[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Spring, Ring, and Baekhyun

Spring, ring, and Byun Baekhyun – Cussonsbaekby
Baekhyun x OC
Romance, Angst || G || Drabble
.

Tidak pernah terpikirkan olehku akan jatuh pada seseorang seperti Byun Baekhyun. Lelaki dengan marshmallow di wajah, madu di bibir, dan ribuan bintang di netranya.

Ketika pemikiranku masih sepolos dan sesederhana anak kecil, pernikahan hanyalah tentang dua orang yang saling mencintai yang disatukan, mengenakan pakaian terindah saat pengucapan janji, dua buah cincin dan sebuah ciuman.

Nyatanya semua tidak sesederhana itu. Pernikahan adalah sebuah keberanian, keseriusan, dan langkah awal dalam menjalani jenjang kehidupan bersama orang asing, bukan hanya tentang sebuah kasih sayang yang nyatanya bisa terkikis oleh waktu dan ruang.

Sedari kecil aku bercita-cita mengenakan gaun putih dengan ekor panjang, berenda bunga dengan hiasan indah di sekeliling pinggang. Rambut panjang yang digelung dan sebuket bunga di tangan. Sungguh tidak menyangka hari ini akan tiba, waktunya aku mewujudkan keinginan masa kecilku, berdandan bagaikan Cinderella yang tersihir Ibu Peri.

Lelaki yang tertangkap oleh inderaku terlihat sangat manis dengan setelan tuksedonya, kemeja putih dengan dasi kupu-kupu hitam, dibalut dengan jas senada yang membuatnya terlihat begitu gagah.

Baekhyun. Byun Baekhyun. Si manis yang aromanya seharum musim semi, yang tatapannya sehangat mentari pagi.

Lelakiku. Yang datang dengan uluran tangan kebaikannya, memberi warna pada hidupku yang monokrom. Bertanya padaku hal-hal konyol, bertingkah aneh dan mampu membuatku memutuskan untuk menjadi orang bodoh yang jatuh cinta.

Senyumannya selalu terlihat tulus, begitu manis di mataku. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah Tuhan sedang berada dalam mood yang baik ketika tengah menciptakannya?

“Hari ini aku menikahi seseorang yang begitu berbeda, namun begitu sama. Kita berdua adalah dua orang manusia yang melengkapi sesamanya. Tidak pernah terpikirkan bahwa hatiku bisa sepenuh sekarang ini.

Aku suka pantai, kau suka gunung. Aku suka kopi susu, sedangkan kau lebih suka wine, aku suka berbicara, sedangkan kau berbicara hanya secukupnya. Aku suka memeluk, dan kau suka dipeluk.

Tapi, kita sama-sama suka cola dan kita sama-sama jatuh cinta.

Hari ini, di hadapan Tuhan, keluarga dan sahabat, aku bersumpah untuk mencintaimu dalam segala keadaan, hingga rambut kita berubah abu, dan kita menua bersama. Bersediakah kau?”

Aku telah diberi takdir baik oleh Tuhan dengan dipertemukan dengan Baekhyun di tengah hujan deras, disaksikan seekor anak anjing yang merintih kedinginan. Aku yang tengah merunduk mengelus bulu kotor setengah basah milik si anjing terkaget saat sesuatu tiba-tiba menempel di sekitar pinggul sampai pahaku.

“Apa kau selalu memberi pemandangan indah milikmu seperti ini pada orang lain?” Suara merdu itu terdengar di antara gemericik hujan. Ketika pandangan kami bertemu, binar jenaka terpancar di matanya yang sipit. Fokus mataku beralih ke bawah, ternyata lelaki di depanku tengah mengaitkan sweater putih berbulunya di sekitar pinggulku.

“Apa maksudmu?” tanyaku sembari berniat melepas simpul tali sweaternya, namun tangannya menahan tanganku. Membuatku harus kembali bersitatap dengannya.

“Biarkanlah seperti itu, apa kau tidak sadar bahwa dress kekurangan bahanmu itu sobek di bagian pantat?” Mendengar perkataannya membuatku membatalkan niat untuk melepas sweater itu. Setelah melempar senyum padaku, lelaki itu berjongkok dan membawa anak anjing kotor itu ke dalam gendongannya.

Aku bersin dan ia mengalihkan pandangannya padaku, lalu tertawa. Aku iri mendengar tawanya, lupa entah kapan terakhir kali aku tertawa selepas itu.

“Kau manis sekali saat bersin.” Itu katanya. Terdengar sedikit aneh olehku. “Ada nomor teleponku di saku itu, hubungi aku jika sweater itu sudah selesai kaupakai, ya?”

Dia meninggalkanku sendiri, di tengah bising dan derasnya tirai hujan. Aku merogoh saku sweater milik lelaki itu dan menemukan sesuatu.

Byun Baekhyun
021-000-6104

Pertemuan kedua kami juga saat air dari langit mulai berjatuhan. Hujan gerimis waktu itu. Aku baru saja diusir dari mobil oleh seorang lelaki yang mengencaniku. Karena sedikit mabuk oleh segelas wine, aku terpaksa duduk di trotoar, lagi-lagi sesuatu menutupi pahaku yang terbuka, ketika aku membuka mata, sebuah jas berwarna hitam berada di pangkuanku, menjuntai ke bawah hingga menenggelamkan lututku.

Sudah banyak lelaki aku kencani hingga aku tak bisa menghafal suara bahkan aroma mereka. Tapi entah kenapa aku mengenali aroma ini, aroma sweater itu. Benar saja, dia lelaki dengan aroma musim semi. Byun Baekhyun.

“Kau memang suka pamer tubuh, ya?” Itu kalimat pertamanya sebelum duduk di sebelahku dan membelai wajahku. Ini bulan Desember, tangannya sedingin es saat menyentuh pipiku, tapi hatiku menghangat saat mendapat senyuman tulus darinya.

“Carilah lelaki yang baik,” ucapnya, mengusap lembut pipi kanan sampai sudut bibirku yang sedikit perih, efek ditampar seorang lelaki. Jantungku berdegup-degup sampai rasanya sakit. Anggap saja aku sedang terlena, entah karena pengaruh alkohol atau aroma Baekhyun yang membuatku candu. ”Atau denganku saja?”

Aku adalah orang yang mudah menyukai orang, mudah menerima orang lain, tapi tidak akan membiarkan mereka mengetahui hidupku. Namun aneh sekali, Baekhyun masuk dengan sendirinya dan tahu jika aku kedinginan, menghangatkanku, tanpa kuberi tahu.

“Aku bersedia.”

Aku yakin bibir Baekhyun tengah mengembang saat ini. Matanya pasti berbinar layaknya anak kecil yang mendapatkan hadiah natalnya. Nyatanya Byun Baekhyun sudah mendapatkan hadiah yang dia inginkan sekarang. Wajah penuh suka cita seperti inilah yang selalu ingin kutatap sepanjang hidupku.

Tubuhku terasa panas, apakah ini karena gaun yang kupakai? Atau karena aku melihat tangan lentik Baekhyun yang begitu lembut saat menyentuhku itu tengah memakaikan cincin ke jemari wanita lain?

Aku tahu jika aku berantakan. Aku tidak perduli orang-orang menatapku aneh karena pakaianku yang lebih meriah dari sang mempelai, atau karena dandananku yang mungkin luntur karena air mata. Yang kuinginkan adalah melihat lelakiku bahagia, aku menginginkan akhir yang bahagia untuknya.

“Apa kau akan tetap berkencan dengan orang lain meskipun telah memilikiku, Jill?” tanya Baekhyun waktu itu, selepas kita menyentuh satu sama lain. Dia memelukku sambil mengelus perutku dari belakang, memberiku sebuah perasaan hangat.

“Kau mengenalku, Baekhyun.” Kecupan di pelipis kudapat. Dia memelukku begitu lembut, aku takut jika aku tidak bisa melepas pelukan ini. Aku takut jika suatu saat nanti aku merindukan pelukan Baekhyun.

“Kalau begitu, semoga kau bahagia dengan pilihanmu ini, Jill. Selalu ingat, aku mencintaimu.”

Aku adalah pendosa. Aku kotor. Aku adalah sampah.

Aku tidak ingin Baekhyun memiliki wanita seorang pecandu, tidak ingin paru-parunya rusak karena asap rokok dariku, tidak ingin tubuhnya sakit karena tubuh lacur sepertiku.

Iklan

4 pemikiran pada “[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] Spring, Ring, and Baekhyun

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s