[EXOFFI FREELANCE] Nega Neol Jikyeojulgeyo (I Will Protect You)

unnamed

Nega Neol Jikyeojulgeyo (I Will Protect You)

Author: Sháo Xī

Length: One Shot

Genre: Angst, romance, hurt/ comfort, crime (little bit)

Rating: PG-15

Main Cast: Xi Luhan [EXO], Huang Jia[OC]

Summary:

Dia bisa melihat dunia dan menahan segalanya lebih baik dari siapapun. Andai saja ia bisa sedikit mengungkapkan perasaannya di depanku, aku akan jadi orang pertama baginya yang melihat semua itu.

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis, demikian juga dengan tokohnya. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis dengan memberikan komentar. Secuil kata dari kalian adalah penyemangat bagi penulis.

J Hope you like it and happy reading J

.

.

.

Aku akan melindungimu. Itu janjiku untukmu.

.

.

.

Cekrek! Cekrek! Cekrek!

Suara jepretan dan blitz kamera mulai memadati sebuah apartemen kecil. Detektif serta polisi memenuhi ruangan itu, menjadikannya lebih sempit dari sebelumnya. Beberapa wartawan mulai sibuk memulai wawancara mereka walaupun jawaban yang diberikan tidak memuaskan. Setidaknya bisa bekerja dan menghasilkan berita hari ini, begitu pikir mereka. Dua polisi berusaha menghalau wartawan yang mulai sedikit agresif dengan menerobos police line.

“Bagaimana? Apa kau mendapatkan sesuatu?” tanya seorang detektif senior dengan kartu nama tersampir di jaket hitamnya. Han Ki Hong tertulis di sana.

Detektif muda yang ditanya hanya menggeleng. “Tidak, Pak. Yang ada hanya sidik jari korban. Kami belum menemukan sidik jari lainnya.”

Han Ki Hong mengumpat sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa hal ini terjadi?

“Pak!” panggil seorang polisi, “Anaknya sudah datang.”

Han Ki Hong berputar dan menatap polisi tadi. “Dia sudah datang?”

Polisi itu mengangguk. “Iya, Pak. Tapi polisi-polisi di sana sudah mencegatnya masuk.”

“Apa dia sudah tahu semuanya?”

Polisi itu mendesah pasrah. “Aku tak tahu, Pak. Hanya saja, beberapa tetangga mulai berisik. Aku tak yakin apakah anak itu menangkap pembicaraan mereka atau tidak.”

Ki Hong mengangguk dengan raut pasrah bercampur khawatir. “Kau boleh pergi.”

Polisi tadi segera pergi, meninggalkan Ki Hong yang kembali menatap pekerjaan para juniornya. Beberapa dari mereka masih sibuk memeriksa bukti-bukti yang ada, termasuk dua cangkir teh yang tergolek manis di atas meja makan. Siapa tahu ada saliva orang yang mereka cari. Dengan begitu, identitasnya akan terungkap.

Ki Hong mengalihkan pandangannya pada salah satu detektif baru yang sedang membantu rekannya. Raut wajah seriusnya membuat Ki Hong urung mengganggunya. Tapi ada hal penting yang harus detektif baru itu kerjakan.

“Xi Luhan!” panggilnya, membuat detektif baru itu menoleh. “Kemari sebentar!”

Detektif baru dengan nama Xi Luhan itu langsung menghampiri seniornya dan meninggalkan pekerjaannya. “Ya, Pak?”

“Anaknya sudah datang, pergilah ke bawah,”

Alis Luhan terangkat lalu bertanya dengan nada tak percaya. “Sudah datang?”

.

.

Luhan menyeruak dari balik kerumunan polisi dan wartawan lalu melewati police line dengan mudah. Kerumunan orang sudah memadati jalanan menuju apartemen ini. Lebih padat dari sebelum mereka sampai ke sini. Mata Luhan terus menyisir kerumunan, mencari seorang anak dengan seragam sekolah—mungkin—tapi anak itu tak tampak di matanya. Saat ia memalingkan dirinya ke arah supermarket tepat di depan apartemen ini, seorang anak perempuan tampak duduk dengan mata menatap lurus ke depan, tepat ke kerumunan orang-orang yang memadati rumahnya. Luhan bergerak dan segera menghampiri anak itu.

“Halo,” sapa Luhan saat sudah sampai di depan anak itu.

Mata anak itu bergerak dan menatap Luhan yang menjulang di depannya. Tapi dia tak mengatakan apa-apa selain kembali menatap lurus ke depan.

Luhan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tidak tahu harus berkata apa pada anak ini di situasi yang kacau seperti ini. Jadi ia memilih duduk di samping anak ini tanpa bicara apa-apa. Setidaknya ia harus memastikan bahwa anak ini tidak akan masuk ke dalam.

“Ibuku…”

Luhan menoleh saat mendengar suara kecil yang lebih pantas disebut bisikan itu. “Ya?”

“Apa aku boleh masuk sekarang?”

Luhan diam. Sekali lagi, ia tak tahu harus berkata apa.

“Ibuku sakit. Aku harus segera memasak untuknya,”

“Kau… harus tetap di sini,” kata Luhan. “Terlalu penuh di sana.”

Gadis itu menunduk sejenak, lalu kembali menatap lurus. “Aku tahu apa yang terjadi, jadi izinkan aku masuk.”

Gadis itu beranjak tanpa menunggu kata-kata dari Luhan. Melihat anak itu mulai bergerak, Luhan langsung menarik tangannya, membuat gadis itu berhenti.

“Aku mohon, tetaplah di sini,” kata Luhan. Ia bisa merasakan tangan gadis di genggamannya menegang.

“Apa hakmu melarangku untuk bertemu ibuku? Kita bahkan tak saling kenal.”

Luhan membuka mulutnya lalu menutupnya kembali. Benar kata gadis ini. Ia tak punya hak, tapi apa ia tega membiarkan gadis itu melihat keadaan ibunya yang bisa dibilang sungguh mengenaskan?

“Setidaknya aku tahu namamu,” kata Luhan. “Huang Jia,”

Gadis bernama Jia itu melepaskan tangannya dengan paksa lalu menatap Luhan dingin. “Aku tahu keadaaan di dalam, Tuan Xi Luhan,” kata Jia, membuat Luhan menatapnya bingung karena tahu namanya. “Kau takut aku menangis di sana dan mengganggu penyelidikan kalian? Aku tak akan menangis, aku janji. Seperti yang aku bilang tadi, aku tahu apa yang terjadi di dalam. Aku tahu ibuku meninggal karena pembunuhan. Aku tahu ia dimutilasi di dalam sana.”

Luhan menatap Jia tak percaya. Gadis mana di dunia ini yang dengan santai dan dinginnya mengatakan hal seperti itu? Demi apapun, anak ini adalah seorang anak perempuan berusia 15 tahun.

Tanpa menunggu jawaban dari Luhan, Jia berbalik dan melangkah ke dalam. Menyeruak para tetangga dan polisi yang berada di sana. Gadis itu menaiki tangga seolah-olah ia baru pulang dari sekolah seperti biasa. Melihat Jia yang sudah menghilang, Luhan langsung ambil langkah mengejarnya. Laki-laki itu akhirnya sampai kembali di apartemen Jia dan melihat anak itu yang sudah membuat heboh polisi di sana.

“Xi Luhan! Kukatakan padamu untuk menjaganya di bawah!” teriak Ki Hong.

Luhan mengabaikan teriakan atasannya dan mengikuti Jia yang melewati polisi dengan mudah walau mereka menyuruh Jia keluar. Saat matanya melihat kantung jenazah warna merah, Jia berlutut, membuat para polisi menahan nafas mereka. Dibukanya kantung jenazah itu perlahan. Hal yang pertama Jia lihat adalah wajah ibunya yang menatap langsung dirinya. Jia tak tahu apakah kepala ini terpisah atau tidak, ia tak mau tahu. Melihat wajah ibunya sudah membuat ia bahagia.

Jia mengelus pipi ibunya, membuat tangannya terkena darah. Dirapikannya rambut sang ibu dan diselipkan ke balik telinga. “Jia pulang, Ibu.”

Sang ibu tak berkata apa-apa, tapi hanya bisa menatap putrinya lurus. Jia mendekatkan wajahnya dengan sang ibu, mencium keningnya sedikit lebih lama, lalu menutup kedua mata sang ibu. Setidaknya sekarang sang ibu sudah tidur nyenyak. “Tidurlah, Bu. Jia baik-baik saja di sini.”

Jia menarik nafas perlahan, lalu menutup kembali kantung merah itu. Ia bangkit, lalu menuju westafel dapur. Mencuci tangannya di sana, membuat genangan merah. Ia berjalan melewati polisi-polisi yang menatapnya tak percaya lalu berhenti tepat di depan Luhan.

“Sudah kubilang, aku tak akan menangis.”

Hening. Semua orang tak bicara setelah Jia mengatakan hal itu.

“Luhan, bawa ia ke bawah!” perintah Ki Hong.

Luhan mengangguk dan Jia langsung bergerak setelah ia mendengar kata-kata detektif itu. Jepret kamera tak henti-hentinya memotret Jia, membuat Luhan melepas jaketnya lalu menutupi kepala Jia dengan itu. Gadis itu sepertinya tak keberatan karena ia terus berjalan, mengabaikan semua orang yang ada di sana, bahkan mengabaikan perasaannya sendiri.

.

.

Luhan menghentikan mobilnya di depan sebuah apartemen tak terlalu besar. Ia meraih kotak hitam di kursi penumpang lalu keluar. Ia melihat keadaan di sekitar sebelum mendorong dirinya masuk. Sekarang sudah tepat tiga hari setelah kasus besar kemarin. Dan sampai saat ini, tanda-tanda pelakunya masih belum bisa dipecahkan. Huang Jia, gadis kemarin itu sudah berada di bawah pengawasan kepolisian Seoul dan sudah dipindahkan ke tempat tinggal yang disediakan kepolisian. Gadis itu tak memiliki wali karena walinya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Selain itu, tak ada keluarga yang dapat dihubungi, membuat kepolisian sedikit kesulitan.

Langkah Luhan terhenti di depan sebuah kamar bernomor 07. Ia mengetuknya dan diketukan kelima, pintu membuka dan menampilkan Jia dengan seragam sekolah lengkapnya. Luhan tersenyum simpul. “Boleh aku masuk?”

Jia bergeser sedikit dan membiarkan Luhan masuk. Ditutupnya kembali pintu lalu mengikuti Luhan yang menuju ruang tamu. “Ada apa Tuan kemari?”

Luhan menoleh lalu menunjukkan kotak hitam di tangannya. “Ketua menyuruhku memasang CCTV di sini untuk memantaumu. Kalau ada hal yang mencurigakan, kami akan langsung kemari.”

Jia hanya diam saat Luhan mulai mengeluarkan kameranya dan memasang itu di sudut ruang tamu, dekat pintu masuk, dan dapur. Gadis itu memang tak bicara apa-apa, tapi tetap mengikuti Luhan ke sana kemari, bahkan mengambilkan apa yang Luhan butuhkan. Setelah selesai, Luhan kembali membereskan peralatannya dan menatap Jia yang tengah membereskan piring makannya tadi.

“Kau mau pergi sekolah?” tanya Luhan. Jia mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari piring-piring yang tengah dicucinya. “Mau aku—“

“Aku bisa sendiri, Tuan.”

Luhan mengangguk kecil lalu menggaruk keningnya sedikit. “Tak perlu memanggilku Tuan. Lagipula aku tak setua itu.”

Jia meliriknya sedikit. “Jadi apa? Luhan Oppa?”

Mendengar kata itu keluar dari mulut Jia membuat Luhan merasa aneh. Padahal dulu ia biasa saja dengan panggilan seperti itu. “Panggil namaku saja, tidak apa-apa.”

Jia diam lalu mengeringkan tangannya dan masuk ke kamar. Ia kembali keluar dengan ransel dan rambut yang tergerai rapi di pundaknya. “Aku mau ke sekolah. Jadi kamu bisa pulang sekarang.”

Luhan menarik nafas lalu mengangguk. Ia meraih barang-barangnya lalu mengikuti Jia keluar. Ditatapnya punggung kecil gadis itu. “Aku akan kabari jika kami mendapat kemajuan. Aku sudah meninggalkan nomorku di meja, jadi kalau ada apa-apa, tolong hubungi nomor itu.”

Jia mengangguk, lalu membungkuk sedikit dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

.

.

“Kita sudah dapat sampelnya?”

Ki Hong mengangguk lalu kembali membaca berkas di hadapannya. “Ya, tapi masih ada beberapa bagian yang belum selesai. Teruslah mencari karena semua orang masih berjuang di sini.”

Mendengar atasannya bicara, Luhan tersenyum senang. Setidaknya mereka selangkah lebih dekat untuk menyelesaikan kasus yang rasanya mustahil untuk dituntaskan. Sama sekali tak ada barang bukti dan sidik jari di lokasi kejadian. Selain itu, CCTV supermarket di depan apartemen itu mati sejak dua hari yang lalu, membuat polisi sulit menemukan pelakunya.

Luhan menatap jam hitam di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam tujuh, Jia pasti sudah pulang.

“Pak, aku pergi dulu,” kata Luhan sambil menarik jaket di mejanya.

“Mau ke mana?”

“Menjemput Jia. Aku pamit, ya!”

Ki Hong menatap bingung Luhan yang sudah melesat dengan cepat. Ia memang menugaskan Luhan untuk terus memantau anak itu, tapi tidak dengan menjemput anak itu sepulang sekolah. Memangnya ada apa ini?

Mobil Luhan sudah berhenti di depan gerbang sekolah sebuah SMA swasta yang terkenal. Ia tahu SMA ini karena ia alumnus dari sini. Bukannya bermaksud sombong, tapi SMA ini dipenuhi oleh anak-anak dengan prestasi terbaik. Tapi bukan hal yang aneh jika sekolah ini juga didominasi dengan anak para pejabat dan pengusaha.

Bel berbunyi tepat saat Luhan keluar dari mobil. Tak berapa lama, anak-anak mulai keluar dan berjalan beriringan dengan teman-teman mereka. Mata Luhan menyisir para murid, mencoba mencari Jia di balik kerumunan itu. Tiba-tiba, matanya menangkap gadis yang berjalan sendirian di belakang anak-anak perempuan. Gadis itu hanya berjalan sambil menunduk.

“Huang Jia!” panggil Luhan.

Gadis yang menunduk itu—Jia—mengangkat wajahnya dan langsung menatap Luhan. Ada sinar heran di manik hitam pekat itu.

“Sedang apa di sini?” tanya Jia saat ia sampai di depan Luhan.

Luhan tersenyum. “Menjemputmu,”

Jia mengerutkan kening. “Untuk?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Naiklah, sekalian aku antar kamu pulang.”

Luhan membukakan pintu depan lalu menatap Jia yang masih terlihat heran. Tapi sepertinya Jia tak ingin berlama-lama, jadi ia segera masuk. Luhan langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan gerbang sekolah.

“Kau ingin bicara apa?” tanya Jia.

“Aah… itu, kami baru saja mendapat sampel dari jenazah ibumu. Memang masih permulaan, tapi setidaknya kita sudah selangkah lebih dekat, kan?” Luhan menatap Jia yang tengah menatap keluar jendela. “Kau… tidak senang?”

“Aku senang, kok.”

Luhan mengerutkan keningnya. Senang? Gadis itu bahkan tampak tak mendengarkan dirinya. Wajahnya selalu menampilkan raut datar.

“Tapi kau tampak seperti orang yang tidak senang akan berita ini,”

“Apa bahagia dan senang itu harus ditunjukkan? Aku sudah lega mendengar kata-kata darimu. Jadi menurutku, tidak perlu diekspresikan secara berlebihan.”

Luhan diam. Waw, gadis ini benar-benar lain.

“Huang Jia, kau ini agak sedikit…”

“Aneh?” lanjut Jia. “Tidak akan aneh kalau kau tahu aku.”

Baiklah, Luhan tak tahu harus bilang apa. Perkataan gadis ini benar-benar skakmat bagi dirinya. Jadi Luhan berdeham, menghilangkan kegugupannya. “Kau sudah makan? Aku akan membelikanmu kalau kau mau.”

“Aku ingin pulang saja. Itu bisa dilakukan di rumah.”

“Aku hanya ingin menghiburmu. Pemikiran kita berbeda, jadi aku harap kau maklum dengan caraku.”

Jia menoleh dan menatap Luhan yang sedang tersenyum padanya. Ia menghela nafas, memilih untuk diam daripada mendebat hal yang tak berguna.

Sebuah restoran yang cukup ramai menjadi pilihan Luhan kali ini. Mereka berdua turun lalu memilih duduk di dekat jendela. Seorang pramusaji meletakkan dua buku menu di depan mereka lalu meninggalkan mereka. Luhan sudah membuka buku menu dan menentukan pilihannya. Ia menurunkan sedikit buku menu sehingga ia bisa melihat Jia yang hanya diam sambil menatap keluar jendela.

“Kau mau pesan apa?”

Jia menoleh. “Aku tak mau makan apapun.”

Luhan menghela nafas. “Kau harus tetap makan. Tugasku adalah mengawasimu sampai semua ini terungkap. Jadi pesanlah apapun yang kau mau.”

Jia menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Diraihnya buku menu kedua lalu menunjuk sebuah menu.

“Minumnya?” tanya Luhan. Jia kembali menunjuk menu tanpa banyak bicara. Luhan mengangguk mengerti lalu memanggil pramusaji. Tak berapa lama, makanan yang mereka pesan datang.

“Makanlah. Kalau kau mau lagi, kau tinggal bilang,” kata Luhan.

“Apa aku tampak serakus itu?” tanya Jia yang hanya dijawab oleh senyum Luhan. Mereka hanya makan tanpa banyak bicara. Benar-benar sunyi sampai keduanya selesai.

Tiba-tiba, hujan turun deras saat mereka berdua baru mau keluar. Mau tak mau, mereka hanya berhenti di depan pintu sambil menatap hujan yang mengguyur jalanan. Mobil Luhan terparkir agak jauh dari restoran karena penuhnya lahan parkir. Kalau mereka nekat menyebrang, alhasil mereka akan basah kuyup. Jadi mereka memastikan untuk menunggu. Setidaknya sampai hujan tak terlalu deras.

Jia menengadahkan tangannya dan menyentuh hujan. Dinginnya air hujan menghujam tangannya, membuat tangannya sedikit kedinginan. Luhan menatap gadis di sampingnya yang masih intens menatap hujan. Kalau diperhatikan, gadis ini lumayan cantik. Kulitnya putih bersih tanpa cela dengan hidung mungil dan bibir merah tipis. Matanya lebih besar dari orang kebanyakan dengan alis tebal dan rapi.

“Aku dan Ibu punya permainan kalau hujan sedang turun.”

“Eoh?” tanya Luhan. Tak menyangka kalau gadis ini akan memulai percakapan.

“Coba kau buat tanganmu seperti ini,” kata Jia. “Seperti akan menampung air hujan.”

Luhan membentuk kedua telapak tangannya seperti yang Jia katakan. “Lalu?”

“Aku akan menampung air hujannya lalu menyerahkannya padamu. Seperti ini,” Jia menangkupkan kedua tangannya lalu menampung air yang turun. Setelah itu, ia mengoper air itu ke tangan Luhan. “Jika air itu habis duluan di tangan seseorang, maka orang itu akan kalah. Lalu akan dihukum. Biasanya kami akan mencubit cuping hidungnya.”

Tangan Jia sudah tergerak ke depan lalu terhenti begitu saja beberapa senti dari wajah Luhan. Ia dan Luhan saling pandang. Luhan bisa melihat sesuatu bergerak di mata gadis itu. Tapi sedetik kemudian, Jia sudah menarik kembali tangannya dan mengalihkan wajahnya dari Luhan.

Tadi, tanpa sengaja, Luhan bisa melihat senyum yang terbit dari wajah Jia ketika gadis itu bercerita. Hanya sebentar, tapi bisa membuat dirinya tertegun.

“Jia,” panggil Luhan, membuat Jia menoleh sedikit. “Kau cantik kalau tersenyum,”

Mata gadis itu sedikit membesar tapi ia langsung membuang pandangannya kembali. Luhan menggaruk tengkuknya. Baiklah, mungkin tadi sedikit aneh untuk dikatakan langsung pada Jia, tapi kenyataannya memang begitu. Luhan menengadah dan melihat hujan yang sudah tak terlalu deras, tapi masih bisa membuat basah. Ia melepas jaketnya, lalu melindungi kepalanya dan Jia. Gadis itu menoleh saat kepalanya sudah tertutupi dengan jaket.

“Sudah tak terlalu deras, ayo pulang,” ajak Luhan dengan senyum hangatnya. Ia berlari kecil, membuat Jia juga ikut berlari di sampingnya.

Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Luhan sudah sampai di apartemen Jia. Hujan masih turun, membuat mereka berdua terburu-buru keluar.

“Kau tak perlu mengantarku sampai ke dalam,” kata Jia saat menaiki tangga.

“Aku harus memastikan kau benar-benar pulang dengan selamat.”

Jia hanya memilih diam lalu berjalan kembali ke apartemennya. Sesampainya di sana, sebuah kotak terlihat menunggu di depan kamar Jia.

“Apa kau memesan sesuatu?” tanya Luhan. Jia menggeleng. Luhan meraih kotak putih dengan hiasan pita emas itu. “Apa kau punya penggemar? Sepertinya hadiah khusus untukmu.”

Jia hanya menggeleng. Ia merasa aneh karena tak pernah memesan apapun dan rasanya tak pernah ada yang mengaguminya sampai-sampai ada hadiah di depan rumahnya. Luhan melepas pita emasnya lalu membuka kotak itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat isinya. Karena terkejut, tanpa ia sadari, kotak itu terlepas dari genggamannya dan jatuh tepat di depan Jia. Jia memungutnya lalu melihat isinya yang sungguh menjijikkan. Tikus yang terpotong menjadi tujuh bagian.

Jia meraih tutup yang masih Luhan pegang, lalu membuang kotak itu keluar. Saat ia kembali, Luhan tengah menelepon seseorang. Melihat Jia, Luhan mematikan sambungannya.

“Ketua menyuruhku untuk tetap di sini.”

Jia menggeleng. “Tak perlu, pulanglah.”

“Huang Jia, kau tak lihat isi kotak itu? Seseorang sudah menerormu! Siapa tahu dia kembali saat tahu kau sudah di rumah. Aku punya perasaan bahwa ia adalah pelakunya. Buktinya ia memotong tikus itu persis seperti—“

Luhan menghentikan bicaranya. Ia menatap Jia yang tengah menunduk. Sial, gadis itu pasti tahu apa kata-kata selanjutnya. “Biarkan aku di sini. Setidaknya sampai kau berangkat sekolah besok.”

Jia hanya diam. Ia mengeluarkan kunci rumahnya lalu masuk. Ia bahkan tak peduli apa Luhan sudah masuk atau belum karena ia sudah membanting pintu kamarnya. Luhan menatap pintu yang tertutup itu lalu mendesah. Ia duduk di sofa lalu menjambak rambutnya hingga berantakan. Gadis itu dalam bahaya dan sekarang ia tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana kalau gadis itu celaka? Bagaimana kalau gadis itu terluka saat Luhan tak ada di sana? Astaga, ia memang tak mengenal dengan baik gadis itu. Tapi demi apapun, ia tak mau gadis itu terluka sedikit saja. Karena tanpa ia sadari, gadis itu mulai menarik dirinya, membuat ia peduli dan ingin menjaganya terus. Ingin terus ada di sampingnya. Oh, Xi Luhan, apa yang harus kau lakukan?

.

.

Sudah dua minggu sejak kasus itu. Dan sampai sekarang, semua belum terungkap. Luhan masih tetap mengawasi gadis itu dan Jia tetap pada dirinya yang dingin dan datar. Sekarang Luhan tengah berdiri di depan sebuah kotak kaca. Di dalam sana, terdapat sebuah guci dan pigura foto. Di foto itu, tampak Jia dan ibunya yang tengah tersenyum ke depan kamera. Ini pertama kalinya Luhan melihat gadis itu tersenyum dengan lebar. Dirinya sama sekali tak menyesal saat mengatakan bahwa Jia cantik kalau tersenyum.

Ibu Jia sudah dikremasi setelah otopsi selesai. Sekarang jasadnya sudah terbaring tenang di dalam guci putih di balik kotak kaca ini. Luhan meletakkan bunga lili putih di sana lalu berbalik setelah membungkuk hormat. Merasa bersalah karena tak bisa melakukan tugasnya dengan maksimal. Luhan berbalik meninggalkan tempat itu. Saat ia berjalan keluar, ia berpapasan dengan lelaki bertopi. Laki-laki itu membawa bunga tulip kuning. Luhan menghentikan langkahnya lalu menatap laki-laki yang sekarang berada di tempatnya tadi. Tepat di depan kotak kaca ibu Jia.

Merasa penasaran, Luhan kembali berbalik dan mendekati laki-laki itu. Tidak terlalu dekat, tapi cukup membuat Luhan bisa mendengar kata-katanya.

“Aku kembali, Zhang Jiaying. Apa kau merindukanku?” tanya laki-laki itu. “Apa kau baik-baik saja di dalam guci itu? Hah. Orang baik sepertimu pasti tak merasakan apapun, kan?” Laki-laki itu menghela nafas. “Anakmu sudah besar rupanya. Dia mirip sekali denganmu.”

Luhan menaikkan alisnya. Apa?

“Aku ingin menjaganya, jadi serahkan saja dia padaku. Seperti kau menyerahkan nyawamu untuknya.”

Badan Luhan menegang. Tunggu dulu.

“Aku sudah memberikannya sedikit kejutan, tapi sepertinya tak mendapatkan respon apapun. Kenapa? Apa dia sama sepertimu? Suka mengabaikan orang sepertiku ini? Hahaha… Zhang Jiaying, kau sudah tenang di dalam sana. Jadi kau tak perlu khawatir tentang putrimu. Serahkan saja dia padaku dan akan kujaga dengan segenap jiwaku. Aku juga pasti akan mengantarnya kepadamu. Setelah itu, kita akan bersama-sama, tenang di alam sana, seperti sebuah keluarga. Aku bisa menjaga kalian lebih baik dari pada Huang Qiang sialan itu.”

Luhan merasa tak bisa bernafas. Orang ini… orang ini…

“Kubawakan bunga tulip untukmu. Besok aku akan kembali lagi untuk meletakkan guci satu lagi.”

Laki-laki itu berbalik dan melihat Luhan yang berdiri di depannya. Luhan bisa melihat ketegangan di mata laki-laki itu, sebelum laki-laki itu berlari dan menabrak Luhan hingga terjatuh. Luhan langsung bangkit dan mengejar laki-laki itu. Dikeluarkannya pistol lalu menembak ke arah laki-laki itu. Dua peluru meleset. Luhan mengumpat lalu kembali menarik pelatuknya. Peluru itu langsung mendarat di lengan kanannya, membuat laki-laki itu berhenti sebentar sebelum kembali berlari. Luhan kembali mengarahkan pistolnya, kali ini tepat bersarang di kaki kirinya. Laki-laki itu terjatuh. Suara pistol yang menggelegar membuat beberapa orang yang ada di kompleks pemakaman berlarian.  Laki-laki tadi berusaha bangkit walau terseok. Luhan dengan mudahnya menembakkan kembali pistonya, membuat peluru kembali bersarang di kakinya, kali ini kaki kanan. Laki-laki itu tak bisa bangkit, hanya bisa berteriak dan mengaduh kesakitan.

Luhan dengan segera berlari menuju laki-laki itu, mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi kepolisian. Tapi tanpa ia sadari, tangan kiri laki-laki itu terlebih dahulu mengeluarkan pisau, membuat luka gores cukup panjang di tangan kanan Luhan. Darah merembes dan pistol Luhan sudah terlempar. Ia bergerak mengambil pistol, tapi laki-laki itu, entah kekuatan darimana, sudah bergerak menuju Luhan dan mencegah dirinya mengambil pistol. Tapi untungnya, pelatuk pistol itu sudah diraih duluan oleh Luhan, membuatnya kembali melepaskan peluru dan menembak tangan kiri laki-laki itu. Laki-laki itu terkapar dan darah berceceran di sana. Luhan kembali memungut ponselnya.

“Kirimkan anggota sekarang. Aku menembaknya.”

.

.

Luhan menatap Jia yang tengah diinterogasi oleh Ki Hong, sementara dirinya diobati oleh rekannya. Gadis itu hanya menjawab seadanya, terkadang dengan gumaman, terkadang dengan anggukan singkat. Setelah Luhan ketahui, pelakunya memang punya hubungan dengan ibu Jia saat mereka masih di China. Laki-laki itu tak terima ketika ibu Jia menikah dengan suaminya dan pergi ke Korea. Maka selama ini, ia mencari ibu Jia. Dia membunuhnya karena alasan dendam masa lalu.

“Boleh aku melihatnya?” tanya Jia kemudian. Luhan menatap Ki Hong yang diam sejenak lalu mengangguk. Jia bergerak melewati Luhan lalu berhenti tepat di depan sel sementara. Luhan beranjak mendekati Jia saat rekannya selesai membebat tangannya.

Jia tak berkata apa-apa. Tapi sepertinya laki-laki bernama Wu Shi Shen itu menyadari kehadiran Jia. Senyum licik terulas di bibirnya. “Nihao, Huang Jia,” Jia diam. “Wah, wah, mirip sekali kau dengan ibumu. Benar-benar mirip.”

Jia diam, sementara laki-laki itu mulai terkikik. “Aku masih ingat sekali saat aku mengunjungi ibumu terakhir kali. Ia masih cantik seperti dulu, sama sepertimu. Lalu kemudian ia memohon untuk nyawamu dan menggantikannya dengan dirinya. Hahaha… kau harus lihat wajahnya saat itu. Menyedihkan sekali.”

Luhan bisa melihat badan Jia menegang. Tangannya terkepal erat sampai buku jarinya memutih. Tapi anehnya, Jia masih tetap terlihat tenang.

“Kau mau ikut aku ke tempat ibumu? Ayo, bebaskan aku. Setelah itu akan kupotong kau seperti ibumu!”

Badan Jia bergerak ke depan. Tapi langkahnya langsung terhenti saat Luhan menarik tangannya. Jia menoleh dan menatap Luhan. Luhan bahkan bisa merasakan tangan gadis itu bergetar.

“Sudahlah, tak perlu ditanggapi. Waktumu akan habis kalau bicara dengannya,” Jia masih menatap Luhan. “Ayo, kuantar kau pulang.”

.

.

Luhan menutup pintu rumah Jia lalu menata sepatunya di depan. Jia sendiri sudah masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Luhan bergerak ke dapur, membuat teh untuk Jia supaya gadis itu bisa meminumnya setelah dari kamar mandi. Tepat saat Luhan mengaduknya, Jia keluar.

“Kau mau? Aku sudah buatkan untukmu,” kata Luhan sambil menyerahkan satu cangkir untuk Jia.

Gadis itu menerimanya dan langsung meminum teh yang masih mengepul itu dalam satu kali teguk. Luhan tercengang saat Jia meletakkan kembali cangkirnya dan bergerak ke depan jendela besar. Menatap pemandangan di depannya.

Luhan meletakkan cangkirnya lalu mendekati Jia. Menatap gadis itu yang masih diam dan tidak mengatakan apa-apa. “Jia, apa kau tak mau mengatakan apapun?”

Jia diam sebentar. “Kau berharap aku mengatakan apa?”

“Setidaknya keluarkan apa yang kau rasakan. Aku bukanlah orang asing lagi bagimu. Jadi kalau kau mau berteriak, menangis, atau tertawa, kau boleh melakukannya di depanku.”

Jia menoleh. “Apakah itu akan membawa perubahan?”

“Maksudmu?”

“Apakah dengan aku yang menangis sekeras yang aku bisa, berteriak sampai suaraku hilang, dan tertawa hingga ujung dunia mendengarku, apa aku bisa mengubah keadaan?” tanyanya yang membuat Luhan terdiam. “Lalu apa bedanya kalau aku hanya diam?”

“Setidaknya perasaanmu akan lebih tenang,” kata Luhan.

Jia menggeleng keras. “Tidak, perasaan ini tidak akan hilang. Apapun yang aku lakukan tetap tak akan mengubah keadaan. Orang di sana itu tetaplah pembunuh ibuku dan ibuku juga tak akan kembali lagi. Kau berharap aku melakukan apa? Memotong laki-laki itu jadi tujuh seperti yang ia lakukan pada ibuku? Apa dengan begitu ibuku akan bangkit? Katakan, Luhan, apa semua itu akan terjadi?” tanya Jia. Luhan hanya bisa menatap iris hitam gadis itu. Di sana berkelebat bermacam perasaan. “Tidak, kan? Walaupun aku memohon pada bumi dan langit, ibuku tak akan dikembalikan.”

Jia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan berat. “Melihat laki-laki itu tak berdaya karenamu dan dia yang sekarang akan menerima hukuman, aku sudah merasa sungguh bersyukur. Hanya itu yang bisa kulakukan. Setidaknya ibuku pergi dengan tenang.”

Jia kembali mengalihkan pandangannya ke jendela. Tak peduli apa Luhan mendengarnya atau tidak.

“Aku akan melindungimu,”

Jia tertegun. Matanya kembali menatap Luhan yang tengah menatapnya dengan lembut dan hangat.

“Aku akan menjaga Huang Jia. Aku janji.”

Jia diam. Matanya meneliti wajah Luhan, mencari kejujuran dari sana. Jia membuka mulutnya. “Boleh aku ke sana?”

Sebelum Luhan bisa menjawab, Jia sudah maju selangkah mendekatinya. Gadis itu menempelkan kepalanya di dada Luhan. Melihatnya, Luhan hanya bisa mematung dan menatap kepala Jia. Samar-samar, ia mendengar suara isak tangis yang kecil. Luhan bahkan melihat badan Jia sedikit bergetar. Gadis itu sedang berusaha keras menahan tangisnya.

Luhan mendorong badan Jia agar lebih dekat lalu melingkarkan lengannya di pundak Jia. Ditepuk-tepuk pelan punggung gadis itu. “Kalau kau memang mau menangis, menangis saja. Bebanmu sudah terlalu berat Jia. Orang lain mungkin tak akan mampu menahannya sepertimu. Aku sering membayangkan apa jadinya diriku jika aku sepertimu. Apakah aku masih bisa menatap dunia sepertimu dan menerima semuanya dengan ikhlas? Aku yakin aku tak bisa.”

Jia menggenggam erat ujung kemeja Luhan. Badannya berguncang semakin keras dan tangisnya mulai keluar. Luhan mengelus kepala gadis itu dan sesekali menepuk punggungnya agar gadis itu lebih tenang. Ia lega kalau gadis itu menangis sekarang. Setidaknya perasaan gadis itu sudah terangkat sebagian.

Jia menarik dirinya lalu menghapus air matanya. Luhan menangkupkan wajah Jia, membuat manik hitam itu menatap dirinya. Luhan tersenyum hangat, lalu menghapus sisa air mata di pipi Jia. “Sudah lebih baik, kan?”

Sudut bibir Jia terangkat. Bukan senyum sempurna, tapi gadis itu benar-benar tersenyum. “Aku  sudah pernah bilang kalau kau cantik jika tersenyum, kan? Sekarang kau benar-benar terlihat cantik,” kata Luhan. “Oh, ya, lidahmu tidak apa-apa saat kau meminum teh tadi? Itu benar-benar air mendidih, loh.”

“Saat aku meminumnya, aku tak bisa merasakan apapun. Tapi sekarang rasanya seperti terbakar.”

Luhan tertawa, membuat Jia sedikit merengut. Dia menarik dirinya lebih dekat, mencium kening gadis itu. Jia menatapnya dengan matanya yang membesar. Tapi Luhan hanya membalasnya dengan senyum menenangkan.

“Sekarang kau punya aku,” kata Luhan. Mata Jia kembali berkaca-kaca. “Kita memang beda sepuluh tahun, tapi apa aku boleh mengatakannya?”

“Mengatakan apa?”

“Kalau aku menyukai Huang Jia.”

Satu tetes air mata menuruni pipi Jia. Tangan Luhan bergerak menghapusnya. Mendengar kata-kata Luhan tadi, hati Jia terasa sakit. Bukan sakit yang seperti itu, tapi sakit karena bahagia. Ia selalu merasa bahwa saat ibunya direnggut darinya, dunia juga direnggut darinya. Jia bahkan pernah berpikir untuk pergi menemui ibunya, tapi laki-laki ini muncul di hadapannya. Mencegahnya dari hal-hal buruk. Dengan kata lain, melindunginya. Dan sekarang laki-laki ini nyata ada di hadapannya, nyata ada untuknya, dan nyata menyayanginya. Apa lagi yang bisa Jia harapkan?

Luhan menarik Jia ke pelukannya. Mencium pucuk kepala gadis itu. Jia sendiri balas memeluk Luhan. Menenggelamkan dirinya di balik hangatnya badan laki-laki ini. Mulai sekarang, ia tak akan sendiri lagi. Ada laki-laki ini di sampingnya. Ada laki-laki baik ini yang akan tersenyum untuknya. Membuat Jia bisa kembali menjalani hidupnya. Bisa kembali menatap dunia dengan senyuman.

.

.

End

P.S: Hai, ketemu lagi di third non chapter-ku. Sorry buat ceritanya yang kepanjangan, wkwk. Jangan lupa untuk komennya ya… biar makin bisa semangat dan terus berusaha yang terbaik^^

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s