[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] EX


EX. – ANS

Baekhyun & OC ║Romance ║T
Ting … Dentingan itu terdengar dari arah pintu masuk. Seorang gadis muda dengan gaun hitam selutut baru saja memasuki ruangan cafe, langkahnya sedikit terburu karena menghindari tetesan air hujan di ujung plafon. Lalu, hanya dalam hitungan detik seorang pria mengikuti langkahnya memasuki café.

Tangannya sibuk menepis-nepis jas mahalnya yang tampak sedikit basah.

Rona wajahnya mulai berseri ketika matanya bertemu pandang dengan seorang karib semasa putih abu. Ia tak segan menyalaminya dan melakukan pelukan singkat ala pria. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan kurva sempurna. Entah mataku yang bermasalah atau tidak, tapi kulihat kulit pipi putihnya itu kini dihiasi semburat warna merah. Meski begitu, teman-temannya yang sudah kukenal baik satu persatu itu masih saja menggodanya.

“Gadismu sangat cantik,”

“Hei Nona! Kenapa kau mau berkencan dengannya ?”

Mereka masih saja asik menertawakannya, padahal dapat kulihat jelas ia sudah mulai risih.
Dirasa sudah cukup dengan sapaan pertemuan pertama mereka setelah lima tahun terakhir, pria itu kini menarik tangan gadisnya dengan lembut. Sedikit menjauhi area keramaian dan menetapkan sudut cafe sebagai pilihan. Ia berinisiatif mengambilkan minuman lebih dulu untuk gadisnya. Sebuah sirup berwarna merah. Kemudian ia kembali melangkah pergi, menghampiri meja dan membawa secangkir kecil cocktail untuknya. Sudut bibirku spontan terangkat ketika baru saja aku menemukan satu perubahan dari dirinya.

Bahkan kurasa, hal itu bukan satu-satunya perubahan yang kutemui. Tubuhnya yang kurus kering kini terlihat tampak sedikit berisi. Rambutnya yang dulu seringkali kutarik kasar karena selalu tampak kusut kini terlihat rapi dengan potongan rambut belah pinggir. Hitam pekat, kuyakin sebelum kemari ia sudah mempersiapkan penampilannya dengan baik.

Atau mungkin, dia memang seperti ini sekarang.
Walau dalam jarak yang tak begitu dekat, tapi aku bisa melihat dengan jelas garis wajahnya yang kini tampak di sekitar mata. Pertanda bahwa dirinya memang sudah bertambah usia. Tak ada kantung mata atau lingkar panda seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Hobinya menonton film dan bermain games sampai larut malam itu membuat ia hanya menyisakan sekitar tiga jam untuk tidur. Tentunya pertemuan itu memang sudah cukup lama, empat atau lima tahun yang lalu di acara perpisahan sekolah kami.

“Kau tidak akan menyumbang suaramu ?” Seorang temanku bertanya, aku hanya menggeleng. Kembali mengingat bagaimana dulu aku bersama pria di sudut cafe yang tengah meneguk cocktail itu seringkali menghabiskan waktu di studio sekolah untuk menyanyikan beberapa lagu. Aku ingat sebuah lirik yang pernah dinyanyikannya untukku, pada suatu sore dengan langit jingga di atap sekolah,
‘Remember geudaega himdeul ttaemyeon hangsang

Nunmureul useumgwa bagwatjyo

Naeobtneun goseseon uljimayo Don’t cry..’

Aku baru ingin kembali berkutat pada memori itu, namun cepat kuurungkan ketika tak sengaja arah pandangku bertemu dengan iris hitam elangnya. Oh sekarang aku bahkan kehilangan mata coklat terang yang seringkali merajuk minta ditemani ke kedai ice cream. Dia memang sudah banyak berubah.
Gadis gaun hitam itu ikut melihat kearahku ketika mata sang pria terlalu lama menjatuhkan pandangannya pada objek lain. Aku baru menyadari sekarang aku adalah objek lain yang tak sengaja ditemui matanya. Hatiku sedikit merasa ciut ketika berusaha paham akan hal itu.

“Kulihat sedari tadi kau diam saja. Ada ap..”

Aku menggeleng. Menepis kalimat pertanyaan temanku yang bahkan belum selesai diutarakannya. Aku terlalu fokus menyibukkan diri mengaduk machiato yang sudah mulai mendingin. Telingaku dengan jelas menangkap suara langkahan kaki yang kian mendekat. Dadaku berdegup kencang tak beraturan, aku sempat mengutuk diri sendiri karena tidak bisa mengontrol kemampuan verba yang kumiliki.

Bahkan hanya untuk berpura-pura mengaduk kopi saja tanganku tidak bisa berhenti gemetar karena gugup.

Aku menoleh dan mendapatinya sudah berada tiga langkah dari posisiku. Melihat penampilannya saat ini, aku tahu dia sudah cukup mapan. Tak ada lagi sisa masa remaja yang berantakan karena terlalu senang bermain. Image mengenai dirinya yang hobi menghibur tergantikan dengan wajah tampan khas pria dua puluh tiga tahun. Aku mencium aroma maskulin yang tak kutemui ketika dulu berkali-kali kupeluk erat tubuhnya saat menonton film bersama. Aku masih mengingatnya, nyaris semua bagian mengenai apapun yang terkait tentangnya

“Bae Soo Jin? Kau datang?” Dia tersenyum. Seolah tidak mengingat apapun mengenai hari terakhir kali kita bertemu. Atau bahkan mungkin dia memang melupakan semuanya.

“Ya. Kau juga, apa kau punya banyak waktu Byun Baekhyun? Bukankah kau begitu sibuk?” Aku mencoba untuk tertawa menyindir kesibukannya, tapi apa daya aku hanya bisa tersenyum kecil. Aku tak dapat mengontrol degupan jantungku untuk berbuat lebih.

“Kau masih sama. Selalu sok tahu dengan hidup orang lain.”

Aku diam. Kalimatnya seolah memasok informasi pada otakku bahwa dia masih mengingatku. Mengenai sifatku. Cukup membuatku kembali terpaku mengenai kalimat seperti apa yang pantas untuk merespon kalimatnya.

“Sendirian?”

Aku cukup terkejut ketika dia memutuskan untuk kembali membuka pembicaraan. “Aku bersama teman-temanku.”

Dia mengangguk.

“Bersama kekasihmu?”

Seharusnya tidak kutanyakan hal seperti itu. Aku tahu responnya sama saja dengan menikamkan pisau belati pada hatiku sendiri. Dia tersenyum dan melambaikan tangan izin untuk kembali pada gadisnya.

Dia tampak baik-baik saja. Amat baik-baik saja. Aku tidak munafik bahwa aku kecewa dengan Baekhyun yang bisa dengan mudah tersenyum dan berbicara padaku ketika aku begitu kesulitan hanya untuk memilih kalimat yang tepat atau sekedar mengontrol diriku sendiri dengan baik.

Satu tetes cairan bening di pelupuk mataku berhasil lolos. Aku mengingkari janjiku sendiri. Untuk tidak menangis di tempat yang tidak ada Baekhyun. Untuk lirik lagu yang Baekhyun nyanyikan untukku. Maaf untuk kesalahpahamanku Oppa, maaf karena membiarkanmu pergi. Aku menyesal.

*

“Dia pergi. Apa peranku sudah cukup sampai di sini?” tanya Ga Eun seraya bangkit berdiri.
Baekhyun menunduk. Ia menenggak habis isi gelas cocktailnya. Namun, nyatanya ia tidak juga merasa tenang. Masih ada hal mengganggu yang membuatnya ingin kembali mencari gadis itu dan mengutarakan hal yang sebenarnya terjadi.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Baekhyun meraih kunci mobilnya yang tergeletak begitu saja.

Namun, Ga Eun dengan cepat menggeleng. “Tak perlu. Hubungi aku jika kau butuh bantuanku lagi.” Setelahnya ia berlalu. Meninggalkan Baekhyun yang masih dalam posisinya. Menggenggam erat sebuah gantungan kunci pemberian mantan kekasihnya, Soo Jin.

Kkeut~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s