[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You (Chapter 8: GOOD OR BAD)

CRAZY WITH YOU.jpg

Tittle : Crazy With You [Chapter 8: GOOD Or BAD ]

Author: Babyjae96

Length: Chapter

Genre: Romance,  Comedy & Drama.

Rating: PG-17

Main Cast :

Park Yena [OC]

Do Kyungsoo [EXO]

Disclaimer : Fanfic ini hasil karya otak ku sendiri dan kemudian tersalurkan kedalam Fanfic ini, jika ada kesamaan dengan ff lain hanya kebetulan semata.

“Wanita baik hanya untuk pria baik”

.

.

Sudah dua bulan Minji memikirkan apa yang Eunsoo katakan padannya, Yena hamil dan tinggal di apartement Kyungsoo…sampai sekarang dia juga masih tinggal disana, Minji tau itu karna ia beberapa kali melihat Yena keluar dari apartement Kyungsoo, tak perlu ragu lagi.. Kyungsoo pasti Ayah dari bayi yang dikandung Yena ,jika tidak kenapa  menerima Yena tinggal disana? Padahal saat sekolah mereka sama sekali tak dekat dan terlihat saling tak menyukai.

Kesibukan akan kuliahnya ini sama sekali tak membuatnya melupakan kenyataan itu, ia gagal untuk bisa satu kuliah dengan Kyungsoo padahal ia sangat ingin bisa masuk universitas Seoul, tentu saja ini karna dia menyukai Kyungsoo..siapa juga yang tidak menyukai pria sepintarnya.

Minji akhirnya melajukan mobilnya ke tempat di mana Ibu Kyungsoo tinggal, sudah dua bulan ia memikirkan menganai Kyungsoo dan Yena… Ibu Kyungsoo sepertinya tidak mengetahui tentang ini jadi ia datang kesana bertemu dengan Ibu Kyungsoo dan menceritakan apa yang menganggunya dua bulan belakangan ini.

“Sekarang Yena tinggal bersama Kyungsoo dan dia tengah hamil”, itulah apa yang ia katakan pada Ibu Kyungsoo dan reaksi terkejut ditampilkan oleh wajah wanita berusia 50 tahun itu mendengar tentang putranya yang tinggal bersama Yena dan wanita itu sedang hamil?

Setelah itu Minji mengantarkan Ibu Kyungsoo ke Seoul tepat didepan gedung apartement Kyungsoo tapi ia meminta Ibu Kyungsoo merahasiakan tentang dia yang memberi tahu ini dan mengantarkan beliau ke sini. Minji sendiri tidak tau apa yang dilakukannya ini akan berdampak buruk untuknya atau tidak, ia hanya mengikuti saja emosi keegoisan dalam dirinya sekarang.

.

.

Yena duduk diatas ayunan yang berada di taman belakang gedung apartement mereka, ia menggoyangkan ayunan itu sendiri sambil mengandah keatas langit dimana tak ada satupun bintang disana..kenapa cuaca awal musim panas malam ini buruk, menambah suasana hatinya semakin buruk saja. Ia keluar dari dalam apartement setelah Ibu Kyungsoo datang secara tiba-tiba ke sana dan beliau benar-benar marah mengetahui hubungan keduanya termasuk kehamilannya, Yena sengaja meninggalkan Kyungsoo dan Ibunya agar berbicara sebagai seorang Ibu dan anak didalam sana, ia tau Kyungsoo pasti bisa berbicara dengan dan menjelaskan semuanya secara jelas.

Kenyataan bahwa ia tak disukai Ibu Kyungsoo memang menganggunya selama dua bulan terakhir sejak hubungannya dengan Kyungsoo, ada rasa takut jika Ibu Kyungsoo tak akan menerimanya dan benar.. itu terlihat jelas dengan reaksi beliau tadi saat melihatnya berada didalam sana terlebih melihat pada perutnya yang sudah mulai terlihat besar ini.

Yena menurunkan kepalanya ia mengusap-ngusap lembut perutnya itu berharap jika bayinya ini tak mendengar apa yang Ibu Kyungsoo katakan tadi karna menyebutnya sebagai wanita tak baik, menurut Kyungsoo sebelumnya sekarang bayi mereka ini sudah bisa mendengar apa yang orang-orang ucapkan jadi dia pasti mendengar semuanya tadi..

“Dodoo-ya.. Bagaimana ini? Omma, takut..” Yena benar-benar takut apa yang terjadi setelah ini, bagaimana jika Ibu Kyungsoo tetap tak menerimanya? Ini benar-benar menakutkan.. Tuhan, apa yang harus ia lakukan sekarang?

.

.

Kyungsoo sama sekali tidak tau harus menjelaskan ataupun membujuk apa lagi pada Ibunya yang sama sekali tak menerima Yena, Ibunya menolak Yena dengan alasan yang menurutnya tidak penting..sekarang Yena sudah berubah, dulu dia memang nakal tapi itu reaksi yang biasa dilakukan para remaja apalagi Yena ditinggalkan kedua orangtuanya, apa Ibunya tidak bisa mengerti keadaan Yena.

“Lalu, bagaimana kau yakin dia mengandung anakmu?!”

“Omma!!!”

“Banyak pria disekelilingnya, dan kau percaya saja dia anakmu!”

Kyungsoo sama sekali tak pernah memikirkan itu, ia tau Yena memiliki teman pria termasuk Seungjun dan Sehun juga tapi ia yakin jika Yena bukan wanita yang seperti Ibunya pikirkan, dia sangat menjaga dirinya dan kehormatannya, ia sudah tau semua secara dari Eunsoo ataupun dari sikap Yena dan pengakuan Yena padanya tentang kehidupannya, sungguh ia tak pernah meragukan itu anaknya atau bukan, ia yakin yena sedang mengandung darah dagingnya sendiri “Dia benar-benar mengandung anakku.. Omma, biarkan aku menikahinya”

Ibu Kyungsoo yang duduk di sofa itu sama sekali tak percaya bagaimana bisa putranya bisa membuat Yena hamil, dia anak baik-baik dan ini sama sekali tak mungkin kecuali Yena menjebaknya, apakah anaknya tak pernah memikirkannya..sekarang Yena tak memiliki siapapun, dia tak memiliki keluarga, uang ataupun tempat tinggal dan mungkin saja dia hanya memanfaatkan kepolosan Kyungsoo.

Kyungsoo berdiri dari sofa lainnya ia berada didepan Ibunya dan berlutut pada sang Ibu “Kumohon restui kami, aku mencintainya dan aku ingin hidup bersamanya”

Ibu Kyungsoo tak habis pikir bagaimana bisa Yena mencuci otak putranya sekarang dan bahkan Kyungsoo berkata mencintai wanita itu.. Ini benar-benar tak bisa dipercaya, dan bagaimana bisa putranya ini mencintai seorang Yena yang jauh dari kata baik, masih banyak wanita baik disana yang pantas untuknya termasuk Minji. Beliau sangat mendukung jika Kyungsoo dan Minji berhubungan, tentu saja dia jauh lebih pantas dari Yena dan setiap Ibu juga pasti ingin anaknya menikahi seseorang yang baik.

.

.

Kyungsoo keluar dari gedung apartementnya membawa sebuah mantel berwarna abu untuk Yena, dia bahkan keluar dengan pakaian yang tipis..walaupun ini sudah memasuki musim panas tapi tetap saja udara dingin khas musim semi masih terasa. Kyungsoo sudah tau kemana Yena pergi, dia pasti duduk di ayunan taman belakang gedung ini dan benar dia menemukan Yena duduk disana.

Tangan Kyungsoo langsung menaruh mantel itu ke pundak Yena “Kau tidak dingin berada diluar?” ia ikut duduk di ayunan lainnya sebelah Yena “Ayo masuk!”

Yena menggeleng ia tersenyum tipis pada Kyungsoo “Aku belum mau masuk, ada banyak pikiran dikepalaku dan aku masih harus memikirkannya dulu”

“Jangan dipikirkan,aku tau yang kau pikirkan”

“Ibumu… tidak menerimaku kan?”

Kyungsoo menatap Yena lekat-lekat melihat bagaimana ekspresi sedih Yena “Dia pasti akan menerimamu nanti” Balasnnya pelan dengan hati-hati takut akan menyinggung Yena. Yena mengangguk kecil, ia sudah tau itu “Ahjumma pasti sangat membenciku, aku tau itu.. Dulu aku pernah membuatmu membolos dan akhirnya kau sakit lalu dirawat, kau juga melewatkan ujianmu waktu itu sampai kau tidak bisa masuk sekolah yang kau inginkan. Maaf”

“Itu bukan salahmu, ini salahku yang tidak memerhatikan kondisiku sendiri waktu itu”

“Tapi tetap saja, ini semua karnaku” Yena menatap kembali kedepan yang hanya ada pepohonan saja, ia tak tau harus bagaimana sekarang.. jika diingatnya ia memang melakukan banyak kesalahan dulu yang menyebabkan Kyungsoo harus menanggungnya entah saat mereka masih bersahabat atau saat mereka di sekolah menengah atas dulu, bahkan sekarang ia merasa ini juga kesalahan dan Kyungsoo harus menanggungnya. Ah, kenapa ia berpikiran seperti ini.. tentu saja ia tak mau beranggapan jika ia hamil karna kesalahan memang awalnya begitu tapi sekarang ia senang dengan kehamilannya.

Kyungsoo tau apa yang dikhawatirkan Yena sekarang, ia merasa bersalah karna tidak bisa membuat Ibunya menyetujui mereka “Yena-ya.. Kau mau berjalan-jalan dulu sebelum masuk?” Tawarnya berharap dengan berjalan-jalan Yena akan sedikit tenang.

Yena langsung menoleh “Kemana?” ia merasa butuh berjalan-jalan juga untuk sedikit menghilangkan rasa khawatir dan takutnya ketika melihat Ibu Kyungsoo didalam sana.

“Kemana saja, apa kau mau tteokpeoki?”

.

.

Setelah berjalan-jalan ke dekat jalan raya dan memakan tteokpeoki yang biasa mereka makan, keduanya berjalan bersama masuk kembali ke geudng apartement mereka. Kyungsoo menggengam erat lengan Yena seolah memberi kekuatan pada Yena agar bisa menghadapinya begitu pun sebaliknya, keduanya sudah berada di depan unit apartement mereka dan kini mereka saling berpandangan.

“Jangan takut, kita hadapi bersama..” Ucap Kyungsoo tersenyum dan membenarkan posisi mantel yang berada di bahu Yena “Ayo masuk..”

Didalam, Yena dan Kyungsoo sudah ditunggu mereka berdua mendapat sedikit omelan karna keluar cukup lama, sebenarnya Ibu Kyungsoo mengkhawatirkan putranya “Dari pada keluar malam, lebih baik kau belajar saja”

“Aku akan belajar setelah ini”

Ibu Kyungsoo melihat mereka masih berpegangan tangan dengan tatapan tajamnya, ia tak suka melihat ini dan sejak tadi Yena juga hanya menunduk..dia tak seperti Yena biasanya yang terus menegakan kepalanya, “Lalu apa kalian juga tidur bersama?”

Yena perlahan menaikan kepalanya mendengar pertanyaan Ibu Kyungsoo yang..sedikit canggung. Kyungsoo menggeleng “Aku akan tidur di sofa dan dia tidur dikamar ku” selama ini juga mereka tidak tidur disatu kamar, Kyungsoo memilih untuk tidur dikamar Ibunya dan Yena dikamar Kyungsoo..mereka masih belum sah itulah yang ada dipikiran Kyungsoo.

“Jadi kau tidur di sofa? Di udara sedingin ini? Sudahlah..biar Ibu saja tidur diluar”

Yena akan melarang itu, tapi Kyungsoo menghentikannya dan menggeleng “Kau masuk saja ke kamar, biar aku yang menyelesaikan ini” Ucapnya mengulas senyum dan melepaskan genggaman tangannya dari Yena lalu berjalan masuk pada kamar Ibunya menyusul sang Ibu.

Yena masuk kedalam kamar Kyungsoo ia duduk di ujung tempat tidur itu, ia merasa tak berguna tadi..dia sama sekali tak bisa mengatakan apapun sesaat setelah melihat Ibu Kyungsoo didepannya, ia merasa sangat bersalah sampai tak bisa mengucapkan apapun melihat saja tak berani.  Berdebatan antara Ibu-anak itu masih terjadi, Yena bisa mendengarnya dari dalam sini.. Ini bukanlah yang diharapkannya, tentu saja ia tau bagaimana baiknya hubungan Kyungsoo dengan Ibunya dan mereka seperti ini karnannya..

Tangan Yena mengelus perutnya ia berkata pada bayi yang berada didalam sana “Semuanya akan baik-baik saja, jangan kau dengar huh.. ” Yena menghela nafas berat mendengar berdebatan itu yang memang menyakitkannya, ia rasa besok ia juga harus menjelaskannya dengan Ibu Kyungsoo mungkin jika berbicara sesama wanita bisa sedikit menyelesaikan masalah ini.

Setelah Ibunya tidur didalam kamar beliau, Kyungsoo masuk kedalam kamarnya mengecek apa Yena sudah tidur atau belum dan sesuai dugaannya Yena belum tidur, dia masih duduk di ujung tempat tidur dengan wajah lelahnya.

“Tidurlah, ini sudah malam”

Tentu saja Yena ingin segera tidur tapi ia sama sekali tak bisa menutup matanya, ia sudah mencobanya tadi dan hasilnya sama saja ia tak bisa tidur pikirannya masih terus berkerja membuatnya kembali duduk “Sebentar lagi.. Ahjumma, sudah tidur?”

“Hemm. Ibu ku tidur dikamarnya, kau.. mendengar perbedabatan kami kan? Maaf kalau Ibuku berkata buruk tentangmu.” Kyungsoo duduk di pinggir Yena kembali memandangi wajah Yena yang benar-benar perlu istirahat sekarang, ia tak mau dia memiliki banyak pikiran yang nantinya juga akan menganggu kehamilannya.

“Aku baik-baik saja, lalu.. apa ada yang ingin kau katakan?”

Kyungsoo mengangguk “Aku harus pergi pagi-pagi sekali besok, jadi mungkin lebih baik kau juga bangun pagi dan jika bisa kau pergi dari sini sebelum Ibuku bangun..Ah, maksudku..” ia tak mau Yena salah paham dan mengira ia mengusirnya, bukan seperti itu ia hanya tak mau Yena terkena amarah Ibunya besok saat ia tidak bisa disini karna harus kuliah dan kebetulan besok juga ia bersama seniornya harus pergi ke sebuah rumah sakit ada sesuatu yang mereka bahas disana menyangkut kuliahnya juga.

Yena mengerti maksud Kyungsoo ia menggeleng “Tak apa, besok aku juga akan berbicara dengan Ibumu.. Jadi jangan khawatir, aku baik-baik saja aku rasa berbicara sesama wanita bisa membuat Ibumu mengerti”

Kyungsoo tentu saja tak mau ia tau bagaimana marahnya sang Ibu sekarang dan ia tak mau Yena merasakan itu tapi saat Yena menggengam tanganya menyakinkannya kembali membuatnya tak bisa menolak, mungkin Yena benar berbicara sebagai sesama wanita pasti bisa menyelesaikan masalah juga, Kyungsoo mengelus rambut Yena dan senyumannya lalu tak lupa ia juga mengelus sebentar perut Yena mengucapkan selamat malam pada sang bayi yang tinggal empat bulan lagi akan lahir dan ya.. ia juga sudah menerima panggilan Dodoo untuk bayinya itu walaupun baginya masih terdengar menggelikan untuknya.

.

.

Yena keluar dari kamarnya dengan pelan, ia tak bisa menemukan Kyungsoo di ruang tengah dan hanya ada sebuah bantal dan selimut yang sudah terlipat rapih di ujung sofa. Niatnya pagi ini Yena akan membuat sarapan untuk calon mertuanya, tapi saat ia keluar kamar ia sudah menemukan sang Ibu mertuanya itu sudah selesai sarapan didapur.. Ah, apa ia terlambat bangun. Tidak juga, ini masih jam 6 lebih bahkan biasanya ia bangun lebih siang dari ini.

“Selamat pagi…” Sapannya seramah mungkin pada Ibu Kyungsoo yang berada didapur dan tengah mencuci piring. Tak ada jawaban sama sekali selain tatapan singkat dari beliau. Yena menghela nafasnnya, padahal ia sudah mencoba menyapa sebaik mungkin “Ahjumma, biar aku saja yang mencuci”

“Tidak usah”

“Tidak.. Biar aku saja” Yena menghampiri beliau berniat mengambil alih tapi Ibu Kyungsoo keburu menyudahinya dan kini menatapnya dengan pandangan yang.. Oh, Yena merasa jantungnya akan copot sekarang karna saking takutnya, ini lebih menakutkan daripada ia dimarahi para guru.

“Tak usah bersikap baik, aku tau bagaimana karaktermu..anak seperti mu…” Ibu Kyungsoo berhenti “Kau benar-benar memanfaatkan Kyungsoo kan?”

Yena tersentak, bagaimana bisa Ibu Kyungsoo berpikir seperti itu.. tentu saja tidak. “Tidak.. Ahjumma…”

“Kau benar-benar akan menghancurkannya. Tidak, dia sudah hancur karnamu”

Kali ini Yena diam, ia tak bisa membela diri dan menyatakan dia tidak menghancurkan Kyungsoo secara tak langsung ia juga sadar jika ia sudah menghancurkannya walaupun mungkin sekarang belum berdampak tapi ia tau bagaimana kerasnnya Kyungsoo berkuliah sambil berkerja hanya untuknya dan bayi yang masih dikandungnya.

“Sudahlah, aku sudah tau semua rencanamu.. Kau sudah tidak memiliki apa-apa dan sekarang kau menempel pada putraku. Jangan pikir aku tidak tau Yena!”

“Ahjumma..salah paham, aku tidak memanfaatkannya..”

“Lalu mengapa kau tinggal disini dan mengaku bayi yang kau kandung itu sebagai bayi putraku.. Kau menipunya!”

Yena sungguh ingin menangis sekarang, ia memegangi perutnya, ia berani bersumpah jika bayi ini memang anak Kyungsoo ia bisa menjaminnya, dia bukanlah wanita buruk. Ibu Kyungsoo menahan amarahnya sendiri, ia tak mau marah-marah lagi karna darahnya akan naik “Bicaralah yang sebenarnya, siapa Ayah anak yang kandung itu? ” Tanyanya merendahkan suaranya.

Tentu saja Yena menjawab bayi yang dikandungnya adalah bayi Kyungsoo juga, ia tak mempunyai niat untuk memanfaatkan ataupun menipunya, sama sekali tidak bahkan jika Kyungsoo tidak menerimanya pun ia sudah siap untuk pergi dari sini, tapi sekarang dia menerimanya bertanggung jawab pada bayi ini dan juga dirinya, mereka juga sudah menyiapkan sebuah pernikahan nantinya.

“Bisakah Ahjumma menerimaku” Ucap Yena lirih dengan mata memerahnya, ia masih berusaha keras tidak meteskan air matanya.

“Menurutmu?” Ibu Kyungsoo kemudian berlalu melewatinya yang sudah meneteskan air matanya, tentu saja Yena masih benci menangis tapi anehnya ia banyak menangis setelah ia hamil. Yena juga mengerti mengapa Ibu Kyungsoo bersikap seperti ini padannya, tentu saja mana ada Ibu yang menginginkan putranya menikahi wanita sepertinya.

Yena tidak tau kemana Ibu Kyungsoo pergi setelah ini, ia masih berdiri didapur tanpa berniat untuk sarapan, ia sama sekali tak lapar dan hanya memakan sebuah apel saja tadi, sekitar sejam setelahnya Yena dikejutkan dengan Ibu Kyungsoo yang datang tiba-tiba disaat ia merapihkan ruang tengah, bukan karna Ibu Kyungsoo tapi karna wanita yang datang bersama beliau. Minji. Park Minji.

Yena merasa seperti hantu, ia sama sekali tak dianggap oleh mereka kecuali tadi Minji menyapanya sebentar, tak mau berlama-lama disana, Yena segera masuk kedalam kamar Kyungsoo, ia merasa kecil sekarang. Ibu Kyungsoo dan Minji tampak seperti seorang Ibu-anak, itu membuat Yena iri..hubungan keduanya memang dekat bahkan Minji sudah menyebut Ibu Kyungsoo ‘Eomeonim’ dan ia hanya memanggil beliau ‘Ahjumma’

Tawa dan obrolan terdengar jelas dari dalam kamar, Yena semakin sesak saja disanvg a.. ia iri dan berharap bisa bergabung juga dengan mereka, Yena sudah lama kehilangan sosok Ibu, ia memang merindukan Ibunya yang kini entah kemana.. masih teringat jelas wajah sang Ibu di kepalanya, terkadang ia juga secara tak sadar menangis karena mengingat Ibunya atau saat ia sakit ia pasti menyebut Ibunya.

Yena keluar dari kamarnya, tadinya ia ingin pergi keluar untuk menemui Eunsoo yang sudah ia telpon tadi pagi, ia butuh teman sekarang. Tapi ternyata di ruang tengah ada Minji yang mengajaknya mengobrol sebentar sementara Ibu Kyungsoo tengah keluar membeli sesuatu yang tertinggal di minimarket depan. Yena dan Minji duduk berhadapan di meja makan, Minji memberinya jus jeruk kesukaannya “Aku rasa semua Ibu hamil menyukai jus jeruk,kan?”

Yena hanya mengangguk saja kemudian meminum sedikit jus dalam gelas itu, ia memang menyukainya tapi entah kenapa rasanya berbeda saja sekarang dengan Minji yang berada didepannya dan kenapa wanita ini ada disini…

“Eomeonim bilang jika kau tinggal disini karna kau tidak memiliki tempat tinggal dan karna kau sedang hamil juga jadi Kyungsoo membiarkanmu tinggal disini, dia pria yang baik.. membiarkan teman kecilnya tinggal disini”

Apa ini? Minji tidak tau yang sebenarnya? Dia tak tau jika ia sedang hamil anak Kyungsoo? Lalu, kenapa Ibu Kyungsoo bercerita seperti itu membuatnya semakin terlihat seperti wanita yang sedang memanfaatkan Kyungsoo. Yena kira Minji sudah tau semuanya maka dari itu ia diam saja sejak tadi karna malu dan jika ia menjelaskan yang sebenarnya..apakah Minji akan percaya?

“Sebenarnya.. Aku menyukai Kyungsoo”

Yena hampir saja menjatuhkan gelas yang masih dipegangnya, ia menaruhnya pelan mencoba bersikap tenang. Apa yang baru saja Minji katakan? Ia tak salah dengar kan?

“Kau menyukai Kyungsoo?”

Minji mengangguk didepan Yena, dia tersenyum dan mulai bercerita “Awalnya aku biasanya saja dan aku menggapnya saingan, kau tau sendirikan, aku dan dia berada di peringkat pertama dan kedua..Tapi, setelah itu kita sekelas dan banyak yang bilang jika kita cocok..tentu saja aku terganggu dengan itu namun..tiba-tiba saja aku menyukainya..” Minji berhenti sejenak menangkap ekspresi Yena yang dilihatnya, sesuai dugaannya ekspresi terkejut itu terlihat dibalik wajah tenangnya “Seperti yang mereka bilang wanita baik hanya untuk pria baik, Aku merasa jika kita juga cocok.. kau mengerti,kan?”

Tentu saja Yena mengerti, apa Minji pikir ia bodoh sampai tidak tau apa yang dia katakan. Wanita baik hanya untuk pria baik. Ya, ia juga pernah mendengar itu dari orang banyak.. reputasi Kyungsoo sebagai siswa baik tentu saja nomor satu disekolah dan Minji sebagai siswi terbaik, mereka memang cocok jika dibandingkan dengan itu. Kyungsoo memang pria baik dan ia adalah…Ah, kenapa ia jadi memikirkan perkataan Minji ‘Wanita baik hanya untuk pria baik’

Tak mau berlama-lama disana Yena segera berdiri dan pamit keluar..ia tak bisa terus berada didepan Minji atau bisa jadi ia akan melempar gelas didepannya pada Minji, ia dulu memang pernah berkelahi dengan siswi lain tapi mereka adalah siswi yang sama dengannya bukan seseorang yang seperti Minji, bagaimanapun ia masih tau levelnya dan mengetahui siapa yang harus dilawan.

.

.

Sekarang Yena berada di cafee bersama Eunsoo, dia mencurahkan semua permasalahannya tentang kedatangan Ibu Kyungsoo dan juga Minji tadi, bagaimana Minji menceritakan tentang dia menyukai Kyungsoo. Seharusnya tadi ia bicara saja jika ia dan Kyungsoo akan menikah dan anak yang dikandungnya anak Kyungsoo juga, tapi ia tak akan percaya kan?

Eunsoo mencoba menenangkan Yena yang sudah menangis, temannya ini tak pernah menangis sebelumnya tapi semenjak kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini dia sering menangis apalagi sekarang ia sedang hamil, wanita hamil memang sensitif dan Yena juga semakin banyak menangis atau mengeluh karna hal kecil tapi kali ini ia menangis bukan karna hal kecil.

“Jadi, mereka membuat makan siang bersama dan tak mengajakmu? Kau di biarkan begitu saja?”

Yena mengangguk sambil menghapus air matanya dengan tissu “Aku iri Eunsoo…Aku ingin bisa begitu dengan Ibu Kyungsoo”

“Aku tau, Ya..berhentilah menangis..bukankah kau pernah bilang menangis tak akan menyelesaikan masalah”

“Lalu aku harus bagaimana? Ahjumma terlihat sangat menyukai Minji, dia seperti ingin menikahkan Kyungsoo dengannya. Bagaimana ini?” Tanya Yena masih menangis, hanya pada Eunsoo lah ia bisa menceritakan perasaannya sekarang.

Memang sangat jarang melihat Yena bertanya tentang nasibnya seperti ini, dulu dia sangat jarang mengeluh dan lebih menyelesaikan masalah dengan berpikir bukan menangis tapi sekarang Yena berubah, efek kehamilan,mungkin. Pikir Eunsoo sambil memberi lembar tissu lainnya pada sahabatnya tersebut.

“Kau menyukai Kyungsoo kan? Dia juga menyukaimukan?”

“Ne, kita bahkan berniat menikah nanti”

“Jadi jangan khawatirkan apapun, biasanya orang tua akan luluh pada anaknya..Dulu saat kakak-ku membawa pacarmu, Ibuku juga tidak setuju tapi akhirnya Ibuku setuju juga dan akhirnya meerka menikah sekarang”

“Tapi..kita berbeda.. Ahjumma benar-benar membenciku!”

Yena menundukan kepalanya dan menangis lagi disana tak peduli ada beberapa orang yang melihatnya, Eunsoo juga sepertinya tak peduli karna mereka biasa melakukan hal memalukan sebelumnya. “Minji..Minji juga bilang jika wanita baik hanya untuk pria baik apa itu benar? Orang-orang juga bilang seperti itu”

“Apa maksudmu?”

“Kau tau, Kyungsoo pria baik dan aku…” Yena tak melanjutkannya dan malah semakin menangis cukup kencang, Eunsoo langsung berpindah duduk disebelah Yena menenangkannya “Ya..siapa yang peduli dengan itu, apa pria baik hanya untuk wanita baik? Tidak Yena, kau wanita baik Yena.. ”

Yena menaikan kepalanya melihat Eunsoo disebelahnya “Aku baik?”

Eunsoo tentu saja langsung menganguk, Yena anak yang baik..sebagai sahabat ia mengakui itu tak peduli jika yang lain mengatakan Yena anak nakal tapi sebenarnya Yena adalah anak yang baik, sangat baik.

.

.

Eunsoo pulang kerumah orang tuanya karna ini akhir pekan dan semua keluarganya berkumpul jadi ia terpaksa pulang meninggalkan Yena sendiri. Yena mengerti, Eunsoo masih punya keluarga dan ia tak boleh memaksanya untuk menemaninya, sekarang ia berjalan sendirian di pinggir pertokoan biasanya disaat akhir pekan seperti ini ia dan Kyungsoo akan berjalan-jalan, mungkin semacam berkencan tapi dia sekarang sibuk dengan kuliahnya bahkan di hari libur belum lagi dia berkerja juga. Bukannya Yena tak mau berkerja juga, ia mau berkerja tapi Kyungsoo melarangnya dan pernah dua kali ia berkerja diam-diam karna mereka juga butuh uang.

Yena berhenti didepan sebuah toko perlengkapan bayi yang beberapa bulan lalu ia datangi, ia melihat sebuah sepatu kecil yang terpajang di dalam kaca itu..tinggal 4 bulan lagi bayinya akan lahir, sebelumnya ia tak takut karna pasti Kyungsoo akan menemaninya saat ia melahirkan nanti tapi setelah kedatangan Ibunya kemarin.. ia takut, bagaimana jika akhirnya ia harus pergi seperti rencana awalnya? Oh, kenapa firasatnya bilang seperti itu..

Kedua mata Yena masih menatap estalase toko itu walaupun pikirannya sedang melayang kemana-mana, sampai ada seseorang yang melintas didepannya.. ia merasa berbeda saat orang itu melintas daripada orang-orang lain yang melintas didepannya. Yena langsung mengikuti arah wanita yang tadi melintas didepannya.

“Omma…”

Gumamnya pada wanita yang sudah berada dikejauhannya itu, Yena berjalan  cepat menyusul wanita yang sedang menggunakan ponselnya itu. Yena yakin dia adalah Ibunya, walaupun tidak melihatnya jelas tapi..ia yakin itu, mungkin semacam firasat ibu-anak.

Yena melihat wanita yang ia yakini sebagai Ibunya itu berada di pinggir jalan seperti sedang menunggu, ia semakin mempercepat jalannya ia tak bisa berlari karna keadaan jalan yang ramai dan ia juga sedang mengandung,  “Omma…” Teriaknya sedikit kencang pada wanita tersebut yang masih sedikit jauh darinya.

Wanita itu menoleh dengan tangan kanan yang masih memegang ponsel ditelinganya, dia melihat padannya, pada Yena dengan sedikit memicingkan matanya. Yena semakin berjalan mendekat pada wanita tersebut.

“Omma..” Panggilnya dengan nafas yang tak stabil, perasaannya pun bercampur aduk sekarang melihat Ibunya ada didepannya sekarang, wajah Ibunya semakin jelas ketika ia terus berjalan mendekatinya,tapi… terpaksa ia berhenti ketika sebuah mobil berwarna silver berhenti didepan Ibunya itu dan keluarlah seorang pria paruh baya yang langsung menghampiri Ibunya, memeluk sang Ibu.

Ini sakit.. ia tak bisa berjalan lagi melihat itu semua, Sang Ibu pun masih melihatnya seakan terkejut padannya dan saat pria itu menghampirinya dia mengalihkan pandangannya dari Yena, menarik pria tua itu untuk segera masuk kedalam seakan takut jika dia akan bertemu dengannya. Apa itu benar Ibunya? Kenapa Ibunya menghindarinya?

Yena sudah menangis disana, apa lagi ini… kenapa hidupnya tak bisa tenang, Ibunya.. Ibu yang slalu ia rindukan dan ia panggil namanya itu menghindarinya dan lebih memilih pria tua itu, Yena berjongkok disana karna merasa tak sanggup berdiri lagi, ia menangis sejadinya tak peduli beberapa orang dijalan itu melihatnya.

To Be Continue….

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You (Chapter 8: GOOD OR BAD)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s