[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] The Sign – Hansa

timeline_20170420_203508

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] The Sign – Hansa

Sehun & Luhan || Family, Angst || G

.

Ada bayangan yang nampak imajiner di netra Sehun ketika ibunya hendak beranjak pergi. Hanya ke swalayan, katanya. Di punggung tegak ibunya, netra Sehun terjerat oleh satu sayap putih yang terbentang di punggung kanan sang ibu. Laiknya kamera yang menyalak, secepat itu juga bayangan itu sirna. Sehun bercerita perihal momen aneh itu pada sang kakak.

“Hanya delusimu, Sehun-ah,” Luhan menanggapi bagai angin lalu.

Sehun tak sependapat. Usia Sehun baru 4 tahun saat itu dan tidak ada hal yang lebih masuk akal baginya selain konklusi jika ibunya mungkin adalah malaikat dan Sehun hanya tidak sengaja melihat sayapnya yang tersembunyi. Sehun memutuskan akan bertanya pada Ibu ketika dia kembali.

Namun, hingga matahari tiba di kaki cakrawala … ibunya tak kunjung kembali.

Sehari setelahnya, di antara entitas orang-orang berbaju hitam, Sehun dipaksa menerima getirnya takdir Tuhan. Sehun harus mereguk fakta yang tak dapat ia pahami. Kata Luhan, ibunya telah pergi selamanya. Sedang orang-orang menyebut jika ibunya kecelakaan-tabrak lari, katanya.

Usia Luhan terpaut 4 tahun lebih tua dari Sehun, kenyataan memaksanya dewasa jauh lebih cepat. Tak ada waktu bersedih meratap nasib untuk kepergian sang ibu, toh, ia sudah biasa ditinggalkan. Ayahnya berkhianat, pergi meniti hidup baru bersama wanita lain saat usia Sehun bahkan belum genap 6 bulan. Tersisa sang adik yang jadi pusat atensi Luhan untuk saat ini dan kedepannya. Luhan tak peduli apa pun lagi, hanya presensi Sehun yang utama. Ya, hanya Sehun. Luhan hanya punya Sehun.

Hak asuh mereka diambil sang kakek. Kakek yang terlampau ramah menawarkan kehangatan pada dua bocah malang itu.

<>

Sehun menyukai senyuman Kakek, hangat seperti mentari, katanya. Dan ia gemar menulis kesehariannya di buku harian.

25 Desember

Ini natal ke-6 bersama semuanya. Nenek memanggang banyak kue, ia menari bersama Kakek dan Kakak tertawa senang. Sehun bahagia. Natal yang menyenangkan! Sehun harap, Ibu juga senang di sana.

Kehidupan mereka berjalan statis. Kakek berhasil mengangkat keduanya dari duka, berharap cucunya dapat menjadi laki-laki tegar dengan punggung tegap tanpa perlu menyimpan luka. Walau Kakek tak pernah tahu kenyataan jika senyuman manis Luhan hanya sebatas kamuflase, sedang tawa Sehun hanya tuturan penyembunyi dukanya. Faktanya, keduanya tumbuh dengan mengapit luka yang tertoreh dalam.

<>

Tubuh tua Kakek semakin renta, usia turut membawa digdayanya walau senyum tak kunjung luluh dari parasnya yang berkeriput. Dan untuk pertama kali setelah 8 tahun, Sehun kembali melihatnya. Bayangan yang dikiranya hanya delusi; tak lebih dari sebuah imajiner belaka. Malam ketika sang Kakek berdiri tegap walau dengan bantuan tongkat, Sehun melihat satu sayap putih yang persis dengan sang ibu terbentang di punggung kanan sang kakek. Di sebelahnya, Nenek duduk menyulam sembari bercakap ringan dengan sang suami, menyelami momen lama yang terkait manis.

Kaki Sehun tremor sesaat. Geletar aneh menusuk rongga dadanya. Langkahnya stagnan, ia urung mendekat pada kakeknya. Sehun tak ingin mengganggu konversasi keduanya-walau itu hanyalah alibinya. Pada dasarnya, Sehun tak mampu meyakinkan dirinya untuk menganggap bayangan itu tak lebih dari delusinya belaka.

Malam itu, Luhan mendapati Sehun menangis terisak sejak kematian Ibu mereka. Sehun tak mau menangis di depan Luhan sebab ia tak ingin menambah beban kakaknya, namun Luhan mengerti Sehun lebih dari yang Sehun sadari. Malam itu, Luhan membiarkan Sehun. Ia yakin akan ada saat yang tepat ketika Sehun akhirnya mau membagi cerita pada Luhan.

Besoknya, rumah mulai dibanjiri orang-orang yang berkabung. Kakek mereka telah pergi di malam saat semua orang tertidur pulas, esoknya Nenek menemukan Kakek tak dapat dibangunkan lantas mendapati fakta bahwa suaminya telah pergi. Selamanya.

Sebelum itu, Luhan mendapati Sehun telah mengenakan baju hitam saat ia ke luar dari kamarnya. Kemudian disusul tangisan pilu sang Nenek perihal kematian mendadak itu. Dan Luhan menyadari sebuah keganjalan.

Luhan mencoba menepis jauh anggapannya. “Sehun tak mungkin tahu Kakek akan meninggal, bukan?” Luhan meyakinkan dirinya dan menepis firasat abnormalnya.

Selama upacara pemakaman berlangsung, Luhan tak menemukan Sehun menangis atau bersedih, bahkan tak ada raut terkejut mendengar kabar kematian kakeknya. Asumsi-asumsi buruk mulai menari di kepala Luhan.

“Oh Sehun, katakan padaku. Apa yang tidak kuketahui tentangmu?” Luhan tak dapat menahan diri. Ia menemui Sehun setelah pemakaman berakhir.

“Tak ada.” Sehun memalingkan wajah, enggan menatap Luhan.

Luhan mengenal Sehun terlalu dalam. Dan Sehun tak dapat membohonginya. “Jadi, kau benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku,” gumamnya getir.

“Hyung ….” Sehun pantang melihat Luhan kecewa.

Luhan mendekap Sehun, membawa adiknya dalam pelukan hangat. “Aku hanya memilikimu, Sehunnie. Aku akan selalu percaya padamu,” bisik Luhan.

Sehun tak lagi dapat menahan dirinya. Ia terisak pada bahu kakaknya yang kian melebar, menumpahkan segumul rasa yang ia kekang.

“Kakek meninggalkan Sehun, Hyung. Ia mengingkari janjinya,” tangisnya mengadu pada sang kakak.

Hanya Luhan tempat Sehun berpulang dan mengadu.

“Aku … aku melihatnya,” isaknya di sela tangisnya.

Luhan mengusap air mata Sehun. “Apa yang kau lihat?”

“Sayap itu!” Sehun menggigit bibir bawahnya. “Ibu juga punya yang sama sebelum ia … pergi.”

“Apa maksudmu?” Luhan tak paham alur konversasi mereka.

“Semalam …, aku melihat sayap itu di punggung Kakek, Hyung.” Sehun meremas tangan Luhan. “Aku merasa … ketika melihatnya, Kakek juga akan pergi … seperti Ibu ….”

Keping-keping kenangan Luhan kembali merajalela. Sebersit ingatan sebelum kematian ibunya, ketika Sehun bercerita 8 tahun yang lalu, tentang sebuah sayap di punggung Ibu. Dan sebuah konklusi tertarik apik di kepalanya. Sayap itu adalah per tanda kematian. Sayap yang hanya Sehun seorang yang menyaksikannya.

<>

Luhan tak bisa percaya omong kosong itu sebelum beberapa minggu setelah kematian Kakek, Sehun datang berbisik pada Luhan.

Sehun melihat sayap itu di punggung Nenek tadi pagi.

Siangnya, Luhan mengetuk pintu kamar Nenek. Ia membawa makan siang. Namun tak ada jawaban. Luhan diserang panik, ia memerintah paksa Bibi pelayan di rumah untuk mengambil kunci cadangan. Mau tak mau, perkataan Sehun menganggunya.

Ketika pintu menjeblak terbuka, Luhan mendapati tubuh renta wanita tua yang merawatnya penuh kasih itu telah berbaring lemah di atas lantai dingin.

Kematiannya disebabkan overdosis obat. Dokter menduga adanya kesengajaan. Neneknya memang sangat merindukan Kakek, mungkin itu jadi motifnya menyusul kepergian Kakek.

<>

Luhan memutuskan merawat Sehun seorang diri. Ia menolak tawaran tinggal di rumah Bibinya. Mereka hidup dengan uang asuransi yang ditinggalkan ibunya. Menyewa sepetak rumah seadanya dan Luhan yang bekerja part-time.

Mereka tumbuh dengan baik, walau harus mengapit luka bersama. Sosok Sehun bertransformasi menjadi remaja tampan dengan punggung tegap yang menyimpan banyak luka. Sehun berusia 16 kini, dengan Luhan yang memasuki 20. Berapa tahun pun terlewati, Sehun tetap tak bisa menghempaskan ketakutannya. Ia tumbuh besar dengan trauma akan sayap itu.

Dan ketakutan terbesar Sehun …

“Aku akan pulang terlambat hari ini, tak perlu menungguku untuk makan malam,” ucap Luhan mengenakan sepatunya.

Sehun mengangguk walau netranya enggan memandang Luhan.

Luhan berbalik, menjatuhkan atensinya pada tubuh tinggi sang adik yang telah melampauinya. “Aku akan kembali,” lirihnya menyulam senyum.

Tangan Sehun tremor sesaat. Dan hal itu tak luput dari pengamatan Luhan

“Aku akan pulang, Sehun-ah,” Luhan berjanji. Ia mengerti betul ketakutan Sehun.

“Aku akan menunggu,” Sehun menegaskan.

Saat Luhan berbalik, Sehun memalingkan atensinya. Apa pun, selain punggung Luhan.

Ketakutan terbesar Sehun ialah …. Menemukan sayap itu terpampang di punggung sang kakak.

Saat pintu hampir menutup, Sehun mengangkat wajahnya. Dari celah-celah pintu … Sehun menemukan sebersit cahaya pada punggung kokoh itu.

<>

Jantung Sehun mencelus, tubuhnya tremor dengan mata yang membelalak. Ketakutannya terwujudkan. Pada akhirnya, Luhan juga akan meninggalkannya ….

Sehun impulsif berlari tergopoh ke luar rumah, bahkan lupa mengenakan alas kaki. Pikirannya kosong. Hanya Luhan dan Luhan yang jadi pusat semestanya.

“Hyung ….”

Netra Sehun bergerak gelisah, mencari sosok tempatnya mengadu. Senyuman lembut Luhan, dekapan hangatnya dan bisikan menenangkannya … Luhan memenuhi pikirannya.

Sehun mendapati Luhan di seberang jalan, berjalan tenang di trotoar.

“Luhan Hyung!” Tenggorokan Sehun tercekat. Pikirannya kosong, hanya terisi untuk menggapai Luhan saat itu dan mengingatkannya.

Sehun bisa mencegah. Ia yakin. Ya, seharusnya dia bisa mencegah kematian Luhan. Sehun tak akan menangis seperti saat Kakek atau tak berbuat apa-apa seperti saat Nenek, maka Sehun tak lagi berpikir dua kali untuk berlari menyeberang jalan.

Luhan menoleh, mendapati kasak-kusuk orang-orang di sekitarnya yang mengatensikan Sehun yang berlari. Luhan terbelalak.

“SEHUN-AH!”

Telinga Sehun mendadak tuli. Pekikan Luhan tenggelam dalam kakofoni perkotaan. Ia lihat Luhan berlari kencang ke arahnya, mendorong tubuhnya ke sisi jalan dengan teriakan yang memekakkan telinga.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Sehun yang tak menyadari mobil kencang yang melaju ke arahnya, hingga Luhan yang berlari mendorong tubuhnya menjauh.

Bagai desingan elegi pilu yang menyakitkan. Sehun telah mendapati tubuh Luhan bersimbah darah di tengah jalan. Remuk oleh besi yang menghantamnya hingga terjungkal beberapa meter.

“Luhan Hyung ….”

Tangisan Sehun meledak, ia merangkak memeluk tubuh sang kakak. Berteriak pilu membangunkannya.

Lagi, Sehun ditinggalkan.

Sehun tak akan bisa dan tak akan pernah bisa mencegah suratan takdir itu. Hingga akhir, kematian jadi kehendak Yang Kuasa yang tak bisa kau tentang.

The End

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s