[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 12

The One Person Is You [Re : Turn On]

 

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 12

 

Author                      : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast               :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                       : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

 

*Author POV*

 

“Jadi benar kalau Hyojin yang mencuri kalung Jiyeon?”

 

“Wah!, dan dia pergi begitu saja bersama pacarnya?”

 

Jiyeon menyunggingkan senyuman sinisnya, terbahak dalam hati ketika mendengar gossip yang sudah menyebar dengan sempurna bahkan tanpa ia ikut campur tangan ‘membumbuinya’. Ia mengeratkan pegangan pada bukunya, menyimak lebih detail rumor yang sedang dibicarakan teman-teman sekelas.

 

“Pacar? Yang aku tahu pria kemarin itu Chanyeol sunbae, dia bukannya kekasih Kang Rae Mi?”

 

“Kang? Bukannya marganya Lee, ya?”

 

Alis Jiyeon terangkat sebelah begitu pembicaraan mereka berganti topik menjadi gadis yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

 

“Yak!, jangan membahas anak keluarga chaebol sembarangan!”

 

“Huh? Jadi Rae Mi yang itu? Yang baru-baru ini masuk berita sebagai anak Presdir Lee Dae Ryeong yang telah lama hilang?”

 

“Jadi, posisi Hyojin terancam ya? Rasakan!”

 

Jiyeon yang mulai kebingungan menghentikan obrolan itu untuk sementara, meminta penjelasan mengenai apa maksud mereka, yaitu bagaimana posisi Hyojin bisa terancam hanya karena keberadaan Kang Rae Mi?. Terlebih, status apa yang gadis itu miliki sampai punya hubungan dengan keluarga chaebol?.

 

“Apa hubungannya Hyojin dan Kang Rae Mi?”

 

Teman-temannya memandang Jiyeon heran, menganggap gadis itu terlalu polos dan kurang memperhatikan apa saja hal penting yang terjadi disekitaran kampus. Tapi, tanpa berkomentar apapun tentang gadis cantik itu, mereka dengan senang hati menjelaskannya secara rinci kepada Jiyeon.

 

“Lee Rae Mi!, kuingatkan sunbae supaya tidak menyinggungnya, dia termasuk mahasiswa berpengaruh disini!. Meski mengambil jurusan ekonomi bisnis, dia juga bersiap mengikuti ujian manajemen. Tahun lalu dia peringkat pertama di jurusannya!” ujar salah seorang teman Jiyeon yang nampak lebih muda dari teman-teman lainnya.

 

Jiyeon mengangguk paham, sekaligus senang karena merasa mendapat informasi penting yang bisa membantu keluarganya dalam menjalin hubungan dengan kolega bisnis mereka. “Lalu, soal Hyojin?”

 

“Hyojin kan cucu dari Lee Dae Ryeong, setidaknya itu yang dia katakan waktu bersiteru dengan Bang Yongguk dulu. Aku mendengarnya dari kakak senior kalau Hyojin bisa masuk ke universitas ini juga karena pengaruh kakeknya.” Gadis yang lain menjelaskan, “Otomatis Kang Rae Mi yang menjadi temannya berubah jadi bibinya dengan marga baru, Lee Rae Mi. Hebohnya lagi, Hyojin yang menyebalkan itu merebut kekasih Rae Mi!, Park Chanyeol yang membawanya pergi kemarin!” lanjutnya, melebih-lebihkan berita yang bahkan tidak ia ketahui kenyataannya.

 

Jiyeon kembali menganggukan kepalanya, berpikir kalau hari ini adalah hari keberuntungan karena dapat mendengar gossip buruk tentang Hyojin sekaligus menyusun cara untuk melawan gadis itu melalui informasi yang terus ia kumpulkan sejak Hyojin membuat perasaannya tak tenang.

 

“Hyojin tidak seperti itu kok!”

 

Kumpulan mahasiswa itu berbalik, mencari sumber suara yang menginterupsi pembicaraan mereka dan terkejut ketika orang yang sedari tadi mereka bicarakan sudah berada di belakang Jiyeon, berdiri tegak sambil memasang muka masam seraya berkacak pinggang.

 

“I-i-itu Kang -ah maksudku Lee Rae Mi!” bisik salah seorang pada Jiyeon yang terlihat kebingungan tentang siapa gadis berpakaian kuno tersebut dan bersikap seolah mau menantangnya.

 

“Hyojin tidak merebut kekasihku!, kalian paham?!”

 

Seruan Rae Mi tak mendapat jawaban apapun dari teman-teman Jiyeon. Menganggap dirinya sebagai seorang pemimpin dari kumpulan gadis dungu itu, Jiyeon meminta maaf pada Rae Mi, mengatakan padanya kalau dia salah paham akan apa yang dibicarakan teman-temannya, menjelaskannya sebaik mungkin meski yang lain tak yakin kalau anak presdir perusahaan Jaeguk itu mau percaya.

 

“Aku dengar dengan jelas kalau kalian menjelek-jelekkan Hyojin!. Masih belum puas meledekku sebagai gadis kampungan huh?!” ketus Rae Mi, semakin menaikkan nada bicaranya. Dan sebelum gadis itu menyelesaikan kekesalannya, rangkulan Hyojin membuat gerombolannya Jiyeon makin tak berkutik.

 

“Ada apa ini? sedang membicarakanku ya?”

 

Rae Mi mendelik, tanpa sadar mengikuti kebiasaan temannya itu ketika terkejut. “Da-da-darimana kau tahu?” tanyanya panik, walau sebenarnya tak perlu karena Hyojin juga turut mendengar pembicaraan buruk mereka mengenai dirinya sejak sebelum Rae Mi lewat dan melabrak orang-orang itu. Toh, sejak dirinya hidup sendiri, berhutang sana-sini, gadis itu sudah kebal akan gunjingan masyarakat terhadap dirinya, yang menganggap dirinya sebagai ‘sampah’ maupun ‘gadis yang patut dikasihani’.

 

“Aku punya sixth sense, kau ingat?” gurau Hyojin.

 

Namun dianggap serius oleh Rae Mi yang lugu, “Benarkah? Kenapa kau tak ceritakan padaku sebelumnya? Jadi kau bisa membaca pikiranku juga?!”

 

Hyojin segera mengabaikan racauan Rae Mi. “Karena aku punya banyak ‘penggemar yang tertunda’ disini jadi tak perlu repot-repot membereskan kabar burung tak masuk akal, iya kan?, Yoon Hae Ra si ratu gossip?”

 

Gadis yang namanya disebutkan oleh Hyojin terkesiap, menggelengkan kepala beberapa kali sambil menggoyangkan kedua telapak tangannya bersamaan, tanda bahwa ia mengelak perkataan Hyojin. Jiyeon memandang Hae Ra sekilas, kemudian kembali meminta maaf sekali lagi kepada Hyojin juga Rae Mi yang masih marah.

 

“Maafkan mereka ya?, akan aku pastikan hal seperti ini tak pernah terjadi lagi pada kalian.” Ucapnya lembut.

 

Rae Mi hampir luluh menatap Jiyeon yang kelihatan putus asa memohon padanya, namun decakan dari Hyojin serta rangkulannya yang lebih erat membuat fokus Rae Mi pada Jiyeon jadi buyar seketika.

 

“Mereka?. Hooo jadi kau meng-kambing hitamkan teman-temanmu daripada meminta maaf atas dirimu pula, Park Jiyeon?” sindir Hyojin, “Dan apa pula perkataanmu itu?. Kau mengira mereka akan melakukannya lagi?, membicarakan kami dengan menambahkan berita palsu begitu?. Kau ini ingin terlihat baik dengan membuat lainnya tampak jahat ya?”

 

Jiyeon mengepalkan tangannya diam-diam, menggertakan gigi sepelan mungkin agar tak disadari oleh orang lain bahwa dirinya kesal akan perkataan Hyojin yang tepat sasaran. Makin yakinlah gadis itu kalau Hyojin memang sudah mengetahui rahasianya, penyakitnya, aib yang dia sembunyikan selama ini.

 

“Apa maksudmu?! Jiyeon tak seburuk itu!” bela Hae Ra dan teman-teman Jiyeon lainnya, “Dia berkata demikian karena Jiyeon adalah gadis yang polos!, dia mengatakan itu tanpa sadar karena didesak oleh orang yang memang jahat sepertimu!”

 

“Ya ampun gadis ini benar-benar!”

 

Hyojin menghalangi Rae Mi yang hendak membalas perlakuan buruk teman-teman Jiyeon. Menurutnya berurusan dengan Jiyeon adalah pilihan terakhir, ketika gadis berparas rupawan itu telah melewati batas kesabarannya, saat Jiyeon sudah merugikan Hyojin, barulah ia akan menghabisi Jiyeon sampai titik darah penghabisan, sampai Jiyeon tak dapat melakukan apapun lagi padanya.

 

Dengan caranya sendiri tentunya.

 

“Hyojin-ssi!”

 

Panggilan Jiyeon menghentikan langkah kaki Hyojin dan Rae Mi yang hendak meninggalkan gerombolan yang membencinya itu.

 

“Cuma mau mengingatkan, kepala jurusan mencarimu. Beliau ingin membahas soal insiden kalungku… maaf sudah membuatmu dalam masalah.” Ujar Jiyeon memelas, menunduk seolah merasa bersalah.

 

“Si Brengsek ini masih belum sadar rupanya.”

 

“Yak! Lee Hyojin!”

 

Hyojin tak mengacuhkan seruan Hae Ra, “Park Jiyeon, sebaiknya kau berhenti mengusikku atau kau harus menerima akibatnya. Dengar, aku tak mencuri apapun darimu jadi aku tak akan datang sesuai keinginanmu. Camkan itu!” ujar gadis itu, berbicara tepat di depan wajah Jiyeon sambil memasang tampang seriusnya.

 

*Hyojin POV*

 

Iya kan? Aku bilang begitu kan? Aku yang mengancamnya sekaligus berkata bahwa tak akan pergi menemui kepala jurusan kan?. Jadi…

 

KENAPA AKU MALAH DATANG KE RUANGANNYA?!

 

Gila! Jiyeon dan antek-anteknya pasti menganggap diriku gadis bodoh, plin-plan, juga beromong besar!. Aku tidak punya pilihan lain!, awalnya Rae Mi mengajakku ke kantin, kebetulan perutku lapar dan utuh asupan gizi gratis dari sahabatku ini, jadi aku mengikutinya. Tiba-tiba saja dia ganti haluan dan menarikku ke ruangan professor Han selaku kepala jurusan psikologi sekaligus orang yang bertanggung jawab atas siswa yang bermasalah.

 

Tunggu, memangnya aku termasuk dalam daftar bermasalah itu ya sampai diminta menemuinya juga?!. Wah, Park Jiyeon memang luar biasa… mengesalkan!.

 

“Kalian ini kan sudah menjadi mahasiswa, pencurian?, apa kasus sepele seperti ini harus diserahkan kepadaku?, kalian tak bisa menyelesaikannya sendiri?”

 

Hae Ra, tukang gossip yang sudah menyebar rumor buruk tentangku menjawab pertanyaan professor dengan menggebu, “Tapi kan prof, kali ini yang menjadi korbannya adalah Park Jiyeon!. Dan bukan main, Hyojin mencuri kalung emas dua puluh empat karat peninggalan mendiang ayah Jiyeon!” padahal dia tak ada sangkut pautnya soal masalah ini. Tahu soal insiden pencurian pun baru hari ini. Sialan!.

 

“Darimana kau tahu kalau ayahnya sudah tiada?, kemarin aku melihatnya berjalan dengan sehat kau katakan dia meninggal?!” selaku penuh emosi pun sedikit bercanda dengan mengatakan kebohongan. Tapi cukup lah untuk membungkam mulut bocor si Hae Ra itu, padahal aku tak tahu pasti keadaan ayah Jiyeon apalagi mengenalnya.

 

“Jadi, ayahnya Jiyeon itu sudah meninggal atau masih hidup?”

 

Pertanyaan professor Han membuatku ingin bertepuk tangan haru. Ternyata setiap manusia, setinggi apapun jabatan atau pendidikannya, masih punya kekurangan juga.

 

“Masalahnya bukan itu professor!, tapi bagaimana anda akan menghukum Hyojin yang sudah mencuri kalung!”

 

“Yak! kau sudah punya bukti kalau aku yang melakukannya?!” bentakku kesal, berapa kali harus kujelaskan pada orang-orang bodoh ini kalau aku tak mengambil barang apapun milik Jiyeon, termasuk kalung bedebah itu!.

 

“Benar, prof.” Rae Mi membelaku, “Tidak ada bukti kalau Hyojin yang melakukannya.”

 

“Dan tidak ada bukti pula kalau bukan Hyojin yang melakukannya.” Kali ini giliran sang ‘korban’ yang berbicara. Oke, oke, coba dengar apa yang mau dia bicarakan.

 

“Hyojin menjadi tertuduh karena beberapa mahasiswa melihatnya mendekati mejaku sesaat sebelum kalung itu menghilang, mereka juga sudah berada disini sebagai saksi. Saya tak punya bukti tapi mendatangkan Hyojin ke hadapan professor Han yang pandai menyelesaikan masalah seperti ini sudah cukup bagi saya.”

 

Professor Han mengusap rambutnya yang mengkilap, tersenyum bangga seraya sedikit mengangkat kerah bajunya.

 

“Yah, aku memang sangat ahli dalam hal ini.”

 

Mudah sekali orang ini dipengaruhi?!.

 

“Jadi Lee Hyojin, kau dianggap bersalah karena mencuri barang orang lain berdasarkan kesaksian korban dan yang lainnya-”

 

“Tapi prof!, saya tidak mencurinya!” potongku sebal!, “Anda kan ahli dalam hal ini, harusnya anda juga tahu kalau menuduh hanya berdasarkan saksi saja belum cukup!”

 

“Jadi kau berniat mengguruiku huh?, mengatakan bahwa aku tidak mengerti soal sepele seperti itu?!”

 

Sial, biar ku potong lehernya lalu kujadikan tontonan di jalanan di kehidupan selanjutnya nanti!.

 

“Kalau begitu, Hyojin harus mengganti dengan barang yang sama atau uang. Kasus selesai. Silahkan keluar dari ruangan karena ini jam istirahat. Dosen juga butuh waktu rehat kan?”

 

***

 

Aku menunduk lesu, bingung, stress, kacau balau INGIN KUTERBANGKAN OTAKKU KE AKHIRAT SAJA!. Darimana aku harus mengganti kalung itu?, bentuk, bahan, serta harganya saja aku tidak tahu. Uang siapa? Biaya kuliahku saja habis untuk membayar uang jaminan Jinhyo. Kerja paruh waktu? Tidak, tidak, aku belum menemukannya. Pinjam? Berhutang lagi? Berapa banyak aku harus menyusahkan teman-temanku dan rentenir gila yang baru saja aku bisa bernapas lega dari kejaran mereka.

 

Apa jual ginjal saja ya?, tanya lubuk hatiku yang paling dalam… dan tolol. Memangnya dengan dua ginjal aku bisa hidup tenang? Tidak kan?. Jadi bagaimana dengan menjual satu ginjal dan hidup hanya dengan sisanya bisa membuat aku kaya raya?!.

 

“Maaf ya Hyojin, aku tak bisa membantumu… harusnya aku lebih tegas membelamu tadi. Tapi aku terlalu bodoh sampai tak bisa mengatakan apapun lagi…”

 

Aku menepuk pundak gadis yang sudah menemaniku selama menjadi mahasiswi di universita Yonsei ini, “Tak masalah, ini juga bukan salahmu.” Kataku. Kemudian Rae Mi merintih kesakitan karena aku mencengkram pundaknya terlalu kuat. “Tapi tak seharunya kau membawaku ke ruangan professor gila pujian itu Rae Mi-ah!. Huwaaaa~” keluhku dengan tangisan yang dibuat-buat.

 

“Ma-ma-maaf… mana kutahu kalau professor Han justru membuatmu terlibat lebih jauh dan ternyata Park Jiyeon adalah putri ketua yayasan kampus kita! Huwaaaa~” ia meniruku.

 

Aku melepas tanganku dari pundaknya, duduk ditengah-tengah trotoar tanpa peduli betapa banyak orang-orang memperhatikanku dan berbisik ‘gadis gila’ pada temannya.

 

“Sekarang darimana aku bisa mengumpulkan uangnya?…”

 

“Mau kupinjamkan?” tawar Rae Mi mencoba menghiburku. Gila saja kalau dia benar-benar mau meminjamkan satu juta won kepadaku, yah, meskipun dia sekarang punya status yang lebih hebat dariku dulu, putri Lee Dae Ryeong brengsek yang sudah-

 

Tunggu dulu!.

 

“Rae Mi-ah!, tadi kau bilang apa?” tanyaku cepat, membuat Rae Mi hampir kehilangan keseimbangan karena terkejut akan diriku yang tiba-tiba berdiri seperti orang kesetanan.

 

“M-m-mau kupinjamkan uang?”

 

“Bukan! Bukan yang itu!. Sebelumnya lagi!”

 

“Tentang ‘Park Jiyeon putri ketua yayasan kampus kita’?”

 

Aku menjentikan jariku, “Benar! Yang itu!”

 

“Ada apa dengan ketua yayasan kampus kita?, kau juga punya masalah dengan ayahnya Jiyeon ya?” tanya Rae Mi dengan lugunya padahal dia bisa membuat Jiyeon mati kutu di ruangan professor Han apabila gadis ini mengatakan soal ketua yayasan kampus sejak tadi!.

 

“Yak! tadi kau dengar dari mulut Hae Ra soal ayahnya Jiyeon kan?”

 

“Ooh, iya. Dia bilang ayahnya meninggal, kasihan ya, masih muda sudah ditinggal kepala keluarga.”

 

Gadis ini sedang bercanda atau bagaimana sih?. Padahal kalau marah bisa keluar sifat menyeramkannya, apa harus kubuat Rae Mi emosi dulu baru keluar kecerdasannya?!.

 

“Yak Kang Rae Mi!, darimana kau tahu kalau ketua yayasan kampus itu ayahnya Jiyeon?”

 

“Tentu saja dari berkas yang diberikan ayah padaku. Ayah kan memintaku untuk mempelajari siapa saja teman dan musuh peru…” dia menghentikan ucapannya, sepertinya gadis ini mulai sadar. Ya ampun, apa butuh lima menit untuk membuat Rae Mi mengerti?.

 

“…sahaan. Hyojin-ah!, bukannya Jiyeon mengatakan kalung itu pemberian mendiang ayahnya?. Ta-tapi kan di berkas yang aku baca, ketua yayasan kampus, Park Ji Seok ma-masih hidup?. Jangan-jangan…”

 

Aku mengepalkan tangan, selain bentuk kekesalan atas dituduhnya diriku sebagai pencuri dan dimintai ganti rugi, pun karena kebohongan yang Jiyeon katakan pada orang-orang. Jadi, seperti ini rasanya ditipu ya? Sebenarnya berapa banyak lagi omong kosong yang disebarkan oleh gadis itu?!.

 

“Jangan-jangan ketua yayasan itu… semacam zombie atau vampire ya?”

 

Perkataan konyol dan wajah ketakutan Rae Mi membuatku ingin memukul kepalanya walau akhirnya muka polos gadis itu mengurungkan niatku.

 

“Yak! Keluar dari kantor polisi itu kau dicuci otak oleh ayahmu ya?!. Siapa sih yang menularkan kebodohannya padamu?”

 

Rae Mi memukul kepalaku. Iya. MEMUKUL KEPALAKU. Gadis ini punya masalah apa huh?!.

 

“Kau.”

 

“Apa?! Apanya yang aku?!”

 

“Aku cuma menirukanmu, kau yang menularkannya padaku.”

 

“Huh?… YAK!-”

 

“HYOJIN!”

 

*Author POV*

 

Chanyeol mempercepat langkahnya begitu Hyojin kabur setelah dia meneriakan nama gadis itu.

 

“Aaah gadis itu benar-benar…”

 

“Hai Chanyeol!” sapa Rae Mi yang turut bingung kenapa Hyojin nampak menghindari Chanyeol.

 

“Eoh, hai Rae Mi!” balas Chanyeol tanpa menoleh, bahkan melewati Rae Mi begitu saja setelah berkata, “Eoh, bye Rae Mi.” dan kembali mengejar Hyojin yang menghilang dibalik koridor.

 

Rae Mi berdecak beberapa kali sambil menggelengkan kepala, heran atas sikap kekanakan dari pasangan kekasih yang sedari dulu tak pernah terlihat akur. Gadis itu teringat masa lalu, ketika dua orang itu bertengkar di pinggir jalan, berebut mengantarnya sampai ke restoran bibi Moon.

 

“Oh iya, sudah lama aku tak pergi ke mengunjungi bibi.” Ucapnya pada diri sendiri, menatap arah kepergian Chanyeol-Hyojin sekali lagi, tersenyum singkat lantas meninggalkan tempat dimana ia sempat mengobrol bersama Hyojin lagi setelah kejadian di kantor polisi, mencoba menghilangkan prasangka buruknya pada sang sahabat setelah apa saja yang ayahnya katakan tentang gadis itu.

 

***

 

“Jawab saja susah sekali sih?. Kemarin kau dengar atau tidak?!”

 

“Dengar apa?!. Aku tidak tahu apa maksudmu!”

 

“Kemarin, saat di gudang panti jompo, obrolanku dengan Yoora noona!”

 

“Arrgghh! Tidak tahu! Tidak tahu!”

 

Chanyeol berhasil menarik ujung jaket Hyojin, mencegahnya menghindari bertatap muka dengannya atau lebih parahnya kabur lagi dan pria itu harus bersusah payah untuk mengejar Hyojin yang gesit seperti pencopet handal.

 

“Kau… benar-benar tidak mendengarnya kan?”

 

Hyojin terdiam, berhenti meronta pada pegangan tangan Chanyeol pada kedua bahunya. Matanya menatap tajam pria itu, yang memasang ekspresi seolah menyelidiki kebenaran dari apa yang akan ia katakan nanti. Membuat perasaan Hyojin campur aduk.

 

“Ternyata memang tidak bisa ya…”

 

Jawaban Hyojin tak membuat Chanyeol puas, malah semakin penasaran juga bingung.

 

“Apanya yang tidak bisa?”

 

“Rencana Yong Hwa sunbae memang tak sepenuhnya bisa berhasil untukku.”

 

“Rencana? Rencana apa maksudmu?. Kau masih berhubungan dengan pria aneh itu ya?!”

 

Hyojin menepis tangan Chanyeol dengan kasar, “Sama seperti rencanamu bersama Yoora eonni.”

 

“A-apa? Tak ada rencana antara aku dan Yoora noona!”

 

Hyojin yang muak menendang kaki kanan Chanyeol dengan kuat, sampai pria itu hampir tak bisa berdiri hanya dengan satu kaki yang baik-baik saja. Pria itu merintih kesakitan, mengangkat kakinya yang sakit seraya melompat sesekali untuk menjaga keseimbangan. Agar masih tetap bisa mengejar serta meneriaki Hyojin yang pergi begitu saja.

 

“Hyojin-ah!”

 

Hyojin berbalik dalam sekali panggilan.

 

“Kita putus saja.”

 

“Hah?!”

 

Keterkejutannya membuat Chanyeol menurunkan kakinya, melupakan sejenak rasa sakit akibat tendangan Hyojin.

 

“Akhiri saja sampai disini, aku tidak pernah merasa senang sejak berpacaran denganmu. Toh, kita sama-sama tidak tulus dalam menjalin hubungan.”

 

Emosi Chanyeol naik, sudah cukup dengan segala sikap kasar Hyojin hari ini. Dia yang harusnya menjadi marah pada kekasih satu minggunya itu.

 

“Kenapa tiba-tiba mau putus?. Tidak senang? Tidak tulus?, alasan, kau pasti hendak mengencani si Yong Hwa itu atau parahnya, Bang Yongguk kan?” ia mengutarakan prasangka buruknya, “Padahal aku sudah berusaha menyukaimu, berusaha memahami perasaanmu sejak kau mengutarakan cinta dulu, lalu memintaku menjadi kekasihmu. Aku sebisa mungkin membuatmu bahagia setelah tahu masa lalumu yang menyedihkan, tapi kau malah mau putus dengan mudahnya?”

 

“Iya, aku menyedihkan, aku gadis yang terpisah bertahun-tahun dari orangtuanya, dipaksa bertunangan dengan pria sepertimu lalu jatuh cinta seperti drama. Karena itu kau kasihan padaku, merasa bersalah, dan menerima tawaranku kan?”

 

Salah paham. Keduanya tahu kalau mereka terjebak dalam pernyataan masing-masing, sudah tahu kebenarannya tapi masih tetap mengelak karena harga diri, karena sesuatu yang membuat mereka curiga satu sama lain. Sayangnya, tak ada yang mau mengalah dan mempertahankan ego mereka.

 

“Kau benar-benar keras kepala ya?, masih belum mengerti akan perkataanku rupanya.” Keluh Chanyeol, “Baiklah, akhiri saja sampai disini, supaya kau bisa kembali pada cinta pertamamu itu atau membalas cinta sepihak Bang Yongguk!”

 

“Tentunya!, kita putus saja supaya kau bisa bersama dengan mantan kekasihmu yang cantik, manis, dan polos itu!. Pasti Rae Mi akan senang sekali kalau tuan Park ini mau mengencaninya lagi!. Tapi sayangnya, ayah mertuamu tidak setuju, haha!”

 

“Wah! Lihat saja nanti!. Akan kupastikan kalau tuan Lee mau menerima pria tampan, pintar dan punya spesifikasi hebat ini. Seharusnya Rae Mi datang pada presdir Lee lebih cepat supaya aku dijodohkan dengan dia bukannya gadis abal-abal sepertimu!”

 

“Setidaknya gadis abal-abal ini ada yang menyukai! Wlek!” ledek Hyojin sambil menjulurkan lidahnya.

 

Chanyeol mendengus sebal, “Bang Yongguk cuma sedang kehilangan akalnya makanya bisa menyukai gadis gila sepertimu!” balasnya.

 

“Apa gila?!. Yongguk itu lebih pintar darimu!, lebih kuat darimu pula makannya pandai memilih orang yang disukai!”

 

“Hei kau!-”

 

Chanyeol tak bisa meneruskan ucapannya, bukan karena sadar kalau mereka sedang berdebat di koridor dekat toilet pria, tapi keberadaan tiga orang yang disebut trouble maker kampus di belakang Hyojin membuatnya terpaku. Sementara Hyojin yang mengetahui perubahan ekspresi pria tinggi tersebut menelan ludah susah payah, takut kalau apa yang dia pikirkan benar adanya, bahwa orang yang disebut-sebut sejak tadi dalam pertengkaran mereka berada tak jauh dari Hyojin.

 

“Ah ya ampun!”

 

Jantung Hyojin hampir melompat dari tempatnya dan kaki Chanyeol ingin kehilangan kesadarannya saat itu juga. Yongguk menatap mereka, bersama Jun Hong dan Himchan yang mendelik kaget dengan tubuh kaku seperti patung. Ponsel yang ada ditangan pria bermarga Bang itu jatuh setelah tangannya terasa lemas akibat mendengar perdebatan Chanyeol-Hyojin yang melibatkannya.

 

“Jadi, kalian… ah… tidak. Maksudnya, Hyojin sudah tahu kalau… kalau…”

 

Hyojin memalingkan muka sambil bersiul, namun Chanyeol segera memegang kepalanya dan membuat gadis itu menatap langsung kepada Yongguk. Pria itu berbisik, “Jangan menghindar dan berpura-pura lagi, jangan membuat Yongguk semakin sakit hati.” Dan membuat Hyojin menurut walau terpaksa.

 

“Ta-tapi… kenapa kau… bersikap seolah… tidak tahu?”

 

Hyojin melirik kesana-kemari, memikirkan jawaban yang tepat, tapi otaknya terasa kosong sampai tak bisa menjelaskan sejelas-jelasnya pada Yongguk yang terlihat menyedihkan. Bukan maksud Hyojin membuat Yongguk sakit hati atau apapun itu, dia hanya tak mau merusak pertemanan mereka dengan bersikap tahu soal perasaan pria itu padanya.

 

“A-aku…” mulut Hyojin terasa kaku. Jun Hong dan Himchan mengusir siapapun yang hendak lewat di koridor, Chanyeol menutup mata seraya menunduk, masih tetap memegang wajah Hyojin menggunakan kedua tangannya, menimbulkan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sementara Yongguk menunggu jawaban Hyojin seraya mempertajam pendengarannya.

 

“Ma-mau minum kopi?”

 

Hening, bahkan mereka yang berada disana tak mampu menggerakan ujung jarinya.

 

“K-k-kenapa? Aku yang traktir kok!” ujar Hyojin lagi.

 

Yongguk menghela nafas panjang, menendang ponselnya kesembarang arah sampai rusak karena menabrak dinding. Melenggang pergi tanpa mempedulikan omong kosong Hyojin yang dianggap tak tegas, membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Chanyeol berdecak sambil melepas tangannya dari wajah Hyojin, menatap gadis itu kesal dari belakang, bahkan tak membiarkan Hyojin menoleh untuk melihat ekspresi sebal Chanyeol.

 

“Oke call!” seru Himchan, “Aku mau pesan moccachino dan seporsi cake dari café depan kampus.”

 

“Aku juga! Aku juga!” timpal Jun Hong selayaknya anak kecil mengikuti kakaknya.

 

“Yak! aku tak punya uang sebanyak itu!”

 

Chanyeol bedecak lagi dan menyusul Jun Hong serta Himchan yang sudah menuju café depan kampus, “Anggaplah hukuman dari Tuhan atas sikap burukmu!” ujarnya. Lalu berbalik lagi untuk menambahi, “Oh iya, kita tetap putus dan aku mau satu gelas parfait!”

 

“U-u-ugh… pria-pria brengsek itu…”

 

 

 

~To Be Continue~

 

Maaf kalau di chapter ini banyak salah kata atau typo bertebaran. Dikarenakan author sibuk jadi ga sempet ngecek (alasan lama) huhuhu… Semoga ffnya menghibur yeth~ dan buat pecinta Chanjin, jangan khawatir karena mereka putus. Karena setelah ini author akan merombak kisah cinta mereka biar lebih romantis dari sebelumnya! Doakan mereka langgeng yeth kekekek

 

Oke RCL Juseyoooo~~

Iklan

6 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You (Re : Turn On) Chapter 12

  1. Ih kesel ah sama si chan 😡😠.
    Udah hyo putus aja sama si chan. Biar channya nyesel.
    Si hyo dah hidup susah gitu kagak paham aje kenape anaknya gesrek, pakek acara bilang “Padahal aku sudah berusaha menyukaimu, berusaha memahami perasaanmu sejak kau mengutarakan cinta dulu, lalu memintaku menjadi kekasihmu.”
    😧. iya ch si hyo kesannya kek ngemis gitu. Tapikn kagak gitu2 juga. Kan nyesek bgt

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s