[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Brother – stkrmh

timeline_20170422_183716

[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] Brother – stkrmh

.

Cast: – Luhan

          – Sehun

Genre : Brothership

.

Gemericik air hujan terdengar jelas saat Luhan membuka lebar pintu balkon kamar milik Sehun. “Sehunnie, ireonna.” Ucap Luhan sembari duduk di pinggir kasur berukuran king milik Sehun. Perlahan Sehun membuka kedua matanya, “Hmmm,” Sehun memunggungi Luhan. “Sehunnie.” Dengan sabar Luhan mengusap lembut pucuk kepala Sehun. “Bangunlah, hyung ingin pergi bekerja. Mandilah, hyung akan mempersiapkan sarapan untukmu.”

“Ne hyung.” Ucap Sehun pelan.

Luhan tersenyum, ia pun beranjak dari tempat tidur Sehun.

Luhan Pov :

Namaku Oh Luhan, setahun sudah aku menempati apartemen ini. Orang tuaku sudah meninggal sejak dua tahun yang lalu, aku pun memutuskan untuk pindah ke apartemen ini karena tugas dinasku. Aku memiliki seorang adik, Oh Sehun namanya. Umurnya berbeda 3 tahun denganku.

“Hyungie.”

Lamunanku buyar seketika saat suara Sehun menyapa indera pendengaranku.

“Hyung aku lapar.” Kulihat Sehun mempoutkan kedua pipinya.

Aku terkekeh melihat Sehun, dengan hari-hati ku bawa roti panggang buatanku. “Aigoo Sehunnie.” Ku taruh piring itu di depan Sehun, tanpa aba-aba Sehun pun melahapnya.

“Habiskan nde?” Aku pun memberikan segelas susu padanya.

“Sehunnie,”

“Wae hyung?” Sehun menghentikan aktivitas makannya.

“Hyung akan pergi keluar kota beberapa hari ke depan. Kau tidak apa-apa kan sendirian?”

Sehun menatapku serius, “Hyung, kau pikir aku penakut? Aku bisa menjaga diri di rumah.” Ucapnya.

“Bukan begitu Sehun, hyung percaya kau bisa menjaga diri. Baiklah, hyung pergi. Setiap hari, Kim ahjusshi akan datang mengunjungimu. Dan ingat, kau tidak boleh menerima kunjungan dari siapapun kecuali Kim ahjusshi dan petugas yang membersihkan kamar kita. Arraseo?”

Sehun tak menggubris ucapanku, ia hanya memutar malas bola matanya.

.

.

“Hati-hati hyung.” Sehun melambaikan tangannya ke arah Luhan dengan tatapan yang datar. Luhan mulai berjalan menjauhi kamar apartemen mereka. Sehun pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya.

“Aku malas bertemu dengan siapa pun.” Gumamnya, Sehun pun mengambil sebuah sign bertuliskan don’t disturb dan menggantungkannya di depan pintu kamarnya.

Sehun menutup pintu balkon yang sempat dibuka oleh Luhan, ia memutuskan untuk duduk di atas karpet sambil memandangi pemandangan dari jendela kamar apartemennya di lantai 20. “Setiap hari seperti ini, aku bosan.” Sehun menghela nafasnya kasar.

.

.

Keesokan harinya,

Ting tong …

Suara bel apartemen Sehun terdengar menggema, “Sebentar!” Teriak Sehun. Ia berjalan pelan menuju pintu apartemennya.

Ckleekkk …

Sehun terdiam saat melihat sosok yang ada di hadapannya sekarang. “Nu-nuguseyo?” Tanyanya polos.

“Kenalkan, aku Jung Kana. Aku teman dari hyungmu. Hyungmu menyuruhku untuk tinggal disini dan menjagamu.”

Sehun memiringkan sedikit kepalanya, ia mencoba mengingat ucapan Luhan kemarin, “Tapi hyung tidak bilang akan ada wanita yang datang dan menjagaku.”

“Ah, aku yakin hyungmu itu pelupa.” Dengan santai, Kana pun masuk ke apartemen itu.

“Yaakkk yakkk nuna, siapa yang mengijinkanmu untuk masuk eoh?”

Kana menghentikan langkahnya, kemudian ia menatap tajam kearah Sehun, “Kau ini berisik sekali, padahal Luhan kan sudah mengijinkanku. Kau merepotkan sungguh!”

Sehun terdiam, jujur saja ia ingin menangis sekarang, ia tak bisa mendengar ucapan kasar dari siapapun. “Hiks.” Bahu Sehun mulai bergetar.

“Sehun …”

Sehun tak beranjak dari tempatnya, ia menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya. “Sehun, aku tak bermaksud seperti itu, mianhae ne?”

Sehun mengacuhkan ucapan Kana.

“Sehun mianhae.” Tanpa ragu Kana memeluk tubuh Sehun, “Aku tidak bermaksud menyakitimu Sehun.” Kana mengusap lembut punggung Sehun.

Sehun menganggukkan kepalanya, entah kenapa ia merasa nyaman dipelukan Kana.

.

.

Tiga hari sudah Sehun berdiam diri di dalam apartemen bersama Kana.

“Hmmm, sepertinya hyungmu akan pulang hari ini.” Ucap Kana sambil melihat layar ponselnya.

“Apa kau akan pergi?”

“Tentu saja, hyungmu kan sudah kembali, untuk apa aku masih ada disini?”

“Ah, bisakah kau tinggal disini saja? Jebal. Biar nanti aku yang membujuk Luhan hyung.”

Kana menggeleng, “Tidak bisa Hunnie.”

“Waeyo?”

Sehun Pov:

Tiga hari sudah berlalu sejak Luhan hyung pergi. Aku senang sekali hyungku mengirimkan temannya untuk menemaniku. Dia cantik, baik, dan juga pengertian. Jantungku selalu berdegup kencang saat berada di dekatnya. Apa ini pertanda aku jatuh cinta? Jatuh cinta? Hei ini terdengar konyol.

“Sudah waktunya, aku harus pergi Sehun. Jaga dirimu baik-baik, arraseo?” Kana membuka pintu depan apartemen Sehun dan berjalan keluar.

“Nuna, jangan tinggalkan aku!” Aku pun masuk ke dalam kamar untuk mengambil jaketku, ku kenakan jaket itu, aku pun keluar dari kamarku dan mengejar Kana.

.

.

Luhan baru saja menuruni taksi tepat di depan gedung apartemennya. Ia tersenyum saat melihat sosok Sehun.

“SEHUNNIE!” Teriaknya. Namun sehun tak juga menghentikan langkahnya, ia terus berteriak memanggil nama seseorang.

‘Sebenarnya siapa orang yang dikejar oleh Sehun? Tidak ada siapapun disana.’ Batin Luhan. “SEHUNNIE KEMBALI!” Teriaknya.

“O-OMO.” Seketika mata Luhan membulat sempurna saat melihat sebuah kendaraan melaju kearah Sehun. Luhan pun langsung berlari mendekati Sehun, ia pun memeluk dan mendorong Sehun, alhasil Luhan dan Sehun pun berguling-guling di atas aspal.

“Akhhh,” Luhan merintih saat siku tangannya bersentuhan dengan aspal, namun ia mencoba mengabaikan rasa sakitnya. Luhan mendudukkan dirinya di atas aspal, ia pun memangku kepala Sehun di pahanya. “Sehunnie, gwenchanayo?” Ucap Luhan sambil menepuk pelan pipi Sehun.

Sehun hanya diam, kedua matanya terpejam sempurna.

.

.

Sehun membuka kedua matanya, kini ia telah berada di dalam kamarnya.

“Sehunnie,” Ucap Luhan pelan.

“Hyung? Hyung dimana Kana nuna?” Ucapnya panik

“Kana? Siapa itu Sehun?”

“Bukankah dia temanmu? Dia yang menemaniku beberapa hari terakhir.”

“Mwo? Hyung tidak punya teman bernama Kana.”

“Jinjja hyung? Tapi dia ….”

Luhan terdiam, ia memandangi wajah adiknya, ‘Apa skizofreniamu kambuh hun?’

“Hyung jawab aku!” Sehun menggoyang-goyangkan lengan tangan Luhan.

Gleppp,

Luhan mendekap erat tubuh Sehun, air mata Luhan tumpah begitu saja, “Kana itu bukan teman hyung, Sehunnie.”

Sehun kebingungan menerima perlakuan dari hyungnya, “Tapi, kemarin ia menemaniku hyung, sungguh.”

Luhan melepaskan pelukannya, “Bukan Sehunnie. Penyakitmu pasti kambuh. Mianhae Hunnie, hyung bahkan lupa mengingatkanmu untuk meminum obatmu.”

Luhan menarik laci meja di dekat ranjang Sehun, ia pun memberikan obat untuk Sehun, “Cha, minumlah obatmu, setelah itu kau tidur, arraseo?”

Sehun mengangguk patuh, ia pun meminum obatnya dan kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Perlahan Sehun memejamkan matanya.

Luhan menatap sedih Sehun. Adik semata wayangnya memang mengidap skizofrenia sejak kedua orang tuanya meninggal dunia. Tapi Luhan tetap menyayangi adiknya, ia enggan membawa adiknya ke rumah sakit jiwa.

“Tenanglah Sehunnie, hyung janji akan menyembuhkan skizofreniamu, dan hyung janji akan membuatmu selalu bahagia.”

End.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s