[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 3)

[Oh Sehun, Seravina (oc), Park Chanyeol]

[Another Cast you can find by your self, sorry]

[ Romance, Drama]

[ PG.17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

[Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

.

.

“Dan dia jatuh hati pada seseorang yang seharusnya dia jadikan musuh.” -W.S (Romeo & juliete – Act I, scene 5. Chorus at end)

.

Some day ago….

At Public Library.

Helai demi helai terkumpul menjadi satu. Satu persatu terkumpul dalam satu ruang. Sumber ilmu, pengetahuan, sejarah atau pengalaman yang tertulis, membentuk wadah untuk mereka kelak. Buku, adalah namanya.

Ia mencari uang di sana. Meski penghasilannya tidak terlalu besar dan sebagai karyawan tidak tetap, ia menerima pekerjaan ini. Kenyamanan yang didapat adalah yang membuat bertahan.

Sebagian orang akan beranggapan pekerjaan di sana bukanlah jaminan yang besar. Ya, jika hanya melihat dari satu sisi saja. Tidak menyadari betapa banyaknya ilmu yang bisa diambil. Betapa banyak pengetahuan yang dapat dieksploitasi. Betapa banyak sejarah yang dapat digali untuk hidup yang lebih baik. Secara gratis pula. Namun, sebagian besar menganggapnya remeh.

Tugasnya hanyalah mengatur dan menyimpan buku sesuai dengan jenisnya di rak. Terdengar mudah jika saja bukan puluhan rak yang terjejer rapi dalam ruang persegi luas yang ia hadapi. Lelah adalah resiko. Jadi ia tidak boleh mengeluh.

Noona?”

Suara rendah nan serak mengusik pekerjaan si gadis. Tangannya yang sempat berhenti kembali bergerak menaruh buku yang akan ia letakkan di rak, lalu menoleh pada si sumber suara.

Mengerjap dua kali. Si gadis sedikit terkejut pada si pemilik suara tadi. Ia tidak menyangka dapat bertemu dengan teman adiknya.

Gadis itu tersenyum canggung mengingat malam kemarin ia menolak pernyataan cinta teman adiknya ini. “Ah, kamu lagi. Sedang mencari apa di sini?”

Aneh. Bukannya menjawab, pemuda di hadapan gadis itu malah terkekeh pelan. Memangnya ada yang lucu?

Noona, santai saja tidak perlu canggung seperti itu.” Pemuda itu memasukkan kedua tangannya pada saku celana, mencoba meleburkan rasa canggung si gadis.

Senyum lebar dengan deretan gigi putih bersih si pemuda membuat gadis itu ikut tersenyum, terbawa suasana ceria.

“Nah, begitu dong. Kalau senyum ‘kan noona semakin cantik. Jangan khawatir pada perasaanku, noona. Walau ditolak seribu kali pun aku tidak akan kehilangan hasrat hidup. Jadi, santai saja ya?” ujar si pemuda. Sebagai balasan, gadis itu mengangguk mengerti seraya tersenyum hangat.

Pribadi ceria pemuda ini sesungguhnya sudah tertebak oleh gadis itu sejak pertemuan pertama mereka di kafe Kyungsoo. Yah, meski kemarin malam juga pemuda ini terlihat marah dan sakit hati ditolak langsung oleh si gadis.

“Kamu…,”

“Panggil saja Chanyeol. Ah, aku lupa memperkenalkan diri kemarin.”

Pemuda itu menggaruk telinganya yang tidak gatal. Ia kemudian mengulurkan tangannya. “Park Chanyeol, temannya Sehun.”

Sejenak kakak Sehun merasa ragu, namun akhirnya dia mengikuti permainan si pemuda. Masih dengan senyum hangatnya, gadis itu menerima uluran si pemuda, menerima jabatan tangan yang berukuran dua kali lipat darinya. “Oh Seravina, kakaknya Sehun.”

Tangan mungil kakak Sehun terasa timpang dalam genggaman si pemuda yang mengaku bernama Chanyeol. Terlihat lemah dan rapuh dibanding tangan kekar yang melingkupinya. Seakan kapan saja dapat hancur seketika jika Chanyeol meremasnya.

Mereka tertawa pelan. Merasa konyol dengan kondisi mereka yang saling kenal tapi tidak tahu nama.

“Sepertinya aku mengganggu noona, ya?” Pertanyaan itu terlontar setelah tawa mereda. Kakak Sehun melirik troli yang digenggam oleh tangan kirinya. Troli yang berisi tumpukan buku. Mungkin itu yang membuat Chanyeol bertanya.

“Tidak juga.” Ia mendongak menatap Chanyeol yang beridiri tinggi menjulang di sampingnya. “Ada apa?”

Chanyeol menggeleng. “Tidak apa, aku hanya ingin mengobrol dengan noona. Boleh ‘kan?”

Seravina mengangguk. Menyetujui permintaan Chanyeol. “Tapi noona harus mengerjakan ini. Bagaimana?”

Chanyeol mengikuti arah jari Seravina yang menunjuk pada troli.

“Aku akan membantu. Jadi, kita bisa mengobrol dan pekerjaan noona dapat selesai cepat.”

“Ah, tidak perlu seperti itu. Noona bisa mengerjakan-“

Terlambat. Chanyeol sudah mengambil buku di troli lalu memilahnya dan meletakkan di rak sesuai jenis. Seravina menghela napas. Lagi, ia berhadapan dengan manusia keras kepala selain Sehun adiknya. Mau tidak mau ia membiarkan Chanyeol bertindak sesuka hati. Enggan berdebat dengan perangai yang tidak mungkin mengalah.

Jantung Seravina sebenarnya sudah dag-dig-dug-ser sejak kedatangan pemuda ini. Namun ia menahan ekspresi agar tidak terlalu kentara gugup. Sekarang, di lorong rak panjang yang hanya ada mereka berdua saja membuat Seravina berkeringat dingin. Ia tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya? Padahal tidak ada perbedaan yang mencolok. Chanyeol hanyalah lelaki biasa yang berstatus teman Sehun, tapi mengapa ia menjadi gugup seperti ini?

Apa yang berbeda? Ini bukan pertama kalinya ia berduaan dengan laki-laki. Dengan Sehun dan Kyungsoo saja ia tidak pernah seperti ini.

Noona?”

Mengerjap beberapa kali. Seravina menatap Chanyeol di ujung rak menyimpan buku. Ah, Seravina melamun terlalu lama sepertinya.

“Y-ya? Mengapa?” Seravina menjawab sedikit tergagap.

Chanyeol terkekeh. Ia kemudian berjalan mendekati Seravina yang tersenyum malu karena ketahuan tengah melamun.

“Jangan menggigit bibirmu, nanti berdarah. Aku tidak punya tisu untuk membersihkannya nanti,” ujar Chanyeol dengan senyum manis.

Seravina termangu. Bukan karena merasa deja vu dengan ucapan Chanyeol, melainkan jemari yang menyentuh dagunya dan bibirnya, memisahkan bibirnya dari giginya.

Hanya sentuhan jari, tetapi dapat membuat pipi Seravina bersemu. Rasanya seperti tersengat listrik. Sedikit mengglenyar titik sarafnya.

Mundur dua langkah dan menunduk. Seravina berusaha menetralkan jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang. Oh? Apakah dia mempunyai penyakit jantung?

Noona, kau sakit?” tanya Chanyeol. Nadanya terdengar khawatir, tapi dalam hati ia tahu kakak Sehun ini tengah gugup menghadapinya.

“Tidak.” Seravina menatap lurus Chanyeol. Menunjukkan bahwa ia tidak sakit seperti yang dikatakannya.

“Tapi mengapa wajah noona memerah? Dan err … sedikit terkejut?”

Damn!

Pertanyaan yang telak. Seravina tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Yang pasti, dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya, atau ia akan malu!

Manik almond milik Seravina menatap ke segala arah selain Chanyeol. Siapa tahu dapat inspirasi untuk mengelak dari pertanyaan yang menyudutkan.

Dapat!

Troli yang ia bawa kini isinya kosong melompong. Pergi ke mana semua buku-buku itu? Atau-

Ah, Seravina mengerti. Sepertinya Chanyeol yang meletakkan semua buku itu, ya?

“Itu tidak benar. Noona hanya terkejut dengan kecepatanmu dalam menyimpan buku. Jangan-jangan kamu menyimpannya secara acak ya? Astaga!”

Seravina tidak mengindahkan keberadaan Chanyeol. Berjalan menyusuri rak berpura-pura memilah buku yang mungkin saja tidak sesuai tempatnya. Jelas ini adalah pengalihan.

Meremehkan kecepatan dan ketangkasan Chanyeol adalah hal yang bodoh. Terdengar tidak masuk akal namun memang seperti itulah Chanyeol, pemuda bermarga Park yang selalu mendapat juara umum dari kecil hingga sekarang. Meski sering bolos sekolah dan terkadang ‘nakal,’ Chanyeol selalu mengumpulkan tugas dan mengerjakan ujian dengan nilai yang  memuaskan. Bukan karena mencontek ataupun menjiplak jawaban temannya, semuanya ia lakukan berdasarkan kemampuannya. Maklum, sejak kecil Chanyeol sudah difasilitasi perpustakaan sendiri dan mempunyai guru les pribadi. Apalagi kemampuan otaknya yang tidak dapat diragukan, hal itu semakin menunjang kecerdasan yang Chanyeol punya.

Bersandar di salah satu rak dengan tangan terlipat di dada, Chanyeol memerhatikan Seravina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kaos putih dipadu dengan kemeja kotak warna warni dan juga jeans abu yang dipakai oleh Seravina, keseluruhan itu disimpulkan, gaya pakaian Seravina adalah kasual. Sederhana namun cantik.

“Aneh … tidak ada yang salah.” Seravina bergumam kecil setelah memeriksa buku di rak. Semua penempatan buku sesuai sebagaimana seharusnya. Ia heran, bagaimana cara Chanyeol tahu? Bukankah ia belum memberitahu caranya?

Seravina menoleh pada Chanyeol hendak bertanya. Namun ia mengernyit saat Chanyeol terkekeh. Menertawakan apa lagi dia?

“Sudah memeriksanya?” Pertanyaan itu menyimpan nada geli yang tidak disembunyikan. Alisnya naik sebelah, menggoda Seravina yang tidak percaya hasil pekerjaannya.

Pipi Seravina bersemu kembali, malu pada pengalihan topik yang terbongkar. Ah, atau Chanyeol memang sudah mengetahuinya? Kalau seperti itu, dia juga berarti mengetahui Seravina melamun? Aih, memalukan!

Seravina tidak menjawab. Ia menarik troli yang kosong itu menuju ruang serba guna di ujung ruangan. Menganggap tidak ada siapapun selain dirinya.

Chanyeol mengikuti. Keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Chanyeol sebenarnya ingin bertanya, namun urung melihat Seravina yang terdiam tanpa ekspresi. Apakah Chanyeol telah melakukan kesalahan? Atau mungkin membuat Seravina kesal?

Noona,” panggil Chanyeol. Mengabaikan rasa bersalah yang menjalar. Ia menggenggam tangan Seravina, menghentikan langkahnya.

Seravina berbalik, saling menatap manik yang berbeda warna. “Apa?”

“Kencan denganku, yuk!”

Oh. May. Gadh. Keseterum apa pemuda ini?

Seravina menatap Chanyeol sangsi. Dia … tidak gila, ‘kan? Tidak ada hujan, tidak ada angin, tidak ada petir pula, mengapa Chanyeol bertanya seperti itu?

Kehabisan topik ya?

Seravina membuka mulut hendak bertanya, tapi tidak jadi. Ia teringat akan percakapan semalam yang berakibat fatal. Ia harus berhati-hati dalam mengeluarkan kata agar pemuda ini tidak salah paham.

Seravina tersenyum, tangannya ia tarik pelan dari genggaman Chanyeol. Lalu ia berkata, “Chanyeol, dengarkan noona, ya?” Seravina menarik napas. “Kencan itu hanya untuk mereka yang sepasang kekasih. Sementara kita bukan.”

Anggun nan lembut. Seravina telah berusaha menjaga perkataannya agar tidak menyinggung perasaan Chanyeol. Ia berpikir beberapa kali untuk mengeluarkan kata itu.

“Maka dari itu, kita harusnya pacaran, noona. Aku sudah memintamu untuk menjadi kekasihku, jadi tidak repot lagi. Nah, sekarang noona mau jadi pacarku ya, supaya kita kencan.”

Tanggapan Chanyeol sungguh di luar dugaan, membuat Seravina tidak habis pikir. Campuran antara polos dan jenius. Atau mungkin tidak punya urat malu?

“Jangan menolakku, noona. Aku sudah tampan seperti ini, masa noona tolak dua kali.” Chanyeol menatap intens Seravina, membuat hati Seravina meleleh seperti mozart dipanggang.

“Aku tahu noona juga menyukaiku. Jadi apa salahnya kita berpacaran, ‘kan?” tambah Chanyeol cepat ketika dikiranya Seravina akan membantah pernyataannya.

Sungguh keras kepala. Tidak punya urat malu. Seravina menghela napas pelan, sedikit terbebani dengan segala kekukuhan Chanyeol. Ia penasaran, apa yang membuat Chanyeol ngebet sekali ingin menjadi kekasihnya?

“Baiklah—”

“Yeay! Ayo kita kencan!”

Chanyeol berlalu begitu saja mengambil alih troli yang dibawa Seravina, memotong perkataan dan tidak mengacuhkan Seravina setelahnya.

Lagi, Seravina menghela napas namun setelahnya bibir mungil merah Seravina terangkat membentuk senyum. Satu lagi orang di sekitarnya yang bersikap manja setelah Sena dan Candy. Yah, meski ia berharap keputusannya menjadi kekasih Chanyeol adalah hal yang benar.

Manik almond Seravina menatap punggung Chanyeol yang berlari mendorong troli. Seravina merasakan perkataan Chanyeol mulai benar, tentang Seravina yang menyukai Chanyeol. Yah, semoga saja ia tidak terlalu jatuh pada Chanyeol. Karena jika saja begitu, maka ia tidak bisa melindungi Sehun yang masih labil.

Drrrrrt.

Getaran terasa di sakunya. Sejenak ia ragu untuk mengambil ponselnya, ia tiba-tiba merasakan firasat buruk. Maniknya melirik Chanyeol yang masih betah berputar-putar meluncur dengan troli. Untung tidak ada yang melihat tingkah konyol itu. Seravina menggeleng pelan.

Atensinya kembali pada ponselnya. Meski ragu ia memilih untuk membuka pesan di ponselnya.

Dari nomor yang tidak dikenal.

Deg!

Jangan bilang orang itu lagi. Sontak wajah Seravina memucat. Tangannya bergetar membuka pesan dari nomor itu. Dan benar saja dugaannya.

Mati kau jalang!’

Pesan terror lagi.

Seravina berkedip beberapa kali, ia juga mencoba menghirup oksigen yang terasa menipis. Terror yang menghantuinya. Terror yang bukan hanya sekedar gertakan. Tapi terror yang benar-benar membuat Seravina ketakutan. Sang penerror, terkadang mengirim gambar darah dan hal lain yang menjijikan.

Seravina tidak tahu alasan si penerror melakukan hal itu. Jika bercanda, maka itu keterlaluan. Seravina menyimpulkan  dua hal. Si penerror pernah sakit hati olehnya, atau ia telah berbuat salah pada si penerror. Seravina tidak membalas. Satu kali pun tidak. Ia terlampau takut untuk melakukan itu. Tangannya panik menghapus pesan terror tadi, menghilangkan jejaknya dan bersikap seakan tidak ada pesan seperti itu untuknya.

Noona~” Seravina menoleh dan tersenyum hangat pada Chanyeol yang memanggilnya, “trolinya disimpan di mana?”

“Makanya jangan asal rebut,” jawab Seravina. Ia melangkah mendekat pada Chanyeol lalu menarik troli dalam genggamnya. “Pernah dengar pepatah ini? ‘Malu bertanya, sesat di jalan.’ Nah, kata itu menggambarkan kamu.”

Setelah mengatakan itu, Seravina berjalan mendorong troli menuju tempat seharusnya dengan diikuti oleh Chanyeol.

Seravina sesekali melirik ke samping lewat sudut matanya. Hampir terbahak saat melihat wajah Chanyeol yang dilipat habis-habisan.

Chanyeol…

Pemuda bermarga Park yang baru saja semalam berkenalan dengannya, telah menjadi kekasihnya. Dan dalam waktu yang singkat, ia dapat membuat Seravina melupakan pesan terror itu, walau hanya sebentar. Tidak apa, setidaknya alasan untuk tetap hidup Seravina bertambah. Karena entah bagaimana, Seravina sepertinya bukan hanya menyukai, tapi sudah dalam tahap mencintai.

“Tapi, noona~”

Mendorong pelan troli ke gudang, lalu menyimpannya seperti semula. Seravina baru menoleh pada Chanyeol yang menggantungkan suara.

Manik saling bersinggung. Chanyeol meraih tangan mungil Seravina.

“Berjanjilah untuk tidak memberi tahu hubungan kita ke siapa pun, termasuk Sehun.”

Mengernyit. Seravina tidak mengerti perkataan Chanyeol. Bukannya ia tadi memaksa untuk menjadi kekasihnya? Lalu mengapa sekarang ia tidak mau mengumbar hubungannya?

“Mengapa?” tanya Seravina. Chanyeol menghela napas lalu tersenyum sementara tangannya meremas jemari Seravina, seakan mengumpulkan kekuatan.

“Mau tahu satu rahasia?” Chanyeol sengaja bertanya memancing Seravina. Ia melanjutkan begitu binar ingin tahu memancar pada manik Seravina, “Sehun~ menyukai noona. Bukan sebagai kakak tapi sebagai wanita. Noona mengerti, ‘kan?”

Tidak mungkin. Sehun tidak mungkin menyukai kakaknya sendiri. Seravina menggeleng pelan, tidak percaya sekaligus terkejut pada pernyataan Chanyeol.

Sehun~ tidak mungkin menyukainya sebagai wanita.

Genggaman Chanyeol semakin mengerat saat Seravina hendak melepaskan tautan jari mereka.

Noona, kau harus percaya padaku. Sehun, mengidap sister complex. Terbukti setiap kali cara ia menceritakan tentangmu pada kami. Maka dari itu…,” Chanyeol menghirup udara pelan, “tolong rahasiakan hubungan kita. Dan juga bersikap biasa saja pada Sehun. Aku dan teman-teman yang lain sedang berusaha menyembuhkan penyakit itu, secara tidak disadari oleh Sehun. Aku tidak ingin persahabatan kami terpecah, namun aku juga tidak ingin berpisah dengan noona. Bisakah, noona?”

Entahlah. Seravina gamang. Ia tidak langsung menjawab permintaan Chanyeol. Ia~ masih tidak percaya jika Sehun menyukainya.

Noona? Bisakah?”

Seravina terbangun dari lamunan. Ia menatap Chanyeol yang berharap padanya. Menghela napas panjang, Seravina mengambil keputusan. Lagipula, ini untuk kebaikan Sehun juga, ‘kan?

Satu anggukan. Cukup membuat Chanyeol tersenyum lebar. Ia mendekatkan punggung tangan Seravina ke mulutnya, mengecupnya pelan.

“Terima kasih telah berjanji.”

Satu topeng terpasang sempurna. Pada Seravina yang mengeluarkan semburat merah di pipi, menutupi rasa terkejut pada tindakan manis Chanyeol. Atau pada Chanyeol yang tersenyum lebar hingga menampakkan giginya, menutupi perasaan yang sebenarnya.

Satu pikiran bersuara, ranjau telah terpasang. Tinggal menunggu waktu sang mangsa masuk dalam jebakan. Dan saat itu …

Sang Predator akan bermain sebelum memakan santapan.

.

.

.

.

.

Tbc

Nano notes:  

Chapter 3 & 4 adalah flashback sebelum kakak Sehun sebelum pembicaraan tentang kepindahan ke seoul. Jika belum mengerti, silahkan dibaca pelan dan teliti di part sebelumnya. Ada jarak hari setelah kakaknya Sehun diantar pulang sama Chanyeol.

Meski cerita ini absurd, semoga kalian menyukai cerita ini sampai tamat. Maaf kalo ini cerita sangat ngaret. Saya belajar agar tulisannya lebih baik, mohon pengertiannya.

Salam hangat untuk kalian semua…

Sampai jumpa bulan depan^^

Oh ya, bagian mana yang kalian sukai?

 

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 3)

  1. Sih ceye jadi antagonis atau protagonis? Ini zuper membingungkan.. :> apa yang dikatakan dan dilakukannya itu hanyalah bunglon? Alias kamuflase aja.. Ampun.. Padahal aku tuh ngarepnya si ceye bisa jadi sumber kebahagiaan sehun noona T,T

    • Both of them kayaknya. Hahaha bunglon… ada ada aja panggilannya

      Tenang aja, si cy emang jadi sumber kebahagiaan seravina kok. Liatin aja di next chap.

  2. Chanyeol jangan sakitin serevina ya, ntar kalo kamu beneran jatuh Cinta gimana? Malah sakit sendiri loh…
    #authornim: Apa sih, kaya udah tau chanyeol jahat aja.
    #me: Tau lah min, orang kutipan terakhirnya suara hati si ceye.
    #authornim: so tau lu.
    #me: bodo :v
    Fighting ya 💪💪💪
    Di tunggu yang selanjutnya 💖💖💖💖

    • Apaan sih ni anak satu sok nyeramahin cy, kayak tau jalan ceritanya aja :v

      Iya makasih dedek kucay, kelanjutannya udah ada kok.

  3. Nama kakaknya sehu seravina, akhirnya punya nama juga. Siapa yang neror seravina ya ? Apa chanyeol disini jadi orang jahat masa sih sehun suka sama kakaknya sendiri apa ini cuma taktiknya chanyeol aja ya ?
    Next nya jangan lama-lama ya thor

    • Pft.. akhirnya punya nama juga :v
      Sebenernya udah lama kok si kakaknya sehun punya nama, ya cuma sayanya aja yang iseng ngulur-ngulur waktu. Baikkan saya di chapter ini kasih namanya? Tadinya saya mau kasih nama pas udah konflik utamanya aja. Sekitar chapter 7 atau 8 mungkin :v *nanojahat

      Hayo siapa yang neror seravina? Chanyeol dituduh jahat lagi 😢😂
      Makasih ya udah sempetin tinggalin jejak^^
      Cuma satu bulan kok, tungguin ya ^^

  4. my god akhirnya publish hm namanya noonanya sehun seravina ya hm itu dulunya ama chanyeol. makin penasaran next ya

    • Wkwkwk. Iya, akhirnya publish juga.
      Yang sabar ya nunggu lanjutan updatenya. Cuma satu bulan kok^^ *edyan

  5. ohhh.. jgn bilang klo chanyeol cuma pura” suka sm kk sehun..???? tp keliatannn bgt, serius kk..aku uda yg curiga sm chanyeol,,aku mikir dia tuuu sok”an maniss gtu..ga tau knpa hihihiii.. firasat mungkin yaa kk,,
    jgn” chanyeol itu ga suka sm sehun..?? makanya dia bikin rencana buat nyakitin sehun lewat kakaknya..?? aishhhh..aku jadi deg”an.. yaa owooo semoga aja dugaanku salahhhh besarr

    ehh kk ternyta aku uda pernah baca chap 2A yaa kk bahkan 2B..kok di 2A aku bisa lupaaa yaa sm ceritanya, tp di 2B enggaa..bahkan uda komen kan..?? huaaa aku maluuu. maaf yaa kk

    aku lanjut aku lanjut
    ituuuhh yg diomongin chanyeol ttng sehun yg suka sm kakanya beneran apa cuma alibi doang..?? biar sehun ga tau rencananya chanyeol..??? aishhhh bikinnnn emosiii kk..sebel bgt ihhhhh kesell

    • Ya lord… teganya-teganya- teganya….. chanyeol kok dituduh gitu sih? Apa salah mamas Chanyeol sampe kamu berpikiran seperti itu? 😢 zahat.
      Eh, tapinya gak tau juga sih :v saya gak mau spoiler.

      Iya gak apa-apa kok. Yang penting kamu ngerti sama jalan ceritanya.

      Eh, kenapa kamu sebel? Emangnya chanyeol nyakitin Seravina gitu?
      Minum teh ya, supaya kamu gak sebel + kesel lagi*teing te nyambung geh/evil laugh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s