[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] SOBREMESA – Leavendouxr

timeline_20170420_001959

 

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] SOBREMESA – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Sehun, Sarah [OC]

Genre: half-romance, college!au

Rated: T

Duration: Vignette

.

Mereka bicara; sebelum dan sesudah jam makan siang.

.

.

[Aku sudah sampai.]

Satu tangannya masih mengukung erat ponsel, sementara yang lain mendorong pintu kafetaria. Alisnya baru saja kembali rileks setelah mengerut sepersekian detik kala membaca pesan yang baru lima menit masuk ke ponselnya. Ia sengaja tidak menyimpan kontak, tapi tidak perlu menebak ala detektif untuk tahu siapa yang mengirim.

Hanya saja, Sarah Smith tidak yakin pernah membuat janji dengan seseorang; entah untuk makan siang atau bertemu membahas hal tidak penting. Apalagi dengan orang itu.

Orang yang diam-diam menarik atensinya berkat lambaian kecil. Sarah mendengus dan melangkah mendekat. Menaruh tasnya di meja kafetaria yang kosong sebelum mendudukkan dirinya, mengambil posisi tepat di depan orang itu.

Namanya Oh Sehun. Salah seorang dosen yang mengajar di Fakultas Bahasa dan Sastra Belanda di universitas tempatnya menuntut ilmu.

“Kupikir kita tidak pernah membuat janji untuk bertemu.”

“Kejutan?” pria itu tersenyum sedikit saat menerima ekspresi jengkel dari lawan bicaranya, “Mau pesan sesuatu?”

“Air putih.”

“Ada yang lain?”

“Tidak.”

“Oke.”

Tangan dengan kulit seputih susu itu kembali terangkat, memberi isyarat agar pelayan mendekat. Ia memesan air putih sesuai dengan yang diminta dan kopi murni.

“Kau harus mencoba kopi disini. Rasanya enak.” Oh Sehun memulai pembicaraan, mampu mengalihkan perhatian daripada layar ponsel yang baru saja berkelip. Ada pesan masuk. Sarah mengabaikan.

“Selama air putih lebih sehat, aku tidak akan mencoba yang lain.”

“Sesekali?”

Gadis itu melipat tangan, “Kau yang harusnya mencoba air putih, Sir. Itu jauh lebih menguntungkan ketimbang kopi hitam. Kau merokok dan minum kopi hitam saat pagi, siang, sore dan kalau sedang sial―malam juga. Bersyukurlah kalau kau mati bukan karena kanker.”

“Ouch.” sulit sekali menghadapi sarkasme gadis itu jika sedang masa guyonan begini. Ada saja yang bisa dikatakannya, tapi dari itu semua berujung sindiran yang amat sangat pedih kalau tidak terbiasa. Sehun maklum jika banyak yang tidak menyukai gadis itu. Omongannya agak kasar, tanpa permisi dan butuh diajarkan sedikit basa-basi.

Dan Sarah tidak akan memandang status kalau sudah bicara, sekalipun pria yang baru saja menelan sarkasmenya adalah dosennya sendiri, jelas-jelas belasan tahun lebih tua darinya.

Pelayan datang membawa pesanan. Aroma kopi menusuk hidung. Kalau tidak ingat kalimat Sarah, barangkali Sehun sudah menenggaknya sebelum si pelayan undur diri.

Sehun mengamati gadis itu; yang meminum airnya pelan-pelan dan kembali pada ponselnya.

“Aku sudah baca bukumu pagi ini.” lagi, pemilik iris sekelam langit malam itu menuang atensinya. Sehun melanjutkan, “Kupikir kau sudah beralih menjadi penulis novel horor.”

“Bagaimana pendapatmu?”

“Mengerikan.”

Sarah tertawa. Kecil, tapi kentara sekali mengejek. Ia menyibak rambutnya yang makin panjang dengan potongan awut-awutan. Mungkin jika diurus sedikit, dia bisa jadi primadona kampus. Tapi jelas, itu bukan tujuan hidupnya. Sehun sedikit banyak mengerti dirinya berkat obrolan-obrolan kecil yang ia sendiri lupa bagaimana bisa dimulai.

Gadis itu meminum lagi airnya, “Hidup memang mengerikan, Sir. Jangan ingatkan aku untuk tetap lurus.”

Sehun menegakkan punggungnya, menumpukan kesepuluh jemarinya di meja, “Sebenarnya tidak mengerikan, hanya saja mungkin―yeah, aku tidak tahu tapi kupikir kalau aku mengomentarinya sekarang, aku takut membuatmu tidak akan menulis untuk lima tahun kedepan.”

“Oh, ya, aku lupa sedang berhadapan dengan dosen sastra.”

Sarkas. Sehun menghela napas, sudah tidak terhitung berapa banyak kalimat sindirian yang keluar, tapi rasanya sulit juga menyerah sebelum ia mendapatkan apa yang diinginkannya. Sarah begitu tertutup, tapi kadang bisa sangat mengejutkan.

“Bukan masalah dosen sastra atau apa, tapi kau seperti kembali buta. Kau buta bagaimana cara menulis, cara merangkai kata atau cara membuat orang lain terkesima. Sarah, kau bukan baru pertamakali menulis. Aku sudah membaca novelmu yang lain tapi khusus untuk yang ini, aku bisa memberi banyak sekali evaluasi.”

“Kau bisa menyimpannya untuk tugas harian mahasiswamu.”

“Kau mahasiswiku.”

Gadis itu berdecih, “Aku kuliah jurusan Kalkulus, omong-omong.”

Sehun mengabaikan. Ia kembali pada pembicaraan.

“Tidak, tapi aku serius. Kau seperti sedang mabuk saat mengetiknya, atau kau terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu. Apa kau sudah membacanya berulang-ulang sebelum mengirimnya ke penerbit? Kata-katamu banyak yang membingungkan dan seperti tanpa makna, Sarah.”

“Itu hanya teenlit, bukan diktat. Kalau kau tidak suka, tinggal buang. Aku tidak peduli―yang penting kau membelinya.”

“Ada apa denganmu?”

Ekspresi gadis itu berubah. Sehun mengamatinya. Desah napasnya terdengar penuh beban, ia bahkan tidak menyentuh gelas airnya lagi. Hanya memutar-mutar ponsel di meja. Kelihatannya tidak minat, tapi dia butuh bicara. Dan Sehun menunggunya untuk itu. Untuk bersuara.

“Kau pikir apa yang berada di pikiran penulis selain uang? Mustahil jika mereka hanya peduli kalau karya mereka akan dibaca banyak orang tanpa memikirkan uang. Aku butuh secepatnya dan aku tidak bisa menunda lagi. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menghasilkan tulisan secepat mungkin dan mendapatkan uang?”

Sehun mendiamkan cangkir kopinya. Barangkali sudah dingin, tapi ia tetap memilih mendengarkan Sarah.

“Ayah angkatku akan selalu datang setiap minggu, meminta uang. Kau lihat,” gadis itu menarik lengan kemejanya sampai sebatas siku, menampilkan kulit putih yang tercoret lebam, “ia akan melakukan ini kalau aku tidak memberikan uang. Dan aku tidak punya pilihan. Aku hanya butuh uang―dan tempat tinggal yang baru untuk enyah darinya.”

Kejutan. Gadis itu penuh kejutan.

Sarah menunduk. Sehun sekali lagi memaklumi. Gadis itu tiba-tiba saja mendongak, senyum lemah tertampil begitu pilu. Sehun menahan untuk meringis.

“Kau sudah tahu sekarang. Yah, aku memang gila. Terserah kau mau menganggap apa.”

Sang dosen menggeleng, “Tidak, tidak sama sekali. Kaupikir untuk apa aku mengajakmu bicara begini?”

“Apa?”

“Kau butuh seseorang untuk bicara. Aku bukan hanya dosenmu; aku temanmu, teman bicaramu. Aku pendengarmu.”

Gadis itu diam. Tidak mengerti.

“Aku sudah pernah menawarkanmu soal ini, tapi aku tidak keberatan menawarkannya lagi.”

Sehun menghirup napas, dan saat berhasil menarik perhatian Sarah, ia melanjutkan, “Pindah bersamaku, tinggal, dan jatuh cinta padaku. Jangan pernah berhenti, jangan pernah kembali. Kau bisa melakukannya?”

Gadis itu memberi jeda waktu; antara sepuluh detik sampai senyum tipis terbit dari sudut bibirnya yang kaku.

“Kau mau kujawab dengan bahasa Belanda?”

Kali ini yang timbul darinya adalah senyum tulus.

.

-fin

[Sorry for typos and mind to review?^^]

Iklan

Satu pemikiran pada “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] SOBREMESA – Leavendouxr

  1. Ya Tuhan ku tak sanggup~
    awalnya aku nggak paham arti dari judulnya dan sampai selesai baca pun masih nggak paham sih wkwk tapi sumpah aku sukaaaaa banget sama fanfiction jenis fluff begini TT especially main cast nya Sehun XD
    dan yeah, aku cukup menyayangkan karena ini hanya vignette padahal pengen terus baca karena gaya bahasanya udah bagus banget >.<
    Oke sekian dari saya, maaf cerewet. Fighting and keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s