[EXOFFI FREELANCE] Be With You (Prolog)

20170425_131439.jpgBe With You (Prolog)

Author: Sháo Xī

Length: Chaptered

Genre: Age manipulation, romance, school life, drama

Rating: PG-15

Main Cast: Oh Sehun [EXO], Seo Nari [OC], Zhang Yixing [EXO]

Additional Cast: Byun Baekhyun [EXO], Im Yoona [SNSD]

Summary:

Rasanya sungguh menyakitkan saat ia tak ada bersamaku. Apa aku terlalu berlebihan kalau aku mengatakan aku membutuhkannya dan berharap ia tak pergi? Apakah terlihat aneh kalau kukatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menjalani hidup?

        Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis. Genre bisa berubah seiring berjalannya waktu. Penambahan tokoh bisa berubah di setiap chapter. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar demi membangun karya yang lebih baik di kemudian hari.

☺☺ Happy Reading! ☺☺

.

.

.

Laki-laki itu membuatku mau meledak dengan setiap kelakuannya. Oh, tidak! Bisakah dia berhenti melakukan itu? Jantungku mau meledak!

.

.

.

Malam yang dingin. Cukup dingin hingga bisa membuat seorang gadis penyuka musim dingin untuk menggigil. Bibir gadis itu bergetar dengan giginya yang ikut berbunyi. Ia menggosok-gosokkan tangannya sambil sesekali meniupnya. Saat gadis itu tengah merapatkan jaketnya, sebuah cangkir kopi panas tertempel di pipinya. Gadis itu sedikit kaget dan menoleh. Tapi betapa leganya dia saat melihat seorang laki-laki dengan topi dan kacamata tengah tersenyum padanya. Omong-omong, laki-laki itu yang menempelkan cangkir kopi panas.

“Hei, kenapa kau tersenyum seperti itu? Ini, ambil!”

Gadis itu tersenyum malu, lalu mengambil alih cangkir kopinya. Ia menyesap kopi itu secara perlahan, berharap kopi itu tidak cepat habis. Hangatnya langsung menjalari tubuh si gadis. Membuat ia semakin semangat menyeruput.

“Pelan-pelan minumnya. Ini masih panas, loh!”

Gadis bernama Seo Nari itu malah tersenyum lebar. “Siapa suruh membawaku ke tempat terbuka seperti ini? Ini kan, dingin!”

Lelaki di sampingnya—kekasih si gadis—Oh Sehun, menatapnya tak percaya. “Oh, setelah kau kedinginan, kau menyalahkanku? Siapa yang bersikeras mengajakku ke tempat ini?”

“Kau, Oh Sehun.”

Sehun menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Dasar wanita. Selalu menyalahkan pria.”

Nari tertawa. “Tapi aku benar-benar kedinginan. Tempat ini terlalu terbuka.”

“Kan kau sudah minum kopinya. Bukannya itu membuatmu makin hangat?”

Nari mendesis kesal. “Dasar tidak peka!”

Kali ini Sehun tertawa. Ditatapnya Nari yang tengah minum kopi dengan bersungut-sungut. Bibirnya membentuk lengkung sempurna. “Nari-a, kau masih kedinginan?”

Naru mendelik. “Tidak lagi. Aku kan, sudah minun kopi,” tekannya di setiap kata.

“Kalau begini, kau masih juga kedinginan?”

Sehun meraih bahu Nari, membuat gadis itu menatap dirinya. Didekatkan wajahnya hingga bibir mereka bersentuhan. Sehun tak melakukan apapun selain menempelkan bibirnya. Ia tak mau membuat gadis itu meledak. Ciuman kecil itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Sehun menarik kembali dirinya. Ditatapnya Nari dengan penuh lembut.

“Bagaimana, sudah lebih hangat?”

Nari diam. Matanya membesar menatap Sehun. Bukannya tersenyum ataupun berkata-kata, gadis itu malah memukul Sehun. Ia memukul setiap senti tubuh Sehun sampai laki-laki itu terus mengelak.

“Hei, Nari! Kenapa kau malah memukulku? Sakit tahu! Astaga, gadis ini!”

Nari terus memukul Sehun dan tak mengindahkan kata-katanya. “Dasar kau ini! Kenapa menciumku dengan tiba-tiba!”

“Kau bilang kau kedinginan! Jadi aku melakukannya!”

“Tidak boleh! Kau tidak boleh melakukannya!”

Sehun terus menghindar. Berusaha meraih tangan Nari agar gadis itu berhenti. “Kalau kau tidak mau berhenti, aku akan melakukannya lagi, nih!”

Mata Nari membesar. “Kau mau melakukannya lagi? Ayo, kalau kau bisa menghindariku, cobalah! Tapi mana bisa kau—“

Sehun dengan sigap meraih tangan Nari saat gadis itu kelihatan tidak fokus. Ia menarik tangan Nari lalu menciumnya lagi. Sehun menatap gadis itu yang kelihatan tak percaya, lalu terkekeh. “Katanya aku disuruh coba lagi.”

“OH SEHUN!!!”

Sehun tertawa, lalu merangkul Nari. “Kau ini, kenapa selalu marah saat aku melakukannya? Bagaimana kalau aku melakukan yang sesungguhnya? Kurasa kau akan mengalami sakit jantung. Ya, kan?”

Nari menghela nafas. “Aku kan, kaget. Kau sendiri tahu itu.”

“Baiklah, baiklah. Lain kali aku akan minta izin dulu kalau mau melakukannya.”

Nari hanya menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangan ke depan. Kerlap-kerlip lampu gedung di depannya sungguh indah. Nari sungguh menyukai suasana kota Seoul di malam hari. Indahnya lampu malam membuat suasana hatinya baik. Apalagi jika dilihat dari ketinggian. Makanya, ia mengajak Sehun bertemu di lantai teratas gedung agensi Sehun

“Oh, ya! Kau tidak mau kembali? Bukannya kau ada latihan lagi jam… sembilan, ya? Sekarang sudah hampir jam sembilan.”

“Aku sudah bilang kalau aku mau bertemu denganmu. Mereka pasti mengerti, kok.”

“Mengerti kalau kau bersamaku, kau pasti ngaret?”

Sehun menoleh, lalu mencubit kedua pipi Nari. “Kau ini… kenapa bisa berpikir begitu?”

Nari hanya tersenyum lalu menatap kembali jamnya. “Busku sebentar lagi akan datang. Aku harus segera pulang. Besok ada ujian.”

“Aku antar, ya?”

Nari menggeleng. “Enggak usah. Kau harus pergi latihan sekarang. Busku akan tiba sebentar lagi, jadi tidak akan lama menunggu. Oke? Aku pulang, ya!”

Nari meraih cangkir kopinya lalu melempar ke tempat sampah. Cangkir itu masuk dengan mulusnya. “Bye Oh Sehun! Latihan yang rajin, oke? Aku nanti akan bertanya sama Chanyeol dan Kai Oppa, apa kau latihan atau malah asik tebar pesona ke cewek lain. Awas, ya! Aku mengawasimu!”

Sehun tersenyum mendengar cerocosan gadisnya, lalu menepuk kepala Nari. “Aku tak bisa lolos kalau sudah kau awasi, kan?”

Nari tersenyum bangga. “Tentu saja!”

“Oke, karena kau mau pulang, bagaimana kalau ciuman perpisahan?” tanya Sehun sambil merentangkan tangannya, membiarkan Nari menghambur ke arahnya. Tapi gadis itu hanya mencubit ujung hidung Sehun lalu menepuk kedua pipinya.

“Simpan saja untuk nanti. Aku pulang, ya!”

Nari langsung berlari ke bawah dan menuruni anak tangga satu per satu. Sedangkan Sehun, dia hanya tersenyum sampai Nari menghilang secara sempurna. Ia lalu mendesah dan memandang Seoul yang tetap indah dengan segala macam cahaya kuning.

“Mengawasiku? Dasar, Seo Nari.”

.

.

To be continue

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Be With You (Prolog)

  1. sehun so sweet deh,, apalagi ada bang iching,,, my ultimate bias zhang yixing distuin sma 2 bias wrecker ohsehun + byunbaekhyun… chukkae chingu 👏👏👏

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s