[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Like the Passing Wind© – Riona Spring

[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Like the Passing Wind© – Riona Spring

|| EXO’s Sehun & OC’s Gil Hajoo || Romance || PG-15 ||

“If it’s destiny, we will meet again”

Sehun PoV

Aku merindukannya…
Kata-kata itu menjelaskan seluruh perasaanku saat ini.
Hampa dan mungkin sedih, itulah yang kurasakan. Di dalam diriku, terasa sesuatu yang mengganjal. Seperti… entahlah.
Aku sendiri kesulitan mendefinisikan perasaanku yang sebenarnya melalui kata-kata.
Salju yang berjatuhan di luar jendela tampak lebat, memenuhi jalan setapak dan pohon-pohon yang meranggas. Membuat orang-orang yang berjalan di jalan itu mengeratkan baju hangat mereka.
Aku menyesap cokelat hangatku. Tubuhku seketika terasa hangat. Aku memejamkan mata, menikmati perpaduan cokelat dan susu yang bercampur dengan sempurna.
“Oh Sehun.”
Seseorang menyebutkan namaku. Aku menatap ke arah suara. Pemuda dengan mata bulat menghampiri tempatku.
“Sudah lama ya.” ia berucap, sambil menempatkan dirinya untuk duduk di hadapanku. Pemuda itu tersenyum manis, menampilkan sederet gigi putihnya.
“Ya.” aku menjawab singkat. Kedua tanganku masih menggenggam cangkir cokelat. Suhu hangat minuman itu membuatku merasa sedikit lebih baik.
Kyungsoo, pemuda bermata bulat di depanku kembali menatapku. Ia mengerutkan keningnya. Bibirnya sedikit mengerucut, mendukung ekspresinya itu.
“Waeyo, hyung?” aku bertanya pelan. Kyungsoo lebih tua setahun dariku. Selain itu, ia adalah sosok yang sangat berwibawa, yang membuatku merasa sedikit segan padanya.
“Kau sangat pucat. Mau aku pesankan semangkuk sup?” tanyanya menawarkan. Sebelum aku sempat menjawab, ia memanggil salah satu waitress, dan memesan semangkuk sup krim ayam.
“Kau jarang sekali berkunjung, Oh Sehun. Ini adalah pertama kalinya kau datang setelah 3 tahun.” Kyungsoo kembali membuka pembicaraan. Aku tersenyum pahit, menanggapi ucapannya. Sembari mendengus pelan, aku menghirup aroma cokelat.

“Kau menghitungnya, hyung? Aku bahkan sudah tidak ingat lagi.” ucapku sedikit ketus. Aku kembali menatap keluar jendela. Hanya salju putih tebal yang terlihat sekarang ini.

“Citrus.”

Aku mengedarkan pandanganku pada penjuru ruangan. Aroma jeruk tercium harum. Sebuah pengharum ruangan terlihat menempel di satu tiang ruang.

Aku menatap Kyungsoo. “Kau—

“Tidak.” pemuda bermata bulat itu menjawab cepat sebelum aku menyelesaikan pertanyaan. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sebaliknya, ia malah menanggapinya dengan santai.

“Cuma kebetulan. Kyungshim juga menyukai aroma lemon. Jadi aku memasang pengharum beraroma citrus. Jangan salah paham, karena aku sama sekali tidak pernah bermaksud mengingatkanmu pada dia.”

Deg.

Tiba-tiba sesuatu seakan menimpa dadaku dengan keras. Perkataan Kyungsoo baru saja … sangat tepat. Dan hal itulah… yang merupakan alasan utamaku berada di café ini.

Dia

Flashback (3 years ago)

“Selamat ulang tahun, hun-ah!!”

Gadis dengan rambut cokelat muda terurai bersorak gembira. Di tangannya terdapat sekotak cupcake cokelat, dengan 5 lilin menyala yang masing-masing mewakili namaku.

“Apa ini?” ucapku sambil mengernyit. Aroma cokelat dengan aroma lilin menyengat membuat perutku bergejolak. Namun, hal itu bukan dalam artian yang bagus.

Mual. Rasanya aku ingin muntah saat ini juga.

“Buat permohonan, hun-ah!” gadis di depanku malah semakin mendekatkan kotak kue itu. Aku menatapnya. Matanya berbinar dan bibirnya membentuk senyuman manis. Keinginan untuk menepis benda itu jauh-jauh sirna seketika.

Aku menahan napas. Setelah memejamkan mata memikirkan sebuah permohonan, aku meniup lilin itu. Ia kembali bersorak gembira.

“Selamat tambah tua, kakek-kakek.” ujarnya sambil terkekeh senang. Ia meletakkan kue mangkuk itu di atas meja, lalu duduk di salah satu kursi. Aku mengikuti, dengan duduk di hadapannya.

“Aku punya hadiah untukmu, hun-ah.” kali ini ia berbicara. Tangannya merogoh sesuatu dari tas punggungnya. Sebuah kotak tipis bermotif not balok tampak ia keluarkan.

“Dalamnya notebook. Aku yang memilihnya secara khusus bersama Kyungshim di toko buku minggu lalu.” ia menjelaskan. Aku yang menerima kado pemberiannya itu mengulum senyum geli. Dan beberapa saat kemudian, tanpa bisa ditahan, aku tertawa.

Ia menatapku bingung. “Apa yang lucu, hun-ah?”

Segera saja aku mengatupkan rahang, meredam tawa. Bagaimana tidak? Seseorang yang memberikan hadiah biasanya selalu mengharapkan reaksi terkejut dari si penerima hadiah. Sedangkan Hajoo, gadis yang aku sayangi itu mengatakannya dengan jujur, didukung dengan wajah polosnya. Membuatku mau tak mau tertawa lepas.

“Aniya. Tidak apa-apa.” aku buru-buru membuka bungkus kado itu. Dan ternyata isinya memang sebuah notebook, dengan cover bergambar biola.

Hajoo yang merengut tiba-tiba kembali sumingrah. “Kau menyukainya?”

Aku tersenyum. “Tentu saja. Gomawo, joo-ya.” aku menjawab. Ia membalas senyumku dengan senyum lebar. Aku menatap iris cokelatnya, dan secara ajaib ikut tersenyum senang bersamanya.

Senyum itu … senyum yang tanpa kusadari adalah senyuman terakhir yang dapat aku lihat darinya.

*Three days later*

“Hun-ah. Aku ada pertunjukan biola seminggu lagi. Kurasa aku tidak bisa menemuimu sampai saat itu. Maafkan aku …”

Kalimat itu masih teringiang-ngiang di benakku. Hajoo mengatakannya ketika hendak pulang dari café tempat aku bertemu dengannya tiga hari yang lalu. Aku melihat pesan yang kukirim padanya. Namun, satupun dari pesan itu tidak dibalas.

Ini aneh.

Perasaan tak enak tiba-tiba hinggap di kepala. Aku menelponnya. Beberapa saat setelahnya tidak terdengar nada sambung. Dan itu terus berlanjut sampai aku menelpon nomornya untuk kesepuluh kalinya.

Tanpa memikirkan apapun lagi, aku keluar dari rumah, dan berlari menuju café ‘Sooshim’ yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah.

“Kyungsoo hyung, apa Kyungshim ada disini?” aku menghampiri Kyungsoo dengan terengah-engah. Ia menunjuk dapur, dan secara kebetulan orang yang kucari muncul sambil membawa nampan.

“Kyungshim-ah, kau tahu dimana Hajoo sekarang?” aku bertanya cemas, masih berusaha mengatur napas. Ia menatapku, kemudian meletakkan nampannya dan menghela napas.

“Tak kusangka kau akan curiga secepat ini. Hajoo bilang aku tidak boleh mengatakannya. Tapi …”

Aku menatapnya intens, mengharap jawaban. “Katakan padaku, Kyungsim.”

Ia menghirup napas dalam-dalam, sebelum akhirnya ia mengatakan satu kalimat yang membuatku membeku seketika.

“Ia pergi keluar negeri untuk pengobatan akibat tumor di otaknya.”

Flashback End

“Ta-da! Sup krim ayam spesial sudah datang!” Kyungshim datang dengan baki di tangannya. Ia meletakkan mangkuk kecil itu di hadapanku, kemudian tersenyum.

“Sehunnie, makan yang banyak ya.” ucapnya dengan nada lucu. Aku membalas dengan senyum tipis. Kyungshim lalu berbalik meninggalkan kami.

“Makanlah, Sehun. Aku akan ke dapur sebentar.” Kyungsoo berujar, disambut anggukan kecil dariku. Kuraih mangkuk itu. Wangi daun ketumbar dengan jeruk menguar dari uapnya.

“Hun-ah.”

Sebuah suara tidak asing masuk ke pendengaranku. Aku mengangkat kepala. Seorang gadis dengan wajah sayu dan pucat tampak tersenyum padaku, membuatku mematung.

Gil Hajoo. Gadis yang sampai saat ini tidak dapat kulupakan.

“Sudah lama tidak bertemu, hun-ah.”

END

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s