[KEPING 2] Autumn Elegy: Stuck On Him — Joongie

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

AU, Adult, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser  => Run With Me

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

Stuck On Him

.

Somehow I can’t get out of here…
Sometimes I need you near me…

.

“Kalau begitu, kenapa aku ikut dibawa-bawa?” tanya Irene setenang mungkin, tanpa mengeluarkan emosi yang bercampur aduk dalam relung. Sosok Sehun yang semakin dekat membuatnya bernapas hati-hati.

Sehun kembali merapat sehingga udara panas dari hidungnya menyentuh kulit Irene. “Karena aku tidak mau kau dapat masalah,” bisiknya.

Suaranya yang rendah dan halus menggelitik telinga Irene, tetapi jantungnya menunjukkan gejala tidak normal. Berdetak kencang menggebuk rongga dada. Jangan bilang dia termakan ucapan Joy. Konyol. Irene memutar bola mata, jengah sekaligus menghindari kontak mata dengan Sehun. Bisa gawat kalau dia terpancing mengkhayal yang bukan-bukan.

“Aku sudah tidak dengar langkah kaki. Sepertinya mereka pergi ke tempat lain,” cetus Irene sembari menempelkan kuping di dinding, mencari tahu situasi di luar. “Bisa kita keluar sekarang? Di sini agak sesak.”

Spontan Sehun tersentak, mengatur jarak yang pas lantas melongok mengamati situasi. Irene benar, taman itu lengang sejauh matanya memandang. Sehun mundur teratur, disusul Irene yang keluar dengan salah tingkah. Hening. Tidak seorang pun bersuara, tetapi Irene diam-diam mencuri pandang ke arah Sehun. Peluh bergelantungan di pelipisnya, bibirnya pucat serta kering, lalu tadi telapak tangannya juga dingin dan berkeringat. Itu menuntun Irene pada kesimpulan bahwa Sehun kemungkinan mengalami gejala dehidrasi.

Irene tidak kuasa mencegah keingintahuan ketika tangannya secara lancang menjamah dahi Sehun. Laki-laki itu terkejut, matanya terbelalak namun tidak segera bereaksi. Panasnya menyengat. Irene berdecak menatap mata sayu yang balik memandangnya.

“Kenapa berkeliaran kalau demam begini?” omelnya, naluri seorang perawat bukan sesuatu yang bisa diredam. “Kentara sekali kalau kau dehidrasi. Jangan bilang kau kabur dari perawatan. Iya, ‘kan?”

“Apa pedulimu?” tukas Sehun, menampik tangan Irene.

Hujan yang diwanti-wanti pada akhirnya mengguyur tanpa ampun. Irene lari terbirit-birit, mencari tempat berteduh sembari menudungi kepala dengan ransel. Di bawah naungan pohon oak merah, dia mengaduk-aduk isi ransel mencari payung yang tersuruk di antara pernak-pernik kecil yang menyampah. Sedangkan Sehun lanjut mengeluyur dalam hujan, berjalan dengan langkah yang diseret-seret.

Meski awalnya mencoba tak acuh, Irene luluh lantas bergegas menyusul dan berbagi payung dengan Sehun. Laki-laki itu malah tidak peduli, sibuk dengan drama batinnya sendiri. Hujan baru turun sebentar, tapi badannya sudah basah kuyup. Irene merasa miris, teringat fakta bahwa Sehun merupakan pasien bagian psikiatri. Depresi itu mengerikan, pikirnya beriring helaan napas. Gadis itu berpikir lagi, seharusnya dengan perlakuan buruk yang diterimanya, sumbu emosinya sudah tersulut. Namun melihat muram di wajah Sehun, dia semakin jatuh dalam kubangan simpati.

“Sehun…,” imbau Irene, memerhatikan mata Sehun yang berangsur sembap.

“Tolong… pergi,” sahutnya parau.

Lelaki itu menangis, dalam diam tersamar hujan. Air matanya menitik larut bersama hujan, tetapi Irene cukup peka untuk tahu. Sehebat apa pun tangisan disembunyikan, kesedihan selalu mencari cela untuk tampil. Demikian pula Sehun, melalui irisnya yang kelam dan dingin, dia seolah menanti uluran pertolongan. Orang yang akan menggapainya bangkit dari kesedihan yang menghisap hidupnya perlahan-lahan. Begitu yang disimpulkan Irene.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi aku merasa tidak benar kalau mengabaikannya begitu saja.” Irene menjatuhkan payung yang digenggam lantas berjinjit memeluk leher Sehun. Dia menghirup napas panjang, menepuk-nepuk pundak Sehun sambil berujar, “Tidak apa-apa. Lepaskan saja semuanya kalau memang harus. Itu akan membuat perasaanmu lega. Terkadang menumpahkannya pada orang asing justru lebih baik, ‘kan?”

Bahu yang semula tegang itu melemas kemudian berguncang. Sayup-sayup isakan lirih terdengar. Sehun membalas pelukan Irene, merangkulkan tangan seerat-eratnya ke punggungnya yang mungil. Senyuman getir terulas di bibir Irene, dia mengusap kepala Sehun sebagaimana kelembutan serta kenyamanan yang biasa dicurahkan seorang ibu.

“Benar begitu. Jangan ditahan, luapkan saja semua. Lukamu tidak bisa sembuh sendiri kalau sedemikian parahnya,” tuturnya halus. Walau Irene bukan orang yang pandai berkata manis, setidaknya dia tahu bahwa terkadang pelukan adalah obat paling mujarab untuk menenteramkan hati seseorang.

Itu yang Irene pelajari dari mendiang ibunya.

Mendadak saja, Irene dijalari rindu yang teramat dalam sampai air mata mengetuk pelupuk. Dia merindukan sosok yang selalu jadi muara kesahnya soal hidup, yang kini telah diundang untuk tinggal bersama Tuhan, jadi penghuni surga-Nya yang indah. Irene menggigit bibir, dia dan Sehun memang perlu berdamai dengan luka masing-masing.

Ini akan jadi malam di musim gugur yang paling emosional.

—o0o—

“Rumahku dekat dari sini. Mau berkunjung sebentar?” tawar Irene, menjembatani kecanggungan sewaktu mereka menjajaki aspal. “Plus kutraktir ramyeon dan kimchi buatan rumah. Setelah hujan-hujanan begini paling pas menyeduh ramyeon dengan telur setengah matang, lalu menyantapnya sambil bergulung dalam selimut hangat. Kau juga mau, ‘kan?”

Sehun menoleh, menggeleng lalu kembali menatap aspal.

Sebelah alis Irene terjungkit, gemas mendapati reaksi Sehun—yang dia pikir berhasil dilunakkan, tapi nyatanya nihil. “Dengar, aku bukannya mau memintamu menginap sebagai seorang wanita dan pria dewasa. Tapi, aku cuma ingin menawarkan kebaikan hati, karena bisa dibilang aku berhutang nyawa padamu,” tekannya, meluruskan situasi seperti sedang menjelaskan kepada bocah lima tahun.

“Kau memang suka padaku, ya?”

“Demi Tuhan, berhentilah bicara omong kosong. Bisa-bisanya salah mengartikan kebaikanku sebegitu jauhnya. Apa menawarkan ramyeon sama halnya dengan pernyataan cinta?” Irene menggeleng-geleng jengkel, sementara mimik Sehun tetap sama datarnya.

“Jadi kau kasihan padaku?”

Irene menyengap, cara Sehun memandang membuatnya kehilangan bahasa.

“Bukan begitu maksud—”

“Aku tahu,” potong Sehun, mengangkat tangan menegah penjelasan keluar dari bibir Irene. “Tapi aku tidak butuh.”

Cukup sampai di sini kesabaran Irene, getar-getar emosi terbit di sudut bibirnya. Dia menodongkan jari kepada Sehun, menunjuk penampilannya dari kepala sampai kaki. “Iya, aku memang kasihan padamu! Sudah basah kuyup, berkeliaran seorang diri malam-malam begini. Kau mau jadi apa? Gelandangan keras kepala?”

Kening Sehun berlipat heran sekaligus bertanya-tanya: gadis ini mabuk atau sinting? Masa bodoh. Sehun terlalu malas berdebat saat ini jadi dia putuskan untuk tidak ambil pusing dan berbalik pergi saat tiba-tiba Irene menarik lengannya, menyeberangi pagar kayu lalu membawanya masuk secara paksa ke halaman rumah bertembok bata.

“Ikut denganku, atau aku akan teriak dan bilang pada orang-orang kalau kau maniak mesum,” ancam Irene, mengait siku Sehun semakin erat dan membuatnya tidak punya pilihan selain menurut.

Rumah itu terbilang luas bagi seorang gadis yang hidup seorang diri. Sesuai ekspektasi, ruang tamunya seperti kapal pecah: gorden berdebu yang tidak pernah diganti sepanjang tahun, remah-remah makanan ringan menempel di tiap sudut sofa, noda kopi berkerak di meja yang penuh gumpalan kertas, pakaian kotor berserakan di mana-mana—bahkan Irene langsung mencomot bra yang tersangkut di tiang lampu sebelum tersapu mata Sehun.

“Maklumi saja. Aku ini orangnya sibuk, cuma punya sedikit waktu untuk mengurusi rumah,” kilahnya, mengeluarkan tawa bernada gugup kemudian bergegas mengumpulkan segala kekacauan yang luput dari perkiraannya. “Aku ini perawat, jadi higienitas di rumah ini terjamin, kok. Cuma penampakannya saja yang begini.”

Sehun mengamini, duduk tenang di sofa sambil mengamati lebih lanjut.

Irene bernapas lega, menilik Sehun menyilangkan satu kaki meraih tumpukan majalah lama dan membacanya dengan khidmat selagi dia berkemas. Hampir saja lupa kalau dia dan Sehun datang dalam kondisi basah. Badannya lembap, Irene putuskan untuk berganti pakaian juga melihat-lihat apakah ada baju Jackson yang tertinggal dan bisa dikenakan Sehun sementara menunggu pakaiannya kering.

Dengan kepala dililit handuk, Irene muncul membawa serta pakaian ganti untuk ditawarkan pada Sehun. “Aku bawakan ini. Siapa tahu kau mau ganti ba—”

Laki-laki itu tidak lagi tampak batang hidungnya. Lenyap tak berbekas, tanpa kata perpisahan atau sekadar kalimat basa-basi untuk pamit. Irene memijat pelipis, mendesah kuat-kuat sembari menghempaskan badan ke sofa. Sesuatu menusuk pahanya, ponsel milik Sehun yang tertinggal. Ceroboh. Benda itu mati, barangkali karena air yang merembes. Dia mengamatinya lagi, kalau tidak salah ponsel sejenis itu didesain tahan air.

Setelah menimbang-nimbang, Irene berniat mencari hair dryer guna mengeringkan ponsel Sehun saat pandangannya mendarat pada sticky note yang tertempel pada sampul majalah. Dia meraihnya, Sehun meninggalkan pesan: Apa yang kaulakukan sudah lebih dari cukup. Kita impas. Senyum kecil mencuat di bibir Irene, perasaan dongkol di hati mendadak meluruh.

Bermodal pengering rambut, kabel USB serta sejumput kesabaran, ponsel Sehun berhasil menyala. Semula Irene cuma berniat mengisi dayanya saja, tapi dorongan penasaran membuatnya kembali lancang, membuka ponsel yang sedari tadi menyanyikan bunyi notifikasi berturut-berturut. Awalnya dia waswas, bisa jadi itu dari gerombolan pria menakutkan di taman tadi—yang mungkin saja melacak ponsel Sehun dan meneror kediamannya.

Nyatanya bukan. Kontak yang terus muncul di ponselnya, “Seulgi K”.

“Sudah punya pacar rupanya,” desah Irene, meletakkan ponsel Sehun lantas mematikannya. Dia sudah melanggar privasi seseorang, ini batasnya. Pokoknya benda itu harus segera dikembalikan sebelum timbul fitnah.

Dan mendadak saja dia menyesal.

—o0o—

Irene menyibak lengan baju, menekan tombol arloji digital besarnya dan mengerjap melihat layar kecil itu. Sudah tiga jam dia menunggu di poli psikiatri, tapi tanda-tanda kehadiran Sehun belum juga tercium. Mencoba bertanya pada asisten dokter pun sama saja, tidak ada nama Sehun tercantum dalam daftar pasien. Pemikirannya bahwa Sehun mungkin melewatkan kunjungan rutinnya bak dipatahkan, berhari-hari dia menunggu tetapi sia-sia lantaran laki-laki tak kunjung tampak batang hidungnya.

Berbagai pemikiran negatif menyerbu benak Irene tentang Sehun yang mendadak hilang. Mungkinkah Sehun sengaja menghindarinya setelah kejadian malam itu. Atau gerombolan algojo itu meringkusnya, lalu menyerahkannya pada bos mereka untuk dihabisi. Dia bahkan menduga bahwa Sehun terlibat dengan kelompok Yakuza. Ponselnya juga tak lagi berdering, haruskah dia menghubungi kekasih Sehun dan menanyakan keadaannya?

Lalu dia harus bilang apa? Halo, ponsel kekasihmu tinggal di rumahku saat dia menolak tawaranku untuk makan bersama, jadi aku sekalian mau bertanya bagaimana keadaannya sekarang? Yang benar saja.

“Melamunkan apa, sih?” tegur Jackson, jahilnya menempelkan gelas kopi ke pipi Irene. “Kalau tidak fokus begitu, mana bisa menyuntik orang dengan benar.”

Irene meringis mengusap pipi yang disengat panas. Memutar matanya kepada Jackson yang terkikik, kemudian mendesah keras. “Kau tahu di mana Oh Sehun sekarang? Ponselnya ada padaku, sementara aku tidak pernah melihat wujudnya lagi. Rasanya tidak tenang kalau benda ini tidak dikembalikan.”

“Kenapa ponselnya bisa ada padamu?”

“Tertinggal di rumahku saat mampir.”

“Di rumahmu?” Kontan pernyataan Irene membuat vokal Jackson meninggi. “Kau mengundangnya ke rumahmu?”

Irene mengangguk enteng. “Memang apa salahnya?”

Napas Jackson tertahan, raut wajahnya berubah drastis. “Aku kehabisan kata-kata dengan kelakuanmu, Irene,” tandasnya, berlalu sambil menjunjung kopinya meninggalkan Irene dalam kebingungan.

Jackson tidak membantu sama sekali.

—o0o—

Segelas soju penghabisan meluncur di kerongkongan Irene. Alkohol sudah cukup menghangatkan—serta menghiburnya—malam ini. Dia bangkit, merapatkan mantel parka lalu mengusap hidungnya yang berair. Helaan napas sambung-menyambung keluar dari bibirnya, membentuk gumpalan-gumpalan uap samar.

Salju pertama akhirnya turun di pengujung tahun, jauh terlambat dari perkiraan prediksi Badan Meteorologi. Irene menangkupkan tangan, menangkap serpihan-serpihan salju yang segera leleh di telapaknya. Selintas dia teringat soal mitos salju pertama. Katanya, kalau seseorang bersungguh-sungguh mengucapkan permohonan, apa pun itu akan terkabul. Lebih-lebih soal cinta, yang dianggap sebagai momen terbaik untuk menyatakan perasaan.

Irene tersenyum kecut. Dia mengeluarkan ponsel Sehun, ibu jarinya menggantung di atas tombol power. Niat untuk menyalakannya diurungkan, tidak ada nomor yang bisa dihubungi selain Seulgi. Irene tidak akan mau menghubunginya kecuali dia mau didamprat, jadi ponsel hitam itu kembali mengendap di saku.

Apa tidak bisa dia saja yang muncul?

Permohonan yang merangkap tawar-menawar disuarakan begitu saja oleh hatinya. Terkabul atau tidaknya, Irena tidak mempermasalahkan. Dia masih menyusuri jalan lalu berhenti di penyeberangan menanti lampu lalu-lintas berganti hijau bagi pejalan kaki. Di seberang jalan berdiri seorang lelaki, bersandar dengan kaki menopang ke tiang lampu, sibuk berbicara di ponsel.

Sehun….

Irene tersentak, matanya tidak bisa lepas dari laki-laki itu. Mengamati setiap gerak-geriknya, kemudian menerobos kerumunan manusia secepat yang dia bisa ketika lampu penyeberangan berwarna hijau. Kepalanya melongok ke segala arah, mencari jejak-jejak sang lelaki yang mendadak kembali hilang. Seperti orang linglung, Irene terpaku di tempat saat sadar usahanya sia-sia. Pikirannya sendiri menyesatkan, saking ingin menemui Sehun wajahnya jadi muncul di mana-mana.

Tanpa sengaja dia merindukan laki-laki itu sebegitu besarnya.

—o0o—

Dering ponsel membuat Irene terjaga. Dia menggapai-gapai nakas mencari benda persegi yang terus meraung, lantas berguling menyibak bantal yang menyembunyikan kepalanya. Dia mengangkat ponsel di atas wajah, membaca nama yang tercantum di layar. Matanya menyipit, Leslie rupanya. Tetapi panggilan terputus ketika dia baru akan mengusap ponsel untuk menjawab.

Irene menggembungkan pipi, beringsut bangkit sembari melemaskan otot-otot yang terasa kaku. Masih mengenakan kaus oblongnya, dia menyeduh kopi lalu mengeluarkan roti dari pemanggang. Kopi yang asam menyerang perut kosongnya dalam sekali teguk. Aroma musim semi telah mengudara. Gadis itu memandang ke jendela, salju mulai leleh dan tunas-tunas baru menyembul dari baliknya. Ada ponsel Sehun di sudut jendela, dibiarkan berdebu begitu saja lantaran Irene menganggap semuanya sudah selesai.

“Hei, maaf tadi tidak terangkat,” kata Irene begitu panggilan tersambung. “Jadi, ada kabar apa sampai kau meneleponku pagi-pagi buta begini?”

“Aku dan David akan menikah!”

Irene turut merasakan kebahagiaan Leslie yang menggebu-gebu. Dia mengangguk dan menyunggingkan senyum. “Waw, that surprised me. Aku tidak menyangka hubungan kalian akhirnya sampai ke tahap ini. Jadi kapan hari bahagia itu?”

“Antara akhir musim panas atau awal musim gugur. Kami ingin dapat view yang bagus saat pemberkatan nanti. Kau jelas akan datang, ‘kan?”

“Mana mungkin aku tidak datang, saudariku.”

“Bersama kekasihmu?”

Um, tidak.”

“Ya ampun, Irene. Aku sudah mau menikah dan kau masih lajang. Sampai kapan akan kau sia-siakan wajah cantikmu? Perlukah kudaftarkan namamu dalam acara ‘Take Me Out’?” repet Leslie, menggoda sekaligus meledek Irene.

“Tidak sampai separah itu, Leslie. Yah… aku bertemu dengan seorang lelaki beberapa waktu lalu. Aneh dan egois, tapi mendekati tipe idealku,” tutur Irene, benaknya mulai mereka-reka paras Sehun.

“Lalu?”

“Tidak ada kelanjutannya. Dia sudah punya kekasih dan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,” terang Irene, mengaduk endapan kopi di cangkirnya dengan gundah.

“Jadi ini cinta sepihak?”

“Koreksi itu. Aku tidak bilang kalau aku mencintainya.”

“Tapi kau menyukainya, ‘kan?”

“Bisa kita ganti topik lain?”

Okay. Bagaimana di sana? Masih tidak nyaman buatmu?”

Adukan Irene terhenti, dia tersenyum miris. “Begitulah.”

“Sayangku, kau tidak mungkin menahannya selamanya. Kemarilah, pindah dan tinggal denganku di Swiss. Aku tidak tega melihatmu terus-menerus makan hati,” saran Leslie, terdengar simpati dan sungguh-sungguh. “Aku bisa bantu cari pekerjaan di sini, kebetulan ada rumah sakit yang sedang merekrut perawat. Kalau kau mau akan kumasukkan lamaranmu.”

“Akan aku pikirkan. Lagi pula kontrakku akan berakhir musim panas ini,” sahut Irene sembari mengitarkan jari pada bibir cangkir. “Aku cuma ingin hidup tenang seperti dulu, Leslie.”

Sambungan telepon menghening, tapi tidak terputus. Tatapan Irene tertambat pada pigura berdebu di dinding, membingkai cantik foto keluarga yang terlihat bahagia. Bibirnya terkatup rapat, bunyi gemeretak geraham sayup terdengar. Di seberang sana Leslie berharap Irene bersedia menumpahkan semua yang menggelegak di hatinya.

“Kau baik-baik saja, Irene?”

—o0o—

Zurich, Swiss.

Spons bedak ditepuk-tepuk ke dagu, kuas blush-on disapu searah tulang pipi dan lipstik pink  coral dipoles ke bibir. Irene memerhatikan riasannya di cermin seraya menata rambut jadi sanggul sederhana. Di pernikahan Leslie, dia akan jadi pendamping mempelai. Anggun mengenakan gaun selutut berwarna cokelat muda. Sambil merapikan lipatan-lipatan gaun, Irene beranjak membawa sebuket bunga matahari. Leslie bilang perlambang kesetiaan serta mewakili musim gugur.

Sementara Leslie kelihatan menawan dengan gaun putih yang ekor gaunnya menyapu lantai. Dari balik veil-nya Irene bisa membaca kegugupan Leslie, dia menghampiri lalu menggenggam erat tangan sahabatnya yang gemetaran.

“Embuskan napas perlahan-lahan. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” kata Irene, mengulas senyum juga menularkan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.

Leslie mengikuti instruksi Irene, dia menghirup napas dan melepaskannya dengan cepat. “Oke, jantungku rasanya mau meloncat ke luar. Selanjutnya harus kau dan kau akan mengerti kecemasan dahsyat ini,” tekannya sambil mengarahkan bunga pengantin ke wajah Irene.

Gadis itu cuma meringis, tidak sempat membalas karena seorang staf wedding organizer muncul meminta mereka bergegas ikut bersamanya. Pernikahan dihelat di ladang terbuka milik keluarga David. Panoramanya apik, dikelilingi pohon-pohon bergradasi kemerahan yang udaranya terasa segar. Atensi para tamu sontak terserap saat Lesli yang memeluk siku ayahnya melangkah anggun menuju altar dalam iringan tepuk tangan dan siulan. Sedang David mantap berdiri berdampingan dengan pendetakendati air mukanya lumayan tegang.

Sejoli itu melafalkan janji pernikahan dengan haru, tampak dari mata yang berkaca-kaca. Kebahagiaan segera menyebar di udara ketika pengantin baru berciuman tanpa ragu. Termasuk Irene yang turut menitikkan air mata mensyukuri pernikahan Lesliewalau muncul sedikit perasaan iri dalam hati. Bertanya-tanya kapan akan tiba masa seperti ini? Mengenakan gaun pengantin, berjalan di altar lalu seperti apa rasanya menyerahkan seluruh hidup kepada seorang pria yang dianggap tepat sampai ajal menjemput.

Saat semua larut dalam suka cita, Irene malah merasa tersisih. Selepas menyorong mantel serta meninggalkan pesan untuk Leslie, dia memilih pergi meninggalkan pesta yang tetap akan meriah tanpa kehadirannya. Zurich menanti untuk dijelajahi, kota yang akan segera jadi rumah barunya. Pada akhirnya meninggalkan Seoul adalah keputusan terbaik. Segenggam harapan tumbuh dalam hati, semoga kehidupan baru di kota ini punya cerita bahagia.

Zurich adalah kota yang cantik, tidak banyak kendaran berlalu-lalang lantaran penduduk umumnya lebih memilih menggunakan trem. Bangunan-bangunan tua khas Swiss bak menyihir Irene, membuatnya seolah berkelana ke negeri dongeng. Di Munsterhof Square dia sempatkan membeli segelas kopi ketika udara mulai terasa dingin. Irene kembali menyusuri jalanan yang membawanya menuju Augustinnergasse—jalanan tua yang dipenuhi bendera-bendera Swiss.

Sampai di persimpangan utama, Irene menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Seperti de javu agaknya sewaktu dia memandang ke seberang; berdiri seorang lelaki berkacamata dengan perawakan serupa Sehun, asyik membaca buku di tangan tanpa peduli sekitar. Irene langsung tersenyum kecut dan menarik napas dalam-dalam. Halusinasi lagi, anggapnya sambil melanjutkan perjalaan saat lampu indikator berbunyi.

Mereka berpapasan. Mata mereka bertemu dan waktu serasa berhenti. Irene terkesiap menyadari dirinya tidak bisa mengalihkan pandangan saat laki-laki itu selintas menampilkan ekspresi yang sama. Kerja otaknya mendadak macet, Irene terdiam sementara tubuhnya refleks berputar mengikuti kepergian si lelaki.

“OH SEHUN!”

Tonight you steer my heart away…
Just leaving a trail of sorrow…

.

.

To be continued….

Pengen minta maaf sebelumnya, karena tidak menepati janji untuk segera update seminggu sekali tiap hari sabtu. Sebenarnya ini ga penting, tapi kondisi kesehatanku sedang memburuk dan ini butuh pemulihan berminggu-minggu. Aku menyesal sudah ingkar dan mencoba yang terbaik, sayangnya tiap kali aku duduk lihat monitor komputer bakal mendadak migrain.

Aku tulis ini bukan untuk cari perhatian, tapi aku cuma minta pengertian kalau aku masih tetap mencoba konsisten dengan tulisan ini biar pun agak tersendat-sendat. Untuk beberapa orang yang udah menyemangati aku, terima kasih. Buat Kak Anne (@neurosistoexo), thank you so much pengertiannya ❤

Dan teruntuk kalian yang setia membaca, BIG LOVE AND THANK YOU SO MUCH MUCH MUCH MUCH! ❤

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

 

 

XOXO,

Joongie

Iklan

53 pemikiran pada “[KEPING 2] Autumn Elegy: Stuck On Him — Joongie

  1. YA AMPUN UDAH BERABAD ABAD AKU GAK BACA;( maafin aku tau ini telat banget, tapi bener bener baru banget baca huhuhu apakah kamu sudah sembuh? Hehe semoga udah yaaa, makin kereeenn AKU PENASARAN SAMA CHAP 3 NYA HUEHE udah deh segitu dulu aku mau baca chap 3 nya😂

  2. Ping balik: [KEPING 3] Autumn Elegy: That Woman — Joongie | EXO FanFiction Indonesia

  3. Anyeong
    Salam knl ya
    Baru ketemu ff hunrene dan lngsg komen di part2 mian ya min
    Tp aku suka ff nya apalagi aku hunrene shiperr
    Aku suka jalanya critanya bikin greget gimana gitu apa lagi sift sehun disini dingin bgt
    Lucu liat tingkah irene klo lagi dekat sehun udh ada rasa gitu
    Di tunggu bgt part3 nya minn

  4. Dan aku suka gaya bahasa tulisan kamu dan ceritanya menarik. Semangat ya! Good well soon. Kita ngerasain hal yg sama ketika kita janji bakal updat tiap weekend dan pas udah depan monitor selalu migran + ide nyendat. Anw, salam kenal.

    • Hai, AgasshieL! 😄
      Maaf karena baru balas ya 😄😄
      Terima kasih sebelumnya, membuatku berbunga-bunga kkk
      Iyaaa sesama penulis mesti paham, wb suka nyamperin tiba” 😭😭😭
      Daaaan salam kenal juga, ditunggu komentar lainnya 😘

  5. Dari kemaren kemaren bolak balik EFI , berharap update ,,, akhirnya ..
    Bagus banget …. apalagi castnya Sehun Irene yg visual keduanya goal banget .. udah gitu nih dua orang cocok banget lagi ,,, jadian real mantep kali ya ?? Haha .. tapi tetep, sesuka sukanya ngeship mereka lebih suka ngeshipin suho-Irene ….
    ditunggu pokoknya lanjutanya ….
    Dan semangat buat authornya …

  6. aakkk baperrr
    itu seulgi siapanyaaa?!!
    aku suka dua duanya si ya wkwk jadi bingung mihak siapa haha
    udah deh sama mbak irene aja kamu hun, sehunnya juga kenapa sih dingin banget ke irene? jdi penasaran ada kisah apa sama seulgi sebenernya. dan kenapa juga sehun sampe di zurich

  7. Yeyeye akhirnya update juga, kesekian kali aku bakal bilang kalo ff nya bagus banget.
    semoga cepet sembuh ya kak, dan update segera hihihihi. Mangatsss 💓

  8. semakin seru. semakin penasaran. aku masih curious soal sehun yg manggil irene dg sebutan wendy. ku kira bakal ada sedikit klu disini😃ditunggu kelanjutannya, kak! Himne kak joongie👊

  9. Kak, aku nunggu2 ff ini kapan update sampai bulukan, akhirnya update juga 🙂 Makasih ya kak, ff nya bagus bgt, aku suka diksinya.

    Kak sekarang udah sehat kan? Btw kemarin2 sakitnya apa kak?

  10. Bagus kak!!
    sepertinya Swiss negara yang pas buat jadi pelarian wkwkw
    Di novel psssst karya dy lunaly juga Swiss jd Negara semacam itu wkwk
    Get well soon kaka!

    • Hihi iyaaaa ih! Aku pribadi pengen banget ke Swiss ada satu desa yang kek ughhh pen banget kalo nikah trus bulan madu ke sana ><
      Thank you dear, kamu jaga kesehatan ya 😘

  11. Annyeonghaseyo.
    Ah gue suka ❤. Gue suka semuanya. Alurnya. Bahasanya semuanya gue suka.
    Gue lama gk baca ff yg gaya bahasanya kyk ff lu ini.
    Ttp smngat buat nulis dan smga cpt smbuh
    Fighting! 💪

  12. Ku baru buka exoffindo hari ini dan langsung tancap gas baca ff kak keke. Ku rindu ini suerr kakk! Kusangka kak keke lupa update ternyata kak keke sakit toh. Cepat sembuh ya kak keke, jangan dipaksain entar malah tambah sakit :” aku tunggu terus autumn elegynya <

    • Hihi thank you Yuki! Kamu bikin aku happy luv luv luv ❤❤❤❤
      Iya ih sakitnya tanpa perencanaan, kamu jaga kesehatan ya! Jaga pola makan juga biar sehat selalu, ntar kukangen kalo kamu nda ada {}

  13. Get well soon kak, jangan dipaksain, istirahat aja yg cukup, kesehatan kakak lebih penting, serius. 😆
    Irene mulai tertarik sama sehun, asiquee. 😂
    Well, sepertinya irene juga punya masa lalu hmz.
    Ditunggu next chapnya kak, lama juga gpp, yg penting kakak sehat selalu. 😍

    • Hihi thank you Eki 😘
      Kamu juga ya jaga kesehatan jan ampe sakit, ga enak trus mahal #plak
      Iyaaaa mereka semua masa lalu dan perlu berdamai dengan cara mereka sendiri, semacam mereka obat dari satu sama lain #ups keceplosan 😂
      Makasih yaaaaa {}

  14. Horreee ff favorit update. Awmpet nyariin sih, tapi udah dijelasin aku jadi paham. Aku juga sedang coba nulis, dan itu bener2 susah. Can’t wait for the next chapter.

    • Yeaaaaaaaaay! Akhirnya aku kelarin juga hahahaha 😂😂😂
      Iyaaa kita sesama penulis saling mengerti lah ya, ide itu kadang suka ilang nimbul tergantung situasi kkk
      Thank you 😘

  15. seneng banget pas liat ff ini dilanjut…
    dan akhirnya mereka ketemu lagi

    lagi2 baper pas irene mayungin sehun, mayunginnya harus tinggi banget dong ya? sehun kan tinggi, atau malah sampe jinjit? :’v
    terus pas irene ngelepasin payungnya terus meluk sehun, huaaaaaaa demi apa baper parah gue :g

    kemarin wendy sekarang seulgi, cogan emang takdirnya dikelilingin cewek cantik :v

    lanjut secepatnya ya, sempet ngira ff nya gak bakal lanjut, ternyata author nya sakit, gws!!! fighting!!!!

    • Hihi thank you so much, Indri! 😘
      Sambil jinjit sambil tatap-tatapan trus kisseu #plak
      Duh kalo inget sehun di sini tuh pen nyanyi, “senangnya dalam kalau beristri dua, oh serasa dunia anaaaa yang punyaaaa” 😂😂😂
      Banyak bet ceweknya :v
      Thank you lagi, kamu juga jaga kesehatan loh jan ampe sakit kek aku ❤❤❤

  16. Yaampun bahagianya dimention.. >.<
    Samasama Ke, kan kita saling mengerti /ihiy /cie
    Tetep semangat menuliiss, betewe aku belom sempet baca inii, tapi nanti pengen kubaca, tunggu senggang biar maknyuuss..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s