[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Deep Side – Annonly

16

 

Baekhyun & Maretha (OC) || Romance, Angst, Au || G

.

.

Memandang sebuah kertas inkjek yang tercetak dengan gambar berupa diriku, selagi pinggiran pada kertasnya agak menguning, lusuh, dan robek sedikit (pertanda bendanya memang sudah lama tercetak), Maretha tersenyum, tadi dia mengambilnya dari dompet di kantongku_hasil paksaan sih, tapi aku tertawa ketika ia mulai membanding-bandingkannya dengan wajahku.

“Dulu kamu punya mata belo, sekarang kamu sipit.” Ia mengangkat foto lalu disejajarkan denganku, dia melirik ke arahku lalu membelalak, “eh, kamu jangan tidur disini sipit!”

Wah dia mulai ngelantur rupanya.

“Kamu juga dulu belo Reth, tapi sekarang apa? Kecil juga ‘kan.”

“Ya ya ya.”

Melihat respon Maretha yang terlalu apatis dan disambung dengan bersenandung asal, aku kembali tertawa. Rasanya aku ingin sekali menyiramnya dengan kopi, tapi sayang, dia terlalu cantik.

Kini dia telah beralih pada foto satunya, mulai berkoar mengenai rambutku yang beginilah, wajahku yang begitulah, seperti inilah, seperti itulah, melalui bahasa sarkasme licik yang jatuhnya diakhiri dengan aku yang selalu tertawa.

Entahlah, aku selalu suka cara bicara luar biasanya.

Well, aku masih ingat ketika lulus sekolah pertama dulu. Sumpah ya, dulu aku masih bau kencur, mana tahu yang jelek dan bagus. Kalau tahu, mungkin di buku tahunan tidak akan pernah ada foto Byun Baekhyun yang bergaya rambut mangkuk dan poni tak-ra-ta sama sekali.

“Walaupun Baekhyun kecil lebih tampan, tapi aku suka Baekhyun yang sekarang kok.” Maretha yang sudah selesai dari aktivitas memandang foto-foto lawasku, lantas irisnya mulai memandangku tanpa kedip_aku yakin matanya akan perih lima detik kemudian. Lalu menyesap latte-nya ketika aku mendadak menyemburkan tawa. Baru sadar kalimatnya mengandung apa.

“Tumben sekali kau menyebut namaku, Reth.”

“Hm … Sepertinya rasa cintaku bertambah ketika umurmu pun bertambah.” Mulai lagi, aku merasakan sebuah buncahan disekitar perut, rasanya bergelinyar tak karuan. Ah, aku tak suka rasa ini. Kenapa rasanya masih sama seperti yang pertama kali?

Dengan polosnya ia nyengir kuda nil, dia tahu tidak yah kalau aku sedang sekarat. Ah, dasar perempuan pengagum.

“Apa? Karena aku sudah sukses?” balas aku sedikit menohok.

“Bukan,” tukas Maretha cepat sambari menjauhkan mulutnya dari bibir cangkir. Omong-omong, tadi dia minum lagi, “karena aku berhasil menjadi penyemangatmu, sampai kau jadi bintang besar. Seperti sekarang, seperti impianku.”

Iya, ‘aku menjadi seorang bintang’ adalah mimpimu. Bagaimana Maretha, kau sudah suka?

“Sekarang kau punya banyak orang yang mencintaimu, semakin kau tumbuh semakin banyak yang mencintaimu. Makanya aku juga menambah rasa cintaku.”

Huh … Maretha memang begitu, guys.

Aku membenarkan letak topi hitam yang kupakai, pura-pura berformalitas. Lantas bibirku mulai bersuara tanpa adanya refleksi.

“Karena apa?”

Aku tahu jika Maretha sempat terbengong karena pertanyaanku adalah sejenis retoris. Baik untukku maupun dia.

“Karena aku juga exo-l, tentu.”

Benar ‘kan? Dia akan mengulang hal yang sama, seperti dahulu.

Maretha tiba-tiba berdiri. “Jangan gundah gitu dong. Tenang saja, exo-l selalu mencintaimu, kok.” Kemudian menepuk pundakku dengan senyuman, dan ingin menepuk kepalaku tapi tidak jadi karena diameter meja tidak memungkinkan tubuhnya untuk sampai, alhasil dia hanya mendengus sebal_karena aku juga sedikit menghindar sih.

“Sudah ngobrolnya? Bagaimana kalau kita mulai saja.” Kris datang dengan kue tart berserta lilin, meletakannya di meja kami dan melepaskan apron yang melilit di tubuhnya.

Aku melirik Maretha, sedikit kecewa sebab ketika Kris datang matanya berubah sepenuhnya bersinar, lebih terang dibanding saat melakukan konversasi denganku barusan.

“Aku tepat waktu bukan?” Pemuda itu mengelus puncak kepala Maretha dengan gemas, sebelum duduk di sampingnya.

“Yes, chef. Wait a just moment, lima menit lagi jam 12.”

Oh, aku sampai tidak sadar kalau Maretha juga pakai cincin yang sama dengan punyanya Kris.

Rasanya aneh, kalau aku cemburu.

“My buddy, sebelum para fansmu yang mengucapkan duluan, bagaimana kalau aku_”

“Belum jam 12, Reth.”

“Baiklah, buddy.”

Dia hanyalah sahabat, sahabat yang aku cintai tanpa dimiliki. Mungkin cerita hidupku termasuk dari sederet romansa yang klise dan picisan, sahabat jadi cinta? Baiklah, kuanggap memang begitu.

.

.

“Bisa kau buka topimu itu , Baek.”

“Maaf, tapi aku tidak mau yah.”

Kris berdecak sebentar, lalu menimpali “Ayolah, tidak akan ada fans yang lihat. Lagipula restoran ini sudah kututup spesial untukmu.”

Sekilas aku melirik ke Kris. Namun aku memilih tak acuh. Lebih peduli melanjutkan makan-makanku.

“Aku akan semakin cinta kalau kau bersedia membuka topimu, buddy.”

Huh …

Maretha memang begitu, guys. Dia cinta sahabatnya, tapi tanpa pure ketertarikan antara pria dan wanita.

“Baiklah, baiklah. Akan ku lepas.”

Dan sebab itu lah aku jatuh cinta kepadanya. Tragis sekali.

Fin.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s