[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 8)

LIT3

 

Love in Time

.

Title                 : Love in Time [Chapter 8]

Author             : Ariana Kim

Cast                 :

  • Kim Ara
  • Kim Jongin
  • Oh Sehun
  • Park Hana
  • etc

Genre              : Family, Romance, Angst, School Life

Rating             : PG

Length             : Chaptered

Summary         : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar? Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer       : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. FF ini pernah di publish di ffsekaiexo88.wordpress.com .

HAPPY READING J

.

***

.

“Sama seperti saat itu, aku tak bisa bergerak sedikitpun…”

.

***

.

 

Chapter 8

Ternyata Jongin benar-benar menjadikan Ara sebagai pacar pura-puranya, bahkan bisa dibilang ia ingin menjadikan Ara sebagai pacar yang sesungguhnya di depan teman-teman SMP-nya dulu. Lihat saja bagaimana Jongin menculik Ara begitu gadis itu bangun tidur dan membawanya ke salon untuk melakukan perawatan tubuh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ara sempat menolak namun kekuatan Jongin lebih kuat hingga akhirnya gadis itu mengalah, toh ia yang diuntungkan karena mendapatkan perawatan tubuh gratis.

Setelah membuat Ara bosan di salon seharian, lelaki itu membawanya ke salah satu butik terkenal di Seoul. Ia memilih gaun yang cocok untuk dikenakan Ara seolah-olah ia tahu segala hal tentang perempuan. Berkali-kali Ara keluar masuk kamar pas hanya untuk mencoba gaun yang beberapa kali ditolak oleh Jongin karena tidak cocok untuk Ara. Namun saat Ara mencoba salah satu gaun berwarna tosca itu, Jongin tersenyum dan menyuruh Ara untuk memakainya ke pesta.

“Kau bilang aku harus memakai ini?” Tanya Ara gamang. Ia memperhatikan pantulan dirinya di cermin dan mengerucutkan bibirnya. Tak habis pikir. Bagaimana bisa Jongin menyuruh Ara memakai gaun yang panjangnya hanya sepuluh senti di atas lutut dengan punggung yang terbuka? Model gaun itu tanpa lengan dengan bahu hingga punggung terbuka dan hanya ada tali tipis transparan yang melingkari bahu. Ini benar-benar sangat terbuka. Ara pasti akan masuk angin.

“Sudahlah. Kau cocok memakai itu.” Kata Jongin menepuk bahu Ara yang terbuka.

Ara menatap Jongin tajam, “Kau pasti sengaja merencanakan ini ‘kan?” tuduhnya.

Jongin gelagapan dan tertawa hambar, “T-tidak. Aku hanya ingin membuat Nahyun kecewa.” Jawabnya.

“Dan menjadikanku sebagai kambing hitam begitu?” Sindir Ara yang langsung melengos keluar dari butik, meninggalkan barang-barangnya yang akhirnya dibawa oleh Jongin.

.

.

.

Mereka sampai ke tempat tujuan lebih lambat tiga puluh menit dikarenakan jalanan yang macet. Jongin sampai takut jika ia tidak akan pernah sampai kesana dan teman-temannya menganggapnya sebagai pecundang. Tempat pesta itu berlangsung di sebuah villa di pinggiran kota Seoul yang mana perlu waktu satu jam perjalanan, itu pun jika tidak macet. Pesta itu bergaya minimalis dan sengaja berada di outdoor, dimana terdapat bunga-bunga yang cantik di sekelilingnya dan sebuah danau buatan tak jauh dari sana.

Jongin keluar lebih dulu dari mobil. Saat Ara hendak keluar, dengan sigap Jongin membukakan pintu untuknya dan menggandeng tangan Ara, membuat Ara menatapnya heran namun hanya diam saja. Mereka berjalan beriringan dengan tangan Ara yang merangkul lengan Jongin. Beberapa dari tamu yang sudah hadir menatap mereka dan berbisik-bisik. Ara agak risih karenanya, berbanding terbalik dengan Jongin yang tersenyum tipis.

“Apa mereka membicarakanku karena penampilanku aneh?” Tanya Ara, setengah berbisik pada Jongin.

Mata Jongin menatap sekeliling mereka dan tersenyum, “Tidak. Kau sangat cantik. Mereka hanya iri karena aku membawa gadis secantik dirimu ke pesta ini.” Kata Jongin yang sengaja memuji Ara namun ditanggapi sinis oleh gadis itu.

“Aku tahu aku memang cantik.” Jawa Ara percaya diri, “Eoh, apa dia mantan pacarmu? Shin Nahyun?” tanya Ara saat matanya melihat seorang gadis berambut sebahu dalam balutan gaun putih yang sangat cantik berdiri di tengah-tengah dengan digandeng seorang lelaki yang memakai tuxedo.

“Ya. Bukankah dia cantik?” tanya Jongin, sambil melonggarkan dasinya yang sedikit sesak. Ia tampak gugup.

“Sepertinya semua gadis kau katai cantik, yah walaupun Nahyun memang cantik. Aku heran kenapa kau mencampakkannya.” Kata Ara, membuat Jongin menoleh padanya.

“Darimana kau tahu jika aku mencampakkan Nahyun?” tanyanya bingung. Sepertinya ia tidak pernah mengatakan pada Ara jika ia mencampakkan Nahyun. Ia hanya bilang tidak ingin malu karena itu adalah pesta pertunangan mantan pacarnya.

“Aku membaca pesan di grup chattingmu. Mian.” Jawab Ara ringan diikuti cengiran di bibirnya, tak merasa bersalah sedikitpun.

“Yak, kau ini!” Jongin hampir saja ingin memarahi Ara namun ia ingat dimana ia sekarang tengah berada. Tidak mungkin ia merendahkan dirinya dengan memarahi seorang gadis di depan umum.

“Kenapa gadis secantik Nahyun kau campakkan begitu saja? Kau tidak menyesal?” Tanya Ara, penasaran dengan kisah percintaan Jongin.

“Yahh, kau taulah.. itu hanya cinta monyet.” Kata Jongin enteng sambil mengendikkan bahunya.

“Cinta monyet?” Ara bergumam, “Tentu saja, kalian hanyalah anak yang baru menginjak usia remaja, mana tahu arti cinta yang sesungguhnya.”

“Hei, kau bicara seolah-olah kau mengetahui apa itu cinta. Pacaran saja tidak pernah, berani sekali mengatakan hal itu.” Sindir Jongin yang membuat Ara sedikit marah.

Ara mengambil minuman yang disediakan di salah satu meja dan meminumnya hingga habis tak bersisa, “Setidaknya aku tidak pernah mempermainkan perasaan seseorang. Aku juga tidak pernah menyakiti mereka.”

“Itulah mengapa kau harus terapi lagi. Otakmu masih belum kembali seutuhnya.” Kata Jongin sambil menjitak kepala Ara, membuat Ara meringis dan harus merapikan kembali tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.

Dari arah belakang, tanpa mereka sadari datang seorang gadis yang sejak tadi mereka bicarakan. Gadis itu menepuk punggung Jongin pelan, membuat lelaki itu menoleh karena terkejut. “Kim Jongin?” Panggilnya pada Jongin dan sedikit tidak yakin.

“Oh, Nahyun.” Jongin gelagapan mendapati Nahyun berada di hadapannya saat ini. Ia pikir gadis itu tidak akan mendekatinya dan fokus pada acaranya sendiri.

“Lama tidak bertemu.” Ujar Nahyun mencoba berbasa-basi, “Siapa dia?” tanyanya saat matanya menangkap Ara yang berdiri di samping Jongin.

Mendengar itu Jongin tersenyum miring, “Dia Kim Ara, pacarku.” Katanya seraya mengenalkan Ara pada Nahyun. Dengan sengaja Jongin menarik tangan Ara dan menggenggamnya.

Nahyun nampak terkejut melihat tingkah Jongin, namun ia berusaha setenang mungkin. Ia mengulurkan tangannya, “Hai, Ara. Aku Shin Nahyun. Senang bertemu denganmu.” Katanya memperkenalkan diri. Senyuman tersungging di bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah, sangat kontras dengan kulitnya yang pucat.

Ragu-ragu Ara meraih tangan Nahyun dan menggenggamnya, “Iya, aku juga senang bertemu denganmu, Shin Nahyun.” Ucap Ara dengan bahasa yang formal. Ia tidak terlalu suka pada Nahyun walaupun secara fisik Nahyun itu cantik. Hanya saja, ada hal yang membuatnya sama dengan gadis-gadis kebanyakan. Dia tidak terlalu spesial. Mungkin itulah alasan Jongin mencampakkannya walaupun di sisi lain mungkin karena efek cinta monyet semata. Entahlah, Ara tidak mau peduli.

.

.

***

.

.

Hampir satu jam Ara hanya duduk diam di kursinya. Ia sengaja memilih tempat yang agak di sudut agar tidak terlalu menarik perhatian orang lain. Dilihatnya dari kejauhan Jongin yang tengah bercakap-cakap dengan teman-temannya. Ara menghembuskan nafas pelan, sepertinya Jongin akan lama dan rasanya ia sudah tidak kuat lagi berada di sana terlalu lama. Dilihatnya jam yang ada di ponselnya yang menunjukkan pukul delapan lebih tiga menit. Ara menguap beberapa kali, sepertinya ia sudah mulai mengantuk.

Sesaat matanya hampir saja tertutup namun sekelebat bayangan di depannya membuatnya terbuka kembali. Ia menegakkan tubuhnya dan menajamkan penglihatannya saat matanya menangkap siluet seorang lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Seketika itu juga Ara menatapnya dan lelaki itu balik menatap.

“Kim Ara..”

Dari tempatnya berdiri, Ara bisa melihat gerakan bibir lelaki itu yang menggumamkan namanya. Ara terdiam di tempatnya sambil memasang sikap siaga. Benar-benar hal yang buruk bisa bertemu dengannya di tempat seperti ini.

“Sedang apa kau disini?” tanya lelaki itu begitu ia sampai di depan Ara dan dengan percaya diri duduk berhadapan dengan Ara. Sehun memperhatikan Ara yang nampak cantik dalam polesan make up tipis dan tatanan rambut yang membuatnya kelihatan dewasa, terlebih gaun yang dikenannya sangat terbuka hingga memperlihatkan betapa putihnya kulit gadis itu. Sehun hampir-hampir tidak bisa mengontrol dirinya.

Ara masih diam, memikirkan kalimat yang pas untuk ia ucapkan, “Bukan urusanmu, Oh Sehun.” Akhirnya hanya kalimat itulah yang keluar dari bibirnya.

Lelaki yang ternyata adalah Sehun itu nampak menganggukkan kepalanya seolah mengerti dengan apa yang terjadi, “Jadi benar kau kesini bersama Jongin?” Pertanyaan Sehun itu lebih tepatnya sebagai sindiran. Ara diam, “Kau benar melakukannya?” ulangnya.

“Sudah kubilang jika itu bukan urusanmu.” Tegas Ara sekali lagi. Ia hendak bangkit namun kalimat yang keluar dari mulut Sehun selanjutnya benar-benar membuat Ara geram.

“Berapa banyak kau dibayar, huh?” tanya Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ara berhenti dan menatap Sehun tajam, “Jaga ucapanmu jika kau tidak tahu apapun.” Sekali lagi Ara menegaskan dengan tekanan di setiap kata-katanya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan agar bisa mengetahui semua tentangmu, Kim Ara?” Sehun ikut berdiri, dan kini mereka saling berhadapan.

Menatap tajam ke arah Sehun, Ara mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia menampar wajah lelaki brengsek itu sekali lagi, “Aku tidak perlu menjawabnya. Kuharap kita tidak perlu berbicara lagi!!” Tandas Ara dan hendak berlalu pergi.

“Hei, bukankah itu Kim Ara?”

“Mana? Kim Ara siapa maksudmu?”

“Kau tidak ingat gadis di kelas 1-A yang mendorong Ahn Mijoo, apa kau ingat?”

“Oh, jadi dia? Kenapa dia berani sekali datang kesini? Apa dia tidak punya malu?”

Sekali lagi langkah Ara terhenti saat telinga mendengar bisik-bisik tentangnya. Ara melihat sekeliling dan melihat beberapa gadis tengah bergerombol sambil mengatakan entah apa yang Ara tidak terlalu menangkap dengan jelas namun tatapan mereka tertuju pada Ara. Salah satu dari gadis-gadis itu sangat Ara kenal, namun Ara menajamkan pandangannya siapa tahu ia hanya salah lihat. Berkali-kali Ara melihatnya dan ternyata Ara memang mengenal gadis itu. Ia adalah Choi Yerim!! (Chapter 5)

Tanpa sadar Ara memundurkan langkahnya seolah ingin menghindari mereka. Namun semakin Ara membuat pergerakan, semakin gadis-gadis itu memperhatikan Ara dan menarik perhatian beberapa orang lainnya. Ara seolah ditampar oleh kenyataan yang baru disadarinya. Jongin bersekolah di SMP tempatnya dulu pernah menuntut ilmu, namun Jongin masuk beberapa bulan setelah Ara memutuskan untuk keluar dan memilih home schooling. Itu artinya semua yang ada disana adalah teman-teman Ara dulu, walaupun kebanyakan tak ia kenal tapi ada beberapa yang mengenalnya termasuk gadis-gadis itu.

Entah apa yang ada dipikiran Ara sekarang, namun gadis itu telah menghidupkan alarm kewaspadaan dalam dirinya dan ia hendak pergi dari sana. Tubuhnya sudah bergetar hebat dengan keringat yang muncul di pelipisnya. Itu adalah kebiasaan Ara saat ia tengah merasakan sesuatu yang menganggu dirinya. Jiwanya yang pernah terguncang seolah memasang perlindungan ekstra dengan mengirimkan sinyal-sinyal kewaspadaan tinggi yang kemudian direalisasikan oleh otaknya dengan sebuah pergerakan di tubuhnya. Ara tahu ia harus pergi dari sana sekarang. Matanya menatap sekeliling berusaha mencari Jongin namun lelaki itu seolah hilang ditelan bumi.

Dengan langkah tertatih-tatih sambil berusaha menghilangkan getaran hebat di tubunya, Ara berusaha melangkah. Namun baru beberapa langkah ia sudah tersandung high heels yang dikenakannya hingga ia jatuh terjerambab ke lantai. Ia berusaha bangkit namun tubuhnya seolah tak mampu untuk digerakkan sedangkan dari sudut matanya Ara melihat Yerim yang berjalan ke arahnya. Ara semakin ketakutan, ia ingin pergi dari sana sekarang.

Beruntung Sehun dengan sigap mendekati Ara dan membantu gadis itu berdiri. Begitu tubuh mereka sejajar, Ara langsung menenggelamkan seluruh wajahnya ke dalam jas yang dikenakan Sehun yang membuat Sehun terkejut dengan tindakan Ara. Ia membimbing Ara yang masih menyembunyikan wajahnya pada jasnya dan membawanya pergi jauh dari pusat pesta, dekat dengan danau. Cukup lama Ara berada dalam posisi itu, hingga membuat Sehun menyadari jika Ara menangis karena merasakan kemejanya basah. Sehun segera menarik kepala Ara menjauh dan menatapnya.

“Kau kenapa?” Tanyanya khawatir. Ia memperhatikan mata Ara yang masih terus mengeluarkan air mata walaupun tak ada isakan yang terdengar. Sebenarnya Sehun curiga saat melihat Ara yang bersikap tidak wajar. Terlebih saat gadis itu buru-buru untuk pergi namun terjatuh. Saat Sehun membantu Ara berdiri, bisa ia rasakan tubuh Ara yang bergetar dengan hebatnya. Sehun sendiri tidak tahu menahu mengenai kondisi Ara mengingat ia baru beberapa minggu yang lalu mengenal gadis itu. Itupun belum secara resmi mereka berkenalan.

“Aku ingin pulang.”

Terdengar cicitan kecil yang keluar dari bibir gadis itu. Sehun masih menatapnya, dia sangat kebingungan.

“Apa yang terjadi padamu, Kim Ara?” tanya Sehun sekali lagi. Namun Ara hanya menggeleng.

“Bawa aku pulang. Aku tidak ingin disini. Aku takut.” Kata Ara cepat. Matanya menatap penuh ketakutan ke tempat pesta masih berlangsung. Tubuhnya masih bergetar walaupun sudah tidak sehebat tadi.

“Tapi kenapa?” Sehun masih saja terus bertanya. Ia melihat peluh yang mengalir dari pelipis Ara dan jatuh ke tulang selangka gadis itu yang terlihat menonjol.

“Jongin, aku ingin pulang.”

Tubuh Sehun langsung membeku begitu mendengar Ara menyebut nama Jongin. Ia mundur beberapa langkah sambil mencoba meyakinkan dirinya jika ia tidak salah dengar. Kenapa Ara harus mencari Jongin jika saat ini ada dirinya yang bersedia untuk membantunya? Apakah Ara dan Jongin memang memiliki hubungan yang tidak ia ketahui?

“Aku akan mengantarmu.” Walaupun terkejut, Sehun tetap bersikap wajar. Ia melepas jas hitam yang dikenakannya dan menyampirkannya pada bahu Ara yang terbuka. Gadis itu pasti kedinginan terlebih musim dingin baru lewat beberapa minggu dan masih meninggalkan udara dingin.

Dengan telaten Sehun menuntun Ara berjalan menuju parkiran mobil dengan salah satu lengannya yang merangkul pundak Ara. Mereka berjalan beriringan tanpa ada siapapun yang melihatnya. Namun sebuah tangan besar menahan bahu Sehun dan membuat langkah mereka terhenti. Itu adalah Jongin.

“Kemana kau akan membawanya?” Tanya Jongin to the point. Sehun bisa merasakan nada tidak sedap dari kalimat yang dilontarkan Jongin padanya. Terlebih saat ia melihat perubahan raut wajah Jongin.

“Aku hanya ingin mengantarnya pulang.” Jawab Sehun seadanya. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan nada bicara Jongin dan berusaha bersikap sewajarnya saja. Ia tidak ingin menunjukkan ketertarikan yang lebih pada Ara. Apalagi jika Jongin sampai tahu.

“Memangnya dia kenapa?” Jongin bertanya sambil menyingkirkan tubuh Sehun agar menjauhi Ara dan melihat kondisi Ara, “Kau apakan dia?” tanyanya pada Sehun seolah menuduh jika Sehun telah melukai gadis itu.

“A-aku tidak melakukan apapun. Dia tiba-tiba saja menangis.” Jawab Sehun gagap. Ia tersinggung Jongin menanyakan hal itu padanya seolah memang dialah yang membuat Ara sampai menangis. Sehun hanya ingin menolong Ara kenapa Jongin malah marah-marah padanya?

“Kau tidak perlu repot-repot mengantarnya.” Kata Jongin dengan ketus dan mengambil Ara. Mereka segera pergi meninggalkan Sehun yang masih berdiri disana, menatap kedua orang itu keheranan.

“Apa Jongin menyukai Ara?” Gumam Sehun yang hanya dijawab oleh hembusan angin. Sehun menghela nafas panjang. Ia mengusap lengannya yang kedinginan walaupun tertutup oleh kain. Sebaiknya ia juga harus pulang jika tidak ingin tiba di rumah tengah malam.

.

.

***

.

.

Hari-hari terus berjalan tanpa henti, menyisakan seseorang yang setiap harinya hanya diisi dengan kesedihan dan kekosongan. Setiap waktu yang bergulir baginya terasa berat. Tak ada sesuatu yang bisa membuat hidupnya lebih berwarna. Tak ada seseorang yang bisa menyemangatinya, apalangi memeluknya setiap malam sebelum ia tidur. Ia merindukan semua itu. Ia ingin mengulang masa-masa indah. Ia ingin menceritakan pada seseorang betapa ia sangat merindukan seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Ia ingin ada seseorang yang mengerti perasaannya. Namun semua itu berakhir dengan kekecewaan karena semua orang sama saja.

Ara sudah mengemas semua bukunya ke dalam tas dan hendak pulang saat ponselnya bergetar. Ia melihatnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Jang Ahjussi. Ara mengerutkan keningnya, ia heran mengapa orang kepercayaan Ibunya tiba-tiba mengiriminya pesan, padahal sudah lama mereka kehilangan kontak. Dan lagi, tidak ada hal penting yang perlu disampaikan. Tak ingin terlalu penasaran, Ara pun membukanya. Ia mengerutkan kening saat melihat isi pesan pria itu. Wajahnya menyiratkan kebingungan begitu membaca isi pesan itu.

From : Jang Ahjussi

Nona, ini nomor yang kau inginkan. Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama. Semoga harimu menyenangkan.

0215-0017-XXXX

Ara tidak terlalu peduli dengan pesan itu. Ia tidak merasa pernah meminta apapun pada prita itu terutama untuk mendapatkan kontak seseorang. Lagipula untuk apa mencari nomor ponsel seseorang? Jelas sekali bahwa orang itu tidak menginginkan untuk dihubungi sehingga memutuskan kontak dengannya. Pikir Ara dalam hati. Namun sesaat, dirinya dilanda penasaran. Jadilah Ara menghubungi nomor itu, hanya untuk memastikan siapa pemilik nomor itu dan kenapa Jang Ahjussi memberikan itu padanya.

TUUUT

TUUUT

Terdengar nada sambung yang menandakan bahwa panggilannya sudah terhubung dengan nomor tersebut namun belum diangkat oleh pemiliknya. Ara meletakkan ponselnya di telinga kanannya sambil berjalan keluar dari kelas. Ia menunggu hingga bunyi nada sambung berakhir dan tak kunjung diangkat hingga panggilannya terputus. Menghela nafas panjang, Ara yakin jika itu bukanlah orang yang penting untuknya. Ia memasukkan ponselnya ke saku jasnya dan kembali berjalan.

Namun belum beberapa langkah, ponsel Ara berdering, membuat Ara harus menghentikan langkahnya. Diambilnya ponsel itu dan ia mengerutkan kening melihat ID pemanggil. Nomor yang barusan ia hubungi. Sesaat Ara ragu, namun akhirnya ia mengangkatnya.

“Yeobeoseoyeo…”

Ara bersuara sesaat setelah memencet tombol hijau. Tak ada jawaban dari seberang, yang terdengar hanyalah suara beberapa orang yang bercakap-cakap sebagai backsoundnya. Ara melihat kembali ponselnya dengan bingung.

“Ouh, halo. Ini dengan dr. Kim Jonghoon. Ada yang bisa saya bantu?”

Begitu mendengar suara dari seberang telepon, Ara tak bergeming. Ia terdiam bagaikan patung, tak bisa bergerak sedikitpun. Suara dari orang itu begitu familiar. Ara sangat mengenalnya karena selama ini ia merindukan suara itu. Apalagi saat orang itu menyebutkan namanya, Ara bertambah yakin jika ia adalah orang yang sama. Orang yang telah membuatnya menderita selama ini. Ayahnya!

“Halo.. Maaf ada yang bisa saya bantu?”

Orang itu kembali bersuara. Ara menutup mulutnya dengan sebelah tangannya agar isakannya tidak terdengar. Buru-buru ia menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan. Air matanya langsung mengalir deras begitu ia tahu siapa pemilik nomor itu. Semua perasaannya campur aduk kini, ia tidak menyangka jika Jang Ahjussi memberikan nomor ponsel Ayahnya padanya. Padahal ia sudah menekankan dirinya untuk tidak kembali berurusan dengan pria itu. Ara tidak ingin terhubung dengan pria itu selamanya. Ia tidak mau!!

Dari arah belakang, nampak Hana yang tengah berjalan seorang diri. Ia menghentikan langkahnya saat matanya menangkap Ara yang berdiri tak jauh di depannya. Senyum di wajah Hana langsung terbit karena ia menemukan waktu juga untuk bisa kembali dekat dengan Ara. Sejak beberapa hari yang lalu, Hana merasa ada yang aneh dengan Ara. Gadis itu kembali bersikap dingin padanya seperti saat pertama kali mereka bertemu. Namun Hana yakin, jika perubahan Ara itu karena suatu hal. Dan Hana ingin mencari tahu.

Hana melebarkan langkah kakinya dan sedikit berlari agar bisa secepat mungkin menjangkau Ara. Begitu sampai di dekat gadis itu, Hana berniat untuk mengejutkannya dengan menepuk punggungnya namun sesuatu yang ia lihat membuatnya mengurungkan niatnya. Tangannya terhenti di udara dan wajahnya menyiratkan kebingungan. Ia melihat Ara tengah menunduk, dengan air mata yang membahasi wajahnya yang kini sudah memerah. Jika dilihat dari jauh, memang tidak terlihat jelas karena Ara sengaja menutupi wajahnya dengan poni rambutnya yang sudah lumayan panjang.

“Kim Ara, kenapa kau menangis? Kau baik-baik saja?” Tanya Hana, sedikit gugup dan takut. Ini kali pertama Hana mendapati Ara tengah menangis. Biasanya gadis itu hanya memasang ekspresi datar.

Terkejut mendengar suara orang lain di dekatnya, Ara menoleh dan mendapati Hana tengah menatapnya. Buru-buru ia memalingkan wajahnya ke samping dan menghapus air matanya cepat, “A-aku baik-baik saja.” jawabnya cepat.

“Tidak. Kau tidak baik-baik saja, Ara.” Hana menyanggahnya, ia masih terus menatap Ara, “Beritahu aku siapa yang sudah membuatmu menangis, aku akan memberinya pelajaran.” Ucap Hana yakin. Ia hanya tidak ingin melihat temannya itu bersedih.

Ara menatap Hana tidak suka, mungkin tersinggung dengan ucapannya, “Kau yakin akan memberinya pelajaran? Apa yang akan kau lakukan? Memukulnya? Melaporkannya ke polisi? Atau- membunuhnya?” sindir Ara, yang membuat Hana tertegun.

“Bu-bukan begitu – “

Hana mencoba mengklarifikasi, namun Ara lebih dulu menyela, “Jika memang begitu, lakukan saja. Aku akan dengan senang hati melihatnya hidup menderita.” Ucap Ara dengan tegas lalu ia segera beranjak dari tempatnya berada.

Hana masih mematung di tempatnya berdiri. Ia melihat kepergian Ara namun tidak mencoba untuk mengejarnya. Ia masih memikirkan perkataan Ara barusan yang terdengar sangat kasar. Gadis itu pasti memiliki kebencian yang teramat sangat pada orang yang menyebabkannya menangis hingga ia berani berkata seperti itu. Tetapi Hana bingung, siapa orang itu? Siapa orang jahat yang telah membuat Ara menangis? Hana benar-benar ingin tahu segalanya tentang Ara. Gadis itu, seolah menyimpan semua bebannya seorang diri.

“Nona, kau harus menurut jika tidak ingin kami kasar.”

Terdengar suara lantang tak jauh dari Hana, membuat gadis itu menoleh dan terkejut melihat Ara yang tengah di hadang oleh dua orang pria bertubuh besar di depannya. Ara mencoba melawan dan melarikan diri, namun gerakan pria itu lebih cepat dan dengan segera mereka menangkap Ara, membawanya masuk ke dalam mobil walaupun sekuat tenaga Ara memberontak. Hana berlari untuk menolongnya saat melihat Ara menatapnya seolah ingin meminta bantuan, namun Hana kalah cepat karena pintu mobil itu langsung tertutup dan mobilnya menghilang di jalanan yang ramai. Hana menatap nanar ke arah hilangnya mobil itu, pikirannya berkecamuk.

.

.

Di sisi lain…

“Kau marah padaku?”

Tanya Sehun begitu ia berpapasan dengan Jongin di parkiran. Sehun mendekati Jongin yang hendak memakai helm dan menatapnya, menunggu jawabannya.

Jongin menatap Sehun sebentar lalu memakai helmnya hingga menutupi seluruh wajahnya, kecuali kedua matanya, “Tidak.” Jawabnya singkat. Ia menaiki motornya dan menyalakannya mesinnya.

“Tapi sikapmu menunjukkan jika kau marah padaku.” Sehun masih bersikukuh untuk berbicara dengan Jongin, “Apa karena aku ingin mengantar Ara waktu itu? Kau cemburu karena kau menyukainya?” Tuduh Sehun yang membuat Jongin mematikan motornya.

“Kenapa aku harus marah hanya karena itu?” Jongin melepaskan helmnya dan menatap Sehun tajam, “Ara tidak ada hubungannya denganku. Dia hanya menjadi pacar pura-puraku di pesta dan tidak lebih.” Jelas Jongin yang memang begitulah sebenarnya. Jongin berpikir, kenapa ia harus menyukai saudara kembarnya? Itu sangat tidak mungkin!

“Kenapa harus Ara? Ada begitu banyak gadis yang bahkan bersedia untuk kau jadikan pacar.” Sehun masih terus mencecarnya, mencari pembenaran, “Jika bukan karena kau menyukainya, lalu apa hubunganmu dengan Ara?”

Jongin terdiam, pertanyaan Sehun membuatnya bingung. Haruskah ia mengaku? “Kami tidak ada hubungan apapun. Lagipula, untuk apa kau tahu?”

“Aku menyukainya. Kim Ara – aku menyukainya.” Aku Sehun yang membuat Jongin mengacak rambutnya.

Masih menatap Sehun, Jongin menggertakkan giginya hingga menimbulkan bunyi, “Sudah kuduga.”

“Ne?” Sehun menatap Jongin bingung.

“Foto ini sudah menunjukkan segalanya, Oh Sehun.” Ucap Jongin, ia memberikan selembar foto pada Sehun yang langsung diterima oleh lelaki itu.

Sehun menatapnya dengan keterkejutan di wajahnya. Saat ia ingin mengutarakan rasa penasarannya, Jongin sudah lebih dulu pergi dengan mengendarai motonya. Sehun merobek foto itu hingga menjadi sobekan-sobekan kecil dan membuangnya sembarangan. Ia tidak bisa menerima semua perlakuan Jongin padanya. Sejak kapan Jongin berusaha mencampuri urusan pribadinya?!

.

.

***

.

.

“Apa yang kau rasakan?”

Seorang dokter pria yang kira-kira berusia hampir setengah abad, berdiri di samping seorang gadis yang tengah berbaring pada sebuah kursi panjang dengan mata yang tertutup. Dokter itu terus bertanya padanya, membuat gadis itu menggerakkan kepalanya dengan gelisah.

“Kim Ara, apa yang saat ini tengah kau lihat?” tanya dokter itu sekali lagi.

Gadis yang ternyata adalah Ara, masih dengan mata yang terpejam berusaha menggerakkan mulutnya yang terasa kaku. Keringat dingin mengurur melalui pelipisnya dan kepalanya bergerak tak tentu arah.

“Aku melihat darah, air mata dan kesedihan.” Jawabnya terbata-bata, “Aku ada disana, menangis dan menangis, tapi tidak ada yang mendengarku.”

“Siapa yang kau tangisi?” Dokter itu kembali bertanya.

Ara menajamkan penglihatannya melalui alam bawah sadarnya. Ia memang berada di sana, berdiri di depan ruangan operasi seorang diri. Dia hanya memakai pakaian rumahan yang sudah kusut dengan penampilan yang berantakan pula. Rambut panjangnya yang terurai bergerak tak tentu arah diikuti dengan dirinya yang berusaha masuk ke dalam ruang operasi itu. Tak jauh darinya, duduk seorang wanita paruh baya yang sejak tadi menangkupkan kedua tangannya, berdoa pada Tuhan. Di samping wanita tua itu, seorang anak lelaki sebaya dengannya hanya terdiam, sambil terus menatap dirinya yang tengah meraung-raung. Lelaki itu adalah Jongin, dia hanya diam seribu bahasa, dengan wajah datar dan ekspresi yang sulit diartikan.

Terus mendobrak pintu besi itu, akhirnya Ara berhasil membukanya walaupun tangannya terasa sakit. Ia segera berlari masuk ke sana dan melihat dokter dan perawat yang nampak menundukkan kepalanya. Bunyi biip yang konstan dan datar yang berasal dari mesin yang ada disana berbunyi hingga memekakkan telinga Ara. Dan saat dokter hendak menutup wajah orang yang terbaring di atas ranjang pesakitan itu, Ara sempat melihat wajah orang yang begitu dicintainya. Ara melihatnya. Bagaimana pucatnya wajah itu, bagaimana wajah itu diliputi dengan kesedihan dan kesakitan, dan bagaimana wajah itu dulu menunjukkan kehangatan padanya. Ara masih ingat, saat-saat dimana wanita itu memeluknya setiap saat, membacakannya dongeng sebelum tidur, menenangkannya saat ia menangis dan tersenyum bahagia saat ia berhasil mendapatkan juara satu. Ara masih ingat semua itu. Ara masih mengingat Ibunya.

“IBU!!!”

Pekik Ara begitu keras diikuti dengan keadarannya yang telah kembali. Walaupun ia sempat di hipnotis oleh dokter itu, Ara tidak merasakan apapun kecuali hatinya yang begitu sesak oleh kenangan masa lalunya. Ara bangkit dan melompat turun dari kursi itu, diambilnya ranselnya dan ia langsung berlari keluar dari ruang konsultasi tersebut. Dokter yang melihatnya sempat mengejarnya namun kehilangan jejak Ara yang berlari seperti orang kesetanan.

“Nyonya, cucu Anda melarikan diri.” Kata dokter itu sesaat setelah ia menelepon seseorang.

.

.

.

Ara terus berlari tak tentu arah. Nafasnya sudah tersengal-sengal dan nyaris putus-putus. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya dan rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai itu sudah kusut. Ara masih terus berlari, hingga ia tersandung kakinya sendiri dan jatuh terjerambab ke lantai. Wajahnya lebih dulu mengenai lantai dan membuatnya meringis kesakitan. Ara mencoba bangkit, namun tenaganya seolah sudah lenyap. Ia menangis, masih dalam posisinya berbaring di lantai.

Entah kebetulan ataupun sebuah takdir, terlihat dari kejauhan Sehun yang tengah berjalan bersama seorang wanita muda. Saat mereka melewati salah satu koridor, mata Sehun menangkap seseorang yang begitu familiar baginya. Segera Sehun berlari mendekatinya meninggalkan wanita yang tadi bersamanya. Saat Sehun sampai di tempat itu, ia begitu terkejut melihat Ara yang menangis meraung-raung.

“Astaga, Kim Ara.” Pekik Sehun sambil mengangkat tubuh Ara. Ia menundukkan Ara pada bangku panjang di sebelahnya dan menatap gadis yang masih terus menangis. Nampak pipi sebelah kiri Ara yang lebam akibat terjatuh.

“Sehun, kau mengenalnya?” Tanya wanita yang tadi bersama Sehun.

Sehun mengangguk, “Dia temanku, Noona.” Jawabnya, ternyata wanita muda itu adalah kakak perempuan Sehun, Oh Seohyun.

“Kenapa dia sampai tiduran di lantai rumah sakit begitu?” Tany Seohyun keheranan. Ia menatap Ara penuh keprihatinan.

“Ibu…”

Rintih Ara, tak menyadari ada dua orang di sampingnya yang tengah memperhatikannya. Posisi Ara yang bersandar pada bahu Sehun, membuat Sehun bisa merasakan tubuh gadis itu yang bergetar. Sehun seolah kembali pada kejadian di pesta beberapa hari yang lalu.

“Ara, aku akan mengantarmu pulang.” Ucap Sehun dan mencoba memapah Ara, namun Ara tak menggerakkan tubuhnya.

“Aku benci hidupku.” Ucap Ara spontan yang membuat Sehun dan kakaknya saling berpandangan tidak mengerti, “Aku ingin mati saja dan menemui Ibu.. Aku merindukan Ibu.” Sambungnya.

Sehun dan kakaknya semakin kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika terus membiarkan Ara seperti ini, keadaannya semakin memburuk. Sebaiknya Sehun harus segera memulangkannya.

“Kau tahu dimana rumahnya?” Tanya Seohyun saat mendengar keputusan adiknya.

Sehun menggelengkan kepalanya lemah, “Tidak. Mungkin aku harus bertanya pada Han Songsaenim.”

.

.

.

“Benarkah ini rumahnya?” tanya Sehun tidak yakin saat mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah di kawasan elit. Sehun mengecek GPS-nya dan ternyata alamatnya tidak salah. Ia keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang dimana Ara dan kakaknya berada.

“Bawalah dia masuk, aku akan menunggu disini.” Kata Seohyun.

Sehun hanya mengangguk dan memapah Ara. Gadis itu hanya diam tak melakukan perlawanan. Namun saat mereka hampir mencapai gerbang utama, Sehun mendadak menghentikan langkahnya. Ia seakan ditampar oleh kenyataan. Bukankah itu rumahnya Jongin?

“Kim Ara, ini benar rumahmu?” tanya Sehun memastikan.

Ara yang seolah kembali ditarik pada kehidupan nyata menoleh pada Sehun dan buru-buru menjauhkan dirinya dari lelaki itu. Ara menatap rumahnya dan Sehun bergantian. Ia baru sadar jika Sehun mengantarnya ke rumah, “Tentu saja. Terimakasih sudah mengantarku.” Jawab Ara cepat kemudian ia hendak membuka gerbang.

“Tapi ini rumah Jongin.” Sehun berkata dengan ragu. Hampir-hampir tak yakin dengan kenyataan yang dihadapinya.

“Memang.” Jawab Ara acuh tak acuh. Entah ia sadar atau tidak, tapi ia sudah membuka kartunya sendiri.

Sehun menatap Ara keheranan, “Kau dan Jongin tinggal serumah?” Ara hanya diam, tak menjawab, “Kim Ara, siapa kau sebenarnya?”

.

.

***

.

.

Begitu masuk ke dalam rumah, ia langsung disambut oleh Jongin. Lelaki itu menatap Ara dengan pandangan yang berbeda, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Ara diam di tempatnya, menunggu Jongin untuk berbicara.

“Siapa Ahn Mijoo?” Tanya Jongin yang membuat Ara hampir terjungkal ke belakang. Matanya membulat sempurna diikuti dengan tatapan tidak percaya yang ia berikan pada Jongin, “Aku bertanya padamu, siapa Ahn Mijoo? Kenapa teman-temanku mengatakan jika kau dan dia saling kenal?” Tanyanya sekali dengan penekanan di setiap katanya.

Ara ragu menjawab, “D-dia temanku. Kami sekelas saat kelas 1 SMP.”

“Kenapa kau mendorongnya dari tangga?” Jongin terus mencecar Ara dengan berbagai pertanyaan.

“Itu tidak disengaja. Dia yang duluan memulainya.” Jelas Ara.

“Hingga dia  koma selama sebulan? Kim Ara, aku tidak tahu setan apa yang merasuki dirimu!! Aku merasa malu memiliki saudara kembar sepertimu!!” Jongin berkata dengan nada lumayan keras, membuat jantung Ara hampir terlepas dari tempatnya.

Bukan karena suara Jongin. Bukan. Hanya saja, kalimat kejam yang dilontarkan oleh Jongin padanya, membuatnya serasa jatuh ke jurang terdalam. Kata-kata itu tajam menggores hatinya yang sebelumnya sudah tercabik-cabik, meninggalkan bekas menghitam yang tak akan pernah hilang selamanya. Ara semakin memundurkan langkahnya hingga punggungnya menabrak dinding.

“Itu sebabnya aku menyuruhmu untuk terapi sampai kau benar-benar sembuh.”

Terdengar suara Nenek yang melangkah turun dari lantai atas. Ia berdiri di tangga dan menatap kedua cucunya. Nenek melangkah mendekati dan menatap Ara.

“Kudengar kau tidak datang kemarin. Lalu hari ini, kau melarikan diri saat terapi tengah berlangsung?” Tanya Nenek, membuat Ara semakin terpojok.

Ara menatap Jongin nyalang. Ia mempertanyakan janji Jongin melalui tatapan matanya. Bukankah Jongin sudah berjanji akan mengatakan pada Nenek untuk membatalkan terapinya? Kenapa sekarang Jongin mengingkari janjinya hingga dia Nenek sampai mengirimkan dua bodyguardnya untuk memaksa Ara ke rumah sakit. Ara tidak segila itu!!

“Kau ingin membuatku cepat mati, Ara??!!!!” Teriak Nenek saat tak mendapatkan jawaban dari Ara. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang teramat sangat.

Emosi yang sejak tadi Ara pendam kini muncul kembali ke permukaan. Ara menatap Nenek dan Jongin dengan tatapan penuh kesedihan. Ia tidak mengerti kenapa semua hal yang ia lakukan selalu salah di mata mereka? Kenapa mereka tidak mencoba untuk mencari tahu kebenarannya dan hanya menyalahkan dirinya? Ara tidak butuh pembenaran, ia hanya butuh dimengerti. Ia hanya ingin ada seseoang yang setidaknya tahu akan perasaannya yang sesungguhnya.

“Apa kalian tidak mengerti? Terapi hanya membuatku mengingat kembali masa-masa suram itu. Aku yang sekuat tenaga mencoba melupakannya, menghapusnya dari ingatanku.. tapi sekali aku melakukannya, aku akan kembali mengingat. Aku akan mengingat kembali saat mereka berpisah, semua hal kejam yang dilakukan olehnya hingga membuat Ibu menderita. Aku akan mengingat sesakit apa penderitaan Ibu. Aku akan gila jika mengingat semua itu!!” Ara memegang kuat-kuat kepalanya, rasanya ia ingin meledak, “Kalian hanya tidak mau mengerti!!”

“Kau bilang kami tidak mengerti?” Jongin bersuara, suaranya nampak bergetar, “Jika kami tidak peduli padamu, kami tidak akan melakukan semua ini padamu. Kami hanya ingin kau sembuh dan kembali seperti semula.” Tegas Jongin.

Air mata keluar dari pelupuk mata Ara, menyiratkan betapa sakit hatinya saat ini, “Aku tidak butuh semua itu. Sekalipun aku sudah sembuh, aku tidak akan kembali seperti dulu lagi. Semuanya tidak bisa diubah seperti dulu lagi.” Rintihnya, suanya nyaris tak terdengar, “Aku hanya ingin hidup normal. Lagipula, aku tidak gila, Nenek. Justru karena kalianlah aku jadi seperti ini!!” Sambungnya. Ia melangkah menaiki tangga, namun Jongin menghentikannya.

“Berhentilah hidup seolah kau yang paling menderita di dunia ini. Peceraian itu, bukan hanya kau tersakiti ataupun Ibu, tapi aku juga.” Jongin berkata dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau terlalu larut dalam kesedihanmu dan melupakanku. Seharusnya aku yang marah padamu!!”

Ara tidak mengerti kemana arah pembicaraan Jongin. Ia yang tidak tahu apapun, harus dihadapkan pada situasi seperti ini, saat dimana seluruh dunia seakan menentangnya. Memangnya apa salahnya??!!

“WAE??!!! Kau tidak tahu apapun mengenai hidupku!!” Teriak Ara, wajahnya merah padam, “Bukankah kau malu memiliki saudara kembar sepertiku? Aku akan pergi jauh jika kau menginginkannya.” Ucap Ara tegas sambil meraih sebuah vas bunga di atas meja kecil. Ia memukulkannya pada pegangan tangga hingga vas itu pecah dan hanya tersisa ujung atasnya saja yang tajam.

“Ara, apa yang akan kau lakukan?” Nenek terkejut melihat perbuatan cucunya. Ia melangkah mendekat.

“Berhenti atau aku akan membunuh diriku sekarang juga!!” Ancamnya.

Nenek berhenti dan menangis. Ia terus menyuruh Ara untuk menghetikan perbuatan bodohnya.

“Kim Ara, kau pikir aku takut? Silakan saja bunuh dirimu sendiri!!” Jongin maju selangkah dan menantang Ara, membuat Ara sedikit ragu.

“Kau benar-benar ingin aku mati?” tanyanya gamang, tak percaya Jongin tega melakukan itu padanya.

“Silakan saja.” Jongin dengan cepat maju mendekati Ara, “Tapi tidak hari ini.”

Ia segera mengambil sisa vas yang ada di tangan Ara dan melemparnya entah kemana, menimbulkan bunyi prang yang nyaring. Beruntung para pelayan sudah pulang sehingga tidak ada yang menyaksikannya selain mereka bertiga. Jongin berhasil membuat Ara melepaskan vas itu, namun keseimbangan mereka hilang hingga akhirnya mereka berdua terlepeset dan jatuh berguling-guling menuruni tangga. Nenek memekik melihat kedua cucunya berbaring dengan mata terpejam, darah mengalir dari kepala mereka berdua.

.

.

.

TBC~

Holla~ Ariana Kim comeback dengan chapter 8 J aku harap masih ada yang nungguin ya J

Kalian pasti berpikir kenapa chapter ini panjang banget? Iya, kan? Aku juga sempet bingung apa mau aku jadikan dua chapter aja.. tapi kok aneh aja, jadilah chapter 8 yang panjang dan penuh dengan kegajean.. Maafkan aku kalo feelnya gak dapet. Tapi percayalah aku baper bikin chapter ini, apalagi sambil dengerin lagunya Yeye yang baru itu.. wkwk *abaikan curcolan author.

Okelah, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ffku yang absurd ini. Tungguin chapter selanjutnya ya 😉

Ariana Kim :*

Iklan

21 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 8)

  1. kok diriku lebih milih jong-ara ya:v
    maap kak baru komen di chap ini. soalnya pas kemaren” mau komen dichap sebelumnya kayak error gitu internet di hp diriku.hehe
    apa kabar chanbaekyian? kangen chanbaek
    goodluck ya kakk

  2. Feelnya dapet kok. Aduh, si kamjong sama neneknya kok gak mau ngertiin perasaan si ara sih. Kan kasihan.

    Semangat terus ya nulisnya. Jangan lupa jaga kesehatan.

  3. Kasihan ara dia mau lupain semua masa lalu-nya tapi dipaksa kembali untuk mengingat semua nya. Apa sehun akan tau kalau jongin sama ara saudara kembar ? Thor aku tuh pingin banget jongin tau seberapa menderitanya ara selama ini kasihan ara selalu menyimpan kenangan buruk yang gak jongin tau.
    Semoga mereka baik-baik aja jangan tukar tubuh mereka lagi ya thor ?
    Update nya jangan lama-lama ya thor gak sabar nunggu kelanjutannya lagi.

    • Iya kadang orang itu gak mau ngertiin hal-hal kayak gitu.. Nanti lama-lama jongin juga tau apa yang dialami ara.. tapi kayaknya mereka bakal ketuker lagi deh *kuasa di tangan author #plak 😀 Tungguin aja next chapnya 🙂
      makasih ya udah mau nyempetin waktunya untuk baca ff ku ^^

  4. thor ini sumpah keren banget. kasian ara ny, penasaran bgt sama chp selanjut ny kyk gimn. jongin ama ara bkl ketuker lagi ya? thor bikin jongin tau dong tentang semua masalh ara dan jadi simpati sama ara biar dpt feel ny. tapi di chp ini ak juga udh lumayan dpt kok feel ny hehehe mangat ya author lanjutin ny. Fighting!!! Next.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s