[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN [2] — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

ARSHAVIN in Dongdaemun  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with Tao and Baekhyun

Special appearance EXO`s Sehun & Luhan

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Tao ex EXO and Baekhyun of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Dongdae-mun [Luhan]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Kau berasal dari Beijing?”

Sebuah tanya diutarakan oleh pemuda bersurai gelap yang tengah duduk berjajar dengan gadis bersurai panjang tergerai di pinggir sebuah tenda.

“Ya, bagaimana kau bisa tahu?” pertanyaan itu diutarakan oleh si gadis yang diajaknya bicara.

Sang pemuda lantas mengedikkan bahu. “Hanya menebak, kau satu-satunya yang terlihat kesulitan membaur dengan orang-orang lain.” sahut si pemuda.

“Ah… Bagaimana denganmu sendiri?” si gadis bertanya lagi.

“Aku tak punya identitas, anggap saja begitu. Aku tinggal di sini, lalu singgah di Beijing. Sesekali aku singgah juga di Tokyo, lalu kembali ke Seoul. Aku tak punya tempat asal yang dapat kuingat dengan baik.” pemuda itu menuturkan.

“Lalu, apa kau juga tidak punya keluarga?” pertanyaan berikutnya dari si gadis berhasil membuat pemuda itu terdiam sepersekian sekon, sebelum dia akhirnya menggeleng pelan. “Tidak, aku tidak punya keluarga.”

Menyimpan empati untuk si pemuda, gadis itu kemudian menghembuskan nafas panjang.

“Aku juga tidak punya keluarga di sini. Kakakku ada di Beijing, dia mungkin tidak tahu aku sedang berjuang bertahan hidup sendirian. Yang kakakku pikirkan mungkin hanyalah kerja dan kerja saja.” si gadis lantas berkelakar.

“Benarkah?” atensi si pemuda lagi-lagi terenggut.

“Ya, sungguh. Itu juga alasanku menginginkan kehidupan di sini. Beijing tidak cukup ramah.”

Mendengar komentar si gadis, pemuda itu lantas terkekeh pelan. “Benar, Beijing memang tidak cukup ramah bagi orang-orang kesepian seperti kita, Jin-yi.” manik si gadis—Wang Jin-yi—melebar ketika mendengar namanya disebut.

“Kau tahu namaku?” tanyanya melahirkan sebuah tawa renyah dari bibir tipis si pemuda.

“Tentu saja aku tahu. Sejak awal kita bicara tadi, kau sudah memperkenalkan diri.” kelakarnya santai, diiringi sebuah tindakan mengacak surai Jin-yi—yang membuat si gadis lantas mengelak dan memasang ekspresi kesal.

“Berhenti mengacak-acak rambutku,” sergah Jin-yi.

“Baiklah, maaf. Hari sudah sore, omong-omong. Kau tidak ingin masuk ke dalam tenda?” tanya si pemuda membuat Jin-yi menggeleng lemas.

“Aku tidak ingin masuk.”

“Mengapa?”

“Karena aku berharap kalau kakakku mungkin ada di sini, dan sewaktu-waktu bisa saja dia melewati tempat ini. Jika aku tidak menunggunya, aku mungkin akan membiarkan kakakku melewati tempat ini dan tidak menemukanku.” ucapan tidak masuk akal yang sekarang Jin-yi utarakan berhasil membuat si pemuda menatap iba.

“Masuklah, dan makan, Jin-yi. Kupastikan kakakmu pasti akan datang ke sini.”

“Bagaimana kau bisa memastikannya?” tanya Jin-yi.

Si pemuda lagi-lagi mengedikkan bahunya. “Insting? Kupikir, kau hanya perlu menunggunya di sini dan jangan pergi kemana pun. Kalau kau pergi, kakakmu mungkin akan benar-benar melewati tempat ini dan tidak menemukanmu.”

Sebuah senyum sumrigah akhirnya muncul di wajah Jin-yi.

“Semoga saja begitu.” dia berkata, sekon kemudian bahunya berjengit lantaran mengingat sesuatu. “Ah, aku belum tahu namamu, omong-omong.” sambung Jin-yi.

“Namaku Huang Zi Tao. Kau bisa memanggilku Tao.” si pemuda menyebutkan namanya.

“Ah, baiklah. Kalau begitu, ayo masuk. Kita makan malam bersama-sama.” ajak Jin-yi disahuti sebuah gelengan pelan oleh Tao.

“Tidak perlu, Jin-yi. Aku hanya singgah sebentar saja di sini, perjalananku masih sangat panjang.” ucap Tao. Mengingatkan Jin-yi kalau satu jam yang lalu mereka hanya secara tidak sengaja bertemu dan terlibat konversasi cukup serius sampai-sampai Jin-yi bisa menceritakan bagaimana menderitanya ia karena membayangkan saudaranya tidak akan ada di sini.

Pemuda bernama Tao itu hanya satu dari segelintir orang yang berusaha melanjutkan perjalanannya di tengah bencana yang sejak beberapa hari lalu berusaha menghancurkan kota Seoul. Dan Jin-yi juga tidak bisa memaksa pemuda itu karena keinginan kuatnya untuk pergi dari Seoul adalah hak mutlak dari si pemuda sendiri.

Akhirnya, Jin-yi hanya bisa mengukir sebuah senyum kecil saja sebagai ucapan perpisahan.

“Kalau begitu, sampai bertemu lagi.” ucap Jin-yi.

“Ya, sampai bertemu lagi.” Tao berucap, dilambaikannya tangan kanan pada Jin-yi sebelum si gadis membalas lambaian tangannya beberapa kali dan melangkah masuk ke dalam tenda penampungan yang berdiri tidak jauh dari tempat Tao sekarang duduk sendirian.

Tidak, Tao tidak sendirian, tentunya. Ada manik yang mengawasinya tidak jauh dari tempat itu, sedari tadi mengawasi gerak-geriknya tanpa terlewat sedikit pun. Dan sepeninggal Jin-yi tadi, pengawasan sosok tersebut berubah menjadi sebuah upaya untuk mendekati Tao.

“Aku tidak pernah melihatmu bicara sesantai itu pada orang lain.” satu kalimat tercetus dari bibir sosok tersebut, membuat Tao melempar pandang seraya menyahuti, “Dia bukan orang yang bisa kuserang dengan kata-kata atau tindakan kasar.”

Tawa jengah lolos dari bibir sosok di dekat Tao itu, sosok itu kemudian membawa dirinya untuk bersandar di batang pohon tidak jauh dari tempat lawan bicaranya duduk. Setelah gelap yang ia kenakan sudah tampak kotor, bahkan ada bekas luka yang sudah mengering di beberapa bagian tubuhnya.

“Apa lagi yang kau inginkan dariku sekarang?” tanya si pemuda.

“Santai sedikit, Baekhyun. Sudah pasti aku tidak sekedar memanggilmu ke sini untuk bercengkrama denganku, bukankah begitu?” tanya Tao membuat pemuda bernama Baekhyun itu mendengus pelan.

“Kalau kuingat-ingat kau sudah cukup banyak berhutang budi padaku.” sahutnya membuat Tao tergelak, “Benar. Kau tahu sendiri hutang budi akan dibayar sampai mati. Anggap saja, kali ini kubayar sebuah nyawa dengan nyawa.” sahut Tao santai.

Mendengar ucapan Tao, alis Baekhyun terangkat sedikit. Pertanda bahwa pemuda itu kini menaruh perhatian pada tawaran yang akan Tao berikan.

“Nyawa siapa yang kau inginkan?” tanya Baekhyun, seolah tukar-menukar dengan nyawa sebagai objek pertukaran yang sekarang tengah menjadi bisnis mereka adalah hal yang lumrah untuk dibicarakan.

“Wang Jia-yi. Bawa gadis itu ke sini untukku.”

Sejenak, Baekhyun terdengar mendengarnya. “Mengapa? Karena gadis kecil di sana itu terlihat sama kesepiannya denganmu?” pertanyaan Baekhyun membuat Tao terdiam. Lantas, sikap diam pemuda itu membuat Baekhyun mendapat celah untuk kembali bicara.

“Kau sudah mengawasi keluarganya lebih dari empat tahun, Tao. Sampai-sampai surel darimu yang kau berikan padanya melalui ID milikku saja sudah susah payah kumanipulasi ke alamat IP yang kau inginkan. Apa lagi yang kau inginkan dari keluarga mereka sekarang?”

Tao, menyunggingkan senyum kecil. “Aku tidak berniat menyakiti salah satu dari mereka, Baekhyun. Aku hanya ingin pastikan jika ayah mereka di sana menderita dan memohon pengampunan dariku, atas apa yang telah diperbuatnya di masa lampau.”

Mendengar penuturan Tao, Baekhyun akhirnya menyerah.

“Aku hanya perlu membawanya ke tempat ini, bukan? Terserah dia dalam keadaan hidup atau ma—”

“—Dia harus tetap hidup.”

“Apa?” Baekhyun menyernyit.

“Kau harus membawanya hidup-hidup.” well, Baekhyun kali ini agaknya merasa permintaan Tao sedikit aneh. Seingatnya, Tao tidak pernah menganggap penting kehidupan seseorang. Bahkan, tidak sekali dua kali kehidupan Baekhyun sendiri dianggap Tao sebuah domino yang lantas dijadikannya bahan untuk bertaruh.

Tao tidak punya rasa kasihan. Lalu mengapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini? Hanya karena sebuah dendam semata? Cih, sekarang Baekhyun rasa cerita-cerita dari kawannya mengenai dendam yang dibawa kawannya tersebut—hal yang lantas menjadi alasan bagi mereka untuk berubah menjadi pembunuh—adalah benar adanya.

“Imbalan apa yang akan kudapatkan jika kubawa gadis yang kauinginkan?”

Tao mendongak saat mendengar vokal Baekhyun. Sekon kemudian, dengan sebuah keyakinan di wajahnya pemuda itu berkata, “Kematian wanita yang telah menghancurkan hidupmu, Baekhyun. Bagaimana?”

Mendengar tawaran menggiurkan dari lawan bicaranya, Baekhyun akhirnya menyelipkan sebuah seringai di wajah. Baru kali ini, ia merasa diuntungkan oleh tawaran yang Tao berikan. Daripada dia terus menerus menerima harta ke dalam rekeningnya, Baekhyun pikir tawaran nyawa kali ini jauh lebih menarik dari jutaan won yang mungkin akan dia dapatkan.

Deal.”

“Wah, wah. Sepertinya aku sudah ketinggalan diskusi penting.” dua orang di sana—Tao dan Baekhyun—menoleh saat mendengar vokal lain ikut berkomentar.

Bukannya mereka sedari tadi tidak tau malu dan lantas bicara lantang tanpa peduli keadaan sekitar, tapi keduanya sudah sama-sama kelewat jenius untuk sekedar mengenali suara langkah mengendap-endap milik seseorang.

Tapi kali ini, agaknya seseorang yang ikut menyeletuk barusan adalah orang yang kejeniusannya sepadan dengan dua orang itu.

“Apa yang kalian berdua sedang rencanakan?” tanya sosok yang baru saja muncul tersebut.

Baekhyun, melirik Tao memberi sebuah isyarat pada pemuda itu untuk menjelaskan. Sementara Tao sendiri memutar bola mata, tahu benar kalau dia tidak perlu menjelaskan panjang-lebar untuk membuat lawan bicara baru mereka mengerti.

“Kau pasti paham benar maksudku. Omong-omong, Baekhyun mungkin akan membawa seseorang ke sini dalam waktu dekat, Sehun.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sehun bukannya tidak kenal Rumah Sakit Hamyung, tentu tidak. Dia kenal baik tempat ini sebaik dia mengenali anatomi tubuhnya sendiri. Tapi, Sehun memang berpura-pura bodoh dengan memasang tampang tidak tahu begitu Luhan mencetuskan keinginannya untuk membawa Hyerim ke tempat ini.

“Ada kursi roda di sana, kau tidak harus bersikap dramatis dengan menggendongnya kemanapun.” vokal Sehun akhirnya terdengar, saat pemuda itu secara tidak sengaja melihat siluet pria berpakaian gelap yang berdiri tidak jauh dari gerbang masuk menuju rumah sakit.

Cara yang tolol untuk muncul secara kentara, sempat Sehun membatin. Tapi toh dia juga melanjutkan aktivitasnya, menghentikan mobil di sisi rumah sakit, membiarkan Luhan turun dan mendorong sebuah kursi roda mendekati mobil mereka.

Kemudian, Hyerim yang ada di kursi penumpang pun digendong turun oleh Luhan.

“Aku harus cari kendaraan lain untuk kembali nanti, kalian pergilah duluan.” well, mereka sudah bicara tentang hal ini tadi. Sudah berdebat, lebih tepatnya. Sehun sudah berkeras kalau mobil yang mereka gunakan terlalu mewah, tapi Luhan mengatakan kalau mereka tidak punya mobil lain yang bisa digunakan.

Jadi, di kediaman Luhan tadi mereka sudah sepakat untuk mencuri satu mobil—jika memungkinkan—untuk dibawa keluar-masuk dengan wajar. Lagipula, sistem keamanan di rumah sakit tidak lagi seperti biasanya.

Sehun hanya merasa khawatir, jika saja mereka—khususnya, mobil yang mereka gunakan—terlalu mencolok mata dan diingat oleh orang-orang yang melihat.

“Aku akan bawa Hyerim ke  dalam.” lengan Sehun sudah terulur keluar jendela mobil, hendak menahan Jia-yi saat dilihatnya Luhan melempar pandang curiga. Akhirnya, Sehun biarkan juga gadis Wang itu pergi, sementara dia menyandarkan tubuh dan memejamkan mata.

TREK!

“Kenapa kau tidak membawanya?”

“Kapan kau masuk, Baekhyun?” Sehun berucap, sementara kelopak matanya masih tertutup rapat, “Aku tanya, dimana dia, Oh Sehun?” pertanyaan itu kembali terdengar, sementara moncong senjata api sekarang sudah menempel di pelipis kanannya.

“Dia ada di persembunyian Luhan, aku sudah kirimkan koordinatnya padamu, bukan?”

“Tidak seperti ini rencana kita.” Baekhyun menggeram kesal.

“Terlukanya gadis itu juga tidak ada di dalam rencana kita. Membawa Jin-yi ke tempat ini berbahaya untuk kita, Baekhyun. Tempat ini—”

“—Aku tahu.” Baekhyun memotong, “Aku tahu kau benci tempat ini. Aku juga begitu. Kita sama-sama tahu siapa yang ada di dalam sana. Tapi kau biarkan Jia-yi masuk ke sana seolah tidak akan ada yang mengenalinya.”

Hembusan nafas panjang akhirnya lolos dari bibir Sehun. “Apa kau tidak mengenal seorang pun di dalam sana?” tanya Sehun.

“Harusnya kau yang mengenal semua orang di sana.” sahut Baekhyun, ia alihkan senjata api yang tadi ia todongkan pada Sehun sebagai ancaman.

“Tapi kembali ke tempat ini tidak ada di rencana kita.” Sehun berucap, sekon kemudian dia berbalik, menatap Baekhyun yang tengah menyandarkan tubuh dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.

“Mengapa kau setuju untuk melakukannya?” tanya Baekhyun membuat Sehun tergelak. “Aku tidak tahu. Kau yang terlalu pandai bicara dan menjerumuskanku, mungkin.” sahutnya ringan.

“Aku tidak pernah menjerumuskanmu. Kau sendiri yang memilih.” balas Baekhyun.

“Anggap saja begitu. Lalu kita harus bagaimana sekarang? Satu-satunya peta yang kita miliki sudah kau berikan pada Jia-yi. Dan entah apa yang sudah kau lakukan padanya, tapi tidak satu sekon pun waktu dia berikan padaku untuk menyentuh benda itu.” ucapan Sehun sekarang membuat Baekhyun menyunggingkan sebuah senyum samar.

“Hutang budi, kau tahu.” tutur Baekhyun, “Dia menyelamatkanku satu kali, dan aku menyelamatkannya juga.” sambung pemuda itu sambil kemudian melempar sebuah gulungan kertas ke arah Sehun—yang ditangkap Sehun dengan tangkas.

“Apa ini?” tanya Sehun, tidak menunggu jawaban Baekhyun, dia buka juga gulungan kertas itu.

“Salinan dari yang kuberikan pada Jia-yi. Aku mengingatnya dengan baik, kau tahu keahlianku bukan? dan juga, di sana kutaruh satu lagi misi yang harus kita selesaikan, menemukan akar dari permasalahan ini.”

Sehun mengangguk-angguk paham. Maniknya masih meneliti tiap detil dari coretan yang Baekhyun tuangkan dalam lembar tersebut. Atensi Sehun akhirnya bersarang pada denah kecil yang ada di sudut kanan bawah kertas tersebut.

“Lihat tanda silang merah itu? Dia ada di sana. Aku akan membawanya keluar dari tempat hiburan itu, dan kau temui aku di sana, mengerti?” Baekhyun menjelaskan.

“Bagaimana dengan dua orang yang kusembunyikan?” tanya Sehun.

“Aku sudah membawa keduanya pergi dari sana—dengan cara yang tidak mereka duga, tentunya—dan kutinggalkan clue yang bisa membuatmu datang ke tempat yang sudah kita rencanakan.” mendengar ucapan Baekhyun, tiba-tiba saja tatapan Sehun melebar.

“Apa kau melukainya?”

“Yang mana? Gadismu, atau gadis satunya?” tanya Baekhyun diiringi sebuah tawa meledek, “Tenang saja, aku tidak melukai keduanya. Well, mungkin mereka terluka secara mental.” terangnya santai, sama santainya dengan ekspresi Sehun saat mendengar bahwa dua gadis yang dengan sengaja ditinggalkannya di rumah, aman.

“Baiklah. Lalu apa rencana selanjutnya?” tanya Sehun.

Baekhyun, mencondongkan tubuhnya ke arah Sehun sambil jemarinya menunjuk ke arah tanda silang yang tercipta dari tinta merah di atas kertas tersebut.

“Saat dia sudah ada di tangan kita, game over, Sehun.”

“Kau akan meledakkan tempat ini, hyung?” tanya Sehun, terselip nada khawatir dalam suaranya, seolah pemuda itu diam-diam menyesali keterlibatannya dalam rencana Baekhyun—yang kalau dipikir-pikir lagi, Sehun lah yang dengan sukarela menawarkan diri untuk membantu, sebab dia tahu kalau apa yang terjadi sekarang tidaklah wajar.

“Aku tumbuh di sini, kau pikir aku bisa menghancurkannya begitu saja meskipun aku ingin? Aku bukan maniak yang menginginkan kematian semua orang.”

“Lalu itu artinya kita akan menghancurkan harapan Tao, hyung.”

Baekhyun tersenyum simpul. “Tao yang kita kenal sekarang, bukanlah Tao yang dulu kita kenal baik, Sehun. Semua orang sudah berubah, kau, aku, Tao, Luhan, bahkan D.O. sekalipun. Well, kau mungkin tidak mengenal Luhan, maupun D.O., karena aku lah yang selama beberapa tahun hidup dengan mereka.

“Tapi kau, aku dan Tao pernah jadi satu tim. Meski dulu kita selalu dipaksa untuk saling mengorbankan nyawa demi anggota, sekarang kita tidak lagi dalam satu tim yang saling membantu, tapi justru bisa berubah haluan dan lantas saling membunuh.”

Sehun menyernyit mendengar penuturan Baekhyun.

“Kudengar, kau dan D.O. adalah dua orang yang sejak awal saling ingin membunuh. Ketika kau keluar dari timnya dan menjadi satu tim denganku, kupikir hal yang sama akan terjadi juga. Tidak kusangka, kita justru sudah melebur menjadi satu.” ucap Sehun.

Mengingat hal itu membuat Baekhyun kembali teringat pada D.O.—Kyungsoo—yang ditinggalkannya dalam keadaan tidak bernyawa. Siapa yang menyangka, kalau mereka sebenarnya berasal dari tempat yang sama, tumbuh dengan visi yang sama, tujuan yang serupa, misi yang sama persis?

Sayang, ada haluan lain yang rupanya ingin diambil oleh masing-masing dari mereka. D.O. yang memutuskan untuk berubah menjadi Kyungsoo dan hidup dengan memihak negara musuh. Luhan yang menghilang dari publik dan masih menjalankan kegiatan-kegiatan gelap, mengambil jalan yang serupa dengan Baekhyun sekarang.

Sehun sendiri menyamar sebagai seorang dokter dan menjalani kehidupan paling normal jika dibandingkan empat teman lainnya. Tao sendiri, telah berubah menjadi seseorang yang tidak mereka kenali. Seorang monster yang menginginkan kematian semua orang demi kepuasan dan balas dendam.

Kini, tersisa Sehun dan Baekhyun saja, dengan usaha keduanya untuk setidaknya dapat menyelamatkan dua orang tidak berdosa yang jadi korban obsesi Tao, sebelum mereka pikirkan kembali sebuah cara untuk menghentikan katastrofis ini.

“Aku akan jemput Jia-yi.” Baekhyun akhirnya angkat bicara. Enggan untuk larut dalam nostalgia sebab dia sendiri benci pada masa lalunya yang mengerikan.

“Bagaimana dengan gadis satunya?” tanya Sehun.

“Itu urusan Luhan. Untuk apa aku peduli?” Baekhyun berucap, dia lantas bergerak turun, sebelum vokal Sehun lagi-lagi terdengar.

Hyung.”

“Ada apa?”

“Apa kita lagi-lagi sedang bertaruh nyawa?” tanya Sehun membuat Baekhyun mengurungkan niatnya. Pemuda itu menutup pintu mobil dan menghembuskan nafas panjang.

“Selamanya kita mungkin hidup untuk mempertaruhkan nyawa, Sehun. Meski orang-orang berpikir kita tidak pernah ada, atau bahkan menganggap kita adalah penjahat, tapi kau harus yakin kalau setidaknya ada satu orang yang akan menganggapmu sebagai pahlawan.”

Mendengar ucapan Baekhyun, Sehun akhirnya tersenyum kecil.

“Jaga Runa untukku, hyung. Kalau saja aku tidak bisa menemuimu.” Sehun tahu benar, dalam beberapa menit ke depan dia akan menghadapi pintu kematian. Bukannya Baekhyun tidak sedang menyabung nyawa juga, tapi karena dia sendirian, entah mengapa Sehun merasa kalut.

“Aku akan melindunginya, Sehun. Jadi pastikan kau akan kembali.”

“Baiklah.” mungkin, Sehun bisa dikatakan sebagai seorang pengecut, karena merasa ragu untuk menghadapi keadaan yang dulu menjadi sahabatnya sehari-hari. Tapi mengingat bahwa Baekhyun bukanlah seorang pembual yang akan mengingkari janjinya, setidaknya Sehun bisa merasa tenang.

Runa akan baik-baik saja, itu saja sudah cukup menjadi sebuah asa bagi Sehun untuk tetap hidup.

“Apa rencananya, hyung?” tanya Sehun akhirnya.

Baekhyun, menepuk bahu Sehun pelan sebelum dia tersenyum menenangkan pemuda itu dan akhirnya buka suara.

“Rencanaku simpel saja, tapi akan sedikit menyakitimu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Ini pasti rencanamu, bukan?”

Seorang pemuda yang tengah menyibukkan diri membaca koran di depan meja bulat yang ada di cafétaria rumah sakit itu lantas mendongak, menatap wajah pria yang baru saja mengajaknya bicara.

“Oh, Luhan. Lama tidak berjumpa.” sapa si pemuda ramah, dilipatnya koran yang tengah ia baca sementara senyum dipamerkannya pada Luhan.

“Jangan bicara omong kosong, Tao. Aku tahu benar bagaimana kau dan kelakarmu. Apa yang kau mau, huh? Menjebakku sehingga aku akan terlibat dalam rencana kotormu lagi?” mendengar ucapan menyudutkan yang Luhan berikan, Tao tersenyum tenang.

“Aku tidak memaksamu untuk terlibat. Kau sendiri yang sudah melibatkan diri dalam rencanaku. Kau tahu aku punya kuasa sekarang, bahkan nyawamu sekalipun, bisa kukendalikan. Mengapa tidak berusaha untuk santai dan ikuti saja permainan yang sudah kusuguhkan?” Tao berkelakar tenang, seolah pria di hadapannya sekarang tengah menyimpan amarah.

“Dulu kau memaksaku untuk menendang keluar dua rekanmu, sehingga keduanya diasingkan dan kau mendapat gelar kehormatan. Sekarang, apa tujuanmu?” tanya Luhan mencecar.

“Mereka diasingkan bukan karena kesalahanku, tapi karena mereka lemah. Dan juga, yang aku inginkan hanya dua bersaudara yang sekarang ada di tempatmu.” ucap Tao.

Alis Luhan terangkat saat mendengarnya. “Berapa lama kau sudah mengawasiku?” tanya Luhan menyadari bahwa gerak-geriknya selama ini pasti sudah diawasi. Padahal tidak, satu-satunya sumber informasi Tao adalah Sehun. Dan menyadari bahwa Tao mungkin tidak mengawasinya selama bertahun-tahun, Luhan akhirnya menarik satu kesimpulan.

“Pria bermarga Oh itu adalah suruhanmu juga? Wah, kau benar-benar bisa melakukan segalanya sekarang, aku sungguh terkesan.” ucapan bercampur sindiran sarkatis itu Luhan lontarkan, sementara lawan bicaranya tampak tidak ambil pusing.

“Kau sudah tahu bukan, siapa aku, Lu?” Tao lantas mengutarakan tanya itu pada Luhan yang sekarang berdiri menatapnya dengan mata memicing penuh kebencian. Ya, pria itu sadar kalau entah bagaimana, celakanya Hyerim bukan karena sekedar celaka.

Dan saran dari pria asing di rumahnya pada Luhan untuk membawa wanitanya ke tempat ini juga bukan sekedar saran saja, melainkan sebuah jebakan. Well, Luhan mengutuk dirinya sendiri karena sama sekali tidak menduga hal seperti itu akan terjadi.

“Tentu saja aku tahu benar tentang siapa dirimu. Kau adalah kerusakaan, kematian, kedukaan, saudaraku. Kau adalah sebuah surat berisikan kesedihan, peperangan, dan ketidak-sempurnaan. Bukankah semua makna itu juga yang membuatmu memilih untuk tidak hidup di balik nama Tao lagi? Haruskah aku membiasakan diri untuk memanggilmu Arshavin sekarang?”

please wait for the next story: Hol(m)es in Seodaemun

IRISH`s Fingernotes:

OMAIGAT. Harusnya ini jadi birthday project buat Tao tapi apa boleh buat jadi satu aja sama Baekhyun soalnya bagian ini aku rombak bolak-balik, kuoperasi berkali-kali, supaya bisa jadi satu chapter berisi penjelasan panjang soal siapa aja member eksoh di sini dan keterlibatan mereka juga rantai-rantai kecil lainnya (nunggu waktu aja sampai nanti Chanyeol-Kai kembali ter-mention atau bahkan mencungul di series punyanya Baekhyun atau Suho) karena sebenernya dunia itu enggak selebar kolor, gaes.

Pengen aku jelasin gitu inti dari cerita ini tapi nanti aja deh di afterword setelah cerita ini berakhir :”) tinggal dua birthday lagi, kayaknya ditututpnya nanti di ulang tahun Icing biar pas, lagian Icing kemarin enggak kebagian bencana-bencana, enggak adil. Eh, lebih enggak adil lagi karena enggak ada Tao Birthday Project dariku tahun ini :”D sowri Tao, LOLOLOL. Tapi sebenernya cerita buat Tao itu yang paling kewren soalnya inti semua cerita ada di sini, WKWKWK. Sayang, postingnya pas cabe ulang tahun.

EH OMONG-OMONG, CALON SUAMI YANG UDAH AKU CORET SECARA OFISYEL DARI LIST CALON SUAMI HARI INI ULANG TAHUN. YAAMPON BYUN CABE KAMU SUDAH MENUA SATU TAHUN TAPI BELUM JUGA SINGGAH DI PELAMINAN, KASIAN. /PAKABAR DIRIMU YANG DULU BERHARAP CABE GA KAWIN-KAWIN RISH/ /OHOK/.

YAAMPUN CABEKU KETAHUILAH AKU NGABISIN SETENGAH TAHUN LEBIH BUAT BIKIN SATU PROJEK SPESIAL BUATMU, TAPI SAYANG SETELAH PROJEK ITU SELESAI DIRIMU JUSTRU AKU CORET DARI LIST CALON SUAMI, KASIAN. /DUH PAKABAR SAMA BRONDONG ENSITI YANG MASIH EKSIS DI HATI/ /OHOK (2)/.

Meski di Koriya sudah ganti hari, tapi di sini masih tanggal enam. Dan Byun Cabe, hepi besdey, yaampun gapenting sih ngucapin besdey ke dia toh enggak akan kenotis tapi ravovo :’v diriku ikhlas ngucpinnya. Selamat tambah tua cabeku, ultimate bias di eksoh yang suaranya bikin kokoro bergetar macem tali beha yang dijemur di halaman rumah dan ketiup angin /APAAN BANGET TALI BEHA/, semoga dirimu enggak nyabe lagi, menli dikit gitu biar pertumbuhan (?) nya enggak terganggu dan minimal nambah satu atau dua senti gitu, biar enggak dituduh yaoi-an mulu sama mascahyo.

Semoga tahun depan diri ini udah enggak terbelenggu cinta virtual sebelah hati ini lagi, ya cabe ya, cepet naik ke pelaminan dan pamer janur kuning dong biar diri ini enggak berharap lagi :”)

P.s: kayaknya, buat bagian Baekhyun diriku enggak kolab sama author dulu :”( efek ada akreditasi di tempat kerja, semuanya jadi kacau.

P.p.s: enggak yakin nanti Suho pakabar :”( soalnya penderitaan ini baru berakhir tanggal 25 Mei.

P.p.p.s: cie kenalan sama Arshavin dong :’P omong-omong, cerita flashback tentang mereka nanti aja kuceritain di bagian Suho aja ya, WKWKWK.

P.p.p.p.s: YAAMPUN BESOK PAGI PARADE BUNGA LOH :”) KAPAN LAGI DIKASIH MAWAR SAMA MAS-MAS GANTENG KETIKA LAGI BERDIRI DIPINGGIR JALAN? Yuk mari main ke Surabaya :’P bulan Mei ini penuh hiburan loh ~

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

14 pemikiran pada “[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in DONGDAEMUN [2] — IRISH’s Tale

  1. karena aku udah dispoiler kalo arshavin itu tao aku jadi ga kaget lagi /ditampol elsa
    tapi aku pikir tadinya si arshavin ini bule bule gimana gitu wkwkwkwkw
    taunya tao, hahahahahahhaha. wesh sudah tao tao sok sok an kamu ganti nama keren jadi arshavin, hahahahahaha /tampol tao

  2. Ping balik: [BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SEODAEMUN — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  4. IZINKAN ANE MENGUMPAT KASAR-SEKASAR KASARNYA. TAO ITU ARSHAVIN? ANJEERRR ANE BAYANGIN ARSHAVIN UDH TUEE :”””D SIYAL ANCUR UDAH IMAJINASI WKWKWK KAN DI SERIES CHANYEOL DIA UDH PUNYA ANAK KAN YA, YA TUHAN AHAHAHAHA.

    Sumpah kak rish ini series makin belibet ya karena mungkin baru dijelasin hiji-hiji ini member eksoh, tapi tetep so kewren eksekusinya. Dan aku baru bisa narik 1 kesimpulan, ternyata mereka-mereka ini orang korut LOLOL /plak

    Nanti ada apa lagi kak rish? Kok tercium-cium itu Sehun bakal mati? Atau Luhan yang bakal mati? Gak apa sih mati aja /ditendang/

    Aku tak sanggup berkata yang bikin geger gitu ya :”) mana yg kolab bareng aku, aku gak komen apa-apa bikos bingung wkwkwkwk.

    KUTUNGGU LANJUTANNYA, TINGGAL 2 BDAY LAGI YA INI BERAKHIR. GAK KERASA YA LORD.

    Dan hepi besdey cabeee! Dan izinkan aku tertawa akan perumpamaan tali beha wkwkwk

    • IYA UYEAH ELS SI TAO ITU ARSHAVIN WKWKWKWKWKWK UDAH ANJIR2IN AJA SAMPE THE END BIAR GREGET XD DIA PUNYA ANAK, KAN GA ADA KATA GA MUNGKIN BUAT TAO KAWIN MUDA XD WKWKWKWKWKWKWKWKWWKK BARU SAMPE DI SINI YA ANE JELASIN MEREKA ITU MAU DIJADIIN MAKHLUK MACAM APA XD XD XD INTINYA MEREKA KORUT YANG NYASAR DI KORSEL /KEMUDIAN DIBANTAI/ XD XD XD AH, ENGGA, INSYA ALLAH ENGGA AKU YANG BUNUH, MUNGKIN MEMBER LAIN YANG BUNUH XD XD

    • SUDAH KAK BERANJIR-ANJIR BANGET INI. ENIWEI INI KITA BALES2AN KOMEN, KEPSLOK SEMUA YAK AHAHAHAH.

      TUH KAN TUH KANN KALO LUHAN MATI, HYERIM JUGA MATIIN AJA YA KAK RISH, KASIAN DIA JADI JANDA NTAR /GA

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s