[EXOFFI FREELANCE] Promise (약속) (Chapter 11)

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Multi Chapter

Rating        : PG 17+

Main Cast    : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), Park JungSoo, Kim Taeyeon, and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 11 (‘Cause Truth or Dare)

Saera berjalan pelan menyusuri trotoar. Jalanan saat itu terlihat tak terlalu ramai, maklum ini masih jam kerja kantor dan sekolah. Ini bukan kali pertamanya datang ke kota itu. Yeah, dia memang sering berlibur ke kota itu sewaktu kuliah dulu, bersama orang yang benar-benar ia cintai. Orang yang ia harap menjadi pendamping hidupnya kelak. Namun takdir berkata lain, ia harus terpisah ditengah jalan.

Dia membuang nafas beratnya. Kepingan memori kebersamannya dengan namja itu berputar diotaknya. Masa-masa indah yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Dia tak menyesal telah mengenalnya, bahkan teramat berterima kasih pada namja itu yang telah mengajarkannya apa itu cinta. Tentang perasaan bagaimana dicintai dan mencintai. Dia tersenyum mengingat kenangan indah itu.

Namun kali ini dia datang bukan untuk mengingat masa-masa itu. Dia harus meluruskan satu hal pada gadis yang telah menjadi istri namja itu. Dia juga harus berterima kasih pada sunbaenya yang sudah mengajaknya datang ke kota itu. Sebenarnya dia dalam perjalan menemani sang sunbae menghadiri seminar di kota tersebut. Beijing. Ya, kota yang memiliki banyak kenangan tentangnya. Kota kelahiran namja yang ia maksud.

Dia melihat gadis itu tengah menghias kue. Ya, gadis itu adalah seorang Patisier. Bahkan dia bekerja di toko kue yang cukup terkenal di Korea. Tapi lihatlah sekarang, dia bekerja di toko yang lumayan kecil yang dulu menjadi tempat favoritnya saat datang ke kota itu. Meski begitu, gadis itu terlihat senang, karena ternyata toko tersebut adalah toko milik orang tuanya. Mungkin namja itu mengenalnya juga saat berkunjung kemari.

Saera tersenyum mengejek mengingat kemungkinan itu. Owh, lupakan. Sekarang bukan waktunya membahas itu. Saera mengambil nafas dalam lalu membuangnya, dan terus berulang sampai dia merasa benar-benar siap menghadapinya. Menghadapi gadis itu, mungkin saja gadis itu akan marah padanya. Kemungkinan itu pasti ada, melihat bagaimana namja itu masih begitu merindukan Saera.

Saera berjalan mantap memasuki toko tersebut. Ini sudah tujuh tahun sejak terakhir kali dia datang. Toko itu sudah terlihat lebih indah dibanding dulu. Bahkan dekorasi ruang saat pertama memasukinya terlihat berbeda. Sekarang sudah banyak kursi untuk pengunjung, ruangnya juga terlihat begitu luas.

Saera menduduki salah kursi yang kosong. Dia disambut seorang pelayan. “Selamat datang. Apa yang ingin anda pesan nona?”, pelayan itu tersenyum ramah padanya dan memberikan daftar menu.

“Menu apa yang paling enak menurut anda?”, Saera justr balik bertanya. Bukan tanpa alasan dia bertanya, sebenarnya dia terlalu bingung memilih salah satu menu dalam daftar tersebut.

“Sebenarnya aku tak terlalu suka kue. Tapi jika anda meminta rekomendasi maka macaron disini yang paling enak. Kami memiliki patisier baru, dia sangat pandai dalam membuat variasinya”, pelayan wanita itu ternyata cukup cerewet. Tapi Saera justru senang mendengarnya. Setidaknya dia tak akan kebingungan lagi memilih menu.

“Pilihkan saja salah satu untukku”, Saera membiarkan pelayan itu memilihkan menu untuknya.

“Baiklah! Apa yang ingin anda minum nona”, pelayan itu kembali bertanya.

“Latte”. Saera menutup buku menu yang tadi diterimanya. Dia menyerahkan kembali pada sang pelayan.

Pelayan itu pergi setelah mencacatan pesanan Saera. Namun, belum sampai lima langkah Saera kembali memanggilnya.

“Tunggu!”, cegah Saera.

“Iya, ada yang bisa saya bantu lagi nona?”, pelayan itu kembali berbalik dan menghampiri Saera.

“Bisakah aku bertemu dengan nona Huang Fei?”, ada ragu dalam ucapan Saera. Setidaknya dia harus mencoba. Dan memang tujuannya datang kemari adalah untuk bertemu gadis itu.

“Tentu, dia patisier baru kami. Maaf sebelumnya, apa yang harus saya katakan jika dia bertanya siapa?”, tanya pelayan itu kembali.

“Bilang saja temannya, dari Seoul”,jawab Saera. Senyum manis juga tercetak di wajahnya.

“Baiklah! Akan aku sampaikan. Tunggu saja sebentar”, pelayan itu pergi setelah mengatakannya.

Saera dapat bernafas lega mendengarnya. Semoga saja, gadis itu benar-benar mau menemuinya, jika tidak… Owh, kenapa harus berfikir begitu, gadis itu pasti mau menemuinya. Saera menyemangati dirinya sendiri.

Pelayan itu telah datang dengan menu yang tadi ia pilihkan dan latte yang Saera pesan. Dia meletakkan pesanan itu di meja depan Saera. “Selamat menikmati nona”, pelayan itu tersenyum ramah setelahnya.

“Terima kasih”, jawab Saera yang juga membalas senyum itu.

“Nona Huang belum kemari?”, tanya pelayan itu kembali. Tapi sebenarnya pertanyaan itu ia ajukan untuk dirinya sendiri.

Saera yang sudah terlanjur mendengar menggeleng.

“Itu dia”, pelayan itu melihat ke arah datangnya orang yang dia maksud. “Kalau begitu, saya permisi dulu nona”, dia menunduk hormat sebelum meninggalkan Saera.

Saera mengangguk mempersilahkan pelayan itu pergi. Dia berlih menatap gadis yang pelayan itu maksud. Gadis itu masih secantik yang dia ingat. Ditambah dengan pakaian khas patisier, gadis itu terlihat benar-benar anggun.

“Kau”, gadis iu berucap saat melihat Saera. Dia bermaksud pergi, namun dengan cepat Saera menarik lengan gadis itu hingga dia terpaksa berhenti.

“Aku ingin bicara sebentar dengan anda”, kata Saera saat gadis itu menoleh minta penjelasan dengan tingkahnya.

Gadis itu terlihat sedang menahan emosinya. Tentu saja, gadis mana yang tak marah melihat mantan kekasih suaminya. Dan yang paling parah gadis itulah yang membuatnya bertengkar dengan suaminya. “Baiklah! Hanya sebentar, aku masih banyak pekerjaan”, katanya akhirnya menyerah.

Sara melepaskan tangannya dan mempersilahkan gadis itu duduk. Dia menarik nafas panjangnya. Entah mengapa dia merasa sedikit gugup dihadapan gadis ini. Dia tak begitu mengenal sifatnya, jadi mungkin Saera takut jika nanti apa yang dibicarakannya akan mendapat reaksi berlebihan dari gadis ini. Dari reaksi pertama saat mereka bertemu saja sudah seperti tadi. Bagaimana jadinya nanti!

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?”, gadis itu kembai bersuara saat Saera tak kunjung membuat suara. Dia terlihat duduk tak tenang disana.

Saera kembali mengambil nafas panjang. Menenangkan dirinya sebelum berbicara. “Aku ingin anda kembali ke Korea untuk Luhan. Anda pasti sudah tahu jika dia sedang sakit! Karena itu, aku mohon, temani dia. Hanya dengan dukungan anda lah dia akan dapat disembuhkan”.

“Kau bercanda!”, gadis itu tersenyum mengejek. “Aku tak akan pernah kembali lagi kesana. Sudah cukup perlakuannya padaku tiga tahun ini”, gadis itu membuang kasar nafasnya.

“Aku mohon nona Huang!”, raut wajah Saera benar-benar terlihat memelas. Dia memang sungguh-sungguh dengan ucapannya. Jika tidak, dia tak akan repot-repot datang ke tempat itu.

“Tidak! Aku tak akan merubah pikiranku”, ada raut marah di wajah cantik gadis itu. “Dan lagi kenapa kau memintaku! Kau yang lebih dibutuhkannya, bukan aku”, lanjut gadis itu kembali.

“Tidak! Anda salah jika mengatakan dia membutuhkanku. Dia hanya…”, belum sempat Saera melanjutkan perkataannya, gadis itu sudah menyela.

“Dia hanya mencintaimu, dan selamanya akan seperti itu. Percuma aku datang, dia tak akan merubah perasaannya. Jika tak ada yang ingin dibicarakan lagi, aku permisi?”, gadis itu bangkit dari duduknya. Dia bermaksud pergi, namun terhenti kala mendengar perkataan Saera.

“Bukankah anda mencintainya?”, Saera kemudian menatap gadis yang sudah berdiri itu.

“Itu bukan urusanmu”. Gadis itu kembali pergi. Baru beberapa langkah Saera kembali bersuara.

“Itu memang bukan urusanku. Tapi, jika memang benar. Apa anda tak ingin memperjuangkannya! Dia sudah menerima anda menjadi istrinya. Orang tuanya bahkan sangat menyayangi anda. Bukankah itu sudah lebih dari cukup menjadi alasan anda memperjuangkannya. Anda hanya harus membuatnya hanya melihat anda. Melupakan semua masa lalunya. Membuka lembaran baru bersamanya. Dan…”, belum selesai Saera bicara, lagi-lagi gadis itu menyelanya.

“Diamlah! Aku tak butuh nasehatmu?”, gadis itu akhirnya pergi setelah mengatakan hal itu.

Saera hanya bisa membuang pasrah nafasnya. Dia juga mengusap kasar wajahnya. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana jika gadis itu benar-benar tak ingin menemui Luhan? Apa yang harus dilakukannya? Dia kembali membuang nafas pasrahnya. Meminum latte yang tadi dipesannya.

Tapi setidaknya dia sudah berusaha. Semoga saja gadis itu tersentuh hatinya. Dan mau memaafkan kesalahan suaminya. Ya, semoga saja.

***

Saera meletakkan barang belajaannya di meja dapur apartemennya. Dia baru saja pulang dari supermarket membeli semua kebutuhan makanannya. Dia berjalan menuju kulkas, mengambil sebotol air mineral dan meminumnya. Tenggorokannya terasa kering setelah belanja tadi. Dia duduk disalah satu kursi dapurnya, sepertinya dia tengah terfikir sesuatu. Dan lagi, bahan makanan yang dia beli terlampau banyak untuk ukuran seorang gadis yang tinggal di apartemen seorang diri.

Dia bingung harus memasak apa? Jika untuk dirinya sendiri, dia tak akan sebingung ini. Masalahnya adalah dia harus mengirim makan siang untuk sang CEO S&C seminggu ke depan, terhitung mulai hari ini. Ya, saat pembukaan restoran seniornya beberapa hari yang lalu dia kalah dalam permainan Truth or Dare. Itu bukan kali pertama dia kalah, dalam kekalahan sebelumnya dia selalu memilih Truth. Dan untuk permainan terakhir, dia memilih Dare. Dan yang memeberi tantangan adalah sang senior pemilik restoran yang tak lain adalah sepupu dari sang CEO.

Tantangannya adalah dia harus mengirim makan siang untuk sang CEO. Awalnya sang senior meminta sebulan penuh, namun karena kepandaian Saera menawar, dia hanya mendapat jatah seminggu. Hal ini dilakukan sang senior untuk membuktikan apakah Saera bisa masak atau tidak. Dan juga kata sang senior jika sepupunya sejak kecil tinggal di Amerika dan belum terbiasa dengan masakan Korea, jadi Saera harus memasak makanan orang Korea untuk sang CEO. Syarat yang terlalu rumit. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjut memilih Dare, jadi dengan terpaksa dia harus melakukannya.

Dia juga mengajukan syarat akan melakukannya setelah tiga hari ke depan, karena pekerjaannya yang mengharuskannya pergi ke luar negri. Jadi dia bisa melakukannya mulai hari ini. Dan lagi, karena dia hari ini sedang libur kerja, dia dapat berfikir sesuka hatinya. “Aku harus masak apa?”, Saera benar-benar harus berfikir keras. Dia bingung masakan apa yang harus dimasaknya. Bukan karena tak pandai memasak, hanya saja dia takut jika nanti sang CEO tak menyukainya.

Dia melirik jam tangannya, sudah hampir waktu makan siang, dia harus segera bergegas. Dengan cekatan dia memilih bahan yang dibutuhkan untuk masakannya. Pilihannya jatuh pada masakan Bulgogi. Ya, untuk hari ini dia akan memasak itu, nanti dia bisa menayakan masakan apa yang tak disukai pria itu saat mengantarkannya nanti. Ide yang bagus.

Saera sudah siap dengan makanannya. Dia juga sudah siap dengan penampilannya. Ini bukan janji kencan kenapa harus berdandan segala? Ah, bukan berdandan namanya. Tapi lebih tepatnya merapikan diri. Ya, setidaknya dia lebih wangi dari sebelumnya. Aktivitas berkutat dengan wajan dan panci pasti mengeluarkan keringat bukan.

Dengan membawa kotak makanan juga tas semplang, Saera berjalan mantap meningalkan apartemennya. Penampilannya lumayan pas, meski sederhana namun tatap terkesan elegan. Rambut panjang hitamnya dibiarkan terurai. Dia sudah mengganti warna rambutnya setelah pulang dari luar negri kemarin. Tubuh rampingnya dibalut mini dress brokat dengan kombinasi sifon berlengan pendek warna abu-abu. Kaki indahnya dibungkus wedges warna senada. Jangan lupakan kalung emas putih yang sudah dia pakai sejak kecil. Ya, harus diakui selera fashion Saera lumayan bagus.

Saera lebih memilih pergi menggunakan taksi. Akan lebih praktis menurutnya. Jika dia bawa mobil sendiri, dia masih sedikit takut jika tiba-tiba pusingnya kambuh. Ya, akhir-akhir ini dia sering sekali pusing yang disertai dengan kilatan ingatan masa kecilnya, bahkan kadang sampai pingsan. Dokter bilang tak masalah, ini memang efek dari kecelakan di masa kecilnya. Dia juga berharap demikian, semoga saja.

Saera sudah memasuki kantor utama S&C Group. Entah mengapa rasa gugup tiba-tiba menyelimutinya. Saera harus menarik nafas dalam untuk menguranginya. Begitu seterusnya sampai rasa gugupnya berkurang. Ini lebih menakutkan dari pada ujian akhir kuliahnya dulu. Bagaimana tidak, dia tak begitu mengenal pria itu. Dan secara terpaksa dia harus melakukan hal yang tak disukainya. Semoga ini tak seburuk yang dia fikirkan.

Dengan langkah mantap dia memasuki area perkantoran itu. Dia sempat bingung harus kemana? Kantor itu begitu luas dan juga terdiri dari banyak lantai. Dan yang pasti dia tak tahu di lantai berapa ruangan sang CEO. Bagaimana ini? Ah, dia melihat meja resepsionis. Mungkin dia bisa bertanya pada rresepsionis itu. Saera menunduk hormat sebagai salam perkenalannya.

Resepsionis itu tersenyum ramah. “Apa yang bisa saya bantu nona?”, tanya sang resepsionis.

“Apa aku bisa bertemu Park Chanyeol-ssi?”, Ada nada keraguan diucapan Saera.

Resepsionis itu tampak terkejut. Bagaimana tidak, gadis yang ada dihadapannya memanggil pemilik perusahannya dengan hanya berembel-embelkan ssi. Sejauh yang dia ingat, tak ada yang berani memanggilnya hanya dengan embel-embel itu. resepsionis itu menatap Saera dari puncak kepala hingga ujung kaki. Dia bertanya-tanya dlama hati siapa gadis yang ada dihadapannya, berani sekali dia. Tapi harus dia akui, Saera memang cantik. “Apa anda sudah membuat janji?”, hanya kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulutnya. Sebenarnya banyak yang ingin dia katakan, namun harus dia tahan. Mengingat profesionalisme kerja yang harus ia jalankan.

“Belum”, dan Saera hanya bisa menjawab itu. Dia memang belum memiliki janji dengan pria itu. Owh, kenapa dia bisa lupa. Pria itu adalah orang nomor satu di perusahaan, pastinya sulit bertemu dengannya tanpa memiliki janji. Ini salahnya kenapa dia tak meminta nomor ponselnya dulu.

“Maaf nona, kami tak dapat mengizinkan anda menemui beliau tanpa membuat janji terlebih dulu”, jawab sang resepsionis. Dia terlihat tersenyum senang. Setidaknya dia dapat melihat raut kecewa di wajah Saera. Ya, dia adalah salah satu penggemar sang CEO. Itu bukan rahasia lagi, hampir semua karyawan perempuan di perusahaan itu mengidolakan sang CEO yang terkenal pendiam dan dingin.

“Apa benar-benar tidak bisa?”, Saera mencoba membujuk resepsionis tersebut. Dia tak boleh gagal, dan lagi sayangkan dengan makanan yang sudah bibawanya.

“Maaf nona, kami tidak bisa mengizinkannya. Datanglah lagi jika anda memang memiliki janji dengan beliau”, gadis itu benar-benar terlihat senang dengan raut kecewa Saera. Dia bahkan bersorak dalam hatinya. ‘Rasain, siapa suruh berani memanggilnya seperti itu. Apa dia tak tahu jika dia adalah CEO di perusahaan ini’, begitulah perkataan dalam hati sang resepsionis.

“Baiklah! Terima kasih”, Saera kembali menunduk hormat sebelum meninggalkan meja resepsionis tersebut. Dia harus menelan kekecewaannya. Dia bahkan berjalan lemas meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, sang CEO baru memasuki area perkantorannya. Dia baru kembali dari meeting di salah satu hotel miliknya, dengan diikuti beberapa pejabat penting di perusahannya. Dia berpapasan dengan Saera. Awalnya dia tak menyadarinya. Setelah dia ingat-ingat, dia baru menyadarinya. Dia berhenti yang otomatis diikuti oleh orang-orang yang mengikutinya tadi. Dia menoleh ke arah Saera yang masih berjalan lemas meninggalkannya. “Han Saera-ssi”, panggilnya.

Resepsionis yang Saera temui tadi tersenyum senang melihat kedatangan sang CEO. Begitu juga dengan temannya yang baru tampak, sepertinya dia dari kamar mandi. Karena bisa dilihat dia sedang merapikan penampilannya. Namun resepsionis itu terlihat kecewa mendengar sang CEO memanggil gadis yang tadi bicara dengannya. Jadi gadis itu benar-benar mengenal sang CEO, pikir sang resepsionis.

Saera menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Dia tersenyum melihat siapa yang memanggilnya. Dia bahkan menunduk hormat padanya.

“Jadi benar, kupikir aku salah orang. Kau berganti warna rambut”, kata sang CEO. Dia juga mengisyaratkan sekretarisnya untuk meninggalkan mereka berdua. Ya, sekretarisnya yang mengerti mengajak petinggi perusahaan meninggalkan mereka berdua.

Saera hanya bisa tersenyum kikuk. Rasa gugup kembali menyelimutinya. Dia tak pernah segugup ini sebelumnya. Apa mungkin Saera menyukainya, tidak. Itu tidak mungkin. Ini bukan gugup karena suka atau apapun itu, tapi entahlah dia tak bisa menjelaskannya.

Chanyeol menatap sejenak barang bawaan Saera. Gadis ini benar-benar membawa makan siang untuknya. Sudut bibirnya tertari ke atas, dia tersenyum. Meski hanya sekilas Saera dapat melihatnya. “Kau benar-benar membawanya?”, ucapnya kembali.

Saera paham dengan apa yang diucapkan Chanyeol. Yang pria itu maksud adalah makan siang yang tengah dia pegang. “Iya”, Saera mengangguk. “Karena aku kalah malam itu, jadi aku harus melakukannya bukan!”, lanjutnya.

“Ikutlah denganku!”, ajak Chanyeol. Dia berjalan mendahului Saera.

Dan Saera hanya bisa diam dan mengikutinya.

Sang resepsionis itu kembali berbisik-bisik. “Siapa gadis itu? Kenapa dia bersama sajangnim?”, tanya resepsionis kedua yang tadi baru nampak.

“Aku juga tak tahu. Dia tadi menayakan apakah dia bisa bertemu dengan sajangnim atau tidak. Kau tahu bagaimana cara dia memanggil sajangnim tadi! Dia hanya menggunakan embel-embel ssi. Menyebalkan, aku sempat emosi tadi”, kata sang resepsionis pertama.

“Sepertinya mereka terlihat dekat. Dan lagi, bukankah dia membawa kotak makanan tadi! Jangan-jangan dia…..!”, ucap resepsionis kedua kembali. Dia menggantungkan kalimanya.

“Itu tidak mungkin”, jawab resepsionis pertama yang mengerti kata apa yang akan temannya ucapkan. “Gadis itu terlihat biasa saja”, lanjutnya.

“Biasa bagaimana? Kau tak lihat penampilannya, meski sederhana dia tetap terlihat cantik. Dan lagi pakaiannya, itu bukan barang murah kau tahu”, resepsionis kedua kembali bersuara. “Aku tahu, dia pasti datang mengirim makan siang untuk sajangnim. Ah, dia manis sekali”, lanjutnya. Sepertinya dia tengah berkhayal sesuatu, tangannya tak berhenti bergerak.

“Kau jangan bercanda”, kata resepsionis pertama. Dia terlihat begitu kesal.

“Bercanda bagaimana! Kau tak lihat tadi, sajangnim tersenyum melihatnya. Meski samar, aku bisa tahu jika dia tengah tersenyum. Mereka juga terlihat cocok”, resepsionis kedua kembali menyahutnya.

“Jangan konyol”, resepsionis pertama itu benar-benar terlihat kesal. Jika tadi dia yang membuat Saera kecewa, sekarang dia yang terlihat kesal, sepertinya dia juga kecewa.

Di lantai duapuluh Chanyeol membawa Saera. Ya, disitu adalah ruangannya. Mereka disambut seorang wanita cantik berbusana formal. Wanita itu seketika berdiri melihat kedatangan mereka. Senyum manis juga menghiasi wajahnya. Dia juga menunduk hormat saat mereka berjalan melewatinya. Saera juga ikut tersenyum melihatnya, kepalanya juga ia tundukkan membalas salam hormat wanita itu.

“Silahkan duduk”, kata Chanyeol setelah mereka memasuki ruang.

Saera menuruti perintah pria itu. Dia duduk di sofa dekat dengan pintu. Ruang untuk sang CEO benar-benar luas, begitulah pemikiran Saera saat mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang. Ada seset sofa yang sedang didudukinya lengkap dengan mejanya. Meja kerja sang CEO berada di dekat dinding yang bertuliskan S&C CORPORATION, tepat di tengah ruang. Rak berisi berkas-berkas kantor sepertinya, juga berjajar rapi di samping kanan meja kerja. Di samping kiri terdapat pintu, mungkin kamar mandi atau ruang lain, entahlah Saera tak ingin mengetahuinya. Berbagai tanaman hias juga menghiasi ruang tersebut. Lampu klasik juga menghiasi ruang tersebut. Berbagai lukisan juga menghiasi dinding bercat coklat kehitaman. Terkesan klasik namun juga modern, dan jangan lupakan kerapiannya.

“Kau mau minum?”, tanya Chanyeol yang sudah duduk di sofa tepat menghadap Saera.

“Tidak, terima kasih”, jawab Saera. Saera meletakkan bekal makanannya di meja. “Ini”, kata Saera sambil menyodorkan kotak makanan tersebut. “Aku memasak bulgogi. Semoga anda menyukainya”, lanjutnya.

“Sepertinya enak”, kata Chanyeol setelah membuka kotak makanan tersebut.

“Tunggu sebentar!”, cegah Saera.

“Ada apa?”, Chanyeol yang bingung dengan perkataan Saera berhenti membuka kotak makanan tersebut.

Saera merebut kembali kotak makanan tersebut. Dia mengambil setiap lapisan kotak tersebut, yang ternyata bukan hanya bulgogi, beberapa jenis masakan lainnya juga tersedia. Dan dilapisan paling bawah adalah nasi. Saera menata sedemikian rupa makanan hasil olahannya. Tepat di depan Chanyeol adalah nasi. Setelahnya dia memberikan sumpit pada pria itu. “Mungkin anda belum terbiasa makan nasi. Cobalah, anda pasti akan menyukainya”.

Ya, gadis itu benar. Dia memang tak terbiasa akan nasi. Bukan karena apa-apa, tapi memang budaya tempat tinggalnya dulu yang membiasakannya. Dengan mantap dia memasukan nasi ke mulutnya. Menguyahnya sebentar, lalu dia kembali memasukan sepotong daging ke mulutnya. Dia berhenti menguyah merasakan rasa daging yang tadi ia masukan. Emmh, lezat. Ini benar-benar sangat lezat. Gadis ini benar-benar pandai memasak, pikirnya.

“Bagaimana rasanya?”, ada nada ragu dipertanyaan Saera. Ini karena pria yang dihadapannya berhenti menguyah setelah memasukan sepotong daging Bulgogi. Dia takut jika rasanya akan buruk di lidah pria tersebut.

“Ini lezat. Sangat lezat”, Chanyeol kembali menguyah. Setelah menelannya, dia kembali menyuapkan sepotong daging.

“Syukurlah!”. Saera hanya diam menatap pria yang dengan lahapnya makan makanan yang dibawakannya. Dia tak menyangka masakannya akan mendapat pujian dari pria yang bahkan belum lama dikenalnya.

Chanyeol berhenti makan saat merasa dirinya tengah diawasi. Dia melihat Saera tengah tersenyum melihat tingkahnya. “Kau tak ikut makan?”, tanyanya kemudian.

“Tidak, aku sudah makan tadi”, jawab Saera.

“Baiklah, aku akan menghabiskannya sendiri”, Chanyeol kembali menyuapkan makanan ke mulutnya. Dia terlihat begitu semangat menguyah setiap makanan yang terhidang di depannya.

“Apa anda punya alergi?”, Saera akhirnya bersuara setelah cukup lama memperhatikan Chanyeol makan.

“Maksudmu?”, Chanyeol yang tak paham balik bertanya.

“Maksudku alergi makanan. Semisal anda akan gatal saat memakan udang, atau mungkin gejala lain saat makan sesuatu”, Saera mencoba menjelaskan maksud perkataannya.

“Tidak, aku tak punya alergi makanan”, jawab Chanyeol. “Untuk apa kau bertanya hal itu?”, tanyanya kembali.

“Aku takut jika nanti aku akan memasak masakan yang membuat anda alergi”, jawab Saera.

“Ah, karena itu”, Chanyeol mengangguk paham dengan ucapan Saera. “Lalu, apa kau juga memiliki alergi?”, Chanyeol kembali bertanya.

“Ya, selain alkohol aku juga alergi kepiting”.

‘Kepiting’, sepertinya Chanyeol ingat sesuatu. Iya, dia juga memiliki alergi itu. Dia yang dimaksud adalah gadis yang selama ini ia cari, Minnie. Chanyeol menatap Saera lekat, apa mungkin dia…? Tidak, ini pasti hanya kebetulan. Kebetulan mereka memiliki alergi yang sama. Ya, pasti itu. Tapi senyum itu, cara senyumnya sama dengan dia. Tidak, tidak. Apa yang aku pikirkan? Chanyeol menepis semua pemikirannya. Kenapa dia tiba-tiba teringat dengan Minnie?

Kalung itu! Chanyeol dapat melihat kalung yang Saera pakai. Sama persis dengan apa yang ia berikan pada Minnie dulu. “Sepertinya aku pernah melihat kalung itu. Darimana kau mendapatkannya?”, tanya Chanyeol. Dia ingin mengusir rasa penasarannya.

Saera memegang kalung yang dimaksud Chanyeol. “Aku tak ingat darimana aku mendapatkannya. Aku sudah memakainya sejak kecil. Aku selalu penasaran darimana aku mendapatkannya. Tapi aku tak pernah menemukan jawabannya. Mungkin karena kecelakaan  masa kecilku, aku jadi tak bisa mengingat kejadian apapun sebelum kecelakaan itu terjadi”, jelas Saera. Dia memejamkan matanya sebentar. Kenapa mulutnya tak bisa berhenti. Dan kenapa dia jadi curhat dengan pria itu. Aish!

Chanyeol membeku seketika. Apa dia tak salah dengar? Tapi gadis itu memang benar-benar berkata jika dia pernah mengalami kecelakaan. “Jadi kalung itu milikmu?”, entah mengapa justru kalimat itu yang muncul dari bibirnya.

“Ya, ini memang milikku. Kalung ini sudah seperti jimat untukku. Entah mengapa, aku selalu merasa suatu saat nanti akan ada yang mencariku jika aku memakainya. Aku sempat menghilangkannya. Tapi aku bersyukur, akhirnya aku bisa menemukannya kembali”, Saera berhenti saat mendengar ponselnya berbunyi.

Chanyeol semakin membeku. Jadi anggapannya selama ini salah. Sora bukanlah Minnie, tapi gadis yang ada dihadapannya inilah yang bernama Minnie. Gadis yang selama ini ia cari. Dia masih menatap lekat wajah Saera. Membandingkan wajah Minnie dalam ingatannya dengan gadis itu. Memang ada sedikit kemiripan.

Sementara itu Saera yang sibuk dengan panggilannya tak menyadari tingkah Chanyeol yang terus memperhatikannya. Dia sibuk dengan orang yang sedang menelfonnya. “Apa?”, seketika itu dia berdiri. “Baiklah, aku akan segera kesana!”, Saera mengakhiri panggilannya.

Chanyeol sempat terkejut melihat Saera yang tiba-tiba berdiri. Raut wajahnya bahkan terlihat cemas. Sepertinya gadis itu punya masalah.

“Park Chanyeol-ssi, maaf. Aku harus segera pergi. Ada hal penting yang harus kuselesaikan. Sekali lagi maaf”. Saera langsung pergi bahkan sebelum pria itu bersuara. Sepertinya dia memang punya hal yang lebih penting sekarang.

Chanyeol membuang pasrah nafasnya setelah Saera menghilang dibalik pintu ruangannya. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Dia sangat bersyukur karena ternyata gadis yang dicarinya masih hidup. Bibirnya terangkat membentuk senyum khas miliknya.

Dia sudah menemukan apa yang dicarinya selama ini. Dia hanya perlu memberi pengertian pada gadis itu. Sepertinya dia harus menyusun rencana untuk gadis itu. Rencana untuk melindungi, serta membuat ingatan gadis itu kembali. Dia tak mungkin langsung mengaku jika dia mencari gadis itu bukan, akan sangat aneh nantinya. Jadi dia harus mendapat cara untuk membuat gadis itu percaya dengan ucapannya.

to be continue…

Saya kembali lagi setelah sekian lama.

Semoga suka…..

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Promise (약속) (Chapter 11)

  1. Yaampun kaaaa, akhirnya dilanjut juga ceritanyaaaaa

    Btw chanyeol sadar juga wkwkwk. Semangat laah buat cy dan kakak penulis. Aku menanti sekali cerita ini 😍😍😍😍😍😍😍😍😍💪💪💪💪💪💪

  2. Akhirnya ketemu juga yang dicari…….
    selamat untuk bang CY.. hahahah..

    setelah sekian lama baru nongol,
    ditungg kelanjutannya,
    fighthing!!!!!

    • iya, akhirnya ketemu juga…

      iya ini sudah lama memang….
      baru bisa melanjutkan…

      terima kasih ya… 🙂

      fighthing….

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s