[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] PANASEA — Joongie

PANASEA

Joongie © 2017

Byun Baekhyun x Z. Hera || Married-life, Sad || Vignette (PG15)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

.

Don’t go ♫
Don’t say you’re gonna leave me ♫
Don’t leave me behind in the memories ♫

.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan, kalimat itu menghantui Baekhyun. Insomnia menyiksanya bahkan sampai fajar menyingsing. Baekhyun duduk di dapur berteman susu hangat, meninting-ninting cincin kawin ke mug sembari berpikir: berapa banyak pagi yang tersisa untuknya? Dia menyeruput susunya di sela helaan panjang. Dari balik punggungnya dia mendengar langkah mendekat, Hera, istrinya datang memeluk lantas menumpukan dagu di bahunya.

“Insomnia lagi?” gumamnya menahan kuap.

Baekhyun berdeham mengiakan, berbalik menghadap Hera dan mengagumi kecantikan natural wanitanya. “Tidurlah lagi kalau masih mengantuk. Tidak ada gunanya bangun subuh begini dan… aku baik-baik saja,” pintanya tak sampai hati.

“Tidur sendirian di ranjang sebesar itu? Yang benar saja,” cela Hera, meregang sebentar kemudian meraih teko untuk merebus air. “Aku mau buat kopi, mandi lalu belanja ke pasar. Mau jadi kuliku hari ini?”

Baekhyun meringis dan bergurau, “Kau punya dua tangan yang kuat.”

Jadi ketika keluar dari apartemen, mereka berpisah arah. Hera belanja ke pasar, sementara Baekhyun menikmati pagi dengan jalan-jalan di sekitar. Sekarang akhir pekan sehingga ramai orang di jalanan, bersepeda, jogging atau sekadar menikmati pagi sepertinya. Baekhyun mengedarkan pandang memerhatikan satu-dua anak kecil berkejaran. Riang juga bebas tanpa beban.

Dulu dia juga begitu, lincah dan sulit duduk diam.

Hampir sebulan sejak dokter memberinya vonis yang menyakitkan hati. Pengobatan berbulan-bulan tidak membuahkan hasil ketika kertas putih dibentangkan di meja periksa. Dokter bicara dengan hati-hati, mengatakan kemungkinan dirinya tak akan berumur panjang. Saat itu dia dan istrinya saling memandang pedih, tidak bersuara karena dunia mereka terlanjur karam.

Baekhyun kembali menyusuri jalur pedestrian yang membawanya ke gedung bioskop tua. Lalu mengitarinya menuju taman kota dengan panorama hijau menyegarkan. Dia menghirup udara pagi, paru-parunya terasa sejuk. Musim semi selalu menjanjikan cuaca yang paling sesuai, cerah namun tak terlalu menyengat. Dan Baekhyun menghilangkan penat dengan berlabuh pada bangku panjang di depan air mancur.

Berjam-jam dia duduk di sana, menolak untuk berbincang dan terus melamun.

Baru setelah sinar matahari mengusiknya, Baekhyun beranjak pulang. Rupanya Hera kembali lebih dulu, tapi belanjaan dibiarkan berserakan di pintu depan. Dia berderap mencari tahu, lalu melihat Hera duduk dengan wajah yang menunduk di meja. Salah satu tangannya menyangga kepala, sementara lainnya terjulur di hadapannya. Tubuhnya terguncang-guncang karena tangis.

Belum pernah Baekhyun melihatnya begini dan itu mengejutkan. Merasa tidak mampu melakukan apa pun dalam kenelangsaan ini, Baekhyun mundur teratur. Dia melangkah di koridor dengan tertatih-tatih, dadanya berdenyut sehingga Baekhyun buru-buru menelan pil yang selalu siap di sakunya. Dia berpikir, mungkin Hera butuh waktu sendiri dan memutuskan untuk mengendap di bistro.

Laki-laki itu memesan pancake tanpa topping, piringnya sepi tak menggairahkan. Sendirian di sana, Baekhyun menghitung-hitung waktunya yang kian menyusut serta kesedihan Hera yang akan segera jadi janda. Napasnya mendadak tersengal seperti tercekik. Matanya berangsur basah.

Dia harus berbuat sesuatu, meninggalkan kenangan berharga misalnya.

Sekarang hampir jam sebelas, aktivitas penduduk mulai menggeliat di pusat kota. Baekhyun bergegas pulang, menunjukkan kepada istrinya bahwa dia tak semenyedihkan itu. Ucapan dokter bisa salah, karena kuasa tertinggi tetap punya Tuhan. Ini termasuk caranya memupuk semangat.

Akan tetapi, badannya menegang saat menyeberang jalan. Dari kaca transparan di lobi dia melihat istrinya memeluk laki-laki lain. Hera jarang menangis saat bersamanya, namun kini dia begitu mudahnya menunjukkan sisi lemahnya pada lelaki lain yang mendekapnya erat. Sekilas orang akan berpikir mereka adalah pasangan, tapi tidak bagi Baekhyun. Sumbu emosinya terbakar, darahnya mendidih dan wajahnya merot-merot saat memergoki pasangan selingkuh itu.

“HERA!” imbaunya keras.

Sang istri dan laki-laki itu terlonjak gelagapan, Hera berusaha menyentuhnya, namun Baekhyun segera menampik. “Dengarkan aku, Sayang. Ini tidak seperti yang kaupikirkan. Aku bisa jelaskan, jangan terbawa emosi dulu. Itu tidak baik untuk keseha—”

Emosi Baekhyun terlanjur meluap-luap bagai air yang dijerang terlalu lama dan mendidih berkepanjangan. Dia menunjuk geram pada Hera dan selingkuhannya sambil menghardik, “Perempuan sialan! Keterlalu… an… berbu… at….”

Belum sempat mencapai klimaks, lidah Baekhyun serasa kelu dan bicaranya mirip racauan. Terjangan rasa sakit membuatnya limbung, dia mencengkeram dada lantas mengejang menahan nyeri hebat. Baekhyun kesulitan bernapas, penglihatannya kabur dan kebekuan merayapi anggota geraknya. Dia masih mencoba bangkit, tapi yang terjadi… Baekhyun tersungkur lantaran jantungnya kembali berulah.

“Jangan gila, Hera! Itu tidak mungkin dilakukan!”

“Aku mohon, Bu. Aku butuh izinmu.”

Dalam gulita telinga Baekhyun menajam, dua wanita penting di hidupnya bersitegang. Satu di antara mereka terisak-isak, dia coba membuka mata tapi kelopaknya seakan melekat kuat. Baekhyun merasa semakin tidak berdaya, jatuh ke lubang hitam tanpa dasar. Perwujudan ketakutan bercampur keputusasaan yang mencengkeramnya dari dalam. Lagi pula dunia ini sudah memuakkan, tinggal menunggu waktunya sampai sang Malaikat memanen nyawa.

Pada suatu masa, Baekhyun menyadari segenap inderanya kembali mampu mengenali rangsangan. Dia bisa mendengar desis oksigen yang mengalir melalui kanula hijau di hidungnya, juga suara robotik dari monitor jantung. Venanya pedih, seseorang tengah menekan pergelangan tangannya dan menginjeksi cairan yang langsung mengaliri arteri.

Baekhyun mengerjap perlahan-lahan, sampai kunang-kunang yang serasa hinggap di retinanya mulai menyingkir. Putih. Silau. Lampu yang terpasang di plafon menyengat matanya. Sekali lagi, matanya terpicing. Baekhyun mencoba lebih tenang, menarik napas panjang sampai dadanya menjadi ringan.

“Baekhyun? Kau sudah sadar? Kau dengar Ibu, Nak?” Wajah risau perempuan paruh baya menyeruak dalam pandangan Baekhyun. Ibunya lalu membelai kepalanya dengan perasaan haru. “Oh… syukurlah. Terima kasih, Tuhan.”

Dia berhasil lolos dari kematian? Baekhyun terpekur nyaris tidak bisa percaya. Dia mengamati seisi ruangan, kemudian dengan lirih bertanya, “Hera mana?”

Hening. Ibunya membeku.

Dua pekan berlalu sejak sadarnya Baekhyun, fisiknya jauh membaik dan dokter bilang dia akan segera sembuh. Namun yang mengusik batinnya, Hera yang tak sekalipun mencogok batang hidungnya. Dia menghela napas pelan dan memejamkan mata usai merampungkan dokumen permohonan cerai. Keputusan berat yang terpaksa ditempuh, mengingat kejadian terakhir kali dan kemungkinan bahwa Hera kabur bersama selingkuhannya.

“Apa yang kaukerjakan, Nak?” sapa ibunya yang melangkah masuk sambil menenteng sekeranjang buah. “Kenapa tidak memanggil suster kalau mau turun?”

Baekhyun tersenyum masam. “Ibu belum menjawab pertanyaanku waktu itu. Di mana dia sekarang? Surat cerai ini perlu dikirimkan kepadanya,” desaknya sambil menunjuk berlembar-lembar kertas di meja.

Ibunya bertingkah sama. Menegang dan menunjukkan gelagat ganjil. Kepanikan tercetak jelas di wajahnya ketika mata mereka berserobok. Pertama kali di hidupnya Baekhyun menyaksikan ibunya mendesah sebegitu kerasnya, kemudian dengan enggan mengeluarkan sesuatu dari nakas.

“Hera, dia…,” kalimatnya seperti sengaja digantung, ibunya menempelkan telapak tangan ke dada Baekhyun lantas melanjutkan, “…ada di sini. Dekat dengan hatimu.”

“Bu, jangan bercanda,” tukas Baekhyun, kerutan di keningnya bertambah dalam.

Dan ibunya dengan berat hati meletakkan koran di meja. Berita utama memuat kecelakaan tunggal yang dialami wanita muda di jembatan Mapo. Korban Ji Hera tewas ditempat, diduga mengemudi dalam keadaan mabuk. Baekhyun spontan menyentuh dadanya yang berkedut kencang seiring jatuhnya air mata penyesalan.

Sesungguhnya, laki-laki yang memeluk Hera hari itu adalah dokter bedah sekaligus koleganya. Hera menanyakan kemungkinan soal pendonor hidup, namun mendapat tentangan keras. Dia begitu putus asa melihat Baekhyun kesakitan, akalnya mulai tidak waras. Iba melihatnya, sang Dokter refleks merangkul Hera dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Persis sewaktu kesalahpahaman Baekhyun bermula.

Fin

Untuk yang sudah membaca sempatkan tulis komentar dan saran membangun ya, luv luv luv ❤

XOXO,

Joongie

Iklan

27 pemikiran pada “[BAEKHYUN BIRTHDAY PROJECT] PANASEA — Joongie

  1. maaf mungkin aku sdikit jahat dgn melihat komentar terlebih dahulu. aku mulai penasaran dan kupikir aku harus mencoba untuk baca.
    setlh selesai..
    wah, daebak! good writting thor^^

  2. Nice … jadi inget moment Baek-Hera . Sumpah ni pasangan di drama manis banget .. manissss .. sayang dua duanya harus mati diakhir ..eh kok malah bahas ini?,??
    yg Sehun-Irene ditunggu lanjutannya ya .

  3. Aaaa gantung 😦 Masi ada yg belum dijelasin~~ jujur aku sdikit kecewa, hehehe …
    Tapi, ya ampun ini cara penggambaran ceritanya bikin baper, huhuhu … rasanya aku pingin mojok sambil merenung, diksinya bener2 kerenn ^^ saluttt

    Hera sama Baekhyun pasangannya emang swit ya, btw … aku sukaaaa …. berlandaskan hal itu juga makanya pas baca dapet banget feel-nya >.< Berasa jadi sedih bgt :' Twist si Hera selingkuh sempet bikin geram walo udah curiga itu cuma salah paham aja. AAAA pokoknya ni ff jjang! Love it!
    Yah,dan seblum pergi, satu pesen dari aku buat joongie .. selalu mangat buat karya ya! ❤ x)

    • Wkwkwk iyaah gantung banget, rasain si baekhyun 😂😂
      Hihi thank you so much muah muah buat pujiannya 😘
      Iyaaaaa aku juga suka banget ama mereka ih ><

      Makasih sekali lagi dan aku berusaha selalu semangaaaat! 😄😄😄

  4. Astaga kak ikke, elsa sampe jingkrak-jingkrak nemu ff baekhera akk T.T aku seneng banget /korban scarlet heart emang lol/

    Ini sumpah kak, kak ikke diksinya aduhai aku ngefans banget serius. Tbh baca ini lagi denger lagu lee hi – my love kan ntap gitu ya mellow-mellow huhuhu. Aku tadinya mau mengumpat semisal si Hera emang selingkuh, tapi pas adegan selanjutnya ditengah tidurnya Baekhyun denger percakapan. Aku udah firasat jangan-jangan Hera mau ngedonor

    Eh

    Ternyata

    Benerkan hueee. Ini sumpah ngena banget feelnya kak ikke :”( aku sampe nangos walau gak nangos2 banget bikos baca di mobil kan malu-maluin tar wkwkwk. Nyekelit dukcess gitu, tadinya dikira Hera akan jadi janda eh malah Baekhyun yang jadi duda

    Ditunggu karya yang lainnya Kak Ikke ❤

    • Haaaaaai sael saelsaaaa 😄
      Duh samaan atuh lah el, aku masih sulit mupon dari drama itu T.T

      Wkwkwk ah nda el bagusan diksi kamu loh, aku cuma main di kata” yang itu” aja wkwkwk 😂
      Kyaaaak kamu suka Lee Hi? ><

      Iyaaaaa Baekhyun yang udah hancur ama perasaannya sendiri kek jadi egois gitu, dia sendiri udah mikir bakal mati trus ngebiarin Hera ngejanda tanpa mikir kalo istrinya juga sedih liat dia gitu
      Dan sekarang ya gitu dia yang ngeduda jadinya 😭😭😭

      Makasih elsaaa muaaah 😘😘😘

  5. Pernah nemu FF yg mirip kayak gini… tapi yg ini ngenaaaa… soalnya bahasanya enak dan couplenya Baekhyun sama Hera.
    #korban drakor blm sembuh*ehem
    keep writing author-nim… fighting!

  6. Dudududu…. iseng mampir ke effi liat project karya kak joongie, langsung tancap gas buat read.

    Hah, dalam kesendirian tragis di malam minggu, bobo-boboan di pojok kamar, haruskah ke tragisan ini bertambah dengan disuguhkan kisah tak kalah tragis baekhyun? Jangkrik pun bernyanyi seakan mengejek, atau nyamuk yang ngieng-ngieng mondar mandir mencari celah menyedot darah. *njir kunaon jadi puitis?

    Haduh baekhyun, makanya jangan kemakan pikiran sendiri, dengerin suara hati hera. Gak percayaan banget sih sama isteri sendiri, jadinya kan…. ah sudahlah.

    Aku selalu suka sama karya kak joongie, berasa ada sesuatunya gitu*ngomong apa sih?

    Btw, keep writing and fighting^^

    • Hihi aku terhura ini loh XD
      Lain kali malam minggu ke kamar aku aja kita mama roti sobek (?)
      Jiahahaha naon atuh lah, gpp asalkan masih masuk melodi aja puitisnya XD

      Iyaaaaaa sebenernya yang paling egois itu baekhyun kan ya ><

      Hihi aku bubuhin micin sebenernya #plak wkwkwkw

      Kamu juga ya, semangat nulisnyaaaa
      Lagi ikut lomba kan? Good luck 😘😘😘

    • Ih….. gak boleh roti sobek. Pamali >,< *soksuci/digampar* mending roti jepang aja, lebih enak:v

      Oh, dikasih micin* angguk-angguk padahal gak ngerti.

      Ya lord… kak jongiii……… TARARENGKYU ATAS SUPPORTNYA…. MUAH MUAH LOVE U 😘😘😘😍😍😍

  7. Joongie-nim belajar diksi dari mana?? Kok tulisan2nya bisa bagus gini, iri deh T_T

    Tp aku suka ceritanya. Sering2 buat FF yaah :))

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s