[EXOFFI FREELANCE] Way Out (Road Of Death) – Chapter 2

IMG_20170416_162108

Way Out (Road Of Death)

 

Tittle                           : Way Out (Road Of Death) – Chapter 2

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Oh Sena (OC)

Other Cast                :

  • Shin Seung Rin (OC) as Zeus/Erinyes/Medusa
  • Zhang Yi Xing/Lay (EXO) as Mortary/Ted Bundy Copycat
  • Do Kyungsoo/D.O (EXO) as The Brain
  • Byun Baekhyun (EXO) as A.M/Ante
  • Park Chanyeol (EXO) as P.M/Post
  • The Boss (Secret Cast)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Thriller, Psychology, and Drama

Rating                        : R

Length                       : Chapter

CAUTION : DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN DARI PARA PEMBACA SEKALIAN DALAM MENIKMATI FANFICTION INI

Author tidak bertanggung jawab atas kesalahan prespsi atau penafsiran. Karena meskipun memiliki konten yang tak baik untuk anak dibawah umur, namun fanfiction ini masih dalam tahap yang wajar dan sesuai rating yang saya tulis. Fanfiction ini dibuat atas dasar hiburan untuk pembaca sekalian, mana yang benar dan mana yang salah adalah keputusan pembaca, jadi sekali lagi, mohon kebijaksanaannya dalam membaca.

***

 

Mereka terjebak, mereka tersekap

Tidak ada jalan keluar, sekalipun ada itu dirancang untuk membuat mereka kembali,

Sekali lagi, mereka terjebak

Bersama lima pembunuh bengis yang bukan sekedar menginginkan nyawa mereka… melainkan jiwa mereka.

 

 

~Happy Reading~

 

[Nice To Meet You]

 

*Sehun Side*

 

“Tidak, aku hidup untuk membunuh.”

 

Aku menggertakan gigiku, mengepalkan tangan dengan kuat, dan apabila tak mengingat soal surga juga neraka, pahala serta dosa, maka saat ini pun, menggunakan tangan kosong bila mampu, aku ingin menghajarnya, memukul wanita gila ini sepuas hatiku karena sudah bicara seenaknya tentang ‘bunuh-membunuh’ apalah itu, mengabaikan fakta kalau dia wanita yang seharusnya lemah, dan aku pria yang sebetulnya lebih kuat darinya.

 

Tapi jangan lupakan hal yang lebih mengejutkan, bahwa dia seorang pembunuh.

 

Jadi aku mengurungkan niatku, seiring dia mengurungkan niatnya untuk membunuhku dengan pistol miliknya. Padahal, sejenak, sekilas, sesaat, apapun sebutannya, aku hampir merasa lega dengan kematian yang ditawarkannya. Karena lebih dari apapun, jika jiwaku sudah lepas dari tubuhku dan malaikat pencabut nyawa menggiringnya pergi, aku bisa bebas dari mereka.

 

Ah, lupa, bukankah mereka merupakan malaikat pencabut nyawa pula?.

 

“Karena kalian berisik sekali jika disatukan, maka, Mortary bersama A.M-P.M pergi membawa Oh Sena ke gudang merah. Lalu Sehun ikut bersamaku dan The Brain.”

 

“Aku tidak mau satu tim denganmu.” Ketus pria pendek yang sedari tadi melontarkan ancamannya padaku, pada kami. Zeus nampak tak peduli, dan entahlah, aku tak bisa memprediksi ekspresi psikopat gila macam dirinya.

 

“Tapi kita sudah dalam satu tim, tim kawanan pembunuh, ya kan?” si pria tinggi mengeluarkan pendapatnya, yang sebenarnya tak usah dikatakan karena sangat tidak membantu menyelesaikan diskusi mereka.

 

Seseorang mengacungkan tangan, yang jelas itu bukan Sena yang memeluk dirinya ketakutan maupun aku yang tak mau ikut campur dalam pembicaraan menjijikan mereka. Itu adalah si pria berambut pirang yang menjadi sebab mengapa aku dan Sena harus terbangun dari tidur nyenyak kami, mimpi indah kami yang sudah berencana pergi berkemah sekeluarga, kemudian menghancurkan ilusi itu dengan kenyataan mengerikan bahwa orangtua kami dibantai di depan mata.

 

“Biar aku saja yang menggantikan The Brain, daripada terjadi perang dunia kelima!” ujarnya antusias, dan Zeus tak mau repot-repot menolaknya.

 

Jadilah, pria pirang yang paling aku ingat ciri-cirinya, wajahnya, tubuhnya ini, membawaku pergi setelah kembali mengikatku, lantas menggiringku memasuki kontainer kosong secepat mungkin. Aku bahkan tak sempat menyaksikan keadaan Sena yang masih syok sejak pria yang membawaku ini memainkan organ tubuh manusia dihadapannya.

 

Baik-baiklah Sena…

Kumohon, sebagai permintaan terakhirmu…

Dari kakakmu tercinta,

Yang kini engkau benci setengah mati,

Oh Sehun

 

***

 

*Sena Side*

 

“Persyaratan apa maksud kalian?” tanyaku pada si lesung pipi yang lainnya panggil dengan sebutan Mortary ini. Nama aslinya? Aku sangsi ada orang Korea asli yang mempunyai nama seperti itu.

 

“Tentu saja persyaratan agar kau dan kakakmu itu bisa bebas.” Si jangkung menjawab pertanyaanku sambil tangannya mencoba mengusap rambutku. Tidak lagi, lebih baik aku mati daripada disentuh manusia kotor berpikiran mesum ini!.

 

Dia nampak kesal, menghempaskan tangannya seraya berkata, “J*lang sialan!” kemudian melanjutkan, “The Boss, sang pemimpin, menginginkan kalian bergabung dengan kami, Jeoseung Saja Team, jika kau dan kakakmu itu mau hidup lebih lama. Secara, sungguh mustahil membiarkan kalian lepas setelah apa saja yang kalian ketahui, dan Zeus punya ide yang bagus daripada menghabisi kalian bersama tuan serta nyonya Oh.”

 

Dadaku selalu terasa sesak tiap kali mereka membahas tentang kematian ayah dan ibu, dan yang lebih menyakitkan adalah bagaimana mereka dengan mudahnya, santainya, tanpa ragu atau merasa tak enak, membahas hal teraebut. Seolah apa yang mereka lakukan pada mayat orangtuaku hanyalah lelucon, sebuah candaan antar teman lama.

 

“Gagasan untuk menjadikanku makhluk sialan seperti kalian?, mencabut nyawa, menyakiti perasaan keluarga yang ditinggalkan, semacam itu?” ketusku memberanikan diri, toh, mendengar mereka masih mau memberikan kesempatan -meski tidak masuk akal- pun, sudah cukup untuk menguatkan kakiku, menguatkan diriku, sedikit demi sedikit.

 

“Jujur saja, selain Zeus dan Mortary, tak ada yang menyetujui rencana The Boss, kami merasa bahwa kalian cuma serangga pengganggu. Namun entah kenapa pria idaman wanita ini mau repot-repot menerima saran sang eksekutor dan pemimpin yang belum pernah dilihat rupanya itu.” Si jangkung menyindir si lesung pipi.

 

Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa pada kulit kepalaku, ternyata si pendek menjambak rambutku. Tak lama, hanya beberapa detik sampai dia puas lantas tertawa bahagia dengan alasan ; ‘rasa penasarannya soal respon wanita ketika rambutnya ditarik’ tuntas.

 

Aku menangis lagi, tanpa isakan, tanpa suara. Lagipula, memelas sebagaimana pun juga mereka tak akan berbelas kasihan padaku. Tapi setidaknya aku tahu, selain gila, mereka juga tidak waras. Tahu maksudku kan?.

 

“Tak ada salahnya menambah anggota kan?. Akhir-akhir ini kita agak kerepotan melaksanakan perintah-perintah yang banyak maunya.” Si lesung pipi -ah, maksudku Mortary, kembali bersuara. “Bagaimana nona Oh Sena yang cantik jelita?, pilih mati disiksa oleh Jeoseung Saja Team, atau bergabung hanya untuk sepuluh pembunuhan saja?”

 

Aku berpikir keras, dan apabila otakku memiliki tuas agar menghasilkan pemikiran bagus, pekerja kecil yang mau berusaha tanpa dibayar seperti dalam film anak-anak, aku akan berterima kasih sekali jika mereka menemukan ide cemerlang yang tidak akan membuatku menuruti kemauan mereka dan bisa kembali ke kehidupan normal, walau tanpa ayah dan ibu, juga paman Hee Jun.

 

***

 

*Sehun Side*

 

“Sepuluh pembunuhan?”

 

Aku berharap gadis itu akan menggelengkan kepalanya, tersenyum hangat, lalu pria berambut pirang dibelakangnya meledakkan confetti seraya bertepuk tangan riuh sambil berteriak ‘april mop! ‘ kemudian Sena, ayah, ibu, sekaligus paman Hee Jun memasuki kontainer pengap ini dalam keadaan hidup-hidup, mengatakan bahwa selama ini, kejadian-kejadian buruk yang kualami hanyalah tipuan mereka sebagai perayaan ulang tahunku, atau hayalanku, atau imajinasiku…

 

Sayangnya ini mimpi buruk disaat sadar.

 

“Ya. Cukup sepuluh saja, lalu kau tentukan mau mati bunuh diri, dibunuh, atau terus melanjutkan hidup.”

 

“Sebagai seorang pembunuh?” timpalku cepat, dan Zeus mengangguk.

 

“Bagaimana dengan Sena? Apa pria-pria itu mengatakan hal yang sama kepadanya?. Terlebih, apa mereka bisa dipercaya untuk tidak menyetubuhi adikku?”

 

“Untuk The Brain, iya. Aku percaya seratus persen kalau dia tidak tertarik dengan kemolekan Oh Sena. Lalu Mortary… kurasa kau cukup bisa mempercayainya, tapi tidak pada P.M, pria itu haus belaian wanita, jadi-”

 

“Brengs*k kalian semua!” umpatku, “Awas jika terjadi apa-apa terhadap Sena! Aku akan-”

 

Aku bergeming ketika sebilah pisau dilempar melewati kepalaku dan menggores pelipis kiriku.

 

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Hahaha…” gadis itu dan pria pirang tertawa remeh, “Kau sungguh menggelikan Oh Sehun. Bukankah kau yang awalnya meninggalkan Sena?, membiarkannya ditangkap oleh kami?. Lantas apa yang kau khawatirkan tentangnya? Masih mau bersikap sok pahlawan setelah semua omong kosongmu itu?. Lucu sekali!”

 

Aku menelan ludah susah payah, menguapkan amarah yang baru saja aku kobarkan.

 

“Yang jelas kehidupanmu sebagai siswa SMA tingkat akhir, Oh Sehun, sudah tidak ada lagi.”

 

Dia benar, tapi aku tetap tak bisa menerima penawaran gilanya!. Atau… Itu kesempatanku untuk kabur?, maksudku, kesempatan kami?.

 

Zeus-ah! Kita harus cepat~” si pria pirang mendesakku secara tak langsung. Bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Apa yang…bisa kulakukan?.

 

“Mungkin Sena akan menolak ide ini, tapi, aku setuju. Aku HANYA akan berperan sebagai pembantu kalian, boleh?”

 

Zeus tersenyum. Tidak, tidak. Zeus menyeringai.

 

***

 

“Asal tidak menjadi eksekutor.” Adalah jawaban bernada dingin yang mengerikan, kudapat dari bibir mungil Sena, adikku tercinta.

 

“Kau sudah gila ya?!” pekikku, tak menyangka kalau gadia yang menjadi kembaranku ini langsung setuju dengan penawaran Mortary begitu saja.

 

Tapi dia mendengus dan menjawabku, lagi, dengan cepat pun tegas.

 

“Bukannya kau juga tidak waras?. Mau aku ingatkan berapa banyak ketidak warasan yang kau lakukan sejak mayat ayah dan ibu dijadikan mainan oleh mereka?. Dan, oh!, jangan lupa pilihanmu untuk membiarkan paman mati!”

 

Aku menamparnya karena tidak tahan, kesal, amarah yang membuncah tanpa bisa dilampiaskan, lalu Sena muncul dengan tatapan setan serta mulut harimaunya. Sialan!.

 

“Jadi kenapa kau tidak memutuskan untuk mati pula bersama paman?, apa aku memaksamu memilih pilihan yang sama?!”

 

“BRENGS*K KAU OH SEHUN!” teriaknya, memegang pipinya.

 

“Oi! Oi! Niat bekerja tidak?” gurauan yang tidak tahu situasi lagi, dari pria tinggi itu. “Mau dimulai tidak?”

 

Aku diam, begitu pula dengan Sena. Entah para pembunuh ini kekanakan, atau memang ini cara mereka menghibur diri setelah melakukan pembunuhan keji, berkutat dengan darah, senjata, mayat, organ manusia, taktik meloloskan diri dari tuduhan, membunuh.

 

Ah, lupa, hiburan mereka adalah kematian seseorang.

 

Ditangan mereka.

 

“Ehem!” pria pirang itu berdehem, “Biar aku ulangi, Oh Sehun dan Oh Sena akan bergabung dengan sepuluh rencana pembunuhan Jeoseung Saja Team, jadi untuk pembelajaran sekaligus masa training mereka, maka aku A.M akan memperkenalkan seluk beluk kawanan malaikat maut ini!”

 

“Dan disini, P.M akan membantu menjelaskan!” sahut pria tinggi dengan senyum menyebalkan itu.

 

Aku masa bodoh, dan kukira Sena pun begitu. Tapi tak ada salahnya mencari informasi tentang mereka. Setelah terkumpul, akan kususun rencana untuk kabur dan membawa bukti itu ke ranah hukum. Agar manusia mengerikan ini tahu rasa!.

 

“Kami adalah tim malaikat maut!” pria pirang memulai, “Kami bekerja untuk orang lain dan diri sendiri. Maksudnya, jika kalian bertanya, seseorang memerintahkan kami membunuh lalu dapat bayaran. Kami menyebutnya The Boss, si misterius yang belum pernah kami temui secara langsung, seperti Charlie’s angels kalau aku tidak salah sebut. Tapi kadang, kami bekerja secara individu untuk kesenangan atau kebutuhan.”

 

Pria tinggi mengambil alih, “Giliranku memperkenalkan anggota tim malaikat maut.” Ia berjalan duluan, sementara pria pirang mendorong kami memasuki ruangan berpintu biru, ruangan pertama yang akan kau lihat begitu memasuki bangunan bawah tanah sarang mereka.

 

Saat pintu terbuka, pemandangan bertumpuk-tumpuk komputer dan komponennya ada disamping kanan dan kiri pintu, membuat sebuah lajur menuju meja panjang yang mengelilingi dinding, dimana ada sekitar sepuluh -bahkan lebih- komputer berbagai jenis berjejer disana, dengan layar menyala semua.

 

Lalu sosok The Brain, pria pendek berwajah masam yang menyebalkan itu terlihat, tengah mengutak-atik komputer-komputer seperti seorang peretas di film-film.

 

“Mau apa kalian?” tanyanya ketus begitu sadar akan keberadaan kami.

 

“Dia The Brain, seorang peretas, hacker, tugasnya memperlancar rencana pembunuhan agar lebih mudah dilakukan. Seperti memalsukan data, membuat ID, menghilangkan rekam medis korban, mencari informasi calon korban, dan lain-lain.”

 

Pria tinggi menyahut, “Kalian bisa panggil dia The Butt atau The Knee kalau dia mulai menyebalkan.”

 

“KELUAR!”

 

Kami diusir, lantas segera memasuki ruangan berpintu oranye dimana berbagai macam sampah berada disana, yah, kecuali sampah manusia  syukurlah.

 

“Ini ruangan kami.” Jawab pria pirang seraya duduk di sofa berwarna senada dengan pintu yang sudah robek disana-sini. “Tolong abaikan betapa berantakannya tempat ini.”

 

“Kalian bisa memanggil kami A.M-P.M.” Pria tinggi itu menunjuk pria pirang dan dirinya bergantian, membuka makanan ringan yang ia pungut dari lanti, menawarkannya padaku dan Sena, tentu saja kami tolak. “Tugas kami sebagai pencuri, penculik, yang melaksanakan pengambilan korban dalam keadaan hidup, juga membuang, menghilangkan mayatnya atau menghilangkan jejak.”

 

“Bisakah kita segera pergi ke ruangan lain?” tanya Sena merasa risih.

 

“Eoh, maaf nona manis, kita tak bisa melanjutkan tur ini.”

 

“Kenapa?”

 

“Karena Mortary dan Zeus tak suka ruangan pribadinya dimasuki orang lain.”

 

Sena berdecak, “Tapi kalian temannya kan?!”

 

P.M yang sedari tadi menjawab Sena terbahak, “Tak ada teman atau musuh disini. Kami bukan rekan atau lawan. Pernah dengar pembunuh saling setia? Mengorbankan diri untuk pembunuh lainnya?. Kau kebanyakan menonton drama!”

 

“Yang jelas, mortary adalah sang perencana, yang membuat taktik supaya pembunuhan sesuai skenario buatannya dan aman.” Akhirnya A.M ikut menjelaskan lagi. “Lalu Zeus, yang paling berbahaya untuk kalian, sang eksekutor yang bertugas menghabisi target, kadang… lebih dari itu.”

 

Perasaanku saja atau pria pirang ini terlihat menyukai si wanita gila itu?.

 

“Abaikan. Dia menganggap Zeus cantik tiap muncratan darah mengenai wajahnya. Dasar gila!” P.M memperhatikan jam LCD-nya. “Oh! Sudah waktunya bekerja!” serunya membuatku merinding.

 

“Se-sekarang?” Sena tergagap, tapi pria tinggi itu hanya melewatinya setelah mengedipkan mata genit.

 

“Tugas pertama kalian, semoga sukses!”

 

Secepat itu?!. Jadi, saat inilah aku harus menjadi bagian dari mereka?!.

 

 

 

 

~To Be Continue~

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Way Out (Road Of Death) – Chapter 2

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s