[EXOFFI FREELANCE] CARNIVORA (CHAPTER 6)

TITTLE:CARNIVORA –THE BEGINNING – SIX

AUTHOR:YELLOWPARTNER

LENGTH:Chaptered

GENRE:TRAGEDY,SAD ROMANCE

RATING:PG-17(Sewaktu- waktu bisa berubah)

MAIN CAST:KAI,KRYSTAL

ADDITIONAL CAST:Just find it…

Poster by AL KINDI@EKF

Matahari bahkan belum menampakan diri. Tapi Soojung sudah membuka matanya. Tidak biasanya ia terbangun dengan perasaan lega seperti ini. Badannya lemah dan berat. Meski ia membuka matanya dengan lebar, hanya kegelapan yang menyambut visualnya. Biasanya Soojung akan terbangun dengan perasaan tidak berguna, marah dan lemah. Tapi pagi yang dingin itu ia bangun  tanpa merasakan hal itu.

Seingatnya tadi malam ia menangis.

Seingatnya tadi malam ia tidak lagi takut pada Kim jongin.

Seingatnya tadi malam ia mulai takut pada Oh sehun.

Seingatnya tadi malam ia mulai berharap lagi.

Dan pagi ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, lalu bingung harus melakukan apa. Menerima kenyataan bahwa ia buta dan lumpuh adalah hal yang sulit. Soojung sangat ingin semua yang terjadi padanya adalah mimpi buruk saja.

Akhirnya ia kembali memejamkan matanya dan menarik selimut lebih tinggi. Tapi tidak terlelap kembali. Pikirannya terbang ke saat pertama ia menari. Saat itu badannya tidak lentur samasekali. Bahkan untuk melakukan gerakan dasar saja Soojung sudah kewalahan. Tumitnya tidak mau bersatu dan kakinya malah keram. Soojung tidak menangis saat kesakitan, egonya mengatakan untuk tidak menangis. Padahal ia hanya bocah berumur 8 tahun saat itu.

Terlalu besar ego yang dimiliki Jung soojung. Ia lahir dengan kesempurnaan secara otomatis otaknya mengontrol bahwa apa yang ia lakukan pun harus sempurna. Dan ia belajar ballet dengan tekun untuk mencapai kesempurnaan. Ballet bukan tentang tarian seperti yang dipikirkannya. Tapi juga disiplin tinggi dan kesabaran. Entah untuk berapa waktu Soojung telah menjadikan ballet sebagai tujuan hidupnya. Bukan lagi tentang ibunya.

Dari ballet ia bisa menemukan kebahagian. Ibunya yang memperhatikannya juga gairah dalam menari. Gairah dalam hidupnya yang membosankan. Soojung tidak bisa mengatakan dirinya adalah wanita baik hati. Ia sombong dan penuh kebanggaan. Dan suka menindas yang lemah. Dan tidak merasa bersalah sama sekali. Lingkaran pergaulannya adalah gadis-gadis sombong juga. Sama-sama anak para konglomerat yang kesepian dan butuh pelampiasan. Pelampiasan soojung adalah menindas dan ballet.

Awalnya Soojung tidak terlalu tertarik saat melihat wujud soft shoes yang kelewat simple dan tidak cantik sama sekali. Juga stocing panjang tebal yang terkadang membuat kakinya kegerahan. Tapi saat sepatu dan stocking itu mulai usang dan skill nya meningkat Soojung berubah menjadi lebih bersemangat. Closet roomnya jadi dipenuhi berbagai macam soft shoes dan perlengkapan ballet lainnya.

Dengan ketekunan dan motivasi bahwa ia harus menjadi sempurna, Soojung sudah lancar menari tarian dasar dalam kurun waktu sangat cepat. Mengikuti lomba dan audisi hingga akhirnya diundang ke Itali untuk audisi puncaknya. Tapi seperti angin yang lewat semuanya langsung hilang tak berbekas. Dari yang diceritakan Wendy, Soojung tahu bahwa ia sempat koma selama dua bulan dan hampir mati berkali-kali di atas meja operasi.

“Sudah bangun?” baru saja ia memikirkan Wendy, wanita itu sudah ada disampingnya. Soojung tidak menjawab dia hanya menggerakkan badannya tanda bahwa ia sadar.

“Pagi ini sangat dingin tapi sepertinya kau sudah bangun dari tadi” wendy selalu mengajak Soojung bicara meski wanita itu hanya menimpali sesekali.

Seperti biasa Wendy akan membantu Soojung ke kamar mandi. Membantunya membersihkan diri dan memilihkan pakaian bersih. Dulu Soojung menolak bantuan Wendy bahkan melemparinya dengan apa yang ia temukan. Tapi sekarang Soojung sudah mulai terbiasa dengan bantuan Wendy. Lagipula mereka sama-sama wanita.

“Wendy” panggil Soojung.

“Ya?”

“Aku ingin keluar dari kamar, aku ingin mencari udara”

“Tentu, setelah ssarapan aku akan membawamu ke taman rumah ini”

***

Seperti yang telah dijanjikannya, Wendy membawa Soojung keluar dari kamar setelah sarapan. Soojung bisa merasakan sendiri tubuh lemahnya saat Wendy membantunya duduk di kursi roda. Wendy menyelimuti kaki Soojung yang mati rasa. Merapatkan mantel, syal dan memastikan sarung tangan terpakai dengan benar. Ini musim dingin dan mereka berada dikaki gunung. Wendy tidak mau mengambil resiko jadi ia harus yakin bahwa Soojung aman untuk dibawa mencari udara.

Soojung bisa merasakan udara yang berbeda ketika kursi roda mulai berjalan. Saat terdengar bunyi klik ia tahu bahwa mereka sudah berada diluar kamar. Udara dingin mulai menerpa pipinya.

“Sekarang musim dingin?” tanya Soojung “Tapi aku rasa kemarin aku merasakan matahari” tuturnya lagi.

“Ini akhir bulan maret, sebentar lagi musim semi jadi sudah tidak turun salju lebat dan matahari mulai keluar”

Soojung mengangguk anggukan kepalanya. Menerima penjelasan Wendy. Sama sekalii tidak mau membantah. Moodnya sangat baik pagi ini dan ia tidak ingin merusaknya. Soojung hanya menikmati semilir angin dingin yang entah kenapa malah menghangatkannya.

***

Sehun sebenarnya adalah seorang kriminolog tapi ia bertranformasi menjadi detektif. Itu tidak buruk sama sekali, banyak hal yang mudah ia tebak. Dari dulu ia sangat suka pada para polisi yang menangkap para penjahat. Jadi cita-citanya adalah menjadi seorang polisi. Tapi karena ia berteman dengan Jongin, Sehun mempelajari kriminologi sebelum memutuskan menjadi seorang detektif. Bagi Sehun, Jongin bukan kriminal tapi pikirannya sama seperti para kriminal.

Jongin tidak mencuri, tapi ia memindah bukukan hampir seluruh aset dari apa yang dimiliki korbannya. Jongin tidak memperkosa, tapi melakukan berbagai aksi pelecehan seksual yang membuat stress para korbannya. Jongin tidak membunuh, ia hanya mengambil kehidupan seseorang yang memang tidak pantas untuk menerima kehidupan itu. Jongin akan merebut semua yang dimiliki korbannya hingga korbannya mati secara perlahan.

“Kau sudah membereskan kasus ‘Tukang Jagal Gila’ itu?”.

Sehun menoleh ke samping kanan saat mendengar kata ‘Tukang Jagal Gila’. Entah kenapa pikirannya langsung tertuju pada Jongin. Kali ini Sehun lebih menajamkan pendengarannya. Kafetaria dekat kantornya ini tidak terlalu beisik tapi tetap saja obrolan menarik itu berada di tempat yang lumayan jauh.

“Belum, aku malah dipindahkan ke sini” ujar seorang lelaki yang kini sedang menunduk mengaduk jus apel didepannya. Menatap tak minat pada makanannya.

“Salahmu sendiri terlalu terobsesi dengan tukang jagal itu” ujar temannya yang menyusul duduk dengan membawa makanan.

“Tukang jagal itu harus ditangkap, dia masih berkeliaran dengan bebas saat ini” tutur lelaki yang tadi hanya mentap makanannya tanpa minta. Suaranya berta namun lembut.

“Ya ya, harusnya kau bersyukur bisa naik pangkat dan pindah ke Gangnam” kali ini Yoongi menimpali, dan Sehun mengenal si tukang tidur itu. Sedangkan dua lelaki lain tampak asing baginya.

“Aku tidak senang sama sekali, mau disini atau di Distrik sungai Han juga sama saja kalau tukang jagal itu belum tertangkap”.

“Terserah padamu sajalah” ucap seorang pria asing tadi.

Sehun tidak berniat mendengar percakapan itu lagi karena makanannya sudah habis. Jadi ia memutuskan untuk beranjak pergi. Saat keluar dari kafetaria ia sempat bersinggungan dengan seorang wanita dan membuat wanita itu terjatuh. Entah karena sial atau apa dia malah dihadapan dengan wanita super menyebalkan.

“Lihat lah jalanmu dengan mata!! Kau tidak tahu ada orang yang sedang lewat?!!” maki wanita itu sambil berusaha berdiri. Sehun yakin kalau tadi ia tidak menyenggolnya terlalu keras. Tapi wanita didepannya ini seakan membesar-besarkan masalah. Saat wanita itu mendongak dan menatap Sehun, terdapat raut kaget yang kentara disana. Sehun juga mengkerutkan alisnya. Entah dimana, namun ia yakin di suatu tempat ia pernah bertemu wanita dengan bibir penuh itu.

“Apa ki~” belum sempat Sehun melanjutkan perkataannya, wanita itu langsung melenggang pergi begitu saja. Berbalik seakan tidak mau melihat Sehun lagi. Kerutan di dahinya belum mau hilang saat ia melihat wanita itu menghampiri meja yang ditempati oleh orang –orang yang membicarakan tentang tukang jagal gila.

“Hai jinri!!” seru Yoongi saat wanita itu duduk tepat di sampingnya. Dan Sehun masih bisa mendengar suara itu meski samar. Jinri, ia tidak pernah mendengar nama itu sama sekali.

***

“Kim Jongin ini Choi Jinri, dan Choi Jinri ini Kim Jongin” Baekhyun memperkenalkan Jinri –cover designer baru mereka- pada Jongin. Lalu Jongin dan Jinri saling berjabat tangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa Jinri memang wanita yang sangat cantik. Ia bahkan lebih cocok jadi model dengan tubuh tinggi dan wajah super cantik itu. Tapi Jongin merasa pernah melihat Jinri di suatu tempat dan ia tidak mau menduga-duga. Selama urusan dengan Jinri hanyalah urusan pekerjaan saja maka masa bodo dengan dimana atau kapan ia pernah bertemu dengan wanita dengan bibir penuh yang tersenyum lebar saat ini.

“Jadi kau bersedia memakai sampul yang aku buat?” tanya Jinri antusias.

Jongin mengangguk “Tapi ada beberapa yang ingin aku tambahkan”.

“Tentu, kita bisa bekerja sama kalau begitu, aku tidak akan mengecewakan kalian semua” tuturnya lagi.

“Tentu saja tidak boleh mengecewakan nona” kali ini Baekhyun menimpali. Lalu mengalirlah obrolan tentang sampul buku itu. Jongin meminta untuk membuat sampul yang sedikit lebih suram tapi tidak terlalu kentara kesuramannya. Saat Chanyeol yang jadi cover designernya dulu Jongin bahkan meminta yang aneh-aneh. Membuat sampul yang harusnya jadi tanggal sekian malah selesai dua minggu kemudian.

“Aku pasti menyelesaikannya minggu ini, kalau ada masalah yang lain kalian bisa menghubungiki, tapi jangan menghubungiku saat malam karena aku tidak akan mengangkat telepon atau membalas pesan” ujarnya saat berdiri hendak berpamitan. Jinri tersenyum dan membungkukan badan lalu meninggalkan kantor itu. Jongin tertegun sesaat ketika memperhatikan cara jalan Jinri, juga goyangan pelan pada pinggulnya yang mengingakannya akan sesuatu namun masih samar.

“Sudah kubilangkan dia wanita itu sangat cantik” ucapan Baekhyun mengembalikan Jongin ke alam sadar. Menyadari Jongin yang terus menatap kepergian Jinri membuat lelaki yang terpaut dua tahun diatasnya itu menyeringai. Baekhyun mengira Jongin tertarik pada Jinri.

“Sayangnya dia itu pelacur bung!!” Jongin mengalihkan pandangannya pada Jongdae yang kini sudah duduk di depannya. Di kursi yang tadi diduduki Jinri.

“Dia itu jalang paling terkenal di gangnam, kau bisa tidur dengannya asal mau membayar mahal, itulah alasan dia tidak bisa dihubungi saat malam” lanjut Baekhyun.

“Kenapa dia bekerja disini kalau dia bisa mendapat uang banyak dengan mudah?” karena penasara Jonginpun bertanya.

“Entah lah, Kris yang merekomendasikannya lagi pula kerjanya juga bagus, katanya Choi jinri sedang bosan” tutur Kim jongdae dengan nada suara yang terdengar santai.

“Kalau aku anak konglomerat yang bisa membuang uang dengan mudah aku pasti akan mengajaknya tidur, dia cantik sekali!” Baekhyun memainkan bibirnya membentuk sebuat cemberut yang lucu. Meskipun ia lebih tua dari Jongin sifatnya yang suka kekanakan terkadang membuat dunia terbalik. Ya, walaupun Baekhyun sebenarnya tidak kekanakan seperti yang terlihat tetap saja orang-orang telah men-capnya dengan opsi itu.

“Dia sangat terkenal ya? Pantas saja aku merasa mengenalnya tadi” ujar Jongin datar sambil mengecek ponselnya. Ia menemukan pesan dari Wendy yang selalu mengabarkan tentang perkembangan Soojung.

Hari ini aku membawa Soojung keluar rumah, dia juga bangun lebih pagi dan lebih banyak bicara. Aku rasa moodnya sedang bagus. Mungkin hari ini kau bisa berbicara padanya lagi.

Refleks kedua ujung bibir Jongin terangkat. Membuat senyum kecil tersungging disana. Ia mengangkat wajahnya yang berseri-seri. Mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Jongdae dan Baekhyun tentang Choi jinri.

“Maaf hyung tapi aku harus pergi” ucapnya sambil berdiri. Meninggalkan dua orang lelaki kesepian. Baekhyun hanya menggerutu dan mengatakan bahwa Jongin tidak asyik sama sekali dan Jongdae malah mengejek Baekhyun.

***

Tidak begitu lama untuk sampai ke Gangwon-do dengan mobil pribadi. Jalanan tidak macet dan sekarang bukan hari libur. Jadi Jongin bisa sampai ke Yanggu kurang lebih satu jam dengan sedikit mengebut. Dia selalu suka udara gunung dan dia lebih memilih menempatkan Soojung di rumahnya yang ada di Yanggu agar wanita itu lebih cepat sembuh dengan bantuan udara gunung yang masih segar. Juga untuk menyembunyikannya dari orang lain.

Deru halus mesin Range rover evoque  yang kini terparkir di halaman disambut oleh Wendy yang berdiri di ambang pintu. Jongin turun dari mobil dan menghampiri Wendy.

“Baru saja dia tertidur, jangan membangunkannya!” Jongin tidak mengindahkan Wendy sama sekali. Ia malah langsung melenggang masuk dan pergi ke kamar Soojung. Tidak seperti yang Wendy katakan, Soojung tidak tidur sama sekali. Ia malah sedang duduk diatas kursi roda dan menatap ke luar jendela. Tatapannya terlihat kosong, tapi Jongin yakin wanita itu sedang memikirkan banyak hal. Reaksi Soojung sungguh diluar dugaan. Dia tidak terlihat depresi sama sekali tapi itulah yang dikhawatirkan olehnya dan Wendy.

“Hei” sapa Jongin dan Soojung langsung menolehkan kepalanya mencari keberadaan Jongin. Ia terlalu larut dalam lamunan hingga tidak mendengar suara pintu yang dibuka.

“Wendy bilang kau sedang tidur” Jongin mendekat dan duduk di ranjang tepat disebelah kursi roda Soojung. Soojung tidak menimpali perkataan Jongin. Ia hanya kembali menolehkan  kepalanya ke jendela. Jongin juga tidak berharap lebih, mendengar wanita itu sudah mau keluar rumah bahkan sudah membuatnya senang. Perasaan yang selalu didapatkannya ketika mendengar teriak ketakutan.

Jongin ingin mengajak Soojung bicara tapi perbendaharaan kosakatanya malah hilang begitu saja. Padahal dia adalah seorang penulis yang bermain dengan kata. Tapi sekarang keheningan itu mengalahkannya.

“Kim jongin” Jongin sungguh terkejut saat Soojung memanggil namanya. Bertanya-tanya apa yang diinginkan Soojung. Sebuah perasaan cemas malah meliputi benaknya. Ia takut Soojung akan berbuat hal gila. Meski ia sendiri tidak tahu hal gila apa. Pikirannya selalu mengarah pada hal negatif lebih dulu, karena itulah dia butuh Oh sehun yang bisa menyelamatkan pikiran negatif yang bisa saja mengakhiri hidupnya saat ini juga.

Tapi sekarang Oh sehun tidak ada. Hanya ada dia juga Soojung. Berbagai rasa cemas menggelitiknya hingga seruntun kalimat keluar dari bibir indah wanita itu.

“Aku menerima penawaranmu”.

Dan jongin merasa sangat hebat saat itu. Tiba-tiba kebanggaannya naik ke puncak tertinggi. Ia bisa mengambil kepercayaan wanita yang selalu jauh dari jangkauannya itu. Membuat kepongahan dalam dirinya bertambah. Tapi kesadarannya yang tesisa berkata bahwa ini akhir dari eksistensinya. Tapi Jongin sudah tidak peduli dengan akal sehat. Yang penting sekarang ia sangat senang.

Jongin tersenyum lebar, buru-buru menelpon Sehun yang entah sedang ada dimana. Memberitahukan keputusan Soojung dan merencanakan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia juga memanggil Wendy dan mengatakan untuk segera berkemas. Mereka akan kembali ke Seoul hari itu juga.

Author’s note

Udah siap belum? Para cast inti udah ngumpul nih, ada yang bisa nebak?

Aku udah kasih beberapa clue wkwkwkkwk

Oh iya, Sehun gak bakal jadi orang ketiga, jadi jangan khawatir wkwkwk ngurusin cerita Jongin Soojung aja dah pusing apalagi ditambah orang ketiga.

Jangan lupa komen ya hehe walau gak suka ku bales tapi selalu ku baca kok

Iklan

17 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] CARNIVORA (CHAPTER 6)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] CARNIVORA (Chapter 8) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Semoga author gak marah aku baca marathon dan langsung komen disini’-‘
    Yang aku masih bingung apa hubungan jinri sama sehun-jongin ya? Oh ya di part part awal kirain kyungsoo mau balas dendam eh tp trnyata enggak/? Atau belum ya?
    Sebelumnya kukira yg jongin bunuh cuma minsoo doang tp trnyata banyak ya? Gak nyangka si jongin di juluki tukang jagal wkwk..
    tp btw chap 5 di protek ya? Gimana cara dapet pw nya thor?

  3. Apa jinri nanti ada hubungannya dengan mereka ? Soo jung terima penawaran jongin apa nanti soo jung bisa jatuh cinta sama jongin gak yaa ? Kenapa jongin harus bergantung dengan sehun ?
    Ditunggu next chapter nya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s