[EXOFFI FREELANCE] Way Out (Road of Death) Chapter 1

Way Out (Road Of Death)

 

Tittle                           : Way Out (Road Of Death) – Chapter 1

 

Author                      : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Oh Sehun (EXO)
  • Oh Sena (OC)

 

Other Cast               :

  • Shin Seung Rin (OC) as Zeus/Erinyes/Medusa
  • Zhang Yi Xing/Lay (EXO) as Mortary/Ted Bundy Copycat
  • Do Kyungsoo/D.O (EXO) as The Brain
  • Byun Baekhyun (EXO) as A.M/Ante
  • Park Chanyeol (EXO) as P.M/Post
  • The Boss (Secret Cast)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Thriller, Psychology, and Drama

 

Rating                       : R

 

Length                       : Chapter

CAUTION : DIHARAPKAN KEBIJAKSANAAN DARI PARA PEMBACA SEKALIAN DALAM MENIKMATI FANFICTION INI

Author tidak bertanggung jawab atas kesalahan prespsi atau penafsiran. Karena meskipun memiliki konten yang tak baik untuk anak dibawah umur, namun fanfiction ini masih dalam tahap yang wajar dan sesuai rating yang saya tulis. Fanfiction ini dibuat atas dasar hiburan untuk pembaca sekalian, mana yang benar dan mana yang salah adalah keputusan pembaca, jadi sekali lagi, mohon kebijaksanaannya dalam membaca.

***

 

Mereka terjebak, mereka tersekap

Tidak ada jalan keluar, sekalipun ada itu dirancang untuk membuat mereka kembali,

Sekali lagi, mereka terjebak

Bersama lima pembunuh bengis yang bukan sekedar menginginkan nyawa mereka… melainkan jiwa mereka.

 

 

~Happy Reading~

 

Prolog : https://exofanfictionindonesia.wordpress.com/2017/04/19/exoffi-freelance-way-out-road-of-death-prolog/

 

 

[I Am So Sorry For Hear That…]

 

*Normal Side*

 

Empat pria itu tertawa dengan cara masing-masing, kekehan yang sebenarnya terdengar bahagia itu justru menyakitkan telinga gadis yang diikat dengan kuat pada sebuah kursi. Dia tak dapat melihat ekspresi mereka, wajah para topeng itu menutupinya dengan baik, membuatnya ingin berteriak ketakutan, memohon dibebaskan dengan tangisan yang tiada henti.

 

“Arrghh! Bangs*t! aku sudah bilang untuk diam kan?!”

 

“Jangan terlalu keras padanya.” Pria dengan lesung pipi itu mencegah rekannya bertindak gegabah dengan melemparkan tongkat kasti ke arah gadis itu, “Zeus bisa marah jika ada darah orang tak bersalah mengotori ruangannya.”

 

“Jadi dimana si Medusa itu sekarang?” tanya pria yang memakai kaos bertuliskan huruf kapital A.M diatasnya.

 

“Sepertinya sedang memeriksa kembaran anak ini.”

 

***

 

*Sehun Side*

 

“Siapa kau?” tanyaku pada gadis bermuka pucat dengan ekspresi datar itu.

 

Apa dia hantu? apakah aku sudah mati? Jadi dia malaikat pencabut nyawa yang akan membawaku ke dunia atas?. Dan mungkin yang lebih parah…

 

Dialah pembunuh orangtuaku.

 

“Kenapa diam saja? SIAPA KAU SEBENARNYA?!”

 

Gadis itu masih bergeming, tak mengatakan sepatah kata pun. Hanya diam, berdiri tegak dihadapanku sembari memberikan tatapan tatapan tajam yang mulai mengintimidasiku. Jika benar dia adalah seorang pembunuh, maka aku benar-benar harus mencurigai setiap orang yang aku lewati nanti -itu pun jika aku dapat bebas dari tempat tak dikenal ini.

 

Karena dia terlihat seperti gadis normal biasanya. Memakai kemeja putih polos lengan panjang, rok pendek yang nampak imut dipakainya, wajah kecil dan postur tubuh mungil itu, mustahil menjadi otak kawanan penjahat yang menghancurkan kebahagiaan dalam keluargaku. Kenapa… kenapa gadis semuda ini…

 

“A-apa yang mau kau lakukan?!”

 

Tanpa aku sadari dia mendekat, dengan sebilah pisau ditangan kanannya. Wajah tanpa ekspresi itu membuatku merinding semakin dilihat dari dekat. Aku meronta, mencoba meloloskan diri dari ikatan yang semakin kuat bila digerakkan. Ia mencengkram kerah baju bagian belakang, menariknya dengan kuat hingga membuatku kesulitan bernafas, apalagi dengan posisi meringkuk seperti bayi dalam kandungan membuatku semakin kesulitan menghirup oksigen.

 

Dia benar-benar akan membunuhku, dia akan membuatku meregang nyawa dengan menyiksaku secara perlahan, menjadikan hal itu sebagai hiburan. Aku terus meronta, tak membiarkannya mengambil nyawaku dengan mudah. Tapi percuma, meski sempat terjatuh sekali, dia adalah pembunuh professional, psikopat gila yang sudah ahli dalam hal ini.

 

Aku merasa berada di ujung tanduk ketika dinginnya besi tajam itu melukai tanganku, membuat sayatan yang mungkin segera melebar jika saja tali yang mengekangku tak lepas tepat pada tusukan kedua.

 

Sesegera mungkin aku merangkak menjauh darinya, dimana aku tak tahu kalau ikatan pada kakiku pun sudah terlepas sehingga memudahkanku untuk mendekati pintu keluar.

 

“Aakh!” teriakku kesal. Aku berbalik penuh waspada, bersandar pada dinding karena kakiku masih lemas, tak mampu menopang tubuhku seutuhnya. Gadis itu  disana, menatapku -masih- dengan tatapan tajamnya.

 

Percuma aku bisa lolos, masih ada jalan buntu lainnya! Masih ada rintangan lainnya!. Pintu ini terkunci, tentu saja, dan meskipun aku bisa keluar dari sini, akankah aku bisa melewati psikopat lainnya hidup-hidup?. Aku memegang tanganku dengan tangan yang satunya, menutup luka sayatan yang menganga dan masih mengeluarkan darah.

 

“Kenapa?” suaraku bergetar ketika mengatakannya, “Kenapa kau melakukan hal keji seperti ini?”

 

Gadis itu menghembuskan nafas lantas menjawab, “Bahkan jika aku menjelaskannya padamu. Kau tidak akan mengerti dengan mudah.”

 

“Te-tentu saja!” pekikku, “Kau!, mereka!, kalian sudah melakukan hal-hal diluar norma kewajaran!” aku tahu dengan mengatakan ini, dia dan rekannya tak akan bertaubat begitu saja. Namun setidaknya, sebagai manusia yang rasa kemanusiaannya masih ada, disaat nyawaku sudah terpojok, aku ingin mengatakan apa yang para orang prontagonis biasanya katakan di dalam film.

 

“Siapa yang menentukan batas-batas norma yang kau maksudkan?. Sebenarnya, seberapa banyak syarat yang harus dilakukan untuk mendapat predikat ‘normal’ menurutmu?. Aku tahu, kau anggap aku psikopat, pembunuh gila karena aku mengeksekusi lansung orangtuamu. Tapi, hey!, apa kau tahu berapa orang yang sudah dibunuh orangtuamu pula?”

 

“Mereka bukan pembunuh!” ya benar, dia pasti mengatakan itu hanya untuk mengecohku!.

 

Pintu terbuka, menimbulkan suara berderit yang hampir membuatku sumringah sampai melihat sosok pria berambut pirang itu, komplotan gadis pembunuh yang membuatku dan Sena terbangun dan menyaksikan kekejaman mereka terhadap tubuh orangtuaku.

 

“Ah! sudah kubilang untuk mengganti pintu reyot ini kan?!”

 

“Berisik sekali sih? Kenapa tidak kau ganti sendiri?”

 

“Sebenarnya yang berisik itu kau The Brain!”

 

Aku menjauhkan diri dari pintu, meringkuk di pojok ruangan sambil menyaksikan bagaimana para penjahat itu memasuki ruangan dengan senyum bahagia, seolah mereka tak melakukan hal buruk apapun. Sementara aku harus terpuruk disini, kehilangan keluarga, kehilangan harga diri, bahkan bisa kehilangan nyawa juga.

 

“Kebetulan kalian datang.” Gadis itu memotong pembicaran mereka, bersedekap, “Bius dan bawa dia.” ujarnya, selayaknya ketua diantara para pembunuh gila ini.

 

Aku hanya bisa pasrah ketika pria berambut pirang dan pria yang lebih tinggi dengan senyuman konyol mendatangiku dengan seringai kejam, mengangkat sapu tangan putih dari saku salah satunya, membekap mulut dan hidungku lalu seketika kesadaranku mulai menghilang. Satu-satunya yang aku ingat sebelum pingsan adalah bayangan Sena yang menangis sambil memaki diriku, memintaku untuk mati saja.

 

Sepertinya… pikiranku teracuni oleh kematian ya?. Ha ha.

 

***

 

*Normal Side*

 

Hal pertama yang Sehun tahu ketika dia sadar dari pingsannya adalah mobil. Ia berada di dalam mobil, dengan tubuh terikat pada kursi kemudi, mulut berlakban, serta yang paling mengejutkan… Sena duduk disampingnya dengan keadaan yang tak jauh beda dengan Sehun.

 

“Brengs*k kau kakak gila!. Manusia egois!, harusnya kau yang mati sial*n!”

 

Hanya saja, mulut Sena masih bebas dari bekapan dan bisa memaki Sehun sepuas hatinya.

 

Diluar mobil yang terkunci rapat itu, empat orang lainnya menunggu, sambil salah satunya mengumpat sesekali pada kebisingan yang dibuat oleh Sena, gadis yang seharusnya ikut mati bersama mangsa mereka hari ini, tuan serta nyonya ‘Oh’. Sementara Zeus, sang eksekutor, berdiri di depan seorang pria yang duduk bersimpuh, dengan tangan terikat kebelakang, serta kepala yang ditutupi kain hitam.

 

Zeus memberi kode.” Ucap pria berlesung pipi seraya menutup novel karya conan doyle, cepat. “Sebaiknya kalian segera mendorong mobil berisi dua bersaudara yang sedang bersiteru itu.” Suruhnya, membagikan tiga pasang sarung tangan putih kepada tiga rekannya.

 

“Akh!, kenapa dia bertingkah sok pemimpin sih?!” keluh pria pendek yang memasang topengnya secara terbalik. “Jika saja The Boss menerima keluhan tentang sistem kerja si Medusa!”

 

Pria berambut pirang keriting cuma menggelengkan kepala sambil tersenyum geli, ingin membalas keluhannya tapi tak mau memperkeruh suasana. Sementara pria lain yang memakai kaos ‘hampir’ serupa dengannya -hanya berbeda tulisan P didepannya- , tertawa keras, mengabaikan peringatan tentang topeng ‘kebanggaan’ yang lupa ia bawa.

 

“Memangnya kau bisa mengaturnya?. Tidak ingat alasan mengapa kita menyebutnya Zeus?” perkataan pria tinggi itu membuat wajah si pendek semakin masam.

 

Si lesung pipi terkekeh pelan, “Gunakan tenaga kalian untuk mendorong mobil ini, bukannya membicarakan Zeus.”

 

“Siapa yang sudi membicarakan wanita egois yang sok itu?” gerutu si pendek.

 

***

 

*Sehun Side*

 

“Kenapa kau tidak mati?. Kenapa kau tidak masuk neraka saja huh?!”

 

Aku tak bisa mengatakan apapun dan tak sanggup menutup telinga agar teriakan Sena tak merusak pendengaranku. Gadis ini masih diselimuti emosi, tak akan mudah meredakannya. Aku terus berusaha menjilat bibirku sendiri serta lakban yang tak membiarkanku berbicara, membuatnya sedikit demi sedikit kehilangan daya rekatnya hingga terlepas setengah. Kerja bagus Oh Sehun!.

 

“Kenapa… kenapa kau meninggalkanku dan… dan kabur sendirian?!”

 

Sekarang ia menangis. Ya, aku tahu aku salah, aku berdosa meninggalkan adikku disergap oleh pembunuh biadab yang sudah menghabisi nyawa orangtua kami. Tapi sekarang bukan waktunya saling menyalahkan, anggaplah aku manusia keji, tapi yang lebih penting adalah bekerja sama untuk menemukan cara menyelamatkan diri!.

 

“Sena-ya, aku tahu, aku sadar aku bersalah. Tapi kita harus cepat kabur dari sini!”

 

Tangisan gadis itu mereda, dan bukannya memberiku keyakinan untuk berusaha keluar dari mobil, ia justru meludahiku sembari memandangku tak percaya. Sialan!.

 

“Dan membiarkanmu meninggalkanku lagi?. Tidak, tidak, MATI SENDIRI SANA!”

 

Aku terkejut ketika secara tiba-tiba jendela disamping kiriku terbuka dan menampakan sosok gadis berwajah mungil, menatapku dengan datar selagi salah satu alisnya terangkat, menyorotiku dengan senter kecil berwarna perak.

 

“Ide bagus nona manis.” Katanya, mengenakan kacamata tanpa lensa yang terkenal dikalangan anak muda. “Jadi, permintaan terakhirmu adalah untuk membuat kakakmu mati, benar?”

 

Aku menoleh, menunggu respon apa yang akan Sena katakan pada pembunuh ini. Yang aku tangkap adalah ekspresi terkejutnya, ketakutannya pada Zeus -bagaimana pembunuh lain memanggilnya, lalu memandangku tajam. Dia… tidak mungkin setuju kan?. Benar, sebenci apapun dia padaku, Sena tak akan meminta hal bodoh seperti membiarkanku mati ditangan orang-orang itu kan?.

 

“Ya. Bunuh dia.”

 

Senyuman Zeus mengembang seiring tatapan dingin penuh kebencian Sena makin memojokkanku.

 

“Yak! Oh Sena!, jangan bercanda pada orang-orang seperti mereka!. Kita bisa saja mati konyol meskipun kau hanya meminta mereka mencabut nyawaku!”

 

Sena, berpikirlah jernih… lupakan masa lalu, lupakan emosi sesaatmu itu!.

 

“Kau pikir aku bercanda, brengs*k?. Meski kita sama-sama akan mati, aku tetap akan meminta mereka menyiksamu dihadapanku!”

 

“OH SENA!”

 

Suara tepuk tangan, serta tawa yang riuh oleh para pria bajingan itu.

 

“Wah, sepertinya kau kini sendirian Oh Sehun-ssi.” Kata Zeus, menyeringai. Tanpa aku repot-repot bertanya apa maksudnya, dia menjawab sendiri padaku.

 

“Buktinya, adikmu sudah berada di pihak kami, kan, Oh Sena-ssi?”

 

Sena kembali meludah, berniat melecehkan serta menunjukkan rasa jijiknya pada Zeus dengan air liurnya, namun tak sampai. Yang ada malah mengotori celanaku dan membuat gadis psikopat itu semakin bahagia.

 

“Siapa yang bilang aku ada di pihak kalian?. Iblis!, meski aku menginginkan kematian kakakku, aku tak akan menjadi manusia kotor seperti kalian! -KYAAA!”

 

Aku pun hampir berteriak seperti seorang gadis apabila Zeus tak segera menggertak rekannya untuk menjauhkan potongan daging berlumuran darah yang aku curigai adalah usus manusia itu dari wajah Sena!. Dasar gila!.

 

Kini gadis itu menangis dengan tubuh gemetaran karena sebagian pipinya berlumuran darah. Aku memandangnya iba, tak dapat melakukan sesuatu yang dapat menenangkannya. Lagipula, mengingat bagaimana dia antusias atas rencana kematianku, sepertinya dia sudah mendapat hukuman yang setimpal.

 

“Berhenti bermain-main.” Ujarku kemudian, “Jika memang ingin membunuh kami, maka lakukan. Jika tidak, lepaskan kami sekarang juga!”

 

Zeus mendengus sekali sebelum mengatakan, “Apa untungnya kami melepaskan kalian?. Kau dan adikmu sudah melihat wajah kami, atas jaminan apa kau tak akan melapor ketika bebas nanti?”

 

“Daripada itu, kami punya pertunjukan seru buat kalian.” Sahut pria berambut pirang, tersenyum senang sambil menghisap rokok yang baru dinyalakannya, asapnya masuk kedalam mobil melalui jendela yang dibiarkan terbuka, membuat paru-paruku sesak.

 

Si tinggi, yang baru aku lihat dengan dua pria lainnya -selain si pirang, melepaskan penutup kepala pada pria malang yang sudah gemetar ketakutan itu. Kasihan, dia akan menjadi korban kekejaman mereka selanjutnya. Tapi, aku tak bisa membantu apapun, kami sama terdesaknya dengan pria yang-

 

“PAMAN! ITU PAMAN HEE JUN!”

 

Teriakan Sena menyadarkanku. Dia paman kami!, pria yang seharusnya melaksanakan pernikahannya besok!. Kenapa? Kenapa dia bisa berada disini?!.

 

“PAMAN! PAMAN HEE JUN!”

 

Aku ikut berteriak, entah apa pengaruhnya dalam kehidupan kami, tapi setidaknya, aku melakukan apa yang ingin aku lakukan.

 

“BERISIK!” bentak si pendek yang sudah bersandar pada badan mobil, “Diam atau kucekokkan asam sulfat ini ke mulut kalian, biar hancur sekalian isi-isinya!” mengangkat kotak kaca bening berukuran sedang dengan botol merah yang ukurannya lebih kecil dari kotak itu sendiri.

 

“Hooo~ kau hendak mencalonkan diri menjadi eksekutor ya? Sudah bosan dengan titel sebagai hacker ya?” si pirang, menggodanya. “Hoi! Zeus! Kau punya rival sekarang!” ia berteriak pada wanita bermantel tebal, yang seharusnya tidak perlu dilakukan meskipun pelabuhan ini cukup sepi.

 

“Pilihan pertama, kalian selamatkan nyawa pria ini. Tapi tetap, kalian bertiga akan menghilang tanpa jejak dan dianggap sebagai dalang pembunuhan orangtua kalian. Atau pilihan kedua, biarkan dia mati ditanganku dan memberi kesempatan kalian untuk hidup lebih lama. Bagaimana?” kata gadis itu, tak mengacuhkan kekonyolan rekannya.

 

Aku menangis, tentu saja. Paman Hee Jun terlihat amat putus asa, kami tak bisa melakukan apa-apa selain bersedih hati. Seingin apapun aku untuk menyelamatkan paman, aku masih harus memikirkan hal lain tentang kelangsungan hidup kami. Kulirik Sena yang terus merengek meminta paman Hee Jun diselamatkan, tapi tak ingin dibunuh bersamanya pula. Munafik!. Pekik iblis didalam hatiku. Sudah cukup, aku tak ingin membuat keputusan egois dan mengorbankan adikku lagi.

 

“…pilihan kedua…” lirihku membuat wanita serta empat pria yang turut menyaksikan tersenyum bengis.

 

Sampai akhirnya Zeus menarik pelatuknya, menimbulkan sedikit percikan api dari senjata yang ia pegang, meluncurkan peluru yang langsung menembus kepala paman Hee Jun tanpa suara tembakan. Setelah memastikan paman sudah mati, Zeus berjalan kearah kami, digantikan oleh si pirang dan si tinggi yang membawa kotak berisi asam sulfat, memasukan tubuh paman pada peti sembari menuangkan air keras yang berbahaya itu.

 

Aku yakin tubuh paman sudah tak berbentuk lagi dalam hitungan menit.

 

“Tak perlu repot-repot menutup mata.” Ucap si lesung pipi, melepas ikatanku sementara si tinggi melakukan hal serupa pada Sena. “Kini kalian menjadi bagian dari kami.”

 

“Tidak.” Sanggahku, “Kami begini karena tak ada pilihan lain, kalian mendesak kami untuk melakukannya!”

 

Zeus membuka pintu belakang, meletakkan senjata serta peredamnya pada kotak yang ada disana.

 

“Menurutmu mereka punya pilihan?. Membunuh atau dibunuh, itulah hidup pada kenyataannya. Ayah kalian yang politikus korup itu juga pasti mengetahuinya.”

 

Aku menggeram, mengepalkan tangan kuat, menampik setiap perkataannya yang tak masuk akal itu.

 

“Mereka?, jadi kau sendiri punya pilihan untuk tidak membunuh kan?”

 

Zeus terdiam, menatapku dingin.

 

“Tidak, aku hidup untuk membunuh.” Ucapnya sambil menempelkan moncong pistol ke kepalaku.

 

 

~To Be Continue~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s