[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] (IM)Perfection

(Im)Perfection–chrisae
Baekhyun, Baekhee (OC), Kai || Drama || G

“Ya! Bangun, pemalas!”

Baekhyun membuka kedua matanya dan sinar matahari yang tajam langsung menusuk matanya. Di sebelah tempat tidurnya, seorang gadis menatapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Ini masih pagi, Baekhee,” gerutu Baekhyun sambil kembali menarik selimutnya malas.

Dengan sekali tarik, Baekhee sudah menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh Baekhyun. “Kamu pikir sekarang jam berapa?! Ini sudah jam sepuluh!” omelnya dengan suara tinggi. “Ayo!”

“Ayo apa?” tanya Baekhyun, berusaha mengumpulkan seluruh nyawanya.

Wajah Baekhee menampilkan ekspresi kesal sekaligus kecewa. “Oppa lupa?!” seru Baekhee, meluapkan seluruh kekesalannya. “Ini hari ulang tahunku! Kamu janji mau mengajakku ke taman bermain!”

“Oh,” gumam Baekhyun singkat. “Oke, aku mandi dulu kalau begitu.” Tanpa memperlihatkan rasa bersalah, Baekhyun bangkit dan melewati Baekhee begitu saja, mengabaikan omelan-omelannya. Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Baekhee masih menguliahi Baekhyun tentang betapa pelupanya Baekhyun, dan pentingnya mengingat janji.

“Yang penting kan kita sudah berangkat,” jawab Baekhyun cuek. Pandangannya tetap lurus ke jalan, sama sekali tidak melihat Baekhee yang mengerucutkan bibir kesal.

“Untung aku sayang padamu, kalau tidak, sudah kuhajar sampai babak belur!” ujar Baekhee sambil mengepalkan tangannya.

“Tahu, kok. Semua perempuan juga sayang padaku,” jawab Baekhyun, yang dibalas dengan pukulan ringan Baekhee di lengannya.

“Dasar narsis.”

“Tapi benar, kan?”

“Ya, ya, terserahlah,” Baekhee melambaikan tangannya tak acuh.

Tak lama kemudian, mereka telah sampai di taman bermain. Begitu turun dari mobil, Baekhee langsung menuju loket penjualan tiket dengan cepat, bahkan Baekhyun pun kesulitan menyamakan langkahnya. “Akhirnya kesampaian juga pergi ke taman bermain dengan oppa paling tampan sedunia,” seru Baekhee ketika memasuki area taman bermain. Sudut bibir Baekhyun tertarik ke atas, membentuk senyuman tipis yang langsung disembunyikannya begitu Baekhee menoleh ke arahnya. “Aduh, semua wahananya sepertinya asyik. Kita ke mana dulu, ya?”

“Bagaimana kalau wahana yang tidak terlalu ekstrim dulu, misalnya..”

“Rollercoaster!” seru Baekhee. Tangannya menunjuk ke arah wahana rollercoaster yang berjalan dengan kecepatan tinggi. “Itu rollercoaster paling cepat di Korea, lho. Pasti seru! Ayo!” Tanpa menunggu, ia sudah berjalan cepat ke arah rollercoaster.

“Tapi, Baekhee..” Baekhyun sudah akan melontarkan protes, tapi akhirnya ia juga berjalan mengikuti Baekhee.
***
Matahari sudah tergelincir ke arah barat, membuat warna oranye kemerahan di langit. Saat itu, Baekhyun dan Baekhee sudah dalam perjalanan pulang.

“Terima kasih untuk hari ini,” ujar Baekhee dengan wajah yang masih cerah walaupun terlihat lelah, mau tak mau membuat Baekhyun ikut tersenyum. “Tapi lucu deh, waktu kamu muntah setelah naik rollercoaster. Memangnya kamu setakut itu, ya? Hahaha!”

“Itu karena aku belum sarapan,” kilah Baekhyun, merasa malu dengan tingkah konyolnya.

“Tapi jangan kapok ya aku ajak naik rollercoaster lagi,” canda Baekhee, masih dengan tawanya yang mampu membuat jantung Baekhyun berdetak dua kali lebih cepat daripada seharusnya.

“Ya,” jawab Baekhyun singkat. Apa sih, yang tidak akan kulakukan untukmu?, Baekhyun melanjutkan dalam hati.

“Tapi aku benar-benar senang deh,” celetuk Baekhee. “Sejak Appa dan

Eomma membawaku, aku, yang dibuang ibuku sendiri, jadi punya keluarga. Appa yang sangat menjagaku. Eomma yang selalu perhatian denganku. Dan Oppa yang bisa diandalkan.. seperti Baekhyun-oppa.”

Senyum di wajah Baekhyun perlahan menghilang. Perkataan Baekhee seolah menamparnya, mengingatkannya bahwa dia adalah seorang kakak untuk Baekhee, tidak lebih. Dan sudah seharusnya juga dia tidak memiliki perasaan yang lebih untuk Baekhee, adiknya, walaupun mereka bukan saudara kandung.

Baekhee masih terus melanjutkan ceritanya tanpa menyadari perubahan di wajah Baekhyun.

Dan Baekhyun hanya menjawabnya dengan anggukan singkat, hanya agar Baekhee tahu ia masih mendengarkan ceritanya.

“Ah iya, kita langsung pulang ke rumah saja, ya,” ujar Baekhee tiba-tiba.

“Bukannya tadi kamu mau mampir ke toko kue dulu?” tanya Baekhyun. “Kamu kan selalu beli kue cokelat setiap ulang tahun.”

“Hmm.. Iya, sih. Tapi aku ada janji dengan Kai jam tujuh nanti. Katanya dia mau traktir aku, sebagai hadiah ulang tahun,” cerita Baekhee. Kemudian dia mencondongkan kepalanya ke arah Baekhyun dan memelankan suaranya, “Sepertinya dia mau menyatakan cinta padaku. Bagaimana menurutmu?” tanyanya, kemudian terkikik mendengar pertanyaannya sendiri. “Ah, nanti malam saja aku beli kuenya, lalu kita makan bersama Appa dan Eomma juga. Bagaimana?”

Baekhyun hanya mengangguk singkat sambil memaksakan seulas senyum. Satu lagi alasan kenapa ia tidak boleh memiliki perasaan pada Baekhee. Saat ini, Baekhee sudah menyukai seorang teman sekelasnya, Kai. Baekhyun sudah beberapa kali bertemu dengannya ketika mengunjungi rumahnya, bahkan orangtuanya pun sudah mengenal Kai dan tampak sangat mendukung hubungan mereka.

Tidak akan ada kesempatan untuknya.

Begitu tiba di rumah, Baekhee segera berlari masuk ke kamarnya, kemudian menghabiskan satu jam berikutnya dengan berdandan, menurut perkiraan Baekhyun. Jam tujuh tepat, Kai sudah datang dan duduk di ruang tamu bersama Baekhyun.

“Hyung hanya berdua dengan Baekhee? Ahjumma dan Ahjussi kemana?” tanya Kai berbasa-basi.

“Ada acara keluarga,” jawab Baekhyun singkat. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke dalam rumah dan berteriak, “Baekhee! Lama sekali sih dandannya! Sudah satu abad, tahu!”

“Sebentar, cerewet!” balas Baekhee dari dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian, Baekhee sudah keluar dari kamarnya dengan mengenakan dress hitam dan stilleto dengan warna sama. Baik Baekhyun dan Kai terdiam begitu melihat Baekhee. “Cantik,” puji Kai, mengalihkan perhatian Baekhyun dan Baekhee.

“Terima kasih. Aku rasa kau lebih pintar menilai daripada seseorang,” ujar Baekhee, pandangannya menyindir Baekhyun.

“Ya ya, terserahlah,” balas Baekhyun sok cuek. “Sekarang lebih baik kalian berangkat. Supaya tidak pulang terlalu malam,” ujar Baekhyun, mencari-cari alasan.

“Iyaaa,” sahut Baekhee dengan tatapan jengkel, tapi pandangannya melembut ketika melihat Kai. “Ayo,” katanya, kemudian berjalan dengan Kai menuju mobilnya. Ketika Kai membukakan pintu untuk Baekhee, Baekhyun merasakan sesuatu seakan retak di dalam dirinya. Sebelum ia bisa mencegahnya, ia sudah memanggil Kai, membuat Kai menoleh ke arahnya.

“Ada apa, Hyung?” tanya Kai.

“Itu..” Baekhyun berhenti sejenak. “Tolong jaga Baekhee baik-baik.”

Kai tersenyum ke arahnya. “Tentu saja, Hyung.” Kemudian ia sendiri masuk ke bangku pengemudi dan menjalankan mobilnya.

Baekhyun masih memandangi mobil Kai hingga menghilang di belokan. Untuk beberapa saat dia masih mematung. Kemudian berbalik dan menutup pintu.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s