[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 13

IMG_20170305_172231

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 13

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

 

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

Hyojin menghela nafas, untuk yang ke… entahlah, seratus kali mungkin?.Hyojin tak pernah menghitungnya, bahkan tak memperhitungkan orang-orang disekeliling yang turut merasa lesu setelah melihatnya.

 

“Taruhan lima puluh ribu, mereka putus!” suara Jong In berbisik dibelakang gadis itu.

 

Sehun menggeleng, mengangkat kesepuluh jarinya kehadapan Jong In, “Seratus ribu, aku yakin mereka bertengkar karena sesuatu.” Timpalnya, mengeluarkan selembar uang dengan nominal yang ia katakan kepada sahabatnya tadi.

 

“Lima ratus ribu!, dan biar kuhancurkan jari kalian satu per satu!” seru Hyojin yang tak tahan dengan lelucon teman-temannya, “Bukannya ini saat yang tepat untuk menghiburku ya?” sindirnya kemudian, menunjukkan pada Sehun dan Jong In betapa risau dirinya sejak kejadian beberapa hari yang lalu, dimana dia dan Park Chanyeol berselisih seperti orang gila dan dengan bodohnya menyebut soal Bang Yongguk dan perasaannya terhadap Hyojin.

 

Padahal selama ini gadis itu sudah berhati-hati menghadapi rasa suka Yongguk padanya.

 

“Kau perlu hiburan?” tanya Jong In basa-basi.

 

“Entah kenapa kalau kau yang bertanya, jadinya terdengar ambigu ya?”Sehun justru meledek pria berkulit kecoklatan disampingnya.

 

Wajah Jong In merengut, “Apa?Kenapa? Memangnya apa yang salah?!” kesalnya.

 

“Saat kau bertanya ‘perlu hiburan?’ terdengar seperti paman mesum yang menggoda gadis SMA.” Jawab Sehun dan Hyojin bersamaan karena sepemikiran.

 

Tak lama keduanya melakukan high five, tertawa datar kemudian memasang ekspresi dingin. Yang satu karena sedang dalam keadaan mood yang buruk, dan yang satu karena memang punya wajah seperti itu, wajah tipe poker face yang digilai banyak wanita.

 

“Dasar menyebalkan -OH ITU BANG YONGGUK!”

 

Teriakan Jong In membuat orang-orang di koridor menatapnya heran, sementara Hyojin dan Sehun justru menoleh kearah yang ditunjuk pria itu.Hyojin yang kelewat antusias berubah lemas ketika teriakan Jong In cuma omong kosong belaka, yang dia buat untuk membalas dua sahabatnya.Buktinya, tak ada Bang Yongguk, hanya Jong In yang tertawa puas dan Hyojin segera menendang tulang kering pria tersebut dengan emosi.

 

“Sudah berapa hari pria itu menghindarimu?” tanya Sehun mencoba mengalihkan amarah gadis yang kembali mengenakan kacamata lamanya tersebut.

 

Hyojin memijit pelipisnya, “Kemarin lusa waktu kejadian, kemarin ketika aku mencoba menjelaskan, serta hari ini saat aku berusaha untuk menemukannya.” Ujarnya tanpa memperhatikan lawan bicaranya, melihat lantai yang entah kenapa jadi lebih menarik untuk dilihat dari biasanya, seperti foto Gong Yoo dan Lee Dong Wook menempel disetiap ubin yang ia pijak.

 

“Oh iya!” gadis itu tiba-tiba berseru, mengingat sesuatu yang harusnya ia pastikan pada Sehun sejak dia mendengar percakapan antara Chanyeol dan kakaknya waktu itu.

 

‘…A-apa? Oh Sehun?. Untuk apa dia mencari tahu tentangmu?…’

 

“Langsung saja, apa kau menyukai Yoora eonni?”

 

“Hah?”

 

“HAH?!”

 

Bukannya Sehun, respon Jong In justru terlihat lebih mencurigakan padahal pertanyaan itu bukan untuknya. Gadis itu mulai curiga kepada Jong In, bahwa alasan Sehun mencaritahu soal Yoora adalah perintah dari Jong In yang sedang kesepian, merana, galau karena cintanya yang kandas pada nona Kim.

 

“Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu?”

 

Hyojin mengalihkan tatapannya pada Sehun, “Kau mencari informasi tentangnya, jadi bagaimana aku tidak berspekulasi begitu?” jawab sekaligus tanyanya balik.

 

Ia menambahkan, “Sebenarnya ada asumsi lain, mengapa kau tiba-tiba ingin tahu soal Yoora eonni, tapi aku tidak ingin mengakuinya, aku berharap itu salah bahwa hal yang tidak aku ketahui… adalah sesuatu yang buruk.” Sambil menatap intens sahabatnya.Sehun terdiam, tak dapat mengatakan apapun karena tak ingin Hyojin semakin kepikiran, mengingat betapa banyak masalah yang tengah gadis itu hadapi saat ini.

 

Sehun hanya ingin membantu, bermaksud meringankan beban sahabatnya tersebut secara diam-diam. Walau dia tahu kalau yang ia lakukan sekarang tak jauh berbeda dengan sikap Hyojin dulu, menyembunyikan masalahnya lalu lebih memilih untuk menanggungnya sendiri. Tapi sekarang berbeda, jika Hyojin tak mau mengatakannya, maka Sehun -serta Jong In, bila mampu- yang akan membantu mengatasinya, baik dengan atau tanpa persetujuan gadis itu.

 

“Berhenti bicara bertele-tele dan jelaskan padaku maksud kalian.” Potong Jong In, menghentikan adegan saling menatap antara Sehun dan Hyojin, “Jadi si ‘Yoora eonni’ itu pihak baik atau jahat sampai Sehun harus mencari informasi tentangnya?.Atau tuan Oh ini hanya ingin stalker-ing calon kekasihnya?”

 

“Tentu saja Yoora eonni orang baik!” sentak Hyojin.

 

“Kenapa kau bisa beranggapan begitu?”Jong In mengulangi pertanyaan Sehun yang sebelumnya, bicara dengan nada dingin yang dibuat-buat.

 

Hyojin berpikir sejenak sebelum menjawab, “Karena dia membelikanku makanan.”Lugas, tegas, dan penuh keyakinan.

 

“Jadi kau berteman dengan kami karena mentraktirmu makan?” ucap Jong In setengah tak percaya seraya mengingat pertemuan pertama dirinya dan Sehun dengan Hyojin yang disebabkan oleh makanan.

 

“Iya, setelah kau memberikanku kimbab dan Sehun membayarkan cup ramyeon di minimarket, aku sudah menganggap kalian sebagai teman.”

 

Sehun merangkul Jong In yang hampir melayangkan tinjunya, membawanya pergi menjauh dari Hyojin yang memasang wajah lugu, mengatakan padanya bahwa dia akan mentraktir Jong In makan siang, berdua, tanpa gadis bernama Lee Hyojin, terlebih menu utamanya adalah daging sapi panggang.

 

“Yak!tunggu aku!” pekik Hyojin, “Aku juga mau makan hanwoo!”

 

“Setidaknya biarkan aku memukul kepalanya sekali, ya?” pria berkulit kecoklatan itu mencoba untuk melepaskan rangkulan Sehun, tapi gagal.

 

***

 

“Yongguk-ah~ kumohon~”

 

Yongguk menghela nafas panjang sebelum akhirnya menanggapi gadis yang sejak tadi mengekorinya kemana pun ia pergi, tak kenal lelah meminta maaf seraya menjelaskan pada pria bertubuh tegap itu sampai Yongguk setidaknya mau menatapnya langsung, bukan mengabaikannya terus.

 

“Memohon untuk apa? Memangnya apa salahmu?”

 

Meski bicara ramah demikian, Hyojin masih merasa tak enak pada pria bekas musuhnya itu karena sudah berpura-pura tidak mengetahui perasaannya dan malah membahasnya -sebenarnya bertengkar- di koridor dengan pria yang tidak ingin Hyojin sebutkan namanya atau bahkan bertemu lagi-

 

“Hai semuanya!”

 

Baru saja dipikirkan sudah muncul, batin Hyojin, kesal.

 

Chanyeol melewati Jun Hong dan Himchan yang sedari tadi duduk diatas meja, memperhatikan pria yang menjadi salah satu ‘pelaku’ yang membuat suasana hati Yongguk tak baik itu sambil menyesap es krim rasa buah dengan santainya.

 

“Selamat pagi Bang Yongguk!” sapanya pada pria yang semakin sebal akan keberadaan pasangan itu didekatnya.

 

“Oh, pukul setengah satu termasuk pagi ya?” sarkas Hyojin tanpa menoleh.

 

Chanyeol mendengus, “Tidak tahu soal AMPM ya?.Urusanmu kalau aku bilang sekarang itu pagi?” balasnya pada Hyojin.

 

Hyojin menghadap Chanyeol, menaik-turunkan kacamatanya seolah berusaha mengenali pria didepannya, “Oh, maaf, anda bicara pada saya?”

 

“Oh, tidak, saya bicara pada tembok.” Kata Chanyeol, pun menggunakan bahasa formal.

 

“Baguslah, baik-baiklah terhadap tembok, semoga hubungan kalian berjalan baik.”

 

“Wah!, tentu saja!, tembok bahkan lebih mengerti bahasa manusia ketimbang manusia itu sendiri!”

 

“Benar sekali!, apalagi manusia bermarga Park, nama belakang Chanyeol. Oh, tunggu, memang dia manusia? Haha!”

 

“Kau…” Chanyeol tak dapat meneruskan ucapannya, kebingungan, lalu mendapat ide untuk membalas ‘kata-kata pintar’ Hyojin, “…benar.Aku bukan manusia, tapi pangeran berkaki panjang, berwajah tampan, berotak cerdas.”

 

“Kau mabuk?Atau seseorang sudah mencekokimu narkoba?”

 

Bukan, ledekan yang terakhir bukan dari Hyojin yang kini malah menatap Chanyeol jijik, melainkan Jun Hong yang bicara tanpa beban sambil menghabiskan es krim yang belum habis itu.Bahkan Himchan yang duduk disampingnya tak bisa mengatakan apapun selain melotot sambil menganga dengan potongan es krim dimulutnya.

 

“Dia bilang jangan dekati Hyojin supaya tidak tertular kegilaannya… tapi dia sendiri…” gumam Himchan kemudian.

 

“Sudah, yang tidak berkepentingan cepat pergi.Atau kalian berniat bertengkar di kelas orang?” lerai Yongguk, mengusir Chanyeol-Hyojin secara halus.

 

“Yongguk-ah~ aku minta maaf -meskipun sepenuhnya bukan salahku-, ya?”Chanyeol mengeluarkan jurus imutnya, menggelayut manja pada lengan Yongguk yang bebas.

 

Hyojin segera menyingkirkan Chanyeol dari tubuh Yongguk, “Kau pikir Yongguk suka diperlakukan seperti itu olehmu?!” sentaknya seraya meraih lengan Yongguk yang tadi dipegang Chanyeol, “Yongguk-ah, maafkan kesalahanku yang kemarin ya?, kau, maksudku, kita… akh! Intinya aku minta maaf!”

 

Yongguk melepaskan tangan Hyojin kemudian memegang kedua bahu gadis itu dengan erat, “Tak masalah oke?, lupakan soal kemarin, anggap tidak terjadi apapun dan tak ada yang kau ketahui mengenai diriku, oke?”

 

“Sebenarnya aku masih merasa tak enak terhadapmu…” Hyojin menunjukkan ekspresi bersalah, “Tapi okelah!” lanjutnya sumringah.

 

“Kudengar kalian putus, semoga bertahan lama.” Ujar Yongguk kemudian.

 

“Kami sudah putus apanya yang bertahan lama?” tanya Chanyeol, tiba-tiba merasa kesal.

 

Yongguk menyeringai, “Berakhirnya hubungan kalian.Dan Hyojin-ah, apabila pria ini sudah tidak berguna untukmu, katakan padaku, aku bisa menghabisinya dalam satu pukulan.Lalu kau… kau bisa datang kepadaku saat itu, kapan pun.”

 

Pipi Hyojin bersemu merah, antara malu dan tersipu pada ucapan manis yang jarang dia dapatkan dari seorang pria, terlepas dia suka atau tidak pada Yongguk, setidaknya dia merasakan kesungguhannya, berharap Yongguk tak seperti Chanyeol yang menghasilkan kecurigaan meski Hyojin tak ada niat untuk berkencan dengan Yongguk.

 

“Sudah kan?” tanya Chanyeol, menginterupsi. “Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ia menarik tangan Hyojin dan langsung ditepis.

 

“Bicara saja disini.” Ketus gadis itu.

 

Chanyeol tak acuh dan kembali menggamit lengannya, “Ini soal niat asli kita, pembicaraanku dengan Yoora noona dan maksud perkataanmu tentang rencana Jung Yong Hwa.”Ia bicara dengan serius, membuat Hyojin mau tak mau menuruti kemauannya.

 

***

 

“Jadi… ada apa?” tanya Hyojin yang jenuh dengan kesunyian yang Chanyeol buat setelah menyeretnya ke taman belakang kampus, tempat yang cukup sepi untuk saat ini karena kebanyakan mahasiswa memiliki jadwal kelas dan sedang masa ujian.

 

“Bisa kita saling bicara jujur mulai sekarang?”

 

“Tentang apa?”

 

Chanyeol mendengus, kesal karena Hyojin harus membuatnya menjelaskan hal yang harusnya sudah sama-sama mereka ketahui, apalagi kalau bukan soal niat awal mereka menjadi kekasih dan menjalani hubungan pura-pura itu.

 

“Alasan kau memintaku menjadi kekasih, rencana Jung Yong Hwa, dan maksud pembicaraanku dengan Yoora noona. Yak! bukannya sebelum kemari aku sudah mengatakannya sejelas mungkin untukmu?!”

 

Hyojin menutup telinganya, “Oke, oke aku paham!. Tidak usah pakai teriak pula!” protesnya, membalas bentakan Chanyeol yang membuatnya ikut sebal. Namun dia masih terdiam, tak mau menjadi orang pertama yang menjelaskan karena alasannya pasti lebih konyol dari Chanyeol, setidaknya itu yang Hyojin pikirkan. Toh, melindungi Chanyeol dari kekejaman Lee Dae Ryeong sama sekali tidak menguntungkan Hyojin, sebenarnya. Hal itu Hyojin lakukan atas dasar rasa sukanya pada pria tinggi itu, juga, kekhawatiran yang apabila diungkapkan mempunyai arti bahwa Hyojin masih memiliki perasaan pada Chanyeol.

 

Dan dia tidak mau pria bermarga Park itu besar kepala karenanya.

 

“Kau duluan!”

 

Chanyeol terkejut, “Tidak, tidak, kau yang duluan!”

 

“Hei! Bukankah laki-laki yang harus bertindak lebih dulu?”

 

“Tidak pernah mendengar istilah ladies first apa?”

 

Hyojin berdecak, bukannya tidak bisa membalas ucapan Chanyeol, tapi jika dia terus melanjutkan perdebatan konyol ini, maka sampai matahari tenggelam pun mereka tak akan bisa mengatakan alasan masing-masing.

 

“Oke, oke, aku duluan dasar manusia tiang!” Chanyeol hendak membalasnya lagi namun Hyojin buru-buru memotongnya, “Aku melakukan itu… untuk…” pria itu mulai tak sabaran tapi tetap menunggu.

 

“…melindungimu dari Presdir Lee, kakekku.”

 

Chanyeol bergeming, tak tahu bagaimana meresponnya. Dia tak menyangka kalau Hyojin akan berkata demikian, padahal, dari sekian alasan lain yang dia pikirkan mengenai rencana Hyojin dan Jung Yong Hwa, sama sekali tak terpikirkan olehnya kalau gadis bermata bulat ini hendak melindunginya dari jangkauan pria tua yang menjadi musuhnya, menjadi sebab kebangkrutan bisnis keluarganya dan membuatnya pergi ke Thailand. Meninggalkan teman-temannya, meninggalkan gadis yang dicintainya, meninggalkan Hyojin yang baru saja berbaikan dengannya.

 

Kini, keluarganya justru membencinya, memasukan Hyojin dalam daftar penyebab masalah, namun demikian, gadis itu justru masih memikirkan keselamatan Chanyeol. Tanpa tahu kalau dia dan kakaknya sedang merencanakan sebuah balas dendam pada Lee Dae Ryeong melalui Hyojin.

 

“Maaf.” Hanya itu yang bisa Chanyeol katakan.

 

“Untuk?” tanya Hyojin, “Kau berbuat sesuatu padaku ya?. Jangan-jangan, menempelkan kertas dengan tulisan konyol di punggungku?!”

 

“Mana mungkin!, kau anggap aku anak kecil apa?!”

 

Hyojin berpikir sejenak, “Memangnya, menempel kertas dengan tulisan konyol di punggung orang lain itu kelakuan anak kecil ya?” ia bertanya, dengan wajah polos yang biasa gadis itu lihat dari Rae Mi.

 

“Tentu saja!” seru Chanyeol, sedikit pensaran pada apa yang akan Hyojin katakan setelah memasang ekspresi yang familiar untuknya.

 

“Tapi, Sehun atau Jong In tak pernah bilang begitu. Kami justru sering melakukannya waktu sekolah dulu.”

 

Chanyeol tak bisa berkata apapun selain menggumamkan umpatan yang tak bisa didengar oleh Hyojin. Sekali menarik nafas, dia pun mengutarakan alasannya mengencani Hyojin, termasuk maksud pembicaraan antara dia dan kakaknya.

 

“Keluargaku hampir hancur karena perbuatan kakekmu, selain menarik sahamnya dan kerja sama dengan perusahaan ayah, pria tua itu juga menyebar rumor buruk tentang bisnis ayah, membuat kami harus pindah ke Thailand hingga aku baru bisa kembali ke Korea. Yoora noona sangat terpuruk, ia punya segalanya di Korea dan memulai kehidupan baru di Thailand dari awal sangat menghancurkan karirnya pula. Karena itu, kami… membuat rencana balas dendam…”

 

Dan tanpa menjelaskan lebih lanjut pun Hyojin sudah mengerti artinya. Bahwa Chanyeol tidak tulus menjalin hubungan sepasang kekasih dengannya, bahwa kisah cintanya sudah cukup sampai disini, tak perlu membahas lebih lanjut tentang perkataan Chanyeol sebelum pergi dari Korea, tentang pria tinggi yang memintanya menunggu itu.

 

“…semoga kau mengerti…” rasanya sangat sulit bagi Chanyeol untuk mengatakannya, apalagi mendengar komentar Hyojin serta ekspresi gadis tersebut.

 

“Tak masalah.” Kata Hyojin, tersenyum sebagai pengganti rasa kecewanya. “Toh, aku juga bersalah karena menggunakanmu untuk balas dendam pada Lee Dae Ryeong pula.”

 

“Hah?”

 

“Yah, melindungimu dari cengkraman pria itu soal lain, yang jelas, aku tidak mau pria sialan itu menggunakanmu sebagai alat untuk mengancamku, karena aku tidak mau orang lain cedera olehnya, hanya untuk membuatku menderita. Siapapun itu, termasuk… Rae Mi.”

 

Seperti ada beribu kerikil yang dilemparkan pada Chanyeol satu per satu. Sakit, tapi kecil sekali dan terus-terusan, hingga Chanyeol sendiri merasa kebal dengan rasa sakit itu serta tak mengetahui kenapa. Setidaknya, masing-masing dari mereka sudah merasa lega dengan pengakuan tersebut, tak ada apapun yang harus disembunyikan lagi -mungkin-, diantara… teman.

 

***

 

Chanyeol berjalan beriringan dengan Hyojin, tanpa ada pembicaraan apapun, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing dan merasa canggung, memikirkan hal bagus apa yang bisa dijadikan bahan obrolan.

 

Sampai akhirnya Chanyeol dengan lugunya menunjuk sembarang poster yang dipampang di papan pengumuman, membuat Hyojin terkejut dan hampir terbahak setelah melihat poster yang telah dibaca seluruhnya pula oleh pria bertelinga lebar itu.

 

“Kau mau ikut program melahirkan yang baik ya?” ledek Hyojin, setengah menahan tawa. “Memangnya sudah berapa bulan? Hahahaha!”

 

Chanyeol merutuki kebodohannya, “Enak saja!” geramnya, mengutuk siapa saja yang sudah menempel poster yang seharusnya tidak berada di papan pengumuman kampus.

 

“Orang aneh macam apa sih yang menaruh poster semacam ini di universitas?!” kesal pria itu, tanpa memperhatikan keadaan bahwa sang penempel poster masih ada disekitarnya, berdiri tepat disamping Chanyeol, memegang sekitar lima puluh lembar lainnya yang perlu dipasang.

 

Pria dengan dandanan lusuh tersebut menatap Chanyeol sebal, lalu pergi sambil mengoceh tak karuan.

 

“Pria paling tidak peka sedunia, jatuh kepada… Park-Chan-yeol!” Hyojin bahagia.

 

“Eoh? Ada lomba dance di festival kampus ternyata!” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, dan Hyojin terpengaruh dengan mudahnya.

 

“Wah benar! Hadiahnya lumayan juga, hanya berpartisipasi pun mendapat uang pula!”

 

“Kau tidak berminat?”

 

“Tidak, terima kasih.” Tegas Hyojin, “Aku sangat buruk dalam hal dance dan tarian apapun itu.”

 

“Oh ya? Pantas kok, dilihat pun sudah tahu kalau-”

 

“Yak Park Jiyeon!”

 

Chanyeol menoleh dan tahu-tahunnya, Hyojin sudah menghadang langkah gadis cantik yang pria itu kenali sebelum Jiyeon pindah jurusan dan dia sendiri pergi ke Thailand.

 

“Kenapa Hyojin-ssi?”

 

Hyojib merasa beruntung karena antek-antek Jiyeon sedang tak bersamanya, memudahkan Hyojin untuk bicara lebih leluasa. Dan sebelum Jiyeon menghindar, ia meminta Chanyeol pergi, memberi ruang untuk dua gadis itu berbicara. Setelah pria itu terpaksa menyingkir meski penasaran, barulah Hyojin melanjutkan obrolan mereka.

 

“Hentikan main-mainnya dan katakan yang sejujurnya pada profesor apa yang sebenarnya terjadi.”

 

Jiyeon melirik sekeliling, begitu merasa aman barulah ia berani menunjukkan wujud aslinya pada Hyojin, dengan seringaian yang jarang dia tunjukkan didepan umum.

 

“Kenapa aku harus?”

 

Helaan nafas Hyojin membuat Jiyeon waspada.

 

“Akhirnya aku bisa melihat dirimu yang sebenarnya. Bukankah ini lebih nyaman daripada pura-pura baik pada orang lain? Tidakkah kau merasa lelah?”

 

Jiyeon menggertakan giginya, “Sudah cukup basa-basinya!. Jelaskan, mengapa aku harus menghentikan hiburan ini?”

 

“Karena jika tidak, aku akan membawanya ke ranah hukum. Sekarang juga mari pergi ke kantor polisi dan selesaikan masalah kita disana!”

 

“K-kau…”

 

Hyojin mendekati Jiyeon yang wajahnya mulai memerah karena kemarahan, membalas seringaian gadis itu dengan senyum sinis kegemarannya ketika sedang mengancam seseorang macam Park Jiyeon.

 

“Jangan membuat onar Jiyeon-ah, apalagi mencari gara-gara denganku, Lee Hyojin.

 

 

~To Be Continue~

 

Dear, pembaca sekalian. Mohon maaf untuk segala typo dan salah kata yang bertebaran. Semoga bisa fast update sesuai keinginan pembaca dan terhibur dengan Chanjin moment yang mulai sedikit demi sedikit saya cicil yeth~

 

Nb : buat yang suka FF genre bunuh-bunuhan, monggo mampir ke FF Way Out (Road Of Death) dan baca baca sekalian

 

Akhir kata,  RCL Juseyo~~~~

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) – Chapter 13

  1. Chanyeol jahat 😥 kasian hyojinya ‘:'(
    Pacaran lagi kek.. romantis” lagi
    Sedih ngeliat mereka gak sama”
    DItunggu next partnyaa 🙂

  2. meninggalkan gadis yang dicintainya, meninggalkan Hyojin yang baru saja berbaikan dengannya. Maksdnya???
    Ih si chan ntar nyesel loh 😡😠.
    Semoga hyojin ketemu sama cowok yg bener2 cinta dan mau berkorban kagak kaya si chan.
    Biar nyaho noh si Chan 😒

  3. Jadi hubungan pura-pura chanyeol hyojin adalah buat balas dendam, jahat banget si chanyeol padahal hyojin udah cinta banget sama dia. Selalu ditunggu kelanjutannya

  4. Lumayanlah…
    Tapi jujur gak greget karna gak ada adegan berantem atau adu mulut antar pemain,karna biasanya aku suka itu,,,,
    Kutunggu next chapter apalagi klimaks masalahnya….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s