[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Love Is Blind


Love is Blind – Jkyung

Baekhyun & OC || Romance || T

Jika orang-orang disekelilingku bertanya apa warna favoritku, aku akan dengan tegas menjawab warna hitam.

Kenapa? Bukankah hitam itu warna yang kelam? Ya benar, seperti hidupku. Hitam, kelam, gelap, tanpa warna. Itulah deskripsi kehidupanku.

Semenjak aku lahir sampai dewasa sekarang, aku tak pernah melihat warna lain selain warna hitam. Ya kalian benar, aku buta.

Saat orang lain berkata, langit itu berwarna biru ketika cerah dan menguning ketika senja. Yang aku lihat langit itu hitam.

Ketika orang lain berkata, taman itu hijau dan penuh dengan warna-warni bebungaan. Tetap saja, bagiku taman itu hitam.

Aku tak bisa menyalahkan takdir akan hal ini. Aku hanya perlu menerima semua ini dan tetap menjalani hidupku layaknya orang pada umumnya.

****

“Baekhyun, kau mau kemana?” Aku baru saja keluar dari kamarku dan segera mencari sumber suara ibuku yang kuyakini tengah menyiapkan makan malam dimeja makan.

“Aku akan pergi ke taman.” Jawabku.

“Tapi ini sudah sore, memangnya kau mau kemana? Oh ibu tau, kau pasti akan bertemu wanita itukan?”

Ibu selalu saja menggodaku. Aku yakin iya sedang tersenyum ketika melihat wajahku yang mulai memerah.

“Ibu berhentilah menggodaku. Aku pergi dulu ya.”

“Jangan pulang terlalu malam. Dan pergilah dengan supir, oke?” Aku hanya menganggukan kepalaku dan bergegas meminum segelas jus yang ibu berikan sebelum berlalu keluar rumah.

****

Aku tengah terduduk disebuah kursi taman sambil menunggu wanita itu tiba. Wanita itu adalah orang yang berhasil membuatku sering keluar rumah hanya untuk sekedar mencari udara segar. Wanita itu adalah wanita yang selalu membuatku salah tingkah ketika bersamanya. Dan wanita itu adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat hatiku berdebar kencang ketika berada didekatnya.

Wanita itu adalah Kim Nara. Wanita yang beberapa minggu lalu tak sengaja bertemu denganku di taman ini. Saat aku tengah terduduk sendirian ditempat ini, Nara tak segan-segan duduk disampingku dan berbicara kepadaku. Tak seperti orang lainnya, yang hanya menatapku sambil berbisik-bisik membicarakan kekuranganku.

Awalnya aku sedikit risih ketika dia terus menerus bicara tanpa henti. Meskipun aku hanya membalasnya sepatah dua patah kata, dia tak pernah keberatan akan hal itu.

Dan setelah beberapa minggu ini, aku sering bertemu dengannya dan aku mulai menyukainya. Entahlah apa namanya, aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini. Dan aku menyimpulkan bahwa aku menyukainya. Ah ralat, aku mencintainya.

Tapi aku takut untuk mengutarakan perasaanku. Banyak sekali pertanyaan yang berkecamuk didalam pikiranku. Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia akan menerima kekuranganku? Apakah dia mau berpacaran dengan lelaki sepertiku?

“Baekhyun.” Aku terperanjat kaget ketika seseorang menepuk pundakku. Orang itu adalah Kim Nara.

“Kau tau? Aku sudah duduk disini dari 5 menit yang lalu dan kau tak sadar itu. Sebenarnya apa yang sedang kau lamunkan?” Lanjutnya.

“Tidak ada.” Jawabku sekenanya.

“Byun Baekhyun memang pandai berbohong.” Aku yakin Nara pasti sedang mengomel tak karuan. Entah kenapa aku suka ketika dia sedang seperti itu.

“Sudahlah. Katanya hari ini kau ingin pergi ke namsan tower.”

“Oh iya. Tapi aku ingin kesana nanti malam saja. Bagaimana?” Ujar Nara.

“Ya terserah kau saja. Lalu sekarang kita kemana?” Tanyaku.

“Bagaimana kalo kita pergi ke kedai baru diseberang sana? Aku dengar eskrim disana sangat enak.” Ujarnya dengan penuh semangat.

“Ayo berangkat.” Nara langsung menggandeng tanganku dan mengajakku pergi ke kedai tersebut. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya.

****
Setelah dari kedai, aku dan Nara bergegas menuju Namsan tower. Disana, kami hanya duduk dan meminum segelas kopi hangat sambil menikmati semilir angin malam.

Aku sangat ingin mengutarakan perasaanku padanya. Tapi sekali lagi, aku terlalu takut. Aku hanya menghembuskan nafas lelah dan menyenderkan tubuhku dikursi.

“Baekhyun.” Ujar Nara.

“Apa?”

“Apa kau sakit?” Aku merasakan tangan Nara berada diatas dahiku.

“Tidak, memangnya kenapa?” Tanyaku.

“Hari ini kau lebih banyak diam. Ah tidak, kemarin-kemarin pun kau selalu diam.” Ujarnya sambil terkekeh pelan. Aku hanya tersenyum mendengar suara tawanya.

“Nara, apakah.. apakah kau tak malu pergi denganku?” Tanyaku ragu.

“Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku tak malu. Kau tampan, ah tidak sangat tampan. Kau juga sangat baik. Kenapa aku harus malu?” Percayalah. Aku sangat suka dengan kejujurannya. Entah jujur atau terlalu polos terkadang dia tak pernah berfikir terlebih dahulu sebelum mengutarakan apa yang ada dalam isi kepalanya itu.

“Tapi kau tau kan, jika aku ini buta.” Ucapku pelan.

“Byun baekhyun.” Aku merasakan Nara tengah memegang kedua pipiku. Entah kenapa hatiku tiba-tiba berdegup kencang.

“Dengarkan aku baik-baik. Semua orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Meski kau tak bisa melihat dunia dengan kedua matamu, kau masih bisa melihat dunia dengan hatimu. Aku sama sekali tak malu. Dan kau juga tak perlu malu. Tak usah dengarkan apa kata orang lain. Cukup jalani hidupmu, oke?” Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya barusan.

“Nara.” Aku menggenggam kedua tangan Nara yang berada diatas pipiku. “Aku mencintaimu.” Lanjutku.

Hening. Tak ada jawaban dari Nara. Hanya ada suara orang yang sedang berlalu lalang. Nara melepaskan kedua tangannya yang berada dipipiku. Aku hanya bisa menghela nafas. Aku tau ini akan terjadi. Aku terlalu menaruh harapan pada Nara. Dasar Byun baekhyun bodoh.

“Baekhyun”

“Tidak. Maafkan aku. Kau tak perlu menjawabnya. Sungguh. Lupakan saja apa yang ku katakan barusan. Kau tak perlu-” aku membelalakkan kedua mataku ketika aku merasakan sesuatu menempel diatas bibirku. Kalian tau? Nara menciumku.

“Kau terlalu banyak bicara.” Nara tertawa pelan. Dan aku hanya bisa diam masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

“Kau-kau” ucapku terbata-bata.

“Aku juga mencintaimu.” Cicit Nara.

“Apa?”

“Aku tak ingin mengulanginya.” Ujar Nara sambil memukul pundakku.

“Boleh aku memelukmu?” Tanyaku sambil tersenyum manis kepadanya.

“Tentu saja.”

Aku pun memeluk Nara dengan erat, begitupun sebaliknya. Aku tak menyangka Nara juga mencintaiku. Ini adalah kejadian yang sangat membahagiakan dalam hidupku. Kurasa, mulai sekarang dihidupku terdapat satu warna tambahan, yaitu Nara. Karena Nara adalah warna bagi kehidupanku.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s