[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 2

Kirim yang ini

(Broken) Black Heart Chapter 2©

Author

Riona Spring

Main Cast

EXO’s Baekhyun and OC’s ???

Supporting Cast

VIXX’s Leo aka Leo Jeind Anderson, Son Jina (OC), EXO’s Xiumin aka Xiu Minleyw, and more

Genre

Mystery, supernatural, slice of life, and maybe romance

Length & Rating

Chaptered ~ PG-13

DISCLAIMER

Cerita dan plot adalah milik author. Tokoh dan segala macam yang ada di cerita ini hanya muncul sebagai unsur cerita dan tidak terikat dengan kenyataan aslinya. Dimohon untuk tidak menjadi plagiator dan menjiplak atau mengambil fiksi ini.

Summary

  Kehidupan itu sulit ditebak. Siapapun akan merasa sulit bahkan hanya untuk mengira bagaimana akhirnya.

 [Previous Chapter : Prologue ; Chapter 1]

 

Warning! Not 100% edited!

 

Author PoV

*Sunday, 8 a.m. (The third day of spring)*

 

Rumah kecil bercat cokelat itu terlihat sepi. Suasana sepi meliputi rumah itu. Jika melihat keadaan halaman yang tak terlalu besar di depannya, dapat dikatakan bahwa pemilik rumah itu jarang berada di rumah—atau mungkin saja terlalu malas untuk mengurus halaman kecil tersebut. Daun-daun kering juga dandelion tampak mengotori halaman berumput itu.

“Siapa kau… sebenarnya?”

Jika masuk ke dalam, kau dapat melihat sang pemilik rumah. Pemilik rumah itu sekarang tengah berdiri di sudut ruang tengah.  Di depannya, sesosok perempuan—yang anehnya bertubuh transparan—menunduk dan memiringkan kepalanya, terlihat sangat ketakutan.

Untuk informasi, jarak diantara mereka hanya terpaut satu langkah.

“Kau tidak ingin memberitahuku?” Baekhyun—pemilik rumah itu—berucap dengan nada dingin, semakin mengikis langkahnya mendekat. Sosok itu tidak berkutik. Wajahnya semakin memucat.

Sorot mata tajam pemuda itu kali ini menatap mata di depannya—walau mata itu tidak membalas tatapannya itu. Ia meletakkan tangan kanannya di dinding, yang membuat wajahnya dengan wajah sosok itu menjadi lebih dekat daripada sebelumnya.

“Baiklah …” Baekhyun menyunggingkan seringaian. “ …jika kau tidak ingin memberitahuku, lakukan saja sesuai apa yang kauinginkan,” ujarnya sarkastis. Baekhyun menarik tangannya, mengakhiri perlakuan yang ia tujukan untuk memberi tekanan pada sosok tersebut.

Dan pada akhirnya, pemuda Byun itu memilih untuk kembali tidak peduli. Karena jika ia tidak melakukannya, mungkin saja dirinya sudah berakhir di suatu tempat mengerikan dan menginap bersama orang yang ‘memang’ sudah gila.

Baekhyun selanjutnya melangkah ke arah sofa. Bungkusan obat yang kemarin ia beli tergeletak menyedihkan di lantai. Ia memungut dan merapikan semuanya, sekaligus berusaha untuk melupakan kejadian sinting yang ia lakukan tadi malam.

Di sudut ruang, sosok itu secara perlahan mengangkat kepalanya. Masih merasa takut menatap pemuda itu, ia mengintip dari ujung matanya yang tertutup. Baekhyun terlihat meletakkan bungkusan obatnya di atas meja, dan setelah beres ia merajut langkahnya ke dapur.

Dapur rumah Baekhyun terlihat lebih kecil dari ruang tengahnya. Tak banyak hal yang ada di sana. Hanya sebuah kulkas tak terlalu besar yang terlihat ‘biasa’ untuk sebuah dapur. Selain itu, tidak ada yang istimewa.

Baekhyun membuka pintu kulkas, dan mengeluarkan apa yang menghuni lemari pendingin itu. Tak banyak, hanya ada dua butir telur, sebungkus kecil sosis siap makan, dan sekotak kimchi lobak pemberian ajumma tetangganya.

Dengan bahan yang tidak memadai, ia tak punya banyak pilihan untuk dimasak. Baekhyun akhirnya memutuskan untuk memasak telur gulung, serta menghangatkan kimchi lobak itu. Di rice cooker-nya masih terdapat nasi yang kemarin, sehingga ia tidak perlu repot untuk memasak banyak hal.

Tapi, meski begitu, sebenarnya Baekhyun tidak pandai memasak. Ia terpaksa, karena mau tak mau ia harus menghemat pengeluarannya. Terkadang ada saja waktu dimana makanan yang dimasaknya sama sekali tidak dapat dimakan. Entah itu karena gosong, terlalu asin, atau bahkan karena ia salah memasukkan bumbu yang menyebabkan ia sakit perut setelah memakannya.

Baekhyun kemudian memasang celemek. Sebelum memasak telur, pemuda itu menyiapkan pan-nya. Setelah menuang sedikit minyak, ia menyalakan kompor. Telur yang telah ia pecahkan dan kocok sebelumnya ia tuang secara perlahan. Tanpa menunggu lama, telur itu mulai mengeras, dan dengan bantuan sumpit ia menggulungnya dengan hati-hati.

Dan akhirnya, satu masakan siap.

Baekhyun meletakkan telur gulungnya di piring kecil. Pan bekas memasak telur tadi kembali ia tuangi minyak dan memanaskannya di atas kompor. Pemuda itu kemudian memotong sosis dan kimchi lobaknya menjadi kecl-kecil. Setelah minyaknya panas, ia menuangkan kedua bahan itu dan menumisnya selama beberapa menit.

Masakan kedua selesai.

Semua makanan Baekhyun tata di meja makan kecilnya. Semangkuk nasi, tumisan sosis dan kimchi, serta telur gulung tanpa isian apapun. Makan pagi itu cukup menggugah seleranya. Dan entah mengapa, ada rasa puas tersendiri karena ia yang memasak itu semua.

“Waah … jadi kau bisa memasak, Baekhyun-ah?”

Sebelum sempat ia meraih sumpit, sebuah suara menginterupsi atensinya. Baekhyun menoleh, matanya tampak membelalak. Sosok perempuan transparan itu  berdiri tak jauh darinya.

Siapa lagi yang berbicara kalau bukan dia?

“Kau … tah—ah tidak, darimana kau tahu namaku?” Baekhyun bertanya, masih dengan raut muka terkejut. Sosok itu tiba-tiba terlihat tersentak, dan secara otomatis menutup mulut.

“Ck. Bodoh,” Baekhyun mengumpat. Wajahnya memancarkan ekspresi tak peduli.  Ia meraih sumpit dan sendoknya dengan kasar, lalu memakan makanannya cepat-cepat. Ia tak ingin membuang waktunya percuma, apalagi jika waktu itu hanya dipakai untuk meladeni sosok yang bahkan sudah membuatnya terlihat seperti orang gila itu.

Baekhyun menghabiskan seluruh sarapannya dalam waktu singkat. Setelah meletakkan dan mencuci alat makan kotor, ia berjalan ke luar dan meraih handuk, ingin membersihkan diri untuk pergi ke suatu tempat.

Namun, belum sampai di kamar mandi, Baekhyun tiba-tiba berbalik. Hantu itu terlihat mengikutinya dengan langkah diam-diam. Pemuda itu mendengus. Ia sudah menduganya.

“Kau sebaiknya jangan mengintip!” ucapnya keras. Sebelum Baekhyun berbalik lagi, sosok itu mengangguk satu kali.

Dan satu kali itu juga sosok itu mematuhi apa yang ia ucapkan.

 

***-***

 

“Kau terlihat sibuk, Anderson. Tidak meneliti buku itu lagi?”

Leo—pemilik nama belakang Anderson itu—hanya mendengus malas. Ia telah belajar dari pengalaman sebelumnya. Bahwa, jika ia menanggapi apapun yang keluar dari mulut Juru Tulis cerdik itu, maka ia hanya akan menemui dirinya merasa kesal luar biasa karena telah dipermainkan.

“Jangan mulai, Minleyw,” ucap Leo dingin. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding, sedangkan tangan kirinya sibuk menulis banyak hal di buku hitamnya. Xiu Minleyw tersenyum, seakan mengolok tanggapan Leo tersebut.

“Ah baiklah, Tuan Malaikat Tingkat Pertama. Aku tidak akan mengganggu ketenangan-mu,” sambil duduk di kursinya, Xiu menekankan kata ‘tenang’ dengan nada meremehkan. Dan itu hanya dibalas oleh dengusan tak peduli.

“Kau jarang kemari, Anderson,” Xiu lagi-lagi berujar. Juru Tulis itu kemudian mengeluarkan pena bulu dan batu permata kecil dari sakunya, dan mulai menulis—persis seperti yang dilakukan Leo.

“Dan entah mengapa lagi-lagi aku bertanya-tanya mengapa malaikat maut sepertimu bisa berada di tempat seperti ini,” ucap Xiu sambil menatap perkamennya—tidak berharap untuk ditanggapi, apalagi dijawab. Ia memang sengaja memancing malaikat maut Anderson itu untuk menanggapinya dengan emosi. Itu merupakan hiburan tersendiri bagi Minleyw. Melihat makhluk yang merupakan tingkat paling tinggi di kaumnya itu emosi akibat omongan makhluk ‘rendahan’ sepertinya.

Namun, Leo bergeming—ia sudah mempelajari gerak-gerik Xiu. Ia sama sekali tidak mau termakan trik kuno yang dilemparkan oleh Juru Tulis itu. Sama sekali tidak mengenakkan. Seakan menjatuhkan harga dirinya langsung ke dasar palung paling dalam.

Tapi, apa yang dikatakan oleh Xiu Minleyw itu memang benar. Leo hanya pernah beberapa kali mengunjungi tempat itu—sebuah ruangan bercahaya remang-remang yang dipenuhi oleh tumpukan buku, mirip seperti perpustakaan di dunia manusia.

Tempat itu merupakan tempat berkumpulnya para Juru Tulis seperti Xiu. Di dunia ‘mereka’, tempat itu disebut gwance. Juru Tulis biasanya menghabiskan waktunya menulis dan meneliti catatan hidup manusia disana. Tempat itu sepi, tenang, sekaligus mencekam, cocok untuk mengerjakan tugas Juru Tulis yang memerlukan konsentrasi tinggi.

Banyaknya koleksi informasi dari buku-buku dan lembaran perkamen membuat gwance merupakan tempat yang cocok untuk menggali apa yang ingin kautahu. Dan itulah yang merupakan alasan utama Leo berkunjung ke tempat yang lebih terlihat seperti ruang bawah tanah itu.

“Hei, kau mau tahu satu hal menarik dari kaum rendahan?” kembali Xiu membuka pembicaraan. Sesaat ia terhenti dari kegiatan menulisnya. Ia menatap Leo yang tengah bersandar pada dinding, tampak masih sibuk dengan bukunya.

“Kau tahu …,” sekali lagi tanpa menunggu respons apapun dari ‘lawan bicaranya’, Xiu melontarkan sebuah pembuka sambil melipat tangannya di meja.

“ hari ini adalah hari besar bagi kaummu.”

Leo melirik sedikit dari ujung matanya—walaupun ia berusaha keras agar terlihat tak peduli. Fokusnya masih belum teralihkan, setidaknya belum. Dan itu akan ia manfaatkan sebaik-baiknya agar benar-benar tidak teralihkan secara sungguhan.

Namun, sayang. Kali ini Xiu memperhatikan seluruh gerak-geriknya dengan seksama.

“Akhirnya kau merespon juga,” ucapnya sambil menyeringai. Umpannya sekarang berhasil dimakan—meski baru secuil. Tapi, peluang sedikit itu sudah membuka jalan untuknya untuk membuat malaikat maut itu terprovokasi.

“Kau ingat malaikat maut tingkat tiga itu?”

Leo mendecak, “Kuharap kau menutup mulutmu yang berisik itu, Xiu. Aku ingin konsentrasi saat ini.”

“Tidak masalah jika kau tidak mendengarkanku, Anderson. Toh, aku hanya ingin membicarakan ini pada diriku sendiri,” Xiu mengucapkan kalimat itu dengan nada dingin. Ekspresinya seketika menggelap.

“Sinting.”

Leo mendesis mengejek, hal yang sangat ingin didengar Juru Tulis Minleyw itu. Berhasil juga ia menangkap ‘ikan’ yang sudah sepenuhnya memakan umpannya.

“Mungkin saja kau tidak ingat. Namun, ia adalah yang pertama melanggar aturan dunia ini.” Xiu membuka ceritanya. “Membeberkan rahasia paling penting, dan juga… ah, tidak tidak. Ini tidak menarik lagi kalau aku menceritakan semuanya.”

Minleyw itu mengambil jeda sedikit, “Akibatnya, ia terkurung dalam hukumannya. Menyedihkan sekali. Membuat derajatnya secara langsung bahkan lebih buruk dari para makhluk lemah itu—manusia. Tidak bisa melakukan apa-apa, namun ia tetap menjalankan tugas yang lebih berat dari sebelumnya,” ujar Xiu dengan intonasi seperti mengasihani. Dan wajahnya sama sekali kebalikan dari nada suaranya tersebut.

“Dan kau tahu kenapa hari ini besar, Anderson?” tanya Minleyw itu sambil menatap Leo yang diam-diam mendengarkan itu.

Xiu menghela napas. Kepalanya saat ini ia naikkan menatap ke atas. Sebelum ia mengucapkan kalimat terakhirnya, ia menaruh kembali pena dan permatanya ke dalam saku, bersiap pergi.

“Hari ini adalah hari dimana ia ‘bebas’ dari hukumannya tersebut.”

 

***-***

 

“KAU!”

Sosok transparan yang selalu mengikuti Baekhyun itu tersentak. Langkah berjinjit sudah tidak ada lagi. Juga tatapan mata yang setiap beberapa detik memandang dengan hati-hati. Kali ini ia sudah benar-benar tertangkap basah.

“Menghilanglah sebelum kau menyesal.” Baekhyun menatap hantu itu tajam. Tangannya yang pucat terancung ke depan, menunjuk hantu itu dengan jari telunjuk memberi peringatan. Sosok itu mengunci pergerakannya, dan perlahan menghilangkan tubuhnya dari hadapan Baekhyun.

Baekhyun kembali berbalik, melanjutkan langkahnya ke arah semula. Jalan setapak yang ia lalui sedikit berair akibat salju yang mencair. Pemuda itu berjalan dengan biasa saja, merasa tidak khawatir sedikit pun kalau air tersebut sewaktu-waktu dapat masuk ke sepatunya dan mengotori alas kakinya tersebut.

Satu yang dipikirkan Baekhyun kali ini.

Supermarket. Serta bagaimana ia sampai di tempat itu dengan waktu yang sesingkat-singkatnya.

Beberapa menit berjalan, Baekhyun tiba di halte bus. Cukup banyak orang-orang menunggu disana dengan keadaan macam-macam. Baekhyun menunggu di tempat favoritnya, di dekat tiang. Tempat itu sangat strategis untuk masuk dengan baik ketika bus datang.

Duk

Sesuatu membentur Baekhyun dari belakang. Pemuda itu menoleh. Seorang anak perempuan sepantaran anak TK tampak memegang tongkat peri mainan. Ia menangis sesenggukan.

Baekhyun berjongkok. Senyumnya tiba-tiba merekah. “Aigoo … anak manis. Kau kenapa?” tanya Baekhyun lembut. Anak itu semakin cemberut. Manik matanya mendelik, tertuju pada pemuda itu.

“Jangan khawatir. Samoppa bukan orang jahat.” Baekhyun mengusap rambut anak itu sambil tersenyum manis. “Ah, apa kau mengenal Lee Seomin?”

Anak perempuan itu secara ajaib menghentikan tangisnya. “Dia temanku di kelas bermain.”

“Wah, betul bukan? Seragammu mirip dengan Seomin, adik oppa. Tapi… ini hari Minggu. Kenapa kau disini?” tanya Baekhyun.

“Sekolah piknik di situ, tapi eomma tidak kunjung menjemput.” Anak itu menunjuk taman bermain di dekat halte itu. Ia merengut. “Seomin bahkan sudah dijemput sama bibinya,” ucapnya kesal dengan mulut mengerucut.

Baekhyun terkekeh pelan. Tingkah laku anak itu benar-benar menggemaskan di matanya. Mirip sekali dengan Seomin yang merajuk jika pemuda itu membuatnya marah.

“Tunggu saja. Sebentar lagi eomma-mu pasti datang.” Baekhyun menenangkan, lalu kembali berdiri. “Duduk di sini saja ya?” Baekhyun menepuk kursi halte. Kebetulan masih ada ruang kecil yang muat di situ. Anak itu menurut, meski wajahnya masih kusut bukan main.

“Ye-eun!”

Mereka berdua berpaling ke arah suara. Seorang perempuan tiga puluh tahunan berpakaian jaksa berjalan menghampiri. Anak perempuan itu langsung menghampirinya.

“Kau di sini rupanya, Na Ye-eun! Eomma mencarimu di taman tadi, tapi tidak ada. Untung saja kau masih memakai jas sekolahmu, jadi eomma masih bisa melihatnya dari jauh. Kalau tidak, bagaimana?” ajumma itu menyeramahi. Baekhyun hanya bisa terdiam mendengarnya.

Eomma lama sekali sih! Aku bosan! Teman-teman sudah pulang dari tadi. Aku takut di sana. Jadi aku kesini.” Anak itu mengerutkan wajahnya. Si ibu terlihat sedikit bersalah.

“Pekerjaan eomma belum selesai tadi. Tapi, ya sudahlah! Yang penting kau tidak apa-apa. Ayo pulang.” Ibu itu menggandeng tangan anaknya. Ye-eun—anak perempuan itu— mengikuti dengan langkah kecil. Sebelum menjauh banyak, ia menoleh ke arah Baekhyun dan melambaikan tangan. Baekhyun tersenyum tipis membalasnya.

Senyum Baekhyun yang manis … kembali berkat anak itu.

Tanpa disadarinya, bus mendekat ke halte.  Jika bukan karena orang belakang mendorongnya, ia tidak akan menyadarinya. Pemuda Byun itu buru-buru menginjak lantai bus dan menempelkan kartu abudemennya di mesin pembayaran, lalu duduk di bagian belakang. Bus itu cukup sepi, berhubung halte itu adalah tempat pertama yang didatangi. Dan kebetulan semua orang di halte tadi memilih duduk di bangku di sisi-sisi bus.

Baekhyun menatap keluar. Hiruk pikuk kota besar Seoul ini terlihat sangat jelas. Sungguh bising, juga menyesakkan. Layaknya kumpulan ikan teri di dalam kaleng makanan jadi.

“Kau lagi?!”

Baekhyun menjerit tertahan—masih dengan volume normal. Entah darimana sosok itu berhasil mengikutinya. Ia bahkan dengan beraninya duduk di sebelah Baekhyun, membuat pemuda itu melotot karena jengkel.

Tapi itu tidak berlangsung lama. Sesuatu seketika menyala saat pikiran rasional Baekhyun terlintas di kepalanya.

Tidak peduli mode : ON

Dengan tampang yang berubah dari senyum ceria mengingat anak kecil itu ke sebal luar biasa akibat sosok transparan itu, Baekhyun memandang jendela. Untung saja, ia terselamatkan ketika bus berhenti di halte selanjutnya. Seorang nenek duduk di sebelahnya. Akibat dari itu, sosok itu berhasil ‘tertutupi’ oleh volume padat tubuh nenek tadi.

 

***-***

 

Pemuda Byun itu akhirnya sampai di tempat tujuannya. Supermarket. Perjalanan tadi berjalan sangat tenang. Sosok itu tidak bisa menganggunya karena diri sosok itu tertimpa oleh sosok padat nenek di sebelahnya.

Baekhyun berjalan menuju arah rak deterjen. Satu kendaraan pengangkut barang menumpuk barang ke atas rak di samping Baekhyun.

“Kang Taebum! Barang ini lupa kau pindahkan!”

Pengendara kendaraan itu menoleh. Akibat dari itu, besi pengangkat itu bergeser. Kardus yang berada di atasnya goyah. Beberapa kotak deterjen itu tampak tidak seimbang, dengan kemungkinan jatuh yang besar.

“Awas!! Taebum! Pengangkatnya bergeser!”  Orang itu berteriak. Taebum, pengendara kendaraan itu seketika menoleh ke atas, menyadari kotak-kotak deterjen yang berada setidaknya satu setengah meter di atas akan terjatuh. Ia menggenggam tuas turun dengan cepat. Namun, karena tergesa-gesa, pengangkat itu turun dengan kecepatan tinggi.

Kotak-kotak berisi deterjen berat itu berhasil jatuh. Tepat di atas kepala Baekhyun.

“Menyingkir!!!”

Baekhyun memalingkan wajah. Ia melihat karyawan toko itu membelalak dan berteriak-teriak.

Tidak mengerti situasi, tahu-tahu kardus itu sudah menimpa Baekhyun pada detik berikutnya. Bunyi hantaman kardus dan tubuh Baekhyun terdengar jelas. Kepalanya terantuk kardus berat. Sudut kardus itu melukai dahinya, tepat di tengah-tengah. Darah mengucur dari luka itu.

Sekon berikutnya, segala yang terlihat seketika menjadi gelap.

 

 

 

-To Be Continued-

 

 

 

A/N :

Hai semua! Kuharap kalian yang baca masih ingat dengan keberadaan ff ini, hehehe~~ Maafkan aku (lagi-lagi) yang minggu lalu gak bisa ngirim ni ff ke blog exoffi T.T Duh, dua minggu ini aku entah kenapa bawaannya pusing mulu (mungkin karena PMS kali ya, gak tau aku, wkwkw), jadi males banget yang namanya ngetik. Ini aja ngetiknya ngebut, kebetulan semangatnya lagi fire up jadi gak boleh disia-siain. Kalo enggak, nanti tuh sindrom mager nyerang lagi, ilang deh niatnya #soricurhat

Btw (lupain masalah sebelumnya dulu. Yang tadi itu bikin bête banget soalnya), di chapter ini aku reveal tokoh baru lagi ^^! Kali ini—walo masih misteri kayak keberadaan Atlantis— tokohnya lumayan penting. Jadi, aku nggak sembarang nebar banyak tokoh gitu aja (fyi, ni ff tokohnya lumayan banyak benernya). ‘Dia’ berperan besar dalam…

Cut! Sudah sudah! Aku gak mau ngasi klu lebih banyak lagi, kekeke. Seperti kata abang Umin, eh maksudnya Minleyw, kalo diumbar banyak-banyak nanti gak menarik lagi! So, aku cuma bilang dia penting disini~ *senyum evil *tiba-tiba dilemparin sendal

Ah, benernya masih pingin ngebahas hal lain sih (misalnya tentang sisi Baekhyun ato sosok itu), tapi nanti terlalu banyak :’. Daripada banyak bacot, mending aku pamit dulu yoo~ Sampai ketemu di chap selanjutnya, reader-nim! Saranghae

(Leave some ‘vitamin’ for me, juseyo!)

 

 

With love, Riona Spring

 

  1. s : This story won’t be updated until the end of May because of Rion’s exam week. Sorry for disappoint you, guys ㅠoㅠ After that, I’m make sure to update it as fast as possible! Wait for it!~~
Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 2

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] (Broken) Black Heart – Chapter 3B | EXO FanFiction Indonesia

  2. Makin seru sama ceritanya. Identitas arwah wanita itu belum terungkap, apa dia yang dubilang sama xiu ya ? Kepo sama arwah wanita itu kenapa dia selalu ada didekat baekhyun apa dia mau melindungi baekhyun dari leo apa sebaliknya ? Semoga baekhyun ga kenapa-kenapa. Lanjutkan terus thor ☺☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s