[Sehun Birthday Project] Restorant Cumi – bagong

timeline_20170420_055802

 

[Sehun Birthday Project] Restorant Cumi – bagong

Oh Sehun&Shiina-Romance

Summary : bermula dari 1 tahun yang lalu, Sehun akhirnya tau kalau Shiina, gadis yang bekerja di restoran yang sering ia kunjungi adalah orang yang membuatnya jadi terpesona.

.

.

Jam makan siang hari ini sudah tiba dan kebanyakan orang-orang akan mulai mencari-cari restoran untuk makan siang disana. Dan restoran ini jadi salah satu restoran yang dipenuhi oleh para pekerja.

Sehun sedari tadi duduk ditempat yang sudah disediakan oleh restoran, matanya tak kunjung pergi dari melirik seorang pramusaji yang memang menarik perhatian karena keramahan dan senyuman manisnya.

Adalah Shiina, nama gadis itu. Seorang gadis berambut hitam panjang yang terkadang ia ikat kebelakang. Shiina adalah salah satu pramusaji di restoran ini yang kini terlihat sangat sibuk dengan pesanan-pesanan dari para pelanggan yang lapar.

Gadis itu terus saja menebar senyuman ramah pada para pelanggan bahkan saat ia harus dimarahi oleh salah satu pelanggan karena pesanannya tak kunjung datang. Dan karena keramahan itulah Sehun jadi tertarik dengan gadis itu yang perlahan berubah jadi rasa cinta.

Semua dimulai saat Sehun menemukan restoran ini di jam makan siang dikantor barunya setahun yang lalu, disinilah ia melihat sosok Shiina yang entah kenapa begitu menarik perhatian Sehun karena senyumannya yang sangat indah dan keramahannya.

Karena letak restoran ini yang paling dekat dengan kantornya, Sehun jadi sering datang kesini dan bertemu Shiina. Awalnya itu alasan kenapa ia datang kesini, tapi alasan kenapa ia selalu datang kesini lama-kelamaan mulai berubah.

Ia ingin bertemu dengan pramusaji restoran ini, Shiina. Gadis yang selalu terlihat sibuk setiap saat, membuat Sehun jadi tertarik padanya, ingin rasanya mendapatkan nomor telponnya dan Sehun akhirnya mendapatkan nomornya dari rekan kerja Shiina.

Kemudian setiap malam ia mencoba menghubungi Shiina, walau hanya kadang-kadang saja ada balasan. Awalnya Sehun merasa kalau Shiina memang tidak suka diganggu, tapi Shiina berucap kalau ia sering lembur dan pulang beristirahat tanpa sempat memegang handphone dan teman rekan Shiina mengiyakan hal itu saat Sehun bertanya padanya.

Dan walaupun ia bisa bertatap muka dengan Shiina disiang hari, ia tidak bisa mengobrol dengannya karena kesibukannya. Jadi Sehun hanya bisa memandanginya saja sampai makanannya habis dan jam makan siang selesai.

Hanya itu yang terjadi setiap hari, siang mereka bertemu namun saling diam, dan malam sebagai teman ngobrol–jika smsnya dibalas dan telponnya diangkat Shiina– namun tak saling berhadapan.

Sehun mengeluh.. apakah hubungan ini hanya akan terus begini atau berlanjut? Dan Sehun tau kalau hari ini adalah hari yang tepat untuk menentukan segalanya.

“Pak. Jam makan siang sudah hampir habis, anda juga dari tadi hanya diam tanpa memesan satupun makanan atau minuman? Apa terjadi sesuatu?” Sehun tersadar dari lamunannya, matanya memandang seorang lelaki dihadapannya, nampaknya ia adalah pemilik restoran ini, memang sebagian dari pelayan sudah menghampirinya dan bertanya apa yang akan ia pesan namun Sehun tak kunjung menjawab, mungkin para pramusaji disini sudah kesal karena ia tak kunjung pergi atau memesan sesuatu.

Sehun mengedarkan pandangannya keseluruh sudut restoran, ia terlihat gelisah beberapa saat namun saat objek yang ia cari ditemukan, nampak sebuah lengkungan bibirnya yang nampak begitu bahagia terpampang diwajahnya.

Sehun mengambil sebuah tisu dihadapannya dan sebuah pulpen dikantongnya lalu mulai menulis sesuatu diatas tisu itu, sang pemilik restoran bingung beberapa menit dengan apa yang ditulis Sehun.

“Pak, apa yang ada lakukan?”

Sesaat Sehun menengedah dan menyerahkan lembaran tisu itu ke lelaki paruh baya itu, “Maaf telah merepotkan anda, namun bisakah anda mengantarkan tisu ini ke gadis yang disana?” Sehun menunjuk sang gadis pujaannya yang diikuti oleh pandangan sang pemilik restoran, lelaki itu mengangguk dan mengambil tisu yang disodorkan Sehun dihadapannya lalu mulai melangkah mendekati Shiina.

‘Sudah saatnya hubungan ini berlanjut..’ batin Sehun penuh semangat.

Shiina agak terkejut ketika lelaki itu mendatanginya dan menyerahkan sebuah tisu dihadapannya, ia bertanya dari siapa dan lelaki itu menunjuk Sehun disudut restoran. Shiina akhirnya menerimanya lelaki itu pergi dari sana dan kembali mendatangi meja Sehun lalu bertanya apakah Sehun ingin sesuatu lain lagi yang dibalas gelengan oleh Sehun dan sang pemilik restoran itupun pergi.

Tisu tadi akhirnya dilihat oleh Shiina, dan Sehun disini hanya bisa melihat dengan jantung berdetak kencang.

‘Setahun yang lalu aku melihatmu disini, aku hanya menganggapmu sebagai orang biasa namun perhatianku mulai tertuju padamu yang sangat tulus dalam bekerja dari pagi hingga malam.’

‘Awalnya kukira aku hanya bersimpati padamu, namun semakin lama aku semakin menyadari kalau ada yang aneh dalam benakku setiap hari aku melihatmu. Sebenarnya setiap hari aku gelisah ketika kau tak membalas semua pesanku dan aku takut kau tak pergi kerestoran ini ketika aku kesini.. aku gelisah akan hal itu..’

‘Aku bingung kenapa aku gelisah karena hal itu. Tapi aku tau sekarang. Perasaan simpati ini kini telah berubah menjadi ketertarikan akan pesonamu dan aku memiliki perasaan cinta padamu.’

‘Aku mencintaimu, Shiina. Kumohon jadilah pendampingku. Agar aku bisa gelisah setiap malam karenamu dengan alasan kalau kau adalah kekasihku..’

Shiina akhirnya selesai membaca surat cinta dari Sehun dan tiba-tiba ia menemukan Sehun dihadapannya. Shiina terkejut takkala melihat Sehun meraih tangannya dan bersimpuh dihadapannya.

“Shiina.. maukah kau membalas pesanku setiap saat walau kau sedang serius bekerja karena aku akan merengut jika kekasihku tak mau membalas pesanku?”

Pengunjung dan para pramusaji direstoran sebagian terkejut dan sebagian menahan tawanya karena cara Sehun yang begitu aneh saat menembak Shiina.

Dan Shiina masih terpaku tanpa menjawab, Sehun mulai ketakutan, ia takut jika harus mendengar jawaban Shiina yang menolaknya.

.

.

.

“Hahahahaha…”

Sebuah tanda tanya besar terbentuk dikepala Sehun saat mendengar Shiina tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” Tanya Sehun bingung.

Shiina menghapus sedikit airmata dimatanya akibat terlalu terbahak-bahak, “Tentu saja aku tertawa! Aku hanya tak menyangka akan ditembak direstoran dengan surat cinta, seperti anak SMA saja..”

Sehun yang masih kebingungan akhirnya bangkit tapi masih memegang tangan Shiina “Hmm. Jadi apa jawabanmu, Shiina?”

Shiina menghentikan tertawanya dan menatap Sehun intens.

.

.

.

“Aku lebih suka ketika aku ditembak tanpa harus ada perantaraan seperti tadi, seandainya jika kau langsung berucap tanpa ada surat-suratan, mungkin aku akan menjawab ‘iya’, tanpa harus tertawa terlebih dahulu..”

Sehun mencerna setiap kata Shiina dan kini rona merah dipipi Sehun jadi lebih merah dari sebelumnya..

“Kau menerimaku?” Tanya Sehun untuk memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi sekarang.

“Iya Sehun. Aku menerimamu, maaf jika aku tak membalas pesanmu.. mulai sekarang aku akan berusaha membalasnya walau sesibuk apapun aku..”

Sehun langsung saja meraih tubuh Shiina dan memeluknya erat seraya terus berbisik kata ‘terimakasih’ ditelinga Shiina yang membuatnya jadi kegelian.

*Tamat*

Epilog

“Hey kalian berdua..” Sehun dan Shiina melihat sosok yang berucap tadi, dan dia adalah pemilik restoran.

“dunia ini seraya milik berdua saja.. sadarlah jika masih ada kami disini..” ucap lelaki itu seraya tersenyum. Sehun lupa jika ia dan Shiina ada direstoran yang kini sudah dipenuhi oleh orang-orang–dikarenakan penasaran dengan apa yang Sehun dan Shiina lakukan—karena sangking bahagianya.

“Untuk merayakan hari berbahagia ini aku akan mengratiskan semua makanan, tapi  hanya untuk hari ini saja ya..” ucap sang pemilik restoran yang membuat para pengunjung bertepuk tangan dan bersiul kepada Sehun dan Shiina—Ya karena mereka berdualah semua orang jadi bisa makan gratis—. Hal itu membuat keduanya merasa kalau pipi mereka semakin memanas.

Shiina memandang lelaki paruh baya tadi seraya mengerucutkan bibirnya “ayah.. kau membuatku malu dihadapan para pelanggan dan yang lain..” lelaki yang dipanggil ayah oleh Shiina dan para pramusaji yang melihat acara tadi jadi tertawa bahagia.

Sehun juga ikut tertawa sebelum ia mengingat kata Shiina tadi..

“Tunggu ?” Shiina menatap kekasih barunya dengan tatapan ‘memangnya ada apa?’ Kearahnya, “Kau tadi bilang ayah ya, Shiina?” Tanya Sehun kepada kekasihnya dengan gugup.

“Iya.. memang kenapa?”

‘Jadi… yang kusuruh untuk mengantarkan surat cintaku tadi adalah calon mertuaku?’

Glek..

Sehun menelan ludah pahitnya seraya memandang lelaki paruh baya tadi yang tersenyum kearahnya.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s