[EXOFFI FREELANCE] Maybe (Chapter 5 END)

PhotoGrid_1464367981495.jpg

Tittle : Maybe?

Author : Wulan fitriani @wln_f

Cast : Byun Baekhyun, Lee Rai, EXO member

Leigth : chaptered

Rate : Teeneger+

Genre : Married life, Romance comedy

Disclaimer : All story is mine.

Chapter ini yang paling panjang dari yang lainnya. Masa pengerjaan chapter ini 12 hari. Karna itu, aku minta maaf jika sekiranya gak sesuai dengan apa yang diharepin.

| Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 |

Hargai penulis pemula ^^

..Maafkan aku

−♥−

Detik jam terdengar nyaring ditelinga Baekhyun. Dia berusaha memfokuskan diri pada majalah yang ia pinjam dari Rai. Namun tak berhasil, matanya berkali kali melirik Rai yang tengah  bercanda tawa dengan Rean. Dia merasa asing disana, dia juga ingin berbaur dengan mereka dan mengenal kakak iparnya lebih dekat. Namun setelah mengingat apa yang sudah dia perbuat. Haaahh.. lupakan saja.

Baekhyun membalik lembar majalahnya. Dia bisa mendengar suara gerumuh di luar dari tempatnya terduduk. Dia duduk tepat dibalik pintu, kalau dia lengah sedikit saja, wajahnya bisa habis tersambar pintu.

“Ekhem!” Deheman keras membuat Baekhyun terlonjak dan hampir melepaskan majalahnya. Jantungnya langsung berdebar tak menentu seiring dengan matanya menoleh kesumber suara.

“Aku akan pergi, tolong jaga adikku..” Rean berjalan menghampiri Baekhyun. Baekhyun bangkit dan mengangguk kikuk. Matanya mencoba membalas tatapan kakak iparnya itu.

“Kali ini ku maafkan kau, jika Rai menangis lagi kau akan bertemu lagi denganku.” Bisiknya sambil menepuk pundak lalu mendorong Baekhyun sedikit untuk memberinya jalan. Baekhyun masih bisa merasakan denyut di pundaknya. Baekhyun membungkuk, sedikit memberi salam. Setelah dia melihat pintu rawat kembali tertutup Baekhyun baru mengangkat wajahnya.

Baekhyun menghela nafasnya pelan. Ini terasa aneh, Baekhyun belum pernah merasa setakut ini pada siapapun sebelumnya.

“Dia benar kakakmu?” setelah dirasa Rean sudah tak terjangkau, Baekhyun kembali menghampiri ranjang Rai sambil mengerek kursinya.

“Eoh..” Rai mengangguk sekilas dan menjulurkan tangannya. Baekhyun mengerti dan mengembalikan majalahnya.

“Mengapa kau tidak cerita kalau kau punya kakak?” Baekhyun menduduki kursinya setelah mendapatkan posisi yang dia inginkan. Dia merapatkan kursinya dengan ranjang Rai dan mulai membaringkan kepalanya diatas ranjang Rai, mencoba mengusir kantuk yang sudah menyerangnya sejak tadi malam.

“Kau tidak pernah bertanya..” Rai mulai menyibukan diri dengan majalahnya.

“Apa aku harus bertanya?” Baekhyun terpaksa mengangkat kepalanya untuk menatap Rai. dilihatnya Rai yang masih sibuk dengan majalah tengiknya itu.

“Kau adalah istriku, kau seharusnya menceritakan semua kehidupanmu padaku.” Baekhyun mendecah kecil. Dia kembali membaringkan kepalanya.

“Mau aku ceritakan seperti apa ‘ki-ta’ sebelum aku hamil?” Rai menekankan kalimatnya. Dia melihat Baekhyun memiringkan kepalanya lalu menatapnya.

“Kau menyindirku?” syuuuhh~ kena!

“Tidak berniat, jika merasa ya sudah” Rai mengangkat bahu dan kembali dengan bacaannya.

“Anak ini..” Baekhyun mengeratkan giginya kesal. Matanya mengatup rapat dengan dahi yang mengerut. Baru beberapa jam dia mengetahui kehamilan Rai, Rai sudah sangat menyebalkan. Ah! Tidak hamil saja sudah menyebalkan.

Rai menurunkan majalahnya. Dilihatnya Baekhyun yang sedang memijit kepala yang masih tergelepar di kasurnya. Untuk pertama kali Rai melihat Baekhyun terlihat lelah. Karna ‘waktu itu’ Rai dan Baekhyun hanya bertemu saat pagi hari, saat Baekhyun sudah sangat segar setelah mandi. Dan saat malam tiba mereka hanya akan bertemu di meja makan, itu pun Baekhyun sudah segar dengan bau citrus yang menguar dari tubuhnya. Setelahnya  mereka akan mengunci diri dikamarnya masing-masing. Terdengar harmonis bukan? Atau ‘Humoris’ ?

“Apa kau lelah?” Rai membawa tangannya menggantikan perkerjaan tangan Baekhyun, memijit pelan kepala suaminya itu. Dia menyadari Baekhyun sudah memotong rambutnya lebih pendek dari terakhir kali dia lihat.

“Hm..” Baekhyun hanya berdehem.

“Kau memotong rambutmu karna kau akan berkencan denganku ya?” Rai menelusupkan jarinya menyisir rambut Baekhyun asal.

“Percaya diri sekali..” Baekhyun menghela malas. Terlalu malas bergerak, terlalu malas berdebat, dan terlalu sayang kalau harus mengeluarkan banyak energi dihari yang masih bisa dibilang pagi ini. Bahkan terlalu malas walau hanya sekedar membuka mata menatap mata menyebalkan istrinya.

“Kau pasti sangat lelah, maafkan aku ya.. aku memang merepotkan..” Rai masih asik merasakan halusnya rambut Baekhyun ditelapaknya. Rai tersenyum saat merasakan helai halus itu di sela jari-jarinya. Mengulanginya berulangkali. Selama Baekhyun tak menolak, dia harus memanfaatkan keadaan. Sungguh pintar ibu muda satu ini..

“Baru sadar? Kurangi sifat merepotkanmu itu, kalau tidak dia akan tertular..” Baekhyun merubah posisi kepalanya mencari kenyamanan dalam tidurnya. Merasakan setiap sentuhan Rai diatas rambutnya. Terasa “Sedikit” lumayan nyaman walau Rai mengelus kepalanya asal.

Tolong perhatikan kata sedikit tadi, sengaja ditebalkan lalu dimiringkan, diberikan garis bawah, lalu diberi kutip dan tambahan kata lumayan di belakangnya. Itu artinya sangat−sangat−sangat sedikit! Sorry to say ya.. Baekhyun tidak benar-benar menikmatinya.

“Hei.. Baekhyun-ah, aku ingin makan ice cream..” hilang sudah rasa ‘sedikit’ nyaman Baekhyun. Spontan Baekhyun mengangkat wajahnya. Matanya langsung menatap lurus wanita dihapannya.

“Coba ulangi..” Baekhyun merendahkan suaranya. Dia bangkit dari kursinya tanpa mengalihkan atensinya dari Rai.

“Aku.. ingin.. ice cream..?” ulang Rai menatap heran Baekhyun yang menatapnya seolah berkata. Salah-bicara-sedikit-kau-mati. Bahkan wajahnya memerah sampai ketelinga.

“Bukan itu” suara rendah Baekhyun terasa menggema diantara mereka.

“La-lu?” Rai memiringkan kepalanya sambil berfikir.

“Bagaimana cara kau memanggilku tadi?”

“Baekhyun?” jawabnya santai.

Teng tong~

“Ah! Hahaha.. maaf maaf. Aku tidak sengaja, sungguh” Rai tersenyum kuda saat paham apa kesalahannya. Dia tetap tersenyum berharap Baekhyun merubah warna kulitnya.

“Kau enam tahun lebih muda dariku dan kau memanggilku seperti itu.” Baekhyun menatap heran istrinya itu. Baekhyun mengusap kasar wajahnya, mencoba menahan amarahnya. Baekhyun tak masalah jika Rai memangilnya dengan embel-embel tuan atau meledeknya dengan panggilan menjijikan.

“Mau mati?” Baekhyun mengacungkan tangan yang dia bentuk seperti pistol didepan wajah Rai.

“Apa kau harus semarah itu, aku kan hanya tak sengaja. Kekanak-kanakan sekali” Rai menggerutu. Lihatlah, siapa yang salah siapa yang marah. Baekhyun kembali menurunkan tangannya dan kembali duduk. Baekhyun mengatur nafasnya mencoba memahami kondisi Rai saat ini. mungkin saja ini hanya karna mood Rai sedang tidak stabil. Karna seingat Baekhyun, sebodoh-bodohnya Rai, seidiot-idiotnya Rai, dan seceroboh-cerobohnya Rai. Rai tetaplah wanita yang sopan.

Kau mengerti sekali tuan Byun..

“Kau jangan seperti dia yah..” ucapan pelan Rai membuat Baekhyun kembali bangkit. Lihatlah sekarang Rai malah membuatnya terdengar jelek didepan anaknya.

“Hei. Hei. Kau mau meracuni otak anakku?” Baekhyun beringsut.

“Apa anakku sudah punya otak?” Rai mendongak menatap Baekhyun. Dia mengedipkan matanya dua kali menunggu Baekhyun menjawab pertanyaannya.

“Aku pergi” Baekhyun langsung berbalik dan berjalan keluar. Dia menghela pelan sambil mengelusi dadanya.

“Mau kemana?” Rai kaget melihat Baekhyun yang langsung berbalik meninggalkan dirinya.

“Beli ice cream..” sahut Baekhyun yang terus berjalan. Dia diam sebentar saat berada didepan pintu.

“Aku ingin rasa pisang..” Baekhyun membuka pintu tanpa menoleh ataupun membalas perkataan Rai. Sekedar menyetujui pun tidak.

“Yak Baekhyun-ah!!”

−♥−

Burung berkicau merdu, angin berhembus pelan sambil membawa beberapa daun kering. Sekarang sudah jatuh musim gugur.

“Woah! Hyung.. Kau datang?” Baekhyun berlari menuruni tangga. Matanya tak berhenti terbelak melihat seseorang yang tengah duduk menunggunya di ruang tamu. Baekhyun langsung lompat dari kasurnya saat istrinya bilang seseorang bernama Joonmyun menunggunya di ruang tamu. Dia merelakan hibernasinya terganggu hanya demi menemui sahabat karibnya itu.

“Memangnya kenapa?” Sahut pria bersurai legam seraya mengangkat sedikit dagunya. Dia joonmyun.

“Kau kan sibuk” Baekhyun menepuk tangannya girang. Pria ini adalah pria yang tak mengerti waktu, setengah dari hidupnya mungkin dia habiskan untuk berkerja. Bahkan di umurnya yang mungkin sudah hampir kepala tiga dia masih saja sendiri. Sekedar kekasih pun tidak punya.

Joonmyun melongokkan kepalanya kesegala arah.

“Aku hanya ingin melihat Nari, dimana dia?” Baekhyun mengambil tempat disamping sahabat jauhnya itu.

“Hei! Jahat sekali, kupikir kau kesini untuk menemuiku.. Yatuhan sakit sekali hatiku ini..” Baekhyun mendramatisir keadaannya. Dia menatap Joonmyun dengan wajah orang paling tersakiti, yang ditatap hanya diam tak bereskpresi.

“Ya! Jika kau ingin menemuinya kau bisa langsung kekampusnya.. pergilah” Baekhyun memalingkan wajahnya kesal. Joonmyun hanya mendecah melihat sikap kewanitaan temannya ini.

“Aku tidak menemukannya di kampus..” Joonmyun menyenggol Baekhyun.

“Benarkah? Aish! Aku yakin wanita busuk itu pasti pergi berkeja sambilan..” Baekhyun mendecah kesal, dia masih sangat ingat kemarahan ibunya seminggu yang lalu karna Nari pulang larut setelah berkeja di bar. Masih teringat jelas bagaimana ibunya mengankat telinganya karna dianggap tak bisa menjaga adiknya. Mengingatnya membuat Baekhyun ingin sekali menggunduli kepala adiknya itu.

“Berkeja? Kurasa dia hanya ingin mandiri Byun Baekhyun..” sedikit kaget saat mendengar wanitanya−dulu pergi berkerja sambilan.

“Aku ta−”

“Baekhyun-ah!! Bisa kau tolong aku?!” ucapan Baekhyun tertelan saat terdengar teriakan nyaring dari lantai atas.

Baekhyun meringis kesal, dia menoleh menatap Joonmyun yang terlihat kaget dengan apa yang dia dengar.

“Aku rasa dia memang lupa bagaimana caranya bersikap sopan..” helaan nafas keluar dengan sendirinya. Rasanya benar-benar malu, sebenarnya dia sudah sangat terbiasa dengan panggilan barunya itu. Tapi, untuk sekarang.. Baekhyun benar-benar ingin menelan istrinya itu.

“Istrimu?” lihatlah. Sekarang temannya sedang mengulum senyumnya. Baekhyun tau sekali jika temannya itu sedang menahan tawa.

“Eoh, aku tinggal sebentar..”

Baekhyun berlari menaikki tangga. Dia menghampiri kamar istrinya yang terbuka lebar.

“Ada apa lebah tengik?” Baekhyun melongokkan kepalanya kedalam kamar Rai. Dilihatnya Rai tengah bercermin dengan pakaiannya. Baekhyun tersenyum kecil melihat Rai yang tak bisa menggapai resleting bajunya.

“Tanganku tak sampai..” Rai menoleh sesaat. Dia kembali menoleh saat sadar Baekhyun hanya memperhatikannya.

“Ya!” Rai berteriak kesal.

“Iya iya aku tau..” Baekhyun tertawa kecil dan berjalan menghampiri Rai. Baekhyun selalu memperhatikan setiap perubahan Rai, dari mulai perut yang membesar, pipi yang mengembung, sampai betis yang kini sudah terlihat seperti paha. Dan itu cukup untuk menjadikan ejekan pada Rai. lalu Rai akan mengerut marah dan menghentakkan kakinya kesal. Benar-benar lucu dan menyenangkan.

Maksudnya Baekhyun senang bisa meledek Rai habis-habisan. Iya itu.. seperti sekarang ini.

“Mungkin ini sudah terlalu kecil ditubuhmu yang seperti lebah ini.” Baekhyun mengambil alih resleting Rai.

“Apa maksudmu?” Rai menatap sengit bayangan suaminya dari cermin. Merasa terejek dengan kata-kata suaminya itu.

“Kau bengkak!” Baekhyun menjulurkan lidahnya. Resleting baju Rai sudah sampai diujung.

“Brengsek!” Rai memekik kesal. Alisnya hampir menyatu karna terlalu kesal.

Oke oke.. tarik nafas, buang~ Jangan kaget! Karna Baekhyun sudah hampir terbiasa dengan semua makian tak lulus sensor yang meluncur bebas dari mulut istrinya. Sudah empat bulan belakangan ini istrinya itu berubah menjadi wanita berandal yang baru bebas dari penjara−oke abaikan Baekhyun yang terlalu mendramatisir.

“Oke.. aku mulai muak sekarang..” Baekhyun menundukkan kepalanya dan menyusupkan wajahnya disela leher Rai.

“Akhh! Sial! Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menggigitku?” Rai menjerit lalu berbalik. Dia mendorong Baekhyun lalu menutup lehernya yang terasa nyeri dengan tangan. Sungguh! rasanya sangat nyeri dan sesaat terasa mendenyut, Baekhyun itu manusia bukan?. Rai menatap berang suaminya.

“Hukuman untukmu!” lagi-lagi Baekhyun menjulurkan lidahnya.

“Kau ini pendendam sekali..” Rai membenarkan rambutnya sambil menggerutu. Berusaha menutupi bekas gigitan Baekhyun dengan Rambutnya yang dia kepang.

“Salahmu membuatku kesal..” Baekhyun berjalan mundur dan menjatuhkan dirinya diatas ranjang Rai. Ranjang yang selalu menjadi tujuannya saat tengah malam tiba. Setelah hamil Rai malah tidak ingin tidur bersamanya lagi, berbeda dengannya yang tak bisa tidur tanpa Rai disisinya. Baekhyun tau itu pasti hanya karna ada anaknya didalam tubuh Rai. Baekhyun yakin itu.

Tipikal seorang Byun Baekhyun sekali..

“Baiklah, baiklah.. suamiku yang tampan, aku pergi dulu ya..” Rai membuat suaranya terdengar seimut mungkin. Dia tersenyum lebar dengan mata yang menyipit terpaksa.

“Kau akan pergi?” Baekhyun mendudukan tubuhya.

“Tentu saja, ini sudah waktunya.” Rai kembali bercermin sambil memegangi perut buncitnya. Dia memutar tubuhnya kekanan dan kekiri mencari posisi yang tepat agar terlihat cantik dengan perut buncitnya.

Baekhyun mengangguk mengerti saat ingat kalau sekarang adalah waktu Rai untuk memeriksakan kandungannya.

“Tapi aku tak bisa mengantarmu.” dibawah sana ada temannya, mana mungkin dia meninggalkan temannya yang sudah jauh-jauh datang ke rumahnya.

“Aku akan pergi sendiri.” Rai menyambar tasnya lalu bercermin lagi. Rai bisa melihat wajah Baekhyun yang melihatnya tak tega.

“Aku tau temanmu datang, jadi tidak usah menyedihkan begitu..” Rai berbalik dan memasang wajah jeleknya untuk menggoda Baekhyun.

“Maaf ya..” wajah Rai datar seketika, biasanya Baekhyun akan marah atau melemparnya dengan bantal kalau Rai menggodanya dengan wajah jelek. Tapi sekarang, apa dia benar-benar bersalah? Rai menaikkan salah satu sudut bibirnya.

“Cium aku”

Krik

Krik

“Ya?” Baekhyun mengerjapkan matanya menatap punggung Rai didepannya. Berharap jika suara tadi tidak keluar dari mulut Rai.

“Cium aku, sebagai permintaan maaf karna tak bisa mengantarku cek kandungan..” Rai berbalik menatap Baekhyun. Berjalan sedikit mendekati Baekhyun.

“Apa-apaan kau ini.. dasar mesum!” spontan Baekhyun menyilangkan tangannya didada. Dia bisa merasakan hawa hangat menjalari wajahnya, tubuhanya menegang melihat serigaian Rai yang tercetak dibibirnya.

Apa-apaan ini mengapa dia merasa seperti gadis yang akan diperkosa?

“Baiklah.. pergi lah.. aku akan mengganti bajuku.” baru Baekhyun akan melayangkan penolakan, Rai sudah mengusirnya.

“Heh? Tidak jadi pergi?” Baekhyun menyeringit melihat Rai kembali menaruh tasnya dan membuka ikatan rambutnya.

“Untuk apa pergi? Buang-buang energi saja. Keluar kau keparat” Baekhyun menghela nafas panjang. Baekhyun bukan pria bodoh yang tidak menyadari kalau istrinya sedang merajuk. Dia bangkit dari duduknya, memperhatikan istrinya yang tengah menekuk wajahnya. Lihatlah kata-kata kasarnya tak sejalan dengan tingkahnya.

“Baiklah, kemari” Baekhyun bisa melihat seulas senyum terukir dibibir istrinya dari bayangan cermin didepannya. Dengan semangat Rai berbalik dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun. Memejamkan mata menunggu bibir halus suaminya mendarat diatas bibirnya. Baekhyun mengatur nafas sebelum menelusupkan jarinya di rambut Rai dan mendekatkan bibirya perlahan. Matanya tak lepas dari bibir ranum Rai sampai akhirnya dia merasakan sengatan hebat saat bibirnya bersentuhkan dengan belahan bibir ranum itu. Membiarkannya menempel begitu saja dipermukaan bibir Rai. Mencoba menutup matanya merasakan debaran-debaran aneh yang bergemuruh dihatinya mengingat Baekhyun yang sangat menjaga skinship dengan Rai. Tangan Baekhyun membantu melepaskan kepangan dirambut Rai, merapikannya dengan menyisirnya menggunakan jari. Baekhyun tetap mencoba menjaga jaraknya agar tak menghimpit tubuh buncit Rai.

Dipikir-pikir Baekhyun hebat juga, maksudku ya kalian tau mungkin.. Menahan hormon sementara pelampiasannya ada didepan mata..

Ngomong apa aku ini…

Rai tersenyum dalam ciumannya. Walaupun hanya sebuah kecupan tapi cukup membuat jantungnya memompa tak beraturan. Senyumnya memudar saat merasakan bibir Baekhyun bergerak diantara belah bibirnya. Dia cukup kaget dengan apa yang dilakukan Baekhyun. ini kali kedua Baekhyun menciumnya dalam keadaan sadar. Dia mencoba mengimbangi pergerakkan bibir suamiya. Kedua tangannya yang berada dipinggang Baekhyun meremas kaosnya erat. Baekhyun memang tak menggunakan lidahnya tapi entah kenapa kakinya sudah lemas sekarang dan pasokan udaranya sudah menipis. Rai memukul pelan dada Baekhyun mencoba memberitahu. Namun sepertinya Baekhyun tak bermain mudah, dia malah semakin menekan tengkuk Rai kuat seolah tak memperbolehkan bibir itu terlepas dari jeratannya. Rai mulai meronta-ronta.

“Emph!!” Rai berusaha mendorong Baekhyun yang menahan kepalanya kuat.

“Yah! Emph!!” Rai meraup banyak nafas saat berhasil melepas tautannya, namun tak lama Baekhyun kembali menciumnya. Baekhyun meraup penuh bibir Rai. Rai benar-benar berontak sekarang, dia memukuli Baekhyun bar-bar hingga Baekhyun melepaskan tautannya.

“Ahaah.. haahh..” Rai memegangi dada sambil terus menghirup nafas.

“Sial! kau mau membunuhku? Segitu bencinya kah kau padaku?” Rai sampai terbatuk karna kehabisan nafas. Bagaimana tidak? Dia belum menyiapkan banyak nafas, Baekhyun sudah menciumnya seperti bayi kehausan.

“Hahaha.. Itu adalah sebuah ciuman, apa aku salah?” Baekhyun mengusap bibirnya sendiri dengan punggung tangan. Menutupi seulas senyum yang tercetak dibibirnya.

“Ah sudah lah, aku mau pergi” Rai kembali menyambar tasnya dan berjalan cepat seraya membenarkan tatanan rambutnya yang mengembang bekas kepangan.

“Kau harus membenarkan lipstikmu..” Baekhyun tertawa diakhir ucapannya.

“Diam kau bajingan!” Rai menghentakkan kakinya kesal. Dia semakin mempercepat langkahnya.

“Anak itu..” Baekhyun bisa mendengar Rai berlari saat menuruni tangga. Buru-buru Baekhyun menyusul. Dan benar saja, Rai sudah ada dilantai dasar.

“Apa dia lupa kalau punya bayi?” Baekhyun berlari menyusul Rai.

“Oppa aku pergi dulu ya.. baik-baik dengan Baekhyun..” pamit Rai pada pria yang tengah terbelak memperhatikannya.

“Baekhyun-ah! Aku pergi” Rai berbalik sebentar lalu kembali berjalan keluar rumahnya.

“Yah!!!” Baekhyun berteriak kesal.

“Hyung.. kau tau berapa umurnya?” Baekhyun mendekat pada temannya.

“Dua puluh satu tahun?” pria itu mengangkat bahu. Wanita yang dia lihat tadi memang masih terlihat muda, dan jika dilihat dari kelincahannya menuruni tangga dan menghindari kemarahan Baekhyun, sepertinya memang masih muda.

“Salah! Sembilan belas tahun! Kau lihat seperti apa tingkahnya?” Baekhyun meremas udara dengan gemas. Dia bertanya seolah mengadu.

“Huwaah.. buat muak saja..” Baekhyun menjatuhkan tubuhnya ke punggung sofa.

“Dia benar sedang hamil?”

−♥−

“Bagaimana hasilnya?” Baekhyun menjatuhkan dirinya dan merapatkan duduknya pada Rai.

“Dokter bilang anakku sehat sehat saja..” Rai mengangkat bahu seolah tak peduli, dia tetap sibuk dengan remote tv.

“Aku bahkan kaget saat dokter bilang anakku sudah berumur tujuh bulan, sungguh tak terasa.” Rai tersenyum saat menemukan tontonannya sedangkan Baekhyun menaikan salah satu alisnya, biasanya Rai hanya akan menonton tv saat jam 8 pagi sampai jam 10 pagi. Jam dimana kartun merajai tvnya. Tapi sekarang, bahkan Rai menonton pertandingan tinju. Dia mengangkat bahu, mencoba tak ambil pusing. Mungkin saja itu hanya bawaan bayi. Tunggu.. Matanya beralih menatap buntalan yang menghiasi perut Rai. Mendadak rasa bahagia menjalari tubuhnya.

“Kau bicara seolah dia hanya anakmu. Dia juga anakku. Apa tak bisa menggunakan kata kita?” tangan Baekhyun terasa gatal, ingin rasanya Baekhyun mengelus dan menyapa malaikat kecilnya. Namun rasa gengsi membuatnya hanya bisa melihatnya dari balik daster istrinya.

“Anak kita?” Rai menoleh.

“Kampungan sekali..” bahu Rai tergolak melihat Baekhyun yang memperhatikan perutnya.

“Sentuh saja..” Rai kembali pada tontonannya sambil menahan senyum.

“Apa? Tidak..” Baekhyun membenarkan posisinya dan sedikit bergeser menjauhi Rai.

“Munafik sekali..” Rai terkikik geli. Baekhyun benar-benar menjadi sangat berbeda semenjak dia hamil.

“Aish.. sabar Baekhyun.. ini salahmu menghamili anak kecil.” Baekhyun mengelus dada sambil mengatur nafas. Mencoba untuk tidak membuat tekanan darahya naik.

“Apa kau bisa buatkan aku susu?” Rai menoleh, bertanya dengan wajah datarnya.

“Apa kau bisa meminta lebih sopan lagi?” Baekhyun mengembangkan senyumnya. Menampilkan gigi putihnya yang tertata rapih.

“Tidak, sudah sana cepat buatkan..” Rai mencoba mungusir Baekhyun dengan mendorong tubuh suaminya.

“Anak ini..” Baekhyun hanya bisa mengeratkan giginya. Dengan enggan dia bangkit dan berjalan kearah dapur.

“Jangan lama-lama” Rai berteriak dengan sopannya.

“Tuhan ampuni dia..” Baekhyun mengaitkan tangannya dan menaruhnya tepat didepan wajahnya.

Saat sampai di dapur, Baekhyun bisa melihat kotak susu ibu hamil sudah tergeletak didalam tong sampah. Dia mencoba mencari di dalam kulkas dan dilemari, barangkali masih ada persedian susu. Namun Baekhyun tidak melihat kotak berwarna pink dengan siluet ibu hambil itu selain ditong sampah.

“Rai, sepertinya susumu habis” Baekhyun berteriak memberitahu. Baekhyun terdiam menunggu jawaban yang pasti akan sangat indah terdengar ditelinganya.

“Kalau gitu belilah..” benar saja. Baekhyun memijit pelipisnya mencoba mengurangi denyut yang menjalari kepalanya sedari tadi.

“Kau tidak ingin ikut?” Baekhyun berteriak lagi. Otaknya dengan cepat memikirkan sebuah rencana.

“Tidak, kau saja”

“Akan ku berikan es krim jika kau ikut”

“Baiklah ayo!!”

“Mudah sekali”

−♥−

Rai langsung berlari saat sampai di super market. Dia bahkan tidak memperdulikan orang-orang yang memandangnya ngeri. Rai berjalan kesana kemari berlari dengan perut buncitnya kesetiap sudut dari super market. Dia juga menghampiri setiap stand makanan yang ada tanpa mau membelinya. Baekhyun? jangan tanya. Dia berusaha tidak terlihat datang dengan Rai, dia bahkan sampai berjalan jauh dibelakang Rai. Niatnya hanya akan beli susu, tapi sepertinya dia akan menghabiskan banyak uang hari ini. Dia salah langkah karna mengajak Rai.

“Baekhyun-ah aku mau itu” Rai berjinjit mencoba meraih sereal coklat yang berada di rak paling atas. Rai mengumpat sejadinya, bagaimana bisa mereka menaruh sereal di rak paling atas sedangkan sereal itu diperuntukkan untuk anak dibawah umur? Lalu mengapa Rai membalinya. Jangan ditanya.

“Ambil saja” Baekhyun yang berada lima langkah di samping kanan Rai hanya bersender tak berminat. Dikeranjangnya sudah ada 3 susu ibu hamil yang berbeda varian. Dan dia hanya tinggal membayarnya kekasir namun dia harus kembali membanting keranjangnya saat Rai merengek meminta sereal.

“Aku tak sampai” Rai mengerucutkan bibirnya kesal. Tingginya hanya mencapai 160 cm, ditambah beban perutnya yang membuatnya sulit bahkan hanya untuk berjinjit. Oh.. nyonya Byun kau baru saja menyalahkan perutmu.

“Dasar pendek” sedikit menyesal sempat tertegun dengan tingkah Rai yang menggemaskan sebelum membantunya mengambil apa yang Rai mau.

“Kau fikir kau tinggi? Bercerminlah” ingatkan Baekhyun untuk tidak melakukan tindak kekerasan pada anak yang bahkan belum legal ini.

“Ya tuhaaan..”  Baekhyun langsung melempar 2 kotak sereal kedalam keranjangnya dan mendorongnya sekuat tenaga, mencoba melampiaskan amarahnya pada troli tak bersalah dihadapannya. Rai tersenyum melihat suaminya yang terlihat tersiksa dengn sikapnya. Mengikuti Baekhyun dengan langkah ringan menuju kasir.

Tiba saat giliran Baekhyun membawa belanjaanya pada kasir, Baekhyun dikejutkan dengan 2 toples permen yang jatuh dikeranjangnya. Saat menoleh kebelakang dia mendapati istrinya tengah terseyum dengan wajah memohon. Jika boleh jujur, sejujur-jujurnya Baekhyun sekali menjambak rambut Rai saat ini.

Sepertinya sifat kewanitaan yang Joonmyun bilang memang benar adanya.

Setelah semua belanjaannya terbayar Baekhyun lebih dulu berjalan meninggalkan Rai dengan belajaannya. Itu semua adalah apa yang Rai mau, dia sudah membayarnya jadi setidaknya Rai bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat.

“Yeobo.. tunggu aku..” Baekhyun berhenti matanya menatap lurus tanpa berkedip. Rai yang melihat Baekhyun berhenti karna panggilannya langsung berlari menghampiri dengan dua plastik ditangannya.

“Kau ini sangat mudah sekali..” Rai menyenggol Baekhyun lalu menaruh belanjaannya ke lantai.

“Ini, bawalah.. aku lelah..” Rai menunjuk belanjaannya, dia menyeringit melihat Baekhyun yang masih tertengun ditempat. Sekaget itukah Baekhyun dengan panggilannya. Rai jadi memerah sendiri melihatnya.

“Aku tau−”

“Kau lihat? Itu Nari” Baekhyun membawa telunjuknya kearah tepat didepannya.

“Nari? Dia disini?” Rai mengerjap sebentar sebelum matanya mengikuti arah telunjuk Baekhyun. Bisa dilihat sekitar 100 meter dari mereka beberapa orang sedang bergerumbul. Rai melongokkan kepalanya mencari sosok yang Baekhyun bicarakan.

“Dengan seorang pria” Baekhyun memincingkan matanya.

“Wooo.. berkencan rupanya” Rai menatap takjub gerumbulan orang disana. Seperti itukah cara orang berkencan dijaman sekarang.?

“Mungkin yang aku lihat bertengkar, aku kesana dulu” Baekhyun berjalan pelan mendekati gerumbulan orang disana, semakin lama dia mempercepat langkahnya.

“Eh? Bertengkar?” tiba-tiba dia teringat Baekhyun yang tadi terdiam. Kufikir dia..

“Hei pendek aku ikut” Rai kembali mengangkat belanjaannya dan berjalan menyusul Baekhyun.

“Kau sudah kaya? Kau fikir tempat ini milikmu?” samar-samar tedengar suara Nari dari tempat dia berdiri. Dia semakin mempercepat langkahnya.

“Hei nona! kau yang mulai menumpahkan kopi pada bajuku?” sautan dari lawan biacar adiknya itu membuat Baekhyun terhenti seketika. Seperti pernah mendengar suara ini sebelumnya..

Baekhyun kembali berjalan dan langsung menerobos masuk kedalam kerumunan itu.

“Aku sudah bilang tidak sengaja, mengapa selalu mengungkitnya berulang-ulang?” oke tebakannya tidak salah.

“Nari?”

“Sehun?”

Keduanya menoleh secara bersamaan.

“Apa yang kalian lakukan? Tidak punya malu?” Baekhyun melirik kemeja yang Sehun kenakan, ada noda kopi yang sudah mengering disana. Lalu dia menoleh melihat keadaan adiknya, tidak ada cacat.. kecuali sepatunya yang sudah rusak.

“Semakin banyak yang memperhatikan kita. Ikuti aku” Baekhyun memerintahkan kedua ‘bawahannya’ dengan jari telunjuknya. Dia juga menarik Rai yang baru sampai dikerumunan itu.

.

.

“Jadi ada yang bisa jelaskan?” Baekhyun menatap keduanya bergantian. Baekhyun hanya menatap mereka dengan tatapan biasa, tapi entah kenapa keduanya hanya bisa menunduk tanpa mau mengeluarkan suara.

“Apa perlu aku bertanya dulu?” Baekhyun bersandar dengan kedua tangan dibelakang kepalanya, menahan kepalanya yang mulai terasa berat.

“Sehun-ah. Katakanlah..” titahnya pada akhirnya. Bisa mati bosan kalau hanya melihat mereka berdua duduk tertunduk.

Sehun mengangkat wajahnya lalu menghela nafas. Dia sempat sedikit melirik wanita disamping sebelum akhirnya berbicara.

“Saat aku berjalan hendak mengambil−” baru seperkian detik Sehun berbicara suara nyalang tiba-tiba menyambar tak tau diri.

“Mengapa oppa bertanya padanya? Dia pasti akan mengarang cerita. Seharusnya kau−”

“Berhenti bicara. Aku tidak menyuruhmu berbicara.. kau sudah melewatkan kesempatanmu tadi.. jadi diamlah Byun Nari” tukas Baekhyun serasa memotong lidah Nari saat ini. Kalau bukan karna Baekhyun mengetahui bar tempatnya berkerja saat ini mungkin dia sudah menebas habis pria albino disampingnya ini. kakak iparnya ini pun tak membantu sama sekali. Hanya sibuk dengan ice cream matcha−nya itu.

“Sepertinya ini hanya kesalah pahaman saja hyung.. dia tidak sengaja menumpahkan kopi di kemejaku, dan aku tak sengaja merusak sepatunya. Aku rasa ini sudah impas.”

Deng~

Nari merasa seperti ada gong yang berbunyi tepat didepan telinganya. Ada apa dengan pria albino ini? masih teringat jelas bagaimana sengitnnya mereka 10 menit yang lalu. Tapi sekarang? Apa ada yang membenturkan kepalanya? Atau karna dia bawahan Baekhyun? tidak mau cari masalah?

Entah mengapa dia merasa beruntung dengan kenyataan ini.

“Begitukah?” Baekhyun menatap Nari meminta persetujuan.

“Benar sekali.. sebenarnya aku bisa saja menyelesaikan dengan baik, tapi saat itu sangat terburu-buru.. jadi aku jadi lepas kontrol..” senyum manisnya terus mengiringi. Berharap kakaknya ini percaya dan melepaskannya dengan mudah. Dia masih punya urusan disini.

“Kita memang seperti anak kecil.. iya kan?” Nari mencoba mencairkan rasa gugupnya dengan menyenggol Sehun dan mengajaknya untuk tersenyum. Sehun hanya menyeringit, dia tidak punya alasan untuk tersenyum saat ini.

“Umur kalian sama kan? Ah tidak! Kau satu tahun lebih tua, Nari” menggeleng prihatin mengingat umur keduanya yang bahkan sudah melewati masa perayaan kedewasaan.

“Ya?! Dia lebih muda dariku?” senyum yang tadi memang tak niat untuk ditunjukan luntur seiringan dengan penuturan Baekhyun. Nari memekik heboh. Dia memandangi Sehun dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa pria segagah ini −ah maksudnya sebesar ini lebih muda darinya.

“Haruskah aku memanggilmu noona?” kini Sehun bersuara, ditatapnya wanita yang masih menatapnya heran itu.

“Tak perlu! Aku tak sudi! waaahh.. benar-benar! aku jadi kesal sendiri saat tau kau lebih muda dariku. Kau lupa cara bersikap sopan?! Heh?” baiklah.. Nari lepas kontrol. Dia melepas kedua sepatunya dan menaruhnya dipaha Sehun.

“Aku pergi!” dia mendorong kursinya jauh kebelakang. Dia sempat menghentakkan kaki polosnya sebelum tangan besar menahan tangannya.

“Apa sepatu ini untukku?” Sehun menolehkan kepalanya bertanya dengan wajah datarnya.

“Bawalah! Bajingan kecil!” Nari mencoba menarik tangannya namun dia malah semakin mendekat saat Sehun juga menarik tangannya.

“Kurasa kau berniat bertemu denganku lagi..” bisik Sehun didepan wajah Nari. Nari benar-benar jengah sekarang. Amarahnya hampir sampai ubun-ubun saat Sehun menaikan satu alisnya. Baekhyun harus melihat ini. benar-benar bermuka dua!

“Bermimpilah!” bentak Nari sebelum akhirnya dia membebaskan tangannya dan benjalan dengan menghentak kesal.

“Ada apa?” Baekhyun seperti penonton bayaran disini. Benar-benar seperti melihat pertengkaran yang ada didalam drama yang sering ibunya lihat.

“Aku hanya mengucapkan terimakasih untuk sepatunya.” Sehun mengangkat sepatunya dengan senyum mengembang, seperti anak jahil yang berhasil menjahili ibunya.

“Anak itu.. semenjak berkeja di bar sikapnya jadi semakin bar-bar..” Baekhyun menggeleng meratapi bayang-bayang Nari. Dia semakin prihatin saat matanya menemukan sosok istriya yang tengah lahap menghabiskan ice creamnya. Tak habis pikir bagaimana bisa dia makan dengan tenang di saat perdebatan ada didepan matanya. Baekhyun menghela nafasnya.

“Kemarikan sepatunya..” Baekhyun menjulurkan tangannya untuk menerima sepasang wedges yang ditinggalkan pemiliknya itu.

“Ah tidak perlu hyung.. aku butuh ini untuk menganti sepatunya, aku rasa dia sangat marah denganku, Nari noona” Sehun megangkat sepatu Nari yang rusak dengan senyum yang menghilangkan matanya.

“Ah begitukah? Baiklah..” Baekhyun mengangguk paham, tak menaruh rasa curiga sedikit pun pada temannya itu.

“Ah hyung bisa kau beritahu alamat tempat kerja adikmu itu?” Sehun mengeluarkan ponselnya bersiap mencatat alamat yang dimintanya.

“Nanti saja, aku akan sms nanti” Sehun sedikit tidak yakin dengan apa yang dikatakan Baekhyun, namun dengan segenap hati dia membalasnya dengan anggukan kecil.

“Apa semua sudah selesai? Aku mengantuk..” Rai tiba-tiba mengguncang tubuh Baekhyun dengan mata sedikit tertutup. Baekhyun hampir melupakan jika dia datang bersama istrinya. Baekhyun menghela nafas pelan.

“Jam berapa sekarang?” tanyanya pada Sehun yang tengah mengotak-atik ponselnya.

“Jam delapan hyung” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.

“Yasudah kami pulang dulu ya..” Baekhyun memukul kepala Sehun. Sehun mengangkat wajahnya yang datar. Tidak terkejut. Juga tidak sakit.

“Oh ya, maaf soal adikku”

“Tidak apa” Sehun tersenyum sebentar sebelum kembali fokus pada ponselnya. Baekhyun mendengus dan langsung menggerek Rai mengikutinya.

“Baekhyun susuku..”

Eoh?

Baekhyun berbalik dan menatap istrinya dari bawah sampai−

“Kau meninggalkan belanjaan kita..” Baekhyun menutup matanya erat sembari menjambak rambutnya.

Akh! Apa yang baru saja dia fikirkan? Sudah gila kah?.

Baekhyun menutup wajahnya berusaha menghindari wajah Rai.

“Kau tunggu sini..”

−♥−

Rai yang tengah bersandar pada kepala ranjang dan sibuk membolak-balik tabloidnya terpaksa menghentikan kegiatannya saat Baekhyun dengan kasar menjatuhkan dirinya diranjang kecil miliknya. Melebarkan kakinya hingga membuat Rai terhimpit tembok.

Plak!

Tak ingin banyak bicara, Rai menamparkan tabloidnya kesisi kiri wajah Baekhyun hingga Baekhyun meringis. Mau tidak mau Baekhyun bangkit untuk melototi istrinya. Baekhyun menyentil pelan perut buncit Rai.

“Apa selama ini kau yang membuat ibumu berubah?” Baekhyun merunduk dan bertanya pada perut Rai.

“Sudah gila bicara dengan perutku?”

Plak!

Lagi, Rai menampar suaminya itu agar menjauh dari perutnya. Selagi Baekhyun asik mengaduh, dia melanjutkan bacaannya.

“Dia pasti akan mendengar suaraku” Baekhyun memberenggut lucu dan kembali pada posisinya. Sedikit menurunkan dan memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan perut Rai.

“Benarkah?” Rai menurunkan tabloidnya.

“Biarkan aku bicara” Rai mendorong wajah Baekhyun sedikit menjauh seolah mengatakan Baekhyun tak boleh mengetahui pembicaraannya.

“Hei kau? Mendengarku? Aku tidak mau kau lahir mirip dengan ayahmu, cukup wajah dan otak saja yang mirip sisanya ambil saja milikku. Akan sulit merawatmu jika kau terlalu mirip dengan ayahmu. Jadi jangan seperti ayahmu ya..” Rai mengelusi perutnya memutar. Dia tersenyum senang merasakan pergerakan didalam perutnya.

“Apa yang sedang kau coba katakan?” Baekhyun menyangga kepalanya dengan siku. Baekhyun sempat menyeringit melihat Rai tiba-tiba tersenyum lebar seperti baru dapat lotre.

“Setelah lahir nanti, aku ingin kau menjalani hidupmu dengan baik, jaga perkataanmu jangan menyakiti orang lain. Jangan hidup menyendiri, bertemanlah dengan semua orang. Belajar dengan baik dan meraih prestasi sebanyak mungkin. Setelah kau lulus dan mulai berkerja, jangan bergantung pada ayah dan ibumu lagi. Aku ingin kau mandiri. Dan aku akan membiarkan kau menikahi siapapun, aku tidak akan memaksamu..” ucap Rai panjang lebar. Senyumnya semakin melebar saat lagi-lagi anaknya merespon ucapannya. Dia senang bukan main. Sebenarnya hal seperti ini sudah dia rasakan sejak sebulan yang lalu, tapi dia tak pernah memberi tau suaminya. Salahkan suaminya yang terlalu pengecut karna tak pernah menyapa malaikat kecil.

Kau tidak tau saja Rai..

“Apa kau sedang menyindirku?” Baekhyun sedikit bangkit dan masih menyengga tubuhnya dengan siku.

“Kau ini mudah sekali tersindir” Rai menyinyir tak suka karna kesenangannya diganggu. Baekhyun ikut mencibir dan kembali merebahkan tubuhnya −masih dengan perut Rai dihadapannya.

“Ada sesuatu yang membuatku penasaran” Rai tiba-tiba sedikit memiringkan tubuhnya seolah mengundang Baekhyun untuk menatapnya.

“Apa? Katakanlah” sayangnya Baekhyun masih fokus pada viewnya.

“Mengapa kau dulu tak mengharapkannya?” Rai bertanya seraya menyisir surai coklat tua suaminya dengan sela jarinya. Baekhyun mendongak, menatap Rai seraya mengerjap.

Sejenak Baekhyun terdiam, dia sudah tau pasti apa yang Rai maksud tanpa harus dirincikan. Dia sendiri juga tak mengerti mengapa dia takut sekali dengan kenyataan bahwa dia pernah meniduri istrinya. Dia takut sekali menerima kenyataan bahwa dia menghamili istrinya.

Ah~ Mantan kekasih yang meninggalkannya bahkan tanpa kata berpisah.

Ya benar, saat itu Baekhyun berfikir bahwa dia masih bisa kembali dengan mantan kekasihnya, dan menerima Rai untuk sementara. Bejat sekali kau Byun Baekhyun.

“Hallo Baekhyun-ssi.. disini Lee Rai..” Rai mengibaskan tabloidnya didepan wajah Baekhyun hingga Baekhyun dapat merasakan angin yang membuat dirinya mengerjap.

“Ya?” oh! Belum sadar ternyata tuan Byun.

“Aku benar-benar merasa lucu padamu saat itu, kau fikir aku akan hamil dua jam setelah bercinta? Yang benar saja. Kecuali memang kualitas spermamu−”

“Cukup cukup! Kau fulgar sekali..” Baekhyun mengibaskan tangannya didepan wajah Rai heboh. Kata-kata yang keluar dari mulut Rai entah mengapa membuatnya malu. Baekhyun bukannya bodoh waktu itu, dia hanya merasa panik. Kalian tau lah..

“Kau juga mengatakan kata-kata kotor saat bercinta denganku waktu itu. Mau ku ingatkan?” Rai mencibik tak suka dengan sikap sok suci Baekhyun.

“Dan lagi, sebelumnya kau mengatakan akan bermain dengan perlahan, tapi apa? Kau menunggangiku seperti tak ada hari esok. Aku sakit pinggang kau tau?”

“Woah aku benar benar tak percaya kau berkata seperti itu” Baekhyun melebarkan kedua matanya kehabisan kata-kata. Dia sudah tak mau tau seperti apa wajahnya sekarang. Mengapa Rai malah mengungkit hal memalukan itu sih.

Memalukan sih.. tapi kok membuahkan hasil..

“Lupakanlah tuan Byun” Rai kembali menyisiri helaian lembut itu perlahan. Matanya menatap lurus unyeng-unyeng Baekhyun.

“Kau tidak ingin mendengar jawabanku?” Baekhyun kembali membawa atensinya pada gundukan bulat didepan matanya. kalau boleh dia berharap, dia ingin mempunyai kekuatan super agar penglihatannya menembus lapisan perut Rai dan menyapa malaikat kecilnya sepuas hati. Tanpa terbebani dengan perasaan gensi atau malu dan sebangsanya.

“Entahlah, aku merasa aku tidak akan senang mendengarnya”

“Kau benar..” Baekhyun menganggukan kepalanya pelan dan merubah posisinya menjadi telentang. Dia menaikkan tubuhnya hingga sejajar dengan Rai, sebelum menyuruh istrinya untuk tidur. Rai hanya mengangguk dan mulai menyamankan posisinya.

Seperti memang sudah hakikat, kodrat, ketentuan −bahkan tanpa rencana mereka dengan serempak memutar tubuh mereka hingga membelakangi satu sama lain.

Untuk kurang−lebih 3 menit hanya tergengar helanaan hafas satu sama lain. Baekhyun masih belum memejamkan matanya sama sekali, dia sibuk melarikan tatapannya pasa seisi kamar Rai. Tidak besar, namun entah mengapa terasa nyaman dan hangat, tidak seperti kamarnya yang hampir tiga kali lipat kamar Rai. kamarnya yang telihat elegan, maskulin, −dan dingin.

Sepuluh menit berlalu dan Baekhyun belum juga merasa kantuk. Sedikit kesal mendengar suara helaan nafas yang sudah teratur seolah tidur dengan nyenyak.

“Rai” tak rela terjaga sendiri, Baekhyun membalik tubuhnya dan berhadapan langsung dengan pundak Rai. Kami bahkan tidur saling membelakangi..

“Hm?” tak disangka Rai justru membalasnya hanya menggumam menjawab semari merapatkan selimut dan membenarkanposisi tidurnya agar tak membuatnya pegal esok hari. Sedikit menegakkan kepalanya merasa tak nyaman saat nafasnya membentur tembok dan kembali menerpa wajahnya.

“Boleh aku menciummu?”

Wut?!!

Rai menegang ditempatnya. Mendadak dia merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya yang buncit. Perlahan tanpa suara dia mengubah posisinya. Menatap baekhyun yang tengah menatapnya lebih dulu. Menelisik setiap garis wajah yang tercipta diwajah suaminya. Enrah mengapa Rai merasa situasi ini benar-benar memalukan. Dia yakin wajahnya sudah semerah apel sekarang.

Baekhyun melipat bibir melihat reaksi istrinya. Jika mereka berada disituasi siang hari bolong dengan Rai yang menggunakan daster hijau dan menyila kakinya di atas sofa sambil makan keripik, mungkin dia sudah tertawa sampai gila melihat reaksi Rai seperti ini saat dia menanyakan pertanyaan yang sama. Namun sekarang entah mengapa semuanya terasa tidak lucu sama sekali.

“Ha−haruskah kau bertanya? Memalukan sekali” Rai menutup wajahnya dengan kedua tagannya. Membuat Baekhyun mengerjap beberapa kali melihat Rai yang berusaha menenggelamkan wajahnya di bantal.

Apa-apaan situasi ini. hei~ kalian ini pasangan menikah. Perlu kutunjukan akta nikah kalian eoh?

Baekhyun berdehem, dia melarikan matanya kesembarang arah seolah baru sadar dengan apa yang dia katakan. Dia mengulum bibirnya dan kembali membawa matanya pada Rai yang masih menutupi wajahnya.

Cium?

Ciuman?

Berciuman?

Yang benar saja Kau kenapa tuan Byun?

Terkutuklah kau mulut sialan!

Baekhyun menggelengkan kepalanya kecil dan mengetuk kepala Rai pelan.

“Tidurlah, tak usah difikirkan.” Baekhyun meluruskan tubuhnya lalu merapatkan selimutnya dan menggeser posisinya agar tak terlalu dekat dengan Rai. Rai menurunkan tangannya dan menatap Baekhyun yang sudah menutup matanya dan menyamankan posisinya.

“Eoh? Kau tak serius yah?” Rai mengubah posisinya hingga dia telentang dengan kedua tangan berada di atas perutnya.

“Hah.. mengecewakan..” Rai menghela nafas kecewa. Dia kira Baekhyun akan memaksanya menurunkan kedua tangannya dan langsung menyerangnya tanpa perlu izinnya. Dan mungkin mereka akan melanjutkannya ke kegiatan selanjutnya. Siapa tau dia bisa dapat anak lagi kan?. Kembar?

Ya Tuhan! Apa yang barusan kau pikirkan nona Lee? Mesum sekali!

Salahkan Baekhyun yang terlalu menggoda.

Bahkan kau sudah bisa tergoda nona Lee

Dalam pejamnya Baekhyun menggigit bibir bawahnya gugup. Haruskah dia membuka mata dan langsung menubrukkan dirinya pada Rai?

Hei hei hei! Agresif sekali.

laki-laki tak masalah menjadi agresif.

Baekhyun menyeringit pusing dengan pikirannya sendiri. Dia mencoba mengatur nafas dan merapalkan mantra tidurnya. Satu domba, dua domba, tiga domba, empat dom

Baekhyun membuka matanya yang langsung bertubrukan dengan mata coklat diatasnya.

A-apa ini?

Bibirnya terasa kebas saat dua mata coklat itu meredup dan menghantarkan ribuan volt ke tubuhnya. Baekhyun merasa kepalanya pusing saat dia merasakan sesuatu bergerak dibibirnya. Hanya gerakan kecil namun dapat dengan telak menghantam pertahanannya. Demi tuhan! Rai sedang menciumnya sekarang. Mereka berciuman! Sekali lagi, cuim! Berciuman!

Dia melirik kesamping kiri tubuhnya tepat Rai sedang menahan tubuhnya sendiri dengan siku kanan agar tak menindih perutnya, dengan tangan kiri meremas pundak kanannya. Baekhyun semakin berdebar saat merasa remasan di pundaknya semakin kuat. Dan entah sejak kapan wajah istrinya sudah menjauh darinya.

Baekhyun mengerjap berulang-ulang meyakinkan kalau dirinya tidak sedang tidur dan bermimpi.

“Selamat tidur” ucap Rai pelan, dia tersenyum malu. Malu dengan apa yang dia lakukan barusan. Apa-apaan inisiatif itu? Siapa yang mengajarinya menjadi sebinal ini. Rai mencoba merebahkan dirinya kembali dengan perlahan sebelum tangan lentik menarik tengkuknya mendekat.

“Kau mau langsung tidur setelah kau bermain sendiri tadi? Curang sekali”

Rai meremang mendengar nada gamang suara Baekhyun. Baekhyun sudah tak mau lagi bersikap jual mahal. Dia langsung merebahkan Rai dengan perlahan dan merapatkan lalu memiringkan tubuhnya−dengan siku kiri sebagai penyangga pada Rai, karna yah.. tak mungkinkan dia menindih Rai. Dia mendekatkan wajahnya pada Rai, sementara Rai sibuk mengatur kerja jatungnya. Sempat merutuki inisiatif dan otak mesumnya tadi. Merapatkan kedua kelopak matanya sampai dia merasakan elusan hangat dipipinya dan dibarengi dengan benda lembut yang kembali dia rasakan dibibirnya.

Rai menolehkan kepalanya kekanan agar mempermudah Baekhyun ekhem−menciumnya. Tangan kirinya dia bawa pada pundak baekhyun sedangkan yang kanan meremas celana tidurnya gusar. Dia mencoba mengimbangi pergerakan bibir Baekhyun di atas bibirnya. Dia mengerang dalam mulut Baekhyun. permainan lembut Baekhyun membuatnya melayang entah kemana.

Baekhyun mengecupi lembut belahan bibir itu sebelum melumati bibir atas dan bawah Rai bergantian, dia juga sedikit mengunyah benda itu dengan gemas. Saat Rai memindahkan tangannya untuk mengantung pada lehernya, Baekhyun menekan lagi bawah telinga Rai berharap istrinya itu mengerang dan membuka celah sedikit untuknya.

“Urhm..” benar saja. Baekhyun dengan kepercayaan dirinya, menyusupkan lidah tipis namun pajangnnya dedalam mulut Rai. Mengabsen apa yang ada didalamnya dan juga mengoda langit-langit mulut Rai dengan memutar sampai akhirnya membelai lidah Rai yang terasa kaku. Baekhyun terus mengerjai lidah Rai memintanya untuk membalas. Dengan kepasifannya Rai ikut menggerakan lidahnnya didalam mulutnya sendiri. Asik dengan lidahnya sampai tak terasa lidah Baekhyun membawanya kedalam mulut Baekhyun. Dengan iseng Baekhyun menghisap ujung lidah Rai membuat istrinya mengeram dan tubuhnya bergetar hebat. Rai terus saja mengeram −setengah mendesah, kepalanya sudah pusing dan perutnya rasanya sedikit mengenjang menahan hasrat. Tak ada yang bisa dia pikirkan lagi dengan jelas saat ini. Hanya seberapa hebatnya cumbuan ini.

Tangan lentik Baekhyun turun kepundak Rai, mengelusnya senbetar dan kembali turun menyusuri lengan Rai hingga ia dapat merasakan setinggi apa butalan yang ada diperut istrinya. Sempat tersenyum sebentar dalam ciuman basahnya.

Duk!

Baekhyun mengehentikan ciumannya dan melebarkan matanya menatap Rai yang tengah meraup nafas dengan rakusnya. Bahkan saat ciuman tadi, tak sedikit pun terpikir untuk bernafas. Baekhyun mengerjapkan matanya dan perlahan turun melihat tangannya sendiri yang berada di puncak perut Rai. Rai tersenyum dengan sebelah tanganya menutupi matanya sembari mengatur nafas. Tentu saja ia tau apa alasan Baekhyun menghentikan kegiatan −semi basahnya. Anaknya baru saja menendang sarangnya.

Rai menurunkan tangannya dan terkekeh pelan saat melihat Baekhyun tak bergerak sedikit pun.

Wae?” tanya Rai setelah puluhan detik mereka terdiam. Baekhyun malah terduduk dan mendekatkan telinganya pada perut Rai. Hal itu justru membuat Rai merasa geli dan memukul kepala Baekhyun lalu mendorongnya menjauh.

Baekhyun mengerjapkan matanya berulang-ulang, lalu tersenyum lebar. Rai bahkan hampir tersedak ludah sendiri melihatnya. Hati Rai menghangat melihat suaminya tersenyum selebar itu dengan ikhlas tanpa paksaan.

“Helooo Byun −tae” Rai mengibaskan tangannya tak bersemangat. Tubuhnya masih sangat lelah. Padahal hanya sebuah ciuman.

“Ah? Ini.. Apa memang seperti itu?” masih dengan senyum lebarnya, dia mengalihkan atensinya pada wajah Rai dan perut Rai berulang-ulang. Rai rasanya ingin tertawa melihat sisi Baekhyun yang seperti ini.

“Eoh, sudah satu bulan belakangan ini.” melihat Baekhyun tersenyum sebegitu lebarnya, membuat Rai ikut tersenyum. Bibir tipis Baekhyun semakin tipis karna tertarik sampai telinga. Matanya yang sipit membola lucu karna rasa penasaran. Ugh! Rai jadi gemas sendiri melihatnya.

“Sebulan? Dan kau tak memberitahuku.? Wah jahat sekali” matanya semakin membulat, otot bibirnya mengendur dan alisnya menukik. Rai sontak terkikik melihat perubahan wajah baekhyun.

“Lalu aku harus bagaimana? Kau bahkan jarang sekali dirumah, aku curiga kau pergi ke club untuk memenuhi hasratmu.” Rai mencibir tak senang. Huh! Rai jadi teringat dirinya yang selalu kesepian setiap malam. Dia harus selalu menunggu Baekhyun pulang−walau tak pernah mengakuinya− kalau mau tidur dengan nyenyak.

“Hei semakin hari bicaramu ini mengapa semakin menyebalkan? apa kau tau se−stres apa aku dengan urusan kantorku? Kau malah menuduhku main belakang?” Baekhyun semakin menukikan alisnya, mulut istrinya itu benar-benar. Jadi ingin menyumpalnya dengan bibir.

Bukan! Kaus kaki maksudnya!

“Siapa yang tau? Kau kan tidak pernah menyentuhku” Rai mengangkat bahu tak peduli, dia kembali memiringkan tubuhnya menghadap dinding kamarnya. Baekhyun menggigit bibir bawahnya gemas. Apa perlu dia membawa dua sahabatnya −yang pernah memegokinya bermain solo dikantornya, siapa yang harus disalahkan saat bibirnya malah meneriaki nama Rai saat dia sampai pada puncaknya. Baekhyun mana tau kalau ternyata ruangannya tak kedap suara, dua kembar brengsek itu tiba-tiba datang dengan wajah paling mesum sambil mengedus-ngendus seperti anjing pelacak. Baekhyun ingat wajahnya memanas saat itu. Setelahnya dia menghabiskan banyak uang dan informasi untuk menutup mulut bawahannya itu. Sial! Jadi teringat hal memalukan itu!

“Kau mau kusentuh? Baiklah kemarilah.. biar kau kusentuh, sudah lama sekali aku ingin comeback duo” Baekhyun ikut membaringkan tubuhnya menghadap Rai dan mendekat pada Rai, mencoba meraih tubuh Rai.

“Apa sih?” Rai yang melihat bayangan tangan Baekhyun dari tembok langsung menepisnya bahkan sebelum menyentuhnya. Baekhyun meringis sedikit, tapi entah kenapa dia merasa senang dan ingin mengulanginya.

“Selama ini aku selalu bermain solo kau tau? Karna sekarang kau mengizinkanku, aku sudah tak perlu membatasi diri lagi kan?” Baekhyun kembali menjulurkan tangannya dengan cepat hingga Rai sendiri tak menyadari tangan Baekhyun yang sudah berada di pinggangnya. Tangan kirinya menyelip diantara kasur dan tubuh Rai, tangan kanannya berada di pinggang atas sampai jemarinya menaut satu sama lain.

“Hei, hei! Aku hanya bercanda!” Rai berteriak panik sambil memukuli lengan Baekhyun di pinggangnya bar-bar. Rai memerah panas merasakan Baekhyun memelukanya seerat ini. Siapa pun tolong dobrak pintu kamarnya dan bawa Rai pergi. Dia tak mau temukan mati terbakar karna rasa panas yang tiba-tiba merambatinya.

“Menjauh!” Rai meluruskan kakinya di tembok, membuat dirinya dan Baekhyun menjauh dari tembok.

“Hei! Iya iya!” Baekhyun mencoba menahan tubuhnya agar tidak terjatuh mengingat luas ranjang Rai tak lebih untuk dua orang. Rai kembali merapatkan dirinya ketembok saat Baekhyun melepaskan pelukannya.

“Selamat tidur” ucap Baekhyun pelan. Dia membanarkan posisinya agar tak terlalu menghimpit Rai. sedikit terkekeh saat melihat Rai sibuk mengipasi wajahnya.

“Sialan kau!”

Plak!

Tangan kanan Rai mengayun keperut Baekhyun. Bisa-bisanya Baekhyun mengucapkan selamat Tidur saat dirinya sudah positif tidak akan bisa tidur sampai besok pagi. Rai hanya belum siap oke? Ini terlalu tiba-tiba!

“Untuknya aku akan mencoba untuk berubah” Baekhyun membawa kedua tangannya untuk menjadi bantal tambahan. Dia tersenyum kecil mendengar Rai yang hanya berdehem membalasnya.

Dan mungkin untukmu juga..

Tak mengindahkan Rai yang tersenyum getir mendengar kata-katanya.

Mungkin benar suatu hubungan tanpa campur tangan perasaan akan terasa hambar. Tapi bukan salah juga saat sebuah hubungan masih tetap bertahan tanpa adanya perasaan. Sama kasusnya dengan hubungan Baekhyun dengan Rai. Baekhyun merasa hubungannya tak ada perasaan khusus yang terlibat. Tapi Baekhyun bukannya patung atau batu, dia juga punya hati dan perasaan. Iya perasaan, tapi yang seperti apa?

Cinta? Yang seperti apa?

Banyak sekali rasanya saat dia dihadapkan dengan seorang bernama Rai. Rasa kesal, rasa simpati, rasa khawatir, rasa terganggu, rasa butuh, kadang juga merasa sedikit menyenangkan. Baekhyun terlalu pintar sampai tak ada ruang di otaknya untuk memikirkan perasaannya, selama ini semuanya dibiarkan berjalan begitu saja. Mungkin lebih tepatnya mencoba untuk tak perduli.

Satu tahun lebih dua bulan. Baekhyun hampir mengetahui segalanya yang berkaitan dengan Rai. Rai juga demikian. Baekhyun hampir mengerti setiap ekspresi yang ditunjukan oleh Rai. Rai pun begitu. Baekhyun hampir hapal apa saja yang menjadi kebiasaannya. Baekhyun rasa Rai juga sama mengertinya.

Yang seperti itu sudah bisa disebut sebuah hubungan?

Apa hubungannya sudah melibatkan perasaan? Cinta?

Mungkin benar, mungkin juga salah.

Siapa yang bisa menilai cinta selain orang yang merasakannya? Lalu jika orangnya seperti Baekhyun? Bukankah butuh orang lain yang membantu menilaikan?

Terimakasih karna telah bertahan denganku..

.

.

.

.

End

Huhuhu.. TT maafkan akuuuuuuuuuu!!

Aku emang niat ngegantungin ini cerita 😀 karena entar bakal dilanjut sama series selanjutnya.

Aku mau minta maaf karna menghilang sampai setahun lebihnya mungkin. Saat itu aku masih sekolah dan disibukan dengan segala kegiatan belajar. Aku jadi ilang mood buat nulis, bahkan kadang mentok. 😀 dan berkat kamu. Iya kamu yang neken aku buat lanjutin cerita, aku jadi semangat lagi buat lanjutin ini cerita.

Mungkin yang pernah baca cerita ini udah lupa kaya apa jalan ceritanya. :”D dan males buat baca ulang. Tapi aku mau mencoba untuk bertanggung jawab dan melunasinya.

Soal series dari cerita ini. aku akan coba buat, kalo udah ada sampe dua chapter baru aku kirimin. Dan karna sekarang aku udah lulus, jagi aku punya banyak waktu luang buat nulis.

Sekian dan sampai bertemu dicerita selanjutnya..

Love and hug WF.

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Maybe (Chapter 5 END)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s