[EXOFFI FREELANCE] Neoui Moksoriga Deullyeo (너의목소리가들려)

PicsArt_04-24-08.20.44.png

Neoui Moksoriga Deullyeo

Author: Sháo Xī

Length: Vignette

Genre: Life, Love, Angst

Rating: T

Main Cast: Do Kyung Soo [EXO], Shin Hye Bin [OC]

Summary:

Lima belas tahun sudah berlalu dan tiba-tiba dia datang padaku. Katanya dia menemukanku hanya dari suaraku. Baiklah, orang mana yang percaya akan hal itu?

Disclaimer:

Cerita ini hanya fiksi belaka. Ide cerita murni milik Tuhan Yang Maha Esa dan penulis sendiri. Untuk judul, terinspirasi dari sebuah film. Don’t be plagiat dan hargai karya penulis. Jangan lupa untuk meninggalkan komentar demi karya yang lebih baik ke depannya.

.

.

.

Kurasa aku orang yang beruntung karena orang tangguh itu ada di hadapanku sekarang.

.

.

.

Salju turun di luar sana. Tidak deras memang, malahan semua orang tampak santai dengan langkah-langkah mereka. Mantel berwarna mereka dihiasi oleh titik-titik putih, membuatnya sedikit memiliki corak. Walau begitu, mereka sama sekali tampak tak terganggu. Malah menengadahkan tangan dan mencoba untuk menyentuh salju itu. Salju ini memang bukanlah salju pertama di bulan Desember, tapi tetap saja antusias untuk menyentuhnya tetap ada.

Pintu sebuah kafe terbuka, membuat bel kecil di atasnya berbunyi. Seorang wanita muda tampak memasuki ruangan kafe dengan jejak salju di kakinya. Rambutnya yang panjang dikucir kuda dengan beberapa helai terjatuh di samping telinganya. Wanita itu melangkah sedikit terburu-buru ke meja pesanan dan menyapa pekerja lain di baliknya.

“Aduh, maaf, aku sedikit terlambat,” ujar wanita dengan name tag bertuliskan Shin Hye Bin. Ia sedikit menunduk untuk mengungkapkan maafnya.

“Aah, tak apa. Lagipula aku juga belum pulang. Lima menit saja kok, kamu terlambatnya,” kata seorang wanita sambil tersenyum ramah. Ia memakai jaketnya lalu sedikit merapikan rambut. Di dadanya tersemat name tag bertuliskan namanya, Jung In Na.

“Ah, Sunbae, maafkan aku. Harusnya aku bisa lebih cepat.”

“Kau ini kenapa, sih? Lagian, kau terlambat bukan karena kau bersantai atau semacam, kan? Selain di sini, kau juga bekerja di tempat lain. Jadi terlambat sedikit adalah hal yang wajar,” jelas In Na, membuat Hye Bin hanya bisa tersenyum berterima kasih. “Sudah ya, aku pulang dulu. Aku harus membuat makanan untuk adik bawelku itu. Ia akan pulang setelah latihan baseball. Tahu sendiri kan, bagaimana laparnya orang setelah latihan berat?”

“Baiklah Sunbae, hati-hati di jalan!”

In Na mengangguk lalu segera keluar dari balik meja pesanan. Dirinya sudah terbalut jaket coklat terang. “Oh ya, pelanggan tetapmu sudah datang. Dari tadi dia bertanya tentangmu terus,” In Na menempuk pundak Hye Bin. “Aku pergi, ya!”

Sepeninggal In Na, Hye Bin menoleh ke bangku paling pojok dekat pintu. Di sana, seorang laki-laki tampak duduk tenang sambil menyesap mocca-nya dengan perlahan. Hye Bin menghela nafas pelan sambil memandangi laki-laki itu. Ini sudah hampir dua minggu sejak laki-laki itu menjadi pelanggan tetap kafe ini. Ia akan selalu datang di jam yang sama, tempat duduk yang sama, dan pesanan yang sama. Ia juga selalu bertanya di mana Hye Bin kalau bukan dirinya sendiri yang melayani pria itu. Lama-lama, Hye Bin merasa ini aneh. Laki-laki itu bukan tampang seperti penguntit. Pakaian mahal yang dikenakannya membuat Hye Bin berpikiran begitu. Belum lagi saat laki-laki itu pulang, ia akan dijemput oleh mobil hitam mercedez yang tampak mahal. Laki-laki berduit seperti itu, mana mungkin menguntit Hye Bin yang bisa dibilang tak sempurna dalam berbagai hal, kan?

“Hye Bin, kau antar pesanan meja dua belas, ya!”

Hye Bin tersentak dan langsung menoleh pada rekannya yang sudah menyodorkan nampan berisi segelas mocca. Hye Bin dengan cepat mengambil alih nampan dan membawanya ke meja… dua belas?

Kepala Hye Bin berputar dan menatap rekan-rekannya yang sudah tertawa dan mengacungkan jempol padanya. Beberapa malah mengatakan kata-kata penyemangat tanpa suara. Yeah, sukses sudah mereka menjodoh-jodohkannya dengan lelaki muda ini.

Hye Bin menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Ia harus tetap profesional dalam pekerjaannya, tak peduli apa kata rekan-rekannya terhadap ia dan lelaki muda ini. Jadi dengan segera, ia berjalan ke arah laki-laki itu dan meletakkan pesanannya di meja.

“Pesanan Anda, Tuan.”

“Oh, kau sudah datang?” tanya laki-laki itu. Senyum simpul terulas manis di bibirnya.

Hye Bin tersenyum. “Saya harus kembali bekerja. Silakan nikmati pesanan Anda. Saya permisi.”

“Ah, sebentar. Saya… ingin berbicara sesuatu padamu. Itupun kalau kau tak keberatan.”

Hye Bin menaikkan alisnya. Bicara sesuatu padanya? Hye Bin merasa ada gerakan-gerakan aneh di sampingnya, jadi ia menoleh. Rekan-rekannya sudah memberi tanda agar Hye Bin tetap di sana. Melihat kelakuan rekannya, membuat Hye Bin sedikit menggelengkan kepala tak habis pikir.

“Tapi, saya tak bisa meninggalkan pekerjaan saya,” alasan Hye Bin.

Laki-laki itu tetap tersenyum. “Tidak apa-apa, sebentar saja. Saya sudah menunggu kamu selama dua jam. Sepertinya saya terlalu cepat datang ke sini.”

Dua jam? Laki-laki itu sudah menunggunya selama dua jam? Baiklah, Hye Bin bukan orang jahat, jadi dia memilih duduk di hadapan laki-laki itu.

“Anda ingin bicara apa?”

“Bolehkah aku berbicara lebih santai padamu? Sekali ini saja kalau kau tak memperbolehkan aku untuk bicara seperti ini lagi padamu.”

Hye Bin mengangguk. “Tidak masalah.”

“Baguslah kalau begitu. Setelah aku bicara padamu, aku tidak akan kembali lagi ke sini. Jadi kau tak perlu khawatir atau merasa risih lagi.”

Hye Bin menaikkan sebelah alisnya. Tak akan datang lagi?

“Hye Bin, apa kau tak ingat padaku?”

Hye Bin mengerutkan keningnya. Kenal? Mana mungkin seorang Shin Hye Bin mengenal seseorang seperti eksekutif muda ini.

“Aku tak pernah mengenalmu. Sepertinya ini pertama kali kita bertemu, di kafe ini.”

Laki-laki itu mengerutkan keningnya. “Kau tak ingat padaku? Aku Do Kyung Soo.”

Do Kyung Soo? Nama itu tak pernah ada pada ingatan Hye Bin. “Sepertinya selama ini Anda salah orang, Tuan Do Kyung Soo. Aku tak pernah mengenal orang dengan nama sepertimu,” Hye Bin berdiri. “Maaf, tapi kurasa Anda benar-benar salah orang. Mungkin aku bukanlah Hye Bin yang Anda cari. Aku harap, Anda tidak mengunjungi kafe ini lagi bukan karena aku. Kalau Anda berbuat seperti itu, aku akan merasa sangat bersalah.”

“Lima belas tahun yang lalu, saat salju pertama turun, di depan sebuah lapangan… kau tak ingat itu?”

Hye Bin terdiam. Langkah perginya ia urungkan. Ia hanya bisa menatap laki-laki bernama Kyung Soo itu dengan kening berkerut. Lima belas tahun yang lalu? Saat salju pertama turun? Di depan sebuah lapangan?

“Kau tidak ingat itu? Hari di saat kau menolong seseorang?”

Hari di saat—astaga! Tunggu dulu. Kenapa orang ini…

Hye Bin kembali duduk, menatap Kyung Soo dengan serius. “Katakan, darimana kau tahu hal itu?”

“Kau ingat hari itu? Aah, aku lega sekali.”

Kening Hye Bin masih berkerut serius. “Kau… sebentar. Kau tahu darimana semua itu?”

Kyung Soo tersenyum. “Sebagai orang yang kau tolong, aku mencarimu selama ini.”

Hye Bin terkesiap. Otaknya kembali memutar kejadian lima belas tahun yang lalu, tepat di hari salju pertama turun.

“Saat itu salju pertama turun. Aku pulang sekolah sedikit terlambat tapi tak ingin lebih terlambat lagi hanya karena salju. Jadi aku menerobosnya dan pulang dengan salju di seluruh badanku. Di depan lapangan, aku bertemu dengan sekelompok anak sekolahku. Mereka menghadangku dan memalakiku. Mereka bahkan memukuliku walau sudah mendapatkan uang sakuku. Lalu—“

“—aku datang, mengusir mereka semua, bahkan sempat melempari mereka dengan batu supaya mereka berhenti memukulimu.”

Kyung Soo tersenyum hangat. “Ya, lalu kau membantuku berdiri dan mengajakku ke tepi lapangan. Menempelkan perekat luka di keningku dan membersihkan salju di kepalaku.”

Satu air mata bergulir di pipi Hye Bin, tapi dengan cepat langsung dihapusnya. “Lalu aku memayungimu dan bersama kita pulang ke rumahmu.”

“Kau mengucapkan selamat tinggal padaku lalu menjabat tanganku,” Kyung Soo mengangkat tangan kanannya. “Itu bahkan masih terasa di tanganku.”

Hye Bin menghela nafas sedikit tak percaya. “Jadi kau anak itu? Anak yang kutolong lima belas tahun yang lalu?”

Kyung Soo mengangguk. “Ya, itu aku.”

“Dan ternyata namamu Do Kyung Soo?” Hye Bin tertawa miris. “Aku baru tahu setelah lima belas tahun berlalu.”

“Aku juga tak sempat mengenalkan diriku padamu. Kau sudah mengucapkan selamat tinggal lebih dulu padaku.”

“Aah, maaf tentang itu,” kata Hye Bin. “Dan maaf karena aku tak bisa mengenalimu. Rambutmu dulu sedikit lebih panjang dari ini.”

Kyung Soo mengangguk. “Tidak apa. Wajar jika kau lupa padaku. Lagipula, aku pasti bukanlah orang satu-satunya yang kau tolong, kan? Kejadian itu memang sebentar, jadi patut kalau kau tak mengingatnya.”

“Ah, tidak! Aku mengingatnya. Hanya… aku tak tahu wajahmu yang sekarang seperti apa.”

Perkataan Kyung Soo itu salah. Hye Bin tak pernah melupakan kejadian itu. Lima belas tahun memang sudah berlalu, tapi mana mungkin ia lupa pada laki-laki ini? Laki-laki yang membuat ia pertama kali tahu rasanya cinta. Mungkin terbilang aneh, tapi ia sungguh merasakannya. Laki-laki berambut pendek rapi ini adalah cinta pertamanya. Satu-satunya orang yang membuat ia jatuh cinta.

“Mana mungkin aku lupa pada orang yang tangguh sepertimu. Kau sudah terluka, tapi menolak keras bantuanku. Dan aku juga tidak tahu mengapa akhirnya kau mau kuobati. Aku bahkan sudah lupa kata-kata bujukan itu,” Hye Bin tertawa kecil sementara Kyung Soo tersenyum. “Kau menolak dikasihani, tapi aku berhasil membawamu pulang. Kau tak tahu betapa senangnya aku saat itu. Berhasil membujuk seseorang yang keras kepala dan tak kukenal.”

“Kau ingat padaku karena hal itu? Betapa keras kepalanya aku saat itu… itu yang membuatmu ingat padaku?”

Hye Bin diam. Tidak, bukan itu.

“Apa aku harus mengatakan alasannya? Ini pertama kalinya kita bicara panjang lebar setelah lima belas tahun tak bertemu. Dan aku harus mengakuinya?”

Kyung Soo terdiam. Benar juga kata gadis itu. “Iya, kau benar. Maaf tentang hal itu, Hye Bin.”

“Kau juga tahu namaku? Rasanya aku tak pernah memberitahumu namaku saat itu.”

Kyung Soo mengedikkan bahunya. “Aku tahu saja.”

Hye Bin menghela nafas. “Baiklah, terserahmu saja. Jadi, bagaimana kabarmu? Kau seorang pengusaha sekarang?”

Kyung Soo tersenyum lalu mengangguk kecil. “Ya, begitulah. Kau sendiri, sudah lama bekerja di sini?”

“Aku pernah magang di sini saat masih di bangku SMA, lalu melamar lagi saat masuk universitas. Setelah lulus, aku coba melamar sebagai pekerja tetap dan diterima dengan mudah karena semuanya sudah mengenalku dari aku masih SMA. Aku memang menyukai pekerjaan ini. Tidak terlalu berat dan lumayan santai. Selain itu, menghirup wangi kopi setiap hari membuatku lebih rileks. Mungkin benar, kalau aku sudah kecanduan dengan wangi kopi. Dengan kata lain, tempat ini adalah salah satu tempat yang kubutuhkan selain rumah.”

Hye Bin melirik Kyung Soo yang masih mendengarkannya dengan khidmat. Sesekali, laki-laki itu menyesap mocca-nya.

“Aah, maaf. Aku jadi banyak bercerita.”

Kyung Soo menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Selama ini aku tak tahu tentang Hye Bin. Jadi, aku ingin tahu segala tentangmu. Boleh, kan?”

Segala… tentangnya?

“Hye Bin? Kau dengar aku?”

Hye Bin tersentak. “Ah, iya.”

“Jadi, apa lagi yang perlu kuketahui tentangmu?”

Hye Bin diam sebentar. “Kenapa kau ingin tahu?”

Kyung Soo terdiam. Cangkir yang ia pegang diletakkannya kembali, membuat suara lembut di telinganya. “Karena aku merindukan Hye Bin.”

Hye Bin terdiam. Astaga, ada apa ini?

“Mungkin kau tak tahu… ataupun tak merasakan hal yang sama denganku. Itulah kenapa hari ini aku ingin berbicara sesuatu padamu. Sejak pertama kali bertemu denganmu, aku memang kesal sekali karena kau menolongku padahal aku tak membutuhkanmu. Tapi setelah merasakan bagaimana hangatnya tanganmu saat menggenggamku, aku mulai merasa sesuatu yang lain. Lebih dari rasa berterima kasih karena saat itu, tanpa sengaja, kau sudah membuatku jatuh cinta padamu.”

Hye Bin terdiam. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Laki-laki ini jatuh cinta padanya? Pada seorang Shin Hye Bin?

“Kebaikanmu, keramahanmu, dan tekadmu untuk tetap menolongku walau aku menolakmu, membuatku langsung tahu bahwa kau orang yang baik. Cukup membuatku terpesona padamu.”

“Kau… Do Kyung Soo… suka padaku?”

Kyung Soo tersenyum. “Selama lima belas tahun terakhir ini.”

“A… aku… aku harus berkata apa?”

Kyung Soo tertawa. “Apa aku minta kau mengatakan sesuatu? Atau memintamu menjawab? Tidak, Hye Bin. Aku hanya ingin agar kau tahu. Kau bisa mendengarnya saja sudah membuatku merasa lebih baik. Setidaknya aku berhasil menemukan wanita ini, cinta pertamaku,” Kyung Soo sudah bersiap beranjak. “Terima kasih atas waktumu. Sekarang, aku harus pergi. Aku harap, kita bisa bertemu lagi, Hye Bin.”

Tidak. Laki-laki ini tak boleh pergi.

Kajima,

Kyung Soo menghentikan langkahnya. “Kau mengatakan sesuatu?”

“Setelah lima belas tahun, kau hanya akan melakukan ini padaku? Apa kau tidak terlalu kejam?!”

Suara Hye Bin yang sedikit melengking membuat beberapa pengunjung menoleh padanya. Tapi ia tak mempedulikan itu. “Jangan hanya mengatakan bahwa kau berharap kita akan bertemu lagi. Lalu kalau itu maumu, aku harus mencarimu ke mana? Apa aku perlu menunggu lima belas tahun lagi?”

Kyung Soo kembali mendudukkan dirinya di kursi. “Hye Bin, kau kenapa?”

“Jangan tanya kenapa! Harusnya aku yang bertanya kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Kau tak tahu betapa aku juga merindukanmu sama seperti dirimu? Kenapa kau mau pergi secepat ini padahal aku ingin melihat wajahmu lebih lama?”

“Hye Bin, kau—“

“Ya! Aku merindukanmu…” Air mata mengaliri pipi Hye Bin, membuat jalanan air yang lurus. “… karena aku mencintaimu. Kau satu-satunya laki-laki yang membuatku seperti itu. Dan sekarang kau mau pergi?”

Kyung Soo hanya bisa diam sementara Hye Bin menangis di depannya. Tangannya terulur ke depan, hendak menyentuh wajah gadis itu, tapi suara kursi yang digeser paksa membuat ia kembali menarik tangannya.

“Tunggu di sini dan jangan pergi ke mana-mana!”

Kyung Soo hanya diam saat Hye Bin menyuruhnya. Gadis itu berjalan menuju rekan-rekannya, mengatakan sesuatu lalu langsung kembali lagi ke meja Kyung Soo.

“Ayo ikut aku!”

Hye Bin menarik Kyung Soo bersama dengan mantelnya, membuat laki-laki itu bertanya.

“Hye Bin, kau mau pergi ke mana?” tanya Kyung Soo, tapi gadis itu tak menjawab sama sekali. Ia mendorong pintu dan menarik Kyung Soo keluar. Salju yang masih turun menghujani mereka, tapi tak urung membuat Hye Bin menghentikan langkahnya.

“Kau ingat semuanya, kan? Kau juga ingat hari ini hari apa, kan?” tanya Hye Bin.

Tentu saja Kyung Soo ingat. Ini tepat lima belas tahun mereka bertemu, makanya Kyung Soo mengatakan semuanya.

“Ini hari pertama kita bertemu. Salju pertama memang bukan hari ini, tapi ini tetaplah harinya. Kau sudah mengakui semuanya dan akupun juga begitu. Tapi aku tetap tak terima dengan kau yang hanya pergi setelah mengatakan semuanya,” Air mata Hye Bin mengalir. “Katakan sekali lagi Kyung Soo, apa kau sama sekali tak mengharapkan jawaban apapun dariku?”

Kyung Soo diam. Ia melepaskan tangannya dari genggaman Hye Bin. “Tolong berikan mantelku.”

Hye Bin menghela nafas, laki-laki ini memang tak mengerti. Jadi Hye Bin menyerahkan mantelnya. Kyung Soo mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya. Sebuah tongkat. Ia sedikit mengibaskan tongkat itu, membuatnya memanjang dari sebelumnya.

“Kau lihat? Orang sepertiku bisa memberikan apa padamu?”

Hye Bin menggeleng. “Aku tak peduli walaupun kau tak bisa melihatku. Tapi kau mampu mencariku setelah sekian lama. Apa aku tak bisa menggantungkan harapanku padamu? Pada orang yang tahu siapa aku bahkan aku pun tak tahu namanya?”

Kyung Soo menggeleng pelan. “Tidak sesederhana itu, Hye Bin.”

“Katakan padaku, bagaimana kau bisa tahu bahwa ini aku? Kau bahkan tak tahu wajahku.”

Kyung Soo menarik nafas pelan, menggenggam erat tongkatnya. “Dari suaramu. Aku bisa mendengar suaramu… Shin Hye Bin.”

Hye Bin menangis. Kenapa ada orang seperti ini? Kenapa ia harus mengenal orang yang begitu tangguh seperti dia? Kenapa ia hanya bisa jatuh cinta pada laki-laki ini?

Kyung Soo mengulurkan tangannya. Menyentuh wajah Hye Bin dan mencoba menghapus air mata gadis itu. Semakin Kyung Soo melakukannya, membuat Hye Bin semakin menangis. Ditatapnya Kyung Soo dengan wajah yang penuh penderitaan tapi berusaha tetap kuat.

“Kumohon, jangan menangis lagi. Kalau kau tak mau aku pergi, baiklah, aku tak akan pergi. Kalau kau mau aku di sampingmu, baiklah, aku akan di sampingmu. Tapi aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu. Aku tak bisa jadi laki-laki sempurna seperti yang lain.”

Hye Bin menyedot hidungnya. “Selama ini aku jatuh cinta pada siapa, Do Kyung Soo?”

Kyung Soo diam. Tangannya bergerak ke atas, menyentuh rambut Hye Bin. Disusurinya rambut panjang Hye Bin sampai ke ujung. “Rambutmu ternyata panjang. Apa lima belas tahun yang lalu juga seperti ini?”

Hye Bin menatap Kyung Soo tak mengerti. Kenapa laki-laki itu bertanya hal yang aneh. “Dari dulu rambutku memang panjang. Ada apa? Kau menyukaiku karena rambutku?”

Kyung Soo menggeleng, lalu tersenyum kecil tapi terasa menyakitkan di mata Hye Bin. “Aku benar-benar tidak tahu tentangmu. Bagaimana rupamu, apakah kau gadis yang tinggi, bagaimana warna matamu… aku sama sekali buta tentang itu,” Kyung Soo tertawa pendek. “Oh ya, aku kan, memang tidak bisa melihat.”

Hye Bin menatap pria di depannya ini, yang selalu menatap lurus ke depan. Setetes air mata kembali bergulir menuruni pipi Hye Bin. Gadis itu mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Kyung Soo.

“Eoh? Ada apa?” tanya Kyung Soo.

Hye Bin menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Kau… tidak perlu khawatir tentang itu. Aku akan ceritakan seperti apa diriku ini. Kau bisa mempercayaiku dan aku sama sekali tak berniat membohongimu.”

“Oke,” kata Kyung Soo sambil tersenyum.

“Bagaimana mungkin kau bisa menemukanku hanya dari suaraku?” tanya Hye Bin. Dirinya menatap Kyung Soo tak percaya.

“Karena aku percaya kalau aku bisa menemukanmu dengan cara itu. Aku tidak bisa melihatmu, tapi aku bisa mendengarmu. Jadi aku juga percaya, bahwa suaramu itu yang akan menuntunku kembali.”

Hye Bin mengangguk. “Karena kau berpikir aku bisa menuntunmu, maka sekarang aku akan benar-benar menuntunmu. Aku harap, aku tak membuatmu tersandung dan hidupmu akan jadi lebih mudah,” Hye Bin menghela nafas perlahan dan senyum manis terulas di bibirnya. “Terima kasih karena sudah menemukanku.”

Kyung Soo mengangguk. “Apa kau sedang tersenyum sekarang?”

“Iya, kenapa?”

Kyung Soo balas tersenyum hangat. “Pasti cantik sekali,”

Hye Bin tertawa dan Kyung Soo ikut tertawa. Gadis itu menatap Kyung Soo lembut, sebenarnya masih bertanya-tanya mengapa ada orang seperti ini? Tapi yang pasti, orang ini sekarang ada di hadapan Hye Bin dan artinya semua ini nyata. Hanya saja, ia masih kesulitan menerima karena ia sama sekali tak punya pemikiran akan bertemu kembali dengan laki-laki ini. Tapi Hye Bin bersyukur karena laki-laki itu datang padanya. Setidaknya, ia tahu bahwa orang tangguh ini masih semangat dalam menjalani hidupnya. Oh, mungkin sekarang adalah hidup mereka berdua.

.

.

End

.

.

P.S: Thank you for reading my second fanfiction of non chapter. Jangan lupa komentar dan kritiknya ya, biar aku bisa belajar banyak dari kalian yang sudah banyak berpengalaman^^

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Neoui Moksoriga Deullyeo (너의목소리가들려)

    • Wkwkw, intinya mereka pernah ketemu 15 thn yg lalu dan sama sama saling suka. DO kan ga bisa lihat, jd cuma bisa denger suaranya aja. Pokonua gitulah, wkwk, mian karna sayanya baru belajar juga. Makaish udah mampir 😆

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s