihat? Dia memang tidak pernah bisa marah padaku. Tentu saja, karena aku adalah teman terbaiknya.
“Eey, kau tahu’ kan aku menolak banyak lelaki karena mereka hanya menyukai wajah cantikku.”
Kalau aku boleh jujur, Ahreum memang cantik. Sangat cantik…
“Aku yakin kau juga setuju kalau aku cantik. Ya kan?”
Hatiku bilang iya, tapi kepalaku menggeleng. Aku masih meninggikan gengsi karena dalam pertemanan kami, tidak ada budaya saling memuji.
“Ya. Kau sangat cantik kalau disejajarkan dengan berang-berang.” Aku tertawa kering.
Mengira kalau dia akan memukul bahuku seperti biasa kalau aku mengejeknya, tapi kali ini tidak. Ahreum hanya diam dan tidak mau menatapku sampai rasa bersalah menggerogoti hati. Aku lumayan kelimpungan dengan sikapnya karena tidak biasanya dia begini.
Dia membuang nafasnya sebal. “Aku tidak ingin menjadi temanmu lagi!”
“Apa?”
“Aku tidak mau jadi temanmu lagi. Aku serius.”
Kami sudah berteman sejak empat tahun menuntut ilmu di universitas yang sama. Aku mengenalnya, pun dia juga mengenalku. Aku hafal segala mimik wajah Ahreum, begitu pula saat dia sedang berpura-pura marah.
Dan aku tahu detik ini-pun, dia tidak sedang berpura-pura. Dia sedang serius dengan ucapannya. Gawat.
“Hey, kenapa marah? Menurutku berang-berang juga tidak terlalu buruk.”
“Baekhyun aku serius! Menjadi temanmu itu sangat membosankan! Aku ingin-” Ucapannya terputus oleh keraguan, aku tahu itu.
Terlihat dari bagaimana bibirnya bergerak tidak aturan. Begitu jelas dari tatapannya yang jatuh padaku dengan agak takut.
Ahreum seharusnya adalah gadis yang percaya diri, begitulah dia yang aku kenal.
Dia membasahi bibirnya lalu dengan mantap menatap mataku. Terasa menggetarkan hati sampai ke tulang-tulang.
“-kita berpacaran saja. Bagaimana?”
Ahreum seharusnya adalah gadis yang percaya diri, begitulah dia yang aku kenal. Tapi, aku tidak pernah menyangka bahwa dia bisa seberani ini. Gampangnya, dia menyatakan perasaannya kepadaku dan melupakan semua gengsi pertemanan kami.
Lalu apa yang bisa aku lakukan? Lihatlah, si laki-laki pecundang ini hanya bisa terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.
Seperti robot yang dipenuhi signal kebahagiaan, kepalaku mengangguk kaku sebagai jawaban.
.
.
Berpikir selamanya menjadi sepasang kekasih adalah hal yang sangat menyebalkan.
Empat tahun berteman, tiga tahun berpacaran. Genap sudah semua susah dan senang yang telah kami lewati. Terlampau banyak pula air mata dan tawa yang aku dan Ahreum saling bagi.
Aku memandangi wajahnya yang sudah semakin dewasa. Sudah tidak ada pipi tembam yang bisa aku cubit saat gemas. Cara Ahreum dalam menatap juga sudah bukan cara seorang gadis dalam menatap. Dia sudah berubah sepenuhnya menjadi wanita matang.
Wanita mengagumkan yang sedang menangis setelah kupasangkan cincin di jari manisnya.
Ya. Aku melamarnya di hari jadi kami yang ke-tiga.
Siapa yang sangka kalau dia akan menerimanya sampai menitikkan air mata? Pastilah rasa bahagianya itu meluap-luap tak tertahankan.
Begitu pula denganku. Aku sama bahagianya dengan dia, tapi pantang bagiku untuk menangis.
“Jadi, wajah yang akan aku lihat setiap bangun tidur itu adalah wajah jelekmu? Serius?” Aku bercanda lagi.
Dan lagi, aku ingatkan pada kalian bahwa Ahreum tidak akan pernah bisa marah padaku.
Maka dari itu, dia mengangguk sambil tersenyum dan masih menangis pula.
Dasar wanita ini…
Untung saja aku sangat mencintainya.
.
Author’s POV
.
Baekhyun membuka mata, serasa baru terbangun dari tidur yang lama.
Ada seorang dokter berkacamata duduk di hadapannya untuk tersenyum hangat. Memberikan segelas teh hijau yang bukan main pahit dengan aroma herbal yang kental. Baekhyun meminumnya, sedikit banyak mengurangi pusing.
“Sesi Anda sudah berakhir, Baekhyun ssi. Anda sudah sembuh.” Ucap sang psikiater yang sudah menangani Baekhyun selama sebulan belakangan.
Lelaki itu menuntunnya keluar untuk menemui kakak kandung Baekhyun, Byun Baekbeom yang menunggu di depan. Psikiater itu memberikan sebuah map kepada Baekbeom lalu mengangguk.
Itu adalah surat pernyataan kesediaan Baekhyun untuk melakukan terapi melupakan.
Baekbeom membukanya.
Membaca bahwa terapi yang dijalani adiknya sebulan belakangan sudah berakhir. Proses hipnotis mirip cuci otak itu akhirnya selesai sudah. Kini, Baekhyun sudah tidak akan menderita karena sakit cinta.
Adiknya tidak akan hidup menderita lagi karena belum bisa melupakan istrinya yang telah tiada. Karena sekarang Baekhyun sudah dibersihkan dari semua kenangan dengan istrinya.
Mendiang Han Ahreum, yang meninggal satu tahun setelah menikah karena kecelakaan.
.
END

 

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s