[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif (Chapter 2)

finding cara

 

Obsesif Kompulsif  (I Am Falling in Love With You)

.

By : Chanrini

Genre : Roman, Life, psychology

 Length : Chaptered / Series Fic

Rating : General (Naik seiring bertambahnya konflik)

 Main cast: Park Chanyeol, Han Angela (OC)

Summary:

Chanyeol berhasil keluar dari masa lalu dengan menyunggikan senyum ceria penuh kepalsuan.

Tapi semua kenangan itu kembali menghantam Chanyeol, menyeretnya dalam luka lama yang kembali basah dan tidak akan pernah sembuh.

Iblis itu kembali datang dalam jiwa yang berbeda, berkamuflase pada sosok malaikat tak bersayap yang terpantul pada iris madu Chanyeol.

Hidup kembali pada raga seorang gadis berlabel ~ Han Angela.

Declaimer :

Karya ini asli dari imajinasi saya, sebagai dedikasi kepada Chanyeol idola saya.

Kesamaan latar dan tokoh mungkin saja terjadi, karna imajinasi manusia bisa saja sama, tapi semua alur cerita asli dari imajinasi saya pribadi.

Saya juga update cerita ini di akun wattpad saya, kalian bisa mampir heheheh http://my.w.tt/UiNb/2JxCukpYqC

 

Obsesif Kompulsif  (I Am Falling in Love With You)

Chapter 2 – Rainbow Fountain

 14b513792d6ccd0f287466802554

 “Aku adalah Aktor yang paling hebat dalam kisah ini, percayalah apa yang kau lihat bukanlah yang sebenarnya harus terlihat”

~~

Apakah hipotermia dapat mengakibatkan halusinasi?.

Tidak.. tidak… itu tidak mungkin. Wujud nya terlalu nyata kalau dia hanya objek halusinasi Angela.

Bahkan tadi dia tersenyum kan.

Ya kalau senyum miring penuh kesombongan seperti itu bisa disebut senyum, karna setelah lelaki itu berkata penuh nada meremehkan yang lumayan membuat Angela tersinggung, dia langsung pergi entah kemana.

Sudah biasa memang, lelaki tampan macam cassanova seperti itu, memiliki tingkat kesombongan di atas rata-rata.

Tapi Angela hanya tidak bisa terima, karna wajah lelaki mantel hitam itu begitu mirip dengan Loey.

Ya, lelaki itu dan Loey bagaikan saudara kembar yang memiliki sifat bertolak belakang. Wajah, tinggi bahkan iris coklat madu itu sama persis. Sangat identik untuk dicari perbedaannya.

Tapi Loey-nya tidak mungkin sesombong itu. Lelaki menyebalkan itu bahkan sama sekali tidak punya sopan santun seperti Loey. Lelaki itu hanya tipe lelaki kurang ajar yang menganggap semua wanita dapat ditaklukan hanya karna wajah tampan dan berbagai kelebihan yang berada digenggamannya. Tapi dia salah kalau mengira Angela tipe wanita yang mudah terpesona hanya karna wajah rupawan.

Lagipula Angela bukan wanita yang akan histeris dan berubah menjadi wanita gampangan bila bertemu dengan lawan jenis menarik seperti dia.

Lihat, kau mengakui kan lelaki itu menarik.

Sepertinya tingkat kemunafikan Angela semakin meningkat setelah beberapa bulan tinggal di Seoul. Atau mungkin udara dingin membuat isi otaknya sedikit terganggu.

Entahlah….

Angela hanya berharap tidak akan bertemu dengan lelaki menyebalkan itu lagi.

“Angela. Besok kau ikut?” Suara khas Hyoseop berhasil merenggut kembali kesadaran Angela dari dunia lamunannya.

Hyoseop yang sedari mata kuliah pagi duduk di barisan depan, kini sudah berpindah tempat di sebelah Angela.

Angela duduk menyendiri di pojok barisan kedua sambil melamun memandang jendela.

Mungkin bagi sebagian penghuni kelas, keberadaan Angela tidaklah begitu terlihat. Tidak ada dari mereka yang mau mencoba mendekati Angela yang hari ini baru masuk kelas setelah sebulan perkuliahan berjalan.

Kecuali Hyoseop, lelaki ramah yang menjadi salah satu orang yang menyapanya dengan senyum manis mengembang sampai membuat mata sipitnya hilang tak terlihat.

“Kalau Bibi Asrama mengijinkan pulang agak larut, kurasa aku bisa ikut” Angela tersenyum kecil sambil memandang wajah Hyoseop yang berada di sampingnya, senyum Hyoseop memang selalu berhasil menyihir siapapun untuk ikut tersenyum membalasnya.

“Baiklah, ku harap kau mengabariku kabar yang baik besok. Kau harus ikut Angela, pemandangan di sungai Han akan sangat indah saat malam menjelang” Hyoseop kembali tersenyum lebar, lalu setelahnya dia mengacak rambut Angela dan berlalu keluar kelas sambil sesekali menanggapi sahutan teman sekelas yang ia lalui.

Angela sebenarnya tidak yakin dapat memenuhi permintaan Hyoseop. Bibi penjaga asrama di tempatnya terkenal sangat disiplin, jadi mencoba membujuk Bibi Choi untuk mengijinkan Angela pulang melebihi jam pulang asrama sepertinya akan sangat sulit. Apalagi besok hari sabtu.

Tapi kalau Angela tidak berusaha diperbolehkan ikut acara besok. Ia jadi tidak enak dengan Hyoseop. Ia akan merasa bersalah menyecewakan orang sebaik Hyoseop. Dia bahkan sudah berbaik hati mengajak Angela yang hanya anak baru untuk ikut berkumpul bersama teman sekelasnya melihat salju pertama yang turun hari ini. Hyoseop bilang kalau salju pertama lebih bagus dilihat saat malam hari di Sungai Han.

Jadi dengan semangat yang menggebu, seluruh teman kelasnya merencanakan piknik malam di Sungai Han. Sedikit perayaan kecil yang diadakan dalam rangka lebih mengenal satu sama lain.

Walaupun dengan wajah pura-pura kedinginan, Hyoseop berseloroh kalau suhu yang akan mereka hadapi akan sangat dingin besok malam. Tapi tidak ada seorangpun yang keberatan dengan cuaca ekstrim yang akan mereka hadapi kecuali Angela.

Dengan wajah cemas Angela bahkan dengan bodoh bertanya berapa suhu terdingin yang mungkin mereka hadapi saat malam musim dingin di Sungai Han.

Menjadikan Angela pusat perhatian seluruh penghuni kelas yang kebayakan berkewarganegaraan Korea. Kecuali Hyoseop yang menjawab pertanyaan Angela sambil tersenyum jenaka.

Dan karna hal itu Angela meruntuki ketakutannya terhadap suhu dingin sehingga mempermalukan dirinya sendiri. Bahkan dengan hal ini beberapa teman sekelasnya memandangnya aneh.

Mulai memperhatikan beberapa bagian fisik Angela yang agak berbeda dengan warga lokal. Walaupun wajah Angela lebih dominan ciri khas wajah Korea, tapi tetap saja ada beberapa hal yang membedakannya dengan warga asli Korea.

Yasudahlah, mungkin di awal pertemuan teman-temannya masih belum bisa menerima orang yang sedikit berbeda dengan kebayakan orang yang berciri fisik sama dengan mereka. Tapi dia masih bersyukur masih ada beberapa temannya yang mau menerima Angela dengan ramah selain Hyoseop.

Raemi misalnya, wanita yang memiliki marga sama dengannya itu bahkan yang pertama berinisiatif mengenalkan diri. Dia tidak canggung saat pertama kali bertemu dengan orang asing seperti Angela.

Dengan baik hati dia duduk disamping Angela dan membantu Angela bila Dosen menerangkan materi dengan cepat. Mengerti bahwa Angela belum fasih menangkap perkataan dengan bahasa korea yang sangat cepat ditambah aksen daerah yang dimiliki Dosen Ilmu Patologi tadi pagi.

Raemi bahkan berjanji mau menemani Angela mengelilingi kampus dan mengenalkan beberapa tempat kepadanya. Tapi semua rencana mereka gagal saat jam pelajaran berakhir, karna Raemi yang merupakan asisten dosen Patologi diminta menyiapkan materi untuk perkuliahan minggu depan, menggantikan Dosen Patologi yang berhalangan hadir.

Jadi Angela sekarang hanya bisa melamun di Kelas sambil memperhatikan salju yang mulai turun dengan deras. Menutupi pepohonan dan taman luas disamping gedung Collage of Human Ecology.

Tumpukan salju yang menggunung itu sangat menggoda Angela untuk melemparkan tubuhnya kedalam gunungan salju yang meninggi. Merasakan sensasi terkubur salju dan lembutnya berbaring menghadap langit yang sedang semangat menurunkan bulir-bulir putih.

Selama di Korea setidaknya Angela harus merasakan sensasi itu, ia harus melupakan sebentar ketidakuatan tubuhnya terhadap suhu dingin. Kalau tidak saat ini, kapan lagi ia bisa bermain salju seperti tiga mahasiswa yang berada dibawah taman jurusannya sekarang.

Mereka sedang tertawa bahagia sambil membentuk gudukan salju besar berbentuk boneka putih. Beberapa malah saling melempar bola-bola salju yang terlihat sakit saat mengenai beberapa bagian tubuh tapi tidak memiliki efek yang demikian karna mereka malah tertawa-tawa senang saat bola itu berhasil manampar wajah.

Bahkan gemuruh tawa mereka berhasil menembus lebatnya salju. Terdengar sayup-sayup oleh Angela yang sekarang berada di lantai 2 gedung.

Tapi kenapa lelaki korea suka sekali memakai masker dan kaca mata hitam saat musim salju seperti ini.

Apakah mungkin style seperti itu sedang tren tahun ini. Tapi ketimbang terlihat keren, Angela malah mengira mereka kumpulan mafia.

Karna sebagian dari mereka memakai pakaian hitam dari kepala sampai kaki. Mirip lelaki aneh tadi pagi.

Apa mereka sejenis?

Diperhatikan dari atas sini memang ketiga lelaki di bawah itu memiliki perawakan yang tinggi dengan tubuh ramping yang tidak berlebihan. Dan dibalut dengan pakaian dan mantel yang terlihat cukup mahal. Kalau saja Angela dari tadi tidak melihat tingkah konyol mereka, mungkin Angela sudah terpesona dengan penampilan mereka.

~~

kyung-hee-university-seoul-korea-winter-narnia-300x180

” aaaaa aahh sudah hyung sakit.. aaaa” Baekhyun mengaduh sambil menetralkan deru nafasnya yang mulai pendek-pendek.

Menyerah setelah berlarian tidak tentu arah untuk menghindari lemparan bola salju dari Suho Hyung yang marah karna keisengannya tadi.

Duduk terlentang disamping bola salju buatan Oh Sehun yang bentuknya seperti tumpukan es serut yang tidak beraturan. Apa membuat boneka salju saja simuka datar ini tidak mampu.

“Kesini kau Byun Baek” Dengan nada kesal Suho berjalan menghampiri Baekhyun sambil menggenggam bola salju yang lumayan besar. Masih kesal dengan tingkah iseng Baekhyun yang sengaja memasukkan bola salju kedalam sweater hangatnya dan berhasil membuat Suho berjengit kedinginan.

“Hyung berhentilah bertingkah kekanakan” Kini lelaki dengan umur paling kecil antara mereka mulai protes dengan tingkah kedua Hyungnya yang belum berhenti saling melempar bola salju.

Sehun rasanya mau pulang saja kalau dekat-dekat mereka berdua.

“Lihat Sehun-ah, Suho hyung tidak mau berhenti melempariku dengan bola salju. Lihat wajah hyung sudah merah begini” Sambil menunjukkan pipi kanannya yang merah, Baekhyun menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh menjulang Sehun. Menghindari lemparan murka Suho yang sekarang berdiri beberapa meter dari mereka. Sedang mengatur deru nafasnya yang terengah karna termakan emosi mengejar Byun Baek yang sangat lincah.

Sedangkan Sehun yang dijadikan tameng Hyungnya hanya memutar mata dengan malas dan melanjutkan lagi kegiatannya membangun boneka salju yang belum selesai.

Mengabaikan kedua hyungnya yang sekarang malah saling melempar umpatan dengan suara yang sangat keras. Sebenarnya yang hyung disini siapa.

“Ya hyung, kenapa Chanyeol lama sekali?” Bosan mendengar perdebatan mereka, Sehun akhirnya mencoba menanyakan keberadaan salah satu member tertinggi diantara mereka. Mengalihkan fokus mereka yang masih berdebat tentang hal yang tidak masuk diakal.

” Ya! Sehun-ah dia itu lebih tua darimu, panggillah dengan sopan.” Baekhyun berdecak sambil menjitak kepala Sehun yang lebih tinggi darinya. Sambil membenarkan letak masker yang mulai melorot karna tingkahnya yang tidak bisa diam dari tadi.

Sedangkan Suho hanya bisa menggelengkan kepala, dia jadi pusing sendiri menghadapi anggota grubnya yang tidak waras semua kelakuannya.

“Aku kan hanya bertanya, lagi pula Chanyeol sendiri yang bilang tidak usah panggil dia pakai Hyung katanya dia tambah tua kalau dipanggil begitu” Sehun mengelus puncak kepalanya yang agak sakit karna ulah pria sipit bermarga Byun itu.

Bisa-bisanya dengan tinggi badan yang pendek, Baekhyun hyung berhasil menjitaknya dengan keras.

“Ya tetap saja Sehun-ah ka..”

“Sudah Baek, aku memang yang menyuruhnya begitu.” Omelan Baekhyun berhasil terpotong oleh lelaki jangkung yang sekarang jadi bahan perdebatannya dengan Maknae albino, yang dengan entengnya meninggalkan Baekhyun yang sedang berbicara.

Sejak kapan Chanyeol ada disini. Seperti hantu saja, datangnya tidak terdengar. Tapi melihat tingkah Sehun, Baekhyun jadi kesal. Sepertinya menendang kepala Sehun dengan jurus Hapkidonya ide yang bagus.

“Kenapa lama sekali si Chan? Sehun pusing terlalu lama bersama Baekhyun Hyung” Tanpa merasa berdosa Sehun mendelik marah kearah Chanyeol sambil menyambar paksa map plastik yang sedang dipegang Chanyeol.

Membuat Baekhyun yang melihatnya jadi panas dingin ingin sekali menendang pantat Sehun yang jaraknya sangat pas dengan tendangan kakinya.

Kenapa EXO harus punya Maknae macam begini.

“Gedungnya baru buka pukul 09.00, jadi pendaftarannya juga dibuka agak siang. Tapi tenang saja semua sudah beres. Senin kau sudah resmi terdaftar menjadi mahasiswa.” Chanyeol menjelaskan sambil tersenyum lebar memamerkan deretan gigi yang putihnya tidak kalah dengan tumpukan salju di sekitar mereka.

Sedangkan Sehun yang mendengar kalau dia akan resmi jadi mahasiswa berseru senang sambil melompat-lompat kecil. Terkadang berseru dengan suara-suara aneh seperti “Yehet” “ohorat” dan lainnya.

Menampakan sifat Maknae yang terkadang tersembunyi dibalik wajah datarnya. Baekhyun yang melihatnya jadi kesal sendiri. Tadi Sehun marah-marah mengatainya kekanakan, sekarang dia sendiri bertingkah kekanakan.

“Kan sudah ku bilang kalau gedungnya dibuka siang. Kau saja yang keras kepala datang ke kampus dipagi buta” Suho menghampiri Chanyeol sambil memarahinya yang keras kepala tetap berangkat kekampus walaupun sudah Suho jelaskan.

“Hehehh ku pikir akan menemukan beberapa staf yang berjaga, tetapi tidak ada ternyata” Chanyeol hanya bisa meringis kecil melihat wajah Leadernya yang tampak kesal. Sepertinya itu karna ulah Baekhyun juga.

“Yasudah yang penting urusan albino sudah selesai, sekarang kita kembali saja ke dorm. Terlalu lama disini akan membuat penyamaran kita terbongkar nanti. Kau tidak mengundang banyak penggemar kan Chanyeol tadi pagi?” Baekhyun memandang Chanyeol yang sekarang berada di sampingnya. Sambil berjalan beriringan menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari tempat mereka. Memperhatikan wajah Chanyeol yang mulai masam entah kenapa.

“Tidak, aku hanya bertemu wanita menyebalkan” Terang Chanyeol sambil melangkahkan kakinya lebih cepat. Meninggalkan teman-temannya yang berjalan santai.

“Dia itu kenapa si, aneh sekali” Baekhyun hanya tidak habis pikir dengan kelakuan temannya yang semakin aneh saja. Kadang sifat Chanyeol memang susah ditebak.

~~

Sudah 30 menit lebih Angela duduk sendiri di halte bus dekat Kampus. Sudah puluhan mobil ia hitung demi membunuh rasa bosan menunggu sendirian begini.

Tadi pagi Hyoseop sudah berjanji mau menjemput Angela tepat pukul 5 sore. Setelah mengabari bahwa Angela diperbolehkan pulang agak larut oleh Bibi Choi, Hyoseop langsung mengajukan diri menjemput Angela dan berangkat ke sungai Han bersama.

Apa Angela salah membaca pesan Ktalk Hyoseop ya, tapi dia ingat betul kalau Hyoseop bilang pukul 5 sore.

“Angela, maafkan aku. Kau sudah lama disini?” Angela tersentak kaget saat menyadari kalau lelaki sipit yang sedang ia pikirkan sudah berada di hadapannya sekarang. Terlihat kehabisa nafas dengan keringat bercucuran di pelipisnya. Terlihat sekali habis berlari kencang entah dari mana.

Angela hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Hyoseop ” Tidak aku juga baru sampai, kau datang dari mana?” Dari pada menjawab jujur, Angela tidak enak kalau Hyoseop merasa tidak enak karna terlambat.

Jadi sambil memasukkan lagi Handphone yang sudah dikeluarkan dari tas selempang Angela. Ia bangkit dari posisi duduk dan mensejajarkan tubuh di hadapan Hyoseop.

“Aku menunggumu di depan Asrama Putri, ku pikir akan menjumpaimu yang keluar dari asrama. Maafkan aku Angela, aku lupa memberimu tempat yang pasti untuk menunggu” Hyoseop berkata sambil memandang Angela tidak enak, baru kali ini dia membuat Wanita menunggu. Apalagi Angela sendirian disini saat matahari akan tenggelam dan suhu semakin menurun. Hyoseop agak khawatir kalau-kalau Angela kedinginan dari tadi.

” Ya sudah tidak apa, sekarangkan kita sudah bertemu. Ayo jalan saja sekarang.” Angela menanggapi sambil tersenyum lebar, tahu persis kalau lelaki dihadapannya ini sedang merasa bersalah. Angela sendiri jadi tidak enak membuat Hyoseop khawatir begini.

“Ah tidak apakan kita berjalan sedikit, aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari sini. ” Hyoseop berjalan pelan sambil menunggu Angela mengikuti arah tujuannya.

“Tidak masalah.” Ya Angela harus tau dirikan yang menumpang disini Angela, mana berani dia marah – marah dengan Hyoseop yang sudah baik hati memberikannya tumpangan. Kecuali kalau yang dihadapannya sekarang itu kakaknya, mungkin sudah ada perang mulut diantara mereka berdua.

Setelah beberapa meter berjalan, mereka sampai di parkiran mobil dekat main gate. Hanya ada beberapa mobil yang terpakir. Mengingat sekarang hari sabtu, banyak fakultas yang tutup dan meliburkan mahasiswanya. Sama seperti fakultasnya.

Hyoseop yang berjalan duluan didepannya sekarang sudah berdiri disamping mobil sport bewarna hitam. Sambil tersenyum tampan dan membukakan pintu penumpang disamping tubuh tingginya.

Angela jadi salah tingkah sendiri kalau diperlakukan macam begini.

“Maaf ya jadi telat begini berangkatnya” Hyoseop meringis kecil sambil menyalakan stater mobil dan melaju menuju jalan raya yang sangat lengang. Beda sekali dengan ibu kota negaranya yang selalu padat merayap.

“Sudah lah yang penting sekarang sudah berangkat” Angela tersenyum sambil sesekali memainkan seat belt yang melingkar di depan tubuhnya.

Kenapa Angela jadi salah tingkah begini.

” Nyalakan saja radionya Angela” Hyoseop berkata sambil melirik Angela dari ekor matanya. Sambil tersenyum canggung dan kembali fokus melihat depan kemudi.

Jadi bukan cuman Angela saja yang gugup.

Tidak ingin suasana di dalam mobil bertambah canggung. Angela menyalakan radio yang ada di dalam mobil. Mencari channel yang mungkin sedang memutar lagu yang Angela sukai.

Sampai ketika Angela menghentikan jarinya dan memilih diam sejenak guna mencerna lagu yang terasa familiar di telinganya. Setelah meresapi lantunan lagunya sesaat. Angela kembali duduk tegak sambil melihat kaca mobil dihadapannya yang menyuguhkan pemandangan indah buliran salju yang jatuh perlahan.

” EXO – Promise, kenapa memilih lagu yang sedih begini ” Hyoseop menanggapi sambil memutar volume radio menjadi lebih besar, perkataannya terbalik dengan apa yang dia lakukan.

” Kau tau EXO?” Yang jadi atensi Angela saat ini adalah Hyoseop tau lagu ini.

” Tentu saja aku tau ” Hyoseop menimpali sambil tersenyum lebar khas Hyoseop dan bersenandung mengikuti lirik lagu yang kami dengarkan.

Lelaki ini memang, selalu membuat dia terkejut.

~~

Sekitar setengah jam perjalanan, Angela dan Hyoseop sampai di tempat mereka akan melakukan piknik bersama. Sebenarnya Angela sendiri tidak mengerti lebih jauh perihal piknik malam yang dimaksud seperti apa.

Tapi setelah melihat teman-temannya sibuk menyiapkan daging dan beberapa seafood untuk dibakar. Angela jadi membayangkan kalau yang dimaksud mereka itu seperti bakar-bakar daging di malam hari. Mungkin mirip pesta bakar-bakar di rumahnya setiap pergantian tahun. Hanya yang membedakan sekarang ada beberapa botol soju dan beberapa kaleng minuman alkohol di meja panjang tempat mereka menaruh berbagai makanan. Dan yang pasti Angela tidak akan mau menyentuhnya.

Beberapa teman kelasnya sudah mulai mau berbicara sedikit dengan Angela. Mungkin karna melihat Angela begitu akrab dengan Raemi dan kenyataan bahwa dia berangkat bersama dengan Hyoseop, lelaki yang ramah dengan semua umat manusia.

Dan yang membuat Angela jadi salah tingkah sendiri adalah fakta kalau Hyoseop ternyata lelaki yang paling diincar di fakultasnya. Bukan cuman tampan sebenarnya, dari perkataannya Sora tadi kalau ada beberapa sumber yang bilang Hyoseop itu anak kepala rektor di kampus mereka. Jadi Hyoseop termasuk salah satu lelaki yang paling diinginkan bahkan oleh seluruh wanita dikampus.

Jadi kesimpulannya, Angela menggali kuburannya sendiri dengan dekat-dekat seorang lelaki yang jadi incaran wanita sekampus.

” Sudah jangan dipirkan, Hyoseop memang terkenal suka dekat-dekat wanita kok ” Raemi menyodorkan segelas Cola dingin dihadapan Angela. Tahu persisi kalau teman barunya ini tidak bisa minum ahkohol sama sekali.

” Nah dari pada melamun disini, bagaimana kalau kita lihat Rainbow Fountain saja” Raemi berseru riang sambil menarik Angela menuruni bukit menuju pinggir sungai beberapa meter dari tempat mereka berkumpul.

Berdiri disisi pembatas dan persis menghadap jembatan Banpo Bridge yang sekarang terlihat terang karna cahaya dari lampu jalan di atasnya.

” Aihhh aku lupa membawa ponsel, nah tunggu disini Angela jangan kemana – mana. Tepat pukul 09.00 nanti akan ada air mancur yang sangat indah, aku mau merekamnya dengan Handphone ku.” Raemi berlari kembali menuju tempat teman-temannya sedang berkumpul.

Dari tempatnya sekarang hanya terlihat segelintir temannya saja yang sedang berdiri di samping bukit sambil menyantap daging bakar dan minum beberapa soju.

Tidak jauh si, mungkin hanya 5 sampai 8 meter saja. Tapi tetap saja posisi Angela yang berada di bawah bukit begini jadi tidak terlihat.

” Argghh…” Pemandangan teman-teman Angela sekarang berganti dengan pemandangan aspal yang tadi dia pijak. Tidak tau pasti kenapa sekarang dirinya malah tersungkur dengan kepala duluan yang mendarat.

Sejenak Angela jadi kehilangan orientasi dan terdiam sambil terlungkup mengahadap aspal. Beberapa saat kemudian baru dia merasakan nyeri di lutut dan pelipis kanannya.

” Ah mian, kau tidak papa?” Sambil mencoba mengangkat tubuh, Angela menolehkan kepala untuk melihat sumber suara yang terdengar tidak jauh darinya.

Pengelihatannya jadi agak kabur karna pelipisnya terbentur cukup keras. Yang bisa Angela lihat cuman lambaian tangan besar didepan wajahnya sampai beberapa menit kemudian tangan dan wajah orang itu menjadi jelas.

” Kenapa berdiri ditengah jalan?” Bukannya minta maaf, orang itu malah menghujatnya dengan nada marah. Wajahnya yang tertutup masker memang tidak terlihat, tapi Angela yakin pria itu sedang menyernyit kesal kearahnya.

Seharusnya kan yang marah sekarang Angela, yang ditabrak kan dia. Yang jatuh menabrak aspal kan juga Angela. Bukan pria itu. Tapi yang tampak kesal malah dia.

” Kau kan yang menabrakku.” Angela mencoba berdiri sambil membersihkan celana jeans biru dongkernya yang sedikit robek di lutut kananya, sedikit kotor karna noda darah yang keluar. Kalau luka di lutut beginikan dibuat berjalan jadi nyeri.

” Kau berdiri ditengah jalan sambil melamun. Bukan salahku bila menabrak.” Sekarang suara pria yang mengenakan hoodie hitam menutupi kepalanya dan celana jeans hitam panjang itu meninggi beberapa oktaf. Tidak mau kalah dengan wanita yang sudah tersungkur begini.

Gentle sekali dia.

” Jadi aku yang harus minta maaf begitu? ” Angela jadi ikutan bicara sambil teriak-teriak tidak jelas. Jadi kesal sendiri kenapa harus bertemu lelaki macam begini lagi.

” Yasudah lupakan, kah membuat mood ku jadi buruk.”

Apa? Kenapa Angela yang disalahkan begini.

Lelaki itu sekarang malah memunggungi Angela dan menghadap Banpo Bridge sambil mengarahkan Handphonenya merekam air mancur yang Angela baru sadari sekarang.

Jadi ini air mancur yang Raemi mau rekam tadi.

” Ya kau! Kesini.” Angela mengalihkan perhatiannya dari air mancur yang keluar dari kedua sisi jembatan Banpo Bridge kepada lelaki kurang ajar yang sekarang tengah menatapnya.

Karna Angela bukan orang yang suka menyimpan dendam. Jadi dia menuruti panggilan lelaki itu walaupun sekarang Angela berjalan dengan kaki kanan diseret.

” Ini.” Angela menyeryitkan dahi setelah sampai dihadapan lelaki tadi dan dia malah menyerahkan ponselnya kepada Angela. Dan lelaki itu berjalan sedikit mendekati pembatas sungai lalu menghadap Angela sambil membuka masker dan Hodienya.

” Foto aku dari sana. Tapi perlihatkan air mancurnya.” Dengan nada arogan lelaki itu memerintah Angela sambil mulai menentukan gaya yang menurutnya paling bagus.

Sedangkan Angela hanya bisa tertegun ditempat dan memerhatikan lelaki itu dengan tangan bergetar memegang ponsel yang sudah siap memotret lelaki tadi.

” Aihhh cepat fotonya, keburu ada yang menyadari” Dia menunjuk-nunjuk Angela sambil memerintah menghadapkan ponsel yang Angela pegang ke arahnya.

Sadar akan keterdiamnnya tadi. Angela buru-buru menuruti perintahnya walau dengan tangan yang bergetar, Angela berhasil memotret lelaki tinggi yang tersenyum lebar menghadap kamera dan tidak lupa pemandangan dibelakangnya yang sangat indah.

Setelah beberapa foto yang dia minta. Lelaki itu berjalan santai menghampiri Angela. Mengambil ponselnya lagi tanpa perlu izin yang memegangnya saat ini.

” Kau Chanyeol ya” Tidak tau dapat keberanian dari mana, Angela secara impulsif mengatakan itu setelah lelaki tadi mengantongi ponselnya dan tersenyum sinis kearah Angela.

” Kalau iya. Kenapa?” Angela hanya bisa membelalakkan mata mendengar jawaban lelaki itu.

Kenapa dari keinginannya dulu untuk meminta tanda tangan lelaki ini malah sekarang berubah jadi ingin memukul kepalanya dengan sepatu Angela.

Angela mau pergi saja jadinya.

~~

*Banpo Bridge : Nah jembatan ini beneran ada loh di korea. Tepatnya di selatan sungai han. Di kedua sisi Banpo Bridge terdapat air mancur yang sangat indah, yaitu Rainbow Fountain. Sebenernya pertunjukkan Airmancurnya itu bulan April – September tapi di cerita ini gapapalah ya bulan Desember. 😂

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s