Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki

gottabeyouposter.png

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us. Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh. Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl |02. The Boy |03. First Impression |04. Bad Behaviour |[5] Let’s Play | [NOW] 06. Kill Her |

.

.

[ PLAY]

.

I only wanna be with you.”—Whistle; Blackpink

.

.

.

previous chapter

Tingtong!  

Irene melompat girang, dia yakin kali ini adalah pengantar ayam goreng yang dia pesan sehingga dia langsung menuju pintu dan membukanya dengan semangat tanpa melihat monitor di samping pintu lagi.

“Kenapa lama seka—kau?” Irene terkejut bukan main saat menangkap sosok pria yang sempat menghiasi harinya tengah berdiri di depannya dengan wajah menyeramkan dan sebuah pisau berdarah di tangan kanannya. Irene mundur ke belakang saat pria bernama Luhan itu maju selangkah dan tersenyum licik pada Irene.

Irene membelalakkan matanya saat Luhan mendekatkan ujung pisau itu ke pipinya. Tubuh Irene bergetar hebat sakin takutnya sedang pria itu lantas terkekeh pelan.

“Miss me, Irene-ah?”

.

 

Author’s side

 

“Lu—Luhan? A—apa yang kau lakukan?” gagap Irene karena sekarang Luhan ada di apartemennya, terlebih mantan kekasih bajingannya itu kini tengah memainkan sebuah pisau tajam di kulit pipinya.

“Bae Irene….ah, aku merindukanmu,” ucap lelaki bernama Xi Luhan itu lagi tanpa menjawab pertanyaan si gadis. Malah sekarang tangan kiri Luhan yang bebas membelai pipi kanan Irene dengan jemarinya. Ia tersenyum sinis, “Kau tidak merindukanku Irene-ah?” lanjut Luhan sambil bergerak makim masuk ke dalam apartemen Irene. Mau tidak mau Irene pun bergerak mundur dengan kaki yang bergetar hebat.

“Mau ap—apa kau?” gagap Irene lagi, namun yang digunakan Luhan sebagai respon masih saja smirk yang tercetak jelas di bibirnya.

“Mauku?” beo Luhan sambil pura-pura berpikir. Sebutir keringat seukuran jagung nampak mengucur dari pelipis Irene, sementara Luhan kini merasa sudah berada di atas awan.

Klik!

Irene mengumpat dalam hati.

“Bagaimana ini? Ah, pintu apartemenmu terkunci Rene-ah,” kekeh Luhan setelah dengan sengaja menutup pintu apartemen Irene yang terkunci otomatis. Gadis itu menatap Luhan dengan nyalang, berusaha agar tidak terlihat ketakutan meski sekarang jantungnya sudah berdetak tak karuan karena takut dengan pisau yang sekarang ada di permukaan wajahnya.

“Per—pergi, pergi kau Xi Luhan!” pekik Irene, namun Luhan malah menggeleng-gelengnya kepalanya santai. “Kau harus mengabulkan permintaanku dulu,” tolak Luhan sambil menyentuh bibir Irene yang seketika membuat gadis itu bergidik ngeri. Ayolah, Luhan tidak sedang berusaha memperkosanya ‘kan?

“Ap—apa maumu?” tanya Irene akhirnya yang membuat senyum Luhan makin mencuat.

“Mauku? Ah, sederhana. Aku hanya ingin membunuhmu Bae Irene.”

“Ap—apa?!” pekik Irene kaget karena tidak ada angin tidak ada hujan Luhan sudah masuk ke dalam apartemennya, sialnya, Luhan mengaku akan membunuh Irene.

“Matilah Irene.”

“Cih, jangan bermimpi! Har—harusnya kau yang mati dan—kyaaaaa!”

Irene menutup matanya sambil berteriak. Bagaimana tidak, Luhan baru saja menaikkan pisaunya tinggi-tinggi dan bersiap-siap menikam Irene. Namun, sudah hampir 3 detik Irene menunggu belum ada rasa sakit yang menjalar di permukaan kulitnya.

BRUGHHHH.

“Ap—apa yang terjadi?” batin Irene bingung, namun ia tetap memejamkan matanya karena ketakutan.

“Siapa kau?!”

 

 

Chanyeol baru saja masuk ke dalam apartemennya dan duduk santai di atas sofa sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu, dia belum memasang kamera pengintai di kamarnya Irene. Akhirnya, mau tidak mau lelaki bermarga Park itu pun berdiri, masuk ke dalam kamarnya kemudian membuka laci kecil yang ada di meja belajarnya. Chanyeol menatap serius kamera pengintai super mini yang baru saja ia ambil dari dalam laci itu, “Apa yang harus aku katakan sehingga bisa masuk ke dalam kamar Irene?” pikirnya bingung sambil mulai menimbang-nimbang alasan yang masuk akal agar seorang lelaki bisa masuk ke dalam kamar gadis.

“Ap—apa maumu?” 

Atensi Chanyeol tiba-tiba teralih ke sebuah suara yang kini muncul di layar komputer di sebelah meja belajarnya. Memang, Chanyeol tadi sedang meng-instal kamera pengintainya di dalam komputer pribadinya. Penasaran apa kameranya sudah berjalan dengan baik atau tidak, Chanyeol pun mulai melirik layar datar itu, dan betapa kagetnya Chanyeol saat menemukan seorang lelaki asing ada di dalam apartemen Irene, terlebih lelaki itu tengah membawa sebuah pisau tajam.

“Siapa dia?” pikir Chanyeol mulai khawatir. Ayolah, bagaimana pun Irene itu adalah mangsanya, dan kematian Irene sekarang tidak ada di kamus Chanyeol. Irene harusnya mati 27 hari lagi di tangannya!

“Mauku? Ah, sederhana. Aku hanya ingin membunuhmu Bae Irene.”

“Tsk, gadis ini benar-benar merepotkan!” rutuk Chanyeol sambil berlari secepat mungkin menuju apartemen Irene.

 

 

BRUKH.

“Siapa kau?!” tanya Luhan sambil memegangi kepalanya yang terbentur dengan lantai cukup keras, efek seorang jangkung —yang tiba-tiba memasuki apartemen Irene entah bagaimana caranya padahal apartemen itu sudah jelas terkunci— yang memukul dan mendorongnya hingga tersungkur.

“Aku? Kau tidak perlu tau. Yang pasti, enyah dari tempat ini!” Luhan mendengus sambil bangkit berdiri, ia tersenyum miring ke arah lelaki yang tidak ia kenal tapi sudah berani ikut campur urusannya itu..

“Justru kau yang seharusnya enyah brengsek!”

BRUGH.

“Arghhh!”

Luhan merintih kesakitan sambil memegangi ulu hatinya yang baru saja mendapat tendangan keras dari lelaki jangkung itu.

BRUGH.

Demi apapun, Luhan tidak bisa melawan.

“Arghh…..Si—siapa kau?” rintih Luhan di sela-sela kesadarannya. Wajahnya sudah belur karena bogem yang sedari tadi dilayangkan lelaki itu kepadanya.

“Aku?” lelaki itu terkekeh sambil menjambak rambut Luhan yang kini sudah kehilangan kesadarannya sepenuhnya. “Not your business dude.” jawabnya sambil tersenyum samar.

 

 

Gwenchana?” tanya Chanyeol santai setelah sukses melumpuhkan Luhan yang sekarang sudah terkapar pingsan di lantai apartemen Irene. Si gadis bermarga Bae yang sedari tadi menutup matanya ketakutan karena keributan yang terjadi di dalam apartemennya itu pun perlahan mendongak. Rasanya ia ingin menangis saja sekarang ini sakin takutnya, tapi ketika ia menemukan bahwa Chanyeol—sunbae sekaligus tetangga yang sangat ia benci— yang baru saja menyelamatkannya, Irene mulai merasa malu sekaligus marah.

“Ke—kenapa kau disini?!” pekik Irene tiba-tiba yang membuat Chanyeol mulai gelagapan.

“Tadi aku lupa mengambil sesuatu yang tertinggal di sini, mm…. lalu aku mendengar suara teriakanmu dan menemukan ada orang yang ingin membunuhmu..” jawab Chanyeol gugup sambil menunjuk Luhan yang terkapar tidak berdaya di lantai. Irene menatap Chanyeol dari ujung kepala hingga kaki, lalu detik selanjutnya langsung membuang muka. Irene meraih ponselnya di atas meja,

Sekretaris Ahn, tolong datang ke apartemenku sekarang juga! perintah Irene sambil menutup panggilan telfon itu dan mencampakkan i-phone-nya asal ke atas sofa.

Gwengwenchana?” tanya Chanyeol sekali lagi, cukup berhati-hati sambil menghampiri Irene yang kini duduk di sofa dengan jantung masih berdegup kencang. Irene tidak menjawab, malah kini sebulir air mata nampak jatuh dari sudut mata Irene.

“Pergilah!”

“Eh?” bingung Chanyeol karena merasa telinganya baru saja salah dengar. Irene menatap Chanyeol dengan mata memerah karena tangis. “Aku bilang pergi ya pergi!” pekik gadis itu lagi dengan emosi. Chanyeol meneguk ludahnya dengan kasar, tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk memasang kamera pengintai di kamar Irene.

“Tapi lelaki ini?” Chanyeol menunjuk Luhan yang masih belum sadarkan diri, Irene memutar matanya malas.

“Jangan ikut campur masalahku, Park Chanyeol-ssi!” bentak Irene sambil bangkit berdiri dari sofa. Irene menghentak-hentak langkahnya menuju pintu apartemen, lalu membuka pintu itu dengan kasar “Keluar sekarang juga!” titah Irene sambil menunjuk luar apartemennya dengan jemari telunjuknya. Mau tidak mau Chanyeol pun harus mengalah dan mulai melangkahkan kakinya keluar dari dalam apartemen Irene.

Chanyeol menatap Irene, gadis itu balik menatap Chanyeol nyalang, “Baiklah, aku pergi,” putus Chanyeol akhirnya benar-benar keluar dari apartemen Irene.

“Nona Irene, anda baik-baik saja?” Chanyeol yang kini tengah berada di depan apartemennya dan memasukkan password itu kini berusaha curi-curi dengar ketika seorang berpakaian hitam yang dulu juga datang tergopoh-gopoh ke Universitas Seoul karena ulah Irene.

“Masuklah Sekretaris Ahn,” balas Irene sambil mempersilahkan pria kepercayaan ayahnya itu ke dalam apartemennya. Sementara itu Chanyeol tersenyum miring, lalu masuk ke dalam apartemennya sendiri setelah selesai memasukkan password.

“Bae Irene, sepertinya ini akan semakin menarik.”

 

 

“Siapa ini?” tanya Sekretaris Ahn sesampainya di dalam apartemen Irene dan menemukan seorang lelaki muda yang terkapar babak belur di atas lantai dengan pisau yang entah bagaimana sudah ada di atas meja. “Apa si kucing kampung itu?” pikir Irene menebak-nebak kenapa bisa pisau Luhan ada di atas meja dan bukannya berserak di lantai, namun gadis itu menepis pikirannya jauh-jauh. Sekarang dia harus fokus dengan masalah Luhan.

“Xi Luhan.” Jawab Irene singkat sambil duduk di atas sofa sementara sekretaris Ahn kini nampak memeriksa kondisi Luhan.

“Dia pingsan tapi nadinya masih stabil. Nona, kenapa dia babak belur seperti ini?” tanya sekretaris Ahn setelah selesai memeriksa Luhan.

“Dia ingin membunuhku.”

“Eh?! APA MAKSUD NONA?” tanya sekretaris Ahn tiba-tiba panik. Irene hanya tersenyum nanar, ia mengelap sisa-sisa air matanya yang menggenang.

“Dia berusaha membunuhku barusan, baru saja aku mungkin mati,” jawab Irene sambil menopang dahinya dengan kedua tangan. Irene menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak habis pikir kenapa Luhan mau membunuhnya.

“Anda baik-baik saja nona?” tanya sekretaris Ahn kemudian sambil duduk di depan Irene. Gadis itu mengangguk perlahan, “Mungkin,” jawabnya ragu. Sungguh, sekarang ia benar-benar ketakutan.

“Tapi ke—kenapa?” tanya sekretaris Ahn lagi, dan Irene menggeleng. “Mungkin dia dendam padaku? Ah, aku mempermalukannya saat kelulusan SMA, bukan, lebih tepatnya aku yang dipermalukan. Bukankah aku yang seharusnya dendam padanya sekretaris Ahn? Haha, dia benar-benar tidak tau diri..”celoteh Irene sambil memandang tubuh Luhan yang ada di apartemennya.

“Saya akan memeriksanya nona,” ucap sekretaris Ahn kemudian, mengerti kenapa ia dipanggil oleh nona mudanya itu kemari. Dengan cepat sekretaris yang sudah mengabdi belasan tahun dengan ayah Irene itu pun segera menghubungi kantor pusat, lalu menanyakan tentang seorang anak bernama Xi Luhan.

“Dia Xi Luhan putra dari pemilik Xi corporation?” tanya sekretaris Ahn tiba-tiba yang dihadiahi anggukan ringan dari Irene. “Perusahaan ayahnya bangkrut. Apa nona pernah ingat menyuruh tuan untuk membatalkan investasi di Xi corporation?” Irene nampak menimbang-nimbang sebentar, lalu meurutuk dirinya sendiri meski seberkas rasa senang kini memenuhi pikirannya.

“Ah, aku pernah meminta itu pada appa.” jawab Irene santai karena memang dia meminta pembatalan investasi pada perusahaannya Luhan. Bagaimanapun, hampir seluruh perusahaan di Asia bergantung pada investasi SKY Group milik David Bae, dan pembatalan investasi tentu saja menciptakan bencana besar di perusahaan itu. Dan semuanya karena Irene.

“Jadi dia dendam padaku? Oh, siapa suruh dia mempermalukanku?” kekeh Irene tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sekretaris Ahn yang nampaknya sedikit paham dengan tabiat nona mudanya itu pun hanya bisa tersenyum miris, “Jadi, harus saya apakan pemuda ini, nona?” tanyanya dan Irene nampak menimang-nimang.

“Mau diapakan lagi memangnya? Tentu saja kau harus menjebloskannya ke penjara! Ingat, dia hampir membunuhku sekretaris Ahn.” putus Irene lantang sambil tersenyum kecil.

 

 

“Mau diapakan lagi memangnya? Tentu saja kau harus menjebloskannya ke penjara! Ingat, dia hampir membunuhku sekretaris Ahn.” 

Chanyeol terkekeh sambil memandang layar monitor di depannya sementara kini sebuah earphone nampak bertengger di kedua telinganya. “Gadis ini benar-benar sesuatu.” batin Chanyeol sambil meneguk kopi kalengannya dan kembali mengamati dengan seksama apa yang terjadi di dalam apartemen gadis itu.

“Baiklah nona, saya akan mengurus pemuda ini.”. 

“Oh, pastikan dia tidak bisa keluar dari penjara barang sedetik pun.” 

Chanyeol menatap layar lagi. Ada satu hal yang mengganjal pikirannya sedari tadi. Apa hubungan Irene dan pemuda yang katanya bernama Xi Luhan itu? Sepertinya lebih dari sekedar teman satu sekolah biasa.

“Omong-omong nona, apa saya boleh tahu apa hubungan nona dengan pemuda ini?”

“Tsk, good question, ahjussi,”puji Chanyeol dalam hati karena sekretaris Ahn menanyakan hal yang paling ia ingin ketahui sekarang ini. Chanyeol pun menatap ekspresi Irene yang mendadak berubah.

“Dia mantan kekasihku. Haha, lucu bukan sekretaris Ahn? Aku sudah bersikap sangat baik padanya, tapi ternyata dia malah mempermainkanku dan selingkuh dengan gadis lain. Tidak hanya itu, dia bahkan mempermalukanku di hari kelulusan. Bangkrutnya perusahaan ayahnya bahkan tidak cukup untuk membayar sakit hati yang ku terima.” 

Chanyeol terdiam mendengar jawaban Irene. Lelaki yang ia buat pingsan tadi adalah mantan kekasihnya Irene? “Wah, kenapa aku jadi semangat seperti ini?” batin Chanyeol yang kini mulai membuka laptopnya dan mulai mencari-cari informasi yang mungkin saja berkaitan dengan Irene dan Luhan sembari matanya masih fokus menatap layar monitor yang berisi keadaan apartemen gadis itu.

Bae Irene si Jalang? Wah, judul artikelnya luar biasa sekali. Ini benar-benar tulisan anak SMA? Ck ck…” decak Chanyeol ketika menemukan sebuah artikel berantai di dalam laptopnya. Dia baru saja menerobos sebuah akun haters yang ia yakini adalah hatersnya Irene mengingat ID si pemilik yang lokasinya berada di dekat SMA Irene. Chanyeol tersenyum, lalu mulai membuka satu per satu artikel itu.

“Oh, dan tolong cari informasi haters mana yang kali ini mengirim paket boneka yang ada di tong sampah,”

“Ah, dia dapat boneka? Tsk, targetku ini ternyata terkenal sekali, ckck,” batin Chanyeol lagi sambil terus membaca artikel-artikel yang ada di laptopnya, sementara ia masih mengawasi Irene hanya berbekal suara di earphone yang tengah ia pakai.

“Satu lagi, tolong cari tahu tentang seseorang.” 

“Siapa, nona?” 

“Orang yang tinggal di apartemen depan, Park Chanyeol.”

“Eh?! Ke—kenapa aku?” pekik Chanyeol kaget karena tiba-tiba saja Irene mebawa-bawa namanya. “Apa dia curiga padaku?”

“Tolong cari tahu asal usul keluarganya dan apa saja yang bisa kupakai untuk menjatuhkannya. Sungguh, aku ingin membuat makhluk satu itu menderita.”

“Tsk, jadi dia ingin menantangku? Sial, kau membuatnya semakin menarik Bae Irene.” kekeh Chanyeol sambil tersenyum sinis. Ia memandang Irene di layar monitor komputernya yang tengah memasang raut serius, satu ekspresi yang membuat Chanyeol ingin tertawa sekarang juga.

“Kita lihat saja, siapa yang mencari tau siapa Bae Irene.”

 

 

“Selamat pagi tetangga.”

Irene menatap sesosok tinggi makhluk yang tiba-tiba saja ada di depan apartemennya, tepatnya makhluk jangkung itu baru saja juga keluar dari apartemennya yang ada di depan apartemen Irene.

“Jangan bicara padaku, nerd.” balas Irene ketus dan setengah membanting pintu apartemennya yang kini terkunci secara otomatis.

Meski begitu Chanyeol tetap saja percaya diri berjalan di sebelah Irene, bahkan sekarang mereka masuk ke dalam lift yang sama. Irene nampak kurang nyaman karena kehadiran Chanyeol, bagaimana tidak, hanya ada mereka berdua di dalam lift itu pagi ini.

“Tumben kau bangun pagi, tetangga,” Chanyeol mencoba mengajak bicara Irene lagi. Pemuda jangkung itu membetulkan letak kacamatanya, menunggu respon Irene yang sepertinya sangat langka.

“Ah, rupanya kau bisu di pagi hari,” sindir Chanyeol, namun Irene masih tidak peduli. Malah sekarang gadis itu membuka sling bag-nya dan mengeluarkan sebuah headshet dari dalam sana.

“Ah, akhirnya aku tahu kenapa kau menjadi pribadi yang dingin. Tidak pernah dengarkah kalau orang yang menggunakan headshet di tempat umum biasanya cenderung menjadi—arasseo, aku berhenti bicara.” ucap Chanyeol akhirnya karena sekarang Irene menghadiahi lelaki itu dengan tatapan maut miliknya.

“Oh ya tetangga, kau dari jurusan mana? Aku jurusan bisnis, apa kebetulan kau juga satu jurusan denganku?” Irene tidak merespon ucapan Chanyeol, kini gadis yang lagi-lagi menggunakan baju model bahu terbuka itu mulai mengetuk-ngetukkan high heels-nya di lantai lift.

“Kau pakai high heels? Bukannya kemarin kakimu sakit dan berdarah?”

Irene masih diam, tidak menggubris satupun pertanyaan Chanyeol.

Trakk.

YA!” bentak Irene tiba-tiba karena Chanyeol baru saja melepaskan headshet di salah satu telinga Irene dan menempatkan headshet itu di telinganya sendiri.

“Loh? Tidak ada musiknya, kau mendengarkan apa sih tetangga?” celoteh Chanyeol terlalu jujur hingga kini semburat merah muncul di pipi Irene. Ya, gadis itu memang tidak mendengarkan satu lagupun sejak tadi. Ia hanya memasang headshet sebagai pajangan saja. Itu adalah kebiasaan Irene sejak kecil. Di saat orang-orang mengira gadis itu asyik mendengar musik dan mulai menggosipkan Irene, maka Irene akan tahu siapa saja orang-orang yang tulus peduli padanya. Masalahnya, sejauh ini Irene tidak menemukan satupun manusia yang tulus padanya selain ahjumma-nya dulu yang sudah pergi ke surga.

“Kau mendengarku ‘kan sedari tadi? Kenapa tidak menjawab, huh?” tanya Chanyeol lagi sambil mengembalikan headshet Irene yang diterima gadis itu dengan kasar. Dengan cepat Irene memasukkan benda putih itu kembali ke dalam sling bag-nya dan mengunci tas itu rapat-rapat.

“Aku pikir kita tidak sedekat itu untuk saling bercengkerama, iya ‘kan nerd?”

Ting!

Bersamaan dengan kalimat kekesalan Irene pagi ini, denting tanda lift sudah sampai di lantai pertama berbunyi. Pintu lift pun terbuka perlahan, dan dengan cepat Irene melenggangkan kakinya keluar dari lift tanpa sepatah kata pun.

“Cih, dasar gadis aneh!” pekik Chanyeol hingga membuat beberapa orang yang lalu lalang di lantai 1 apartemen itu menatap Chanyeol dengan bingung, sementara yang disindir hanya terus berjalan dengan santai bagai ia tidak mengenal siapa yang sedang diteriaki Chanyeol sekarang ini.

Nerd sok akrab, cih,” batin Irene sambil masuk ke dalam mobil Mercedes-nya.

 

 

Irene sampai di Universitas Seoul tepat waktu. Pagi ini ia melangkahkan kaki ke kelas pertamanya semester ini dengan santai. Setelah menemukan ruangan yang ia tuju, Irene pun masuk dan langsung memilih tempat duduk di dekat jendela.

“Dia gadis yang kemarin membuat heboh di MOS,”

“Oh, yang bertengkar dengan Krystal sunbae ‘kan?”

“Aku tidak tahu kalau dia dari jurusan bisnis.”

Irene tersenyum miring mendengar semua celotehan teman sekelasnya. Ya, sekarang Irene tengah mengenakan headshet kosong tanpa lagunya lagi hingga orang-orang tidak tahu kalau Irene tengah mendengarkan semua caci maki yang mereka lontarkan pada Irene. Seperti dugaannya, anggota kelas ini sama saja dengan teman-temannya di SMA. Munafik.

“Selamat pagi, saya Prof. Kim yang akan mengajar mata kuliah pertama kalian.”

Irene segera melepaskan headshet-nya ketika seorang pria paruh baya sudah memasuki ruangan itu. Kelas yang tadinya lumayan ricuh kini berubah damai dalam sekejab.

“Selamat pagi Prof.”

 

 

“Tumben kau terlambat,” sapa Kai sesampainya Chanyeol di dalam kelas. Lelaki Park itu hanya mengendikan bahunya, lalu duduk di bangku sebelah Kai yang memang kosong.

“Kau mengacuhkanku lagi? Astaga, bagaimana bisa ada manusia sepertimu?” tanya Kai lagi karena tidak terima selalu diacuhkan oleh orang terpintar di jurusan bisnis itu. Chanyeol membetulkan letak kacamatanya, lalu menatap Kai yang kini sedang dalam mode ‘butuh perhatian’ itu.

“Tadi bus-nya terlambat datang, puas? Aku baru pindah apartemen dan sepertinya masih sulit menyesuaikan waktu pergi dari apartemen dan rumahku yang lama ke kampus,” jawab Chanyeol panjang lebar agar Kai puas. Lelaki berkulit tan itu pun nampak mengangguk-anguk paham padahal sebenarnya Chanyeol baru saja berbohong. Bukan busnya yang terlambat, tapi Chanyeol yang menyempatkan diri untuk mampir ke toko elektronik langganannya. Yah, kalian tahulah apa yang mungkin dibeli Chanyeol di tempat itu.

“Omong-omong, Profesor Jung tidak hadir karena masih seminar di Italia,”

“Hm,” respon Chanyeol datar atas informasi yang diberikan oleh Kai itu. Alhasil, Chanyeol sekarang lebih memilih menyibukkan diri dengan membuka salah satu buku materinya dan mulai membaca bab yang menurutnya menarik.

“Mau ke kantin? Beasiswamu tidak akan dicabut karena pergi ke kantin di saat jam kosong ‘kan?”

 

 

Suara alas sepatu pantofel yang bergesekan dengan lantai memecah keheningan tempat itu. Pria yang menggunakan kemeja putih dengan jaket kulit berwarna hitam sebagai luarannya serta celana berwarna senada dengan jasnya itu tiba-tiba berjongkok. Pria yang berprofesi sebagai detektif itu sedang berada di dalam sebuah apartemen yang di depan pintunya sudah dibatasi dengan garis kuning pertanda orang yang tidak penting dilarang masuk. Iya, apartemen ini adalah lokasi tewasnya Choi Siwon, pemilik butik yang sangat terkenal di Korea dua bulan yang lalu.

Pria detektif itu merasa janggal kasus kematian Choi Siwon yang dianggap sebagai bunuh diri. Pria kaya yang sangat berambisius seperti Choi Siwon bunuh diri? Apa motifnya? Pria itu mengeluarkan sebuah kartu joker dari saku jasnya, dia menatap kartu joker itu cukup lama. Tiba-tiba ponselnya berdering, pria itu segera merogoh sakunya dan mengangkat panggilan itu.

Yeo—

Kemana saja kau, Oh Sehun?! Kita punya banyak pekerjaan disini! Cepat kembali atau kau dipecat?!”

Pria itu hanya membuang nafasnya pelan, “Ne, sunbae. Aku akan segera kembali.” pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku jaketnya lalu bangkit berdiri. Dia memandang apartemen yang kondisinya rapi namun terkesan menyeramkan karena tewasnya seseorang di tempat itu dengan pandangan penasaran.

Pria itu semakin mengedarkan pandangannya dan entah apa yang dia lihat sehingga matanya melebar dengan sempurna. “Sudah kuduga.”

 

 

“Profesor Kim tidak masuk kelas?” tanya Chanyeol sesampainya ia dan Kai di kantin.

“Professor Kim? Tentu saja masuk. Tadi aku melihatnya di parkiran.” ucap Kai sambil duduk di salah kursi meja kantin. “Memangnya kenapa?” tanya Kai pada Chanyeol yang kini sudah duduk di sebelahnya.

Wow, jadi dia membolos?” batin Chanyeol karena sekarang menemukan penampakan Irene sedang duduk santai di kursi panjang di sudut kantin.

“Memangnya kenapa?” ulang Kai karena merasa diacuhkan oleh Chanyeol. Lelaki Park itu akhirnya mengangkat bahunya acuh, “Tidak apa-apa,” jawabnya yang membuat Kai ingin mengacak-ngacak rambut Chanyeol sekarang juga.

“Terserah,” balas Kai tidak peduli dan kini lebih tertarik dengan bulgogi pesanannya yang sudah ada di atas meja.

Ting!

Chanyeol meraih ponselnya yang berbunyi, lalu segera membuka pesan dari pelanggan kayanya itu.

 

Ini Bill. Bagaimana misimu sejauh ini? Ada perkembangan?

 

Chanyeol menatap layar ponselnya datar. “Apa aku perlu mengirim foto Irene?” batinnya bingung.

Namun Chanyeol akhirnya memilih mengirim saja, toh dia dibayar mahal untuk itu. Sekon selanjutnya Chanyeol sudah mengarahkan pandangannya ke arah Irene yang tengah mendongak menatap langit-langit kantin, Chanyeol menyentuh ujung kacamatanya, lalu menyesuaikan kualitas gambar yang akan ia ambil.

Klik.

Chanyeol tersenyum, satu foto Irene telah sukses ia abadikan.

 

Dia sedang di kantin karena membolos. Kemarin ada orang yang mencoba membunuhnya di apartemen dan dia juga menerima paket dari haters.

Sent a photo.

9162499f78045b6575e14946ab386a5f.jpg 

Tak lama, balasan pun kembali muncul di layar ponsel Chanyeol.

 

Baiklah, terus awasi dia. 

 

Okay.

 

Balas Chanyeol sambil menyimpan ponselnya di dalam saku dan mengeluarkan ponselnya yang satu lagi. Kali ini ponsel yang lebih sederhana dan tidak dia pasang aplikasi sadap menyadap apapun, ponsel yang memang khusus untuk sehari-hari Chanyeol sebagai Park Chanyeol dan bukannya Zen.

“Chanyeol,”

“Hm?” balas Chanyeol malas karena Kai yang baru saja memanggilnya.

“Siapa tadi yang mengirim pesan?” tanya Kai penasaran karena sekarang Chanyeol tengah mengobrak-abrik berita yang sekiranya menarik untuk dia baca.

“Oh, bos kerja paruh waktuku. Biasa, hanya masalah kerjaan,” jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Senyum Chanyeol seketika mengembang saat menemukan sebuah headline news Xi Corporation bangkrut dan pewaris tunggalnya resmi masuk bui pagi ini.’

“Bukannya itu si konglomerat? Oh, dia membolos dari mata pelajaran Prof.Kim?” histeris Kai tiba-tiba karena melihat Irene yang bergerak menuju pintu keluar kantin. Sepertinya gadis itu ingin pergi hang out atau apa di luar arena kampus.

“Mungkin lebih tepatnya diusir? Kau tau kan Prof. Kim tidak suka mahasiswa semacam dia,” balas Chanyeol datar, namun jawaban Chanyeol malah membuat Kai mengangkat sebelah alisnya. “Jadi karena ini menanyakan Prof. Kim tadi? Karena gadis itu, huh?”

Chanyeol menatap Kai malas, “Kau gila?” katanya setengah memutar mata karena ucapan Kai yang sebenarnya tidak salah tebak.

“Sudahlah, makan saja bulgogi-mu itu,” lanjut Chanyeol lagi yang seketika membuat nyali Kai menciut. Alhasil Kai pun hanya menurut sambil memakan bulgogi-nya lagi.

Ting!

Chanyeol merasakan ponselnya kembali bergetar di dalam saku. “Kenapa lagi?” pikirnya malas sambil memasukkan ponsel sehari-harinya yang berwarna putih dan mengeluarkan ponsel ‘Zen’ yang berwarna hitam. Namun mata Chanyeol membulat ketika menemukan siapa yang baru saja mengirimkan pesan padanya ke salah satu fake account yang sudah ia buat kemarin malam. Itu bukan pesan dari Bill, tapi pesan dari orang yang menulis artikel tentang Irene semasa SMA.

 

Lee991

Oh, kau ingin lebih tau tentang gadis ini? Astaga, kau dari kelas berapa? Kenapa kau bisa tidak mengenal si wanita jalang itu, huh?

 

Mrs X

Aku haters barunya.

 

Lee991

Oh benarkah? Kalau begitu kau harus bergabung dengan grup. 

 

Lee991 invite you to ‘Kill her’

 

Mrs X joined with ‘Kill her’

 

xxxx.

Kita harus membunuh gadis itu, serius.

 

Lala_7

Dia masuk Universitas Seoul? Sogok berapa triliun?

 

Lee991

Aku sudah mengirim paketnya lagi, juga ditambah hadiah kecil, hehe..

 

Xxxx

Eonnie, kau yang terbaik

 

Mrs X

Hadiah kecil apa?

Lee991

Karena kau member baru mungkin kau tidak tahu. Kami selama ini mengirim paket berdarah padanya, dan kali ini aku menambah hadiah kecil. Kau tahu? Aku memasukkan gas tidur ke dalam box. Dan saat dia tertidur, sudah ada Al yang menunggu dan membawa gadis itu pergi.

 

MrsX

Kalian ingin menculiknya?

 

Lee991

Ya, kami ingin menculiknya dan membunuhnya. Kami benar-benar dendam dengan si jalang itu.

 

Al

Kau sudah memasang obat bius-nya Lee? Aku baru saja menyamar dan menelfon si jalang itu. Irene sedang dalam perjalanan kembali ke apartemen. Seperti perintahmu, aku menghubungi si jalang itu dan mengatakan gas di rumahnya bocor.

 

Lee991

Aku sudah memasangnya sejak pagi. Baiklah, Al bersiap di posisi. Kau harus membawa Irene ke markas, arraseo?

 

Chanyeol meneguk ludahnya kasar. Apa-apaan ini? Dia tidak habis pikir bahwa sekumpulan manusia seumuran Irene itu benar-benar membenci Irene sampai ingin membunuhnya. Chanyeol pikir komentar-komentar kebencian di artikel-artikel yang ia temukan kemarin hanya isapan jempol belaka, tapi ternyata mereka semua serius ingin membunuh Irene!

“Ah, sebenarnya seberapa berandal gadis ini sehingga punya banyak sekali haters?” batin Chanyeol sambil mengacak rambutnya kasar. Ternyata tidak hanya dia yang menargerkan Irene sebagai buruan.

“Kenapa?” tanya Kai yang bingung dengan sikap gelisah Chanyeol yang tiba-tiba. Chanyeol masih tidak mengacuhkan Kai, ia terlalu sibuk untuk melacak lokasi Irene sekarang ini.

“Sial, dia benar-benar pulang ke apartemen!” pekik Chanyeol dalam hati dan segera menutup ponselnya. Chanyeol segera berdiri dari duduknya hingga makin membuat Kai bingung.

“Aku ada keperluan mendadak. Tolong izinkan aku, bilang saja aku sakit atau apa, arasseo? Terimakasih Kai.” Ujar Chanyeol sambil segera berlari secepat mungkin keluar dari arena kampus. Kai hanya memandang kepergian Chanyeol dengan raut bingung. “Dia benar-beanr aneh,” batin Kai sambil lanjut mengunyah bulgogi-nya.

Semoga masih sempat,” batin Chanyeol sambil berlari secepat mungkin dan menyetop sebuah taxi yang lewat.

Ahjussi, tolong ke apartemen Sokcho.”

 

 

 

[to be continue]

 

 

Iklan

21 pemikiran pada “Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Huaaa akhirnyaaa baru sempet bacaaa ㅠ.ㅠ
    Wah pakai headset tapi ga denger apapun, ikutan ah siapa tau ada yg ngomongin di belakang😂😂
    Gila ya hatersnya:(

  2. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. waaah heran sama anak yang sekelas sama irene. sampek segitunya ngebenci irene. rada serem sih anak seusia itu bisa punya pemikiran buat ngebunuh orang lain

  4. Ping balik: Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ff-nya keren abis, gak sabar nunggu kelanjutannya. Semangat ya untuk para author ngelanjutin FF-nya, semoga idenya tetep ngalir terus. Pokoknya FF ini jjang banget!

  6. Ini semakin menarik, target irene pemburu chanyeol a.k.a zen, target chanyeol pemburu oh sehun.
    Tak bisa dibayangkan si cadel jd detective.
    Ditunggu intrik kasus lainnya dari cerita kalian berdua 😏

  7. Gila itu komennya panjang bener mbak…😂😂 ntaaps 👍👍

    Ciyeee si kucing udah mulai ngerasa khawatir ikan asinnya mau dicelakain haters…phewitt…phewitt khmm
    Awas looh tar kebablasan trus jantung mulai berdetak ga karuan 😝😝
    Semangat kucing 💪💪

  8. makin seru abis…..
    next kak,tolong dipercepat..
    and buat kak Eki,kapan unneded,mea alterum,sama rooftop romance dipublish,aku udah kangen pengen baca rooftop romance lagi,and jangan sampai diprotect,please….

  9. gila ya haters irene ampe segitunya..
    kadang kasian liat kehidupan irene yg banya dibenci org trus appanya juga kayak gak peduli gitu. wajar mah dia begitu karena dia kesepian..
    chanyeol selamatin irene dong.
    next author..

  10. WHOOAAAAAAAHHHHHHH!!!! LUHAN,, YAAMSYONGG,, ISTIGHFAR NAKK,, TAMPANGMU TAK SEPOLOS KELAKUANMU NAK…
    LAGIAN SIH LU, KEMAREN ANAK PERAWAN ORANG LU MAENIN SEKARANG, PISO DIMAENIN… BIASA MAIN KECEBONG DI GOT DEPAN RUMAH AEE SOK SOK MAENIN PISO LU, TRUSS LAGI NGAPAIN LU DULU NYAMPAKIN SI IRENE EOH???,SEKARANG LU JDI KORBAN IRENE KAN,, MANG ENAK MASUK PENJARA, guemah ketawa aee kan yaa,, wkwkwk *otw digorok luhan… LAIN KALI NTU MUKA JANGAN DI PAKE BUAT JAHATIN ORANG LAH.. JUJUR AJA YAA MAK,, MUKA LU TUH GA ADA BEJAT BEJATNYA, MENDING INSAP MAK SEBELUM TERLAMBAT,, intinya R.A.S.A.I.N aja yakan, selamat tinggal di penjara makk😘

    Eh gilaaa… itu orang orang kurang belaian oppa ngapainn,, jangan bunuh irene lagi plis,, ani syudah cukup dagdigdug serr akan scene yg pertama #savemyjantung , CY tolong selamatkan uri irene, gitu gitu dia canteekk lo bang,kaya pula, cuman sifatnye aja yg kadang bikin pengen nyolok matanya yakan *abaykan,, yakin gaada niatan pdkt nihh? Wkwkwk /cy : “ngapa jadi pdkt sih mba?”/ Ani: “mau buka biro jodoh.. nape? Kali aja yekan klo berhasil ngejodohin holkay bonusnya gede,, muehehehe” *😂🔫

    Yaudah lah ya,, sudah saatnya ani berhenti nyampah di ff orang,, maapkeun komen ani yg penuh ke-gaje-an dan sama sekali tak berfaedah ini,, ani harap ka eki sm ka yuki bisa maklum ya, jangan masukin ani ke penjara pliss, cukup luhan aja yg jadi korbannya authornim wkwk /mati ae lu🔪
    Satu quotes dari ani untuk kitah semuahh pada subuh hari yang sangat berbahagia -padahal engga- ini ==> “ANGGAPLAH CAPSLOCK SEBAGAI TEST MATA -klo dianggep sodara atau doi lu juga boleh-, MAKA PERCAYALAH HIDUPMU AKAN LEBIH BERMAKNA,” percayalah.. wahai saudara ku…. percayalah…karna tak dianggap itu menyakitkann neomu,, kit ati anii tuh sekarang kaa.. rasanya ani pengen nyewa cy buat nerror tu cowok, karna percayalah ka, ntu cowok ga ada hangat hangatnya,, dingin aja gitu kayak sehun,, mending sehun ganteng,, lhaa dia…rasanya pengen ani cincang cincang dagingnya sih kak, lumayan kan ye, hemat daging😿😿 /jadi curhat gapapa kan ya kak👻 /mati lu mati🔪

    Okelah,, seperti kata calon suami saya diatas “aku akan segera kembali” /haseek 😂😂
    Abaykan curhatan tak bermutu anii…
    Bhay authornim😘😘❤ aku padamu aja lah ❣😻
    .
    .
    Nyonya oh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s