[KEPING 2] Autumn Elegy: Stuck On Him — Joongie

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

AU, Adult, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser  => Run With Me

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

.

Stuck On Him

.

Somehow I can’t get out of here…
Sometimes I need you near me…

.

“Kalau begitu, kenapa aku ikut dibawa-bawa?” tanya Irene setenang mungkin, tanpa mengeluarkan emosi yang bercampur aduk. Sosok Sehun yang semakin dekat membuatnya bernapas hati-hati.

Sehun kembali merapat hingga udara panas dari hidungnya menyentuh kulit Irene. “Karena aku tidak mau kau dapat masalah,” bisiknya.

Suaranya yang rendah dan halus menggelitik telinga Irene, tetapi jantungnya menunjukkan gejala tidak normal. Berdetak kencang seperti genderang. Jangan bilang dia termakan ucapan Joy. Konyol. Irene memutar bola mata, jengah juga gerah. Ini karena adrenalinnya melonjak, bukan cin—sudah, lupakan.

“Aku sudah tidak dengar langkah kaki. Sepertinya mereka pergi ke tempat lain,” cetus Irene yang menempelkan kuping di dinding, mencari tahu situasi di luar. “Bisa kita keluar sekarang? Di sini agak sesak.”

Sehun melangkah mundur, mengatur jarak yang pas lalu melongok mengamati situasi. Irene benar, taman itu lengang sejauh mata memandang. Sehun mundur teratur, disusul Irene yang keluar dengan salah tingkah. Sunyi. Tidak seorang pun bersuara. Irene diam-diam mencuri pandang ke arah Sehun. Peluh di pelipisnya belum kering, bibirnya pucat serta pecah-pecah. Tadi telapak tangannya juga dingin dan berkeringat. Sehun mungkin mengalami gejala dehidrasi.

Irene tidak percaya dia akan melakukan ini. Dia berjinjit, tangannya menjamah dahi Sehun dengan lancang. Mata Sehun menyala karena terkejut, namun tidak segera bereaksi. Panasnya menyengat. Irene berdecak menatap mata cokelat berbingkai merah yang balik memandangnya.

“Kenapa berkeliaran kalau demam begini?” omelnya, naluri seorang perawat bukan sesuatu yang bisa diredam. “Jelas-jelas dehidrasi. Harusnya diam di rumah dan istirahat!”

“Apa pedulimu?” tukas Sehun, menampik tangan Irene.

Sehun pergi. Lagi. Hujan yang diwanti akhirnya mengguyur tanpa ampun. Irene terbirit-birit, mencari tempat berteduh sembari menudungi kepala dengan ransel. Di bawah naungan pohon oak merah, dia kembali mengaduk-aduk isi ransel mencari payung yang tersuruk di antara pernak-pernik kecil yang menyampah. Sementara lelaki tidak waras itu menguluyur dalam hujan, berjalan dengan langkah yang diseret-seret.

Irene mencoba mengabaikannya, namun kalah oleh sengatan simpati. Dia bergegas menyusul, menjunjung payung tinggi-tinggi di kepala Sehun. Lelaki itu tidak peduli, tanpa menimbang susahnya Irene menghalau hujan. Sehun sibuk dengan drama batinnya sendiri. Hujan baru turun sebentar, tapi badannya sudah basah kuyup. Irene merasa miris, teringat fakta bahwa Sehun adalah pasien psikiatri. Depresi itu mengerikan, menggerogotimu dari dalam dan yang paling parah, dia menyesatkan arah hidupmu. Irene menghela napas, seharusnya dengan sikap buruk Sehun sumbu emosinya sudah tersulut.

Muram di wajah Sehun membuatnya semakin jatuh dalam kubangan simpati.

 “Sehun …,” imbau Irene, memerhatikan mata Sehun menyembap.

“Tolong … pergi,” sahutnya parau.

Lelaki itu menangis, dalam diam tersamar hujan. Air matanya menitik larut bersama hujan. Irene cukup peka untuk tahu. Sehebat apa pun tangisan disembunyikan, kesedihan selalu mencari celah untuk tampil. Demikian Sehun, melalui irisnya yang kelam dan dingin, dia seolah menanti pertolongan. Orang yang akan menggapainya bangkit dari kesedihan yang menghisap hidupnya perlahan-lahan. Begitu Irene menyimpulkan.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi aku tidak bisa diam saja.” Irene menjatuhkan payung yang digenggam, berjinjit memeluk Sehun erat-erat. Dia menarik napas panjang, menepuk punggung Sehun penuh kasih dan berujar, “Tidak apa-apa. Lepaskan semua kalau memang harus. Biarkan perasaanmu lega.”

Bahu yang semula tegang itu melemas sebelum berguncang hebat. Sayup-sayup isakan lirih terdengar. Sehun membalas pelukan Irene, merangkulkan tangan seerat-eratnya ke punggungnya yang mungil. Senyum tipis terulas di bibir Irene, dia mengusap kepala Sehun sebagaimana kelembutan serta kenyamanan yang biasa dicurahkan seorang ibu.

“Benar begitu. Jangan ditahan, luapkan saja semua. Lukamu tidak bisa sembuh sendiri,” tuturnya halus. Walau Irene bukan orang yang bermulut manis, setidaknya dia tahu bahwa terkadang pelukan adalah obat paling mujarab untuk hati yang lara.

Irene mempelajarinya dari mendiang ibunya.

Mendadak saja, Irene dijalari rindu yang teramat dalam sampai air mata menggenang begitu saja. Dia merindukan sosok yang selalu jadi muara kesahnya soal hidup, yang kini tinggal di surga yang damai bersama Tuhan. Irene menggigit bibir, dia dan Sehun memang perlu berdamai dengan luka masing-masing.

Ini akan jadi malam musim gugur paling emosional.

—oOo—

“Rumahku dekat. Mau mampir?” tawar Irene, menjembatani kecanggungan sewaktu mereka menjajaki aspal. “Makan ramyeon dan kimchi, paling pas hujan-hujan begini. Aku juga punya bir kalau mau.”

Langkah Sehun melambat, dia menoleh dan menggeleng.

Sebelah alis Irene melengkung gemas, dia masih belum bisa menaklukkan Sehun. “Aku bukannya mau macam-macam. Aku cuma berbaik hati sebagai sesama manusia,” tekannya, meluruskan situasi seperti sedang menjelaskan kenapa ayam tidak bisa dijadikan sashimi kepada bocah SD.

“Kau memang suka padaku, ya?”

“Demi Tuhan, jangan mengada-ada. Aku cuma menawarkan ramyeon. Apa itu sama dengan menggoda?” Irene menggeleng-geleng jengkel, sementara Sehun menyorotnya tajam.

“Jadi kau kasihan padaku?”

Irene menyengap, cara Sehun memandang membuatnya kehilangan bahasa.

“Bukan begitu maksud—”

“Aku paham,” potong Sehun, mengangkat tangan menegah penjelasan keluar dari bibir Irene. “Aku tidak butuh.”

Cukup sampai di sini kesabaran Irene, getar-getar emosi terbit di sudut bibirnya. Dia menodongkan jari kepada Sehun, menilai penampilannya dari kepala sampai kaki. “Iya, aku memang kasihan padamu! Sudah basah kuyup, berkeliaran sendirian malam-malam begini. Kau mau jadi apa? Gelandangan keras kepala?”

Kening Sehun berlipat heran seperti bertanya-tanya: gadis ini mabuk atau sinting? Masa bodoh. Dia tidak punya cukup tenaga untuk berdebat. Sehun tidak ambil pusing dan berbalik pergi saat Irene tiba-tiba menarik lengannya. Menyeberangi pagar kayu lalu menyeretnya ke halaman rumah bertembok bata.

“Ikut denganku, atau aku teriak kalau kau maniak mesum,” ancam Irene, mengait siku Sehun dan membuatnya tidak punya pilihan selain menurut.

Rumah itu luas untuk seorang gadis yang hidup seorang diri. Dindingnya berwarna mint yang mulai kusam dimakan usia, juga ada dua lukisan neo-klasik usang di sana. Sesuai ekspektasi, ruang tamunya seperti kapal pecah: gorden berdebu yang tidak pernah diganti sepanjang tahun, remah-remah keripik menempel di tiap sudut sofa, noda kopi berkerak di meja yang penuh gumpalan kertas, pakaian kotor berserakan di mana-mana—bahkan Irene langsung mencomot bra yang tersangkut di tiang lampu sebelum tersapu mata Sehun.

“Maklum saja. Aku ini sibuk, cuma punya sedikit waktu untuk mengurus rumah,” kilahnya, tertawa gugup kemudian bergegas mengumpulkan segala kekacauan yang lupa diperkirakan. “Ini masih rumah manusia, kok. Abaikan penampakannya.”

Sehun mengamini, duduk tenang di sofa sambil mengamati lebih lanjut.

Irene bernapas lega, menilik Sehun menyilang kaki dan meraih tumpukan majalah lama. Sehun meniup debu di sampulnya, membacanya dengan khidmat selagi Irene berkemas. Dia hampir lupa kalau Sehun datang dalam kondisi basah. Badannya lembap dan dia demam. Irene berlari ke kamar, mengganti pakaian secepat kilat sembari mencari-cari baju Jackson yang tertinggal dan bisa dikenakan Sehun selagi menunggu pakaiannya kering.

Dengan kepala dililit handuk, Irene muncul membawa pakaian ganti untuk Sehun. “Aku bawakan ini. Siapa tahu kau mau ganti ba—”

Laki-laki itu tak lagi tampak batang hidungnya. Lenyap tak berbekas, tanpa kata perpisahan atau sekadar basa-basi untuk pamit. Irene memijat pelipis, mendesah kuat-kuat sembari menghempaskan badan ke sofa.

“Orang ini benar-benar—auw!

Sesuatu menusuk paha Irene, ponsel Sehun yang terselip di celah sofa. Ceroboh. Benda itu mati, barangkali karena air yang merembes. Dia mengamatinya lagi, kalau tidak salah ponsel sejenis itu didesain tahan air.

Setelah menimbang-nimbang, Irene putuskan untuk mengeringkan ponsel itu dengan hair dryer. Dia baru akan beranjak saat menemukan sticky note yang tertempel di sampul majalah. Sehun meninggalkan pesan: Ini sudah lebih dari cukup. Kita impas. Senyum kecil mencuat di bibir Irene, penawar dongkol hatinya sesederhana itu.

Ponsel Sehun kembali menyala, hanya saja Irene sedikit terusik oleh bunyi notifikasi berturut-turut. Dia waswas, barangkali dari gerombolan yang memburu mereka tadi—yang mungkin saja melacak ponsel Sehun dan meneror kediamannya. Irene menggelengkan kepala, meluruskan arah pikirannya. Gadis itu mengepalkan tangan, membulatkan tekad dan pelan-pelan melirik dari matanya yang setengah terpicing. Dia hanya akan mengintip sedikit.

Kontak yang terus muncul di ponselnya, “Seulgi K”.

PhotoGrid_1492866926401

“Sudah punya pacar rupanya,” gumam Irene, meletakkan ponsel Sehun dan melontarkan diri ke kasur. Berbaring menatap langit-langit kamar yang berhias sarang laba-laba. Dia sudah mengusik privasi orang. Pokoknya benda itu harus segera dikembalikan sebelum jadi runyam.

Irene menyesal untuk sesuatu yang sepele.

—oOo—

Irene menyingsing lengan baju, menekan tombol arloji digitalnya dan mengerjap melihat layar kecil itu. Sudah tiga jam dia menunggu, tanda-tanda kehadiran Sehun belum juga tercium. Bertanya pada asisten dokter pun sia-sia, tidak ada nama Sehun dalam daftar pasien. Sehun tidak melewatkan kunjungan rutinnya, melainkan berhenti datang.

Kepalanya bersandar ke dinding, Irene mendongak dirasuki pemikiran negatif tentang Sehun yang mendadak hilang. Mungkinkah Sehun sengaja menghindarinya setelah kejadian malam itu. Atau gerombolan algojo itu meringkusnya, lalu menyerahkannya pada bos mereka untuk dihabisi. Apa Sehun terlibat dengan kelompok Yakuza? Ponselnya berhenti berdering, haruskan dia menghubungi kekasih Sehun dan menanyakan keadaannya?

Lalu dia harus bilang apa? Halo, ponsel kekasihmu tinggal di rumahku, jadi aku sekalian mau bertanya bagaimana keadaannya sekarang? Yang benar saja. Irene memutar bola matanya, menendang ide itu jauh-jauh.

“Melamunkan apa, sih?” tegur Jackson yang jahil menempelkan gelas kopi ke pipi Irene. “Kalau tidak fokus begitu, mana bisa menyuntik orang.”

Irene meringis mengusap pipi yang disengat panas. Menajamkan matanya kepada Jackson yang terkikik, kemudian mendesah keras. “Kau tahu di mana Oh Sehun sekarang? Ponselnya ada padaku dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Rasanya tidak benar kalau benda ini tidak dikembalikan.”

“Kenapa ponselnya bisa ada padamu?”

“Ketinggalan di rumahku saat mampir.”

“Di rumahmu?” Pernyataan itu membuat vokal Jackson meninggi, dia mengangkat alis ke arah Irene. “Kau mengundangnya ke rumahmu?”

Irene membenarkan. “Memang apa salahnya?”

Napas Jackson tertahan, raut wajahnya berubah drastis. “Aku kehabisan kata-kata dengan kelakuanmu, Irene,” tandasnya, berlalu bersama kopinya meninggalkan Irene dalam kebingungan.

Jackson tidak membantu sama sekali.

—oOo—

Segelas soju terakhir meluncur di kerongkongan Irene. Rasa manisnya tipis kemudian bereaksi di tenggorokan membuat Irene mendesis. Alkohol sudah cukup menghangatkan—serta menghiburnya—malam ini. Dia bangkit, merapatkan mantel parka lalu mengusap hidungnya yang berair. Helaan napas sambung-menyambung keluar dari bibirnya, membentuk gumpalan-gumpalan uap samar.

Salju pertama akhirnya turun di pengujung tahun, jauh terlambat dari perkiraan prediksi Badan Meteorologi. Irene menangkupkan tangan, menangkap serpihan-serpihan salju yang segera leleh di telapaknya. Selintas dia teringat soal mitos salju pertama. Katanya, kalau seseorang bersungguh-sungguh mengucapkan permohonan, apa pun itu akan terkabul. Lebih-lebih soal cinta, yang dianggap sebagai momen terbaik untuk menyatakan perasaan.

Irene tersenyum kecut. Dia mengeluarkan ponsel Sehun, ibu jarinya menggantung di atas tombol power. Niat untuk menyalakannya diurungkan, tidak ada nomor yang bisa dihubungi selain Seulgi. Irene tidak akan menghubunginya kecuali dia mau didamprat, jadi ponsel hitam itu kembali mengendap di saku.

Apa tidak bisa dia saja yang muncul?

Permohonan yang merangkap tawar-menawar disuarakan begitu saja oleh hatinya. Terkabul atau tidaknya, Irena tidak mempermasalahkan. Dia masih menyusuri jalan lalu berhenti di penyeberangan, menanti lampu lalu-lintas berganti hijau bagi pejalan kaki. Di seberang jalan berdiri seorang lelaki, bersandar dengan kaki menopang ke tiang lampu, sibuk berbicara di ponsel.

Sehun ….

Irene terkesiap, matanya tidak bisa lepas dari laki-laki itu. Mengekori tiap gerak-geriknya, kemudian pontang-panting menerobos lautan manusia ketika lampu berubah hijau. Kepalanya melongok ke segala arah, mencari jejak sang lelaki yang mendadak kembali hilang. Seperti kehilangan akal, Irene terpaku di tempat saat sadar usahanya sia-sia. Pikirannya sendiri menyesatkan, saking inginnya menemui Sehun wajah lelaki itu seakan muncul di mana-mana.

Tanpa sengaja dia merindukan laki-laki itu sebegitu besarnya.

—oOo—

Dering ponsel membuat Irene terjaga. Dia menggapai-gapai nakas mencari benda persegi yang terus meraung, lantas berguling menyibak bantal yang menyembunyikan kepalanya. Irene mengangkat ponsel di atas wajah, membaca nama yang tercantum di layar. Matanya menyipit, Leslie rupanya. Tetapi panggilan terputus ketika dia baru akan mengusap ponsel untuk menjawab.

Irene menggembungkan pipi, beringsut bangkit sembari melemaskan otot-otot yang terasa kaku. Rambutnya seperti singa. Lingkar mata pandanya meluas beberapa mili. Masih mengenakan kaus oblongnya, dia menyeduh kopi lalu mengeluarkan roti dari pemanggang. Kopi yang asam menyerang perut kosongnya dalam sekali teguk. Aroma musim semi telah mengudara. Gadis itu memandang ke jendela, salju mulai leleh dan tunas-tunas baru menyembul dari baliknya. Ada ponsel Sehun di sudut jendela, dibiarkan berdebu begitu saja. Semuanya sudah selesai.

“Hei, maaf tadi tidak terangkat,” kata Irene begitu panggilan tersambung. “Jadi, ada kabar apa sampai meneleponku pagi-pagi buta begini?”

“Aku dan David akan menikah!”

Irene turut merasakan kebahagiaan Leslie yang menggebu-gebu. Dia mengangguk dan menyunggingkan senyum. “Wow, that surprised me. Aku tidak menyangka hubungan kalian akhirnya sampai ke tahap ini. Jadi kapan hari bahagia itu?”

“Antara akhir musim panas atau awal musim gugur. Kami ingin dapat view yang bagus saat pemberkatan nanti. Kau jelas akan datang, ‘kan?”

“Mana mungkin aku tidak datang, saudariku.”

“Bersama kekasihmu?”

Um, tidak.”

“Ya ampun, Irene. Aku sudah mau menikah dan kau masih lajang. Sampai kapan akan kau sia-siakan wajah cantikmu? Perlukah aku buatkan iklan cari jodoh untukmu?” repet Leslie, menggoda sekaligus meledek Irene.

“Tidak sampai separah itu, Leslie. Yah … aku bertemu seorang lelaki beberapa waktu lalu. Aneh dan egois, tapi mendekati tipe idealku,” tutur Irene, benaknya mulai mereka-reka sosok Sehun.

“Lalu?”

“Tidak ada kelanjutannya. Dia sudah punya kekasih dan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi,” terang Irene, mengaduk endapan kopi di cangkirnya dengan gundah.

“Jadi ini cinta sepihak?”

“Koreksi itu. Aku tidak bilang kalau aku mencintainya.”

“Tapi kau menyukainya, ‘kan?”

“Bisa kita ganti topik lain?”

Okay. Bagaimana di sana? Masih tidak nyaman buatmu?”

Adukan Irene terhenti, dia tersenyum miris. “Begitulah.”

“Sayangku, kau tidak mungkin menahannya selamanya. Kemarilah, pindah dan tinggal denganku di Swiss. Aku tidak tega melihatmu terus-menerus makan hati,” tawar Leslie, terdengar simpati dan sungguh-sungguh. “Aku bisa bantu cari pekerjaan di sini.”

“Akan aku pikirkan. Lagi pula kontrakku selesai musim panas ini,” sahut Irene, mengitarkan jari pada bibir cangkir dengan bimbang. “Aku cuma ingin hidup tenang seperti dulu, Leslie.”

Sambungan telepon menghening, tapi tidak terputus. Tatapan Irene tertambat pada pigura berdebu di dinding, membingkai cantik foto keluarga yang terlihat bahagia. Bibirnya terkatup rapat, bunyi gemeretak geraham samar terdengar. Di seberang sana Leslie berharap Irene bersedia menumpahkan semua yang menggelegak di hatinya.

“Kau baik-baik saja, Irene?”

—oOo—

Zurich, Swiss.

Spons bedak ditepuk-tepuk halus ke dagu. Kuas blush-on disapu searah tulang pipi, merona semanis permen kapas. Lipstik pink coral dipoles mengisi bibir. Irene memerhatikan riasannya di cermin seraya menata rambut jadi sanggul sederhana. Di pernikahan Leslie, dia akan jadi pendamping mempelai. Anggun mengenakan gaun selutut berwarna cokelat muda. Sambil merapikan lipatan-lipatan gaun, Irene beranjak membawa buket pengantin. Bunga matahari. Leslie bilang perlambang kesetiaan serta mewakili musim gugur.

Leslie tampil menawan dengan gaun putih yang ekor gaunnya menyapu lantai. Dari balik veil-nya Irene bisa membaca kegugupan Leslie. Sahabatnya duduk lasak, menggeliatkan gaunnya dan menggoyangkan kakinya yang gemetaran. Irene datang, menggenggam tangan sahabatnya dan menuntunnya mengambil alih kendali.

“Embuskan napas perlahan-lahan. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” kata Irene, mengulas senyum juga menularkan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.

Sesuai instruksi, Leslie menghirup napas dan melepaskannya dengan cepat. “Oke, jantungku rasanya mau meloncat ke luar. Selanjutnya harus kau dan kau akan mengerti kecemasan dahsyat ini,” tekannya sambil menodongkan bunga pengantin ke wajah Irene.

Gadis itu cuma meringis, tidak sempat membalas karena seorang staf wedding organizer muncul meminta mereka bergegas keluar. Pernikahan dihelat di ladang terbuka milik keluarga David. Panoramanya apik, dikelilingi pohon-pohon bergradasi kemerahan yang udaranya terasa segar. Atensi para tamu sontak terserap saat Lesli yang memeluk siku ayahnya melangkah anggun menuju altar dalam iringan tepuk tangan dan siulan. Sedang David mantap berdiri berdampingan dengan pendetakendati air mukanya lumayan tegang.

Sejoli itu melafalkan janji pernikahan dengan haru, tampak dari mata yang berkaca-kaca. Kebahagiaan segera menyebar di udara ketika pengantin baru berciuman tanpa ragu. Termasuk Irene yang turut menitikkan air mata mensyukuri pernikahan Lesliewalau muncul sedikit perasaan iri dalam hati. Bertanya-tanya kapan akan tiba masa seperti ini? Mengenakan gaun pengantin, berjalan di altar lalu seperti apa rasanya menyerahkan seluruh hidup kepada seorang pria yang dianggap tepat.

Saat semua larut dalam suka cita, Irene malah merasa tersisih. Dia merasa asing, sesuatu membuatnya merasa sendiri. Selepas menyorong mantel serta menitipkan pesan untuk Leslie, dia memilih pergi meninggalkan pesta yang tetap meriah tanpa kehadirannya. Zurich menanti untuk dijelajahi, kota yang akan segera jadi rumah barunya. Pada akhirnya meninggalkan Seoul adalah keputusan terbaik. Segenggam harapan tumbuh dalam hati, semoga kehidupan baru di kota ini punya cerita bahagia.

Zurich kota yang cantik, tidak banyak kendaraan berlalu-lalang lantaran penduduknya lebih memilih menggunakan trem. Bangunan-bangunan tua khas Swiss menyihir Irene, membuatnya seolah berkelana ke negeri dongeng. Di Munsterhof Square dia sempatkan membeli segelas kopi ketika udara mulai terasa dingin. Irene kembali menyusuri jalanan yang membawanya menuju Augustinnergasse—jalanan tua yang dipenuhi bendera-bendera Swiss.

Sampai di persimpangan utama, Irene menunggu lampu lalu lintas berganti warna. Seperti de javu agaknya sewaktu dia memandang ke seberang; berdiri seorang lelaki berkacamata dengan perawakan serupa Sehun, asyik membaca buku di tangan tanpa peduli sekitar. Irene tersenyum kecut dan menarik napas dalam-dalam. Halusinasi lagi, dia melanjutkan perjalaan saat lampu indikator berbunyi.

Mereka berpapasan. Mata mereka berserobok. Waktu serasa berhenti dalam lingkaran temu yang ganjil. Irene terkesiap menemukan dirinya tidak bisa mengalihkan perhatian saat laki-laki itu selintas menampilkan ekspresi yang sama. Pupilnya melebar dari balik lensa kacamata bergagang ramping. Kerja otaknya mendadak macet, Irene terdiam sementara tubuhnya refleks berputar mengikuti kepergian si lelaki.

“OH SEHUN!”

tbc_zpstb22jlav

Tonight you steer my heart away…
Just leaving a trail of sorrow…

.

.

Pengen minta maaf sebelumnya, karena tidak menepati janji untuk segera update seminggu sekali tiap hari sabtu. Sebenarnya ini ga penting, tapi kondisi kesehatanku sedang memburuk dan ini butuh pemulihan berminggu-minggu. Aku menyesal sudah ingkar dan mencoba yang terbaik, sayangnya tiap kali aku duduk lihat monitor komputer bakal mendadak migrain.

Aku tulis ini bukan untuk cari perhatian, tapi aku cuma minta pengertian kalau aku masih tetap mencoba konsisten dengan tulisan ini biar pun agak tersendat-sendat. Untuk beberapa orang yang udah menyemangati aku, terima kasih. Buat Kak Anne (@neurosistoexo), thank you so much pengertiannya ❤

Dan teruntuk kalian yang setia membaca, BIG LOVE AND THANK YOU SO MUCH MUCH MUCH MUCH! ❤

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

 

 

XOXO,

Joongie

54 tanggapan untuk “[KEPING 2] Autumn Elegy: Stuck On Him — Joongie”

  1. YA AMPUN UDAH BERABAD ABAD AKU GAK BACA;( maafin aku tau ini telat banget, tapi bener bener baru banget baca huhuhu apakah kamu sudah sembuh? Hehe semoga udah yaaa, makin kereeenn AKU PENASARAN SAMA CHAP 3 NYA HUEHE udah deh segitu dulu aku mau baca chap 3 nya😂

  2. Anyeong
    Salam knl ya
    Baru ketemu ff hunrene dan lngsg komen di part2 mian ya min
    Tp aku suka ff nya apalagi aku hunrene shiperr
    Aku suka jalanya critanya bikin greget gimana gitu apa lagi sift sehun disini dingin bgt
    Lucu liat tingkah irene klo lagi dekat sehun udh ada rasa gitu
    Di tunggu bgt part3 nya minn

  3. Dan aku suka gaya bahasa tulisan kamu dan ceritanya menarik. Semangat ya! Good well soon. Kita ngerasain hal yg sama ketika kita janji bakal updat tiap weekend dan pas udah depan monitor selalu migran + ide nyendat. Anw, salam kenal.

    1. Hai, AgasshieL! 😄
      Maaf karena baru balas ya 😄😄
      Terima kasih sebelumnya, membuatku berbunga-bunga kkk
      Iyaaa sesama penulis mesti paham, wb suka nyamperin tiba” 😭😭😭
      Daaaan salam kenal juga, ditunggu komentar lainnya 😘

  4. Dari kemaren kemaren bolak balik EFI , berharap update ,,, akhirnya ..
    Bagus banget …. apalagi castnya Sehun Irene yg visual keduanya goal banget .. udah gitu nih dua orang cocok banget lagi ,,, jadian real mantep kali ya ?? Haha .. tapi tetep, sesuka sukanya ngeship mereka lebih suka ngeshipin suho-Irene ….
    ditunggu pokoknya lanjutanya ….
    Dan semangat buat authornya …

  5. aakkk baperrr
    itu seulgi siapanyaaa?!!
    aku suka dua duanya si ya wkwk jadi bingung mihak siapa haha
    udah deh sama mbak irene aja kamu hun, sehunnya juga kenapa sih dingin banget ke irene? jdi penasaran ada kisah apa sama seulgi sebenernya. dan kenapa juga sehun sampe di zurich

  6. Yeyeye akhirnya update juga, kesekian kali aku bakal bilang kalo ff nya bagus banget.
    semoga cepet sembuh ya kak, dan update segera hihihihi. Mangatsss 💓

  7. semakin seru. semakin penasaran. aku masih curious soal sehun yg manggil irene dg sebutan wendy. ku kira bakal ada sedikit klu disini😃ditunggu kelanjutannya, kak! Himne kak joongie👊

  8. Kak, aku nunggu2 ff ini kapan update sampai bulukan, akhirnya update juga 🙂 Makasih ya kak, ff nya bagus bgt, aku suka diksinya.

    Kak sekarang udah sehat kan? Btw kemarin2 sakitnya apa kak?

    1. Maaf ya say, maaf banget karena aku mendadak sakit jadi ketunda 😭😭😭
      Sekarang udah berangsur pulih, ini mah sakit bawaan dek jadi suka kambuh”an 😂

  9. Bagus kak!!
    sepertinya Swiss negara yang pas buat jadi pelarian wkwkw
    Di novel psssst karya dy lunaly juga Swiss jd Negara semacam itu wkwk
    Get well soon kaka!

    1. Hihi iyaaaa ih! Aku pribadi pengen banget ke Swiss ada satu desa yang kek ughhh pen banget kalo nikah trus bulan madu ke sana ><
      Thank you dear, kamu jaga kesehatan ya 😘

  10. Annyeonghaseyo.
    Ah gue suka ❤. Gue suka semuanya. Alurnya. Bahasanya semuanya gue suka.
    Gue lama gk baca ff yg gaya bahasanya kyk ff lu ini.
    Ttp smngat buat nulis dan smga cpt smbuh
    Fighting! 💪

  11. Ku baru buka exoffindo hari ini dan langsung tancap gas baca ff kak keke. Ku rindu ini suerr kakk! Kusangka kak keke lupa update ternyata kak keke sakit toh. Cepat sembuh ya kak keke, jangan dipaksain entar malah tambah sakit :” aku tunggu terus autumn elegynya <

    1. Hihi thank you Yuki! Kamu bikin aku happy luv luv luv ❤❤❤❤
      Iya ih sakitnya tanpa perencanaan, kamu jaga kesehatan ya! Jaga pola makan juga biar sehat selalu, ntar kukangen kalo kamu nda ada {}

  12. Get well soon kak, jangan dipaksain, istirahat aja yg cukup, kesehatan kakak lebih penting, serius. 😆
    Irene mulai tertarik sama sehun, asiquee. 😂
    Well, sepertinya irene juga punya masa lalu hmz.
    Ditunggu next chapnya kak, lama juga gpp, yg penting kakak sehat selalu. 😍

    1. Hihi thank you Eki 😘
      Kamu juga ya jaga kesehatan jan ampe sakit, ga enak trus mahal #plak
      Iyaaaa mereka semua masa lalu dan perlu berdamai dengan cara mereka sendiri, semacam mereka obat dari satu sama lain #ups keceplosan 😂
      Makasih yaaaaa {}

  13. Horreee ff favorit update. Awmpet nyariin sih, tapi udah dijelasin aku jadi paham. Aku juga sedang coba nulis, dan itu bener2 susah. Can’t wait for the next chapter.

    1. Yeaaaaaaaaay! Akhirnya aku kelarin juga hahahaha 😂😂😂
      Iyaaa kita sesama penulis saling mengerti lah ya, ide itu kadang suka ilang nimbul tergantung situasi kkk
      Thank you 😘

  14. seneng banget pas liat ff ini dilanjut…
    dan akhirnya mereka ketemu lagi

    lagi2 baper pas irene mayungin sehun, mayunginnya harus tinggi banget dong ya? sehun kan tinggi, atau malah sampe jinjit? :’v
    terus pas irene ngelepasin payungnya terus meluk sehun, huaaaaaaa demi apa baper parah gue :g

    kemarin wendy sekarang seulgi, cogan emang takdirnya dikelilingin cewek cantik :v

    lanjut secepatnya ya, sempet ngira ff nya gak bakal lanjut, ternyata author nya sakit, gws!!! fighting!!!!

    1. Hihi thank you so much, Indri! 😘
      Sambil jinjit sambil tatap-tatapan trus kisseu #plak
      Duh kalo inget sehun di sini tuh pen nyanyi, “senangnya dalam kalau beristri dua, oh serasa dunia anaaaa yang punyaaaa” 😂😂😂
      Banyak bet ceweknya :v
      Thank you lagi, kamu juga jaga kesehatan loh jan ampe sakit kek aku ❤❤❤

  15. Yaampun bahagianya dimention.. >.<
    Samasama Ke, kan kita saling mengerti /ihiy /cie
    Tetep semangat menuliiss, betewe aku belom sempet baca inii, tapi nanti pengen kubaca, tunggu senggang biar maknyuuss..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s