[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story -(Chapter 16)

FIX(1).jpg

Title: Isn’t Love Story Chapter 15 : Friendship

Vartstory Present

Main Character:

Kim Jongin | Jung Jihyun | Park Hyunji | Oh Sehun

Supporting Character:

Yook Sungjae | Park Soo Young/ Joy | Yoon Hyena | Jackson Wang | Do Kyungsoo | Kang Ahra

Genre:

Romance | Friendship | School

Leght:

Chaptered

Teaser + Cast Introduction | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 | Chapter 14

Hari ini merupakan hari jatuh tempo hutang Jihyun, dan hal tersebut membuat Jihyun gelisah sejak pagi. Jihyun takut jika mereka melakukan sesuatu yang buruk padanya. Ketakutan Jihyun semua beralasan, kemarin Ahra mengatakan padanya kalau ada isu yang menyebar mengenai Ji Il Sung yang kini bergabung dengan organisasi perdagangan manusia.

Ketakutan yang dirasakan Jihyun juga karena mengingat track record Ji Il Sung yang memang beberapa kali kerap keluar-masuk penjara. Jihyun beberapa kali meruntuki kebodohannya karena sudah dengan beraninya meminjam uang kepada pria selicik Ji Il Sung. Kalau saja waktu itu dia sudah sedekat ini dengan Kai, mungkin Jihyun akan berpikir untuk meminjam uang kepada pria itu. Namun nasi sudah menjadi bubur, benar kan?

Sekarang yang bisa dilakukan Jihyun hanya berhati-hati dan selalu waspada terhadap gerakan orang-orang asing yang berada di sekitarnya. Kewaspadaan Jihyun berujung pada kecurigaan Kai. Tadi saat Jihyun sedang berjalan di lobby, Kai yang melihatnya langsung mempercepat langkahnya dan merangkul Jihyun. Siapapun memang kaget jika di rangkul tiba-tiba seperti itu tapi kekagetan yang Jihyun perlihatkan tidak biasa, gadis itu bahkan hampir menangis akibat ulah Kai tersebut.

Kai sudah berusaha memaksa Jihyun agar mau membuka mulutnya tentang apa yang terjadi padanya hingga membuatnya bisa seperti tadi. Tapi Jihyun tetap menutup bibirnya rapat-rapat, dia takut kalau Kai mengetahuinya pria itu tidak akan tinggal diam.

Jihyun bahkan tidak menyadari kegaduhan yang terjadi di sekolahnya akibat Oh Sehun muncul dengan warna rambut barunya. Warna rambut baru Sehun membuat para siswi berbondong-bondong mendatangi ruang kelas Sehun hanya untuk penampilan baru Sehun dengan rambut merah mudanya. Semua diluar perkiraan Jackson, pria itu kira gadis-gadis di sekolahnya akan menertawai Sehun atau Sehun akan menjadi bahan lelucon tapi semuanya tidak terjadi. Mereka semua mengagumi ketampanan seorang Oh Sehun, yang terlihat semakin tampan dan berkelas dengan rambut merah mudanya. Beberapa dari mereka bahkan secara terang-terang mengaku telah ‘cinta mati’ pada pemuda itu.

Semuanya berjalan lancar hingga Jihyun berada di kedai bubur tempatnya bekerja. Dua pria suruhan Ji Il Sung kembali datang dengan membawa 3 orang lainnya. Ahra yang tau jika sahabatnya berada dalam bahaya langsung melindungi Jihyun dibelakangnya. Ahra memang memiliki sifat yang bertolak belakang dari Jihyun, alih-alih pemalu gadis itu justru sangat pemberani.

“Yaa lepaskan Jihyun.”

Kekuatan Ahra yang juga dibantu Chon-Sik tidak sebanding dengan kekuatan kelima orang berbadan besar itu. Belum lagi salah seorang diantaranya sengaja mengacaukan kedai bubur Chon-Sik. Karena tidak ingin semuanya bertambah berantakan, Jihyun terpaksa menyerahkan dirinya secara sukarela.

“Kita harus meminta bantuan.” Sambar Chon-Sik yang tidak rela jika karyawannya dibawa paksa seperti itu. “Hubungi chaebol itu, siapa namanya?”

“Kai?” Tanya Ahra dengan tatapan nanar kearah mobil yang telah membawa Jihyun pergi entah kemana. “Tapi aku tidak tau kontaknya sama sekali, aku juga tidak tau dimana rumahnya.” Ahra mengacak rambutnya karena frustasi tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Jihyun.

Ahra tiba-tiba berubah semangat saat tau siapa yang bisa menolongnya, “Oh Sehun, pria itu pasti akan menolong Jihyun. Oppa kau tunggu disini, aku akan mendatangi Oh Sehun ke apartemennya.”

Ahra melepas apron yang melekat ditubuhnya dan memutuskan untuk meminta bantuan kepada Oh Sehun agar bisa melepaskan Jihyun dari cengkraman pria tua bangka seperti Ji Il Sung. Gadis itu bersyukur pernah dipersilahkan menginjakkan kakinya di penthouse Sehun.

Sekitar 35 menit Ahra sampai di penthouse Sehun yang berada di Gangnam. Gadis itu melajukan langkahnya dengan cepat menuju penthouse Sehun yang berada di lantai teratas Royal Hotel. Dengan membabi buta Ahra mengetuk serta memencet bel yang berada di sisi pintu.

Ahra bernafas lega saat pintu mulai terbuka dan menampilkan seorang pria yang tempo hari pernah diliatnya, Jackson Wang. “Yaa bisakah kau mengetuk pintu dengan santai?! Kau?Bukankah kau gadis bodoh yang berani menendang aset masa depanku?” Jackson terlihat terkejut dengan kedatangan Ahra yang tiba-tiba.

Karena malas berdebat dengan Jackson, Ahra menyerobot masuk ke dalam penthouse Sehun, “Oh Sehun, kau ada di dalam?”

Tak butuh waktu lama, Sehun muncul diujung tangga dengan mengenakan kaos putih dengan rambut pinknya yang sedikit berantakan. Oh bahkan Ahra cukup terpesona dengan warna rambut baru Sehun, tapi Ahra buru-buru menyadarkan dirinya dan setengah berlari menghampiri Sehun.

“Tolong Jihyun ku mohon.”

Sebenarnya kedatangan Ahra cukup membuatnya kaget belum lagi Ahra mengatakan bahwa gadis itu meminta pertolongannya untuk menolong Jihyun. Namun bukan Sehun namanya kalau tidak bisa mengendalikan mimik wajahnya.

“Apa yang terjadi?” Sehun memutar otaknya dan kembali mengingat keanehan yang dirasakannya ketika mengikuti Jihyun tempo hari.

Jackson yang sedari tadi hanya memperhatikan di depan pintu, akhirnya memutuskan untuk bergabung dan menarik Ahra menuju sofa. Jackson cukup sering berhadapan dengan gadis manapun, jadi Jackson saat ini hanya perlu menyuruh gadis itu untuk duduk dan membiarkan Ahra menceritakan apa yang terjadi secara perlahan.

“Tua bangka itu, maksudku Ji Il Sung membawa paksa Jihyun.”

Sehun dan Jackson saling berpandangan sejenak, Jackson yang merasa pernah mendengar nama tersebut langsung memutar otaknya dan memaksa otaknya yang ‘pas-pasan’ itu untuk mengingat siapa Ji Il Sung sebenarnya.

“Ceritakan yang jelas!” tanya Sehun yang mulai merasa tidak tenang sekaligus tidak sabar karena Ahra yang hanya bercerita secara terpotong-potong.

“Beberapa bulan yang lalu Jihyun meminjam uang kepada Ji Il Sung untuk melunasi biaya rumah sakit ibunya. Dan hari ini adalah jatuh tempo hutangnya, karena Jihyun tidak bisa melunasinya jadi mereka membawa paksa Jihyun. Aku takut terjadi sesuatu dengan Jihyun, ku dengar tua bangka itu sekarang bergabung dengan organisasi perdagangan manusia.”

Mendengar penjelasan Ahra, Sehun menghela nafas kasar, kekhawatiran pun sudah menyelimutinya. Sehun lalu menuju kamarnya dan mengambil kunci motornya untuk mencari keberadaan Jihyun.

“Yaa kau mau menolong Jihyun hanya dengan bermodalkan motormu itu? Kau kira Seoul itu sekecil Singapore? Seoul itu besar dude. Kau harus menyusun strategi untuk bisa menyelamatkan Jihyun.”

Jackson lalu meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada dua orang yang dia pikir dapat berpotensi besar membantu mereka mencari keberadaan Jihyun. Lalu Jackson menghubungi seseorang yang tidak lain adalah suruhannya untuk mencari tau informasi mengenai Ji Il Sung.

Tidak lama kemudian bel berbunyi, Jackson yang tau jika orang yang datang adalah orang yang tadi dihubunginya dia pun melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Sehun cukup terkejut dengan kehadiran dua orang itu yang tidak lain adalah Kyungsoo dan Kai.

“Siapa yang menyuruhmu untuk mengundang mereka?”

“Kau pikir jika hanya kita berdua saja bisa menyelamatkan Jihyun? Semakin banyak orang maka kesempatan untuk menemukan Jihyun lebih besar. Dan sekarang lebih baik kesampingkan ego kalian berdua jika kalian ingin membawa Jihyun hidup-hidup tanpa kurang apapun.”

Perkataan Jackson sukses membungkam Sehun, Kai sendiri juga tidak mengatakan apapun pada Sehun. Pria itu hanya mengeluarkan suaranya pada Ahra dan bertanya tentang apa yang terjadi pada gadisnya.

Tak berapa lama kemudian, Jackson mendapatkan panggilan dari orang-orangnya yang menjelaskan informasi detail mengenai Ji Il Sung. Perasaannya memang benar, nama Ji Il Sung tidaklah asing bagi ‘organisasi bawah tanah’ yang dimiliki keluarga Jackson.

“Pria bernama Ji Il Sung itu sudah beberapa kali berurusan dengan orang-orangku. Tua bangka tadinya merupakan salah satu relasi keluargaku, namun dia menyalahi aturan dan kami memutuskan hubungan pekerjaan dengannya. Informanku mengatakan saat ini tua bangka itu bergabung dengan banyak organisasi bawah tanah negatif, salah satunya adalah pengedar obat terlarang dan juga perdagangan manusia.”

“Keparat !! Kalau begitu kita harus menyelamatkan Jihyun !!”

Jackson cukup kesal dengan sifat tak sabaran yang dimiliki Sehun. Mereka memang harus cepat menyelamatkan Jihyun tapi mereka harus membutuhkan strategi. Belum lagi mereka masih belum mengetahui keberadaan Jihyun. Jika berurusan dengan sesuatu yang berbau kriminal, Jackson memang paling bisa diandalkan baik itu berurusan dengan informasi maupun strategi.

“Kita harus membutuhkan strategi bodoh, lagipula apa kau tau dimana keberadaan Jihyun?” Jackson menarik Sehun untuk kembali duduk disampingnya. Di sisi lain, Kai lebih bisa mengendalikan dirinya walaupun dirinya teramat sangat khawatir tentang keadaan Jihyun.

Jackson lalu meninggalkan mereka semua menuju ruang kerja dan kembali dengan membawa sebuah laptop, “Kyungsoo aku membutuhkan keahlianmu saat ini.” Mendengarnya Kyungsoo langsung menganggukkan kepalanya dan mengambil alih laptop dari tangan Jackson.

Tidak banyak yang mengetahui kalau seorang Do Kyungsoo memiliki keahlian meretas layaknya seorang peretas professional. Mereka bahkan pernah meretas situs perusahaan sekaligus data pribadi milik keluarga ibu tiri Sehun agar presentasi yang dilakukannya gagal total.

“Dan kau, apa kau ingat nomor mobil pria yang membawa Jihyun.” Tanya Jackson kepada Ahra, gadis itu pun mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Tadi Ahra sempat memfoto mobil yang membawa Jihyun saat mobil itu sudah meninggalkan kedai.

Jackson menatap Sehun dan Kai secara bergantian dan berpikir tugas apa yang akan diberikannya namun Jackson menggelengkan kepalanya. Untuk saat ini membiarkan kedua orang itu diam adalah strategi terbaik karena nanti sepertinya mereka yang akan mengeluarkan tenaga lebih banyak.

Tidak membutuhkan waktu lama, Kyungsoo sudah dapat meretas CCTV kota dan mengetahui kearah mana Jihyun dibawa, “Aku sudah melacak semua CCTV diperbatasan Seoul namun aku sama sekali tidak melihat mobil yang membawa Jihyun, jadi perkiraanku Jihyun masih berada di Seoul. Atau lebih tepatnya mereka membawa Jihyun di pinggiran Seoul.”

Ponsel Jackson berdering menandakan panggilan masuk, seketika semua orang mengalihkan pandangannya pada pria itu. Karena mereka tau, ‘orang-orang’ Jackson merupakan orang terpercaya yang mampu menyelidiki apapun secepat kilat.

“Kyungsoo benar, saat ini Jihyun berada di sebuah rumah di daerah Sanggye-dong. Kyungsoo kau retas semua CCTV yang berada di Sanggye.”

Setelahnya mereka semua berangkat menuju Sanggye-dong. Ahra menumpang mobil Sehun bersama dengan Jackson sedangkan Kai bersama dengan Kyungsoo. Selama perjalanan Kyungsoo tetap terlihat tenang dan fokus pada laptopnya. Tapi tidak dengan Ahra, gadis itu mati-matian menahan mual dan mulutnya juga tidak berenti merapalkan doa-doa agar dirinya selamat. Itu semua karena Sehun yang membawa mobil seperti sedang berada di arena balap, bahkan Sehun beberapa kali menerobos lampu lalu lintas. Gaya menyetir Sehun tidak jauh berbeda dengan Kai, pria itu juga sama gilanya dengan Sehun. Mobil mereka berdua saat ini lebih terlihat seperti sedang melakukan balap liar.

Berkat Sehun dan Kai, perjalanan dari Gangnam ke Sanggye yang seharusnya ditempuh sekitar 1 jam hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 45 menit. Begitu sampai di sebuah rumah tua tempat Jihyun disekap, lagi-lagi Sehun dengan gegabah berniat langsung masuk begitu saja tanpa persiapan apapun. Beruntung Jackson langsung menahannya.

“Yaa kau mau kita semua mati sia-sia karena dihajar beramai-ramai? Kita bahkan belum tau berapa jumlah mereka Oh Sehun.” Jackson sengaja menghalangi jalan Sehun, pria itu tidak ingin mengambil resiko dihajar beramai-ramai oleh anak buah Ji Il Sung yang bahkan mereka tidak ketahui berapa jumlahnya.

Namun bukan Sehun namanya jika menurut begitu saja, “Sebelum mereka menghajarku, aku akan terlebih dahulu melenyapkan mereka.” Sehun lalu menyingkirkan Jackson dari hadapannya.

Jackson lalu mengalihkan pandangannya kearah Kai, namun sepertinya untuk kali ini Kai sejalan dengan Sehun karena pria itu kini tengah berjalan sama cepatnya dibelakang Sehun. Melihat kedua temannya yang bodoh dan keras kepala itu, Jackson mengacak rambutnya frustasi.

Kyungsoo lalu menepuk pundak Jackson dan merangkulnya, “Ayo ini saatnya melatih otot-otot kita.”

Jackson lalu mengalihkan pandangannya kearah Ahra, “Kau tetap berada di dalam mobil, akan sangat merepotkan jika kami harus melindungi dua gadis sekaligus.”

“Yaa bagaimana bisa kau meninggalkan seorang gadis sendiri, setidaknya jika aku ikut aku mungkin bisa membantu.” Ahra tentu saja tidak terima jika ditinggal sendiri disini, selain daerah ini sangat asing Ahra juga takut jika nanti ada anak buah Il Sung yang mendatanginya.

“Di dalam terlalu berbahaya kau mengerti? Untuk berjaga-jaga, aku menyimpan Stun Gun di dalam dashboard mobilku. Ah dan dibelakang aku juga menyimpan stick golf, jika nanti ada yang menganggumu kau bisa memukulnya, anggap saja kepala mereka itu bola golf.”

Dari dalam rumah tua tersebut sudah terdengar suara gaduh yang artinya Sehun dan Kai sudah memulai aksi mereka, Jackson dan Kyungsoo pun buru-buru meninggalkan Ahra dan berlari untuk membantu kedua sahabatnya itu.

Jumlah anak buah Ji Il Sung yang lebih banyak sama sekali tidak membuat Sehun ataupun Kai mundur. Mereka atau lebih tepatnya Sehun menghajar anak buah Ji Il Sung dengan membabi buta. Bagi Sehun siapapun yang menyentuh gadisnya akan menerima balasan yang setimpal darinya, seperti kejadian saat Kai tidak sengaja mendorong Jihyun disaat mereka berdua berkelahi di rooftop.

Saat Jackson dan Kyungsoo masuk kearena pertempuran, hal tidak biasa terjadi. Mereka berempat mulai bekerja sama untuk melumpuhkan anak buah Ji Il Sung satu persatu. Bahkan Jackson terlihat menyunggingkan senyumannya saat melihat Kai dan Sehun bekerja sama.

Di sisi lain Kyungsoo memisahkan diri dari ketiga temannya untuk mencari keberadaan Jihyun. Kyungsoo membuka satu persatu pintu yang berada di rumah tua ini, dan sampai di ujung lorong Kyungsoo menemukan ruangan yang pintunya terkunci.

“Jihyun kau berada di dalam?” Kyungsoo berusaha menajamkan pendengarannya dan bernafas lega karena mendengar sahutan Jihyun dari dalam sana. “Menjauhlah dari pintu.”

Kyungsoo mendobrak serta menendang pintu dengan dua kali percobaan, Kyungsoo sempat dibuat terkejut karena di dalam bukan hanya Jihyun yang disekap tapi terdapat sekitar 5 anak kecil dan juga 3 orang remaja.

“Mereka semua korban penculikan Ji Il Sung.” Jelas Jihyun, dan Kyungsoo teringat tentang pembicaraan kedua orang tuanya tentang penculikan 3 orang anak yang terjadi dalam kurun waktu 1 bulan.

Kyungsoo lalu menggiring mereka menuju pintu keluar tapi mereka tetap harus melewati beberapa anak buah Ji Il Sung yang tengah berkelahi dengan Kai, Sehun dan juga Jackson.

Sehun yang melihat Jihyun bersama Kyungsoo langsung berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya, “Kau tak apa?”

Jihyun menganggukkan kepalanya, “Mereka harus segera dibawa keluar dari rumah ini.”

Sehun lalu memperhatikan anak-anak tersebut secara bergantian lalu mengalihkan pandangannya pada Jackson dan juga Kai. Jackson yang mengerti maksud dari tatapan Sehun tersebut memerintahkan Kai untuk menggiring anak buah Ji Il Sung agar menjauh dari pintu. Sehun dan Kyungsoo terpaksa kembali ke tengah-tengah pertempuran karena itu satu-satunya cara membuat mereka menjauh.

Salah seorang anak buah Ji Il Sung yang melihat tawanannya mencoba kabur, langsung melesat dan menghadang mereka. Pria itu bahkan menarik paksa lengan Jihyun. Namun tiba-tiba pria itu terkapar di lantai, “Ahra !!” Seru Jihyun saat menyadari Ahra yang menyelamatkannya.

Ahra yang memang memiliki sifat tidak sabaran memutuskan untuk masuk, namun sebelumnya gadis itu mengambil stun gun dan juga 2 buah stick golf yang tadi Jackson ceritakan kepadanya. Dan saat melihat salah seorang anak buah Ji Il Sung menyerang sahabatnya, Ahra langsung berlari dan mengarahkan stun gun ke leher pria itu hingga membuatnya tak sadarkan diri.

“Yaa kalian cepat lari.” Perintah Ahra pada anak-anak tersebut, Ahra kemudian menyerahkan satu stick golf yang tadi dibawanya kepada salah satu remaja untuk berjaga-jaga apabila ada anak buah Il Sung yang mendatangi mereka.

Saat anak-anak tersebut keluar, Ahra dan Jihyun memutuskan untuk membantu Kai dan lainnya. Ahra pun menyerahkan stun gun kepada Jihyun. Ahra memukul anak buah Ji Il Sung dengan membabi buta sekaligus mengeluarkan kata-kata umpatan kepada mereka.

Jackson yang melihat Ahra, langsung berlari untuk memberikan perlindungan kepada gadis itu, “Yaa bukankah sudah ku bilang untuk menunggu di mobil.”

Belum sempat Ahra menjawab, Jackson tiba-tiba saja memeluknya dan menggunakan tangannya yang sedang menggenggam stick golf untuk memukul anak buah Ji Il Sung yang mendekati mereka. Gerakan yang dilakukan Jackson tadi walaupun sebagai bentuk perlindungan untuk mereka berdua entah kenapa justru membuat jantung gadis itu berdebar.

Di sisi lain, Sehun tengah berusaha melindungi Jihyun yang kini berada di balik punggungnya. Perlindungan yang Sehun berikan kepada Jihyun membuat Kai terus saja melihat kearah mereka, tentunya hal itu membuatnya tak fokus. Ketidakfokusan Kai merupakan celah bagi anak buah Ji Il Sung. Pria itu mengarahkan sebuah balok kearah kepala Kai yang membuat Kai rubuh seketika. Jihyun yang melihat hal itu langsung berteriak dan berlari menghampiri Kai. Sedangkan Sehun menghajar pria yang menyerang Kai secara bertubi-tubi.

Dan disaat yang bersamaan beberapa polisi masuk dan memerintahkan semua anak buah Ji Il Sung untuk menyerahkan diri. Anak-anak yang tadi dibebaskan Jihyun berlari menuju perumahan warga dan meminta pertolongan, dan beruntung kantor polisi juga memiliki posisi yang tidak terlalu jauh sehingga mereka bisa datang dengan cepat.

“Oppa kau harus tetap sadar ku mohon.” Jihyun mengguncang bahu Kai untuk membuat pria itu sadar, namun Kai sama sekali tidak bergeming dan darah juga terus mengucur dari kepalanya. Jackson dan Kyungsoo langsung membopong Kai masuk ke dalam mobil untuk membawa sahabatnya itu ke rumah sakit secepat mungkin.

Kyungsoo bersumpah ini pertama kalinya dia menyetir mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini. Jackson yang mengikuti mobilnya dari belakang sampai berdecak kagum dengan kemampuan menyetir Kyungsoo yang selama ini tidak pernah diketahuinya.

Begitu sampai dirumah sakit, Kai langsung digiring ke unit gawat darurat. Semua yang menunggunya termasuk Sehun tentunya, berharap-harap jika keadaan Kai tidak terlalu buruk. Walaupun hubungannya dan Kai selama beberapa tahun ini memburuk, bagaimanapun Kai pernah menjadi sahabatnya yang selalu ada disaat Sehun membutuhkannya.

Sehun mengalihkan pandangannya kearah Jihyun, melihat gadis itu menangisi Kai, hatinya terasa teriris. Segitu besarkah perasaan yang Jihyun rasakan pada Kai hingga membuatnya menitikkan air matanya sampai seperti ini?

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Kyungsoo saat seorang dokter menampakkan diri dari balik pintu.

“Temanmu hanya mengalami shock, beruntung cedera dikepalanya tidak terlalu parah jadi kami tidak perlu melakukan tindakan operasi.”

Jihyun tersenyum lega saat dokter tersebut mengatakan keadaan Kai, gadis itu pun menyerbu masuk ke ruang perawatan Kai, diikuti oleh Kyungsoo, Ahra dan juga Jackson. Sedangkan Sehun hanya menatap punggung teman-temannya yang kini sudah menghilang dari balik pintu.

Sehun yakin jika dirinya masuk ke dalam dan melihat kemesraan yang dipertontonkan Jihyun dan juga Kai, dirinya pasti tidak akan bisa menahan diri. Sehun lalu melangkahkan kakinya menjauh dari ruang perawatan Kai. Mungkin saat ini menyendiri merupakan pilihan terbaik untuknya.

5 hari sudah kejadian yang menimpa Jihyun terlewati, dan saat ini semua sudah berjalan dengan normal. Bahkan Kai sudah masuk sekolah seperti biasa, pria itu merasa bahagia karena Jihyun semakin meningkatkan perhatiannya. Gadis itu bahkan sampai melarang Kai untuk menyetir sendiri. Mengingat semua perhatian dan larangan yang Jihyun berikan kepadanya, Kai mulai berpikir bukankah saat ini mereka persis seperti sepasang kekasih?

Dan sudah 5 hari juga seorang Oh Sehun menghilang tanpa kabar, pria itu tidak ditemukan dimanapun. Baik itu disekolah ataupun penthousenya, Jackson bahkan hampir frustasi saat mencari keberadaan sahabatnya itu.

Jihyun yang mengetahui tentang menghilangnya Sehun juga ikut khawatir, dan gadis itu merasa menghilangnya Sehun ada sangkut pautnya dengan dirinya. Jihyun bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung pada pria itu. Mendengar penuturan Ahra tentang kekhawatiran Sehun saat dirinya diculik membuat Jihyun merasa bersalah karena saat Kai mengalami cedera, Jihyun benar-benar mengabaikan keberadaan Sehun.

Bukan hanya Jihyun, Kyungsoo dan Jackson yang bingung sekaligus khawatir tentang keberadaan Sehun. Hyena sang ratu sekolah juga merasakan hal yang sama, gadis itu bahkan mengatakan jika dirinya kehilangan semangat dan nafsu makan karena tidak melihat Sehun selama beberapa hari.

“Hyena, liburan nanti kau pasti ikut kan?”

Hyena menatap tajam salah satu temannya itu, “Bodoh, Sehun sedang menghilang mana mungkin aku ikut berlibur dan bersenang-senang seperti itu?” Hyena tidak habis pikir kenapa dirinya bisa memiliki teman sebodoh ini. Sehun menghilang dan tidak ada kabar sama sekali, itu artinya pria itu tidak akan ikut berlibur ke pulau Cheongsando. Dan jika tidak ada Sehun maka Hyena tidak akan ikut.

Bicara tentang liburan, hari ini merupakan hari dimana tiket kapal pesiar akan dibagikan ke semua siswa yang mengikuti acara liburan ke Pulau Cheongsando. Acara berlibur Empire memang tidak seperti sekolah lainnya yang mengumpulkan siswa di sekolah lalu menaiki bus hingga ke pelabuhan. Karena liburan yang diadakan Empire merupakan kegiatan yang tidak berhubungan dengan akademik malah liburan ini sudah seperti liburan pribadi.

Sungjae sebagai ketua kelas, bertugas membagikan tiket kapal pesiar kepada teman-temannya. Pria itu berkeliling di dalam kelasnya dan membagikan tiketnya satu persatu sesuai dengan nama yang tertera. Saat ini Sungjae tengah menatap nama yang tertera di tiket dengan berulang kali, memastikan jika penglihatannya tidak salah. Saat merasa yakin jika penglihatannya tidak bermasalah, Sungjae menuju kursi seseorang yang sangat dikenalnya dan memberikan tiket tersebut kepadanya.

“Kau menggodaku?” Runtuk Jihyun saat Sungjae menyodorkan sebuah tiket kepadanya, Jihyun pun mengembalikan tiket tersebut kepada Sungjae dan kembali berfokus pada buku pelajarannya.

Sungjae kembali menyerahkan tiket tersebut kepada Jihyun, “Aku tidak sedang menggodamu nona Jung, kau bisa lihat dengan jelas namamu tertera di tiket.”

Jihyun mengerjap beberapa kali, Sungjae benar namanya memang tertera di tiket, “Ini memang namaku, tapi bagaimana bisa? Aku bahkan tidak memiliki uang sebanyak itu.”

Sungjae mengangkat kedua bahunya, “Sudahlah anggap saja ini keberuntunganmu Ji. Lagipula tidak ada salahnya kau ikut berlibur bukan? Kau harus mengistirahatkan otak dan juga tubuhmu.” Sungjae lalu menepuk bahu Jihyun dan melanjutkan tugasnya untuk membagikan tiket kepada teman-temannya.

Jihyun mencoba menganalisa tentang bagaimana dirinya bisa terdaftar untuk berlibur bersama. Jihyun yakin pihak sekolah tidak mungkin membiayainya dan pihak sekolah juga tidak mungkin melakukan kesalahan. Jadi Jihyun rasa satu-satunya kemungkinan adalah ada seseorang yang mengeluarkan uang untuk membayarkan liburannya. Dan satu-satunya orang yang memiliki kemungkinan paling besar adalah Kai.

Jadi saat jam istirahat, Jihyun sengaja menginterogasi Kai dan memaksanya mengaku. Namun Kai berulang kali mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk membiayai liburan Jihyun.

“Bukan aku orangnya Ji. Aku memang ingin membayarkanmu tapi pihak panitia menolaknya dan mengatakan jika kau sudah membayar penuh.”

Diam-diam Kai menebak seseorang yang sudah pasti rela mengeluarkan uangnya untuk Jihyun. Tapi Kai tidak yakin jika pria itulah orangnya karena seingatnya setelah pengumuman liburan di Pulau Cheonsangdo diumumkan, hubungan Jihyun dan pria itu bisa dikatakan tidak baik. Dan bahkan saat ini pria itu menghilang bak ditelan bumi. Oh Sehun, bukankah dia orangnya?

——————————————-

Maaf atas keterlambatannya, oh ya sekedar info kemungkinan dua part kedepan bakalan aku protect ya. Dan cara untuk dapetin passwordnya masih sama yaitu like atau komen.

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Isn’t Love Story -(Chapter 16)

  1. Sehun adalah pelindung jihyun yang tidak terlihat. Baper tahu gak 😢😭👌
    .
    #edit #plak #salahnama😂
    Jeoseonghamnida🙇💕

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s