[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 14)

IMG_20170305_172231

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 14

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Kim Myungsoo (Infinite)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

“Jangan membuat onar Jiyeon-ah, apalagi mencari gara-gara denganku, Lee Hyojin.

Jiyeon menggertakkan giginya, menatap Hyojin dengan garang namun gadis yang ditatap sama sekali bergeming, malah balas memandang si idola kampus penuh percaya diri. Senyumnya mengembang, lalu luntur seiring datangnya mahasiswi yang selalu mengekor kemanapun Jiyeon pergi, yang membuat urat syaraf hyojin menegang apabila berurusan dengan mereka.

“Jiyeon-ah!” panggil gadis yang Hyojin kenali sebagai Yoon Hae Ra, si penggosip menyebalkan yang akhir-akhir ini membuat berita buruk tentangnya, apalagi menyangkut-pautkan teman-teman Hyojin seenaknya.

“Apa yang Hyojin lakukan padamu?”

Hyojin mendengus tak percaya akan apa yang ia dengar barusan. Bahkan dia tak menyentuh Jiyeon sama sekali sejak pembicaraan mereka, tak membiarkan Chanyeol mendengar pembicaraan mereka atau melihat ‘wajah asli’ Jiyeon, tapi malah dituduh melakukan hal buruk pada gadis itu. Hyojin merasa ingin memakan Yoon Hae Ra hidup-hidup, mengunyahnya sampai hancur, lalu memuntahkannya yang sudah berupa gumpalan daging. Sayangnya fantasi Hyojin terhenti dengan sebuah fakta kalau mulut kecilnya tak muat menampung tubuh Hae Ra, dan terlalu menjijikan jika hal tersebut menjadi kenyataan sekalipun.

“Memangnya kau lihat aku melakukan apa pada TUAN-mu?” tanya Hyojin, menekankan kata ‘tuan’ untuk menyindir teman-teman Jiyeon, dimana Hyojin menganggap mereka amat bodoh karena masih tak menyadari keanehan pada gadis itu. “Yah, mungkin karena butuh sesuatu dari Jiyeon…” gumamnya kemudian.

“Sebenarnya apa maumu sih?, harusnya kau merenung di kamar mandi sekarang, memikirkan kesalahan yang kau buat dan menebus dosamu!”

Hyojin berdecak, hendak membalas perkataan Hae Ra namun permasalahannya dengan Jiyeon lebih penting. Maka dari itu dia kembali menatap Jiyeon, menggerakan mulutnya, mengatakan ‘polisi’ tanpa suara yang mana Hyojin anggap cukup agar gadis tersebut mau mengakui apa yang sebenarnya terjadi pada kalung Jiyeon. Jika itu tidak bisa pun, Hyojin berharap Jiyeon akan berbohong lagi, apapun, yang jelas Hyojin tak perlu membayar ganti rugi.

Jiyeon sendiri terdiam, menahan kekesalannya sebaik mungkin dengan menunjukkan wajah memelasnya. Satu menit berlalu dan tak sepatah kata pun gadis itu ucapkan. Hyojin semakin jengkel dan mengulangi hal yang sama, membuat gerakan bibir dari kata ‘polisi’ untuk mengancam Jiyeon, mendesaknya. Tapi Jiyeon masih keras kepala. Hyojin hampir saja kehilangan kesabaran lantas mengungkapkannya sendiri -meski tak dipercaya lagi- atau menggamit lengan Jiyeon, menariknya sekuat mungkin dan menyeretnya menuju kantor polisi terdekat.

Jika saja panggilan telepon dari sang kakek tidak menginterupsinya.

“Brengsek.” Umpat Hyojin pada Jiyeon yang langsung pergi meninggalkan gadis itu dan rombongannya seraya memberikan tatapan tajam, supaya Jiyeon mengingat dengan baik ancamannya.

Walau sebenarnya Hyojin sendiri tak yakin dengan membuat laporan pada pihak berwajib dapat membantu menyelesaikan masalahnya. Apalagi Jiyeon adalah anak dari pemilik yayasan -seperti yang dikatakan Rae Mi-, tetapi mengingat informasi yang dia dapat dari Chanyeol, mengenai kelakuan buruk Jiyeon dimasa lalu, sepertinya ancaman ‘polisi’ cukup membuat gadis rupawan itu berpikir dua kali untuk melanjutkan aksinya meminta ganti rugi terhadap Hyojin.

“Mau apa lagi sih pria tua bangka ini?!” keluh Hyojin sepanjang jalan melewati koridor, masih belum mengangkat panggilan tersebut, kemudian menghilang diantara kerumunan mahasiswa yang melihat poster festival kampus.

Jiyeon masih disana, menenangkan dirinya sekaligus berterima kasih dalam hati pada Myungsoo yang melihatnya dari jauh sambil tersenyum angkuh. Pria itu mengangkat ponselnya, seolah menunjukkan pada Jiyeon bahwa dia dan ponselnya-lah yang menjadi sebab mengapa Hyojin pergi begitu saja tanpa menyelesaikan permasalahan mereka, sekali lagi menyelamatkan gadis itu dalam posisi terdesak.

Yang berarti dia menanggung satu hutang lagi diantara banyaknya pertolongan yang Myungsoo lakukan untuknya.

Gadis itu memilih mengabaikan pertanyaan teman-temannya, yang kemudian lelah dan menganggap bahwa Jiyeon masih syok, terkejut akibat kekasaran Hyojin. Padahal ia sama sekali tak merasa takut padanya, pada Hyojin, yang dia takutkan dari gadis bermata bulat tersebut adalah ancamannya, taktiknya, ide licik yang bisa saja kembali membawa Jiyeon dalam jurang kehancuran.

“Padahal sudah sejauh ini…” lirihnya, menyembunyikan kemarahannya dengan menghadap tembok. Lalu poster yang ditempel sepanjang koridor memberinya sebuah ide, dimana dia bisa mendapat keuntungan apabila Hyojin bersedia.

***

“Halo? Noona?” ucap Chanyeol setelah menekan opsi ‘jawab’ dilayar ponselnya, “Bagaimana keadaan disana?”

“Eoh, baik-baik saja. Sepertinya besok aku akan naik penerbangan pertama. Kau sendiri? Bagaimana keadaanmu? Rencana kita masih berjalan lancar kan?”

Chanyeol menegak ludah susah payah, dia tak mungkin menjawab dengan jujur pada kakaknya bahwa dia sudah membocorkan rencana mereka terhadap target itu sendiri. Bisa-bisa Yoora akan melakukan apapun agar keinginanya terlaksana, mengingat betapa pendendamnya wanita itu. Tapi Chanyeol tak bisa membiarkan Hyojin yang sebenarnya tidak pernah berniat jahat pada dirinya dan keluarganya menjadi umpan untuk membalas Presdir Lee.

“Chanyeol-ah!, Chanyeol? kau masih disana?… masih terhubung kan?”

Pria itu tersadar dari lamunannya, berdehem sekali lantas segera menjawab pertanyaan Yoora sebelum dia semakin khawatir.

“Ya, aku masih disini.”

“Syukurlah, kukira kau sedang dalam masalah besar. Jadi, bagaimana? Sejauh apa hubungan kalian?”

“Tentang itu…” Chanyeol berhenti sejenak untuk sekedar memperhatikan sosok Hyojin yang berlari kecil sembari menatap ponselnya kesal, “…mengenai Hyojin.”

“Eung? Ada apa dengannya?”

Chanyeol berhenti memperhatikan gadis itu setelah memasuki lift menuju lantai pertama, kembali fokus pada percakapannya dengan Yoora.

“Bisakah tidak melibatkan dia dalam rencana ini?”

“Apa?! Kenapa?!”

Pria itu menggosok tengkuknya, “Aku hanya merasa dia tidak ada sangkut pautnya dengan Lee Dae Ryeong. Ingat ceritaku?, Hyojin juga merupakan korban dari pria tua itu.” Ujarnya.

“Yak Park Chanyeol! berhenti bicara omong kosong. Menurutmu, siapa yang membuat keluarga kita bangkrut?. Terserah Hyojin tak pernah berniat melakukan itu, tapi faktanya, dialah penyebab kau kehilangan Rae Mi bukan?”

Chanyeol menghela nafas berat karena kakaknya akan mengungkit kisah lama yang telah lalu, “Noona!, salah besar kalau kau beranggapan demikian!. Ini juga kesalahanku sendiri yang tak jujur sejak awal pada mereka!”

“Berhenti membelanya!” bentak sang kakak, “Jika Hyojin mengatakan pada Rae Mi bahwa kalian sempat dijodohkan, atau memberitahu kakek sialannya untuk menghentikan perjodohan kalian, kau dan kita tak perlu menderita!”

Ingin sekali dia menyentak kakaknya, mengatakan pada wanita itu kalau dirinya sudah dibutakan oleh dendam. Meski Chanyeol pun sedang kesal bukan main pada Lee Dae Ryeong, namun dia tak setega itu untuk menjadikan Hyojin umpan, membuatnya berhadapan lagi pada pria tua jahat tersebut padahal Hyojin sudah memiliki banyak masalah.

‘Aku ingin melindungimu…’

Perkataan Hyojin terngiang dikepalanya. Tak habis pikir, mengapa Hyojin mau repot-repot memikirkan pria yang sudah mengambil keuntungan darinya, sampai-sampai hendak melindungi Chanyeol. Hyojin telah melakukan banyak hal untuknya, merayakan ulang tahunnya, rela menggendong dirinya di tengah hujan ketika Chanyeol kepayahan melawan demam, membuatkannya sup rumput laut kesukaannya, membelanya saat Lee Dae Ryeong memojokkannya… sebanyak itu.

Namun ia bahkan belum pernah bertanya tentang Hyojin, tentang keadaan gadis itu dan alasan mengapa dia tidak tinggal bersama orangtua yang telah lama ia cari. Tiba-tiba saja Chanyeol merasa menjadi orang paling jahat sedunia, membuat Hyojin menunggu dan malah mengatakan hal menyakitkan.

“Kau jangan macam-macam Chanyeol-ah, besok tunggu aku dibandara, setelah sampai kita akan segera membahas perihal rencana tersebut lebih lan-”

Chanyeol memutuskan sambungan sepihak, lantas mematikan ponselnya agar Yoora berhenti menelponnya dan memintanya melakukan ini-itu. Pria itu sudah memutuskan untuk berhenti melibatkan Hyojin, jika dia ingin balas dendam sekalipun, baik Hyojin dan Rae Mi yang menjadi anak Presdir itu tak akan turut campur dalam masalahnya.

***

“Kali ini apalagi?” gerutu Hyojin yang kedua tangannya ditahan oleh dua orang pria bertubuh tegap, melebihi Yongguk. “Perlu melakukan ini terhadap cucumu sendiri?” sarkasnya sambil meronta, berusaha untuk yang kesekian kalinya membebaskan diri dari sergapan anak buah kakeknya.

Tuan Lee menghisap cerutunya, kemudian mengepulkan asap dari mulutnya, membuat udara di ruangan kerjanya tercemar atas ulahnya sendiri.

“Cucu? Baru kali ini kau menganggap dirimu demikian.”

Hyojin tertawa remeh dengan nada datar, “Tidak tahu soal sarkasme ya?. Heran, pria kaya sepertimu bisa menjadi Presdir ketika pengetahuan sastramu payah!”

“Mengetahuinya tidak menjadikanmu kaya raya.” Balas tuan Lee, kembali menghisap cerutunya, “Aku tidak suka basa-basi, kalian, bawa dia keruangan yang tadi, biar sisanya diurus oleh para pelayan.” Titahnya pada dua anak buah yang menahan Hyojin serta dua lainnya yang berjaga di pintu depan.

Hyojin menghentak-hentakkan kakinya, menggoncangkan tubuhnya sekuat mungkin ketika orang-orang suruhan kakeknya mulai menyeretnya pergi, “Apa?!, hei! Kau mau apalagi sih?. Jangan bilang…”

“Satu jam lagi mereka akan datang, kau cukup berdandan dan bersikap sopan seperti sebelumnya… yang kau lakukan pada keluarga Park.” Senyum sinis pria yang berusia lebih dari setengah abad itu mengembang, berbeda dengan Hyojin yang mendelik tak percaya karena pemikirannya sejalan dengan apa yang terjadi sekarang, dimana tuan Lee kembali menjadikannya alat bisnis.

***

Sehun menatap layar ponselnya begitu serius, menunggu balasan dari seseorang yang sudah dia hubungi sejak tadi baik melalui pesan singkat maupun panggilan yang sama sekali tak dijawab. Jong In yang berdiri disampingnya berdiri tegak memandang rumah megah yang belum pernah dia lihat dikehidupan nyata sebelumnya, bukan karena kagum, tapi memikirkan cara supaya bisa melewati pagar keamanan kediaman Presdir perusahaan Jaeguk dan membawa sahabatnya keluar darisana.

“Bagaimana?” tanya Jong In yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Sehun, lelah menunggu benda persegi itu berbunyi dan menampilkan jawaban atas rasa kekhawatirannya terhadap Hyojin.

“Seharusnya aku segera berlari mengejar mobil hitam itu ketika Hyojin ditarik masuk dengan kasar.” Sesal Sehun kemudian.

Jong In mengacak rambutnya, kesal, bukan kepada Sehun tapi pada masalah yang tiada henti mengacau kehidupan normal Hyojin. Padahal seharusnya setelah bisa menemukan orangtuanya, dia bisa kembali ke kehidupan lamanya, menjadi gadis biasa, kuliah dengan damai, berkencan, mempunyai teman wanita yang bisa diajak pergi kemana saja, mendengar keluh kesahnya. Bukannya terjebak dalam permainan kakek jahatnya.

“Rae Mi! sudah coba hubungi Rae Mi?”

Sehun menggeleng dan Jong In makin frustasi.

“Bang Yongguk?, bagaimana dengan dia? apa memberitahukan situasi ini dia bisa membantu kita?”

Lagi-lagi Sehun menggeleng, “Keluarganya dan kakek Hyojin sedang bekerja sama sekarang. Meskipun Yongguk akan berada di pihak kita, bagaimanapun juga, dia tak dapat melakukan apapun setelah membangkang pada ayahnya.”

Jong In kembali mengacak rambutnya yang sudah benar-benar kusut, “Jadi bagaimana?!” marahnya, “Kenapa lingkungan hidup kalian begitu rumit sih?!”

“Kurasa, setidaknya ada satu orang yang kurasa bisa dimintai bantuan atau mungkin memberi kita solusi.”

Mata Jong In berkilat, ia langsung menoleh pada Sehun yang kini juga tengah menatapnya penuh harap. “Siapa?” tanya Jong In, ragu-ragu, karena perasaannya tak enak begitu Sehun menunjukkan ekspresi seperti itu.

“Kim Hyoyeon.”

“APA?! SUDAH GILA YA?!. KENAPA TIDAK KAU SAJA YANG AKU KORBANKAN KEPADA ANJING PENJAGA LEE DAE RYEONG!” teriak Jong In, tidak peduli kalau teriakannya dapat didengar oleh petugas keamanan ataupun anjingnya yang berjaga didepan gerbang rumah megah Presdir Lee.

“Arrrgh! Tidak perlu berteriak juga bisa kan?!”

“Kau itu sudah gila ya?, jika Yongguk yang satu keluarga dengan Hyo- maksudku wanita itu tidak bisa membantu, bagaimana bisa Hyo- wanita itu melakukannya?!” tanya Jong In yang tidak mau mengucapkan nama Hyoyeon.

“Tidak ingat kalau Hyo- wanita itu adalah pegawai pemerintah?. Dia seorang pengacara jadi setidaknya kau bisa bertanya pada Hyo- wanita itu cara untuk membebaskan Hyojin kan?!” ledek Sehun yang ikut menyebut Hyoyeon dengan ‘Hyo-wanita itu’. “Hubungi dia!”

Kali ini giliran Jong In yang menggelengkan kepalanya, “Tidak, tidak, selain aku tak mau berhubungan dengannya lagi, belum tentu juga dia akan mengangkat telepon dariku.” Ujarnya sambil memalingkan muka.

“Kenapa tidak dicoba dulu?, ingat, Hyojin bisa saja dilibatkan dalam masalah serius oleh kakeknya, dan demi harga diri kau mau membiarkannya begitu saja?”

Jong In tahu kalau apa yang Sehun ucapkan memang benar seluruhnya, tapi Sehun sedang tidak berada dalam posisinya, pria tampan itu tak akan mengerti perasaan Jong In begitu Sehun menyebut nama Hyoyeon dihadapannya.

“Kita pikirkan cara lain, aku yakin Hyojin bisa bebas dari pria tua itu.”

*Hyojin POV*

Pelan, pelan, pelan. Aku berjalan begitu pelan supaya tidak menimbulkan suara, bahkan aku melepas alas kaki pun tidak sadar kalau berjinjit sepanjang perjalanan kabur dari rumah terkutuk ini. Lagipula, butuh uang berapa banyak lagi sih si tua Lee Dae Ryeong itu?!. Masih perlu membuatku menikah dengan anak koleganya setelah perbuatan apa yang dia lakukan padaku dan orangtuaku?!.

Dan disinilah aku berakhir, kabur dari ruang make up apalah itu dan bersembunyi dibalik meja yang ditaruh didepan toilet lantai satu. Yang walaupun kamar mandi rumah ini selalu harum, tapi bagaimanapun juga rasa jijik itu masih ada, membayangkan berapa banyak kotoran yang dibuang disana…

“Bicara apa sih aku ini!”

“Nona Hyojin?”

Ah sial. Ketahuan.

“Nona! Nona Hyojin!”

“Cepat kejar dia!”

Aku mempercepat lariku, mengangkat rok panjang yang agak mengembang dan menyusahkanku dalam bergerak ini, melewati para pelayan serta bodyguard pria tua sialan itu menuju halaman belakang yang terdapat jalan keluar rahasia yang kubuat dulu ketika kakek tua itu terus memaksaku tinggal di rumahnya. Kira-kira, sudah berapa kali aku menggunakan jalan rahasia itu ya?, semoga saja jalan itu masih ada dan tak ada yang menyadarinya. Mengingat halaman belakang adalah tempat yang tidak pernah didatangi si Presdir Jaeguk jadi jarang dibersihkan oleh pelayan lainnya.

Itu dia!, ternyata masih ada!. Aku mengangkat lima batu besar seukuran kepala manusia yang menjadi penutup pertama jalan rahasia itu, kemudian menggeser kayu tipis yang menutupi lubang di tembok bata yang muat untuk dilewati satu orang dewasa. Bagus, meski banyak lumut disekitarnya serta terlihat lebih rapuh dari yang dulu, yang penting aku bisa kabur dan berhenti menjadi ‘barang’ milik Lee Dae Ryeong.

“Eoh?”

“EOH?!”

Aku menutup mulutku begitu sadar kalau mereka bisa mendengar suara teriakanku. Tapi, sungguh, aku terkejut saat seseorang memergokiku dan yang lebih mengejutkan adalah siapa orang tersebut.

“Sedang apa sunbae disini?” tanyaku pada pria itu, duduk menyandar pada tembok sambil mengatur nafas pun degub jantung yang tak beraturan.

Pria itu mengikuti kegiatanku, “Ada acara makan malam di rumah ini.”

“Lalu kenapa masih disini?”

“Kenapa ya?” Jawabnya yang tidak berupa jawaban, menatapku menyeluruh dan membuatku merinding seketika.

Kenapa? Ada apa? Apa riasanku hancur? Jangan-jangan dia seorang indigo yang bisa melihat hantu! Apa ada makhluk halus dibelakangku? Wah! Mungkinkah dia seperti itu karena hendak melakukan pelecehan pada gadis manis nan polos yang baru saja berhasil kabur dari cengkraman siluman tua?. Ah dasar tukang drama!. Bahkan sambil memikirkan pertanyaan-pertanyaan konyol itu, tanpa sadar aku memundurkan tubuhku dan memberinya tatapan menyelidik yang membuatnya tertawa.

Apa? Memangnya aku sedang melawak?.

“Aku hanya mencari udara segar.” Ucapnya setelah puas tertawa, “Sepertinya, kau habis melarikan diri dari acara perjodohan ini ya?”

Lagi-lagi serangan jantung ringan. Bagaimana bisa dia mengetahuinya?, oke, oke, dia senior satu jurusan denganku yang berurusan dengan mempelajari manusia. Tapi hei!, bagaimana dia tahu selengkap dan sedetail itu?!. Jawabannya ada diantara dia stalker atau seseorang yang akan dijodohkan denganku.

“Ada hubungan apa kau dengan Presdir Lee?” tanyaku menyelidik sekaligus waspada. Jika pemikiranku benar, dia bisa membawaku kembali kepada si tua itu… kan?.

“Bukan aku, tapi ayahku.”

Sekarang aku tahu kalau ilmu yang kudapat dari pelajaran di kampus cukup membantuku untuk sedikitnya mengetahui kepura-puraan Park Jiyeon, juga pria ini, Kim Myungsoo. Aku sudah pernah bilang kalau ada yang aneh dengannya kan?. Dan kurasa aku benar, terbukti dari bagaimana dia tersenyum sinis dan menampakan wajah lainnya yang sama sekali berbeda saat di kampus, dimana banya orang yang mengenalnya sebagai ‘pria idaman’, ‘pria idola’, ‘si baik hati Myungsoo’, dan lain-lain.

Saat ini dihadapanku dia lebih terlihat seperti Lee Dae Ryeong versi muda.

“Tenang saja, aku tidak akan menahanmu atau melaporkan keberadaanmu.” Katanya tanpa menatapku, mengeluarkan sebungkus rokok serta pemantik dari balik jas mewahnya. “Kau punya pilihan hidupmu sendiri, jadi lakukanlah semaumu. Toh, aku juga tak akan rugi apapun.” Ia mulai menempelkan sebatang rokok dimulutnya, kemudian membakar ujungnya untuk kemudian dihisap asap nikotin yang bisa merusak kesehatan siapapun itu. Baik yang merokok maupun yang tidak.

“Tapi, sekedar saran untukmu, jika kau mau kembali kesana, duduk manis dimeja makan dan menyelesaikan acara dengan baik, kakekmu itu tidak akan membuatmu terlibat lagi dalam masalahnya.”

Aku mendengus, “Memangnya apa yang kau ketahui soal pria tua itu?. Setelah aku menurutinya sekali, dia akan meminta terus-terusan. Dan kau pikir acara malam ini hanya makan-ngobrol-pulang?”

“Ya, ya, aku paham sekali soal itu. Biasanya pebisnis mempunyai ambisi yang besar agar bisa sukses. Namun jika kau mau mengikuti saranmu, aku akan membantumu untuk menghentikan perjodohan kita. Dengar, semuanya akan lebih mudah kalau kau menurut.”

Benar, apa yang dia katakan benar dan lebih mudah dilakukan. Jika aku kembali mengikuti kemauan si tua itu, dia akan berhenti memata-matai keluargaku, Jinhyo bisa berhenti melakukan hal bodoh, teman-temanku tidak akan dijadikan umpan untuk menyakitiku, semuanya… akan lebih mudah.

Aku berdiri, tanpa membersihkan debu yang sekiranya menempel pada gaun yang kupakai. “Aku tetap pada pilihanku.” Ujarku tegas, “Kemudahan tidak menjadi jaminan untuk kelangsungan hidupku. Aku yang menentukan, aku yang memilih seperti katamu, jadi terima kasih, aku akan pergi kearah sana.”

Ia ikut berdiri, “Oke, dan sesuai janjiku aku akan tutup mulut mengenai pertemuan kita malam ini. Semoga kau bisa melakukan hal yang sama untukku.” Lalu menjatuhkan rokoknya kemudian diinjak sampai apinya mati.

“Tak masalah.” Kataku tersenyum lebar, sekedar basa-basi. “Aku bukan tipe orang yang mau ikut campur dalam urusan orang lain. Kecuali orang itu berharga bagiku.”

“Nona Hyojin! Nona Hyojin!”

Sial! Mereka masih mencari rupanya. Aku harus segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka menemukanku.

“Oh ya, dan kalau bisa aku ingin minta tolong supaya kau mau merapikan jalan rahasia ini untukku. Terima kasih.”

Tidak menunggu balasan dari Myungsoo, aku segera melanjutkan pelarianku. Tanpa alas kaki, tanpa pakaian yang layak, tanpa uang dan ponsel yang ketinggalan di kamar rias, yang penting menyelamatkan diri dulu!.

*Author POV*

“Hoi awas!” pekik pengendara motor yang hampir menabrak Hyojin.

Gadis itu balas berteriak pada pria yang sempat berhenti untuk memakinya itu, “Kau yang awas!, memangnya trotoar ini milik nenek moyangmu apa?!”

“Dasar gadis gila!” pria pengantar makanan cepat saji itu kembali melanjutkan perjalanannya.

“Kau yang gila! Trotoar itu milik pejalan kaki!, dasar sampah!”

Hyojin pun melanjutkan perjalanannya, dengan penampilan berantakan serta tidak mengenakan alas kaki dijalanan yang cukup dingin meski musim panas sudah tiba. Orang-orang memperhatikannya, beberapa menganggapnya gelandangan gila, beberapa juga tak acuh menanggapinya.

Gadis itu ingin menangis, supaya terlihat lebih merana dan patut dikasihani jika dia memang sudah kehilangan akal sehatnya. Tapi Hyojin masih sanggup menahannya, mengabaikan kakinya yang terasa perih dan mulai dipenuhi luka, gadis itu masih sanggup berjalan, walau masih tak tahu rumah mana yang akan dia tuju.

Sebab meski sudah bertemu dengan orangtuanya, dia masih tidak bisa merasakan kehangatan keluarga. Karena kemarahan Jinhyo, kecanggungan yang masih terasa diantara mereka, pun karena masalah dengan kakeknya masih belum selesai. Padahal kebahagiaannya sudah didepan mata, namun seperti fatamorgana, jika kau tidak memeriksanya dengan benar, kebahagiaan itu sama saja seperti ilusi.

“Hyojin-ah.”

Ia mendongak, mendapati Chanyeol si pria tinggi yang disukainya tengah berdiri dibawah jembatan penyebrangan, yang menatapnya kebingungan. Pria itu berjalan mendekati Hyojin yang bergeming, diam seperti patung dengan air mata yang membasahi pipinya.

“Kau kenapa huh?!”

Tangis Hyojin pecah seketika, walau dia berusaha menahannya, entah kenapa kedatangan Chanyeol dan pertanyaan bernada khawatirnya membuat gadis itu melepas emosinya begitu saja. Gadis itu menunduk dalam, menyembunyikan wajah berantakannya, tak ingin Chanyeol melihatnya. Orang-orang yang lewat kembali memperhatikan, kali ini menganggap Chanyeol telah melakukan sesuatu yang buruk hingga kekasihnya menangis seperti itu.

Chanyeol kelabakan, dia khawatir dengan keadaan Hyojin yang tampak kacau dan anggapan orang lain mengenai dirinya membuat dia semakin bingung harus bagaimana.

“Hyojin-ah… ja-jangan menangis oke?. Yak, nanti mereka kira aku melecehkanmu atau semacamnya!” hibur pria itu yang mana melah membuat Hyojin kesal.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Hyojin berusaha memukul Chanyeol, tapi pria itu dapat menangkap kepalan tinju dari tangan mungil Hyojin. Perlahan, menarik tubuh gadis itu lantas memberinya pelukan hangat. Tangannya mengusap kepala Hyojin yang masih sesenggukan menyelesaikan tangisannya, seraya berkata bahwa semuanya baik-baik saja, jadi Hyojin tidak perlu menahan rasa sakitnya lagi, tidak perlu menutupinya didepan Chanyeol.

“Karena aku berjanji untuk tidak membiarkanmu terluka demi diriku.”

~To Be Continue~

Semoga part terakhirnya mengobati rasa kangen pembaca sekalian dengan ChanJin moment. Maaf juga buat typo dan salah katanya author akan berusaha memperbaikinya T.T

Jangan sedih karena moment ChanJinnya kurang banyak, karena minggu depan bakal dibuat ‘kencan tidak disengaja’ buat mereka kekekeke *apasih!* jadi tunggu Chapter selanjutnya ya. tapi nggak bisa satu chapter isinya ChanJin moment melulu sih, soalnya nanti ngetiknya bikin author baper huhuhu T.T belum lagi side story tokoh-tokoh lainnya harus dilanjutin juga, mana other cast-nya banyak lagi *makanya jangan bikin banyak cast atuh!* jadi kalau kadang ceritanya lagi fokus ke tokoh tambahan, mohon pengertiannya, soalnya kadang, ada hubungannya sama dua pemain utama FF ini…

Okedeh, RCL Juseyooo~~~

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 14)

  1. sbenernya chan suka siapa sih.. kasian hyojin di php in mulu.. berat deh klo jadi hyojin
    dia smpe nangis kan.. duo sahabat hyojin cepat bntu hyojin utk bhgia

  2. kumohon endingnya itu happy setengah sad kak/itu maksudnya apa..?/
    oh my god,chanjin kapan bener2 saling jatuh cinta seutuhnya sih,aku terus ngebayangin itu….
    nextnya mga lebih greget lagi kak,waiting your next chapter….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s