[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 17)

Poster Secret Wife5

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note       : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 17 (Saturday Night)

Junghae yang sudah rapi dengan busana formal khas pegawai kantor tersenyum senang. Dia dapat melihat pantulan dirinya dari cermin meja riasnya. Okay, dia siap untuk berangkat bekerja. Dia tak pernah sesemangat ini jika menyangkut dengan bisnis. Bahkan saat dia kebanjiran job pesanan pun, dia selalu bersikap biasa. Dia bahkan tak pernah mematok harga untuk baju yang dibuatnya. Dia selalu menyerahkan masalah itu pada asistennya, Mrs. Wilson. Wanita cantik blasteran Inggris-Amerika yang dikenalkan ibunya dulu. Usianya sudah memasuki akhir tiga puluhan, memiliki satu orang putra yang berusia sekitar enam tahun. Wanita itu menikah dengan pria asal Kanada dan menetap di California.

Sekali lagi dia menatap cermin, senyum manis merekah di bibirnya. Entah mengapa dia merasa sesuatu yang baik akan terjadi. Ya, dari mulai dia bangun tidur, entah sudah berapa banyak dia tersenyum.

Dia tak pernah membayangkan akan menikah sebelumnya. Dia sama sekali belum memikirkan hal itu. Itu adalah rencana nomor sekian dalam hidupnya. Tapi justru itu hal yang tak disangka akan terjadi diusianya yang terbilang masih muda.

Tak buruk juga menikah muda. Tapi, apa dia juga akan menjadi ibu diusianya yang bahkan belum genap 24 tahun? Dia tak pernah membayangkannya. Dia memegang perutnya, jadi sewaktu-waktu akan tumbuh seorang malaikat kecil untuknya. Bukankah itu kemungkinan yang pasti akan terjadi. Ya, itu benar. Karena itulah dia harus bersiap mulai sekarang. Tiba-tiba ponselnya berbunyi membuyarkan pemikiran tentang hidupnya.

Yeobseyo”, dia meraih tas, mantelnya dan meninggalkan kamarnya. Berjalan pelan menuju meja makan.

“…………”.

“Iya, selamat pagi oppa. Tidak biasanya kau menelfon sepagi ini. Apa ada masalah?”, tanya Junghae. Sepanjang sejarah menjadi adik dari Kim Jongdae, dia tak pernah mendapat panggilan sepagi ini. Pasti ada sesuatu yang terjadi.

“…………..”.

“Bukankah itu tugas Manajer Lee. Aku kira dia sudah menyelesaikannya minggu lalu”, jawabnya kembali. Dia menuruni tangga dengan hati-hati.

“…………..”.

“Jangan bercanda oppa! Tidak, aku tidak mau. Itu bukan tugasku. Kenapa oppa tak menyuruhnya. Itu tanggung jawabnya, bukan”, Junghae kembali bersuara. Dia dapat melihat seluruh keluarganya sudah berkumpul di meja makan, kecuali Jongdae tentunya.

“……………”.

Junghae terlihat sedang berfikir. Menerima perintah kakaknya atau tidak. “Iya, baiklah. Aku akan datang ke tempat Chanyeol oppa nanti”, pasrahnya di akhir. Dia menarik salah satu kursi, meletakkan mantel dan juga tasnya lalu mendudukan tubuhnya disana. Semua mata kini tertuju padanya. Ya, ini pemandangan yang langka. Tak biasanya Junghae membawa panggilan ponselnya ke meja makan.

“…………..”.

“Jadi kapan kau pulang? Kau tahu berapa banyak pekerjaanmu yang harus aku gantikan. Aku sudah seperti menjadi seorang CEO sekarang. Kenapa tak sekalian kau menyuruhku menggantikan posisimu?”, ada nada jengkel di perkataan Junghae.

“…………….”.

“Tidak, tidak. Aku hanya bercanda oppa! Jangan diambil hati, okay”, Junghae terlihat menyesali perkataannya tadi.

“……………”.

Junghae tersenyum. “Bilang saja jika kau mau meneruskan bulan madumu. Aku tahu kau bersama Ahna eonni sekarang”.

“…………….”.

“Iya, iya. Aku memang yang menyebabkan kalian harus kembali lebih awal. Tapi itu juga di luar dugaan bukan. Kenapa oppa jadi perhitungan denganku?”.

“……………..”.

“Iya, terserah padamu! Aku tutup dulu”. Junghae benar-benar menutup panggilannya. Dia memasukan ponselnya dalam tas. Dia langsung mendapat tatapan tanda tanya dari semua orang yang ada di tempat itu. “Kenapa kalian menatapku seperti itu?”, ucapnya yang disertai senyum kikuknya.

Ibunya tersenyum kemudian. Dia tahu jika putrinya merasa tak enak. Karena itu dia bersuara untuk menguranginya. “Kau sudah tahu kalau kami sudah menunggumu sejak tadi. Ya sudah, ayo kita makan”.

I’m sorry”, jawab Junghae. Dia kemudian memulai sarapan bersama keluarganya setelah melihat ayahnya mulai menyuapkan makanan.

***

Seperti permintaan kakak pertamanya, Junghae memasuki hotel milik suaminya. Sebenarnya dia masih sedikit malu bertemu dengan pria itu, setelah apa yang terjadi semalam. Tapi dia tak punya pilihan selain memenuhi permintaan kakak tertuanya. Salahkan dirinya yang menjadi penyebab semua kekacauan hatinya sekarang. Dia mengambil nafas dalam untuk menenangkan dirinya. Semoga dia tak merasa gugup saap bertemu pria itu.

Dia kembali melangkahkan kakinya. Dia dapat melihat pria yang tadi ia pikirkan tengah berjalan ke arahnya. Sepertinya pria itu akan pergi ke suatu tempat. Ah, bukankah ini sudah jam makan siang, pasti dia punya janji. Pikirnya.

Oppa, apa kau mau pergi? Bisakah kita bicara sebentar?”, kata Junghae saat pria itu tepat berada di depannya. Dia harus mencegahnya sebentar jika tidak ingin pekerjaannya tertunda.

Pria itu tersenyum padanya. Senyum yang diam-diam dirindukannya.

“Bukankan kita memang ada janji!”, jawab pria itu.

“Hah”, Junghae mengangkat alisnya tak paham.

“Bukankah kau bilang jika kau ingin bicara denganku! Kajja”, pria itu menarik tangan Junghae. Membawanya pergi ke tempat yang tak pernah Junghae ketahui.

Junghae yang masih belum tersadar dari rasa terkejutnya, membiarkan pria itu menggenggam tangannya. Dia hanya berjalan mengikuti kemanapun pria itu melangkah. Dia baru tersadar saat pria itu membukakan pintu mobil untuknya.

“Masuklah!”, perintahnya.

“Kita mau kemana?”, tanya Junghae yang masih berdiri.

“Bukankah kau belum makan siang!”, pria itu kembali bertanya. Ini lebih seperti tebakan. Dan yah, tebakannya benar. Junghae memang belum makan. Wajar saja, ini baru memasuki jam makan siang kan.

Eoh”, jawab Junghae disertai anggukan.

“Masuklah! Kita makan dulu”, pria itu dengan sabar menunggu istrinya memasuki mobilnya. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah ia menutup pintu mobilnya. Dia juga membuka pintu lain untuk dirinya. Tak sampai semenit mobilnya sudah menghilang dari halaman luas hotelnya.

Sepanjang perjalanannya, Junghae hanya bisa diam. Dia masih memikirkan maksud dari perkataan pria yang kini tengah fokus menyetir. Seingatnya, dia tak pernah punya janji dengan pria itu, tapi kenapa dia bilang jika mereka punya janji. Apa mungkin Junghae yang lupa? Tidak, dia benar-benar tak merasa pernah membuat janji dengan pria ini. Atau mungkin pria ini sudah tahu maksud kedatangannya tadi. Tapi dari mana, apa kakaknya yang memberitahukannya? Ya, pasti karena itu.

Pria itu melirik dari ekor matanya ke arah Junghae. Ada raut penuh tanya di wajah gadisnya. Tentu saja, dia yang sudah membuat gadis itu bertanya-tanya. “Jongdae sudah memberitahukan semuanya padaku pagi tadi. Dari pagi ada meeting yang benar-benar membosankan. Karena itu aku ingin mengajakmu makan siang di luar, sekalian membahasnya nanti”, ucap pria itu tiba-tiba.

Junghae benar-benar tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa tahu apa yang sebenarnya ia fikirkan. Dia bahkan tak perlu bertanya, dan langsung mendapat jawabannya. “Jadi begitu!”, hanya itu yang bisa dikatakannya. Dia juga tersenyum kikuk.

Butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat yang mereka tuju. Ini adalah restoran yang pernah mereka kunjungi. Mungkin tempat ini akan masuk dalam daftar tempat favorit untuk kencan mereka. Tempat ini memang tak semewah restoran-restoran mahal yang ada di kota tersebut. Tapi tempat ini sangat pas untuk mereka yang sedang berkencan. Suasana nyaman dapat kalian rasakan, ditambah musik-musik romantis yang selalu dapat di dengar. Sangat pas bukan.

Mereka memilih duduk di pojok ruang samping jendela. Dari sana kau dapat melihat sungai Han yang nampak tenang. Tak lama setelahnya datanglah seorang pelayan. Dia menyodorkan buku menu. Junghae sebenarnya tak terlalu lapar, dan lagi dia juga sedang tidak ingin makan. Jadi dia memilih memesan makanan yang sama dengan pria itu.

“Jadi apa yang kau bawa?”, tanya pria itu memulai pembicaraan disela-sela menunggu pesanan datang.

“Aku hanya membawa apa yang Jongdae oppa bilang. Ini”, Junghae menyerahkan map yang tadi dibawanya.

Pria itu segera memeriksanya setelah menerima map tersebut. “Bukankah sebenarnya ini tanggung jawab Manajer Lee”, tanya pria itu kembali setelah menutup mapnya. Tak ada yang kurang dari apa yang dia butuhkan.

“Ya, aku sudah bilang begitu sejak awal. Tapi kau tahu sendirikan oppa, bagaimana watak seorang Kim Jongdae. Kenapa tak sekalian saja dia memintaku menggantikan posisinya. Menyebalkan!”. Ada nada tak suka dalam ucapan Junghae. Entah mengapa akhir-akhir ini dia jadi mudah mengeluh. Dia sendiri tak tahu mengapa dia jadi begitu.

“Jadi kau menyesal bertemu denganku?”, pria itu tahu jika gadisnya sebenarnya tengah mengeluh. Ya, dapat ia lihat wajah lelah gadis itu. Pasti gadis itu tak mendapat banyak istirahat. Karena itu, dia berniat menggodanya.

“Bukan, bukan begitu maksudku! Aku hanya,….”, Junghae tak menemukan kata yang tepat untuk melengkapi kalimatnya.

“Hanya apa?”, pria itu kembali bertanya karena Junghae tak kunjung melanjutkannya.

“Ah, molla. Mollayo!”, Junghae terlihat pasrah. Dia memang tak bisa menemukan kata yang tepat. Betapa malunya dia.

Gadis itu berlipat imut saat sedang kesal, itulah yang dipikirkan pria itu. Ia harus mengingatnya mulai sekarang, dan sering-seringlah membuatnya kesal. Dengan begitu gadisnya akan semakin imut. Seulas senyum kini tercetak di wajah tampannya.

“Kenapa oppa tersenyum?”, tanya Junghae yang merasa aneh dengan senyum yang baru disunggingkan pria itu.

“Kau terlihat imut saat sedang kesal”, jelas pria itu.

Op~pa”, protes Junghae. Wajahnya mulai memerah karena malu.

“Aku berkata benar”, ucap pria itu kembali.

Dan bertambah merahlah pipi Junghae.

Dan setelahnya datang pesanan yang tadi di pesannya. Membuat mereka terpaksa menghentikan aktivitas goda-menggodanya.

“Sebenarnya kita mau kemana?”, tanya Jungra. Entah sudah berapa kali dia melontarkan pertanyaan yang sama. Namun, pria itu tak kunjung menjawabnya. Dia terlihat duduk tak tenang disamping kemudi. Ya, dia harus merelakan waktu makan siangnya untuk pria yang kini tengah fokus menyetir, Sehun. Itupun setelah pria itu menggunakan jurus andalannya, yang membuatnya tak mampu menolak permiantaan pria yang sudah menjadi temannya sejak lama.

“Kau akan tahu nanti. Bukankah kau sudah berjanji akan menemaniku makan siang”, Sehun yang diam sedari tadi akhirnya bersuara. Dia sudah lelah mendengar pertanyaan yang sama dari mulut gadis yang sudah tertanam lama di hatinya. Sehun akhirnya menepikan mobilnya di sebuah restoran yang sudah menjadi tempat favoritnya sejak duduk di bangku kuliah. Tempat itu sudah banyak berubah dari terakhir yang dia ingat.

Banyak tanaman hias yang tertata rapi di sepanjang jalan menuju tempat makan. Parkirnya juga lumayan luas. Tempat ini memang lebih luas dari sebelumnya. Lagu-lagu romantis sudah dapat dia dengar sejak turun dari mobil. Dia tak sabar ingin melihat dekorasi di tempat makannya.

Sehun berjalan sejajar dengan Jungra memasuki tempat makan tersebut. Tempat itu benar-benar terlihat berbeda. Nuansa romantis langsung dapat Sehun rasakan saat memasukinya. Ya, ini efek dari dekorasi serta aksesoris ruang yang ditata sedemikian rapi nan cantik. Tempat ini memang pas untuk pasangan yang sedang berkencan. Meski dia tak sedang berkencan sebenarnya, tapi tak apalah. Ini juga bentuk usaha untuk mendapatkan hati gadis itu.

Jungra mengedarkan pandangan ke seluruh ruang. Mencari tempat yang pas untuk duduk. Namun tempat itu sudah terlihat penuh, maklum saja ini jam makan siang. Dia menangkap sosok pria yang dikenalnya di pojok ruang. Dia tengah bercanda dengan seseorang, gadis lebih tepatnya. Dia tak dapat melihat wajah gadis itu karena memang posisinya yang membelakanginya. Apa pria itu sedang berkencan? Pikir Jungra.

“Bukankah itu Chanyeol oppa?”, tanya Jungra untuk memastikan apa yang dilihatnya.

Sehun menoleh ke arah yang ditunjuk Jungra. Dan benar saja, kakaknya tengah bercanda dengan seorang gadis. Sepertinya dia mengenal pemilik rambut itu. Ya, itu Junghae. Adik dari gadis yang diajaknya sekarang.

Hyung”, sapa Sehun. Dia segera menghampiri pria yang dia panggil hyung. Jungra mengikuti dari belakang.

Pria itu menoleh, seolah panggilan itu ditujukan untuk dirinya. Dan benar saja, adik sepupunya tengah memanggilnya. Dan tidak sendiri, adiknya membawa gadis yang tak lain adalah kakak dari istrinya.

Junghae juga ikut menoleh ketika pria yang duduk dihadapannya menoleh. Dia bisa melihat Sehun dan juga, tunggu dulu. Dia bersama kakak perempuannya. Sejak kapan gadis itu mau diajak jalan Sehun. Apa mungkin mereka? Tidak, ini pasti karena mereka sudah berbaikan sekarang.

“Apa yang kau lakukan disini? Dengan Junghae”, tanya Sehun. Dia langsung duduk di kursi kosong samping kakaknya.

Jungra juga mengikuti hal yang sama dengan Sehun. “Apa yang kalian lakukan disini?, imbuhnya.

Mereka berdua hanya tersenyum dan saling menatap seolah menyuruh salah satu dari mereka bersuara. Tak pernah disangkan kencan kecil mereka akan ketahuan oleh adik sekaligus kakaknya.

“Jangan bilang kalian sedang berkencan?”, Sehun kembali bersuara kala mereka berdua memilih tetap diam.

“Jika kalian bisa berkencan, kenapa aku tak bisa!”, Chanyeol berkata dengan tanpa dosa. Dia kembali meneguk minumannya, tak tanggung-tanggung sampai gelas itu kosong.

Sehun dan Jungra membulatkan matanya seketika. Pandangannya beralih ke arah Junghae. Mereka dapat melihat Junghae tersenyum sebelum meneguk kembali minumannya. Apa benar yang dikatakan Chanyeol? Mereka tak bisa percaya begitu saja. Pasalnya Chanyeol berkata dengan nada yang tak meyakinkan.

“Kami tak berkencan hyung. Aku hanya ingin mengajaknya makan siang”, bantah Sehun.

“Kalau begitu sama, aku juga hanya ingin mengajaknya makan siang”, jelas Chanyeol kemudian.

Heol. Sudah kuduga. Ah, ini pasti soal pekerjaan bukan. Akan membosankan jika terus berada di kantor, benarkan hyung”, sahut Sehun lagi. Dia dapat melihat map di meja tersebut.

Hanya anggukan yang diberikan Chanyeol sebagai jawaban.

Berbeda dengan Jungra. Apa benar ini hanya sebatas pekerjaan? Lalu bagaimana dengan foto itu. Ya, foto mereka. Kenapa dia baru ingat tentang foto itu sekarang, seharusnya dia sudah mengintrogasi adiknya tadi pagi. Tapi sepertinya mereka memiliki hubungan lebih. Dia dapat melihat tawa lepas dari pria itu tadi.

Eonni, kenapa diam?”, tanya Junghae yang melihat kakaknya tengah terfikir sesuatu.

Jungra menggeleng disertai senyum yang ia paksakan.

“Sepertinya aku harus pergi. Ada meeting penting yang harus ku hadiri”, jawab Junghae setelah melihat pesan yang diterimanya. Dia segera berdiri, mengambil tas dan berjalan pergi. baru dua langkah dia berbalik. “Akan lebih baik jika kalian benar-benar berkencan!”, dia kembali melanjutkan perjalannya tanpa memperdulikan reaksi orang yang diajaknya bicara.

“Junghae benar. Kalian memang terlihat cocok”, imbuh Chanyeol. Dia juga berdiri bermaksud pergi. “Aku juga harus segera kembali. Selamat menikmati kencan kalian”. Chanyeol benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.

Hyung”, teriak Sehun.

Chanyeol tak berniat berhenti. Dia hanya menyunggingkan senyum dan kembali melangkahkan kakinya.

“Mereka berdua benar-benar. Dasar”, umpat Sehun tak jelas. Dia kembali menatap Jungra yang masih terdiam. Gadis itu tampak sedang berfikir. Cukup lama Sehun memandang. Lalu dia berniat menegurnya, namun terhenti saat gadis itu mengeluarkan suara.

“Apa kau percaya dengan apa yang dikatakan mereka berdua?”, Jungra kini beralih menatap Sehun.

“Maksudmu?”, tanya Sehun yang tak paham.

“Kurasa ini bukan hanya sekedar makan siang biasa. Sepertinya mereka memang memiliki hubungan lebih”, jela Jungra.

Sehun justru tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa gadis yang tak suka menebak, jadi mencurigai hubungan adiknya dengan kakaknya. “Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?”.

“Bukahkah jelas dari wajah mereka. Dan lagi aku tak sengaja melihat foto mereka berdua di ponsel Junghae. Mereka terlihat mesra”, jelas Jungra.

“Tapi aku tak yakin mereka benar-benar berkencan. Chanyeol hyung bukan tipikal pria yang mudah jatuh cinta. Dia bahkan baru putus dengan kekasihnya beberapa bulan lalu, jadi itu tidak mungkin”, bantah Sehun. Ya, dia teramat sangat mengenal pria itu. Pria yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya.

“Lalu foto itu?”, Jungra masih kukuh dengan pendapatnya.

“Kau tahu sendirikan jika eommonim sangat menyayangi Junghae, dari situlah mereka bisa dekat. Mungkin mereka memang tak sengaja bertemu dan mengambil gambar itu”, bantah Sehun kembali. Dia benar-benar masih kukuh dengan pendapatnya.

“Tapi aku tak berfikir seperti itu”, Jungra masih tak percaya dengan penjelasan Sehun. Feelingnya memang berkata jika mereka memiliki hubungan lebih.

“Jika memang mereka berkencan, untuk apa mereka merahasiakannya. Lagipula tak akan ada yang merasa keberatan jika memang mereka berkencan”, Sehun kembali membantah.

“Kau mungkin benar”, Jungra akhirnya menyerah, meski sebenarnya dia tak sepenuhnya setuju dengan pendapat Sehun.

“Terima kasih sudah mengantarku oppa”, kata Junghae setelah mobil itu berhenti tepat di halaman kantornya.

“Apa kau ada acara malam nanti?”, tanya Chanyeol hati-hati. Sebenarnya dia tak ingin menayakannya, tapi mulutnya sudah terlanjur berucap.

“Tidak ada”, jawab Junghae.

“Aku akan menjemputmu pulang kerja nanti”, ucap Chanyeol kembali.

Junghae hanya mengangguk mengiyakan, tanpa bertanya maksud dari pernyataan pria itu. Dia memang sedang tidak ingin membantah. Toh, pria itu juga punya hak atas dirinya. Dan tak salah juga jika seorang suami ingin menjemput istrinya. “Aku masuk dulu. Hati-hati di jalan oppa”. Junghae mencium sekilas pipi pria itu, dan keluar dari mobil.

Kali ini Chanyeol tak kaget. Gadis itu memang sering mencuri cium darinya. Dia hanya tersenyum saat Junghae melambaikan tangan padanya. Dia kembali menginjak gas, dan melajukan mobilnya.

***

Junghae sudah selesai merapikan meja kerjanya. Dia sudah bersiap untuk pulang. Dia sengaja pulang lebih awal. Ada janji dengan sang suami. Tapi apa dia akan benar-benar dijemput? Tapi tadi dia sudah janji bukan. Dia tersenyum sendiri mengingatnya.

Dan saat makan siang tadi, hampir saja mereka ketahuan. Jika saja Chanyeol tak pandai ngeles mungkin mereka akan benar-benar ketahuan. Prianya benar-benar sesuatu. Pandai sekali dia berakting. Bunyi ponselnya membuyarkan pemikirannya. Dia mendapat pesan dari suaminya jika dia sudah menunggu di depan. Baiklah! Saatnya pulang.

Dengan langkah hati-hati dia meninggalkan ruang kerjanya. Besok hari Minggu, jadi tak perlu khawatir. Tak akan ada jadwal yang menunggu. Tapi jika difikir-fikir kenapa pria itu ingin menjemputnya. Tidak biasanya. Apa mungkin dia akan mengajaknya pergi? Atau, sudahlah! Jangan menebak-nebak, nanti jika tak sesuai tebakan akan sangat mengecewakan. Kita hanya perlu melihatnya nanti.

Benar seperti pesan yang dikirimnya, pria itu sudah berdiri di samping mobilnya. Tersenyum saat melihat Junghae berjalan ke arahnya. Pria itu membukakan pintu untuknya. Junghae tersenyum sebelum memasuki mobil. Setelahnya, pria itu melajukan mobilnya menembus jalanan Seoul yang padat.

Junghae tahu jika ini bukan jalan menuju rumahnya. Jadi pria ini benar-benar akan mengajaknya pergi. “Kita mau kemana oppa?”, tanya Junghae memulai pembicaraan. Dia tak betah hanya duduk dalam keadaan diam.

Date”, jawab Chanyeol dengan singkat.

Date!”, Junghae mengulang perkataan Chanyeol. Dia terkejut karena dengan tenangnya pria itu mengatakan akan mengajaknya kencan. “Kemana?”, tanyanya akhirnya.

Chanyeol menunjuk ke arah menara tertinggi di kota itu.

“Namsan tower?”, tanya Junghae kembali untuk memastikan.

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban. Seulas senyum juga ia berikan.

Baiklah! Dia hanya perlu diam dan membiarkan kemanapun pria ini membawanya. Pastinya pria ini tahu apa yang terbaik untuk meeka.

Butuh sekitar lima menit untuk sampai ke tempat tujuan dari pembicaraannya tadi. Mereka masuk ke area tower setelah memarkirkan mobilnya.

Chanyeol meraih tangan Junghae lalu menggenggamnya. Seperti pasangan-pasangan lain yang ada disekitarnya. Ya, ini kencan bukan jadi wajar saja jika mereka bergandengan tangan. Mereka bahkan sudah pernah melakukan hal yang lebih dari itu. “Kau lapar?”, tanya Chanyeol di sela-sela perjalannya.

“Sedikit”, jawab Junghae yang disertai senyum.

“Kita makan dulu”, ucap Chanyeol kembali. Dia segera mempercepat langkahnya menuju tempat makan area tersebut. Suasananya cukup padat, maklumlah ini malam Minggu. Sepadat apapun, mereka dapat menemukan tempat duduk. Itupun setelah ditinggal pergi penghuninya. Mereka segera duduk sebelum ditempati orang lain.

Pemandangan malam kota Seoul langsung dapat dilihat dari tempat duduk mereka. Sangat indah, sinar dari lampu-lampu kota juga gedung-gedung yang tampak menjulang. Ini akan menjadi makan malam romantis untuknya.

“Kau menyukainya?”, tanya Chanyeol. Dia dapat melihat raut senang di wajah istrinya.

Junghae mengangguk mengiyakan. “Emh, ini sangat indah oppa”.

Mereka benar-benar menikmati makan malam itu. Bersama orang yang dikasihinya. Dengan nuansa yang romantis pula. Benar-benar kencan yang sempurna.

Setelah menikmati makan malam, mereka menuju ke area Love Locks. Dapat dilihat berbagai macam gembok di pagar-pagarnya. Dari situ mereka juga dapat melihat keindahan kota Seoul.

“Kau ingin memasangnya?”, tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Kau percaya itu?”, tanya Junghae.

“Kenapa? Kau tak mempercayainya?”, Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari mantelnya. “Kemarilah!”, ajak Chanyeol yang melihat Junghae masih berdiri di tempatnya. Dia juga menarik tangan Junghae karena tak kunjung bergerak.

Junghae hanya bisa pasrah mengikuti pria itu. Pria itu tengah memasak gembok yang bertuliskan namanya dan nama pria itu. Sejak kapan dia membawanya? Junghae bertanya-tanya dalam hatinya. Dia hanya tersenyum melihatnya. “Kapan oppa membawa itu?”, tanya Junghae yang penasaran.

Chanyeol yang telah selesai memasang, mengambil kunci gembok itu. dia tak memperdulikan pertanyaan Junghae. “Cha. Kau harus memasukannya ke kotak itu”, kata Chanyeol memberikan kunci dan menunjuk ke kotak yang dia maksud.

Junghae hanya diam menerima kunci itu. Tangannya bahkan belum menggenggam kunci itu dan masih menggantung di udara. Dia masih tak mengerti dengan keadaannya sekarang.

Chanyeol yang melihat hal itu, membuang pasrah nafasnya. Dia meraih tangan Junghae. Menutupnya, dan menuntunnya ke arah kotak yang dimaksudkannya tadi. Junghae sempat kaget, namun dia membiarkan pria itu melakukannya. Dia memasukkan kunci itu, setelah melihat isyarat pria itu.

Chanyeol kini menggenggam erat tangan Junghae. “Takdir kita sudah terkunci bersama disini. Ini adalah simbol ikatan selamanya. Kau milikku sekarang”, ucap Chanyeol.

Junghae sempat membulatkan mata. Namun akhirnya seulas senyum terukir di wajahnya. Merapatkan tubuhnya. Menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. Menatap pemandangan malam kota Seoul. Seulas senyum juga terlihat di wajah tampan Chanyeol. Ini akan masuk dalam daftar momen yang paling indah bersama Junghae.

Jungra dan Sehun berjalan pelan menyusuri jalan setapak dipinggir sungai Cheonggyecheon. Tempat itu cukup ramai. Ada berpasang-pasang orang yang sedang berkencan. Ada juga yang bersama teman, keluarga atau orang terdekatnya. Mereka sama-sama menikmati keindahan alam tempat tersebut.

Ini rekor baru untuk Jungra, mau diajan jalan oleh Sehun. Ya, sebenarnya ini bukan kali pertama pria itu mengajaknya pergi. Dulu saat masih sama-sama di bangku kuliah mereka memang sering jalan-jalan bersama. Hanya jalan-jalan dan sebatas teman. Dia memang tak pernah menganggap Sehun lebih dari teman. Meski sebenarnya dia tahu jika pria yang kini berjalan sejajar dengannya memiliki perasaan lebih padanya.

Entah mengapa Jungra belum bisa membalas perasaan itu. Dia juga tak marah, toh itu adalah perasaan alami manusia bukan. Jadi di tak pernah melarang pria itu menyukainya. Dia juga tak punya hak melarangnya bukan, karena cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja.

“Terima kasih sudah mau menemaniku kemari”, Sehun akhirnya bersuara setelah lama diam.

“Emh. Sama-sama. Tak buruk juga datang kemari”, Jungra menatap Sehun dengan senyum khas miliknya. Dia berkata jujur, sudah lama dia tak memanjakan dirinya ke tempat-tempat menarik. Ini karena pekerjaan yang segunung dan tak bisa ditinggal.

“Lusa aku akan kembali ke Amerika”, ucap Sehun kembali.

“Secepat itu!”, tanya Jungra. Sebenarnya dia masih ingin mengulang masa-masa pertemanannya dulu. Mereka baru berbaikan setelah pertengkaran hebat tiga tahun lalu. Kalau boleh jujur, Jungra tak punya teman dekat selai Sehun. Karena memang hanya Sehun yang membuatnya nyaman memiliki seorang teman.

“Kenapa? Apa kau masih merindukanku?”, Sehun mendekatkan wajahnya pada Jungra. Dia berniat menggoda gadis itu. Owh, sifat perayunya muncul lagi.

Refleks Jungra memundurkan kepalanya. “Apa? Jangan bercanda?”, elaknya. Dia segera memalingkan wajahnya.

“Aku hanya bertanya!”, bantah Sehun kemudian.

Mereka kembali melanjutkan perjalannya. Menikmati setiap keindahan tempat tersebut.

“Jika memang kau memintaku tinggal, maka aku akan tinggal”, ucap Sehun kembali.

Jungra yang tadinya menatap lurus ke depan kini beralih menatap Sehun tak percaya. “Maksudmu?”, dia bertanya akhirnya untuk mengusir rasa penasarannya.

“Jika memang kau tak ingin aku kembali ke Amerika, maka aku akan tinggal di sini. Kau tahu, sebenarnya Amerika tak menarik. Aku lebih nyaman tinggal disini”, jelas Sehun. Ya, dia benar. Pria itu memang pergi ke Amerika karena pertengkarannya dengan gadis itu.

”Jangan bodoh! Apa kau mau menelantarkan perusahannmu?”.

“Itu bukan perusahaanku. Itu milik ayahku”.

Jungra memutar bola matanya malas. “Itu sama saja. Dasar! Dan lagi kenapa semua tergantung padaku. Jika kau memang ingin tinggal disini, tinggallah! Kenapa harus meminta pendapatku”, Jungra mempercepat lengkahnya meninggalkan Sehun.

‘Dasar gadis ini! Kenapa dia tak mengerti juga?’, umpat Sehun dalam hati. Dia membuang pasrah nafasnya. Sedetik kemudian dia mempercepat langkahnya menyusul Jungra. “Ra-ya tunggu”.

Mobil Ferrari hitam itu berhenti tepat di depan rumah keluarga Kim. Sebenarnya bukan tepat, tapi masih ada pagar sebelum masuk ke rumah tersebut. Dari dalam mobil itu keluar Chanyeol dari kursi kemudi. Dia berjalan tergesa membukakan pintu untuk istrinya.

“Terima kasih sudah mengantarku oppa”, ucap Junghae.

Chanyeol mengecup singkat kening istrinya. “Masuklah!”, ucapnya kemudian.

Junghae mengangguk. Dia berbalik, bermaksud masuk dalam rumahnya. Namun dia berhenti setelah berjalan tiga langkah. Dia kembali berbalik, berjalan cepat menghampiri Chanyeol. Menjinjit untuk mengecup singkat bibir suaminya. “Hati-hati di jalan oppa”. Dia kemudian lari memasuki halaman rumahnya sebelum pria itu protes.

Chanyeol tertawa melihat tingkah istrinya. Dia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedetik kemudian dia memasuki mobilnya kembali. Menancap gas, meninggalkan rumah itu.

Junghae tak berhenti tersenyum, sepanjang perjalannya memasuki halaman rumahnya. Dia masih mengingat tingkah lucu bersama suaminya tadi. Ya, setelah menikmati keindahan Namsan Tower, mereka berjalan-jalan di Myeongdong. Menikmati pemandangan street food di sepanjang jalan. Berbagai macam makanan tersedi disana.

Tak seru jika tak mencoba. Begitulah perkataan suaminya. Mereka mencicipi hampir setiap stand penjual makanan. Saling suap dan saling tertawa saat merasakan rasa aneh dari makanan yang dimakannya. Mereka seperti pasangan remaja yang baru memulai hubungan. Ya, bisa dibilang hubungan mereka memang baru.

Dia kepedasan saat mencoba tteopokki. Junghae memang tak tahan makan pedas. Kalau saja penjualnya tak segera memberinya minuman, entah apa yang terjadi padanya. Dia kembali tersenyum mengingatnya. Ini benar-benar kencan yang sempurna, pikirnya.

Junghae bertemu dengan kakak perempuannya di depan pintu. Tanganya dilipat di depan dada dengan tatapan membunuhnya. Bajunya masih sama dengan baju yang dipakainya saat di restoran siang tadi. Jadi kakaknya juga baru pulang. Apa dia melihatnya? Junghae membulatkan matanya. Sepertinya kakaknya benar-benar melihatnya tadi. Lihatlah sikapnya sekarang.

“Kau bisa jelaskan itu?”, tanya Jungra. Ya, dia baru akan memasuki rumahnya setelah pergi dengan Sehun tadi. Dia mengurungkan niatnya saat mendengar mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Dia melihat semua kejadiannya. Mulai dari Chanyeol yang membukakan pintu untuk adiknya, mencium kening juga adiknya yang mencium bibir pria itu.

Junghae menelan kasar salivanya. Sepertinya kakaknya melihat. ‘Bagaimana ini? Berfikir Junghae, berfikir’, Junghae berkata untuk dirinya sendiri.

Jungra tertawa meremehkan karena adiknya tak kunjung menjawab. “Jadi memang benar. Kau berkencan dengan Chanyeol oppa kan”, tanya Jungra kembali.

Junghae membungkam mulut Jungra dengan telunjuknya. “Ssst. Jangan keras-keras”, ucapnya.

“Astaga!”, Jungra memutar bola matanya malas. “Sejak kapan? Dan kenapa kalian menyembunyikannya?”.

Pintu rumahnya tiba-tiba terbuka. “Apa yang disembunyikan?”, terdengar suara milik ibunya.

“Itu eomma, Junghae sebe…..”, belum sempat Jungra melanjutkan kalimatnya, Junghae sudah membekap mulutnya dengan tangannya.

“Tidak eomma, bukan apa-apa”, sela Junghae. Junghae menggeleng saat mendapat tatapan tajam kakaknya. Dia segera menarik tangannya.

“Ya sudah, ayo masuk”, ajak ibunya.

“Kau masih punya hutang penjelasan padaku”, bisik Jungra.

“Iya, iya. Aku akan menjelaskannya nanti”, jawab Junghae.

Baiklah, mungkin dia memang harus menjelaskan sesuatu pada kakaknya. Tapi akan aneh jika dia bilang sebenarnya hubungan mereka lebih dari sekedar berkencan. Tapi tidak mungkin juga dia bilang jika mereka telah menikah. Mungkin dia harus sedikit berbohong lagi. Ya, lebih baik dia mengatakan kalau dia memang berkencan, bukan menikah.

“Jadi?”, tanya Jungra. Dia memilih ke kamar adiknya setelah membersihkan diri. Meminta penjelasan pada adiknya.

“Ya, kami memang berkencan”, Junghae hanya menjawab singkat.

“Sejak kapan?”, Jungra terlihat bersemangat saat bertanya.

“Sejak kapan ya!”, Junghae terlihat sedang berfikir. Tak mungkin dia bilang sejak ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke tigapuluh kan. Mereka bahkan baru mengenal beberapa hari saat itu. “Entahlah aku tak mengingat persis harinya. Ini terjadi begitu saja”, jelasnya menyerah.

“Bagaimana mungkin kau tak mengingatnya. Dasar!”, Jungra berniat memukul adiknya, namun dengan sigap adiknya mengindar. “Lalu mengapa kalian merahasiakannya?”.

“Kami belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Jadi aku mohon padamu eonni, jangan katakan pada siapapun. Please!”, pinta Junghae. Dia bahkan memasang wajah memelasnya, untuk meluluhkan hati kakaknya.

“Aku tak janji!”, Jungra berdiri bermaksud pergi. Tangannya ditarik Junghae

Eon~ni. Please!”, pinta Junghae kembali.

Jungra tertawa. Dia berhasil mengerjai adiknya. “Iya, iya. Aku tak akan bilang siapapun”.

Thank you”, Junghae berdiri dan memeluk erat tubuh kakaknya. Membuat sang empunya protes saking eratnya dia memeluk.

Yak, kau mau membunuhku”.

“Maaf”, ucap Junghae sambil melepaskan pelukannya.

“Tidurlah! Ini sudah malam”.

Eoh”.

Jungra menghilang dibalik pintu. Junghae tersenyum puas. Kakaknya memang tak pernah bisa menolak permintaannya.

to be continue……

Hai, hai. Saya kembali lagi dengan chapter 17.

Seharusnya ini aku kirim minggu lalu, tapi aku malam ketiduran setelah lelah menyelesaikannya. Maklumi saja ya, kesibukan makin meningkat.

Semoga tetap suka dengan ni ff.

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.

Terima kasih.

 

Banyak yang tanya kapan mereka go public.

Aku mulai dari chapter ini, satu persatu akan ada yang mulai tahu hubungan mereka.

Semoga gak mengecewakan.

See you……..

Iklan

54 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 17)

  1. Aduhh junghae bisa tuker posisi gak ? #plaakkkk
    Bikin iri ajj nih ,,
    Gak akan bosen bacanya wie klo chanyeol makin romantis gitu …
    Malah dibikin klepek klepek baca nya #eaaaikan kali ah
    Ditunggu next chapternya yaa

    • kalau mau, boleh saja….
      hahaha…
      mereka memang bikin ngiri…..
      apalagi, makin hari makan sweet saja..
      ditunggu ya kelanjutannya…

      terima kasih banyak… 🙂

    • mbak Jungranya belum kepikiran sampai situ…
      iya nich, mbah Junghae suka sekali nyuri kiss, hahaha…

      terima kasih ya… 🙂

  2. Lanjutkan ya Thor, aku suka banget sama ffnya
    Setiap hari aku cek terus udah update atau belom
    Ff nya bagus, pemilihan katanya, alurnya semuanya deh pokoknya
    Fighting !!!
    IG : @tamaraputri.lee
    감사합니다

  3. Aw aw aw Chanyeol n Junghae makin mesra aja 😊 tapi kenappa sih thor mreka harus ngrahasiain hubungan mreka? padahal mungkin kalo di kasih tau kedua keluarganya juga akan terima2 aja
    Ditunggu next chap ya thor. Fighting 💪💪

    • jika bukan hubugan rahasia, judulnya pasti bukan SECRET WIFE,
      ditunggu sajalah…

      terima kasih ya… 🙂

  4. Chanyeol oppa mulai berani ngegoda istrinya 😁 makin suka sama couple chanyeol-junghae ☺ sweet… sweet terus lah buat mereka

    jungra ayo bongkar hubungan adikmu dgn chanyeol supaya mereka gak ngebohongin kalian lebih jauh lagi 😂hahaha
    sorry thor abis gemes sama chanyeol yg masih betah nyembunyiin hubungan yg sebenarnya sama junghae..
    setelah jungra siapa lagi ya yg akan tahu hubungan chanyeol sama junghae? akankah junghae hamil?
    I can’t wait lah pokoknya
    semoga nanti jika hubunganya ketahuan chanyeol-junghae bisa ngehadapinnya dgn bersama-sama 😊

    semangat author buat lanjutin ceritanya
    di tunggu next chapternya
    fighting…

    • mungkin sudah ada benih-benih cinta yang timbul di hatinya bang CY, makanya dia berani menggoda istrinya, hahaha, /////apaan ini….

      ya, semoga saja mbak Jungra ember…
      iya gak papa kok…
      ditunggu saja,
      siapa tahu saja mereka semua bakalan tahu…
      terima kasih banyak..

      fighthing…. 🙂

  5. Akhirnya lanjut juga
    Lama lama semua pada tau deh kalo jung hae sama chanyeol
    Kenapa gak bilang aja sih gemes bacanya
    Semoga cepet confirm ya hubungannya
    Dan sekarang udah berani go publik kayak nya
    Ditunggu kelanjutannya fighting!!!

    • iya, lagi ada waktu luang….
      semoga saja ya….
      lagi males mungkin ya, makaya gk bilang, hahaha…

      semoga mereka cepet go public dech,
      ditunggu saja

      terima kasih ya… 🙂

  6. tambah satu orang lg yg tau …duhh gemes.. pengen semua orng tau ..biar gk sembunyi” lg.. bentar lg hamil tuh jngn lama” sembunyi.. kkk

    • iya, semoga nambah lagi ya…
      lebih baik lagi kalau tahu semua… hahaha
      ditunggu saja,

      terima kasih… 🙂

    • aku hanya bisa membuat segitu, maaf ya….
      soalnya ku gak suka cerita yang per chapternya panjang…..

      terima kasih ya…
      ditunggu saja…. 🙂

  7. Uuuhh iiriiiiii 😍😍😍😍😍
    Ditunggu chapter berikutnya kaaaa
    Lope lope buat kakak 😘😘😘😘😘😘😂

  8. Makin romance aja mereka 🙂 , ku semakin suka. Aku kira pernikahn mereka udh mau terungkp ternyata blm. Aaahh ga sbr nunggu status pernikhn mereka terungkap. Ditunggu chapt selanjutnya jangan lama” ya fighting 🙂

    • iya, mereka memang makin sweet…
      ditunggu saja, nanti pasti terungkap…

      terima kasih ya….. 🙂

  9. so so so sweeeeeettt……. uhuyy….
    hampir terbongkar ya pernikahannya. tp, blum juga. sempat mikir akan terbongkar di chapter ini. haha.. ternyata tidak. alur nya bgus bgt….

    junghae nya ngaku ke jungra klo sedang kencan dgn chanyeol. tanda2 semakin dekat terungkapnya pernikahan chanhae. jgn dulu deh… lebih seru umpet2an kaya gini dulu. baru2nya sweet. haha…
    aku penasaran bgt dgn terungkapnya pernikahan mereka itu nanti karena apa. bakalan heboh gk ya??

    eonni semangat ya….
    i’m waiting for this ff.

    • iya, mereka memag sweet
      sebenarnya belum mau ngungkap, cuma pas ngetiknya tiba-tiba saja terungkap…
      untuk chapter ini tak sesuai dengan plot yang sudah ku buat…
      gak papa ya,
      kurasa hasilnya juga tak mengecewakan…

      mungkin akan tamat dalam beberapa part lagi….
      semoga lancar ya,
      mohon do’anya

      terima kasih… 🙂

    • iya, soalnya ini sudah sangat panjang…
      dan melebihi target….

      do’akan saja endingnya bagus, hahaha…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s