[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] My best (boy)friend – PinkyLinn

[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] My best (boy)friend – PinkyLinn

Baekhyun & OC || Romance || G

“Cie yang selalu berduaan. Kenapa kalian gak jadian aja?” ucap salah seorang teman sekelasku. Aku sudah sangat biasa mendengar ucapan itu keluar dari mulut teman-temanku. Aku, Kim Rae Na, dan sahabatku, Byun Baekhyun, memang tidak terpisahkan. Kami memang sudah berteman sejak kecil dan kemana-mana selalu bersama seperti sepasang kembar siam.

“Ya, Rae Na. Kau sedang melamun?” Tepukan lembut terasa di pundakku dan lamunanku langsung buyar.

“Ah ternyata kau. Iya aku sedang melamun,” jawabku dengan senyum.

“Jangan kebanyakan melamun. Sebaiknya kau perhatikan guru yang sudah mau mengajar itu,” ucap Baekhyun sambil mengacak rambutku pelan. Aku dan Baekhyun memang sudah tidak canggung melakukan skinship seperti itu karena aku sudah menganggapnya sahabat baikku.

Aku mengangguk dan fokus pada guru yang mulai mengajar.

*

“Baekhyun-ah, aku suka kamu dari dulu. Apa kau mau menjadi pacarku?” Aku mendengar suara seorang perempuan dari tempat persembunyianku. Ya, aku sedang bersembunyi di balik pilar. Aku sendiri tidak tahu alasan aku sembunyi seperti ini.

“Maaf, Eun Ha-ssi. Aku tidak bisa menjadi pacarmu karena sudah ada satu perempuan di hatiku yang tidak bisa digantikan oleh siapapun,” jawab Baekhyun. Dia suka dengan siapa? Kenapa dia tidak pernah cerita padaku? Tiba-tiba aku merasa kesal. Aku mendengar isak tangis dari perempuan itu. Kemudian aku mendengar suara langkah kaki menjauh.

“Rae Na-ya!” Aku dikagetkan dengan kepala Baekhyun yang tiba-tiba sudah ada persis di depan wajahku.

“Ya! Kau membuatku kaget tahu!” kataku sambil memegangi dadaku saking kagetnya.

“Ngapain kau sembunyi seperti maling begitu? Yuk ke kantin, aku sangat lapar,” kata Baekhyun yang langsung mengambil tanganku dan membawanya ke dalam genggamannya. Sekali lagi aku ingatkan, skinship seperti ini sudah sangat biasa untuk kami.

Saat aku dan Baekhyun sedang menyantap makanan kami, tiba-tiba ada segerembolan perempuan yang duduk di hadapan kami.

“Baekhyun-ah, kau sedang makan apa?” Jenny, perempuan yang terkenal paling centil satu sekolah sekarang sedang berbicara pada Baekhyun dengan nada menggoda. Jenny memang sudah lama menyukai Baekhyun, tapi cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Entah kenapa sekarang kesal melihat tingkah Jenny itu.

“Kau punya mata kan? Kau bisa lihat sendiri aku sedang makan apa,” jawab Baekhyun tanpa melihat wajah Jenny dan tetap fokus pada makanannya.

“Ya! Beraninya kau bicara begitu padaku. Ini pasti gara-gara kau,” Jenny menunjukku dengan wajah memerah kesal. “kau pasti yang menyuruh Baekhyun untuk bersikap begitu pada perempuan lain kan? Kau pasti mau memonopoli dia!”

“Kau kira Baekhyun barang?” Aku merasa kesal dengan ucapan Jenny barusan.

“Tidak usah menanggapi nenek lampir seperti dia,” ucap Baekhyun dengan menekankan kata nenek lampir pada Jenny. Aku tersenyum puas saat melihat Jenny dan gengnya berlalu begitu saja setelah mendengar perkataan Baekhyun.

“Rae Na-ya, akhir pekan ini kau ada waktu?” tanya Baekhyun sambil menghabiskan makanannya.

Aku nampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaannya. “Hmm, tidak. Aku sedang dibebastugaskan dari menjaga toko.”

“Bagus kalau begitu. Ayo kita jalan-jalan,” ajak Baekhyun sambil tersenyum.

*

Hari Sabtu datang begitu cepat. Hari ini aku akan pergi jalan-jalan dengan sahabatku. Dia tidak mengatakan padaku akan pergi kemana. Aku berpikir jika hanya pergi dengan Baekhyun, aku dapat memakai pakaian yang biasa saja.

“Rae Na-ya, kau kedatangan teman,” teriak ibuku dari luar kamar. Siapa temanku yang datang pagi-pagi begini? Aku segera keluar kamar untuk menemuinya.

Mataku membulat sempurna saat melihat sosok teman yang datang ke toko roti sekaligus rumahku ini. “Je-Jenny?”

“Kau kaget melihatku datang ke rumahmu?” Jenny tersenyum sinis.

“Ngapain kau kesini?”

“Aku dengar kau akan pergi dengan Baekhyun? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” katanya masih dengan senyum sinis.

“A-apa maksudmu?” tanyaku yang mulai takut dengan ucapannya.

“Ahjumma, aku mau minta ijin untuk pergi dengan Rae Na,” ucapan Jenny berubah sopan saat berbicara dengan ibuku. Aku sudah memberi kode-kode pada eomma untuk menolaknya, tapi eomma tidak menerima kodeku itu.

Jenny mengenggam lenganku dengan keras dan aku berusaha melepaskan genggamannya. “Yah! Kau mau apa? Yah Jenny!” aku didorong paksa untuk masuk ke dalam mobilnya.

*

“Jenny! Yah Jenny bukakan pintunya!” Jenny dan gengnya membawaku ke toilet sekolah dan mengunciku dari luar. Aku sudah menggedor-gedor pintu kamar mandi tapi hasilnya nihil. Sekolah sangat sepi pada hari Sabtu dan tidak akan ada orang yang mendengar teriakanku. Handphoneku diambil oleh Jenny dan aku sudah pasrah sekarang.

Saat bulir-bulir air mata mulai jatuh, aku merasakan langkah kaki mendekat pintu kamar mandi. “Tolong aku! Aku terkunci di kamar mandi!”

“Rae Na-ya!” suara yang sangat aku kenal terdengar dari luar kamar mandi.

“Baekhyun-ah, tolong aku!” air mata mulai jatuh lagi saat aku mendengar suara sahabatku itu. Pintu kamar mandi langsung terbuka dan aku langsung menghambur ke arah Baekhyun. Mataku sudah banjir dengan air mata dan Baekhyun membelai rambutku perlahan.

Hangat. Nyaman. Aku mulai merasakan jantungku hendak keluar dari tempatnya.

“Maaf aku datang terlambat. Tadi aku melihat Jenny datang ke rumahmu dan aku mengikuti kalian. Aku tidak akan memaafkan dia!” kata Baekhyun kesal. Dia segera membawaku keluar dari sekolah.

“Kau masih mau jalan-jalan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan karena aku memang butuh hiburan sekarang.

Mobil yang membawaku mulai berjalan menjauhi kota dan terlihat lautan luas yang sangat indah dipandang. “Kita mau ke pantai?” tanyaku antusias saat melihat pemandangan di sekitarku. Baekhyun hanya diam tidak menanggapi ucapanku.

Hari sudah mulai gelap, tapi mataku melihat secercah cahaya yang ada di pantai. Kami segera turun dari mobil. Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan pemandangan di hadapanku.

Lampu warna-warni yang membentuk tulisan LOVE sudah ada di hadapanku. “A-apa ini?”

“Rae Na-ya, mungkin kau akan kaget mendengar pengakuanku. Tapi sejak dulu, perasaanku padamu sudah lebih dari seorang sahabat. Aku suka padamu. Hanya kau perempuan yang ada di hatiku sejak dulu,” dia berhenti sejenak dan berjalan menghampiriku sambil membawa sekuntum mawar pink. “Apa kau mau menjadi pacarku?” sekuntum mawar pink itu diberikannya padaku.

Aku teringat bagaimana Baekhyun menyelamatkanku tadi. Dia yang selalu ada di sisiku walaupun dunia tidak memihakku. Apa aku juga punya perasaan yang sama dengannya?

Aku mengikis jarak di antara kita. “Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini berubah. Tapi yang aku tahu, aku juga menyukai sahabat bawelku ini,” kataku dengan senyum yang mengiringi berubahnya status kami.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s