[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

PRISONER in Seodaemun  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Baekhyun

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Baekhyun of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Dongdae-mun (2) [Tao]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Sudah lebih dari enam tahun Baekhyun bersembunyi. Hidup di balik identitas tidak nyata yang membuatnya hampir lupa tentang siapa dia sebenarnya. Bukannya Baekhyun munafik, dia hanya tidak ingin mengingat semua yang terjadi di kehidupannya dulu.

Usia Baekhyun sudah menua, dan kehidupan yang dijalaninya juga tidaklah bisa dikategorikan sebagai kehidupan yang menyenangkan. Sama sekali tidak. Tapi Baekhyun merasa bahwa dia masih layak untuk hidup. Untuk itulah, dia bertahan.

Dan di sinilah Baekhyun sekarang, berdiri dengan penampilan menyeramkan khas miliknya yang pasti akan menarik sepasang-dua pasang mata untuk memandang dan menaruh curiga. Tapi Baekhyun tidak peduli. Toh, dia tidak merugikan orang-orang itu, sebab yang dia tunggu sekarang adalah seorang gadis yang tengah berdiri di balik bilik.

Vokal si gadis bahkan bisa Baekhyun rekam jelas meski sekarang maniknya tengah terpejam. Terbiasa hidup untuk mencuri-dengar konversasi yang seharusnya tidak didengarnya membuat Baekhyun sama sekali tidak merasa kesulitan untuk mendengarkan apa yang tengah orang-orang bicarakan di dalam sana—maupun yang mereka bicarakan di dekatnya.

“Apa aku tidak cukup menjadi walinya?” vokal Jia-yi tertangkap pendengaran Baekhyun.

“Tidak, Nona. Setidaknya, harus ada keluarga yang menandatangani form persetujuan ini.” decakan lolos dari bibir Jia-yi begitu mendengar keputusan dokter yang tengah bicara dengannya.

Well, luka Hyerim agaknya cukup parah sampai-sampai Luhan harus dilibatkan. Tapi tunggu, memangnya Luhan punya kuasa sebagai ‘keluarga’ Hyerim? Jia-yi bahkan tidak tahu sejauh apa hubungan dua orang itu.

“Kalau begitu, aku akan memanggil keluarganya.” Jia-yi akhirnya memutuskan. Ketukan sepatunya terdengar mendekati pintu, membuat Baekhyun membuka sepasang kelopak matanya yang sejak tadi ia biarkan terpejam.

Saat itulah, manik mereka bertemu. Sepasang manik gelap Jia-yi seolah terperangkap dalam tatap Baekhyun, meski tidak ada kata terucap, keduanya seolah paham tentang apa yang akan terjadi berikutnya. Entah, Baekhyun yang tiba-tiba saja punya kemampuan untuk menyampaikan pikirannya, atau Jia-yi yang sudah jadi kelewat peka.

Baekhyun baru saja menegakkan tubuhnya ketika bibir Jia-yi membuka. “Sebentar.” silabel itu lolos dari bibir Jia-yi, sebelum si gadis dengan tenang membawa tungkainya melangkah meninggalkan Baekhyun.

Baekhyun sendiri tahu benar, Jia-yi tidak sedang berlari darinya. Dan rencana penculikan yang sudah disusunnya dengan rapi dalam otak, seketika musnah ketika melihat bagaimana kooperatifnya calon korban yang ia hadapi.

Akhirnya, tanpa menunggu waktu, Baekhyun melangkah mengikuti Jia-yi, maniknya pun berhasil menangkap eksistensi Luhan tidak jauh dari tempat Jia-yi sekarang berada. Pria itu duduk dengan menenggelamkan wajah di balik kedua telapak tangannya.

“Dimana dia?” tanpa sadar bibir Baekhyun menggumam, maniknya menatap berkeliling, cukup jeli dapat ditemukannya sosok yang ia cari, sudah melangkah keluar dari rumah sakit tanpa mencurigai eksistensi Baekhyun yang mungkin saja ada di sana.

Well, sejauh ini rencana mereka sudah berjalan dengan baik.

Sementara Baekhyun bersembunyi, ia lihat bagaimana Luhan melangkah masuk ke dalam ruangan tempat Hyerim berada, sementara Jia-yi sendiri menghentikan langkah di depan pintu, sengaja ia biarkan dirinya berdiri selama beberapa sekon di luar pintu sebelum gadis itu berbalik, mencari-cari Baekhyun dan melangkah menghampiri pria itu.

“Kita bertemu lagi, Baekhyun-ssi.” Jia-yi menyapa ketika ia berdiri di hadapan Baekhyun.

“Kau sudah terlihat baik-baik saja.” sahut Baekhyun, mengingatkan Jia-yi pada ingatan samarnya saat dirasanya nyawanya akan direnggut oleh malaikat maut beberapa hari lalu. Kemudian ingatan Jia-yi masih begitu jelas merekam bagaimana dia tiba-tiba saja terbangun—setengah sadar—di mobil Baekhyun dan akhirnya bertemu dengan Jin-yi.

“Aku belum mengucapkan terima kasih saat itu.” lagi-lagi Jia-yi buka suara.

Tidak lantas menyahut, Baekhyun justru bergerak menarik lengan gadis itu, membuat Jia-yi tanpa sadar menguntai langkah mengikis jarak di antara mereka.

“Kalau begitu, kau tahu juga kalau aku datang ke sini untuk meminta bayaran atas hutang yang kau miliki bukan?” tanya Baekhyun membuat Jia-yi menyernyit tidak mengerti.

“Aku menyelamatkan nyawamu juga,” Jia-yi berkata tidak terima.

“Yang kuberikan tidak termasuk kalung itu, Nona.” Baekhyun menunjuk ke arah leher Jia-yi dengan dagunya.

Melihat situasi yang tergambar di hadapannya sudah begitu jelas, Jia-yi akhirnya menghembuskan nafas pasrah. “Apa yang kau inginkan?” tanya Jia-yi kemudian.

“Menculikmu.”

“Dengan cara sebaik ini?” Jia-yi berucap.

Baekhyun menjawabnya dengan sebuah anggukan pelan. “Aku membawamu baik-baik selagi kau menurut. Kau tahu aku tidak segan berbuat di luar nalar kalau kau tidak mau.” separuh mengancam, separuh memuji diri sendiri, Baekhyun agaknya pandai bermain kata.

Sayang, Jia-yi memberikan gelengan cepat sebagai jawaban.

“Aku tidak bisa, Baekhyun-ssi.” tuturnya.

“Mengapa?”

“Adikku ada di tempat lain, dan aku tidak mungkin meninggalkannya—”

“—Adikmu sudah ada di tanganku.” Baekhyun memotong, vokal bernada rendahnya berhasil merenggut penuh atensi Jia-yi meskipun pemuda itu tidak bicara dengan nada lantang.

“K-Kau apa?” ulang Jia-yi, mempertanyakan fungsi pendengarannya yang mungkin saja terganggu lantaran terlalu sering mendengar suara bising mengerikan dari gempa yang terjadi.

“Gadis bernama Runa itu juga ada padaku.” meski Baekhyun tidak menyebut nama Jin-yi dari bibirnya, tapi Jia-yi sudah tahu jelas kalau pria itu punya sebuah kartu As di tangan.

“Kau tidak bisa membawa Runa, seseorang akan mencarinya dan—”

“—Sehun adalah rekanku, tenang saja.” kalimat Baekhyun lagi-lagi membuat Jia-yi terdiam. Yang ada, si gadis justru mengutuk diri sendiri, bagaimana bisa dia tidak berpikir kalau Sehun mengenal Baekhyun?

Misteri tentang bagaimana dia bisa selamat dan bagaiamana Sehun mau terlibat dalam permasalahan mereka saja sudah tampak aneh bagi Jia-yi. Mengapa dia tidak menyadarinya?

“Baiklah, jadi kau akan membawaku sekarang?” tanya Jia-yi, seolah memasrahkan keputusan pada Baekhyun yang akhirnya menyungging sebuah senyum kemenangan.

“Dengan senang hati aku akan membawamu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Baekhyun melajukan mobilnya membelah jalanan sepi kota Seoul dengan kecepatan cukup tinggi. Tidak banyak kendaraan yang melaju di dekat mereka, orang-orang mungkin sibuk merencanakan migrasi sementara Jia-yi justru melibatkan diri makin jauh di kota yang tidak dikenalnya ini.

Beberapa konversasi kecil seperti ‘Apa yang kau rencanakan?’ atau ‘Kemana kau akan membawaku?’ dan pertanyaan-pertanyaan menjurus ke jawaban dua pertanyaan utama itu telah Jia-yi utarakan. Tapi nihil, Baekhyun seolah tidak ingin memberitahukan tujuannya.

Pria itu justru menjawab pertanyaan-pertanyaan simpel saja dari Jia-yi. Seperti pertanyaan tentang adiknya yang masih baik-baik saja, Apa mereka bisa singgah sebentar untuk makan siang, dan sebagainya.

Tidak ada poin yang bisa Jia-yi ambil dan hubungkan dengan mosaik di dalam benaknya tentang kemungkinan yang menyebabkan dirinya terjebak bersama pria yang tempo hari telah ia selamatkan nyawanya itu.

Mengingat mereka sudah sama-sama terdiam sejak dua menit yang lalu, Jia-yi akhirnya kembali memutar otak, mencari bahan pembicaraan sebelum dia berdeham pelan, mengisyaratkan pada Baekhyun bahwa dia akan kembali angkat bicara.

“Apa kau belum menikah?” Baekhyun sedikit berjengit mendengar pertanyaan Jia-yi. Tidak disangkanya, gadis di sebelahnya ini akan punya keberanian untuk menanyakan hal semacam itu.

“Aku baru saja kehilangan istriku.”

“Bagaimana bisa?” pertanyaan Jia-yi tanpa sadar membuat Baekhyun teringat pada insiden yang terjadi tempo hari. Jia-yi memang tidak tahu, tapi Baekhyun masih ingat jelas bagaimana dia menyaksikan kematian istrinya sementara ia menyelamatkan nyawa wanita lain.

“Kecelakaan. Lagipula, kami tidak pernah benar-benar saling mencintai. Pernikahan konyol kami lakukan atas dasar politik saja. Dan juga, sudah sejak lama aku menginginkan kematiannya.”

“Mengapa?” Baekhyun melempar lirikan sekilas ke arah Jia-yi saat nada tanya gadis itu terdengar meninggi. Mungkin dia terkejut, melihat bagaimana Baekhyun bisa begitu santai menceritakan kematian istrinya juga keinginannya tentang kematian itu sendiri.

“Dia menghancurkan kehidupanku, Nona. Dia membunuh semua orang yang berarti untukku, sehingga aku benar-benar jadi sebatang kara dan menuruti keinginannya. Termasuk tentang datang ke tempat ini. Keputusan yang sekarang kusesali.”

Jia-yi terdiam sejenak mendengar penuturan Baekhyun. “Jadi, istrimu adalah seseorang sepertimu juga, begitu?”

“Ya. Hanya saja dia lebih beruntung karena bisa membaur dengan baik karena kepandaiannya berbicara, juga kemampuannya menciptakan rencana pembunuhan yang sempurna. Berbeda denganku yang lebih suka membunuh seseorang secara langsung, dia adalah wanita licik yang tidak mau mengotori tangannya saat melenyapkan orang lain.”

Diam-diam, Jia-yi bergidik ngeri juga. Hampir saja dia lupa kalau pria yang duduk di sebelahnya adalah seorang pembunuh yang tempo hari dilihatnya beradu otot dengan Kyungsoo dan berujung pada kekalahan. Bahkan, Jia-yi samar-samar masih ingat keadaan pria itu saat ia menyelamatkannya.

“Kau menceritakannya seolah membunuh orang lain bukanlah hal yang salah.” komentar Jia-yi kemudian.

“Kalian juga begitu.”

“Apa?” Jia-yi menatap tidak mengerti. Baekhyun sendiri masih terdiam, manik gelapnya menatap lurus ke jalanan kosong di depan sana, mengabaikan teriknya matahari yang entah sejak, mengubah siang hari jadi sebuah waktu mematikan bagi mereka yang tidak terbiasa pada panas.

“Keluarga dari orang-orang sepertimu lah, yang melahirkan kami.” seketika Jia-yi tercekat mendengarnya.

“A-Apa?”

Baekhyun, memelankan laju kendaraannya sementara ia mulai berkelakar. “Apa kau tidak mengerti? Mereka yang duduk di jabatan tinggi dan menginginkan kekuasaan, menginginkan kebanggaan untuk diturunkan pada anak-anak mereka, akan mengupayakan cara apapun untuk menyingkirkan orang-orang yang berpotensi menyaingi mereka.

“Dari sanalah orang-orang sepertiku dibutuhkan. Yang sebenarnya kami lakukan, hanya membunuh orang-orang yang ingin dibunuh oleh klien kami. Seperti wanita licik yang dulu disebut orang-orang sebagai istriku itu, mereka semua enggan mengotori tangannya dengan kematian orang lain.

“Dulu, kupikir membunuh orang adalah sesuatu yang salah. Tapi jika kupikir-pikir lagi, jika orang yang kubunuh adalah orang yang juga sama buruknya dengan klienku, untuk apa aku merasa bersalah? Akhirnya membunuh seseorang tanpa sadar sudah jadi sebuah hobi bagiku.” Baekhyun menghentikan penuturannya, menatap Jia-yi sebentar seolah memastikan jika gadis itu bisa menerima penjelasannya dengan cukup baik.

“Membunuh seseorang sekarang terasa begitu menyenangkan, Jia-yi. Sama seperti kesenangan yang seorang anak-anak dapatkan dari menaiki komidi putar, aku juga merasa seperti itu. Apa kau tidak tahu? Ayahmu adalah orang pertama yang menjadikanku pembunuh.”

Kalimat terakhir yang Baekhyun ucapkan agaknya telah berubah menjadi sebuah cambuk. Terbukti dengan bagaimana kakunya ekspresi Jia-yi sekarang. Jangankan berkedip, menarik nafas saja dia sudah lupa caranya.

“Ayahku?” ulang Jia-yi tidak percaya.

“Kita seusiaan saat itu, ketika aku datang pertama kalinya ke Beijing dan menerima perintah untuk membunuh Zhang Yixiao, kakek dari teman dekatmu.”

Terlalu banyak. Jia-yi agaknya sudah mendengar terlalu banyak informasi. Berapa tahun usianya sekarang sampai-sampai Baekhyun sudah menjadi pembunuh sejak mereka masih sama-sama belia? Dua puluh enam, Jia-yi ingatkan dirinya pada angka itu—usia yang terpaut satu tahun dari usia internasional karena ibunya besar di Korea.

“Kakek dari Yixing… dibunuh oleh ayahku?” tanya Jia-yi akhirnya.

“Ya. Mereka terlibat sengketa kekuasaan. Usiaku baru menginjak empat belas saat ayahmu memintaku untuk menarik pelatuk dan membunuh pria tua itu. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Aku bahkan masih mengingat seperti apa kau dulu, sama persis seperti adikmu, bukan?” manik mereka kemudian bertemu, untuk sepersekian detik sebelum Jia-yi akhirnya membuang wajah lantaran mendapati fakta bahwa ayahnya adalah dalang di balik kematian kakek Yixing.

“Bagaimana bisa kau mengingatnya?” tanya Jia-yi.

“Aku bisa mengingatnya dengan jelas, Nona. Kehidupan tidak banyak berubah, manusia lah yang banyak berubah.” ucapan Baekhyun lagi-lagi membuat Jia-yi terdiam.

Gadis itu masih berusaha menata pikirannya, meletakkan semua penjelasan Baekhyun untuk berjajar rapi dalam ingatan baru yang diperolehnya. Samar tapi jelas diingatnya, Jia-yi memang ingat dirinya pernah melihat kedatangan seorang anak seusiaan dengannya saat Jia-yi datang untuk pertama kalinya ke pesta besar.

Ada alasan mengapa Jia-yi memilih untuk menjadi juru rawat dibandingkan dengan hal lain. Dan kematian kakek Yixing adalah penyebabnya. Jia-yi ingat, mereka tengah menikmati alunan musik klasik di sore hari saat tiba-tiba saja suara berdesing masuk ke dalam pendengaran Jia-yi dan kemudian tubuh Jenderal Zhang jatuh menimpanya, membuat Jia-yi menjerit-jerit ketakutan lantaran tubuhnya bermandikan darah yang mengucur dari dua buah lubang di kepala sang Jenderal.

Bagaimana bisa Jia-yi lupa kenangan mengerikan itu sementara itu adalah alasannya memilih menjadi seorang perawat? Supaya dia dapat membantu menyelamatkan nyawa orang lain dan tidak harus menghadapi kematian mengerikan lagi?

Tapi, sekarang Jia-yi dihadapkan pada fakta lain yang jauh lebih mengerikan.

Pembunuh yang telah membuatnya terus bermimpi buruk mengenai kematian Jenderal Zhang adalah pria yang sekarang duduk di sebelahnya. Catatan, Jia-yi bisa duduk tenang seolah nyawanya tidak terancam oleh eksistensi si pria.

“Aneh, kupikir ada yang salah denganku.” Jia-yi akhirnya berkata.

“Apa maksudmu?”

“Aku seharusnya merasa takut saat kau menceritakan semua tentang dirimu, termasuk tentang kau yang bekerja untuk ayahku selama beberapa waktu. Tapi kenapa aku justru tidak merasa takut?” pertanyaan Jia-yi berhasil mengundang sebuah tawa pelan dari bibir Baekhyun.

Bukannya aneh, tapi di mata Baekhyun, Jia-yi tampak seperti seorang korban yang sudah pasrah akan apapun yang mungkin terjadi pada dirinya. Lagipula, mereka tidak sedang dalam keadaan aman.

“Kau percaya aku tidak akan menyakitimu.” akhirnya vokal Baekhyun terdengar.

Benarkah? Jia-yi bertanya pada diri sendiri. Dia sendiri tidak yakin kalau nyawanya tidak akan terancam karena Baekhyun. Tapi dia juga percaya kalau Baekhyun tidak mungkin melakukan hal-hal buruk terhadap dirinya.

Dia justru merasa lebih curiga dan khawatir pada Sehun.

“Mungkin, mungkin saja begitu. Bicara denganmu mengingatkanku pada Sehun, omong-omong. Apa dia juga bekerja pada ayahku?” tampaknya, konversasi mereka tidak menemukan titik akhir kali ini. Terbukti dengan bagaimana banyaknya pertanyaan yang sekarang ingin Jia-yi utarakan untuk menjawab ras aingin tahu di dalam diri.

“Dengan ayahmu? Tidak. Dia ditugaskan bersamaku empat tahun lalu, untuk menyelesaikan sebuah misi. Dua tahun kemudian, aku dan Sehun ditendang keluar dari negara kami, dan di sinilah kami mengasingkan diri.

“Sehun mungkin tidak kesulitan untuk berbaur, dia punya kemampuan dan punya kenalan yang bisa memberinya identitas baru. Tapi aku lebih senang hidup seperti ini, tanpa identitas. Sehingga orang-orang juga tidak akan mencariku saat aku tidak ada.”

Belum ada kalimat yang berhasil lolos dari bibir Jia-yi ketika mobil Baekhyun berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan elite yang tampak tidak berpenghuni. Entah, penghuninya sudah memutuskan untuk pergi ke luar negeri, atau justru mengurung diri? Jia-yi tak bisa berspekulasi.

“Apa kita akan menemui seseorang yang kau kenal?” tanya Jia-yi.

“Mengapa kau berpikir begitu?”

“Karena kau tidak mungkin membawaku bertemu dengan adikku. Dan satu-satunya kemungkinan paling masuk akal adalah kau akan bertemu dengan seseorang yang kau kenal, entah apa tujuannya.” Baekhyun terkekeh pelan mendengar penuturan Jia-yi.

Pria itu kemudian memelankan laju kendaraannya, sebelum ia hentikan mobil gelap tersebut di sebuah jalanan sepi.

“Turunlah.” ucap Baekhyun yang segera dituruti Jia-yi. Gadis itu melepaskan seatbelt yang ia kenakan, dan turun dari mobil. Diikuti oleh Baekhyun yang juga melakukan hal sama.

Baekhyun kemudian menguntai langkah mendatangi Jia-yi yang masih berdiri di dekat pintu, menatap sekitarnya seolah meneliti. Bukan sekali-dua kali gadis itu melihat kediaman mewah milik orang lain. Tapi baru kali ini dia merasa di dalam rumah-rumah mewah itu sudah tidak ada tanda kehidupan.

Hey, Jia-yi.”

“Ada apa?” tanya Jia-yi, menatap Baekhyun yang berdiri di sebelahnya. Pria itu tadinya tengah memainkan ponsel mungil yang ada di tangan sebelum dia memanggil Jia-yi sembari memasukkan benda mungil tersebut ke dalam saku celana.

“Apa kau pandai bermain peran?” tanya Baekhyun.

“Bermain peran? Apa maks—”

Kalimat Jia-yi terhenti saat dengan tiba-tiba saja Baekhyun menyudutkannya ke mobil—memaksa Jia-yi bersandar di mobil—sementara lengan kanan pria itu sekarang berada di rahangnya, memaksa tubuh Jia-yi untuk bergerak sesuai kemauannnya.

Tidak. Mereka tidak berciuman. Meskipun posisi mereka sekarang bisa dinilai orang lain sebagai tindakan berciuman, tapi yang dilakukan Baekhyun hanyalah mendekatkan wajah mereka saja. Dan Jia-yi paham benar apa tujuan Baekhyun.

Tindakan ini pasti bagian dari rencananya—yang sampai detik ini belum Jia-yi ketahui. Tanpa sadar, Jia-yi biarkan dirinya tenggelam dalam sepasang manik kelam milik Baekhyun yang menyimpan jawaban atas seribu tanya yang disimpannya. Selagi mereka tengah sibuk bertukar strategi dalam diam, rupanya Baekhyun diam-diam sudah mendengar suara langkah yang mendekati mereka.

Sebuah dehaman pelan menyadarkan keduanya, terutama Jia-yi. Paham kalau wanita di hadapannya sekarang tergeragap canggung, Baekhyun menjauhkan lengannya dari Jia-yi, memberi ruang pada gadis itu untuk menyadari keadaan, sebelum akhirnya Jia-yi memalingkan pandang sementara tangannya bergerak menutupi bibirnya yang beberapa sekon lalu hampir saja bersentuhan dengan bibir seorang pria asing.

“Jia—Apa yang kau lakukan di sini? Dan mengapa kau bersama dengannya, pembunuh?”

Vokal bass itu menyadarkan Jia-yi, bahwa dia telah dibawa oleh Baekhyun kembali ke awal perjalanannya, menemui seseorang yang telah dikenalnya dengan cukup baik. Terlambatnya, saat Jia-yi melempar pandang ke arah si pria, tubuhnya sudah lebih dulu didominasi oleh paksaan Baekhyun.

Pria itu telah melingkarkan lengannya di pinggang ramping Jia-yi, memamerkan sebuah senyum pada pria jangkung yang berdiri menatap mereka dengan sepasang mata memicing tak percaya. Jia-yi? Terlibat dengan pembunuh mengerikan ini? Si pria jangkung itu benar-benar tidak habis pikir.

“Wah. Lama tidak berjumpa, Park Chanyeol. Aku datang mengunjungimu untuk mengajak bekerja sama. Dan juga, kuperkenalkan kau pada wanitaku, namanya Jia-yi.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Seodaemun (2)

IRISH`s Fingernotes:

ADA PERTANYAAN YANG BELUM TERJAWAB DI SINI, TAPI ADA JUGA ROMENS LINE YANG AKHIRNYA TERWUJUD. CIE JIA-YI KETEMU LAGI SAMA CAHYO. SAYANG, JIA-YI LAGI JADI BAGIAN DARI RENCANA CABE YANG ENTAH KAPAN BAKAL TERUNGKAP /OHOK/.

Nanti Tao sama Kai sama Chan insya Allah bakal eksis kembali di cerita esok hari, WKWK. Aduh, kapan kah kisah mereka  bisa bener-bener lurus? :”)

Eniwei, adakah di sini yang mau menebak apa yang akan terjadi sama HunHan dan Runa juga Hyerim? :v WKWKWK.

YAAMPUN DIRIKU UDAH ENGGAK KUAT PENGEN MENGAKHIRI CERITA INI, HUHU. KEPENGEN GITU KHATAM SATU LAGI SERIES BIRTHDAY. KAN MAYAN, TAON KEMARIN THRILLER, TAON INI POLITIK, TAON DEPAN APA YA… DIRIKU HARUS NYARI TEMA ANTI MAINSTREAM LAGI, RELIGI MUNGKIN /GAGITURISH.

Diriku juga yakin, mulai dari sini nanti akan ada benang merah antara kehidupan Jia-yi sama Jin-yi dan misteri tentang Tao yang ternyata adalah Arshavin /MENGAPA DARI AWAL ENGGAK ADA YANG SUUDZON KALO ARSHAVIN ITU SALAH SATU MEMBER EKSO? KENAPA?/ dan gimana sinkholes di Seoul bakal berakhir.

Ah, aku rindu mencabik-cabik mereka di dalem gempa bumi btw, WKWK. Mungkin besok, kalau waktunya memungkinkan buat rombak ulang bagian ke-duanya.

Sekian dariku, see you tomorrow. Salam kecup, Irish!

Iklan

20 pemikiran pada “[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN — IRISH’s Tale

  1. Jia-yi memang tidak tahu, tapi Baekhyun masih ingat jelas bagaimana dia menyaksikan kematian istrinya sementara ia menyelamatkan nyawa wanita lain.
    GAK USAH INGAT INGAT AKU LAGI KAMU BEK!! AKU KECIWAAAHHH!!

    “Kecelakaan. Lagipula, kami tidak pernah benar-benar saling mencintai. Pernikahan konyol kami lakukan atas dasar politik saja. Dan juga, sudah sejak lama aku menginginkan kematiannya.”
    CUKUP BEK CUKUUPPP!! TAK TAHUKAH KAU SESUNGGUHNYA AKU MENYIMPAN SEDIKIT CINTA PADAMU? MESKI YA AKU JUGA SELINGKUH SAMA MINSEOK SIH /PLAK

    “Dari sanalah orang-orang sepertiku dibutuhkan. Yang sebenarnya kami lakukan, hanya membunuh orang-orang yang ingin dibunuh oleh klien kami. Seperti wanita licik yang dulu disebut orang-orang sebagai istriku itu, mereka semua enggan mengotori tangannya dengan kematian orang lain.
    SEKOTOR ITUKAH DIRIKU BEKYUN?? SEKEJI ITUKAH SAMPAI KAU MENYEBUTKU WANITA LICIK? KAMU KEJAM. TIDAK INGATKAH KAU AKAN JANJI PERNIKAHAN KITA? *EMANG NIKAHNYA PAKE PEMBERKATAN GITU /PLAK WKWKWK

    DI SINI GA ADA NAMANYA TAPI REEN MAH DIMENSYEN TERUS UYEY. AKU BELOM BACA YG SEBELOM REEN JADI MALAH GA PAHAM SIAPA SI CUNYUL. BHAKS. NTI BACA AH. BHAKS.

  2. BIKOS ANE BERPIKIR SI ARSHAVIN ITU BAPAK-BAPAK KAK RISH, BAPAK-BAPAK YANG JAUH DARI EKSPETASI ANAK EKSO. DAN SUWER RASANYA MAU NGEKEK TERNYATA SI ARSHAVIN ITU SI TAO WKWKWKWK.

    Aku rasa ini makin belibet ya tuhan, aku bingung :” ternyata dari dulu tuh ya mereka saling berhubungan. Dari Baekhyun yang udah disewa bapaknya Jiayi hmmm… AND SYIT AKU RASANYA NGERI SEKALI PAS SI REEN SECARA GAK LANGSUNG DI MENSYEN, KARAKTERNYA GITU AMAT OHOK /PLAK/ ternyata memang benar politik ituh kezam, kezam, kezam sangat kezam /plak .2/

    Dan bersyit ria lagi pas BaekJia malah bersandiwara sebagai pasangan bhaks, gak ketebak di situ ketemu Chanyeol lagi. Pakabar pas dia tau si D.O udah koid? Apa kabar juga si Alessa? /ini apa/ga

    “Eniwei, adakah di sini yang mau menebak apa yang akan terjadi sama HunHan dan Runa juga Hyerim? :v WKWKWK.” <– kok aku mencium kenegatifan ya kak rish. Kita yg notabene partner dabel date ini mo diapain ya kak rish. Aku malah mikir si hyerim bakal mati AHAHA, abis peran dia di sini aja udah kek sekarat gitu /ditabok hyerim/nistain aja terus OC sendiri wkwkwk/ kutunggu loh kak rish, aku mencium itu hunhanrunhyer /? Akan mati WKWKWKWK

  3. Kak irish, omaigat setelah berbulan bulan aku gak baca ff ff mu dan ketika aku mulai baca ini cerita nyampe penasaran aku beresein nyampe part ini seriusan bikin merinding. Duh duh duh udah gak sabar pengen cepet cepet baca kelanjutannya. Betewe aku kaget sumpah pas tau kalo si arshavin itu ternyata si tao. Dan yg lebih kaget nya kenapa itu si tao muncul tiba tiba tanpa aba aba dan bikin penasaran. Kasian juga jia-yi jadi terombang ambing kesana kemari akibat rencana arshavin yang gak ketebak ini. Semangat terus kak aku bakalan tungguin terus kelanjutannya. Maaf juga dari banyak part di seris ini aku cuman komen dipart ini doang, soalnya aku baca series ini sehari doang 😂😂lopeyuh pokoknya 😘😘😘

    • XD BUAKAKAKAKKAKAKAKAK SAMPE DI SINI BACANYA JADI BINGUNG YA XD XD XD ini dirimu baca ngebut atau begimandos??? wkwkwkwkwkwk XD dan yes, keknya keberadaan Tao selama ini jadi twist ya XD coba aja dari awal udah kenalan sama Tao, enggak akan begindang jadinya XD wkwkwkwkwkwkwkwkwk thanks ya btw []

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s