[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] You’re still Here – xiao_lsbs

timeline_20170421_190239

 

[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] You’re still Here – xiao_lsbs

Luhan, OC, Sehun || Romance, angst || T

.

Dengan tergesa-gesa aku berlari ke arahnya. Luhan, kekasihku, pasti sudah menunggu disana lama. Kami bersepakat untuk bertemu di taman bermain pukul 11 siang, tapi aku malah tiba pukul 12 siang. Salahkan kemacetan di jalan tadi yang membuatku terjebak di dalam taksi selama satu jam lewat 20 menit.

“Luhan!”

Ia menoleh dan tersenyum lebar kepadaku yang sekarang sudah berdiri di sebelahnya. “Maafkan… aku… Sungguh, tadi itu aku terjebak macet di jalan…” jelasku dengan sedikit susah payah, karena aku masih harus mengatur deru napasku.

Luhan tertawa pelan, kemudian ia menepuk ruang bangku yang kosong, mengisyaratkanku untuk duduk. “Duduklah,” titahnya sambil tersenyum lembut.

Aku membalas senyumannya, kemudian duduk di sebelahnya. Kuselonjorkan kakiku ke depan, karena demi apapun kakiku benar-benar pegal.

“Kau kelelahan?” tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan dua kali. Aku benar-benar lelah sampai-sampai ingin berbicara pun sulit sekali.

Tiba-tiba, Luhan sudah beranjak dari duduknya kemudian berjongkok di depan kakiku dan memijat kedua kakiku bergantian. Aku langsung melotot saat melihatnya berlaku begitu, tetapi sesaat kemudian pipiku langsung memerah.

“Lu-luhan… Sudah. Jangan memijatku. Be-berdirilah,” kataku terbata-bata.

Luhan mendongak untuk menatapku kemudian memberikan sebuah senyuman lebar yang selama ini membuatku gugup setengah mati. “Tidak apa-apa, Moonjin. Aku tidak ingin melihatmu kelelahan.”

Wajahku semakin memerah akibat perkataannya. Ia benar-benar memerlakukanku dengan baik. “Ak-aku sudah tidak kelelahan lagi. Ayo, bermain.” Aku langsung berdiri, membuat pijatan di kakinya terhenti. Ia ikut berdiri dan sekarang berada di sebelahku. Ia tersenyum hangat dan aku membalasnya. “Ayo,” ajaknya kemudian langsung menggandeng tanganku, seperti biasa dan aku benar-benar menyukai caranya menggandeng tanganku. Rasanya hangat dan nyaman.

Kami berkeliling dan mencoba berbagai macam permainan. Kami saling berbagi tawa hari ini, seperti tidak ada lagi hari esok. Kami benar-benar menikmati apapun yang kami lakukan setiap detiknya dan semuanya terekam di kepalaku. Menjadi memori yang indah untuk dikenang.

Langit sudah menunjukkan warna jingga, waktu sudah sore. Sekiranya, kami sudah menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam disini. Tempat terkahir yang kami kunjungi adalah Studio Box.

“Aku tidak pandai bergaya, Moonjin,” tolak Luhan sambil menyengir dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.

Aku tersenyum lebar, “Tidak apa. Apa menurutmu aku pandai bergaya? Aku juga sama sepertimu. Ayo, masuk dan kita lihat apa yang akan kita lakukan nanti.” Aku terkekeh pelan, lalu menarik tangannya untuk masuk ke dalam.

Di dalam, aku menekan tombol yang menunjukkan jika kami akan difoto sebanyak 5 kali setelah memasukkan satu buah koin ke dalam lubang yang disediakan. Waktu terhitung mundur dan aku sudah bersiap-siap untuk berfoto. Aku sama sekali tidak peduli jika gayaku terlihat kaku, yang penting aku berfoto bersama Luhan.

“Moonjin, bagaimana jika hasilnya jelek?” tanya Luhan untuk kesekian kali. Wajahnya terlihat gelisah.

Aku tertawa kecil, “Tidak akan. Aku berjanji,” jawabku untuk membuat Luhan percaya.

Dan setelah itu pandangan kami hanya terfokus ke layar depan yang siap membidik kami sebanyak lima kali. Gaya kami memang terlihat biasa-biasa saja, seperti tersenyum, tersenyum lebar, lalu memberi simbol cinta dengan jari kami masing-masing. Ya… Setidaknya itu yang terjadi di foto pertama sampai ketiga, karena di foto keempat dan kelima kami benar-benar bergaya dengan leluasa.

Di foto keempat, terlihat aku yang sedang memelet lidah dan Luhan merangkul pundakku sedikit posesif sambil tersenyum. Namun, yang paling mengejutkan terjadi di foto kelima. Luhan, pada saat itu mencium pucuk kepalaku yang mana aku langsung memasang wajah terkejut. Itu adalah kali pertamanya Luhan menciumku, walau di pucuk kepala. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan melakukan itu.

“Luhan… kau… menciumku?” tanyaku pelan sambil mengerjapkan mataku beberapa kali.

Luhan menatap ke arah lain sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, kebiasaannya bila sedang gugup atau salah tingkah. “Erm… I-iya. Kau tidak suka, ya? Maaf-“

Aku langsung memotongnya cepat. “Tidak, Luhan. Aku… menyukainya.” Suaraku mengecil di akhir kata. Aku menunduk malu untuk menyembunyikan rona merah di pipiku.

“Benarkah?” tanya Luhan, yang dapat dipastikan jika ia sedang kelewat senang.

Aku mengangguk pelan, lalu segera keluar dari Studio Box tanpa mengajaknya terlebih dahulu. Di luar, aku mengambil foto yang sudah dicetak dari tempatnya. Melihatnya sambil tertawa kecil.

“Moonjin.”

“Ya?” Aku mengalihkan pandanganku dari foto-foto yang ada di tanganku.

“Ayo, pulang. Sebentar lagi malam.”

“Baiklah.” Aku menyimpan foto-foto itu di dalam tasku, kemudian berjalan bersama Luhan keluar dari taman bermain.

Kami berjalan keluar dan melewati banyak permainan yang kami mainkan tadi. Luhan adalah orang kedua yang bisa membuatku bahagia setelah kedua orang tuaku.

“Moonjin.”

“Hm?”

“Aku mencintaimu,” kata Luhan. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku.

“Aku juga,” balasku malu-malu.

“Juga apa?”

Aku menggigit bibir bawahku. Sepertinya, ia sedang menggodaku. Dengan malu aku menjawab, “Aku juga mencintaimu.”

Luhan tersenyum, lalu mengacak rambutku pelan. Setelah itu, matanya beralih untuk menatap ke atas dan tiba-tiba langsung berseru, “Awas, Moonjin!” Ia menarik tubuhku ke arah berlainan.

PRAAAANGGG!!!

“Moonjin.”

Sebuah tepukkan di bahuku menyadarkanku dari ingatan tentang kejadian kelam saat 2 tahun yang lalu. Entah bagaimana kejadian menyedihkan itu seolah terikat kuat di dalam otakku hingga aku tidak bisa untuk melupakannya.

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Sehun tengah berjongkok di sebelahku. Sama sepertiku.

“Ya?” Aku terisak pelan, lalu mengelap air mata di pipi.

“Kau masih ingin disini?” tanya Sehun lembut.

Aku menggeleng cepat, “Tidak. Aku rasa aku sudah puas disini.” Aku tersenyum untuk membuatnya percaya dengan ucapanku.

“Begitukah?” Sehun nampak tidak percaya, tapi sedetik kemudian ia menganggukan kepalanya perlahan. “Baiklah, mari pulang.”

Aku tersenyum sekilas ke Sehun, kemudian kembali menatap batu nisan yang ada di dekatku. Kuusap secara perlahan batu nisan itu, dan tanpa kusadari setetes air mata kembali menetes. “Luhan… Aku mencintaimu. Kau masih sama, ‘kan? Kau tetap mencintaiku, ‘kan? Aku harap jawabanmu adalah “iya”.” Aku menarik napas dalam, kemudian tersenyum lembut. “Aku rasa aku harus pergi sekarang. Aku akan mengunjungimu lagi minggu depan. Sampai jumpa,” pamitku kemudian mencium pucuk batu nisan yang bertuliskan nama Luhan lama. Setelah itu, aku berdiri bersamaan dengan Sehun dan pergi meninggalkan makam Luhan.

Sebelum benar-benar pergi, aku menengok ke belakang sambil tersenyum kecil. Dalam hati berharap agar Luhan bisa mendengar semua isi hatiku dari atas sana.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s