[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Has No Limit?


Has No Limit? – titisanpolar
Baekhyun x OC

Romance, Angst || G || Drabble

.

Aku menatap birunya langit yang terpantul dari kaca jendela di kamarku. Bahkan di hari yang secerah ini, aku merasakan jantungku terlilit mendung juga terhujam derasnya hujan. Telapak tangan terasa beku, bahkan kelopak mataku sulit untuk berkedip. Apa sebesar ini pengaruh tidak adanya dia dalam hidupku?

Kim Minji.

Ini baru saja tiga kali dua puluh empat jam aku tidak menatap mata teduhnya, tidak melihat lengkungan indah bibirnya, tidak mendengar lengkingan omelannya, tetapi aku merasa seperti tengah terbelenggu oleh duri kesalahanku sendiri. Begitu dingin, sepi, dan menyakitkan.

Tidak seperti biasanya, aku tertidur lewat tengah malam dan terbangun saat jarum pendek jam berada di angka delapan. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti yang kuharapkan. Biasanya akan ada bibir yang akan mengecup pipiku jika aku selalu mengeluh agar tidak dibangunkan. Biasanya akan ada yang melempar wajahku dengan guling saat aku kembali menaikkan selimutku di saat fajar. Bahkan sekarang aku hanya mendengar dentingan jam yang seolah menertawai penyesalanku.

Setiap sudut tempat tinggalku terbias bayangannya. Setiap benda yang kulihat terbekas sentuhannya. Setiap pakaian yang kukenakan mengingatkanku pada kehangatannya. Aku pikir aku gila. Gila karena merindukannya.

Ketika itu kami tengah duduk bersama dengan secangkir kopi sebagai pelengkap malam yang dingin. Ia menonton drama di televisi, lalu aku berurusan dengan pekerjaanku. Hingga tiba-tiba ia bertanya untuk pertama kalinya.

“Kapan kau bisa meluangkan waktu berhargamu itu untuk menikahiku?”

Aku mengalihkan pandanganku dari lembaran kertas yang berada dalam genggamanku. Menatap wajahnya yang hanya berjarak tiga jengkal dari wajahku. Bisa kulihat raut kegelisahan yang terpancar dari binar matanya.

“Bukankah selama ini kau tak pernah mempermasalahkan itu? Selama aku berada di sisimu, tidak akan menjadi masalah, kan?”

Ia tertawa perlahan, menatapku dengan tatapan aneh, lalu mengalihkan pandangannya saat air di pelupuk matanya terjatuh. Meninggalkan kilap bilur di pipinya. Melihatnya bersedih seperti itu, hatiku juga terluka.

“Apa kita harus jadi menjalani hubungan tanpa status yang jelas seperti ini seumur hidup?” Ia kembali menatapku setelah ia mengusap jejak air matanya dengan punggung tangan, lalu setengah berteriak dengan wajah memerah.

“Kupikir setelah melewati semua ini kau akan berubah. Apa aku harus bersembunyi dari kenyataan bahwa aku terlalu sakit menerima semua ini darimu?”

“Apa aku pernah menjanjikan sebuah pernikahan padamu?” Tanpa sadar aku bertanya. Wajah Minji pias karena terkejut, bibirnya membuka menutup beberapa kali, mungkin ingin membalas ucapanku tetapi ragu akan ucapannya. Kualihkan pandanganku pada lantai marmer yang aku pijak. Tak kuasa menatap matanya yang memerah dan berair.

Aku bimbang, ada dua sisi dalam diriku yang saling mengejek tindakan yang telah kulakukan.
Minji berdiri setelah melemparkan cangkir kopi yang ia genggam tepat mengenai dadaku. Meja di depannya ia tendang hingga berkas-berkas pekerjaanku berserakan. Aku ingin berteriak marah dan menatapnya nyalang, namun suara kerasnya menginterupsiku.

“Inikah akhirnya hubungan kita setelah satu setengah tahun ini?” Matanya terus saja mengeluarkan air mata. Ia berteriak di tengah tubuhnya yang bergetar dan suara yang tersendat, “Lalu apa arti keberadaanku di matamu selama ini?!”

Aku tersadar, semua tidak akan membaik jika kami sama-sama saling meneriaki. Aku mencoba menenangkannya tapi ia terus mendorongku menjauh darinya. Ia terus berjalan mundur dan melempar benda yang ia temui. Hingga aku mendengar pintu berdebum lalu isakannya tak lagi aku dengar setelah itu.

..

..

Kecanggungan itu ada saat untuk pertama kalinya selama beberapa tahun ini aku bertatap muka dengannya. Dia masih sama seperti dulu, memberikan senyuman manisnya pada orang yang ia temui, senyum yang dulu selalu ada di setiap pagi dan malamku. Kunikmati detak jantung yang seolah memaksa untuk keluar dari tempatnya saat aku melihat wajah seseorang yang selama ini kurindukan.

Kupikir ini terlalu luar biasa saat mataku bertemu pandang dengan miliknya. Seakan aku menemukan ketenangan di tengah kerisauan yang telah kualami.

Rambutnya tergerai melewati bahunya, mengkilap karena ditempa sinar senja sore itu. Wajahnya terlihat lebih tirus dan membuatnya terlihat dewasa, tiba-tiba aku ingin melihat perubahan-perubahan lain yang ada pada dirinya. Sungguh lancang diriku.

“Minji-ah, bagaimana kabarmu?”

Dia berkedip sekali, tidak luput dari pandanganku dia menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaanku. “Sangat baik, dan kau sendiri?”

Aku berusaha sebaik mungkin dalam membalas senyuman manisnya, aku tidak tahu harus menanggapi apa terhadap jantung yang mengetuk dadaku terlalu cepat dan keras. “Yeah, aku sedikit berantakan. Jika kau ingin tahu.”

Ia menaikkan satu alisnya, rambutnya yang terlihat lebih panjang semenjak terakhir kami bertemu itu sedikit menghalau pandangannya. Aku ingin menyentuh surai itu dan menyelipkannya di belakang telinga mungilnya.

“Dalam hal?”

“Semuanya. Tepatnya setelah kau pergi meninggalkanku.”

Tawa merdunya terdengar, baru aku sadari betapa aku merindukan suara ini. Namun senyum yang terlihat seperti bukan milik Minji, gadis itu tersenyum  meremehkan padaku. Atau aku hanya salah lihat?

“Meninggalkanmu? Bukankah kau yang secara halus mengusirku?”

Ia menghentikan tawanya saat aku meraih telapak tangannya untuk digenggam.

“Aku ingin kau menjadi istriku dan selalu berada di sisiku, bersediakah kau?”

Sejenak ia bertahan dalam keheningan, menatap dalam mataku dan aku menangkap raut kegelisahan di wajahnya. Ia memasang senyum yang tidak seperti biasanya, terlihat kaku dan dipaksakan.

“Bukankah sangat lucu? Dulu aku mengemis padamu untuk menikahiku, apa roda telah berputar sekarang?”

Ia menarik kembali tangannya dari genggamanku, kehangatan yang melingkupi jemariku menghilang.

Lihatlah betapa rendahnya aku saat aku menangis di depannya. Air mataku jatuh saat melihat punggungnya, terlihat rapuh namun tetap berdiri tegak, seolah menegaskan bahwa ia baik-baik saja tanpaku.

“Maaf, aku takut dikecewakan untuk kedua kalinya,” bisiknya setelah melewatkan satu menit dalam keheningan. “Dan aku tidak ingin lagi menyakiti istrimu, Baekhyun.”
Salahkah jika hati terjatuh pada orang selain belahan jiwamu?

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s