[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Rindu itu sendiri – dokidiko

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Rindu itu sendiri – dokidiko

Sehun dan Kim Ara
Genre; hurt
PG – SU

Setelah jutaan tangis dan ratusan bantal basah yang Ara temukan tiap pagi, akhirnya Ara terbangun dengan tatihannya. Belajar tertawa, padahal dia enggan. Menyingkat kesunyian malamnya menjadi sesedikit tetesan hujan yang menempel di jendelannya malam ini. Meskipun hujan saat itu tak bisa dikatakan sedikit.

Bertemankan secangkir kopi pahit dan selimut putih berbulu, Ara duduk di sofa yang menempel langsung dengan jendela super luas di kamarnya. Setelah kepergian Sehun, Ara lebih suka menghirup kopi hitam kental dan meninggalkan sendok es krimnya. Entah karena Sehun ataupun dirinya yang menginginkan demikian.

Ara menyeruput kopinya yang masih mengepulkan uap panas. Tapi matanya masih jelalatan memandang rintik hujan yang mulai datang keroyokan. Mengamati tiap tetes air yang menempel di jendela dan memandangnya dengan sendu. Ara memang begitu, ia akan berubah menjadi sesendu ini hanya karena hujan. Entah siapa yang membuatnya menjadi demikan. Tapi yang pasti, ia menyukainya. Entah menyukai kesunyian yang diciptakan hujan, atau hujan itu sendiri.

Terdengar suara ponselnya berdering. Ara membiarkan suara ringtone ponselnya berdering. Entah karena malas mengangkat atau karena ia menyukai ringtone poselnya. Namun saat berdering untuk kesekian kalinya, barulah Ara mengalah. Ia bangkit dari posisi kesenduannya dan mulai mengusap layar ponselnya. Tidak tertera nama di situ, tapi Ara kurang peduli. Dia perlu mengangkatnya cepat dan kembali ke mode sendunya.

“Anyeonghaseyo, Ara di sini. Ada perlu apa?” Nada bicaranya terdengar sangat ceria, terlalu ceria untuk gadis yang beberapa detik lalu diam bersendu ria. Entah bagaimana Ara menyulap kesendua itu pergi.

“Kim Ara?”

Berat dan menawan.

Itu suara seorang lelaki.

“Ah, ne. Ada perlu apa?” Ara mengulangi pertanyaannya, masih dengan suara terlalu cerianya.

“Seember es krim rasa coklat dan atap di sore hari. Senja dan bintang. Apa kau masih jatuh cinta dengan hal macam itu?” suara lelaki itu terdengar agak terbata, mungkin takut jika ia salah berucap.

Tapi Ara beda cerita. Gadis itu malah diam tercenung. Kilas balik di otaknya mulai tumpang tindih. Menghadirkan sosok lelaki yang mati-matian ia lupakan.

“Angin sore tak baik untuk kesehatanmu. Seharusnya kau membawa jaket.”

Itu suara Sehun.

Air mata Ara jatuh setelah sekian lama. Tangannya meremas permukaan dres putih yang membalut dadanya. Mulutnya terbuka, namun tak ada kata yang keluar. Hanya ada tetesan air yang terasa hangat di permukaan pipinya. Rasanya sakit. Entah kenapa.

“Ne, Ara. Apakah kopi hitam kental tanpa gula menjadi temanmu menghabiskan Kamis sore berhujan ini?”

Ara diam. Mulutnya masih terbuka, hanya untuk mengambil udara. Karena hidungnya serasa tak berfungsi sekarang.

“Sehun…” lirih Ara.

Tangisnya pecah. Ia merangung dengan ponsel yang masih ia tepatkan di telinga kananya. Bayangan Sehun bermain seperti sebuah kaset rusak di otaknya. Saat Sehun tersenyum. Saat Sehun berlari menghampirinya. Saat Sehun membelikan Ara seember besar es krim coklat. Semuanya. Semua tentang Sehun.

“Hmm? Ada apa, Cantik? Perlu sebuah pelukan hangat untuk meredakan tangismu?”

Ara mengangguk. Padahal ia sadar Sehun tak bisa melihatnya, tapi ia tak peduli.

“Mau coklat panas untuk pengganti kopi hitam kentalmu?”

Ara mengangguk lagi. Persetanan dengan Sehun melihatnya atau tidak. Yang ia tahu, ia sangat merindukan ember es krim dan coklat panasnya. Satu paket dengan Sehun yang selalu memberikannya.

“Baiklah, besok pagi aku akan ke rumahmu. Sediakan aku pelukan hangat dan tangisan rindu. Karena 10 tahun tak bertemu denganmu membuatku benar-benar gila. Beruntunglah Aku masih waras sekarang.” terdengar suara tawa diakhir kata yang Sehun ucapkan.

“Benar-benar gila karena aku ingin kabur dari Amerika hanya untuk memelukmu.” Tak terdengar tawa sekarang. Tapi terasa lebih sakit dari sebelumnya

“Benar-benar gila karena selama 10 tahun aku tak pernah sekalipun melewatkan kesenduan hujan tanpa memikirkanmu, Hun.” suara Ara serak karena habis menangis

“Aku benar-benar gila karena merindukanmu.” tangisnya pecah lagi, entah untuk yang keberapa kali. Entah menangis karena sakit pada dadanya yang tak mau hilang atau karena Sehun itu sendiri.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s