[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif – I Am Falling in Love With You (Chapter 1)

16681947_190348188109949_105136172202396658_n

Judul ff : Obsesif Kompulsif – I Am Falling in Love With You

Nama author : Chanrini

Genre : Roman, Life, psychology

Length : Chaptered / Series Fic

Rating : General

Main cast :Park Chanyeol, Han Angela

Summary :

“Chanyeol berhasil keluar dari masa lalu dengan meyunggikan senyum ceria penuh kepalsuan. Tapi semuakenangan itu kembali menghantam Chanyeol, menjelma dalam wujud wanita berwajah malaikat.”

Disclaimer :

karya ini asli dari imajinasi author, sebagai dedikasi kepada Chanyeol yang terlalu menawan.

Kesamaan latar dan tokoh mungkin saja terjadi, karna imajinasi manusia bisa saja sama, tapi semua alur cerita asli dari saya pribadi heheheh

Saya juga update ff ini di wattpad kalian bisa mampir ke lapak saya ya 😂 http://my.w.tt/UiNb/2JxCukpYqC

Author’s Note :

Saya sangat menghargai saran dan kritik yang membangun dari kalian. Bila ada kesalahan dan kekeliruan bisa beri tahu saya 😄.

 

Untitled2

Obsesif Kompulsif – I Am Falling in Love With You

Chapter 1 – Kyunghee University

 

“Kau tidak mengantuk? Mau ku ambil kan kopi dan camilan lagi?” Bibi Putri mengintip sedikit melalui celah pintu, mengerutkan dahi melihat ponakan tercintanya masih serius mengerjakan beberapa soal memusingkan yang dia sendiri tidak tahu apa jawabnnya.

Sebentar lagi subuh akan tiba dan hawa dingin pagi mulai merayap memasuki ruang kamar tidur ponakannya yang keras kepala, seluruh penghuni rumah bahkan masih terlelap dalam mimpi masing-masing. Sedangkan keponakan-nya yang cantik ini masih berkutat dengan soal-soal yang hanya sekilas terlihat saja membuat kepala Bibi Putri pening.

Angela hanya tersenyum dan bergumam kecil sebagai jawaban atas pertanyaan bibinya. Setelah mengerti tanggapan Angela,bibinya menutup pintu kamarnya dan menghilang dari balik pintu kamar Angela.

Mungkin mengambil kopi dan camilan yang ditawarkannya tadi.

Menghela nafas keras, Angela kembali menekuni soal-soal yang baru ia kerjakan setengah dari buku paket kumpulan soal yang tebalnya bisa ia gunakan untuk mengganjal pintu kamar, bahkan begadang sepanjang malampun tetap saja tidak bisa menyelesaikan seluruh soal yang sudah ia targetkan selesai dikerjakan minggu ini.

Padahal dia sudah menjadwalkan dengan rapi apa saja yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum Ujian Nasional 1 bulan lagi lalu seminggu kemudian ia harus mengikuti Tes Wawancara di Kedutaan Besar Korea Selatan sebagai tahap kedua pengajuan beasiswanya.

Matanya mulai kering dan sakit karena terlalu lama dipaksakan terbuka. Otaknya mulai lelah terlalu lama digunakan berfikir memecahkan soal-soal agoritma, Angela memang terlalu memaksakan diri tetap terjaga padahal tubuhnya sudah protes keras untuk beristirahat.

Tapi mau bagaimana lagi, bahkan lelah tubuhnya pun tidak dapat mengalahkan keras kepala gadis itu untuk tetap belajar. Dia sudah membuat target jauh-jauh hari untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional yang sempurna walaupun beasiswa yang dia ajukan sudah berhasil selangkah.

Mengerjakan semuanya dengan sungguh-sungguh tidak ada salahnya kan.

“Terlalu memaksakan diri tidak baik untuk kesehatan sayang, aku sudah lelah menasihatimu beristirahat untuk malam ini saja. Bila sekarang masih tepat dikatakan malam Angela, ini sudah pukul 3 pagi bila kau ingin tahu” Menggerutu sebal Bibi Putri meletakkan Kopi Cappucino yang masih mengepul hangat dan beberapa potong cookies coklat pada piring ceper kecil di atas nampan yang ia letakkan dipinggir meja belajar Angela. Terlalu asik dengan pikirannya sendiri hingga Angela tidak menyadari bahwa Bibi nya telah masuk kekamar sambil membawa minuman dan makanan ringan yang ditawarkannya tadi.

“Aku tetap sehat karena vitamin yang kau berikan Bibi dan tenang saja aku akan tidur setelah satu soal ini” Tersenyum hangat, Angela menghirup senang Kopi Cappucino buatan Bibinya dan menyeruput perlahan minuman hangat yang membangkitkan kesegarannya lagi. Kafein memang paling ampuh membakar semangatnya lagi. Ya walaupun terlalu sering meminumnya tidak baik juga untuk kesehatan. Tapikan Angela hanya mengkonsumsinya disaat tertentu saja.

“Tidurlah cepat, aku tidak akan membelamu kalau ibumu sampai tahu kau begadang lagi. Kau tahu kan ibumu itu cerewetnya tidak bisa dihentikan bahkan oleh ayahmu sendiri” Tersenyum jahil Bibi Putri melangkah keluar kamar dan meninggalkannya sendiri lagi.Angela hanya bisa tersenyum masam mengingat perkataan Bibinya.

Ibunya memang tidak pernah berdamai dengan masalah Angela yang sering begadang mengerjakan soal-soal latihan ataupun hanya belajar biasa. Ibunya itu selalu berkilah bahwa apa yang Angela lakukan ini adalah suatu bentuk sikap keras kepalanya yang bebal dan tidak baik diteruskan. Tapi bukan Angela namanya kalau tidak keras kepala. Dengan entengnya dia malah mengabaikan omelan ibunya dan tetap mejalani aktifitas malamnya tanpa merasa bersalah.

Ah sudahlah, lebih baik dia mengikuti saran bibi Putri untuk beristirahat. Badannya sudah mulai kepayahan, bahkan hanya untuk sekedar berpikir. Lagi pula jam 5 pagi dia harus bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Setidaknya Angela bisa memejamkan matanya sebentar selama 2 jam kurang. Itu waktu yang lumayan lama untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya.

Menata kembali meja belajar dan menyingkirkan mug dan piring ceper kecil beserta nampan yang bibinya berikan tadi di meja nakas dekat pintu kamarnya. Dengan sisa tenaga yang menipis, Angela menyeret langkahnya menuju kamar  mandi di sudut kamar. Menggosok gigi dan mencuci wajahnya agar tidurnya yang hanya sebentar setidaknya bisa tenang.

Merebahkan badan lelahnya, Angela berbaring nyaman pada kasur single bad yang lumayan empuk untuk beristirahat.

Menatap lurus ke depan, fokusnya kini teralih pada tempelan poster boy grub bermata sipit asal negeri gingseng yang berjajar vertikal memenuhi sepertiga bagian dinding kamar tidur Angela yang bercat merah muda. Pada kenyatannya Angela membenci warna mencolok yang disukai banyak kaum wanita. Ibunya menjadi tersangka nomor satu dalam hal ini.

Memandangi lamat-lamat wajah putih mulus dan senyum merekah mereka walaupun mungkin beban pekerjaan yang harus dijalani lebih padat dari seorang pelajar akhir tahun seperti dirinya. Bahkan mencapai setengah jadwal mereka saja sepertinya mustahil.

Harusnya Angela lebih giat belajar kalau mau sukses seperti mereka. Tidur bukanlah sahabat yang baik bila ingin sukses. Kerja keras harus menjadi kawan bagi orang yang mau berhasil. Tapi Angela butuh tidur sekarang. Kalau tidak, mungkin Angela bisa tertidur di kelas dan tidak maksimal mengikuti pendalaman materi untuk bekal Ujian Nasional nanti.

Dasar pembual.

Bahkan hanya perjuangan untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional maksimal saja dia sudah menyerah. Bagaimana dia mau sukses kalau begini. Sepertinya janji untuk bekerja keras seperti idola korea itu hanyalah janji palsu Angela saja. Buktinya usaha untuk mencapai saja dia baru setengah-setengah.

Sudahlah, lebih baik Angela mengistirahatkan saja tubuhnya. Dia butuh tenaga ekstra untuk menghadapi beberapa soal Matematika dan Fisika di kelas nanti.

Mungkin saat istirahat Angela bisa mengerjakan beberapa soal latihan. Satu atau dua soal rasanya lumayan untuk dikerjakan dari pada dia hanya menghabiskan waktu dengan tidak berharga. Yang menjadi kendala mungkin tubuhnya masih sedikit lemas akibat begadang semalaman atau karena kafein yang terlalu banyak Angela konsumsi. Tiga gelas dalam semalam rasanya terlalu berlebihan.

Seharusnya Angela sudah tertidur lelap kan.Tetapi kenapa dia merasa bahwa tubuhnya sudah terlelap tetapi seluruh fikirannya masih setengah sadar untuk memikirkan segala macam kemungkinan yang akan terjadi di kelas nanti. Bahkan indra pendengarannya masih bisa mendengarkan suara aktifitas manusia yang mungkin sudah mulai terjaga untuk memulai hari mereka yang monoton.

Tapi terkadang alam bawahsadarnya menjelaskan mungkin hal yang didengarnya hanyalah bunga tidur belaka.

Tetapi bila yang Angela dengar hanyalah bunga tidur, kenapa sayup-sayup Angela mendengar beberapa kegiatan yang bersahutan di indra pendengarannya. Apakah itu benar hanya bunga tidurnya saja.

Bahkan sayup-sayup Angelamendengar percakapan Bibi Putri dan Ibunya di lorong depan kamarnya. Dan suara khas bangun tidur Oppanya yang marah karena dipaksa untuk terjaga.

Entah berapa lama saat Angela mulai tertarik kedalam alam ketidak sadaran, ia merasakan guncangan pelan pada lengan kanannya, bersahutan dengan suara berat Oppanya yang terdengar kesal untuk membangunkan Angela. Kupingnya bahkan mulai berdengung karena sekarang suara bass orang yang berusaha membangunkannya berlomba dengan lagu Lightsiber yang menjadi alarm Iphone Angela untuk merenggut kesadaran tubuhnya.

Dan dengan seruluh kombinasi memusingkan itu, Kedua mata Angela terbuka dengan paksa.

~~

Dongeng Bibi Putri perlahan mulai hilang dari pendegaran setelah kepala meja makan berpenghuni.

Suasana meriah yang tadinya diramaikan oleh cerita Bibi Putri tentang masa mudanya dulu di Korea dan omelan ibunya kepada Angela tentang perilaku malamnya, seketika lenyap dimakan rasa canggung yang menguar.

Bahkan indra pendengaran Angela hanya bisa mendengar suara detak jarum jam di atas lemari pajangan piring koleksi ibunya, yang asalnya bahkan lebih jauh dari tanah kelahiran Angela.

Semua penghuni meja makan seperti tersetting untuk tenang saat ketua keluarga mendudukkan bokongnya di kursi makan favorit di ujung meja bentuk oval di ruang makan keluarga.

Bahkan ibunya yang sedang marah-marah saja sampai berhenti dan mulai memasang senyum manis andalan, saat bertatapan dengan pemilik kursi utama di meja makan.

Sepertinya ucapan Bibi Putri tentang ibunya yang tidak bisa dihentikan oleh ayah itu hanya candaan saja. Lihat, hanya dengan pembawaan dan wibawa yang terpancar saja mampu membuat empat manusia di ruangan ini dibuat canggung tanpa upaya menunjukkan sekalipun.

“ Apa Kau sudah memikirkan perkataan Ayah kemarin Angela?”dan bahkan Dia pria yang tidak suka berbasa basi. Hanya untuk menyapa penghuni meja makan saja sepertinya bukan hal yang menyenangkan bagi ayahnya.

“Bulan depan aku akan mengikuti tes wawancara ayah.” Angela berusaha menjaga pandangannya agar tidak bertemu dengan mata sipit laki-laki bermaga Han di samping kirinya.

Kalau dia sampai menatap mata ayahnya, mungkin keberanian Angela untuk membantah perkataan Tuan Han sudah habis terhisap tatapan tajam mata sipit elang itu.

Jadi untuk mencari aman, Angela melirik Oppanya yang masih cemberut karena beberapa hal yang dia sendiri tidak mengerti.

“Beasiswa dari pemerintahan Korea?” Ayahnya mengerutkan kening saat mata coklat madu tajamnya bertatapan dengan mata serupa yang dimiliki Angela. Sekilas Angela dapat menangkap ketidaksetujuan dari tatapan itu.

“KGSP, hanya satu siswa yang berhak mendapatkannya tahun ini” mencoba terlihat yakin, Angela tersenyum tipis sambil menataplaki-laki setengah baya di kepala meja makan.

Sedangkan lelaki itu hanya mengganggukan kepalanya tipis dan mulai mengalihkan pandangan pada sarapan pagi yang sudah tersedia rapi dihadapannya.

Sepiring nasi goreng kimchi dengan omlet setengah matang dan ocha hangat sebagai pendamping.

Jenis sarapan yang sama yang sekarang sedang Angela habiskan. Masakan kebanggaan ibunya yang tidak akan pernah tergantikan.Terkadang Angela bersyukur kepada ibunya, walaupun cerewet setidaknya ia pandai memasak.

“Bagaimana bisa kau juga melanjutkan kuliah di luar negeri? sedangkan Oppa mu ini baru saja tiba!” Mendengus sebal, Angela dapat menebak bahwa lelaki tampan yang terpaut lima tahun lebih tua di sampingnya ini sedang merajuk.

“Kau kan juga tidak kuliah disini, kenapa Aku tidak boleh? Lagi pula kau sudah seminggu liburan disini. Kembali saja sana.” Dari ekor matanya, Angela dapat menangkap wajah kesal Han SeokGi, bahkan mata sipitnya sudah membesar beberapa inchi.

“ Kau in…”

“SeokGi! cobalah untuk menahan emosi saat di meja makan” Omelan kakaknya berhasil dipotong suara berat yang pasti berhasil membuat nyali Oppa SeokGi itu menciut. Beruntung sekarang Angela dapat terhindar dari amukan kakaknya  yang over protectifberkat Ayahnya yang kadang membantu.

Angela kembali menghabiskan sarapannya setelah lelaki tampan tetapi sangat mengesalkan disampingnya bungkam usai ayahnya bersuara.

Tidak berani untuk mencoba peruntungan mengomeli adiknya lagi di meja makan, pengalaman mungkin membuatnya jera melakukan itu. Memancing kemarahan ayahnya bukanlah suatu hal yang diharapkan dalam dunia Angela maupun kakanya.

Lebih baik Angela mendengarkan celotehan Bibi Putri sampai kupingnya panas ataupun di marahi ibunya sampai kepalanya pening dibandingkan harus berhadapan dengan kemarahan ayahnya itu. Membayangkannya saja membuat badannya bergidik ngeri.

“ Seokgi, kalau sudah selesai makan, antar adikmu ke sekolah” Setelah mengatakan itu, ayahnya meninggalkan ruang makan menuju garasi mobil dan meninggalkan Angela dengan rasa kesal yang mulai membesar pagi ini.

Tidak bisakah ayahnya mengerti bahwa menempatkan Angela dan kakaknya pada satu tempat hanya akan membuat mereka membuat masalah. Dari dulu kan dia memang tidak bisa sehari saja berdamai dengan kakaknya.

“ Cepat Angela…” Sambil merampas tas gendong yang berada tepat di samping kaki Angela, Seokgi dengan ajaib menyeret langkah kaki besarnya menuju garasi mobil mengekori jejak ayahnya tadi.

Angela hanya bisa mendengus lalu berjalan dengan menghentakkan kaki dengan keras, mengikuti langkah besar Han Seokgi yang sialnya lebih panjang dari pada tinggi tubuhnya.

Angela tidak bisa terima disini, kenapa dari banyak kelebihan yang orang tuanya miliki. Harus Han Seokgi yang menerima banyak hal positif daro orang tua mereka.

Angela mungkin mendapatkan bagian yang kurangnya saja. Seperti tinggi badan. Bahkan otak Seokgi yang cerewet itu lebih encer dari pada milik Angela.

Seokgi bisa masuk SMP dan SMA paling favorit di negaranya tanpa harus bersusah payah belajar siang malam.

Bahkan sekarang, kakaknya bisa masuk Harvard dengan menari jaipongan sambil memamerkan senyumnya yang menjijikan.

Sedangkan Angela harus banting tulang dan memutar otak sampai 360° hanya untuk masuk Universitas ke-sekian di Korea.

Kadang pertautan darah ini tidak adil.

Kalau boleh di sebutkan lagi kelebihan kakaknya yang menyebalkan itu adalah dia lelaki sialan yang tampan.

Saat masa SMA – nya, teman-teman Han Seokgi yang tak waras itu sampai membentuk fanbase khusus untuk mengumpulkan para wanita haus kasih sayang untuk memuja kakaknya.

Mereka selalu memuji otak encer, wajah blasteran korea dan kemampuan basket Seokgi setiap hari. Mungkin kalau kakaknya itu mau ikut audisi pencarian bakat agensi korea, Angela sangat yakin kalau dengan mudah Seokgi bisa masuk. Mungkin hanya dengan memamerkan senyum menjijkan dan wajah tampannya.

Bandingkan dengan adiknya yang manis ini. Bahkan dilirik lelakipun sepertinya mustahil.

“ Angela cepat masuk mobil!” lihat, belum apa-apa saja Angela sudah di teriaki, bahkan sekarang dengan teganya Tas Angela di telanlarkan di depan pintu mobil oleh Seokgi.

Mendengus sebal sambil memungut tasnya yanga menyedihkan teronggok di samping mobil Pajero Sport hitam milik kakaknya. Angela membuka kursi penumpang bagian depan dengan kasar dan menutupnya dengan kasar pula, mungkin kalau Angela ini seorang binaragawan pintu mobil kakaknya itu sudah putus dibanting sekasar itu.

Sedangkan kakaknya berjengit marah melihat perlakuan kasar adiknya terhadap mobil kesanyangannya ini. Tapi lebih memilih diam saat mata sipitnya bersitatap dengan mata yang sama milik adiknya. Menyadari bahwa mungkin menimpali perlakuan adiknya itu dengan marah-marah akan lebih menghambat perjalanan mereka menuju sekolah Angela tercinta.

Memang susah memiliki adik yang tempramental.

Mencoba meredamkan amarah, Seokgi menyalakan stater dan mulai menjalankan mobil hitamnya menuju pekarangan rumah dan melaju pelan di jalan kompleks rumah mereka yang terlihat lengang walaupun matahari sudah mulai cerah bersinar.

Berbaur dengan banyaknya kendaraan di jalan raya ibu kota yang mulai ramai di sesaki penduduk kota yang berlomba sampai tempat mereka beraktifitas.

15 menit berlalu sejak mereka menyusuri jalan raya menuju Sekolah Menengah Akhir tempat Angela menuntun ilmu. Tapi baik Seokgi dan Angela sendiri tidak ada yang mengelurkan suara satu kata patah pun.

Seokgi berpura-pura lebih fokus pada setir kemudianya sedangkan adiknya tidak menutup-nutupi bahwa dirinya sedang merajuk dengan kakaknya. Angela membuang pandangannya pada pemandangan gedung-gedung tinggi di kaca samping kirinya ketimbang memperhatikan kakaknya yang sedang fokus menyetir.

Bahkan setelah setengah perjalanan menuju sekolah Angela, keduanya tetap diam membisu. Walaupun sekali-kali kakaknya melirik sebal Angela yang selama perjalanan mengacuhkan keberadaan kakaknya yang pagi ini berbaik hati jadi supir pribadi Angela.

Padahalkan yang tadi pagi merajuk itu Seokgi, tapi kenapa sekarang Seokgi yang merasa bersalah.

Salah Angela juga yang mengabaikan kakaknya yang rela membuang waktu libur yang berharga ini,menghabiskan waktu dengan keluarga. Rencana awal Seokgi liburan ke Indonesia kan untuk melepas rindu dengan orang tua dan adiknya.

Tapi Angela, adik semata wayangnya ini malah mengatainya kurang kerjaan dengan pulang kerumah dan bahkan Angela mengatainya jomblo abadi karena selalu mengganggu waktu belajar Angela seminggu ini.

Seokgi kan hanya meminta Angela untuk menemani ke mall saja, padahal alasan dari permintaannya dia mau menghabiskan liburannya ini dengan jalan-jalan bersama Adiknya. Itu lah sebab Geokgi marah-marah 2 hari terakhir ini karena adiknya yang cantik ini terlalu tidak peka dengan perlakuan kakaknya.

Bukannya senang kakaknya datang jauh-jauh ke kampung halaman, Angela malah sering marah-marah dan mengatai Kakaknya.

Saudara mana yang tidak sebal diperlakukan seperti itu.

“Angela.” Pada akhirnya Seokgi selalu menjadi orang pertama yang mengakhiri perang dingin kakak beradik ini.

“Tidak mau tahu pulang sekolah harus temenin kakak ke Mall” tapi tetap saja sikap perintah dan tidak mau mengalah yang di munculkan.

Angela hanya mengagukan kepala dan mendengus sebal menanggapi perkataan kakaknya. Kepalanya sudah pusing harus menghadapi sikap memerintah kakaknya yang menyebalkan. Lagi pula kalau Angela tolak permintaan kakaknya, kakaknya itu pasti tidak menerima penolakan Angela dan dengan seenak hati tetap menyeret Angela ketempat yang kakaknya mau.

Kenapa sih kakaknya harus liburan ke rumah saat sebentar lagi harus menghadapi ujian sekolah.

“Angela turun sana, kau niat sekolah atau tidak sih! ini sudah sampai gerbang tau” Seokgi menaikkan alisnya sambil menatap sebal adiknya yang malah melamun.

Sedangkan Angela hanya mengerjabkan mata cepat sambil melirik Seokgi yang berada di kursi kemudi. Sambil mengumpulkan kembali kesadarannya, Angela melepaskan seat belt, berbasa basi dengan mengucapkan selamat pagi yang dingin kepada Seokgi lalu turun dari mobil kesayangan Seokgi dengan cepat tanpa menunggu balasan dari kakaknya.

Kali ini Angela mencoba untuk tidak membanting pintu mobil Seokgi. Kalau sampai dia melakukan itu, sudah pasti Angela akan mendapatkan teriakan melengking kakaknya di depan gerbang sekolah yang saat ini sedang ramai dengan siswa yang berlalu lalang masuk ke halaman sekolah. Mau di taruh dimana harga diri Angela.

Melangkah santai, Angela tersenyum kecil saat melewati satpam sekolah yang sedang berdiri di samping gerbang sambil memperhatikan setiap siswa yang melangkah memasuki halaman sekolah. Angela masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di kelasnya yang berada di lantai empat.

Melewati lorong panjang sebelah lapangan upacara lalu menaiki tangga yang berada persis di samping lapangan basket sekolah yang masih lengang di pagi hari. Pagi yang melelahkan untuk hari ini setelah Angela belajar mati-matian dan masih harus menaiki tangga sampai ke lantai empat dengan tubuh lelah tak bersemangat.

Bahkan baru sampai lantai ke-dua saja nafasnya sudah mulai habis. Langkahnya sudah mulai berat hanya untuk membawa badan lelahnya menuju kelas yang persis berada di ujung lorong lantai 4, sepertinya Angela harus mengikuti kegiatan ibunya setiap malam minggu supaya badannya yang kurus kering ini setidaknya menjadi bugar. Atau memaksimalkan waktu malam untuk beristirahat, nah tapi yang satu ini sepertinya yang sulit dihilangkan.

“Ellaaaaa… ayo semangat! Semangat!” Angela memutar bola mata malas, saat tahu persis pemilik suara yang sedang berteriak ceria persis di belakang telinganya.

Si pemilik suara dengan tidak berdosanya sekarang berlari kecil melompati beberapa anak tangga di hadapannya lalu menghilang saat membelokkan badannya menuju kelas. Sedangkan Angela ditinggal di belakang dengan wajah masam bersahutan dengan nafasnya yang mulai memburu kelelahan.

Pagi ini seolah tuhan dengan baik hati memperlihatkan dua anak manuia yang berbeda sifat menjalani rutinitasnya dengan perbedaan semangat yang terlihat jelas. Setidaknya Angela masih bersyukur punya teman seperti itu.

Dengan langkah yang diseret akhirnya Angela selamat sampai kelasnya yang sudah ramai dengan berbagai spesies manusia yang Angela bingung sendiri mendeskripsikannya. Dari ke-40 orang kepala disini mungkin yang dikatakan normal oleh gurunya hanya Angela saja. Selebihnya adalah jelmaan alien yang tidak diketahui jenis dan asalnya.

Contoh paling nyata adalah wanita cantik yang sekarang sedang menjejerkan poster lelaki korea yang tak memakai pakaian dan hanya dibalut celana jeansbiru muda di papan tulis kelas. Dengan wajah ceria tanpa dosa dia bahkan dengan bangganya berceloteh kalau Ibu Siska, Guru Fisika mereka yang sangat genit itu akan senang dengan posternya itu.

Tak habis pikir dengan kelakuan temannya itu, Angela mengambil poster tak senonoh itu  dan menyelipkan di loker meja tempat duduk Ravela yang berada persis di samping kanannya. Sedangkan Ravela hanya tertawa cekikikan melihat wajah malas Angela pagi ini.

“Kenapa kau tidak semangat sekali pagi ini.” Duduk dengan manis di samping Angela, Ravela menopang dagunya dengan satu tangan sambil memerhatikan Angela yang mulai mengelurkan beberapa buku dari tas ranselnya dan membuka buku paket tebal yang sudah di beri tanda dengan post it kecil.

Berdecak sebal, Ravela mengomentari tindakan Angela dengan kesal. Bahkan dia menjuluki Angela dengan sebutan “Si Gila belajar” karena kelakuannya. Bahkan yang lebih parahnya, pernah Ravela menyumpahi Angela kalau dia belajar setiap saat akan membuat kepalanya botak bahkan Angela mungkin akan mati diusia muda karena otaknya akan kelelahan lalu memutuskan bunuh diri. Sungguh teman yang sangat baik.

“Kau tau Angela, jodoh mu akan jauh kalau kau seperti ini terus. Kepala batu” setelah berkata kesal seperti itu, Ravela meluruskan tubuhnya ke depan sambil melanjutkan ocehan paginya seperti biasa. Sedangkan Angela hanya bisa menanggapi kemarahan sahabatnya itu dengan senyum dan menanggapi ocehannya asal-asalan. Masuk jam pelajaran nanti juga Ravela akan baik lagi.

Beberapa menit Angela mencoba mengerjakan soal fisika yang gagal ia kerjakan malan tadi. Dan menanggapi sambil lalu ocehan Ravela tentang peliharaan barunya yang baru ia dapatkan. Suara sepatu heels khas milih Ibu Siska mulai terdengar mendekati kelas mereka. Angela mulai membereskan beberapa buku yang tidak diperlukan dan mengelurkan buku paket Fisikanya dari bawah loker meja dan menyiapkan buku tulis untuk mencatat beberapa rumus.

Sedangkan para penghuni kelas sedang sibuk berlarian ke bangkunya masing-masing. Yang wanita dengan wajah muram sambil mengikat rambut panjangnnya menjadi ikat kuncir kuda di tengah kepala. Sedangkan para lelaki dengan wajah sumringah memasukan kemeja putih mereka dengan rapi dan duduk dengan tenang di bangkunya masing-masing. Sepertinya lelaki di kelasnya ini calon lelaki buaya di masa depan. Bahkan dengan guru saja masih saja genit begini.

Angela akui memang guru fisikanya ini memang cantik. Wajah oriental dan berbadan bagus impian para wanita. Tetapi sifatnya yang suka marah-marah terkadang membuat Angela malas mengikuti pelajarannya. Tapi Angela harus semangatkan demi nilai ujian yang baik bulan depan.

~~

Bulan April 2015 adalah bulan paling melelahkan dalam hidup seorang Han Angela. Ujian Sekolah, Praktek dan Ujian Nasional. Bahkan kalau ada kesempatan untuk mengulangi masa-masa itu Angela bersumpah untuk tidak mau mengulanginya kembali.

Minggu pertama bulan April Angela harus mengahadapi Ujian Sekolah dengan hati berat karena kakaknya memilih kembali ke Amerika karena beberapa tugas kuliah yang mendadak, bahkan Angela belum sempat memenuhi keinginan Seokgi menemani jalan-jalan di Jakarta saat liburannya. Angela merasa bersalah untuk pertama kalinya kepada kakak semata wayangnya itu karena mengecewakannya untuk kesekian kali.

Minggu ke dua April adalah minggu paling melelahkan karena Angela harus melaksanakan ujian praktek dengan kondisi tubuh yang sakit akibat kebiasaan begadang dan membuat tubuhnya sampai ambang batas. Bahkan saat pengambilan nilai praktik olahraga, Angela sempat pingsan setelah menginjakkan kaki di garis finis saat pengambilan nilai lari jarak pendek. Sepertinya ucapan Ravela kalau Angela akan mati muda akan terwujud kalau dia masih seperti ini.

Dan yang paling membuat Angela stress adalah saat hari Ujian Nasional tiba. Angela harus mengikuti Ujian dengan telapak kanan di gibs karena jari kelingkingnya retak, itu semua karena benturan keras saat Angela terjatuh di tangga sekolah akibat mengantuk. Satu langkah menuju perkataan Ravela yang akan menjadi kenyataan.

Seminggu setelah Ujian-Ujian sekolah dan ujian dalan hidup Angela. Dia harus mengikuti tes wawancara di kedutaan korea. Dua orang penguji dari kedutaan korea dan seorang dosen asal korea yang beruntungnya bisa Angela hadapi dengan lancar. Bahkan Angela mampu lolos pada tahap ini dan dilanjutkan dengan wawancara via phone oleh universitas tujuan Angela. Walaupun sempat gugup dan berkali-kali keliru dalam penggunaan bahasa Angela dapat melaluinya dengan tenang.

Menjadi orang beruntung tahun ini dengan berhasil menjadi satu-satunya manusia Indonesia yang berhak mendapatkan beasiswa penuh oleh pemerintah Korea. Setelah beberapa tahap dan tahap terakhir yaitu tes kesehatan yang berhasil Angela lalui. Seminggu kemuadian Angela di kirim ke Korea untuk mendalami bahasa Korea langsung disana. Walaupun Angela bisa menggunakan bahasa tanah kelahirannya ini tapi demi kelancarannya nanti, Angela diharuskan mengikuti kursus percakapan di sana.

Masih teringat jelas saat keberangkatannya menuju Korea, Ibunya yang cerewet itu menangis di bandara dengan menarik-narik tangan Angela dan menyuruhnya untuk membatalkan saja beasiswanya. Ibunya bilang dia seperti tidak punya anak sekarang. Seokgi berada di Amerika sedangkan Angela berada di Korea. Jadi sekarang ibunya resmi tidak punya bahan manusia yang bisa dia marahi lagi.

Tapi dengan sabar Ayahnya menenangkan ibunya dan menasihatinya kalau sekarang ibunya sudah tidak muda lagi untuk melakukan hal kekanakan macam itu jadi dengan ajaibnya ibu Angela menghentikan tangisannya dan memelukan Angela sebagai gantinya. Walaupun masih berlinang air mata, Ibunya berpesan untuk menjaga diri di Korea dan jangan lupa untuk menghubunginya di saat waktu senggang. Angela hanya mengiyakan sambil membalas pelukan ibunya.

Entah mendapat ilham dari mana. Setelah Angela mengabarkan surat email dari kampus tujuan kepada ayahnya, ayahnya melunakkan hati dan memberikan izin kepada Angela untuk melanjutkan kuliahnya ke Korea bahkan ayahnya menawarkan untuk mencari tempat tinggal untuknya nanti di Korea. Walaupun Angela tolak dengan alasan bahwa ia lebih nyaman tinggal di asrama kampus. Angela hanya ingin tidak merepotkan ayahnya dan ingin menteladani sikap kakaknya yang berkuliah tanpa memberatkan keuangan ayahnya. Angela sudah berniat bahwa dia harus kuliah dengan kerja kerasnya sendiri tanpa menggunakan sepeserpun uang dari ayahnya.

Seminggu pertama di Korea terasa berat bagi Angela. Menyesuaikan kebuadayaan, kebiasaan dan lingkungan baru yang kurang bersahabat. Beruntung wajahnya yang lebih mirip orang korea yang menyelamatkan Angela dari bully-an teman asramanya. Walaupun masih ada diskriminas warga asing. Setidaknya Angela masih punya teman walaupun hanya hitungan jari.

Sebulan pertama yang di warnai dengan hujan badai di Korea yang membuat tubuh Angela kewalahan. Tubuhnya yang pada dasarnya tidak kuat cuaca dingin mulai merespon negatif cuaca korea yang cenderung dingin. Angela hanya berharap musim salju nanti tubuhnya tidak hipotermia di negeri ini.

Untitled

Tepat bulan Desember saat salju pertama di Korea turun. Angela mendapat kabar baik yang menyenangkan. Proses belajar bahasanya dipercepat kerena progres Angela yang pesat. Gurunya memuji kelancaran Angela dalam berbahasa Korea sedari awal dan hanya perlu beberapa latihan untuk melancarkan percakapannya dan Angela sudah diperbolehkan mengikuti kegiatan perkuliahan di awal bulan ini.

Jadi dengan langkah besar penuh semangat Angela memasuki main gate Kyunghee Universitysambil memasukkan tangan yang tepasang sarung tanganbergambar beruang kesaku mantelnya. Masih terlalu pagi sebenarnya untuk datang ke kampus. Tapi Angela ingin menikmati salju pertamanya dan nuansa berangkat kampus pertamanya dengan suasana sunyi seperti ini.

User_7729820130130095941

Angela ingin menikmati hamparan pohon sakura yang telah menggugur dan kini batang-batang besarnya terselimuti salju putih indah sepanjang jalan menuju gedung kampusnya. Menikmati jalan dengan susunan batu menarik yang tercemar beberapa undakan salju menutupi jalan.

kzMghCPh

Sampai mata Angela menangkap seorang lelaki tinggi dengan rambut hitam tersisir rapi dan matel panjang berwarna hitam. Berdiri menjulang sambil menatap sebuah gedung berpapan dengan tulisan Cyber University dengan tulisan Hangul dan terjemahan inggis dibahwahnya. Yang membuatnya sedikit aneh adalah pria itu menggunakan kaca mata kotak hitam yang menutupi keseluruhan matanya dan menggunakan sweater turtelneck yang menutup sebagian wajahnya.

Mungkin takut hipotermia.

“ Hei kau, kenapa kampus ini masih sepi? Apa gedung ini tidak buka lagi?” Angela terkesiap saat lelaki yang di amati sedari tadi memalingkan wajahnya kearah Angela. Sambil melangkah menuju tempat Angela berdiri kaku dan bertanya dengan bahasa korea yang lancar. Menunjukkan bahwa lelaki tinggi yang sekarang berada di hadapan Angela ini adalah asli berasal dari negeri ini.

Angela hanya mengangkat bahunya lalu melangkahkan lagi kakinya yang sempat diam mematung di pinggir jalan sambil memperhatikan laki-laki tadi. Mengabaikan lelaki bermantel hitam yang hanya memiringkan kepalang sedikit sambil berdecak saat Angela melewatinya tadi. Angela hanya tidak suka berbicara dengan orang asing. Walaupun sebenarnya yang orang asing disini adalah dirinya.

“Wanita angkuh, kau akan berteriak dan menyesali mengabaikan aku setelah kau tahu siapa aku.”

Angela menghentikan langkahnya dan membalikan tubuh untuk melihat lelaki aneh tadi yang kini telah melepaskan kaca mata hitamnya. Memperlihatkan mata bulat indah dengan iris mata coklat madu yang kini menatapnya dengan sinis.

Dan untuk beberapa detik Angela hanya bisa terdiam kaku dengan mata yang membesar beberapa inchi.

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Obsesif Kompulsif – I Am Falling in Love With You (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s