[EXOFFI FREELANCE] Bulgongphyeonghae [불공평해—Unfair]

20170420_211815

Title                 : Bulgongphyeonghae [불공평해—Unfair]

Author             : Sháo Xī

Length             : Vignette

Genre              : Married-life, romance, age manipulation

Rating              : PG-15

Main Cast        : Byun Baekhyun [EXO], Go A Young [OC]

Summary         : Sulit sekali menerima cinta darinya karena aku tak pernah memberikan padanya. Ketidakadilan ini harus ia rasakan selama tiga tahun. Ya, betapa kejamnya aku.

Disclaimer       : Fanfic ini murni hasil buatan penulis sendiri. Kesamaan nama, tokoh, dan tempat adalah unsur ketidaksengajaan. Typo dan EYD buruk tersebar. Don’t be plagiat, bashing, and others. Tinggalkan komentar demi membangun karya ini lebih baik. Happy reading! ❤

Author’s Note  : Hai, salam kenal! Aku pendatang baru, nih. Sorry banget buat ceritanya yang mungkin udah mainstream, wkwkwk…. Tapi kepingin aja buat ngeluarin ide di kepala. Soalnya suka gatal kalau ide enggak segera dituangin. Karena aku pendatang baru, berharap banget nih, sama komentar kalian supaya bisa jadi author yang lebih baik (moga-moga bisa disebut author, wkwkwk). See you again! <3<3<3

.

.

.

Rasanya begitu tak adil kalau aku tahu dia begitu padaku…

.

.

.

Suara hak sepatu menggema di seluruh koridor apartemen lantai 5. Pemilik sepatu itu, tanpa merasa apa-apa, tetap melanjutkan langkahnya. Dirinya tahu, seberapa besar suara yang ia timbulkan, tak akan berarti apapun bagi tetangganya. Itupun kalau bisa disebut sebagai tetangga. Nyatanya, wanita berambut coklat gelap itu belum pernah mengobrol dengan penghuni lantai 5 lainnya. Pernah sekali, saat dirinya baru pindah ke apartemen ini. Toh, itu hanya basa-basi sebagai tetangga yang merasa harus peduli pada tetangga baru.

Wanita itu berhenti tepat di depan pintu coklat bernomor 456. Dirinya membuka tas besarnya dan mencoba mengaduk isinya demi menemukan kunci rumahnya. Lama ia mengaduk-aduk, tapi benda berwarna perak itu tak kunjung didapat tangannya. Wanita itu mendesis kesal, lalu dirinya teringat bahwa kunci itu ada di kantung kecil tasnya. Merasa baru melakukan hal yang tak berguna, wanita itu segera membuka pintunya.

Cahaya kuning muram menyambutnya saat ia masuk dan melepas sepatunya. Ia mendesah lelah sekaligus bersyukur bisa pulang dan tidur karena tubuhnya benar-benar lelah. Mungkin ia harus berendam sebentar supaya tidurnya bisa lebih nyenyak.

“Kau sudah pulang?”

Sebuah suara yang terdengar ceria menyambutnya dari arah dapur. Wanita itu menoleh dan mendapati seorang lelaki yang memakai apron tengah menatapnya sambil menebar senyum lebar. Tangan kanannya memegang sendok sup, sementara tangan kirinya tengah memegang piring kecil untuk mencicipi makanan.

Wanita itu tersenyum kecil lalu mengangguk. Ia kemudian melengos ke dalam kamarnya. Saat tangannya tengah memegang kenop pintu, lelaki itu kembali membuka mulutnya. Suaranya tetap terdengar ceria, walau respon si wanita tak begitu memuaskan.

“Aku buatkan sup rumput laut untukmu. Kau mau aku antarkan ke kamar?”

“Sup rumput laut?” tanya wanita itu bingung. Siapa yang ulang tahun?

“Tidak ada yang ulang tahun, kok. Ini kan, makanan kesukaanmu, makanya aku buatkan.”

Si wanita mengangguk kecil. Ia kembali meraih kenop pintu, tapi lagi-lagi lelaki itu kembali bicara.

“Go A Young, mau kuantarkan makanannya?”

Wanita itu, A Young, ia kembali menoleh dan menggeleng kecil. “Tak usah, Baekhyun. Nanti akan kuambil sendiri.”

Pintu segera terbanting, tepat ketika Baekhyun mengatakan ‘oke’. Lelaki itu hanya menatap pintu yang tertutup sempurna itu dengan pandangan kosong. Tapi kemudian pandangan itu langsung berubah dan dirinya mulai sibuk menyanyikan beberapa bait lagu sebagai penghilang bosan.

“Kukira kau akan membiarkanku masuk.”

.

.

A Young menghempaskan dirinya ke atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamarnya. Tidak indah memang, hanya langit-langit biasa dengan cat putih. Walau daritadi ia mengatakan bahwa ia lelah dan ingin tidur, toh buktinya matanya sama sekali tak mengantuk. Pikiran A Young melayang memutar-mutar kejadian yang baru ia alami hari ini. Tidak banyak yang berarti, tapi bukan berarti ia tak memikirkan hal itu. Mata A Young melirik ke arah pigura hitam besar yang terpampang di atas meja riasnya. Foto pernikahannya tiga tahun silam. Di sana ada Byun Baekhyun, orang yang pertama kali menyambutnya tadi. Ia berdiri dengan gagah bersama senyumnya yang lebar, membuatnya terlihat manis. Di sampingnya, tentu saja ada A Young, yang tersenyum  sambil menggandeng lengan Baekhyun. Senyum yang terpaksa, walau hanya A Young yang tahu.

Ia dan Baekhyun memang sudah menikah dan tinggal satu atap, tapi rasanya A Young benar-benar tidak tahu maksud dari pernikahan itu seperti apa. Rasa nikmat dan kebersamaannya seperti apa, A Young benar-benar tidak tahu. Apa ini hanya karena masalah ia tak mencintai Baekhyun seperti wanita lain mencintai suaminya sendiri? A Young pikir, saat nanti ia bisa tinggal bersama Baekhyun, ia akan mencintai laki-laki itu seperti seharusnya. Tapi tiga tahun sudah berlalu dan A Young tetap tak bisa melakukannya.

Jauh sebelum pernikahan ini ada, A Young dan Baekhyun sudah saling kenal. Bisa dibilang, mereka teman sepermainan sejak kecil. Orang tua mereka berteman, sehingga mau tak mau mereka juga berteman. Tapi A Young tak menyangka, bahwa teman kecilnya itu yang akan dijodohkan dengannya dan akhirnya menjadi suaminya.

Beberapa—tidak—semua teman dekat A Young benar-benar iri saat melihat A Young menikah dengan Baekhyun. Bagaimana tidak? Di usianya yang baru menginjak kepala tiga, Baekhyun sudah sukses mendirikan perusahaannya sendiri. Dan sekarang, perusahaan itu dicap sebagai perusahaan mabel nomor satu Korea. Belum lagi wajah tampannya yang selalu menyuguhi senyum manis dan friendly, membuat ia semakin digilai wanita. Harusnya alasan itu sudah cukup membuat A Young mencintai suaminya. Tapi… entahlah. Ia juga tak mengerti dirinya sendiri.

A Young bangkit dari tidurnya. Ia meregangkan badannya sedikit lalu keluar kamar. Ia melongokkan kepalanya sebelum keluar sempurna. Tapi… tak ada siapapun di sana. A Young menelusuri seluruh rumah untuk mencari Baekhyun, tahu kalau lelaki itu tak pernah keluar jika tidak memberitahu A Young. Tiba-tiba, mata A Young menangkap post-it kuning yang tertempel di kulkas.

A Young-a, aku keluar sebentar karena ada sedikit masalah di kantor. Sup dan nasinya sudah matang. Kubuatkan kimchi juga untukmu. Makanlah duluan, tak perlu menungguku. Aku tak pamit padamu karena aku tak mau mengganggu tidurmu. Jika ada yang kau butuhkan, telpon saja aku, ya!

Salam sayang, Baekhyun.

A Young tersenyum kecil saat melihat tulisan tangan Baekhyun. Ditempelnya kembalipost-it itu dan dirinya melangkah ke arah panci sup. Dicicipinya makanan itu dan rasanya sungguh lezat. A Young memang lapar, tapi kalau ia tak menunggu Baekhyun pulang, rasanya sungguh tak sopan. Jadi untuk menghilangkan kantuknya, ia meraih camilan dan duduk menonton televisi. Acara yang muncul adalah sebuah acara gosip yang tak terlalu disukai A Young. Tangannya sudah terulur untuk memencet tombol next, tapi sebuah headline menarik perhatiaannya.

Seorang model pendatang baru mengundurkan dirinya dari dunia entertaiment dan bekerja di perusahaan terkenal

A Young menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Memangnya kenapa kalau model itu bekerja di perusahaan? Tidak boleh? Tapi tiba-tiba, pemikiran lain menyusup ke kepalanya, membuat ia memutar kembali percakapanteman-teman kerjanya yang dikenal sebagai tukang gosip.

.

“Hei, hei! Sudah dengar berita baru belum?”

“Berita apa?”

“Model baru itu,loh, yang pemenang acara Top Model 2017, ternyata dia mundur dari dunia artis!”

“Lah? Memang kenapa?”

“Dia memilih bekerja di perusahaan terkenal Korea itu loh… apa sih, namanya? Perusahaan mebel itu, loh!”

A Young yang awalnya tak ambil pusing dengan obrolan tak penting mereka itu, langsung menoleh cepat dan memperhatikan mereka.

“Yang CEO-nya masih muda banget itu! Kalau tidak salah, namanya Byun Baekhyun, deh!”

“Ahh… Byun Baekhyun! Kalau itu aku tahu. CEO yang lagi jadi bahan pembicaraan karena wajahnya yang tampan sekaligus manis, kan?”

Perasaan A Young sudah tak menentu. Teman-teman kerjanya tahu kalau ia menikah, tapi tak tahu kalau laki-laki yang jadi bahan pembicaraan mereka adalah suaminya!

“Memang kenapa kalau model itu bekerja padanya? Bukannya sah-sah saja?”

“Ih, dasar kau ini! Kau tidak tahu kalau model, apalagi pendatang baru, sangat suka mendekati seorang pengusaha? Apalagi model itu cantik. Siapa yang bakalan menolak karunia itu?”

“Ah, kau ini!”

.

A Young menghela nafas dan segera mematikan televisi. Ia tak ingin mendengar berita itu karena ia tahu semua gosip itu salah. Baekhyun tak seperti itu, ia hanya… hanya apa?

Hanya mencintaimu?

A Young tertawa miris saat mendengar suara kecil di kepalanya. Mencintainya? Hah. Mana mungkin laki-laki itu bisa mencintainya setelah semua sikapnya pada Baekhyun. Ia tahu, lelaki itu hanya berbuat baik supaya A Young merasa nyaman. Ya, hanya itu.

Mereka berdua sebisa mungkin berusaha agar pasangan mereka merasa lebih baik. Tapi praktiknya, sepertinya hanya Baekhyun yang melakukan itu. Sedangkan ia…hanya berbuat sesuka hati, tanpa memikirkan perasaan laki-laki itu. Ia memang tak terlalu ambil pusing dalam kehidupan Baekhyun. Ia tak pernah mau tahu, apa selama ini Baekhyun main di belakangnya atau tidak, ia sama sekali berpikir masa bodoh. Toh, ia tak pernah mencintai laki-laki itu dengan benar.

Lalu mengapa kau marah saat mendengar gosip tadi? Mengapa kau ingin menjambak rambut mereka dan berteriak bahwa kau adalah istrinya? Bukannya kau tak peduli?

A Young mengutuki suara kecil menyebalkan itu. Perasaannya jadi tak karuan karena suara itu. A Young menghela nafas, berpikir bahwa ini saat yang baik untuk tidur sebelum ia menjadi lebih tidak waras. Baru saja ia bangkit, suara pintu terbuka menyambangi telinganya. Dari balik pintu, Baekhyun muncul dengan rambut yang sedikit basah, membuat rambutnya menempel di dahi dengan tetesan kecil yang jatuh dari ujungnya, membuat ia tampak semakin manis.

Baekhyun menarik pandangannya ke depan dan mendapati A Young yang berdiri termangu menatapnya. Ia menarik sudut bibirnya, membuat senyuman simpul namun hangat.

“Kau sudah bangun? Di luar hujan. Aku sedikit kebasahan karena harus membantu Nyonya Oh dari lantai 2. Apa kau sudah makan? Bagaimana supnya? Enak?” cerocos Baekhyun.

A Young hanya diam, tapi kakinya melangkah mendekati Baekhyun. Ia mengulurkan tangan, berusaha mengambil mantel basahnya. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh tangan Baekhyun. Tangan itu seharusnya dingin, tapi malah terasa hangat di tangan A Young. Itu bahkan merambah ke pipinya. Astaga, ia kenapa?

“Eh? Kau belum makan, ya? Kenapa? Tidak enak, ya? Kalau tidak enak—“

“Enak, kok. Tapi aku mau makan bersamamu.”

Baekhyun terdiam. Sebenarnya ia merasa aneh, tapi ia hanya mengulur senyum sempurna. “Baiklah, istriku, akan kuambilkan untukmu.”

A Young melangkah mendekat setelah meletakkan mantel itu ke ember cucian. Dilihatnya Baekhyun dengan teliti, seolah-olah ia baru pertama kali melihat laki-laki ini. Hidungnya yang tidak terlalu mancung, pipinya yang bersih, matanya yang tak terlalu besar, bibir tipisnya, dan rambut coklat serupa dengan dirinya. A Young tersenyum dan sensasi aneh kembali menjalari dirinya.

Baekhyun bergerak ke samping, tapi langsung terhenti saat tahu A Young di sampingnya. Ia menaikkan alisnya. “Ada apa?”

A Young menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”

“Kau sakit? Wajahmu sedikit merah.”

Baekhyun bermaksud menyentuh kening A Young, tapi tangan itu hanya mengambang di udara.  A Young sendiri bingung mengapa gerakan laki-laki itu terhenti.

Baekhyun berdeham. “Kuambilkan obat, ya?”

Baekhyun bergerak tapi langkahnya langsung terhenti ketika A Young menahan lengannya. Ia hanya bisa menatap bingung. “Ada hal lain yang kau butuhkan?”

“Apa kau mencintaiku?”

Baekhyun mematung. Mata hitamnya menatap A Young yang tengah mengerutkan kening. Ada apa dengan gadis ini? “A.. A Young-a, kau kenapa?”

“Gosip itu… tidak benar, kan? Kau tidak melakukan apapun pada model itu, kan?”

Baekhyun mengerutkan alisnya. Model? Ah… model itu. “Dia hanya pegawai baruku. Lagipula, ia bekerja di section lain. Kalau bisa dibilang, kami tak pernah bertemu karena section-nya tidak ditangani langsung olehnya. Kau tahu Nyonya Kang, kan? Nah, wanita itu yang menangani semuanya,” Baekhyun terkekeh sebentar, kemudian menambahkan. “Kenapa? Kau khawatir?”

Entah kenapa, rasa lega memenuhi dada A Young. Ia suka fakta itu, tapi sekaligus tidak suka bahwa hal yang membuatnya lega adalah pengakuan Baekhyun. A Young mendongak dan menemukan mata Baekhyun yang masih setia menatapnya. A Young melepas tangannya perlahan, lalu kembali menunduk.

“Baekhyun, aku minta maaf…”

“Untuk?”

“Semuanya.”

A Young menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tak pernah begini, apalagi pada Baekhyun. Ia selalu masa bodoh dengan semuanya, bahkan pernah berharap agar Baekhyun  menceraikan dirinya. Setidaknya itu akan lebih mudah bagi mereka berdua. Tapi kenapa sekarang berbeda? Kenapa ia peduli pada lelaki itu?

“A Young-a, kau kenapa?” tanya Baekhyun. Ia memegang pipi A Young agar gadis itu mau menatapnya, tapi A Young malah mengelak dan menghambur ke arah Baekhyun. Menenggelamkan wajahnya ke dada Baekhyun dan menggenggam erat ujung kemeja putih Baekhyun. Laki-laki itu terpaku, begitu heran terhadap yang A Young lakukan.

“Dasar bodoh! Kenapa kau baik padaku padahal aku tak pernah bersikap begitu padamu?! Kenapa kau tersenyum dengan mudah padahal aku mengabaikan senyummu? Kenapa kau menyia-nyiakan waktu tiga tahunmu hanya untuk hidup bersamaku?! Apa kau gila, Byun Baekhyun?!”

Baekhyun terdiam. Saat mendengar kata-kata gadis itu, hatinya sedikit panas.

“Selama tiga tahun aku mencoba mencintaimu, tapi aku selalu gagal. Aku selalu bertanya, hal apa yang kau lihat dariku sehingga dengan mudah kau menerimaku? Apa yang aku—“

“Karena kau Go A Young,”

A Young menengadah, menunjukkan wajah tangisnya ke Baekhyun yang tersenyum. “Aku mencintaimu karena kau Go A Young, wanita yang sejak umurku 5 tahun selalu kusukai. Kau mau tahu alasannya? Karena kau pernah mengobati keningku lalu menciumnya dan berkata bahwa hanya kau yang boleh mengobatiku. Sejak saat itu, aku bertekad bahwa hanya A Young yang boleh menyentuhku, mengambil semua raga juga jiwaku. Itulah kenapa, seberapa banyak sikap acuh tak acuhmu padaku, aku tetap mencintaimu. Karena kau cinta pertamaku dan akan selalu begitu.”

A Young merasa bibirnya bergetar. Matanya kembali meneteskan cairan bening. “Bodoh. Kenapa kau bisa jatuh cinta padaku karena hal itu? Dasar Baekhyun bodoh! Bodoh! Bodoh!”

A Young kembali menangis, tapi perasaannya sungguh-sungguh lega. Ia akhirnya mengetahui betapa tulus laki-laki itu mencintainya. Apa yang harus A Young lakukan demi membalas kebaikan laki-laki itu selama tiga tahun?

“A Young-a, coba lihat aku,”

A Young kembali mendongak. Baekhyun menangkupkan kedua pipi A Young dan mengamatinya dengan saksama. “Ckckck, wajah menangismu benar-benar jelek, ya! Apa yang harus kulakukan dengan wajah ini?”

A Young merengut, membuat Baekhyun tertawa. Laki-laki itu menghapus air mata A Young lalu menepuk pipinya pelan. “Jangan menangis lagi. Dan kau tak perlu khawatir tentang aku yang bermain di belakang atau apapun itu. Aku hanya mencintaimu A Young. Hanya kau.”

A Young mengangguk, tapi air matanya kembali turun. Sepertinya ia baru tahu kalau bahagia itu seperti ini rasanya. Baekhyun tersenyum, kemudian mendekatkan wajahnya dengan A Young, mencoba menghapus jarak di antaranya. Gadis itu hanya diam saat Baekhyun menciumnya. Bibir laki-laki itu terasa hangat, mampu membuatnya merasa lebih baik. A Young memejamkan mata dan berusaha mengikuti alurnya. Ia bahkan sudah mengalungkan lengannya di leher Baekhyun dan mendorong dirinya sendiri agar lebih dekat dengan pria itu.

Baekhyun mengakhirinya dan menatap A Young. Dirangkulnya pinggang gadis itu dan mencoba menenggelamkan diri di bahunya. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh A Young lalu menghela nafas lega. Selesai sudah. Ia sudah sepenuhnya tahu bagaimana perasaan A Young padanya. Melihat bagaimana gadis itu memeluknya dan menerima ciuman darinya.

“A Young-a, jadi sekarang kau sudah mencintaiku?”

A Young diam sebentar. “Aku tak mau menjawabnya.”

Baekhyun terkekeh. “Kuanggap itu sebagai kata iya,”

Baekhyun tersenyum lebar, semakin memperketat pelukannya pada gadisnya, seolah jika ia lepas, A Young akan kembali seperti semula. A Young sendiri sudah tersenyum lebar. Ia menyembunyikan senyumnya di bahu Baekhyun supaya tidak terlihat. Ya, selesai sudah semunya. Kepura-puraan A Young terhadap perasaannya sudah selesai. Ia tak perlu berbohong lagi terhadap perasaannya. Sekarang, ia bisa dengan mudah menggandeng tangan Baekhyun di antara orang-orang.

Dan terutama terhadap tukang gosip itu.

.

.

End

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Bulgongphyeonghae [불공평해—Unfair]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s